• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daya saing merupakan kemampuan sebuah daerah untuk menghasilkan barang dan jasa untuk mencapai peningkatan kualitas hidup masyarakat. Daya saing daerah di Kabupaten Indramayu dapat dilihat dari aspek kemampuan ekonomi daerah, fasilitas wilayah atau infrastruktur, iklim berinvestasi dan sumber daya manusia.

2.4.1 Kemampuan Ekonomi Daerah

Kondisi perekonomian suatu daerah dapat terlihat melalui angka PDRB suatu wilayah sedangkan untuk melihat perkembangannya dapat dilihat melalui Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yaitu dengan melihat perubahan nilai PDRB berdasarkan harga konstan dari tahun ketahun. Penggunaan harga konstan tidak

lain adalah untuk memberikan gambaran yang lebih riil dari perkembangan kuantitas produk yang dihasilkan di wilayah tersebut.

Peranan minyak dan gas bumi bagi pembentukan nilai PDRB Kabupaten Indramayu terlihat sangat dominan. Sementara pada sisi yang lain, hasil dari kegiatan yang terkait dengan minyak dan gas bumi ini lebih banyak dibawa keluar sehingga pengaruh dari produksi minyak dan gas tidak menggambarkan hasil produksi yang dapat dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Indramayu. Oleh karena itu, dalam menganalisis perkembangan ekonomi wilayah Kabupaten Indramayu, nilai PDRB yang digunakan adalah nilai PDRB tanpa minyak dan gas bumi. Harapannya, pengamatan terhadap gerak ekonomi wilayah secara keseluruhan maupun gerak masing-masing sektor dapat lebih menggambarkan kondisi yang terjadi di lapangan.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Indramayu, dapat dilihat pada Tabel 2.10.

Tabel 2.10 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Indramayu Tahun 2006–2009

No. INDIKATOR 2006 2007 T A H U N2008 2009 2010

1. 2. 3.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) Jumlah Investasi (dalam jutaan rupiah)

PDRB Kabupaten Indramayu - Atas Dasar Harga Berlaku

dengan Migas (dalam jutaan Rupiah

- Atas Dasar Harga 2000 dengan Migas (dalam jutaan rupiah) - Atas dasar harga berlaku tanpa

migas (dalam jutaan ruipiah) - Atas dasar harga konstan 2000

tanpa migas (dalam jutaan rupiah)

- Perkapita dengan migas - Perkapita tanpa migas

5,10 7.707.251 31.895.387,37 12.621.047,47 10.813.762,59 6.132.973,00 19.134.668,38 6.487.388,25 5,62 9.317.423 34.541.953,08 12.956.044,65 12.492.762,00 6.477.712,80 20.590.000,00 7.446.997,00 5,08 10.749.981 40.812.441,00 13.233.522,04 14.388.482,00 6.806.742,93 24.250.862,00 8.596.459,00 4,44 12.257.293 44.701.580,00 13.480.452,02 16.336.302,00 7.334.434,00 26.329.926,00 9.409.684,02 4.41 -45.030.322,94 14.034.756,00 17.401.200,05 7.606.987,06 27.065.770,00 10.459.105,04

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, 2010

Pembangunan Kabupaten Indramayu merupakan bagian integral dari pembangunan regional dan nasional, dengan memanfaatkan secara optimal semua potensi yang dimiliki daerah. Dalam upaya mencapai pembangunan daerah yang lebih berdayaguna dan berhasilguna, pembangunan daerah mengacu pada pola pengembangan tata ruang sebagai aspek yang tidak terpisahkan dari pola pembangunan.

Ketersediaan infrastruktur yang memadai merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi pembangunan suatu wilayah, terutama keterkaitannya dengan aktivitas maupun mobilitas masyarakat dalam menggerakan roda perekonomian daerah. infrastruktur tersebut meliputi seluruh prasarana dan sarana yang diperlukan oleh masyarakat dan dunia usaha, seperti sarana dan prasarana transportasi dan perhubungan, infrastruktur perumahan dan permukiman, infrastruktur Sumber daya air, infrastruktur air bersih, infrastruktur prasarana wilayah, ketenaga listrikan, telekomunukasi dan informasi maupun infrastruktur lainnya yang berkaitan dengan penyediaan jasa pelayanan kepada masyarakat. Beberapa hal yang terkait dengan kondisi infrastruktur wilayah Kabupaten Indramayu meliputi ;

1). Transpotasi dan Perhubungan.

