BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.3 Prospek Ekonomi Budidaya Ikan Mas
Usaha budidaya ikan mas memiliki prospek pengembangannya cukup besar, dengan terpenuhinya semua subsistem agribisnis dalam usaha tani. Ketersediaan sarana produksi perikanan kolam (parang, cangkul, ember, jaring) dan input supply yang terdiri dari benih dan pakan yang menjadi penentu kelancaran kegiatan usaha tani yang dilakukan. Semua ini dapat dipenuhi secara kontinuitas yang dapat diperoleh. Usaha kecil sebagai salah satu penyangga dalam kegiatan ekonomi masyarakat yang memiliki berbagai jenis usaha. Keberadaan industri kecil di Indonesia telah memiliki peran yang penting didalam perekonomian nasional, terutama dalam aspek peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan peningkatan ekspor non migas (Anoraga et al., 2002).
Industri kecil pedesaan mempunyai arti penting dalam usaha mengurangi tingkat kemiskinan di pedesaan atau dengan kata lain diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pedesaan (Mubyarto,1986).
2.1.4. Permasalahan Umum Agribisnis Ikan Mas di Indonesia
Permasalahan umum agribisnis ikan mas yang banyak dihadapi adalah, aspek teknologi budidaya yaitu teknologi dari sistem budidaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas ikan mas berdaging tebal dan tidak berbau lumpur guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani ikan, aspek manajemen adalah peningkatan pengetahuan tentang perencanaan penentuan waktu/musim penebaran (hubungannya dengan musin panen yang melimpah yang menyebabkan harga hasil produksi ikan segar menurun drastis), penanganan pasca panen.
1. Masalah Teknologi Budidaya
Masalah teknologi budidaya yang dialami para petani ikan mas adalah keterbatasan modal untuk melakukan pengembangan teknologi tepat guna dalam usahanya masih sangat terbatas, dan lemahnya akses akan keterbatasan informasi tentang sumber teknologi.
2. Masalah Manajemen
Masalah manajemen yang sering menjadi kendala bagi para petani ikan mas adalah penerapan fungsi-fungsi manajemen dalam menjalankan usahanya, adalah : a. Perencanaan
Dalam pelaksanaan budidaya ikan mas sampai pascapanen para petani terkadang kurang memperhatikan aspek perencanaan dalam menjalankan usahanya, seperti penentuan waktu/musim penebaran (hubungannya dengan musim panen yang melimpah yang menyebabkan harga hasil produksi ikan segar mas menurun drastis), jumlah padat penebaran, pengelolaan keuangan usaha, dengan pola pemikiran terkadang menganggap setiap hasil penjualan merupakan hasil keseluruhan, tanpa memikirkan untuk kelanjutan usaha.
b. Pengorganisasian
Masalah pengorganisasian yang menonjol adalah penempatan tenaga kerja
berdasarkan bidang keahliannya, atau satu orang mengerjakan semuanya.
Di dalam aspek pengorganisasian petani ikan mas tidak semua menerapkan invertarisasi faktor produksi untuk menyiapkan dan menyediakan seluruh faktor produksinya dengan baik, sedangkan di sebahagian petani akan mengalami kesulitan dan hambatan jika inventarisasi faktor produksi usahatani tidak dilakukan dengan baik.
c. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan usaha yang digeluti belum adanya pencatatan, baik mengenai semua hal-hal yang menjadi biaya maupun pemasukannya, dalam artian belum dikelola secara profesional seperti hal nya pada suatu usaha yang berbadan hukum.
d. Evaluasi dan Pengendalian
Dalam suatu siklus usaha para petani mas belum melakukan evaluasi, baik secara keseluruhan kegiatan usaha yang dilakukan, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam melakukan pengendalian jika terdapat berbagai kendala yang dihadapi, seperti pada saat musim panen yang hasil produksi melimpah.
3. Masalah Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen merupakan masalah yang sangat berpengaruh dan menentukan kualitas ikan mas. Penanganan yang keliru, disamping akan memberikan mutu yang kurang baik juga dapat mempengaruhi harga atan nilai jual ikan tersebut. Oleh karena itu proses penanganan ikan mas pada pasca panen harus benar-benar mendapat perhatian.
