Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-1
Pembangunan di Kabupaten Muna dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan yang berkelanjutan agar mekanisme pengelolaan, pemanfaatan sumber daya yang ada diharapkan akan bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mampu menjamin tetap terjaganya kualitas lingkungan yang memenuhi standar kehidupan.
Persoalan penting yang memerlukan prioritas penanganan dalam peningkatan kualitas lingkungan adalah pengelolaan sanitasi, baik sanitasi dalam kedudukan sebagai salah satu kegiatan sektoral yang menjadi bagian dari program pengelolaan lingkungan maupun sanitasi sebagai bagian dari sistem pengembangan kawasan di wilayah permukiman.
Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Muna lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas sanitasi yang berbasis masyarakat.
Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Muna difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan pencegahan kontaminasi terhadap air tanah oleh limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan permukiman yang padat penduduk dan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat serta peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.
Seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menimbulkan masalah di bidang sanitasi. Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya.Kebiasaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga ke saluran drainase, sungai-sungai dan pada tempat-tempat yang bukan peruntukannya ikut memperburuk kondisi sanitasi di Kabupaten Muna.
Dari semua persoalan sanitasi di Kabupaten Muna, penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sanitasi yang berakibat kepada kurangnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dalam kehidupan
Keseriusan pemerintah Kabupaten Muna dalam memperbaiki kualitas kesehatan dan lingkungan permukiman dapat dilihat pada anggaran belanja sanitasi lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun 2008 sampai tahun 2012 menunjukkan pertumbuhan rata-rata pembiayaan sanitasi sebesar 42,13%. Empat sektor komponen sanitasi pembiayaan tertinggi setiap tahunnya adalah sektor persampahan. Berbanding terbalik dengan sector air limbah lima tahun terakhir sama sekali belum pernah dianggarkan. Ini merupakan bahan evaluasi pemerintah daerah kabupaten Muna terhadap keseimbangan pendanaan setiap sektor sanitasi yang ada. Gambaran pembiayaan sektor sanitasi Kabupaten Muna dapat dilihat pada Tabel 3.1. berikut ini
BAB III
PROFIL SANITASI
KABUPATEN MUNA
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-2 Tabel. 3.1. Perhitungan Pendanaan Sanitasi oleh APBD Kabupaten Muna Tahun 2008-2012
No Uraian Belanja Sanitasi (Rp) Rata-rata
Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012
1 Belanja Sanitasi (1.1+1.2+1.3+1.4) 1.745.921.800 901.480.000 2.290.298.330 2.637.524.645 3.894.869.950 42.13
1.1 Air Limbah Domestik 0 0 0 0 0
1.2 Sampah Rumah Tangga 1.503.736.800 494.450.000 1.414.785.730 1.375.814.645 731.298.950 1.3 Drainase Lingkungan 151.000.000 396.115.000 790.832.600 1.239.300.000 3.094.031.000
1.4 PHBS 91.185.000 10.515.000 84.680.000 22.410.000 69.540.000
2 Dana Alokasi Khusus (2.1+2.2+2.3) 3.375.900.000 4.135.000.000 3.448.918.708 1.996.657.595 2.824.927.437 1.32
2.1 DAK Khusus 2.678.400.000 3.360.000.000 2.495.956.656 1.142.837.540 1.871.965.385
2.2 DAK Lingkungan Hidup 697.500.000 775.000.000 952.962.052 853.820.055 952.962.052
2.3 DAK Perumahan dan Permukiman 0 0 0 0 0
Pinjaman Hibah Untuk Sanitasi 0 0 0 0 0
Bantuan Keuangan Provinsi untuk Sanitasi 0 0 0 0 0
Belanja APBD Murni untuk Sanitasi (1-2-3) -1.629.978.200 -3.233.520.000 -1.158.620.398 640.867.050 1.069.942.513 -13.54 Total Belanja Langsung 517.743.499.473 509.063.613.563 560.005.559.174 646.646.460.895 771.118.581.766 10.76
% APBD Murni Terhadap Belanja Langsung -0.31 -0.64 -0.21 0.10 0.14
Sumber: Data Olahan APBD Kab Muna (2013)
Berdasarkan tabel 3.1 diatas terlihat bahwa Belanja di sektor sanitasi masih didominasi oleh belanja pada sekor sampah dan drainase lingkungan. Ini menunjukkan bahwa perhatian pemerintah daerah saat ini lebih concern pada penanganan infrastruktur sanitasi.
Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan yang penekanannya pada Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih kurang pada aspek pendanaan.
