• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK TEKNIS Jumlah KK yang dilayani pertugas

Dalam dokumen BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN MUNA (Halaman 49-63)

persampahan masih kurang hanya di 15 kelurahan

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Kegiatan 3 R belum dilakukan Program percontohan pengelolaan sampah 3 R Tidak semua sampah dibuang di bak/TPS

sebagian dibuang di laut/sungai dan kebung

Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya

Motor sampah tidak tersedia untuk melayani di dalam lingkungan permukiman, hanya pada jalan protokol

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Jumlah TPS terbatas, berjauhan dan

pengangkutan sampah tidak setiap hari (2 kali/minggu)

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Volume timbunan sampah dipasar

membutuhkan container penampung

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Kondisi TPS terbuka, bau dan berlalat Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Jumlah dump truk hanya Sembilan unit,

sedangkan wilayah pelayanan luas

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Pengelolaan TPA masih menggunakan system

open dumping

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Petugas dan fasilitas TPA lakauduma masih

terbatas

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) ASPEK NON TEKNIS

Saat ini tidak ada penarikan retribusi sampah Pengembangan perangkat peraturan daerah Biaya rutin operasinal dan pengelolaan sampah

terbatas

Peningkatan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana dan peran masyarakat) Tidak tersedia data dalam RTRW tentang

pengaturan fasilitas persampahan

Terjadi penurunan kualitas lingkungan Partisipasi dunia usaha dalam pengelolaan

sampah masih kurang

Peningkatan peran serta dunia usaha (CSR) Biaya operasional pengelolaan sampah

terbatas

Pendanaan rutin dari APBD Sumber : Analisis Pokja Sanitasi Kabupaten Muna (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-50 3.4. Pengelolaan Drainase Lingkungan

Jaringan drainase di Kabupaten Muna pada umumnya kondisinya sudah baik. Namun ada beberapa wilayah atau kawasan yang masih rawan banjir seperti Keamatan. Batalaiworu yang menjadi langganan banjir setiap tahunnya, sarana yang ada tidak memenuhi syarat jaringan standar drainase. Syarat tersebut berupa besaran ukuran, kedalaman dan jenis perkerasan. Selain itu, jaringan drainase utama yang berupa sungai tertutup oleh semak ataupun timbunan sampah dan berkembangnya permukiman di tepi sungai yang terkesan kumuh. Dengan kondisi tersebut mengakibatkan jaringan dranase utama tidak dapat berfungsi secara baik dalam mengalirkan air.

3.4.1. Kelembagaan

Terkait dengan pengelolaan drainase lingkungan yang menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muna merupakan penanggung jawab pengelolaan drainase di Kabupaten Muna. Oleh karena itu DPU merupakan unsur pendukung tugas bupati di bidang lingkungan. Untuk mendapatkan informasi yang baik mengenai pengelolaan drainase di Kabupaten Muna Pokja Sanitasi melakukan kajian kelembagaan dan kebijakan terhadap pengelolaan sub sektor sanitasi. Kajian ini perlu dilakukan karena sangat dibutuhkan untuk mengetahui dengan jelas gambaran atau peta kondisi kelembagaan sub sektor drainase yang saat ini telah ada di Kabupaten Muna. Dengan adanya peta kelembagaan ini, maka upaya penyusunan kerangka layanan drainase skala kota yang berkelanjutan dapat dikembangkan secara lebih realistis karena didasarkan pada kondisi dan potensi kelembagaan yang benar-benar nyata.

Tabel 3.35. Daftar Pemangku Kepentingan dan Pembangunan dan Pengelolaan Drainase Lingkungan.

Fungsi Pemangku Kepentingan

Pemerintah

Kab Swasta Masyarakat PERENCANAAN

 Menyusun target pengolahan drainase skala kabupaten Bappeda - -

 Menyusun rencana anggaran program drainase dalam rangka mencapai target

 Membersihkan saluran drainase lingkungan DPU,BLH - Warga Masyarakat

 Memperbaiki saluran drainase lingkungan yang rusak DPU - Warga masyarakat

 Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (saluran drainase lingkungan) dan penggunaan IMB

DPU/

Tata Ruang - -

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-51 PENGATURAN DAN PEMBINAAN

 Menyediakan advis planning untuk pengembangan kawasan permukiman, termasuk penataan drainase lingkungan diwilayah yang akan di bangun.