2.1. Landasan Teori
Agribsinis dapat dibagi menjadi tiga sektor yang saling tergantung secara ekonomis, yaitu sektor masukan (input), produksi (farm), dan sektor keluaran (output). Cakupan kegiatan agribisnis meliputi selutuh bahan masukan, usahatani, produk yang memasok bahan masukan usahatani, terlibat dalam produksi, dan pada akhirnya menangani pemrosesan, penyebaran, penjualan secara borongan, dan
penjualan eceran produk kepada konsumen akhir (Downey, W.D. dan Erikson S.P.,2000).
Pengertian lain dari agribisnis adalah: agribisnis merupakan suatu kesatuan kegiatan uasaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan hasil dan pemasaran yang ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas. Yang dimaksud dengan “ada hubungannya dengan pertanian dalam arti luas adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian (Soekartawi, 2003).
Subsistem dalam agribisnis akan mempunyai keterkaitan erat ke belakang (backward linkage) yang berupa peningkatan kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, dan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang berupa peningkatan kegiatan pasca panen (terdiri dari pengolahan dan pemasaran produk pertanian dan olahannya. Jika subsistem agribisnis digambarkan sebagai proses menghasilkan produk-produk pertanian di tingkat primer (biji, buah, daun, telur, susu, produk perikanan, dan lain-lain), maka kaitannya dengan industri berlangsung ke belakang (backward linkage) dan ke depan (forward linkage).
Biaya usahatani merupakan biaya total yang harus dikeluarkan untuk berjalannya kegiatan usahtani yang meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost). Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh proses produksi di tingkat usahatani. Biaya tetap harus dikeluarkan dalam jumlah yang sama meskipun kapasitas produksi tidak digunakan maksimal. Biaya tetap pada usahatani meliputi biaya investasi/ sewa lahan dan penyusutan peralatan usahatani. Biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya fluktuatif mengikuti
kegiatan proses produksi atau biaya yang besarnya tergantung pada tingkat produksi biaya ini meliputi biaya pembelian bibit atau benih, pupuk, obat, dan tenaga kerja dalam kegiatan produksi usahatani (Ariadi dan Rahayu, 2011).
Dalam kegiatan usahatani, ada beberapa cakupan aktivitas yang harus dilakukan agar kegiatan usahatani dapat berjalan lancar dan berproduksi optimal. Aktivitas-aktivitas tersebut meliputi:
a. Aktivitas Teknis
- Memutuskan akan memproduksi apa dan bagaimana caranya - Memanfaatkan lahan
- Membuat gambaran tentang teknologi dan peralatan yang akan digunakan serta implikasinya pada penggunaan tenaga kerja.Menentukan skala usaha
b. Aktivitas Komersial
- Menghitung berapa dan apa saja input yang dibutuhkan baik yang telah dipunyai maupun yang dicari
- Menentukan kapan, darimana, dan berapa jumlah input yang diperoleh - Meramalkan penggunaan input dan produksi yang akan diperoleh
- Menentukan pemasaran hasil, kepada siapa, dimana, kapan, dan kualitas produk atau hasil
c. Aktivitas Finansial
- Mendapatkan dana dari sendiri, pinjaman kredit bank, atau kredit yang lain
- Menggunakan dana untuk memperoleh pendapatan dan keutungan (jangka panjang)
- Meramalkan kebutuhan dana untuk jangka panjang yang akan datang (inventasi untuk penggantian alat-alat atau perluasan usaha)
d. Aktivitas Akutansi
- Membuat catatan tentang transaksi baik bisnis maupun pajak - Menyimpan data tentang usahanya
(Suratiya, 2006).
Kinerja adalah tingkat pelaksanaan tugas yang dapat dicapai seseorang, unit atau devisi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Dunia agribisnis merupakan suatu sistem pertanian rakyat dan hanya sedikit saja yang berupa sistem perusahaan pertanian. Walaupun keduanya tidak dapat dipisahkan dan sangat menentukan kinerja secara keseleruhan pertanian Indonesia, akan tetapi perbedaan pada skala usaha, penguasaan teknologi, kemampuan manajemen, dan perspektif pemasaran sudah cukup mewakili kenyataan bahwa keduanya merupakan dua entitas yang sangat berbeda (Arifin, 2001).