Padahal sesungguhnya alokasi kegiatan PHBS juga harus lebih memadai guna meningkatkan upaya-upaya prefentive dalam pencegahan dampak dari buruknya kondisi sanitasi
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-3 Tabel 3.2. Realisasi dan Potensi Retribusi Sanitasi Per Kapita
No SKPD Rekapitulasi Sanitasi Tahun (RP) Pertumbuhan
%
2008 2009 2010 2011 2012
1 Retribusi Air Limbah 477.981.000 503.388.000 538.605.000 550.044.000 591.966.000 5.51
1.a Realisasi retribusi 0 0 0 0 0
1.b Potensi Retribusi 477.981.000 503.388.000 538.605.000 550.044.000 591.966.000
2 Retribusi Sampah 706.029.750 741.755.250 818.139.000 835.371.000 901.437.000 6.34 2.a Realisasi retribusi 68.721.750 70.571.250 99.999.000 101.979.000 112.149.000
2.b Potensi retribusi 637.308.000 671.184.000 718.140.000 733.392.000 789.288.000
3 Retribusi Drainase 637.308.000 671.184.000 718.140.000 733.392.000 789.288.000 5.51
3.a Realisasi retribusi 0 0 0 0 0
3.b Potensi retribusi 637.308.000 671.184.000 718.140.000 733.392.000 789.288.000 Total realisasi Retribusi Sanitasi
(1a+2a+3a)
68.721.750 70.571.250 99.999.000 101.979.000 112.149.000 14.09 Total Potensi Retribusi Sanitasi
(1b+2b+3b)
1.752.597.000 1.845.756.000 1.974.885.000 2.016.828.000 2.170.542.000 5.51 Proporsi Total Realisasi-Potensi
Retribusi Sanitasi (4/5)
3.92 3.82 5.06 5.06 5.17 8.00
Sumber: Data Olahan APBD Kab Muna (2013)
Berdasarkan Tabel 3.2 diatas, tampak bahwa dalam pengelolaan retribusi sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kenaikan ini khusus terjadi pada jenis retribusi sampah dan retribusi air limbah. Sedangkan pada retribusi drainase belum sama sekali memiliki realisasi penerimaan. Ini dapat dipahami karena sampai dengan saat ini Peraturan Daerah mengenai retribusi drainase belum diterbitlan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Muna. Namun demikian potensi pendapatan yang dapat diterima dari jenis retribusi drainase ini dapat mencapai kisaran antara Rp. 637.308.000 – Rp. 789.288.000. Oleh karena itu dengan cukup besarnya potensi retribusi pada sektor drainase maka dapat dilakukan upaya-upaya untuk merumuskan payung hukum yang tepat guna menerapkan penarikan atas jenis retribusi tersebut. Sedangkan untuk jenis-jenis reribus sanitasi lainnya yang telah operasional dalam hal pengelolaannya, dapat dilakukan upaya-upaya untuk mengenjot pemasukan retribusi-retribusi tersebut.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-4 3.1. Promosi Higiene dan Sanitasi
Promosi higiene dan sanitasi adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat. Agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan perilaku hidup sehat khususnya di skala rumah tangga dalam pelaksanaannya memang butuh banyak dukungan, mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar hingga pemerintah.
Derajat kesehatan dan pola hidup masyarakat Kabupaten Muna secara umum dapat terlihat dari angka kejadian penyakit yang disebabkan oleh saniatsi buruk.
3.1.1. Promosi Higiene dan Sanitasi Rumah Tangga
Indikator PHBS tatanan rumah tangga adalah suatu alat ukur yang membatasi fokus perhatian untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan di rumah tangga. Indikator BHBS tatanan rumah tangga diarahkan pada aspek program prioritas yaitu, KIA, gizi, kesehatan lingkungan, gaya hidup dan upaya kesehatan masyarakat.
Kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Higiene didapat berdasarkan survey studi EHRA. Studi EHRA dilakukan dalam rangka untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sarana sanitasi yang ada ditingkat masyarakat serta perilaku masyarakat terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator penentuan tingkat resiko kesehatan masyarakat didasarkan pada : 1) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, 2) Pembuangan Air Limbah Domestik, 3) Drainase Lingkungan Sekitar Rumah dan Banjir, 4) Sumber Air, 5) Perilaku Higiene dan 6) Kasus Penyakit Diare.
Wilayah kajian study EHRA menggunakan klaster random sampling disebabkan karena wilayah Kabupaten Muna cukup luas yaitu terdiri 33 kecamatan, terpilih sampel di 11 Kecamatan , 79 desa. Jumlah sampel pada studi ini sebanyak 960 responden yang tersebar pada 24 desa/kelurahan yang terbagi dalam 4 klaster. Penentuan sampel dilakukan dengan sistem klastering random sampling. Klaster ini dianggap dapat mewakili semua desa di wilayah kajian dengan karakter wilayah yang hamper sama. Pemilihan 11 (sebelas) Kecamatan juga mempertimbangkan keterwakilan dari masing-masing wilayah Kabupaten Muna. Kesebelas kecamatan yang terpilih terdiri dari Kecamatan Katobu, Kecamatan Bhatalaiworu, Kecamatan Duruka, Kecamatan Napabalano, Kecamatan Towea, Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kecamatan Wakorumba Selatan, Kecamatan Maligano, Kecamatan Tongkuno, Kecamatan Kabangka, Kecamatan Lawa.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-5 Distribusi desa per klaster untuk penetapan lokasi studi EHRA dapat dilihat pada Gambar 3.1 dibawah ini :
Gambar 3.1. Distribusi per klaster penetapan wilayah study EHRA
Sumber: Study EHRA (2013)
Sumber informasi atau Responden dalam Studi EHRA Tahun 2013 di Kabupaten Muna adalah perempuan dibedakan berdasarkan variabel kelompok umur, status rumah yang ditempati, pendidikan terakhir, kepemilikan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa/kelurahan, kepemilikan Kartu Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin (ASKESKIN) dan yang memiliki anak.
Gambar 3.2. Sumber Informasi Sanitasi pada study EHRA.
Sumber : Study EHRA (2013)
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa yang menjadi responden terbesar dalam studi EHRA ini adalah kelompok usia yaitu 45 tahun keatas. Dari total jumlah responden usia 40 tahun
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-6 keatas yaitu paling banyak yaitu klaster 2 sebanyak 144 orang.Sasaran responden dalam studi EHRA adalah Ibu rumah Tangga.
a. Prakter Cuci Tangan Pakai Sabun
Dari aspek kesehatan masyarakat khususnya pola penyebaran penyakit menular, cukup banyak penyakit yang bisa dicegah melalui kebiasaan atau perilaku hygiene dengan Cuci Tangan Pakai Sabun (CPTS) seperti penyakit diare, typhus perut, cacingan, flu burung dan bahkan flu babi. Seperti halnya perilaku buang air besar sembarangan, perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan sasaran penting dalam promosi kesehatan, khususnya terkait perilaku hidup sehat dan bersih.