DPU - -

 Memastikan integrasi system drainase lingkungan (sekunder) dengan system drainase primer.

DPU - -

 Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan drainase lingkungan.

DPU,BLH,

Satpol PP - -

MONITORING DAN EVALUASI

 Melakukan monev terhadap capaian target pengelolaan drainase linkungan skala kab.

DPU - -

 Melakukan monev terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan drainase lingkungan

DPU - -

 Melakukan monev terhadap aktifitas layanan drainase lingkungan, dan atau menampung serta mengelola keluhan atas kemacetan fungsi drainase lingkungan

DPU/BLH - -

Sumber : Analisis Pokja Sanitasi (2013)

Dalam kaitannya dengan pengelolaan drainase lingkungan di Kabupaten Muna, belum memiliki peraturan daerah yang spesifik mengatur masalah pengelolaan drinase lingkungan.

Namun demikian peraturan-peraturan yang dirujuk adalah peraturan dari kementerian pekerjaan umum.

Tabel 3.36. Daftar Peraturan Drainase Lingkungan Kabupaten Muna

Peraturan Ketersediaan Pelaksanaan

Ada Tidak Ket

Target capaian pelaksanaan pengelolaan drainase di kab

- - - -

Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah kab dalam menyediakan drainase lingkungan

- - - -

Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah kab.dalam memberdayakan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan drainase lingkungan

- - - -

Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk mengurangi sampah, menyediakan tempat sampah dihunian di rumah dan TPS

- - - -

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-52 Kewajiban dan sanksi bagi

masyarakat atau pengembang untuk menyediakan drainase

lingkungan dan

menghubungkannya dengan system drainase sekunder

- - - -

Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk memelihara sarana drainase lingkungan sebagai saluran pematusan air hujan

- - - -

Sumber: Studi Kelembagaan (2013) 3.4.2. Sistem dan Cakupan Pelayanan

Bertambahnya kawasan terbangun pada lahan di Kabupaten Muna menambah buruknya kondisi drainase kota karena curah hujan semakin tidak mudah

Jaringan drainase Kota Raha banyak memanfaatkan kondisi topografis dengan kelerengan yang memungkinkan pembuangan air kotor mengalir ke sungai yang ada.

Sistem drainase Kota Raha yaitu :

1. Sungai atau kali alam yaitu kali wamponiki, kali liabalano, kali laende dan kali kandea sebagai kali yang membelah Kota Raha.

2. Jaringan drainase buatan terdapat di sepanjang jalan utama dan jalan-jalan di pusat Kota dengan konstruksi pasangan batu. Sedangkan pada wilayah permukiman pada daerah transisi dan pinggiran Kota pada umumnya berupa saluran alami.

Gambaran mengenai Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir di Kabupaten Muna dapat dilihat pada Grafik Hasil Studi EHRA Tahun 2013 sebagai berikut

Gambar 3.13. Grafik Prosentase Rumah Tangga Yang Mengalami Banjir Rutin

Sumber: Study EHRA (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-53 Berdasarkan Gambar 3.13 diatas, terlihat bahwa rumah tangga yang terdapat pada klaster 1, 2, 3 dan 4 hampir tidak pernah mengalami banjir rutin (˂ 35%), kecuali rumah tangga pada Klaster 0 lebih sering mengalami banjir rutin yaitu sebesar 66,7%. Ini mengindikasikan bahwa secara keseluruhan di Kabupaten Muna yang menjadi sampel penelitian jarang mengalami banjir rutin.Kecamatan yang sering mengalami banjir yaitu Kecamatan Batalaiworu, Kecamatan Lawa dan Kecamatan Tongkuno.

Gambar 3.14. Lama Air Menggenang Jika Banjir Di Kabupaten Muna

Sumber: Study EHRA, 2013

Berdasarkan Gambar 3.14 di atas, terlihat bahwa jika terjadi banjir. maka air menggenang paling lama terdapat pada klaster 0 yaitu lebih dari satu hari (50%), setengah hari dan antara 1 – 3 jam masing-masing 25%. Sedangkan pada klaster 1 dan 2 Lama Air Menggenang Jika Terjadi Banjir rata-rata antara 1 – 3 jam. Hal tersebut menunjukkan bahwa drainase lingkungan/selokan sekitar rumah di Kabupaten Muna masih belum memadai.