Kinerja mempunyai hubungan erat dengan masalah produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas tinggi dalam suatu organisasi. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja disuatu organisasi merupakan hal penting. Secara umum produktivitas mengadung pengertian perbanding antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Sehingga produktivitas adalah bagaimana menghasilkan atau meningkatkan hasil barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien. Oleh karena itu produktifitas sering diartikan sebagai rasio antara keluarga dan masukan dalam satu waktu (Sudermayanti, 2009).
Pengolahan hasil merupakan salah satu kegiatan yang cukup penting dari serangkaian kegiatan agribisnis. Hal ini disebabkan kegiatan pengolahan hasil memberikan beberapa manfaat dan keutungan, anatara lain: meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan keterampilan produsen, dan meningkatkan pendapatan produsen (Soekartawi, 2003).
2.2. Penelitian Terdahulu
Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa sistem agribisnis ikan mas harus berjalan secara harmonis di antara setiap subsistemnya. Hasil penelitian Supristiwendi, SP, M.Si dan Monika Azizah (2015) yang berjudul Pengaruh Penerapan Sistem Agribisnis Terhadap Pendapatan Usahatani Mentimun (Cucumis Sativus L.) Di Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan subsistem sarana produksi, subsistem produksi usahatani dan subsistem penanganan pasca panen terhadap pendapatan usahatani mentimun di Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang. Rata-rata umur petani mentimun adalah 41,2 tahun, dengan masa pendidikan 8,9 tahun, pengalaman berusahatani 13,3 tahun dan besarnya tanggungan keluarga rata-rata 4 orang. Rata-rata umur petani tergolong produktif, masa pendidikan tergolong rendah karena masa pendidikan 8,9 tahun antara SLTP dan SLTA, sedangkan jumlah tanggungan keluarga 4 orang relatif tinggi. Hasil Penelitian dimana rata-rata luas lahan garapan usahatani mentimun di Desa Jamur Jelatang adalah 0,23 Ha, Desa Jamur Labu 0,16 Ha dan Desa Ingin Jaya 0,16 Ha.
Sedangkan rata-rata luas garapan petani mentimun di daerah penelitian adalah 0,18 Ha. Rata-rata biaya produksi usahatani mentimun pada di daerah penelitian
yaitu Rp. 2.046.947,- per usahatani dan Rp. 11.371.926,- per hektar. Penggunaan biaya produksi terbesar terdapat di Desa Jamur Jelatang yaitu Rp. 2.495.991 per usahatani. Rata-rata pendapatan kotor/nilai produksi usahatani mentimun didaerah penelitian adalah sebesar Rp. 4.583.333,-/UT atau Rp. 25.462.963,-/Ha,
sedangkan rata-rata pendapatan bersih usahatani mentimun adalah Rp. 2.536.387,-/UT atau Rp. 14.091.037,-/Ha.
Menurut penelitian Permata P.D. (2002) yang berjudul Analisa Sistem Agribisnis Kedelai menunjukkan bahwa belum adanya keterkaitan yang harmonis antara masing-masing subsistem yang ada. Sistem agribisnis kedelai di Kecamatan Sukaluyu yang dibangun dari subsistem-subsitem yang kurang harmonis ini berdampak pada rendahnya produksi dan produktivitas kedelai sehingga mangakibatkan kurangnya kontribusi ekonomi agribisnis kedelai terhadap masing-masing pelaku dalam sistem tersebut khususnya petani. Pengadaan sarana
produksi usaha pertanian yang meliputi benih kedelai, pupuk kimia (Urea, TSP, KCL), pupuk hayati (Rhizo-plus), obat-obaatan (Decis) dan alat-alat
pertanian cukup lancar dan teredia dengan baik. Selain itu pendapatan usahatani kedelai di Desa Hagar manah menunjukkan bahwa usahatani yang dilakukan petani penyewa memilki rasio R/C atas biaya tunai sebesar 1,08 dan rasio R/C atas biaya total sebesar 0.86. Untuk petani pemilki penggarap hasil analisis menunjukkan bahwa rasio R/C atas biaya tunai sebesar 2,32 dan rasio R/C atas biaya total sebesar 0,86. Sehingga hasil ini dapat dikatakan cukup baik dan layak diusahakan.