Tangan adalah bagian dari tubuh manusia yang paling sering berhubungan dengan mulut dan hidung secara langsung, sehingga tangan menjadi salah satu penghantar utama masuknya kuman penyakit kedalam tubuh manusia. Apabila tangan manusia menyentuh tinjah/feces, akan terkontaminasi dengan 10 juta virus dan satu juta bakteri yang dapat menimbulkan penyakit, virus dan bakteri tidak dapat terlihat, sehingga sering diabaikan dan mudah masuk kedalam tubuh manusia. Cuci tangan pakai sabun, bagi sebagian besar masyarakat sudah menjadi kegiatan rutin sehari-hari, tetapi bagi sebagian masyarakat lainnya, cuci tangan pakai sabun belum menjadi kegiatan rutin, terutama bagi anak-anak, bahkan dikalangan petugas medis pun kebiasaan ini acapkali belum membudaya.
Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat diperlihatkan pada kebiasaan masyarakat dalam melakukan Cuci tangan Pakai Sabun dalam lima waktu penting dapat dilihat pada grafik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di bawah ini :
Gambar 3.3. CPTS ( Cuci Tangan Pakai Sabun) di Lima Waktu Penting
Sumber: Study EHRA, (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-7 Berdasarkan Grafik Hasil Studi EHRA diatas, terlihat bahwa Perilaku Higiene tentang Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di Lima Waktu Penting pada masyarakat Kabupaten Muna yang menjadi sampel penelitian baik klaster 0, 1, 2, 3 maupun 4 ternyata rata-rata yang terbanyak adalah tidak melakukan praktek CTPS di Lima Waktu Penting (95,1%). Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Kabupaten Muna tentang pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pada 5 waktu penting tersebut masih sangat buruk.
b. Praktek Buang Air Besar Sembarangan
Masalah penyehatan lingkungan permukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas.
Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidak mudah, karena menyangkut perang serta masyarakat yang biasanya sangat erat hubungannya dengan perilakau, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan
Mengingat tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan membahayakan kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar.Untuk itu tinja harus dibuang pada “wadah” atau sebut saja jamban keluarga. Jamban yang digunakan masyarakat bias dalam bentuk jamban yang paling sederhana dan murah misalnya jamban cemplung, atau jamban yang lebih baik dan lebih mahal musalnya jamban leher angsa, dari tanah liat, semen ataupun bahan kramik. Berikut persentase BABS hasil study EHRA 2013 di Kabupaten Muna .
Gambar 3.4. Perilaku Buang Air Besar Sembarangan
Sumber: Hasil EHRA (2013).
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-8 Berdasarkan Grafik Hasil Studi EHRA di atas, terlihat bahwa Kepemilikan Jamban Pribadi Rumah Tangga oleh masyarakat Kabupaten Muna yang menjadi sampel penelitian baik klaster 0, 1, 2, 3 maupun 4 ternyata prosentase pencapaiannya sudah mencapai 74%. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Kabupaten Muna tentang pentingnya akan kepemilikan jamban sudah cukup baik.
Berdasarkan Hasil Studi EHRA diatas, terlihat bahwa Prevalensi atau Angka Kesakitan Penyakit Diare di Kabupaten Muna yang menjadi sampel penelitian pada klaster 0 terbanyak adalah anak non balita,cluster 1 terbanyak anak non balita, cluster 2 dan cluster 4 terbanyak pada anak balita. Hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian orang tua terhadap hygiene pada anak balita masih sangat kurang. Terkecuali pada cluster 3 mencapai 100 % tidak pernah terserang diare. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran untuk menjaga hygiene/kebersihan diri masyarakat di cluster 3 termasuk sudah cukup baik.
c. Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga.
Penilaian pengelolaan air minum rumah tangga dengan melihat situasi atau keadaan perilakuan pada wadah penyimpangan dan penanganan air minum. Sumber air minum merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan masyarakat. Perilaku yang dilihat adalah apakah tempat air tertutup atau terlindungi. Untuk lengapnya keadaan pengelolaan air minum masyarakat Kabupaten Muna dapat dilihat pada Gambar 3.5 berikut ini
Gambar 3.5. Grafik Pengelolaan Air Minum
Sumber : Study EHRA (2013)
Paga gambar diatas dapat dilihat bahwa perilaku masyarakat terhadap pengelolaan air minum masih sangat rendah, Pada klaster 0 dan klaster 3 dapat dilihat bahwa 100% pengelolaan air minumnya buruk. Demikian pula untuk klaster 1, klaster 2 dan klaster 4 pengelolaannya juga
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-9 95% buruk. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kwalitas kesehatan masyarakat Kabupaten Muna .
d. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga.
Pengelolaan sampah rumah tangga berpengaruh terhadap kualitas lingkungan permukiman, dengan pengelolaan sampah timbunan sampah dapat teratasi, demikian juga perilaku masyarakat sehari-hari memberikan kontribusi dan penyebab semakin tingginya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh sampah rumah tangga. Sampah rumah tangga bila dikelola dengan baik akan memberikan manfaat ekonomis, misalnya dengan pemilahan sampah organic dan non organic, organik dapat dibuat untuk pupuk kompos, sedangkan non organik dapat dijual pada penngumpul barang bekas. Berikut dapat dilihat grafik pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna.