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak lepas dari ketersediaan prasarana dan sarana tranportasi yang merupakan hal yang paling mendasar terhadap berbagai aktivitas serta pergerakan baik orang maupun barang yang dapat memperluas aksebilitas suatu daerah.

Wilayah Kabupaten Indramayu secara ekonomis sangat diuntungkan, karena letak geografisnya berada di jalur utama pantura yang merupakan urat nadi perekonomian regional dan nasional, hal ini diperkuat lagi dengan adanya rencana pembangunan jalan bebas hambatan (jalan Tol) ruas Cikopo - Palimanan yang melewati Indramayu, dimana panjang jalan tol yang melewati wilayah Indramayu adalah ±17 km dan dengan 1 (satu) Interchange jalan Tol yaitu di Desa Cikawung Kecamatan Terisi, juga dengan adanya rencana pembangunan pelabuhan Pengumpan Regional yang terletak di Pantai Utara Laut Jawa Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu.

Kondisi panjang jalan di Kabupaten Indramayu sampai dengan tahun 2009 yaitu jalan Nasional sepanjang 108,150 km, jalan Provinsi 105,680 km, jalan Kabupaten 798,035 km, jembatan kabupaten 2.990,150 meter dan jalan desa 980,150 km. Dengan berbagai kondisi dimana untuk jalan kabupaten terdapat 54,13 % kondisinya baik (400.058 km), 29,51 % kondisi sedang (235.520 km), 13,98 % kondisi rusak ringan (111.582 km) dan 6,38 % (50.875 km) rusak berat. Sementara itu jumlah terminal yang ada di Kabupaten Indramayu sebanyak 6 buah yaitu terminal Indramayu (type C), terminal Sindang (type C), terminal Jatibarang (type C/lintas), terminal Karangampel (type C), Terminal Patrol (type C) dan terminal Haurgeulis (type C).

Angkutan darat merupakan sarana utama yang ada di kabupaten Indramayu. Sampai dengan tahun 2009 mobil yang beroperasi di kabupaten Indramayu berjumlah 17.547 unit. Yaitu terdiri dari mobil penumpang, mobil angkutan barang, mobil angkutan penumpang, masing-masing sebanyak 7.866, 9.186, dan 522 kendaraan. Sedang sepeda motor di tahun 2009 tercatat sebanyak 282.343 unit. Sementara itu jaringan trayek dalam wilayah Kabupaten Indramayu saat ini tersebar di 31 Kecamatan yaitu sebanyak 43 jaringan.

Selain transportasi jalan raya, kabupaten Indramayu juga merupakan perlintasan jalur kereta api antara Jakarta dengan kota-kota lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dengan adanya stasiun kereta api yang ada sekarang yaitu di Haurgeulis, Cilegeh, Terisi, Kedokan gabus, Telagasari, Kertasemaya dan Jatibarang, kereta api menjadi sarana transportasi massal alternatif yang dapat digunakan oleh masyarakat Indramayu.

Sedangkan untuk transportasi laut di Kabupaten Indramayu hingga sekarang masih terbatas pada angkutan niaga dan perikanan. Pada tahun 2009 tercatat sebanyak 3.891 unit kapal yang terdiri dari 3.233 kapal nelayan dan 658 kapal niaga berlabuh di Kabupaten Indramayu.

Sementara itu untuk transportasi udara, Kabupaten Indramayu memanfaatkan bandara Soekarno Hatta di Jakarta maupun bandara Husein Sastranegara di Bandung yang jaraknya relatif jauh dari Indramayu, akan tetapi

Kabupaten Majalengka, merupakan suatu keuntungan bagi masyarakat Indramayu karena faktor jaraknya yang relatif lebih dekat.

2). Sumber Daya Air

Sumber air yang ada di Kabupaten Indramayu meliputi air permukaan dan air tanah. Air permukaan berupa sungai dan air genangan, yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, Cipunegara, Cipanas, Cibelerang, Cipondoh, Cilalanang dan lain-lain, sedangkan air tanah terdiri air tanah bebas dan air tanah tertekan yang dieksploitasi melalui sumur-sumur pompa.

