• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN

5.3 Kinerja Sistem Agribisnis Ikan Mas

5.3.3 Aspek Pengaktualisasian

Kegiatan pengolahan tanah merupakan kegiatan dasar yang harus dilakukan setiap petani ikan mas dalam kegiatan usahataninya. Kegiatan pengolahan tanah untuk produksi ikan mas terdiri dari kegiatan penggemburan tanah, pembuatan bedengan. Penggemburan tanah dapat dilakukan dengan cangkul, namun lebih baik dengan traktor. Pembuatan bedengan juga dilakukan dengan menggunakan cangkul. Dari hasil penelitian, diperoleh data bahwa sebanyak 37 KK (74,00%) petani telah melaksanakan seluruh kegiatan pengolahan tanah dengan baik serta sesuai standar. Sebanyak 13 KK (26,00%) petani sebagian melakukan kegiatan pengolahan tanah sesuai standar. Petani yang tidak melakukan kegiatan pengolahan tanah sesuai standar

2. Pemakaian Benih Unggul

Pemakaian benih unggul merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan produksi ikan mas. Tingkat produktivitas ikan mas salah satunya ditentukan oleh faktor pemakain benih dalam kegiatan produksi atau budidaya ikan mas. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat 43 KK (86,00%) petani di daerah

penelitian memakai benih unggul dengan ukuran yang bervariasi. Sedangkan petani yang lain yaitu sebanyak 7 KK (14,00%) petani yang memesan benih ikan mas yang sesuai kemampuan modal petani yang ada. Tingginya harga benih ikan mas yang unggul meruapakan alasan bagi para petani untuk tidak memakai benih unggul pada usahatani ikan mas yang dijalaninya. Alasan-alasan tersebut yang membuat petani tidak memakai benih unggul pada setiap usahatani ikan mas yang mereka jalani.

3. Pemberian Pakan Secara Intensif

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya adalah ketersediaan pakan yang memadai. Benih ikan mas yang dipelihara secara intensif membutuhkan pakan berupa pellet. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh petani yaitu sebanyak 50 KK (100%) pemberian pakan secara intensif.

Pertumbuhan ikan mas merupakan proses hayati yang terjadi dalam tubuh ikan mas yang diawali dengan pemberian pakan ikan mas sehinggan dapat menyusun jaringan tubuh ikan mas. Kualitas paka menentukan efisiensi pakan yang diberikan. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan, maka nilai kualitas pakan juga akan semakin baik.

4. Ada Kegiatan Kualitas Air

Kegiatan kualitas air adalah komponen penting dalam budidaya perikanan, karena di dalam air ikan mas hidup, tumbuh dan berkembang. Cara yang umum dilakukan dalam pengololaan kualitas air pada budidaya perikanan adalah melakukan pergantian air secara berkala. Dengan cara demikian air di dalam kolam akan selalu berganti dan mutunya tetap terjaga dan memenuhi kebutuhan ikan mas untuk hidup. Dari hasil penelitian dapat diketahui 38 KK (76,00%)

petani ikan mas melakukan kegiatan kualitas air sesuai jadwal pergantian air secara berkala. Air sebagai media hidup ikan, berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Kualitas air yang jauh dari nilai optimal dapat menyebabkan kegagalan budidaya, sebaliknya kualitas air yang optimal dapat mendukung pertumbuhan ikan mas. Sedangkan 12 KK (24,00%) petani tidak melakukan kegiatan dengan jadwal pergantian air yang kurang sesuai kebutuhan.

Penanganan kualitas air yang tidak baik dapat mengakibatkan derajat keasaman air dan menyebabkan kematian dan serangan berbagai penyakit.

5. Ada Pengamatan Pertumbuhan Ikan Mas

Suhu optimal akan membuat ikan mas memilki metabolisme optimal. Tingkat kematian ikan mas yang tergolong tinggi disebabkan ukuran ikan yang kecil, ukuran ikan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan, fase kritis dan rentan mati adalah ukuran ikan masih kecil karena daya tahan tubuh ikan mas yang belum cukup baik pada lingkungan luar. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa sebanyak 36 KK (72,00%) petani telah melakukan pengamatan yang sesuai pada pertumbuhan ikan mas. Salah satu tolak ukur petani telah melakukan kegiatan pengamatan pertumbuhan ikan mas adalah dengan cara melihat apakah ikan mas dapat mencerna pakan yang menjadi bobot tubuh dengan baik.