Gambar 3.6. Grafik Pengelolaan Sampah Setempat
Sumber : Study EHRA (2013)
Grafik diatas menunjukkan kondisi pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna masih buruk, Klaster 3 mencapai 100% tidak ada yang melakukan pengelolaan sampah, hanya klaster 2 yang 60% tidak mengelola sampah rumah tangganya. Perlu sosialisasi dan strrategi untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang dapat bernilai ekonomis. Selanjutnya dari studi EHRA yang dilakukan juga melihat kondisi saluran air limbah rumah tangga (SPAL). Perlu dilakukan sosialisasi dan penyuluhan untuk merubah perilaku masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Grafik di bawah ini menunjukkan kondisi pencemaran karena SPAL di Kabupaten Muna.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-10 Gambar 3.7. Grafik Pencemaran Karena SPAL
Sumber : Study EHRA (2013)
Berdasarkan grafik hasil EHRA diatas, terlihat bahwa Kondisi Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) pada masyarakat Kabupaten Muna menunjukkan kondisi yang masih buruk, pada klaster 3 menunjukkan 97% masih terjadi pencemaran karena saluran air limbah yang buruk. Hal ini berpotensi mencemari sumber air atau sumur yang ada disekitarnya.klaster 2 menunjukkan 47% lebih rendah dibandingkan dengan klaster 2 dan klaster 4.
Tabel 3.3. Kegiatan Komunikasi Terkait Promosi Higiene dan Sanitasi No Kegiatan Dinas
Pelaksana Tujuan
Kegiatan Khalayak
Sasaran Pesan
Kunci Pembelajaran 1 Promosi Higiene Dinkes Kesadaran dan
kesehatann lingkungan
Murid
sekolah Cuci tangan sebelum makan
Lingkungan permukiman sehat 2 Siaran melalui
radio Dinkes Muna Sehat Warga
masyarakat Biasakan
hidup bersih Membiasakan memperhatikan kesehatan dari yang terkecil 3 Desa sehat Dinas
Kesehatan Meningkatkan
derajat kesehatan Warga desa Lingkungan
sehat Membangun kab Muna yang sehat dan tenteram
4 Arisan WC Dinkes Memicu Higiene
dan sanitasi Warga desa
miskin Biasakan
hidup bersih Lingkungan permukiman sehat 5 Klinik Sanitasi Dinas
Kesehatan Pembinaan pasien berurang masuk rumah sakit
Warga desa Lebih baik mencerah dari pada mengobati
Lingkungan sehat, warga sehat
6 Posyandu Lansia Dinas
Kesehatan Pembinaan
Lansia Warga
lansia Sehat di usia
tua Pemantauan
kesehatan lansia
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-11
7 Lomba Hari
Lingkungan Hidup BLH Meningkatkan kepedulian lingkungan
Kantor/insta nsi
Pemerintah
Lingkungan bersih dan sehat
Membangun Kab.
Muna yang sehat 8 Lingkungan sehat Dinas
Kesehatan Mencapai
lingkungan yang bersih
Masyarakat Perilaku hidup bersih dan sehat
Membangun Kabupaten Muna yang sehat
9 Pos windu Dinkes Pemberantasan
penyakit menular 17 tahun
keatas Pencegahan penyakit menular Sumber: Dinas Kesehatan dan BLH Kab. Muna (2013)
Penyebarluasan informasi tentang hygiene dan sanitasi dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan media komunikasi umum milik swasta yaitu radio lokal yaitu RSP (Radio Suara Pendidikan). Kegiatan promosi Higiene dan sanitasi masih kurang, hal tersebut disebabkan masih kurangnya sarana pendukung untuk promosi, demikian juga halnya dengan porsi pendanaan untuk pembiayaan promosi lebih kecil dibandingkan kegiatan lain yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Sedangkan gambaran media komuniasi terkait Promosi Higiene dan Sanitasi sebagaimana terlihat pada Tabel 3.4 dibawah ini.
Tabel. 3.4. Media Komunikasi dan Kerjasama terkait Promosi Higiene dan Sanitasi No Jenis Media Khalayak Pendanaan Isyu yang
diangkat
Pesan
Kunci Efektifitas 1 Siaran melalui radio
RSP (Radio Suara Pendidikan)
Warga Kota Raha
DAU Muna
sehat
Biasakan hidup bersih
Jangkauan terbatas, hanya warga kota yang menjadi sasaran
2 Poster Warga
Kota Raha
DAU Muna
sehat
Kesehatan lingkungan
Hanya sebagian kecil warga yang dapat memantau Sumber: Dinas Kesehatan Kab Muna (2013)
3.1.2. Promosi Higiene dan Sanitasi Sekolah
Sebagai suatu institusi pendidikan, sekolah mempunyai peranan dan kedudukan strategis dalam upaya promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar anak usia 5- 19 tahun terpajan dengan lembaga pendidikan dalam jangka waktu cukup lama. Sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan alamiah seorang anak, sebab disekolah seorang anak dapat mempelajari berbagai pengetahuan termasuk kesehatan. Promosi kesehatan disekolah membantu meningkatkan kesehatan siswa, guru, karyawan, keluarga serta masyarakat sekitar, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih produktif.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-12 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan institusi pendidikan adalah upaya yang dilakukan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat institusi pendidikan (pengajar, anak didik dll) dalam berperilaku hidup bersih dan sehat, institusi pendidikan dalam hal ini adalah TK/RA, SD/MI, SLTP/MTs dan SLTA/MA. Sekolah harus memberikan pengajaran baik kepada guru maupun murid bagaimana cara memelihara jamban sekolah yang akan dibangun dan sarana cuci tangan. Seringkali terjadi jamban disekolah hanya terdiri atas 2 unit, yaitu satu untuk guru dan yang lain untuk murid. Sementara kondisi jamban murid sangat jauh dari kondisi bersih dan terpelihara atau tidak jarang dalam kondisi rusak. Akibatnya banyak murid yang kemudian buang air kecil maupun buang air besar di halaman sekolah. Kebiasaan ini membuat sekolah menjadi bau dan sangat rentan untuk menjadi sarang penyakit.
