• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2.2. Aspek Transportasi Wilayah

Kabupaten Halmahera Barat adalah merupakan bagian dari kepulauan Halmahera, dimana luasan daratannya sedikit lebih besar dibandingkan dengan daerah pemekaran lain di Propinsi Maluku Utara. Sementara sistim transportasi jalan raya belum menunjukan kearah yang lebih baik dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat, khususnya kelancaran arus muat barang dan jasa penduduk sekitarnya. Kondisi jalan yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam memobilisasi input dan output produksi tanaman pangan dan hortkultura.

Kondisi Jalan di wilayah Kabupaten Halmahera Barat baik itu jalan provinsi maupun jalan Kabupaten belum semuanya dalam kondisi baik, sebagian masih berupa jalan tanah. Jalan dengan kualitas hotmix baru disebagian pada ruas jalan yang menghubungkan tiga ibukota kecamatan yang dianggap berdekatan dengan pusat pemerintahan Kabupaten, sedangkan ruas jalan yang menghubungkan desa-desa yang berada di pedalaman sebagai sentra

produksi sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura sebagian besar dalam kondisi rusak berat karena belum mendapat peningkatan jalan atau rendahnya tingkat memeliharaan jalan. Selain itu masi terdapat kondisi jalan tanah menghubungkan pada dua kecamatan yaitu kecamatan Kedi dan kecamatan Goin yang sebagian besar masih berupa jalan setapak yang hanya dapat dilewati pejalan kaki, sepeda motor serta gerobak. Untuk itu mengingat pentingnya peranan jalan dalam kegiatan ekonomi dan pergerakan arus barang dan jasa, maka perlu dilakukan upaya pembangunan dan peningkatan jalan aspal yang ada di wilayah Kabupaten Halmahera Barat, khususnya jalan yang menghubungkan antara pusat-pusat kecamatan seperti ruas jalan yang menghubungkan kecamatan Ibu Utara dan kecamatan Loloda atau kota/wilayah lain yang dianggap potensial sehingga dapat memberikan percepatan pengembangan daerah.

Selain prasarana jalan tersebut di atas, alat transportasi juga merupakan prioritas utama dalam menunjang aliran barang dan jasa, dimana alat transportasi merupakan faktor pendukung yang sangat penting bagi pengembangan sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura, karena dapat dengan mudah mendistribusikan input dan output pada sub-sektor ini. Sementara itu frekuensi operasi kendaraan tahun 2006 tercatat sebanyak 171 unit yang melayani angkutan kota dan desa, dengan rincian mobil penumpang sebanyak 93 unit, mobil barang sebanyak 75 unit dan bus sebanyak 3 unit (Bappeda Kabupaten Halmahera Barat, 2007). Dengan jumlah armada angkutan darat seperti ini, berarti belum dapat mengimbangi arus lalulintas secara keseluruhan, termasuk aktifitas perdagangan khususnya hasil-hasil komodititas tanaman pangan dan hortikultura dari sentra produksi ke areal pengolahan maupun untuk diperjual-belikan.

5.2.3.Aspek Kelembagaan

Dalam pengembangan ekonomi wilayah, khususnya pada pengembangan tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat, hal yang perlu dikembangkan bukan sekedar unit-unit usaha fisik yang tidak berkelanjutan, tetapi unit-unit usaha yang mampu berkembang karena memang dibutuhkan sebagai bagian dari keberlangsungan usaha para petani

tanaman pangan dan hortikultura. Dengan kata lain, berbagai fungsi atau usaha yang bersifat melembaga perlu diupayakan melalui berbagai jaringan secara sistimatis yang saling menunjang antara satu dengan yang lain, yang diantaranya adalah sebagai berikut :

5.2.3.1. Lembaga Keuangan

Kebutuhan permodalan dalam menunjang usaha rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat akan selalu berlangsung sesuai perkembangan usaha. Kebijaksanaan penyediaan modal (credit program) yang sifatnya langsung berupa bantuan modal saja dapat menyebabkan ketergantungan para petani terhadap uluran tangan pemerintah. Oleh karena itu fokus kebijakan yang diperlukan terlebih kepada untuk pengembangan lembaga keuangan sehingga menjadi sumber permodalan bagi para petani. Khusus bagi petani tanaman pangan dan hortikultura yang juga sebagai pelaku pembangunan perlu diupayakan penyediaan kredit dengan prosedur sederhana, suku bunga kondusif serta sistem agunan yang lebih mudah sehingga dapat dipenuhi oleh para petani.

Kegiatan usaha yang dilakukan petani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat saat ini masih didominasi sebagai petani tradisional (sub-sistem), pada umum petani tersebut sepenuhnya belum dapat terlayani oleh lembaga perbankan (bank umum). Oleh karena itu lembaga keuangan yang ideal untuk dikembangkan dalam mengatasi masalah tersebut adalah lembaga keuangan mikro (LKM) dipedesaan yang tentu saja harus didukung dengan kebijakan dan strategi pengembangan LKM yang komprehensif.

