pengelolaan air limbah di Kabupaten Muna Pengembangan perangkat Peraturan Daerah Belum ada pengelolaan air limbah baik swasta
maupun pemerintah Penguatan Kelembagaan
Kampaye PHBS jarang dilakukan Meningkatkan kualitas pelayanan (masalah biaya, SDM, prasarana dan sarana serta peran masyarakat)
Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
jamban masih rendah Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sanitasi
Biaya pembangunan MCK yang standard an
aman cukup mahal Peningkatan alternative sumber pembiayaan prasarana dan sarana air limbah
Sumber : Analisa Pokja Sanitasi Kabupaten Muna (2013) 3.3. Pengelolaan Persampahan
Sampah merupakan buangan hasil suatu proses atau aktivitas yang berbentuk padat.
Sampah dihasilkan oleh rumah tangga, pasar, rumah sakit, tempat rekreasi, jalan, pertanian dan industri serta berasal dari pembangunan. Secara fisik sampah dapat dibedakan menjadi sampah kering dan sampah basah. Sampah dapat dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik.
Pembedaan sampah dapat pula dilakukan pada kandungan racun sehingga sampah dibedakan menjadi sampah beracun dan tidak beracun. Pembedaaan yang dikenal luas adalah pembedaan sampah organik dan anorganik.
Penanganan persampahan di Kabupaten Munasebagian telah mengikuti sistem pengelolaan persampahan dimana sampah rumah tangga telah dilakukan pewadahan, kemudian juga telah terdapat tempat pembuangan sementara (TPS) yang berfungsi sebagai pengumpul sampah yang berasal dari pewadahan. Sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) tersebut kemudian diangkut lagi dan sampailah pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun sebagian besar penduduk masih membakar sampahnya utamanya yang berada di perdesaan. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Persampahan di Kabupaten MunaSistem pengolahan
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-35 sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan juga masyarakat.
Pengelolaan sampah dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup, terutama dilakukan di kawasan perkotaan yang meliputi pengumpulan dari rumah tangga hingga pengolahan di TPA. Sarana TPA yang tersedia di Kabupaten Muna saat ini berupa TPA Lakanduma dengan luas lahan keseluruhan 8,5 Ha dan luas yang terpakai saat ini hanya 5 Ha. TPA Lakauduma baru difungsikan pada tahun 2010..Diprediksi TPA Lakaduma dapat melayani pembuangan sampah di Kabupaten Muna hingga 20 tahun mendatang. Dalam pengelolaan sampahnya, sistem TPA Lakanduma terdiri dari Sanitarian fill;tetapi knyataannya pelaksanaan di lapangan adalah Open dumping di sebabkan peralatan dan sarana yang ada sangat terbatas. Sistem Open dumping yang terdapat di TPA Lakauduma adalah 75% dari luas lahan yang dimanfaatkan. Tahun 2012 TPA Lakauduma di pagar dari dana APBD Kabupaten Muna. Sedangkan fasilitas kantor dan bengkel belum ada.
3.3.1. Kelembagaan
Pengelolaan persampahan di Kabupaten Muna dua tahun terakhir ini di laksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bidang Pengelolah Sampah, Pengendalian Pencemaran, Kerusakan dan Pemeliharaan Lingkungan, sebelumnya dikelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muna. Dalam pelaksanaan tugasnya seksi pengolahan sampah, pengendalian pencemaran mempunyai rincian tugas sebagai berikut:
a. Merencanakan program kegiatan di bidang pengelolaan sampah sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
b. Merumuskan sasaran program kegiatan persampahan sebagai pedoman pelaksanaan tugas.
c. Menyediakan bahan perumusan kebijakan teknis tentang persampahan d. Melakukan koordinasi dan konsultasi guna kelancaran pelaksanaan tugas
e. Memberikan bimbingan dan arahan pelaksanaan tugas kepada bawahannya agar tugas berjalan lancar dan tepat waktu
f. Menyediakan data dan informasi tentang pengelolaan persampahan.
g. Melaksanakan pemeriksaan terhadap alat-alat kendaraan yang digunakan untuk melaksanakan operasional pengangkutan sampah.
h. Melaksanakan bimbingan, pembinaan dan pelayanan bidang kebersihan jalan, lingkungan, pengangkutan dan pemanfaatan sampah pada masyarakat.
i. Menyusun kebijakan pengembangan sarana dan prasarana persampahan, penetapan lembaga penyelenggara pengelolaan sampah.