Sesuai dengan kebijakan pengelolaan air baku untuk irigasi, maka di Indramayu dibagi menjadi dua bagian pelayanan irigasi, yaitu daerah irigasi Rentang dan daerah irigasi kecil yang mendapat pasokan air dari Bendung Rentang, Bendung Salamdarma, Bendung Sumurwatu, Bendung HBM, Bendung Cibelerang dan bendung-bendung kecil lainnya berada dibawah pengelolaan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Pertambangan dan Energi Kabupaten Indramayu, sedangkan daerah irigasi Cipunegara yang mendapatkan pasokan air dari Waduk Jatiluhur dibawah pengelolaan PJT II Jatiluhur Divisi III Seksi Patrol. Adapun saat ini kebutuhan air di Kabupaten Indramayu bersumber dari :

a. Bendung Rentang yang berada di Sungai Cimanuk yang mengairi Daerah Irigasi Rentang melalui Saluran Induk Cipelang dan Sindopraja seluas 66.175 Ha.

b. Bendung Salamdarma yang berada di sungai Cipunegara mengairi Daerah Irigasi Cipunagara melalui Saluran Induk Bugis seluas 24.405 Ha. c. Waduk Cipancuh yang mengairi Daerah irigasi Cipancuh seluas 6.318

Ha.

d. Bendung Sumurwatu yang berada di sungai Cipanas mengairi Daerah Irigasi Cipanas I seluas 2.855 Ha.

e. Bendung HBM yang berada di sungai Cipanas mengairi Daerah Irigasi Cipanas II seluas 3.265 Ha.

g. Bendung Cibelerang yang berada di sungai Cibelerang mengairi Daerah Irigasi Cibelerang seluas 325 Ha.

h. Bendung Cipondoh mengairi Daerah Irigasi Cipondoh seluas 698 Ha. i. Bendung Lebiah mengairi Daerah Irigasi Lebiah seluas 217 Ha.

j. Bendung Sumber Mas mengairi Daerah Irigasi Sumber Mas seluas 382 Ha.

k. Bendung Niwo mengairi Daerah Irigasi Niwo seluas 173 Ha. l. Bendung Sangkep mengairi Derah irigasi Sangkep seluas 98 Ha. m. Bendung Lalanang mengairi Daerah Irigasi Lalanang seluas 597 Ha. n. Bendung Pedati mengairi Daerah Irigasi Pedati seluas 1.499 Ha. o. Bendung Cipapan mengairi Daerah Irigasi Cipapan seluas 240 Ha. p. Pompanisasi mengairi Daerah Irigasi Pompanisasi seluas 318 Ha. q. Bendung Legeh mengairi Daerah Irigasi Legeh seluas 408 Ha.

Kabupaten Indramayu sebagai salah satu daerah lumbung padi dengan areal persawahan yang cukup luas tentu harus ditunjang sarana sumberdaya air yang memadai dan baik. Hal tersebut juga telah didukung Pemerintah Pusat dengan adanya rencana Pembangunan Bendungan Jatigede yang berlokasi di Kecamatan Jatigede kabupaten Sumedang, sehingga perlu adanya antisipasi yang tepat terhadap pembangunan tersebut berupa penataan sistem irigasi maupun pembangunan jaringan irigasi baru yang diharapkan membawa dampak atau manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indramayu secara maksimal. Selain itu perlu adanya pengelolaan irigasi serta pemeliharaan Daerah aliran Sungai dan jaringan irigasi secara baik sehingga permasalahan yang kerap muncul dimana seringnya terjadi kekeringan disaat musim kemarau dapat lebih diminimalkan, yang pada akhirnya diharapkan Kabupaten Indramayu bisa tetap berlangsung sebagai salah satu daerah penyangga program ketahanan pangan Nasional. Beberapa faktor penyebab kekeringan :

a. Keterbatasan oleh banyaknya infrastruktur sumber daya air (waduk, bendung, embung) yang mengalami penurunan fungsi sehingga tidak bisa menampung

potensi air di musim hujan secara optimal, sehingga pada saat musim hujan banyak air yang terbuang ke laut.

b. Tingkat kandungan sedimen dalam air yang mengalir di sungai maupun di saluran irigasi sangat tinggi, mempercepat terjadinya pendangkalan di saluran irigasi sehingga menyulitkan pendistribusian air. Kondisi jaringan irigasi yang ada hanya berfungsi 60 % nya dan banyak sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan alur.