Sementara sebanyak 14 KK (28,00%) petani tidak sesuai melakukan pengamatan pertumbuhan ikan mas. Mereka cenderung melakukan akivitas dengan memberikan pakan pada ikan mas tanpa memperhatikan nafsu makan yang baik sehingga ikan hanya memakan sedikit pakan dan banyak pakan yang terbuang serta metabolisme ikan yang rendah sehingga penyerapan nutrisi dari pakan dan proses sintesis protein untuk pertumbuhan tidak berjalan dengan baik. Didalam

pengamatan pertumbuhan ikan mas di daerah penelitian pada pertumbuhan ikan mas sangatlah penting untuk diamati agar ikan mas agar konsumsi ikan mas dapat terjaga dengan baik.

6. Ada Kegiatan Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Terpadu

Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu akan mengurangi kehilangan hasil panen atau produksi, jika tidak ditanggulangi dengan tepat. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa sebanyak 41 KK (82,00%) petani telah melakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Salah satu tolak ukur petani telah melakukan kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu adalah penggunaan pestisida yang sesuai dengan keadaan budidaya ikan mas dan tingkat serangan hama dan penyakit pada ikan mas. Petani ikan mas di daerah penelitian menggunakan pestisida terutama untuk mencegah serangan hama dan penyakit meluas hingga mejadi sulit diberantas, khususnya untuk hama dan penyakit utama ikan mas. Selain itu, penggunaan pestisida hanya ketika serangan hama dan penyakit di atas ambang batas ekonomi atau serangan hama dan penyakit dapat menimbulkan kerugian finansial pada usahatani ikan mas yang dijalani petani. Dengan demikian petani tersebut telah melakukan kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.

Sementara sebanyak 9 KK (18,00%) petani tidak melakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Mereka cenderung menggunakan pestisida secara berlebihan. Penggunaan pestisida tidak mempertimbangkan kondisi pada ikan mas mereka sehingga penggunaan pestisida menjadi tidak efisien dan bahkan belum efektif. Penggunaan pestisida secara berlebihan juga menimbulkan dampak yang tidak baik bagi lingkungan yaitu dapat menimbulkan pencemaran (polusi) udara,

air dan tanah. Petani yang menggunakan pestisida dengan tidak mempertimbangakan intensitas serangan hama dan penyakit memberi beberapa alasan atas tindakan yang mereka lakukan. Alasan utama adalah karena kurangnya pengetahuan mengenai apa yang telah mereka lakukan, dampak atau tindakan mereka, dan bagaimana seharusnya mereka lakukan. Dengan ketidaktauan ini, mereka menggunakan pestisida sesuai keinginan dan pengetahuan mereka dengan harapan ikan mas mereka tidak diserang hama dan penyakit sehingga produksi menjadi tinggi.

7. Seleksi Mutu

Kegiatan seleksi mutu dilakukan untuk hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh petani yaitu sebanyak 50 KK (100%) petani melakukan kegiatan seleksi mutu dan penjelasan sesuai dengan panen atau produksi yang dihasilkan. Penyeleksian dilakukan berdasarkan ukuran dan kualitas. Ukuran besar dan sedang serta berkualitas baik yang dapat dijual sebagai ikan mas konsumsi. Untuk ikan mas yang berukuran kecil dijadikan benih untuk pemeliharaan berikutnya. Sedangkan ikan mas yang tidak layak dikonsumsi dapat dibuang (tidak dijual).

8. Pengemasan dan Penyimpanan

Tindakan penegemasan dan penyimpanan yang baik dapat mempertahankan kualitas hasil penen agar tetap segar dan tidak cepat mati. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 4 KK (8,00%) petani melakukan kegiatan pengemasan yang baik terhadap hasil panen ikan mas. Ikan mas yang telah dipanen dikemas dengan menggunakan karung plastik yang memilki sirkulasi udara yang lancar. Petani ikan mas juga dapat menyimpandi kolam kecil sebelum ikan mas tersebut dikemas per plastik.

Sebanyak 46 KK (92,00%) petani melakukan kegiatan pengemasan yang baik dan memilki kolam kecil untuk penyimpanan ikan mas yang baik. Mereka memerlukan kolam kecil untuk penyimpanan ikan mas yang telah dipanen tersebut yang umumnya dapat dijual langsung ke pedagang pengumpul pada hari itu juga.

Dokumen terkait