j. Memberikan bantuan teknis pada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di Kabupaten Muna
Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai pengelolaan persampahan di Kabupaten Muna, terutama untuk mengidentifikasi stakeholder yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan persampahan, maka Pokja Sanitasi Kabupaten Muna melakukan Studi Kelembagaan dan kebijakan dengan tujuan :
a. Mendeskripsikan peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan persampahan di Kabupaten Muna.
b. Mendeskipsikan kelengkapan dan kondisi pelaksanaan kebijakan sanitasi di Kabupaten Muna.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-36 Adapun hasil study Kelembagaan dan kebijakan dapat dilihat pada tabel peta pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan persampahan serta peta peraturan persampahan Kabupaten Muna
Tabel 3.21 Daftar Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Persampahan
Fungsi Pemangku Kepentingan
Pemerintah
Kab Swasta Masyarakat PERENCANAAN
Menyusun target pengolahan sampah skala kabupaten BLH - -
Menyusun rencana anggaran program persampahan dalam rangka
mencapai target BLH - -
Menyusun rencana program persampahan dalam rangka mencapai
target BLH - -
PENGADAAN SARANA
Menyediakan sarana pewadahan sampah di sumber sampah BLH - BKM
Menyediakan sarana pengumpulan (sumber sampai ke TPS) - - RT
Membangun sarana Tempat Penampungan Sementara(TPS) - - BKM
Membangun sarana pengangkutan sampah dari TPS ke TPA BLH - -
Membangun sarana TPA Dinas PU - -
Menyediakan sarana composting - - -
PENGELOLAAN
Pengumpulan sampah di TPS - - RT
Mengelola sampah di TPS - - Pemulung
Mengangkut sampah dari TPS ke TPA BLH - -
Mengelola TPA BLH - -
Melakukan pemilahan sampah - - -
Melakukan penarikan retribusi sampah BLH - -
Memberikan izin usaha pengolahan sampah BLH - -
PENGATURAN DAN PEMBINAAN
Mengatur prosedur layanan sampah (jam pengangkutan,
personil,peralatan) BLH - -
Melakukan sosialisasi peraturan pengelolaan sampah BLH - -
Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan sampah BLH - - MONITORING DAN EVALUASI
Melakukan monev capaian target pengelolaan sampah skala kab BLH - - Melakukan monev terhadap infrastruktur sarana pengelolaan
sampah BLH - -
Melakukan monev terhadap efektifitas layanan persampahan atau
menampung serta mengelola keluhan atas layanan persampahan. BLH - - Sumber: Study Kelembagaan (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-37 Tabel 3.22. Daftar Peraturan Persampahan Kabuapten Muna
Peraturan
Target capaian pelaksanaan pengelolaan persampahan di kab pemerintah kab dalam menyediakan layanan masyarakat untuk mengurangi sampah, menyediakan tempat sampah dihunian di rumah dan TPS
√
- - - -
Kewajiban dan sanksi bagi kantor/unit usaha di kawasan komersil/fasilitas social untuk
mengurangi sampah,
menyediakan tempat sampah dan membuang ke TPS.
√
- - - -
Pembagian kerja pengumpulan sampah dan sumber ke TPS,dan TPS ke TPA dan pengaturan waktu pengangkutan sampah dari TPS ke TPA
Kerjasama pemerintah kab dengan swasta atau pihak lain dalam pengelolaan sampah.
√ - - -
Retribusi sampah dan
Kebersihan √ - - -
Sumber: Study Kelembagaan (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-38 3.3.2. Sistem Dan Cakupan Pelayanan
Timbunan sampah di Kabupaten Muna sebagian besar merupakan sampah dari rumah tangga, pertokoan, perkantoran, industri, fasilitas pendidikan, pasar dan area publik lainnya.Pengelolaan sampah di Kabupaten Muna belum semua terlayani. Masih ada sebagian wilayah kota menggunakan sistem pembuangan open dumping dengan ditimbun atau dibakar.Sebagian wilayah yang kurang mempunyai lahan untuk membuang secara terbuka atau untuk membakar sampahterpaksa dibuang di sungai atau laut.