Guna memetakan kondisi riil mengenai sistem pengolahan drainase dan teknologi yang digunakannya, maka pokja sanitasi Kabupaten Muna melakukan identifikasi dengan menggunakan metode diagram sistem sanitasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, dapat diketahui berbagai sistem yang saat ini masih digunakan oleh pemda, swasta maupun masyarakat dalam pengelolaan drainase. Sehingga nantinya dapat dijadikan rekomendasi perbaikan sistem pengelolaan drainase dimasa yang akan datang. Adapun hasil kajian menggunakan metode diagram sistem sanitasi seperti terlihat pada Tabel 3.37 dan Tabel 3.38

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-54 . Peta 3.4. Jaringan Drainase Di Kabupaten Muna Kawasan Perkotaan Raha

Sumber : Masterplan drainase Kota Raha (2011) dan Survei (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-55 Peta 3.5. Wilayah Potensi Genangan di Kabupaten Muna Kawasan Perkotaan Raha

Sumber : Hasil Survey (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-56 Tabel 3.37. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Drainase Lingkungan

Input User Interfase Penampungan

Awal Pengaliran Pengolahan Akhir

Pembuangan Daur Ulang

Kode

Aliran Lokasi

Grey Water Kamar Mandi Saluran Tersier Saluran

Sekunder - Sungai AL 1

Sungai Wamponiki, sungai Liabalano,

sungai Laende Grey Water Kamar Mandi Saluran Tersier - Genangan - AL 2 Tidak dialiri sungai

Air Hujan Jalan Saluran Tersier Saluran

Sekunder - Sungai AL 3 Dekat Sungai

Grey Water Kamar Mandi - - Genangan - AL 4 Perdesaan

Sumber: Study DSS (2013)

Tabel 3.38. Sistem Pengelolaan Drainase Yang Ada Di Kabupaten Muna.

Kelompok Fungsi Teknologi Yang

Digunakan Jenis Data Sekunder Perkiraan (Nilai Data) Sumber Data Pembuangan/

Daur Ulang Saluran Induk Panjang 46.703 Restra DPU

Sungai Panjang 138.693 Km Renstra DPU

Pengaliran Ssaluran Sekunder Panjang 258.202 Km Renstra DPU

Penampungan Awal Saluran tersier Panjang 529.748 Km Renstra DPU

User Interface Kamar Mandi Jumlah 87,754 Rumah Dinas Kesehatan

Sumber: Study DSS (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-57 Pada saat ini Kota Raha telah terdapat beberapa prasarana drainase, yaitu saluran drainase, bangunan pelengkap dan pembuangan akhir. Saluran drainase, bangunan pelengkap dan pembuangan akhir yang ada belum merupakan suatu jaringan sistem yang menyeluruh, saluran yang ada sebagian besar hanya digunakan sebagai prasarana setempat saja.

Di dalam wilayah Kota Muna terdapat beberapa buah sungai yang mengalir melewati daerah kota. Menurut pengamatan sungai tersebut dapat digunakan sebagai pembuangan akhir dari saluran drainase, antara lain adalah

1. Sungai Wamponiki melewati Kelurahan. Butung-Butung dan Kelurahan Wamponiki 2. Sungai Liabalano melewati Kelurahan Wawesa dan Kelurahan Sidodadi

3. Sungai Laende melewati Kelurahan Laende

4. Sungai Kaendea melewati Kelurahan Mangga Kuning, Kelurahan Watone dan Kelurahan Raha II

Saluran yang melengkapi jaringan drainase Kota Raha berupa : 1. Saluran terbuka dengan pasangan

2. Saluran gorong-gorong 3. Saluran terbuka yang ditutup 4. Saluran tanah

Jaringan drainase yang ada di Perkotaan Kabupaten Muna saat ini telah memiliki sistem drainase primer yang cukup baik. Kondisi jaringan drainase primer yang seperti ini dapat membuat aliran air menjadi lebih baik apabila didukung dengan sistem drainase sekunder dan tersier yang baik pula.