Selain itu, sering kali jamban di sekolah tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup, murid yang masuk di kelas 1 atau 2 akan merasa takut untuk menggunakan jamban yang kondisinya gelap, berbau dan kotor. Kondisi seperti ini harus dihindari dengan cara membuat jamban dengan penerangan yang cukup baik dari lampu ataupun sinar matahari beserta ventilasi yang memadai. Kesadaran akan arti penting jamban pada lingkungan sekolah di Kabupaten Muna masih cukup rendah. Hal ini terjadi karena aspek sanitasi dalam proses pembelajaran belum menjadi perhatian. Acap kali kita temukan lingkungan sekolah yang banyak berserakan sampah, bahkan kotoran binatang seperti sapi, ayam dan kambing, Sehingga kondisi lingkungan sekolah menjadi tidak terjaga. Kondisi ini menyebabkan kondusifitas dilingkungan sekolah menjadi terganggu, yang berdampak pada proses belajar mengajar yang tidak maksimal.
Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah rasio jumlah siswa dan guru terhadap ketersediaan jamban di sekolah. Banyak sekolah-sekolah yang hanya tersedia jamban sebanyak 2 (dua) unit. Padahal jumlah siswa termasuk guru mencapai ratusan orang, yang berarti 1 (satu) unit jamban melayani 100 – 200 orang. Dengan kondisi seperti ini maka sangat mempengaruhi kualitas dalam hal pengelolaan sanitasi dilingkungan sekolah. Hal lain yang juga mempunyai pengaruh adalah minimnya fasilitas cuci tangan dan sabun cuci tangan disetiap sekolah yang menjadi objek survey. Berdasarkan informasi yang tertera pada Tabel 3.5 hampir sebagian besar sekolah pada sebelas kecamatan memiliki fasilitas cuci tangan dan sabun cuci tangan yang minim. Begitu pula dengan sumber air bersih, mayoritas disekolah-sekolah menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersih bagi jamban disekolah. Untuk yang sumber air bersihnya berasal dari PDAM, hanyalah sekolah-sekolah yang kedudukannya di Ibu Kota Kabupaten atau sekolah yang berada pada wilayah disekitar Ibu Kota Kabupaten yang masih dilalui jalur pipa distribusi PDAM.
Untuk pembuangan air limbah sekolah hampir sebagian besar pada sekolah-sekolah yang disurvei belum memiliki Sarana Pengolahan Air Limbah (SPAL) yang memadai. Air Limbah yang dihasilkan oleh sekolah lebih banyak diarahkan secara langsung di luar toilet tanpa melalui Sarana Pengolahan Air Limbah (SPAL). Dengan kondisi ini, maka sangat diperlukan adanya kampaye-kampaye PHBS yang intensif pada masing-masing sekolah untuk memaksimalkan pengelolaan sanitasi di lingkungan sekolah.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-13 Tabel. 3.5. Kondisi Sarana Sanitasi Sekolah (Sumber air,Toilet, SPAL dan Tempat Cuci Tangan)
No Kecamatan Tingkat Sekolah
Ju m.
Sekola h
Jumlah Siswa Jumlah Guru Sumber Air Bersih
Jml Toilet/WC
Tempat Pembuangan Air Kotor
Fas. Cuci
Tangan Persedia an Sabun
P L P L PDAM PAH SGL Dari
Toilet Dari Talan g
Kamar Mandi Air
Hujan
S K T S K T S K T Gr P L Y T Y T
1
Tongkuno SD 20 1760 1932 204 97 0 0 0 1 4 2 0 2 6 2 11 5 8 0 4 0 0 0 2 14
SMP 6 617 474 40 86 0 0 0 0 2 1 0 1 1 0 6 2 8 0 0 0 2 4 0 6
SMA 3 478 437 47 79 0 0 0 0 3 0 0 0 0 1 4 2 4 0 2 0 0 3 0 3
2
Kabangka SD 10 825 948 37 51 0 0 0 0 0 0 0 3 7 0 2 1 3 0 0 0 0 3 0 3
SMP 3 314 537 24 31 0 0 0 0 0 0 1 2 0 1 6 6 13 0 0 0 0 3 0 3
SMA 2 157 207 27 32 0 0 0 0 1 0 0 1 0 2 2 2 4 0 0 1 1 1 1 1
3
Tikep SD 10 528 604 27 38 0 0 0 0 2 0 0 3 5 0 3 8 8 0 2 1 2 8 2 8
SMP 3 248 329 18 37 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 2 2 2 0 0 0 0 3 0 3
SMA 1 97 127 5 9 0 0 9 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0
4
Towea SD 5 127 195 17 9 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 2 2 3 0 1 0 0 5 0 5
SMP 2 47 63 9 4 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 1 0 9 0 0 2 0 2
SMA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5
Lawa SD 9 281 248 42 21 0 2 0 0 0 0 0 5 1 2 5 5 8 0 1 0 1 8 1 8
SMP 1 225 193 7 14 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1
SMA 1 195 137 12 5 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0
6 Katobu
SD 16 1532 1285 129 79 8 6 2 0 0 0 0 0 0 2 8 8 18 0 0 0 4 12 4 12
SMP 9 1140 1011 86 48 5 3 0 0 0 0 0 0 0 9 18 10 9 0 0 0 2 7 2 7
SMA 6 1524 1261 52 49 2 1 3 0 0 0 0 0 0 6 12 8 6 0 0 0 2 4 2 4
7 Duruka
SD 10 834 684 32 58 2 6 2 0 0 0 0 1 0 2 5 5 8 0 2 0 1 9 1 9
SMP 1 184 128 11 7 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 2 1 0 0 0 0 1 0 1
SMA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Batalaiworu
SD 7 427 385 41 32 2 0 0 0 0 0 1 2 0 2 4 5 7 0 0 0 2 5 2 5
SMP 1 215 184 6 13 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 2 1 1 0 0 0 0 1 0 1
SMA 3 320 174 23 29 1 0 0 0 0 0 0 2 0 2 4 4 3 0 0 0 1 2 1 2
9 Napabalano
SD 8 284 175 37 28 0 0 0 0 0 0 2 2 4 2 4 4 8 0 0 0 0 8 0 8
SMP 5 1385 1135 57 42 0 0 0 0 0 0 1 1 3 2 3 3 5 0 0 0 0 5 0 5
SMA 2 734 619 13 27 0 0 0 0 0 0 1 1 1 2 4 4 2 0 0 0 0 2 0 2
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-14
No Kecamatan Ting
kat Seko lah
Jum Seko
lah
Jumlah Siswa Jumlah
Guru Sumber Air Bersih
Toilet/WC Jml
Tempat Pembuangan Air Kotor
Fas.