c. Penurunan kemampuan sumber daya manusia sebagai pengelola air akibat banyak tenaga terampil yang pensiun dan penempatan personil yang tidak sesuai dengan kebutuhan yaitu yang harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu sebagai petugas pengelola air.

d. Kurangnya kesadaran / partisipasi masyarakat dalam operasi dan pemeliharaan bangunan, saluran dan aset irigasi lainnya.

e. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam mentaati produk-produk hukum yang berkaitan dengan bidang pengairan seperti masalah pelanggaran garis sempadan sungai, saluran, situ, pantai, bangunan-bangunan liar disepanjang tanggul dan bantaran sungai, membuang sampah di saluran, mengusahakan galian C di daerah terlarang.

Setiap tahun di musim penghujan terjadi bencana banjir, penyebab utama terjadinya banjir adalah akibat faktor alam dan ulah manusia. Beberapa faktor penyebab banjir :

a. Berbagai kegiatan pembangunan fisik dari tahun ke tahun di wilayah Kabupaten Indramayu telah menggeser penggunaan lahan dari perkebunan, ladang, sawah menjadi permukiman, industri maupun infrastruktur lainnya. Begitu juga dengan kerusakan vegetasi di atas lahan hutan lindung maupun hutan produksi mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off). Intensitas dampak yang di timbulkan cukup besar karena meliputi areal yang cukup luas, berlangsung terus-menerus yang akhirnya mengakibatkan terjadinya banjir musiman yang sangat merugikan baik materil maupun non materil.

b. Akibat erosi di daerah hulu menyebabkan terjadi sedimentasi di palung sungai, saluran irigasi maupun sawah. Pendangkalan yang terjadi semakin meningkat apabila tidak diikuti usaha-usaha pemeliharaan. Kapasitas penampang sungai maupun saluran semakin kecil dan tidak bisa menampung debit aliran yang masuk, sehingga air akan limpas dan menggenangi daerah sekitar.

c. Membuang sampah ke dalam sungai dan saluran irigasi juga mengakibatkan terjadinya banjir.

d. Bendung-bendung liar yang dibuat masyarakat pada saat musim kemarau dengan tujuan untuk membendung air agar tidak terbuang ke hilir dapat mengakibatkan limpasnya air melalui tanggul di musim hujan dan menimbulkan banjir.

e. Terjadinya sedimentasi dan penyempitan alur maupun adanya tambak yang dibuat penduduk di muara sungai sehingga menghalangi aliran debit banjir menuju laut.

f. Banyaknya tanggul kritis yang tidak segera mendapatkan penanganan yang sungguh-sungguh dari pemerintah pusat dan provinsi dalam hal ini adalah BBWS Cimanuk Cisanggaraung, BBWS Citarum dan Dinas PSDA Provinsi. 3). Perumahan dan Permukiman.

Pembangunan infrastruktur bidang perumahan dan permukiman di Kabupaten Indramayu terus menerus diupayakan dan selalu mendapat perhatian yang besar dalam penanganannya, namun belum menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Indramayu, sehingga masih terdapat prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang masih belum memadai di beberapa wilayah.

Program penyediaan prasarana sarana permukiman di Kabupaten Indramayu saat ini dititik beratkan pada kegiatan peningkatan lingkungan perumahan dan permukiman seperti kegiatan penataan dan revitalisasi kawasan, kegiatan peningkatan prasarana dan sarana air bersih, kegiatan peningkatan sarana prasarana penyehatan lingkungan permukiman yang didalamnya menyangkut urusan penanganan air limbah, persampahan dan drainase lingkungan permukiman. Pada tahun 2010 jumlah rumah tidak layak huni adalah

278.293 unit dengan prosentase rumah tangga bersanitasi adalah sebesar 60,66 %. Sementara itu berdasarkan data dari Dinas Cipta Karya Kabupaten Indramayu jumlah keluarga belum punya rumah pada tahun 2010 adalah sebanyak 72.925 KK.