2.3. Kerangka Pemikiran
Sistem agribsinis meliputi semua aktivitas mulai dari pengadaan dan penyaluran semua produksi sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usahatani. Dalam sistem agribsinis terdapat proses-proses yang dilakukan oleh para pelaku agribisnis yaitu produsen, middleman, lembaga pemasaran, lembaga pendukung kegiatan usaha tani dan konsumen. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan agar pendistribusian produk usaha tani dapat berjalan dengan lancar sehingga dapat memaksimalkan pendapatan petani.
Aspek perencanaan dengan indikator bahwa petani ikan mas dapat menyiapkan seluruh kebutuhan untuk usahataninya beserta pendanaan, sehingga seluruh kegiatan pada setiap subsistem berjalan lancar oleh sarana dan prasarana yang memadai. Adapun yang menjadi verifer dari indikator ini meliputi, ada dokumen tertulis dan lengkap yang dimiliki oleh setiap petani pada perencanaan kegiatan usahataninya, dokumen disusun oleh petani sendiri beserta keluarga, kelompok tani, ataupun penyuluh pertanian, dokumen telah dipakai oleh petani ikan mas sebagai acuan dalam kegiatan usahataninya.
Aspek pengorganisasian dengan indikator bahwa petani ikan mas dapat menyiapkan seluruh kebutuhan untuk usahataninnya beserta pendanaan, sehingga seluruh kegiatan pada setiap subsistem berjalan dengan lancar oleh sarana dan prasarana yang memadai. Adapun yang menjadi verifer dari indikator ini meliputi, petani melakukan kegiatan inversitasasi jenis, kuantitas, dan kualitas seluruh faktor produksi yang akan digunakan pada usahataninnya, petani melakukan perincian biaya yang ada dikeluarkan dalam kegiatan usahataninya, sumber dana disiapkan secara matang baik berasal dari petani sendiri, beserta keluarga, maupun
dari pinjaman, seluruh faktor yang akan digunakan tersedia secara memadai dan tepat pada waktu yang dibutuhkan.
Aspek pengaktualisasian dengan indikator bahwa petani melakukan kegiatan produksi dan pascapenen dengan baik sesuai dengan prosedur standar pada usahatani ikan mas sehingga menghasilkan produk ikan mas yang bermutu baik.
Adapun yang menjadi verifer dari indikator iini meliputi, kegiatan pengolahan tanah dilakukan dengan baik yaitu adanya kegiatan penggemburan tanah, dan pembuatan bedengan, pemakaian benih bersertifikat maksimal hingga lima kali pemakaian ulang (F1-F5), pemberian pakan secara intensif, pemberian suplemen yang dilakukan sesuai jadwal dan kebutuhan ikan mas, ada kegiatan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, ada kegiatan pemeliharaan lanjutan, ada kegiatan seleksi mutu atau penjelasan sesuai dengan produk ikan mas yang dihasilkan, ada kegiatan pengemasan dan penyimpanan yang baik sehingga tahan lama.
Aspek pengendalian dengan indikator bahwa seluruh sistem agribisnis ikan mas yang meliputi subsistem praproduksi, produksi, dan pascaproduksi berjalan dengan baik. Adapun yang menjadi verifer dari indikator iini meliputi, jadwal dan kegiatan pemberian pakan berjalan sesuai dengan kebutuhan ikan mas, ada tindakan penanganan terhadap kendala yang dijumpai pada saat penyedian faktor produksi usahatani ikan mas, seluruh hasil produksi dapat dipasarkan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan ikan mas yang telah dihasilkan, dan ada tindakan antisipasi terhadap harga ikan mas yang rendah, misalnya: pengolahan lanjutan, menjalin mitra dagang, dan lainnya.
Sistem agribisnis ikan mas pada dasarnya terdiri atas subsistem pra produksi, subsistem produksi dan subsistem pasca produksi. Subsistem pra produksi terdiri atas pengadaan input ikan mas mulai dari benih, pupuk, pestisida. Subsistem produksi meliputi kegiatan produksi atau pemeliharaan ikan mas sampai pada panen ikan mas. Sedangkan subsistem pasca produksi merupakan subsistem akhir yang meliputi kegiatan pasca panen pada ikan mas. Selain itu terdapat subsistem penunjang, dimana meliputi lembaga maupun badan yang mendukung sistem agribisnis ikan mas.
Dalam konsep sistem agribisnis terdapat keterkaitan antar subsistem agribisnis tersebut. Dimana keterkaitan tersebut meliputi pengadaan dan peningkatan sarana produksi berupa input produksi, dan kaitan peningkatan kegiatan pasca panen yang terdiri dari pengolahan dan pemasaran produk pertanian dan olahnnya.