Cuci Tangan
Persedi Sabun aan
P L P L PDAM PAH SGL
Dari Toile t
Dari Talan g
Kamar Mandi Air
Hujan
S K T S K T S K T Gr P L Y T Y T
10 Wakorsel
SD 7 279 258 28 17 0 0 0 0 0 0 0 5 2 1 2 2 2 0 0 0 0 7 0 7
SMP 3 178 154 25 19 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 2 1 3 0 0 0 0 3 0 3
SMA 1 147 106 9 5 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1
11 Maligano
SD 5 247 193 26 12 0 0 0 0 0 0 1 2 2 1 2 2 5 0 0 0 0 5 0 5
SMP 2 153 129 12 9 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 2 0 2
SMA 1 114 94 7 5 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 3 0 0 0 0 1 0 1
Sumber: Study PMHSJK (2013)
Tabel 3.6. Sarana Sanitasi Sekolah (Tingkat sekolah:SD,SMPdan SMA) Pengelolaan Sampah dan Hygiene dan Sanitasi
No Kecamatan Tingkat Sekolah
JumS ekola h
Apakah Pengetahuan Tentang Higiene dan
sanitasi diberikan Apakah ada dana utk air
bersih/Sanitasi/Pend hygiene Cara Pengelolaan Sampah
Kapan Tangki Septik Dikosongkan
Kondisisi Higiene Sekolah
Rencana Perbaikan
Sanitasi Sekolah Ya,Saat
Pertemuan/
Penyuluhan Tertentu
Ya, Saat mata pelajaran di
Kelas
Tidak
Pernah Ya Tidak Dikumpulk
an Dipisahka
n Dibuat
Kompos
1 Tongkuno
SD 20 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 6 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 3 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
2 Kabangka
SD 10 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 3 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 2 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
3 Tikep
SD 10 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 3 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
4 Towea
SD 5 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 2 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 0 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
Lawa SD 9 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-15
5 SMP 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
6 Katobu
SD 16 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 9 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 6 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
7 Duruka
SD 10 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 0 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
8 Batalaiworu
SD 7 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 3 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
9 Napabalano
SD 8 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 5 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 2 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
10 Wakorsel
SD 7 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 3 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
11 Maligano
SD 5 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMP 2 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
SMA 1 √ √ - - √ √ Belum Pernah Sehat Tdk Rutin
Sumber: Study PMHSJK (2013)
Berdasarkan Tabel 3.6 diatas menunjukan bahwa semua sekolah yang ada dilokasi studi memahami tentang Higiene dan sanitasi.
Namun yang menjadi kendala adalah minimnya dana operasional sektor higiene dan sanitasi, akan tetapi warga sekolah tetap mengupayakan agar sekolah terus berada dalam kondisi hygiene sekolah yang sehat, kendatipun dengan keterbatasan anggaran yang ada.