4). Air Bersih

Ketersediaan infrastruktur penyediaan air bersih di Kabupaten Indramayu, dalam rangka penyediaan dan pengelolaan sumber daya air bersih, operasional pelaksanaannya dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Indramayu dan perorangan. Penyediaan sumber daya air khususnya kebutuhan air minum yang dikelola oleh PDAM untuk melayani masyarakat mengambil sumber dari mata air Sungai Cimanuk, Saluran irigasi induk Cipelang, Sungai Cipanas dan Saluran Irigasi Wanguk.

Cakupan pelayanan PDAM di Kabupaten Indramayu adalah 39,03 %. PDAM Kabupaten Indramayu saat ini mempunyai Kapasitas produksi terpasang 770 liter/ detik dengan jumlah pelanggan sampai dengan bulan juni 2010 berjumlah 62.962 unit yang terdiri dari 62.711 unit SR dan 251 hidran umum. PDAM di Kabupaten Indramayu saat ini memilki 11 Instalasi Pengolahan Air yaitu IPA Kepandean, IPA, Jatibarang, IPA Lohbener, IPA Pamayahan, IPA Babakan Jaya, IPA Jatisawit, IPA Kertasmaya, IPA ANjatan, IPA Losaranag, IPA Bangodua dan IPA Gabuswetan

2.4.3 Iklim Berinvestasi

Daya tarik investor untuk memanamkan modalnya sangat dipengaruhi faktor-faktor seperti tingkat suku bunga, kebijakan perpajakan dan regulasi perbankan, sebagai infrastruktur dasar yang berpengaruh terhadap kegiatan investasi. Iklim investasi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mendorong berkembangnya investasi antar lain fasilitas keamanan dan ketertiban wilayah, kemudahan proses perijinan dan ketersediaan sumberdaya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing.

Secara umum kondisi keamanan dan ketertiban sampai dengan tahun 2010 relatif kondusif bagi berlangsungnya aktivitas masyarakat maupun kegiatan investasi. Berbagai tindakan kejahatan kriminalitass, unjuk rasa dan mogok kerja yang merugikan dan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat dapat ditanggulangi dengan sigap oleh apratur pemerintah. Situasi tersebut juga didorong oleh pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungannya.

b. Kemudahan Perijinan

Faktor pendukung yang sangat erat kaitannya dalam melakukan investasi adalah prosedur dan tata cara perolehan ijin atau pengurusan ijin untuk berinvestasi. Proses perijinan dalam berinvestasi dilaksanakan dengan pelayanan perijinan satu pintu (One Stop Services), melalui Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kabupaten Indramayu. Kepastian prosedur, waktu dan keamanan perijinan merupakan kinerja utama pelayanan investasi. Dengan kemudahan perijinan berinvestasi diharapkan akan menarik minat investor dalam negeri maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Indramayu.

2.4.4 Sumber Daya Manusia

Kualitas sumber daya manusia memilih peranan yang penting dalam meningkatkan daya saing dan berkembangan investasi di daerah. Dalam kerangka pembangunan daerah, kualitas SDM sangat menuntukan bagi seseorang dalam memperoleh kesempatan kerja baik formal maupun nonformal baik di dalam maupun di laur negeri, dan kesempatan kerja sangat berkaitan dengan tingkat pendidikan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik kualitas SDMnya.

Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Indramayu Tahun 2009 komposisi penduduk berdasarkan latar belakang pendidikan dapat di lihat pada Tabel 2.11.

Komposisi Penduduk Berdasarkan Latar Belakang Pendididkan Latar Belakang pendidikan Laki-laki(jiwa) Perempuan(jiwa) Jumlahjiwa) SD dan sederajat

Tamat SLTP dan sederajat Tamat SLTA dan sederajat Tamat Diploma + 413.301 21.423 98.311 22.276 464.43 84.557 53.273 20.617 877.780 205.980 151.584 42.893 Jumlah Total 552.311 622.920 1.175.231

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, 2010

Melihat data tersebut di atas, maka tingkat pendidikan masyarakat masih tergolong rendah yaitu sebesar 69 % tidak tamat/atau tamat SD, Penduduknya yang menamatkan sampai ke jenjang SLTP sebesar 16 % sedangkan angka menamatkan SLTA sebesar 12 % sisanya 3 % dari jumlah penduduk yang menamatkan ke tingkat diploma ke atas, Ini berarti bahwa kualitas SDM masyarakat masih harus ditingkatkan agar memiliki daya saing yang tinggi.

Dokumen terkait