Permasalahan yang dihadapi terhadap sektor jaringan drainase di perkotaan Raha adalah sebagai berikut :

 Sistem drainase belum terkoneksi dengan baik

 Banyak terjadi sedimentasi pada jaringan drainase

 Pemanfaatan bantaran sungai dan drainase yang tidak pada tempatnya, banyak bangunan berada dibantaran bahkan dibadan sungai, dan diatas saluran drainase tanpa adanya tindakan penerbitan.

 Kinerja sistem pengendalian banjir belum optimal akibat tidak adanya program dan pendanaan operasi dan pemeliharaan drainase yang memadai.

Tantangan untuk pengembangan infrastruktur jaringan drainase di Perkotaan Raha adalah sebagai berikut :

1. Pemanfaatan sungai-sungai utama sebagai drainase utama akan menemui kendala, berhubung masyarakat Perkotaan Raha menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sampah 2. Drainase sekunder untuk mengalirkan air dari simpul-simpul kegiatan yang dialirkan ke

sungai-sungai.

3. Penegakan hukum/peraturan belum berjalan dengan baik.

4. Kesadaran dan kepedulian masyarakat yang tinggal dibantaran sngai dan disekitar poros drainase untuk memelihara sarana dan prasarana sistem drainase masih rendah.

5. Kawasan didataran banjir telah berkembang dengan sangat pesat menjadi kawasan permukiman, perdagangan yang padat, sehingga upaya penanggulangan banjir tidak optimal.

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-58 3.4.3. Kesadaran Masyarakat dan PMHSJK

Peran serta masyakat Kabupaten Muna terhadap pengelolaan dan pemanfaatan drainase masih kurang. Hal ini disebabkan karena masih banyak lahan yang kosong. Dari hasil studi PMHSJK di Bidang Drainase yang dilaksanakan di Kota Raha menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam pembangunan drainase masih kurang. Untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi drainase Tabel. 3.39. Kondisi Drainase Lingkungan Ditingkat Kecamatan

Kecamatan

Jumlah Kondisi Drainase Pembersihan Drainase Pengelola Drainase

Bangunan Diatas Saluran RT RW Lancar Mampet Rutim Tdk Rutin Pemerintah

Kab. Kelurahan Masyarakat

Swasta Ada Tdk

L P L P L P ada

Tongkuno - 27 - - - - PU/BLH

Kabangka - 21 - - - - PU/BLH

Tikep - 19 - - - - PU/BLH

Towea - 15 - - - - PU/BLH

Lawa - 19 - - - - PU/BLH

Katobu - 31 - - - - PU/BLH

Duruka - 24 - - - - PU/BLH

Batalaiworu - 15 - - - - PU/BLH

Napabalano - 15 - - - - PU/BLH

Wakorsel - 13 - - - - PU/BLH

Maligano - 17 - - - - PU/BLH

Sumber: Study PMHSJK (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-59 Tabel 3.40. Daftar Program/Proyek Layanan Drainase Lingkungan Berbasis Masyarakat

No Komponen Nama

Program/Proyek Layanan

Pelaksana/

PJ Tahun

Mulai

Kondisi Sarana Saat Ini Aspek PMJK Fungsi Tidak

Fungsi Rusak PM JDR MBR

1 Drainase

PNPM-Perdesaan TPK 2005/2013 √ - - √

2 Drainase PNPM-Perkotaan BKM 2007/2013 √ - - √

3 Drainase PPIP OMS 2008/2013 √ - - √

4 Drainase NUSSP BKM 2004/2009 √ - - √

Sumber: Studi PMHSJK (2013)

Hambatan dalam pembangunan infrastruktur drainase Perkotaan Raha adalah :

1. Masih banyaknya drainase yang tidak terhubung atau tidak terkoneksi satu sama lain. Selain itu drainase pada pemukiman masih menyatu dengan pembuangan limbah rumah tangga, tidak terkecuali limbah kotoran manusia, terutama pada drainase tertutup.

2. Masyarakat masih menganggap bahwa saluran drainase atau sungai merupakan Back Yard, yaitu tempat pembuangan segala jenis limbah baik padat maupun cair.