Setelah dilakukan pengumpulan dan sumberdaya di setiap subsistem agribisnis ikan mas di dapat diindentifikasikan kondisi dari setiap subsistem agribisnis ikan mas dan diteliti sinergitas sistem agribisnis ditinjau dengan menganalisis apakah sistem agribisnis yang berjalan menjadi suatu rangkaian kegiatan yang utuh anatara subsistem pra produksi, subsistem produksi, subsistem pasca produksi dan keefektifan lembaga pendukung sebagai subsistem penunjang. Dimana metedologi yang digunakan adalah metode deskriktif dengan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Adapun skema kerangka pemikiran dapat dilihat pada 2.4 berikut:
= Menyatakan Pengaruh
= Menyatakan Hubungan
= Hasil Penilaian
= Menyatakan Keterkaitan
Gambar 2.4. Skema Kerangka Pemikiran Usahatani Ikan Mas
Subsistem Pra Produksi
Subsistem Produksi
Subsistem Pasca Produksi
Lembaga Pendukung
Kinerja Sistem Agribisnis 1. Aspek Perencanaan
2. Aspek Pengorganisasian 3. Aspek Pengaktualisasian 4. Aspek Pengendalian
Baik B
Kurang Baik
2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan indentifikasi masalah yang telah diuraikan, maka hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Terdapat sekat yang kuat antar subsistem dalam sistem agribisnis ikan mas di daerah penelitian.
2. Tingkat kinerja yang tinggi dalam sistem agribisnis ikan mas di daerah penelitian.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metodologi Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian yang dipilih adalah Desa Mariah Jambi, Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun. Daerah penelitian dipilih dengan metode Purposive dimana untuk memperoleh data peneliti menemui subyek penelitian yang memenuhi syarat seperti tekun, ulet, kuat, berpengalaman dalam usahatani, umur, pendidikan, dan luas garapan (Sugiyono, 2011).
3.2. Metodologi Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah petani Ikan Mas yang ada di Desa Mariah Jambi Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi Kabupaten Simalungun. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode Simple Random Sampling dimana setiap elementer dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel serta tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi.
Populasi petani di Desa Mariah Jambi Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi Kabupaten Simalungun adalah sebanyak 100 orang. Maka penentuan besar sampel petani di desa tersebut ditentukan dengan metode Slovin (1967) dalam Supriana (2016) sebagai berikut:
Keterangan: n = Besarnya sampel N = Besarnya populasi E = Margin error (10%)
Maka besar sampel petani Ikan Mas untuk di teliti di Desa Mariah Jambi adalah:
n = N 1 + N (e²)
n = N 1 + N (e²) n = 100 1 + 100 (0,1²) n = 100
2 n = 50
Dengan jumlah populasi sebanyak 100 orang petani ikan mas, maka di peroleh jumlah sampel untuk petani tanaman ikan mas yang akan diteliti adalah 50 sampel petani ikan mas.
3.3. Metodologi Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi pengamatan dan wawancara langsung dengan petani dan pedagang yang menjadi sampel serta menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Data sekunder merupakan data pelengkap yang diperoleh dari lembaga/instansi yang terkait, literatur, buku, media lain yang sesuai dengan penelitian ini.
3.4. Metodologi Analisis Data
Secara umum alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif.
Analisis deskriptif dilkukan sesuai dengan tujuan masing-masing.
Untuk tujuan penelitian 1 dan 2 yaitu menganalisis bagaimana eksisting pada masing-masing subsistem agribisnis ikan mas yang meliputi subsistem pra produksi, subsistem produksi, subsistem pasca produksi, saluran pemasaran, dan lembaga pendukung dalam agribisnis ikan mas digunakan metode analisis deskriptif.
berdasarkan data primer dengan menggunakan daftar pertanyaan (questioner) dan wawancara kepada pelaku-pelaku sistem agribisnis.
Dalam konsep sistem agribisnis terdapat keterkaitan antar subsistem agribisnis tersebut. Dimana keterkaitan tersebut meliputi pengadaan dan peningkatan sarana produksi berupa input produksi, dan kaitan peningkatan kegiatan pasca panen yang terdiri dari pengolahan dan pemasaran produk pertanian dan olahnnya.