Sedangkan untuk pengelolaan sampah sekolah, semua sekolah belum memisahkan sampah yang ada dilingkungan mereka. Sekolah hanya mengumpulkan semua jenis sampah pada tempat yang sama. Untuk tangki septic juga belum pernah dikosongkan, ini juga karena tangki septik yang ada dirasa belum full sehingga tidak dilakukan penyedotan. Selain itu armada sedot tinja di seluruh Kabupaten Muna hanya 1 (satu) unit, namun beralih fungsi menjadi mobil operasional pertamanan.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-16 Tabel 3.7. Masalah dan Isu Starategis di Sektor Promosi Higiene dan Sanitasi
Permasalahan Mendesak Isu Strategis
ASPEK TEKNIS
95,1% tidak melakukan praktek CTPS di Lima Waktu Penting Meningkatkan promosi hygiene dan sanitasi disektor rumah tangga
perilaku masyarakat terhadap pengelolaan air minum masih
sangat rendah Meningkatkan kesadaran dan kemampuan
masyarakat dalam pengelolaan air minum pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna masih
buruk Meningkatkan kesadaran dan kemampuan
masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Kondisi Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) pada masyarakat Kabupaten Muna menunjukkan kondisi yang masih buruk
Meningkatkan kualitas saluran pembuangan air limbah melalui program pembangunan SPAL komunal atau individual
Jamban di sekolah tidak dilengkapi dengan penerangan yang
cukup, Meningkatkan kualitas dan standar jamban
disektor pendidikan Rasio jumlah siswa dan guru terhadap ketersediaan jamban di
sekolah yang masih cukup besar Meningkatkan jumlah jamban ditiap sekolah yang disesuaikan dengan tingkat penggunaan dan jumlah pengguna
Ketersediaan air bersih bagi sarana jamban sekolah yang masih
rendah Meningkatkan ketersediaan air bersih melalui
pemasangan sambungan air bersih ke sekolah- sekolah
ASPKEK NON TEKNIS Porsi pendanaan untuk pembiayaan promosi lebih kecil dibandingkan kegiatan lain yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan
Kebijakan penganggaran disektor Prohisan ditingkatkan
Promosi hygiene dan sanitasi sektor rumah tangga masih kurang Program Prohisan disektor rumah tangga lebih diintensifkan
Aspek sanitasi dalam proses pembelajaran belum menjadi
perhatian Pengarusutamaan isu pentingnya sanitasi dalam
proses belajar mengajar
Promosi hygiene dan sanitasi sektor pendidikan masih kurang Program Prohisan disektor rumah tangpendidikan lebih diintensifkan
Sumber : Analisa Pokja Sanitasi Kabupaten Muna (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-17 3.2. Pengelolaan Air Limbah Domestik
Kondisi sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Muna pada dasarnya berupa pelayanan sanitasi sistem setempat (individual) untuk limbah tinja berupa pengumpulan limbah tinja dari septik tank belum ada pengolahan akhir.Pada saat ini Kabupaten Munabelum mempunyai Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT).
Secara umum pengelolaan limbah tinja di Kabupaten Muna dilaksanakan sendiri oleh masyarakat secara individual, sedangkan limbah cair langsung ke saluran drainase. Akan tetapi, kebiasaan ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sanitasi yang baik sehingga kebiasaan ini harus ditinggalkan.
Pemerintah Kabupaten Muna juga telah membangunkan WC umum untuk digunakan secara komunal. WC umum tersebut biasanya terdapat pada areal pasar. Untuk areal permukiman, golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas telah memiliki WC secara individu. Untuk masyarakat golongan menengah ke bawah kebanyakan belum memiliki WC secara individu.
Adapun Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Air Limbah Kabupaten Muna didasarkan pada data yang ada dimana hampir di semua wilayah Kabupaten Muna menggunakan sistem pembuangan air limbah setempat (onsite sanitation). Limbah manusia ditampung dalam tangki septik atau cubluk dimana penguraian terjadi secara alamiah dan cairannya dibuang ke bidang tanah atau sumur resapan. Sedangkan untuk limbah mandi dan cuci (grey water) penanganannya langsung dibuang ke saluran drainase. Ditinjau dari peran serta pemerintah, sebagian besar pengelolaan air limbah terutama limbah domestik di Kabupaten Muna masih dilaksanakan secara individual oleh masyarakat. Sampai saat ini peran pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sanitasi terbatas dalam hal pemberian bantuan jamban kepada sebagian warga masyarakat serta fasilitasi pembangunan MCK komunal berbasis masyarakat di beberapa titik wilayah.
3.2.1. Kelembagaan
Aspek legal/hukum yang selama ini dimiliki oleh Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Muna yang menangani permasalahan air limbah sampai saat ini belum ada. Aturan tentang Baku Mutu Air Limbah dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik bahwa air buangan limbah yang akan di buang ke badan air harus sudah memenuhi baku mutu air limbah agar tidak mencemari badan air. Sedangkan selama ini buangan limbah di Kabupaten Muna tidak pernah dilakukan pemantauan dengan menganalisis air buangan secara periodik baik secara fisik, kimia, biologi maupun bakteorologi. Namun secara struktur di Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan memiliki seksi yang menangani persoalan limbah domestik dan B3. Akan tetapi keberadaan seksi ini belum secara maksimal menangani masalah-masalah yang menyangkut sektor air limbah.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-18 Tabel 3.8. Daftar Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Air Limbah Domestik
Fungsi
Pemangku Kepentingan Pemerintah
Kab. Swasta Masyarakat PERENCANAAN
Menyusun target pengelolaan air limbah domestik skala kabupaten
BLH - -
Menyusun rencana program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target.
BLH - -
Menyusun rencana anggaran program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target
BLH - -
PENGADAAN SARANA
Menyediakan sarana pembuangan awal air limbah domestk PU - - Membangun sarana pengumpulan dan pengelolaan
awal.(tangki septik)
PU - -
Menyediakan sarana pengangkutan dari tangki septik ke IPTL (Truk tinja)
PU - -
Membangun jaringan atau saluran pengalihan limbah dari sumber ke IPAL (pipa kolektor)
PU - -
Membangun sarana IPLT dan atau IPAL PU - -
PENGELOLAAN
Menyediakan layanan penyedotan lumpur tinja BLH - -
Pengelolaan IPTL dan atau IPAL BLH - -
Melakukan penarikan retribusi penyedotan lumpur tinja BLH - - Memberikan isin usaha pengelolaan air limbah domestik, dan
atau penyedotan air limbah
BLH - -
Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septik, dan saluran drainase lingkungan) dan pengurus IMB
BLH - -
PENGATURAN DAN PEMBINAAN
Pengaturan prosedur penyediaan air limbah domestik (pengangkutan, personil, peralatan)
BLH - -
Melakukan sosialisasi peraturan dan pembinaan dalam hal pengelolaan air limbah domestic
BLH - -
Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan air limbah domestic
BLH - -
MONITORING DAN EVALUASI
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan air limbah skala kabupaten
BLH - -
Melakukan monev terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan air limbah domestik.