Pengambilan dan pengumpulan sampah yang dilaksanakan di Kabupaten Muna adalah sebagai Berikut :
Daerah perkotaan sepanjang jalan protokol sampah diambil mobil sampah
Pengangkutan dari TPS ke TPA dilakukan oleh petugas kebersihan
Pengumpulan sampah disepanjang jalan protokol dilakukan oleh petugas penyapu sebanyak 69 orang, dilakukan pada pagi hari dan sore hari, Yang membersihkan got/selokan sebanyak 20 orang
Penanganan sampah di KabupatenMuna baik dalam pengangkutan atau dalam pengelolaan sampah di TPA Lakaduma belum melibatkan pihak swasta. Pengangkutan sampah di wilayah pelayanan kebersihan Kabupaten Muna saat ini mulai mengalami kendala karena jumlah timbulan sampah yang semakin banyak dan juga keadaan kendaraan (truck) yang semakin menurun. Keadaan ini semakin diperparah dengan wilayah pelayanan yang terlalu jauh dari TPA.
Jarak Wilayah Kecamatan Katobu, Duruka ke TPA Lakaduma berjarak kurang lebih 20 kilometer.
Rute truck dalam pengambilan sampah setiap harinya sudah dijadwal dari Bidang Pengelolaan Sampah BLH Kabupaten Muna. Jumlah TPS yang diambil masing – masing truck berbeda, hal ini didasarkan pada volume sampah dimasing-masing TPS. Ritasi truck ke TPA tidak sama, rata – rata sebanyak 1 - 2 kali/hari. Namun pada hari-hari tertentu seperti menjelang lebaran pengangkutan sampah dilakukan 2-3 kali/hari. Profil TPA Lakauduma seperti terlihat pada Tabel 3.23 dibawah ini.
Tabel 3.23. Profil TPA Lakauduma
No Item Keterangan
1 Jenis Penimbunan Open dumping
2 Lokasi Desa Bangun Sari
3 Waktu rencana TPA 2011 -2031 4 Luas keseluruhan 8,5 Ha
5 Luas Terpakai 2 Ha
6 Jarak dari permukiman 7 Km 7 Jarak dari kota 15 KM
8 Excavator 1 Unit
9 Compactor -
Beradasarkan Tabel 3.22 diatas terlihat bahwa TPA Lakauduma saat ini masih menggunakan sistem open dumping. Namun pada tahun 2014 secara bertahap akan dikembangkan menjadi TPA dengan system sanitary landfill.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-39 Gambar 3.11. Grafik Pengelolaan Sampah
Sumber: Hasil Study EHRA (2013)
Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa untuk Klaster 0, ternyata pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna semuanyadibakar (100%). Hal tersebut menunjukkan bahwa cara pengelolaan sampah dan perilaku masyarakatnya belum baik. Klaster 1, pengelolaan sampah rumah tangganya masih didominasi cara dibakar (53,9%) dan lainnya membuang sampah ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk (15,7%) serta ke badan air (sungai/kali/laut/danau) yaitu 8,9%. Ini menunjukkan masih adanya cara pengelolaan sampah dan perilaku masyarakat yang kurang baik. Klaster 2, cara Pengelolaan Sampah rumah tangganya masih didominasi cara tradisional, yaitu dibakar (58,0%), disamping masih ada sebagian yang membuang sampahnya ke lahan terbuka (lahan kosong/kebun/hutan) yaitu 11,3%, membuang sampah ke badan air (4,0%).
Hal ini menunjukkan masih adanya cara pengelolaan sampah dan perilaku masyarakat yang kurang baik. Sementara untuk klaster 3, pengelolaan sampah rumah tangganya masih ada yang menggunakan cara tradisional, yaitu dengan dibakar (15,0%) walaupun masih ada pula sebagian yang membuang sampahnya ke badan air (20,0%) dan lainnya yaitu 65,0%. Hal ini menunjukkan masih adanya Pengelolaan Sampah dan Perilaku Masyarakat yang kurang baik.
adapun untuk klaster 4, pengelolaan sampah rumah tangganya sebagian besar masih dengan cara dibakar (72,5%) dan dibuang ke lahan terbuka (15%). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku masyarakatnya belum baik,dan secara keseluruhan mulai dari Klaster 0 – 4, cara yang paling banyak digunakan dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna pada tahun 2013 adalah dengan cara dibakar dan Lainnya, masih terdapat sebagian kecil membuang sampah ke lahan terbuka dan badan air, sedangkan pemanfaatan sarana TPS sama sekali tidak ada.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-40 Gambar 3.12. Grafik Praktik Pemilahan Sampah oleh Rumah Tangga
Sumber: Hasil Study EHRA (2013)
Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa untuk Klaster 1, praktik pemilahansampah oleh rumah tangga masih sebagian besar tidak dipilah yaitu 96,3% dan dipilah 3,7%. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku masyarakatnya masih belum baik. Untuk klaster 2 juga sebagian besar praktik pemilahan sampah oleh rumah tangga tidak dipilah (88,2%) dan yang Dipilah 11,8%.