3. Terjadinya perubahan status potensi lahan dari hutan menjadi kawasan permukiman, sehingga dapat menimbulkan potensi peningkatan koefisien run off yang dapat berakibat laju aliran semakin tinggi, dan perlokasi yang semakin rendah.

Kondisi sistem drainase Perkotaan Raha sebagian besar baik yang alamiah maupun buatan, mempunyai elevasi dasar saluran lebih rendah dari pada elevasi dasar muara atau pantai. Hal ini menyebabkan sedimentasi yang serius dan menimbulkan pendangkalan.

Sistem drainase utama yang ada, sebagian besar belum mempunyai garis sempadan yang jelas. Hal ini meniimbulkan kerancuan dalam upaya pengelolaan dan pengawasan bangunan liar disepanjang tepi sungai dan diatas drainase seperti yang terlihat pada kawasan perekonomian sepanjang jalan Jenderal Sudirman dan Ahmad Yani, Kawasan perkantoran dan pemukiman sepanjang jalan Gatot Subroto, kawasan wilayah bantaran sungai seperti Sungai Raha I, Raha II, Raha III dan beberapa anak sungai. Daerah dataran pantai Raha mempunyai ketinggian elevasi kurang dari 50 meter diatas permukaan laut. Daerah ini mempunyai lebar 3 km hingga 12 km dan merupakan lahan yang potensial sebagai daerah pengembangan Perkotaan Raha. Pada daerah ini bermuara beberapa sungai dan drainase utama dengan kemiringan sangat landai yang sangat rawan banjir. Reklamasi dan sedimentasi pantai makin memperpanjang alur sungai dan memperkecil kelandaian dasar saluran seperti yang terjadi pada kondisi saluran Raha I, Raha II, Raha III dan sekitarnya sedangkan drainase yang terjadi perubahan kelandaian terjadi di sekitar Rumah Jabatan Bupati, sepanjang jalan Jenderal Sudirman, Jalan A. Yani, khususnya yang terjadi di Bundaran Bank BPD, Kehutanan, Alun-Alun, Jalan Gatot Subroto, Polsek Katobu, KODIM dan sekitarnya.

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-60 3.4.4. Pemetaan Media

Penyebarluasan Informasi tentang drainase dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum melalui Bidang Cipta Karya. Kegiatan komunikasi dan sosialisasi tentang pengelolaan drainase melalui media cetakdanmedia elektronik tidak pernah dilakukan. Kegiatan penyebaran informasi sanitasi lingkungan melalui berbagai media di Kabupaten Muna dilaksanakanketika ada lomba-lomba kebersihan pada momen peringatan hari kemerdekaan atau ulang tahun Kabupaten Muna.

Tabel 3.41. Kegiatan Komunikasi Terkait Drainase

No Kegiatan Dinas Sumber: Dinas Kesehatan dan BLH Kab. Muna (2013)

Penyebarluasan informasi tentang pengolaan air limbah dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan media komunikasi umum milik swasta yaitu radio lokal yaitu RSP (Radio Suara Pendidikan). Kegiatan sosialisasi dan kampaye sabitasi masih jarang dilakukan, hal tersebut disebabkan masih kurangnya sarana pendukung untuk promosi, demikian juga halnya dengan pendanaan porsi untuk pembiayaan promosi lebih kecil dibandingkan kegiatan lain yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan.

Tabel 3.42. Media Komunikasi dan Kerjasama terkait Drainase

No Jenis Media Khalayak Pendanaan Isyu yang diangkat Sumber: Dinas Kesehatan Kab Muna (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-61 3.4.5. Partisipasi Dunia Usaha

Sampai saat ini partisipasi dunia usaha terhadap pengelolaan sanitasi terutama sub sector drainase belum ada.Semua kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan sanana dan prasarana masih dilakukan oleh pemerintah daerah dan kegiatan pemberdayaan masyarakat atau kegiatan PNPM. Masyarakat juga terlibat langsung dalam kegiatan pemeliharaan drainase minimal di lingkungan sekitar rumah masing-masing.