BLH - -
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap baku mutu air limbah
BLH - -
Sumber: Kantor BLH Kab. Muna (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-19 Berdasarkan Peraturan Bupati No 17 Tahun 2000, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Muna memiliki tugas merumuskan kebijakan, koordinasi, mengeloladan atau menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup termasuk penanganan Limbah domestik. Namun setelah diberlakukannya Peraturan daerah Kabupaten Muna Nomor 05 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kabupaten Muna Nomor 16 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga-Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Muna, maka Badan Lingkungan Hidup berubah menjadi Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan.
Selama ini Kebersihan dan Pertamanan menjadi bagian dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muna, namun setelah berlakunya Perda tersebut Subdin Kebersihan dan Pertamanan melekat pada Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Muna.
Gambar 3.8. Struktur Organisasi BLH, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Muna Struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup
Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Muna mempunyai tugas membantu Bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang Lingkungan Hidup, kebersihan dan pertamanan yang mempunyai fungsi dalam perumusan kebijakan teknis dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup serta sebagai pelayanan penunjang pemerintahan Kabupaten Muna.
Visi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Muna sampai Tahun 2010 adalah :
“Terwujudnya Kualitas Lingkungan Yang Serasi dan Seimbang Melalui Peningkatan Kemitraan Lingkungan Yang Bertumpu pada Pelestarian Fungsi Ekosistem dan Pembangunan Berkelanjutan Yang Berwawasan Lingkungan“.Visi ini disusun atas dasar komitmen bersama Lembaga Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Muna untuk memenuhi tuntutan dan dinamika masyarakat dalam peningkatan kualitas lingkungan yang dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan sampai dengan Tahun 2010.
Kepala BLH, Kebersihan dan Pertamanan
Sekertaris BLH, Kebersihan dan Pertamanan
Bidang Analisis Dampak Lingkungan &
Tata Lingkungan
Bidang Pengelolaan Sampah, Pengendalian
Pencemaran Lingkungan
Bidang Hukum dan Komunikasi Lingkungan
Bidang Kebersihan dan
Pertamanan
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-20 Tabel 3.9. Daftar Peraturan Air Limbah Domestik Kabupaten Muna
Peraturan
Ketersediaan Pelaksanaan Ada Tidak Ket
ada Efektif Dilaks anakan
Belum efektif
Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan AIR LIMBAH DOMESTIK
Target capaian pelayanan pengelolaan air limbah domestik di Kab. Muna
√ - - - -
Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah Kab.Muna dalam penyediaan layanan pengelolaan air limbah domestic
√ - - - -
Kewajiban dan sanksi bagi pemerintah Kab dalam memberdayakan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan air limbah domestic
√ - - - -
Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat dan atau pengembang untuk menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik di hunian rumah
√ - - - -
Kewajiban dan sanksi bagi industri rumah tangga untuk menyediakan sarana pengeolaan air limbah domestik di tempat usaha
√ - - - -
Kewajiban dan sanksi bagi kantor untuk menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik di kantor
√ - - - -
Kewajiban penyedotan air limbah domestic untuk masyarakat, industri rumah tangga, kantor pemilik septik tank
√ - - - -
Retribusi penyedotan air limbah domestic
√ - - - -
Tata cara perizinan untuk kegiatan pembuangan air limbah domestik bagi kegiatan permukiman
√ - - - -
Sumber: Kantor BLH Kab. Muna (2013)
3.2.2. Sistem dan Cakupan Pelayanan
Pelayanan air limbah di Kabupaten Muna belum di kelola dengan sistem yang sesuai dengan Baku Mutu Air Limbah. Untuk mengetahui kondisi pengelolaan air limbahr umah tangga di Kabupaten Muna, digunakan metode dengan menggunakan alat bantu Diagram Sistem Sanitasi
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-21 (DSS). Kondisi geografis yang berada pada wilayah pesisir sangat mempengarusi system cakupan pelayanan air limbah domestik di Kabupaten Muna. Masyarakat yang berada pada wilayah pesisir banyak yang membuang air limbah dilaut, sedangkan yang berada pada wilayah daratan banyak membuang limbahnya dikebun, ini disebabkan karena masih banyak lahan kosong yang memungkinkan menjadi tempat pembuangan air limbah.
Gambar 3.9. Tempat Penyaluran Akhir Tinja
¶
Sumber : Study EHRA (2013)
Berdasarkan Grafik Hasil Studi EHRA diatas, terlihat bahwa tempat penyaluran akhir pembuangan tinja rumah tangga masyarakat Kabupaten Muna yang menjadi sampel penelitian baik klaster 0, 1, 2, 3 maupun 4 ternyata yang menggunakan Tangki Septik (48,9%), kemudian diikuti oleh Cubluk (22,7%), ke kebun/tanah lapang (0,8%), ke pipa sewer (0,6%), dan langsung ke badan air (0,3%) serta lainnya (26,5%). Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Kabupaten Muna tentang pentingnya pembuangan akhir isi tinja belum cukup baik.
Dalam pengelolaan air limbah di Kabupaten Muna belum ada payung hukum yang dibuat pemerintah tentang tata laksana pengelolaan air limbah. Demikian pula dengan sarana dan prasarana pendukung pengelolaan air limbah belum ada termasuk mobil tinja dan pengurasan jamban belum ada baik yang dikelolah pemerintah maupun swasta. Namun kedepan pemerintah Kabupaten Muna akan memperhatikan tentang pemngelolaan air limbah domestik.