Ini juga menunjukkan bahwa perilaku masyarakatnya belum baik. Sedangkan pada klaster 3 praktis semua praktik pemilahan sampah oleh rumah tangga tidak dilakukan (100%). Sedangkan untuk klaster 0 dan 4 pembuangan sampahnya tidak dikumpulkan oleh kolektor ataupun dibuang ke TPS.Dan secara keseluruhan mulai dari klaster 0 – 4 masih didominasi Praktik Pemilahan sampah oleh rumah tangga dengan cara tidak dipilah.
a. Pewadahan
Pewadahan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sementara disumbernya baik individu maupun komunal. Pewadahan merupakan bagian dari system pengelolaan setelah mengadakan kegiatan identifikasi dan inventarisasi sumber sampah. Adapun jenis-jenis pewadahan yang ada di Kabupaten Muna yaitu :
- Drum/Tong sampah kapasitas 40 liter - Ban bekas, kapasitas 125 liter.
- Pasangan bata, kapasitas 1 M3
- Keranjang sampah dan kotak kayu, kapasitas 40-60 liter b. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak sampah menuju tempat penampungan sementara (TPS).Sedangkan masyarakat yang bertempat tinggal di dekat TPS dan belum mendapatkan pelayanan secara individu membuang langsung ke TPS terdekat.
c. Pemindahan
Pemindahan sampah dari TPS dibawah oleh alat pengangkut berupa dump truk. Sarana pengangkutan yang dimiliki oleh BLH Kabupaten Muna hingga tahun 2013 sebanyak 9 unit d. Pemprosesan Akhir
Sistem yang digunakan masih open dumpingdan pelum ada pemilahan sampah dan pengolahannya.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-41 Peta 3.2. Peta Cakupan Layanan Persampahan Kawasan Kota Raha
Sumber : Analisis Tim Pokja (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-42 Peta 3.3. Peta Lokasi Infrastruktur Utama Pengelolaan Sampah
Sumber : Analisis Tim Pokja (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-43 Tabel 3.24. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Sampah
Input User Interfance Pengumpulan Penampungan
Sementara Pengangkut an
Semi Pengolahan Akhir Terpusat
Pembuangan Akhir/Daur
Ulang.
Kode Nama Aliran
Organik/An Organik
Rumah Tangga Tong Sampah Di
tepi jalan TPS Dump Truck TPA - Aliran
Limbah 1
Rumah Tangga Tong sampah - - - Dibakar Aliran
Limbah 2
Rumah Tangga Tong sampah - - - Lubang Galian Aliran
Limbah 3
Rumah Tangga - - - - Sungai/laut Aliran
Limbah 4
Pasar Laino Tong sampah TPS Dump Truck TPA - Aliran
Limbah 5 Pelabuhan/Term
inal Tong sampah TPS Dump Truk TPA - Aliran
Limbah 6 Sumber : Study DSS (2013)
Berdasarkan Tabel 3.24 diatas terlihat bahwa pengolahan sampah rumah tangga di Kabupaten Muna, pada tahap awal dikumpulkan pada tong sampah selanjutnya ditampung wadah penampungan sementara. Setelah dikumpulkan pada TPS, akan diangkut oleh dump truck ke lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun mayoritas sampah masyarakat yang ada tidak didaur ulang kembali.
Proses penguraian sampah masyarakat lebih banyak dibakar atau dikumpulkan dalam lubang galian. Mekanisme 3R (reuse, reduce, dan recycle) belum banyak dilakukan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh minimnya pemahaman masyarakat dalam proses 3R sampah.