Tabel 3.43. Penyedia Layanan Pengelolah Drainase Lingkungan Yang Ada Di Kabupaten Muna

No Nama Provider Tahun Mulai Operasi

Jenis Kegiatan/

Kontribusi Terhadap Sanitasi

Isyu Yang

Diangkat Potensi Kerjasama

1 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak Ada

Sumber: Study Kelembagaan (2013)

Tabel 3.43 tidak terisi karena data pelayanan dan pengelolaan drainase lingkungan belum ada di Kabupaten Muna

3.4.6 Pendanaan dan Pembiayaan

Untuk sub sektor drainase lingkungan tidak ada pendapatan yang diperoleh dari masyarakat terkait jasa pelayanan drainase di Kabupaten Muna. Sedangkan belanja sanitasi setiap tahun dianggarkan dalam APBD melalui SKPD terkait. Dari empat sub sektor sanitasi pembiayaan yang konsisten dan terbesar setiap tahunnya adalah sub sektor drainase. Hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat Muna yang Maju dan Sehat di Tahun 2015. Upaya tersebut salah satunya melalui upaya pencapaian target indikator disektor infrastruktur dan lingkungan. Oleh karena itu penataan lingkungan permukiman di Kabupaten Muna khususnya pada wilayah perkotaan sangat dioptimalkan, berupa pembangunan jaringan drainase, peningkatan jalan lingkungan. Selain itu pembiayaan sektor drainase juga berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk setiap tahunnya. Sumber pembiayaan lain adalah Dana Alokasi Umum (DAU). Saat ini pemerintah daerah lagi berupaya untuk mencari sumber-sumber pembiayaan lainnya diantaranya melalui Hibah Sanitasi karena dengan sumber-sumber pembiayaan saat ini jika dibandingkan dengan kebutuhan penanganan drainase maka masih sangat kurang. Apalagi dengan begitu luasnya wilayah Kabupaten Muna dan banyaknya jaringan jalan baik kabupaten maupun jalan lingkungan yang belum memiliki jaringan drainase. Disisi lain jaringan drainase eksisting pun saat ini juga banyak yang mengalami kerusakan struktur dan sedimentasi, sehingga mengakibatkan terganggunya aliran air yang melalui saluran drainase tersebut. Berikut disajikan Tabel 3.44 Rekapitulasi Realisasi pendanaan komponen sanitasi lima tahun terakhir di Kabupaten Muna...

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-62 Tabel 3.44. Rekapitulasi Realisasi Pendanaan Komponen Drainase Lingkungan

No Sub Sektor Belanja (Rp)

Rata Rata Pertumbuhan

2008 2009 2010 2011 2012 %

Air Limbah (1a+2a) - - - - - - -

Sampah (2a+2b) 1,503,736,800 494,450,000 1,227,136,567 1,375,814,645 731,298,950 1,066,487,39 2

11.58

Drainase (3a +3b) 160,000,000 396,115,000 790,832,600 1,239,300,000 3,094,031,000 1,136,055,72 0

113.40

Pendanaan Investasi drainase 10,000,000 341,615,000 790,832,600 240,800,000 1,922,486,000 Pendanaan OM yang

dialokasikan dalam APBD

150,000,000 54,500,000 0 998,500,000 1,171,545,000

Perkiraan biaya OM berdasarkan infrastruktur Terbangun

1,000,000 34,161,500 79,083,260 24,080,000 192,248,600

Sumber : DPPKAD Kabupaten Muna (2013)

Tabel 3.45. Realisasi dan Potensi Retribusi Drainase

No Sub Sektor Belanja (Rp)

Rata Rata Pertumbuhan %

2008 2009 2010 2011 2012

Retribusi Air Limbah - - - - - - -

Retribusi Sampah

68,721,750

70,571,250

99,999,000

101,979,000

112,149,000 76,939,651 6.34

Retribusi Drainase 5.51

Realisasi Retribusi - - - - - -

Potensi Retribusi

637,308,000

671,184,000

718,140,000

733,392,000

789,288,000 - -

Sumber : DPPKAD Kab. Muna (2013)

Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-63 Tabel. 3.46. Permasalahan Mendesak dan Isu Strategis Sektor Drainase

Permasalahan Mendesak Isu Strategis

ASPEK TEKNIS

Dalam dokumen BAB III PROFIL SANITASI KABUPATEN MUNA (Halaman 49-63)

Dokumen terkait