Untuk tujuan penelitian 3, yaitu akan dianalisis dengan menggunakan skala peringkat (rating scale), yaitu data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Langkah awal penilaian adalah dengan memberikan bobot atau setiap aspek penelitian. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Bobot tersebut dibagi lagi untuk setiap deskriptor, dengan rincian pada Tabel 3.4 berikut:
Tabel 3.4 Indikator Penilaian Kinerja Sistem Agribisnis Ikan Mas
Aspek Indikator Verifer Varians of
Verifer
petani ikan mas
dan pascapanen
san agribisnis ikan
Untuk nilai akhir diperoleh dengan mengalikan skor jawaban dengan bobot.
Sehingga total nilai berada diantara 0-200. Berdasarkan total nilai tersebut ditentukan kriteria kinerja sebagai berikut:
Apabila nilai berada diantara: 0 – 66 = Kinerja kurang baik 67-133 = Kinerja cukup baik 133-200 = Kinerja Baik
3.5. Definisi dan Batasan Operasional
Untuk menghidari kesalahpahaman atas pengertian dan penafsiran penelitian ini maka penulis membuat defenisi dan batasan operasioanal sebagai berikut:
3.5.1. Definisi
1. Agribisnis merupakan suatu kegiatan yang utuh di dalam pertanian yang terdiri dari subsisten praproduksi, produksi, hingga pasca produksi.
2. Sistem agribisnis merupakan suatu perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas di dalam kegiatan agribisnis.
3. Aspek perencanaan yaitu proses menyusun dan mempertimbangkan segala faktor yang berkaitan dengan usahatani sehingga usahatani yang akan diusahakan diperkirakan dapat dijalankan dalam hal usahatani ikan mas.
4. Aspek pengorganisasian yaitu proses penyiapan seluruh kebutuhan yaang akan digunakan dalam kegiatan usahatani.
5. Aspek pengaktualisasian yaitu kegiatan mewujudkan apa yang telah direncanakan dan dioragnisasikan sebelumnya pada usahatani ikan mas.
6. Aspek pengawasan yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memastikan semua kegiatan usahatani ikan mas berjalan sesuai dengan prosedur.
7. Subsistem praproduksi meliputi perencanaan dan persiaapan kegiatan usahatani ikan mas, penyediaan faktor produksi, dan lainnya yang dipakai sebagai penunjang kegiatan subsistem produksi ikan mas.
8. Subsistem produksi merupakan seperangkat prosedur dan pada kegiatan yang terjadi dalam penciptaan produk. Dalam hal ini, produk yang dihasilkan adalah ikan mas.
9. Subsistem pascaproduksi merupakan kegiatan pasca produksi ikan mas yang meliputi kegiatan penanganan pascapanen, pengolahan lanjutan (jika ada), dan kegiatan pemasaran produksi.
10. Produksi adalah banyaknya hasil dari setiap jenis usahatani menurut bentuk produksi (hasil) yang diambil berdasrkan luas yang dipanen.
11. Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarakan pada konsumen untuk produk-produk usahatani.
12. Penerimaan usahatani total produksi yang dihasilkan usahatani selama masa produksi yang dihitung dalam bentuk satuan rupiah (Rp).
13. Pendapatan usahatani adalah selisih dari total penerimaan usahatanu yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk usahatani yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
14. Indikator adalah atribut kuantitatif dan kualitatif untuk mengukur kriteri/aspek/dimensi secara akurat yang dibuktikan kebenarannya oleh verifer.
15. Verifer adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk pengujian, penilaian atau pembuktian suatu indikator yang telah ditetapkan.
16. Varians of Verifer adalah variasi jawaban atas standar yang digunakan
3.5.2. Batasan Operasional
1. Daerah penelitian dilakukan di Mariah Jambi , Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun.
2. Sampel dalam penelitian ini adalah petani ikan mas dan middle man (pedagang perantara) yang terdiri dari agen dan pedagang pengecer ikan mas di Desa Mariah Jambi, Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi, Kabupaten
2. Sampel dalam penelitian ini adalah petani ikan mas dan middle man (pedagang perantara) yang terdiri dari agen dan pedagang pengecer ikan mas di Desa Mariah Jambi, Kecamatan Jawamaraja Bah Jambi, Kabupaten