Selain itu belum ada alternatif-alternatif lainnya dalam hal pengelolaan sampah masyarakat. Padahal sampah yang ada dapat saja dimanfaatkan kembali dalam bentuk kerajinan tangan maupun sebagai bahan baku pupuk organik. Oleh karena itu diperlukan adanya pembinaan/pendampingan oleh SKPD terkait dalam hal pemanfaatan kembali sampah masyarakat. Bentuk pembinaan/pendampingan oleh SKPD tersebut dapat berupa pelatihan-pelatihan, seminar dan lokakarya. Selain itu juga diperlukan adanya terobosan untuk membuka akses pasar atas hasil pemanfaatan sampah sebagai bahan baku kerajinan tangan masyarakat.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-44 Tabel 3.25. Sistem Pengelolaan Persampahan yang Ada di Kabupaten Muna
Kelompok Fungsi Teknologi Yang Digunakan
Jenis Data Sekunder Nilai Data (Perkiraan)
Sumber Data
User Interface Pasar Jumlah Pasar 1 Pasar BLH
Jumlah sampah terangkut 21 M3/Hr BLH
User Interface Terminal/pelabuhan Jumlah Terminal 4 BLH
Jumlah sampah terangkut 12 M3/Hr BLH
User Interface Rumah tangga Jumlah KK 2000 kk BLH
User Interface Kantin/Rumah Makan Jumlah kantin/rumah makan 20 Dinas Kesehatan Pengumpulan setempat Tong sampah ditepi jalan Jumlah 100 unit BLH
Penampungan sementara TPS Jumlah 30 unit BLH
Pengangkutan Gerobak sampah Jumlah 10 unit BLH
Pengangkutan Dump Truck Jumlah 9 Unit BLH
Pengolahan akhir Terpusat
TPA Jumlah 1 BLH
Kapasitas 300 M3/hr BLH
Sampah Terangkut 110 M3/Hr BLH
Pembuangan Akhir Daur Ulang plastik Jumlah 25 M3/Hr Pemulung
Sumber: BLH (2013)
Berdasarkan data pada Tabel 3.25 diatas jumlah sampah yang terangkut disekitar kawasan terminal/pelabuhan mencapai 12 m3/hari. Sedangkan sampah disekitar pasar mencapai 21 M3/Hr. Untuk jumlah tong sampah sekitar 100 unit, jumlah ini masih kurang jika dibandingkan dengan volume sampah yang dihasilkan pada setiap harinya oleh masyarakat Kabupaten Muna khususnya pada wilayah perkotaan.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-45 Selain melakukan studi EHRA, untuk lebih mendapatkan informasi mengenai pengelolaan sampah di Kabupaten Muna juga di lakukan study PMHSJK yaitu untuk mengidentifikasikan program atau proyek layanan berbasis masyarakat yang dilakukan di Kabupaten Muna, LSM, CBO (Community Based Organisation) dan masyarakat untuk sub sektor persampahan. Adapun hasil studi PMHSJK dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 3.26. Pengolahan Persampahan di Tingkat Kelurahan/Kecamatan Jenis Kegiatan
Dikelolah Oleh Masyarakat Dikelolah Sektor Formal di
Tabel 3.27. Pengolahan Persampahan di Tingkat Kabupaten Muna Jenis Kegiatan Dikelolah
Sektor Formal Dikelolah Pihak Swasta
Program pemberdayaan masyarakat PNPM Mandiri cukup membantu pemerintah Kabupaten Muna dalam rangka memperbaiki sanitasi masyakat seperti pembuatan bak sampah dan TPS dan sampai saat ini masih berfungsi dengan baik. Demikian pula dengan program pemberdayaan lainnya diharapkan dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam rangka memperbaiki layanan sanitasi masyarakat
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-46 Tabel 3.28. Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat.
Komponen
Kondisi Sarana Saat Ini Aspek PMJK Fungs
i
Tidak
Fungsi Rusak PM JDR MBR Persampahan PNPM Mandiri
Perkotaan
Penyebarluasan Informasi tentang pengelolaan Sampah dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup melalui Bidang Kebersihan. Sedangkan komunikasi melalui media tertulis jarang dilakukan dan media elektronik yaitu melalui radio. Kegiatan penyebaran informasi sanitasi lingkungan melalui berbagai media di Kabupaten Muna dilaksanakan antara lain seperti terlihat pada Tabel 3.29 dibawah ini.
Tabel 3.29 Kegiatan Komunikasi Terkait Persampahan No Kegiatan Dinas
BLH/Dinkes Muna Sehat Warga masyarakat Sumber: Dinas Kesehatan dan BLH Kab. Muna (2013)
Penyebarluasan informasi tentang pengolaan sampah dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan media komunikasi umum milik swasta yaitu radio lokal yaitu RSP (Radio Suara Pendidikan). Kegiatan sosialisasi dan kampaye sabitasi masih jarang dilakukan, hal tersebut disebabkan masih kurangnya sarana pendukung untuk promosi, demikian juga halnya dengan porsi pendanaan untuk pembiayaan promosi lebih kecil dibandingkan kegiatan lain yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Selain itu pendekatan dala hal pengelolaan sampah selama ini lebih dominan pada aspek fisik. Sedangkan aspek prefentif sangat kurang dilaksanakan. Padahal kegiatan promosi dalam kaitannya dengan pencegahan pembuangan sampah disembarang tempat sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Kabupaten Muna. Jika penanganan pada aspek fisik tidak berjalan sinergis dengan tindakan pencegahan maka tidak akan memiliki dampak yang signifikan terhadap upaya meminimalisasi masalah sampah di Kabupaten Muna.
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-47 Tabel 3.30. Media Komunikasi dan Kerjasama terkait Persampahan
No Jenis Media Khalayak Pendanaan Isyu yang diangkat Pesan
Kunci Efektifitas
sehat BABS Jangkauan
terbatas, hanya
lingkungan Hanya sebagian kecil warga yang dapat memantau Sumber: Dinas Kesehatan Kab Muna (2013)
3.3.4. Partisipasi Dunia Usaha
Gambaran tentang partisipasi dunia usaha/ penyedia layanan tentang pengelolaan persampahan di Kabupaten Muna . Berdasarkan survey SSA diperoleh data sebanyak 2 usaha pengepul yang besar namun ada beberapa usaha pengepul lain yang menyetor di UD Maju dan CV Lestari. Kedua usaha tersebut bahkan melayani dari luar kota Raha seperti Tongkuno, Lawa dan Tikep. UD Maju juga telah memiliki mesin pencacah sampah, sebelum sampah diolah dipilahkan dulu jenis barang dan warnanya kemudian diproses. Barang bekas yang berupa plasti, besi, dan almunium lainnya semua dikirim ke Surabaya.Dalan 1 bulan dapat mengirim sampah-sampah yang sudah dicacah seperti plastik 27 ton, Besi 30 ton, kertas 2 ton, kardus 3 ton. Untuk lengkapnya dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 3.31. Penyedia Layanan Pengelolaan Persampahan yang ada Di Kabupaten No Nama Provider/ menampung/membeli sampah non organic (plastic, kertas, logam
Narasumber pelatihan pemilah sampah sampah non organic agar menampung/membeli sampah non organic (plastic, kertas, logam
Narasumber pelatihan pemilah sampah sampah non organic agar bernilai ekonomis
Sumber: Studi PMHSJK (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-48 Tabel 3.32. Rekapitulasi Realisasi Pendanaan Sanitasi Komponen Persampahan
No Sub Sektor Belanja (Rp)
Rata Rata Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 %
1 Air Limbah (1a+2a)
2 Sampah (2a+2b) 1,503,736,800 494,450,000 1,227,136,567 1,375,814,645 731,298,950 1,066,487,392 11.58 3 Pendanaan investasi
persampahan
1,503,736,800 209,650,000 6,450,000 81,480,000 137,279,000
4 Pendanaan OM yang
dialokasikan dalam APBD
0 284,800,000 1,220,686,567 1,294,334,645 594,019,950
5 Perkiraan biaya OM berdasarkan infrastruktur Terbangun
150,373,680 20,965,000 645,000 8,148,000 13,727,900
6 Drainase (3a+3b) 7 Aspek PHBS
Sumber: DPPKAD Kab Muna (2013)
Tabel 3.33.Realisasi dan Potensi Retribusi Sampah
No Sub Sektor Belanja (Rp)
Rata Rata Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 %
Retribusi Air Limbah Retribusi Sampah
Realisasi Retribusi 68,721,750 70,571,250 99,999,000 101,979,000 112,149,000 76,939,651 6.34 Potensi Retribusi 637,308,000 671,184,000 718,140,000 733,392,000 789,288,000
Retribusi Drainase
Sumber: DPPKAD Kab Muna (2013)
Buku Putih Sanitasi Kab Muna III-49 Table 3.34. Permasalahan Mendesak dan Isu Strategis Sektor Persampahan
Permasalahan Mendesak Isu Strategis
ASPEK TEKNIS