Perlu disadari juga bahwa lembaga keuangan yang merupakan infrastruktur ekonomi yang menjadi faktor penunjang keberhasilan perkembangan usaha tanaman pangan dan hortikultura melalui sistem pendanaan belum mendukung sepenuhnya aktivitas perekonomian masyarakat di wilayah ini. Lembaga keuangan yang beroperasi di Kabupaten Halmahera Barat hanya berjumlah 2 (dua) buah yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Pembangunan Maluku. Sementara jenis-jenis LKM pedesaan yang sementara ini dikembangkan di Kabupaten Halmahera Barat adalah Koperasi

Simpan Pinjam, Koperasi Serba Usaha dan Koperasi Usaha Tani, sehingga perlu dipertahankan dan dimodernisasi. Hanya saja para petani merasa keberatan kepada koperasi ini karena walaupun persyaratan administrasi dan agunannya yang mudah tetapi pengenaan suku bunga yang tinggi yaitu sebesar 20% per bulan sehingga sangat memberatkan rumahtangga tani untuk meminta bantuan pinjaman dana dari lembaga tersebut.

Akses terhadap kredit merupakan aspek penting dalam pengembangan usaha tanaman pangan dan hortikultura. Selama ini akses terhadap kredit terkendala oleh penerapan persyaratan agunan yang sulit dipenuhi oleh pelaku usaha pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Keberadaan bank umum yang secara khusus memfasilitasi usaha pertanian dan pedesaan perlu diwujudkan. Selain itu pemerintah daerah perlu mengupayakan pengembangan dan pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro untuk usaha tani melalui 2 (dua) pendekatan yaitu: (1) menggunakan LKM yang sudah berjalan dimasyarakat dan sudah berkembang sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dan (2) mendorong tumbuhnya LKM usaha tani dari embrio LKM yang berasal dari program dana bergulir, serta mendorong proyek dana bergulir lainnya yang sudah dilakukan, tidak saja pada usaha on-farm, tetapi juga mencakup usaha mulai dari hulu sampai ke hilir seperti untuk pengadaan saprodi, pengadaan alat dan mesin, pengolahan hasil pertanian dan sejenisnya. Mengingat usaha pertanian ini dilakukan oleh petani dan pengusaha kecil maka diharapkan dukungan pemerintah pusat, propinsi maupun pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Barat terhadap lembaga keuangan terutama penyediaan subsidi bunga ataupun pada sarana produksi (saprodi) pertanian walaupun tidak sebesar seperti pada subsidi sektor-sektor lainnya.

5.2.3.2. Lembaga Ekonomi dan Organisasi Petani

Pengembangan usaha pertanian tanaman pangan dan hortikultura di daerah Kabupaten Halmahera Barat memerlukan pengembangan kelembagaan dan organisasi ekonomi, karena sesuai dengan kenyataan dilapangan bahwa kelembagaan tradisional/lokal yang sebelumnya adalah bagian dari perekonomian lokal menjadi rusak bahkan hilang. Oleh sebab itu, kelembagaan

tradisional/lokal perlu dibangkitkan kembali dan didayagunakan untuk kemajuan usaha sub-sektor pertanian tersebut secara berkelanjutan.

Kelembagaan pangan tradisional seperti kelembagaan lumbung desa/keluarga di beberapa kecamatan dari sembilan kecamatan di wilayah Kabupaten Halmahera Barat perlu dikembangkan kembali dan dijadikan sebagai kelembagaan ketahanan pangan (food security) daerah. Sistem kelembagaan pangan yang berbasis pada keanekaragaman bahan pangan dan budaya lokal akan mampu menjadi sistem ketahanan pangan daerah yang tangguh dan efisien. Oleh karena itu kelembagaan pangan yang demikian perlu dihidupkan kembali.

Pengembangan organisasi ekonomi rakyat beserta jaringan bisnisnya perlu dikembangkan lebih lanjut. Organisasi ekonomi seperti koperasi usaha tani perlu ditumbuh-kembangkan sebagai organisasi ekonomi petani. Pengembangan koperasi usaha tani kedepan perlu diarahkan sebagai organisasi ekonomi petani yang mengembangkan jaringan usaha (bentuk usaha patungan) dengan perusahaan swasta (PMA, PMDN). Dengan cara pengembangan koperasi petani yang demikian, meskipun petani tetap pada 1 desa, namun organisasi ekonominya dapat menjangkau hingga ke daerah bahkan ke negara lain, sehingga nilai tambah yang dikembangkan pada sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura juga dapat dinikmati oleh masyarakat di daerah lain melalui koperasinya.

Koperasi usaha tani yang perlu dikembangkan adalah dari kelompok tani yang tumbuh berdasarkan kesamaan aktifitas dan kepentingan ekonomi dalam kegiatan usaha tani. Oleh karena kelompok tani yang telah berfungsi sebagai model kerjasama dan sebagai unit produksi perlu dikembangkan menjadi kelompok usaha yang berwawasan agribisnis.

Dalam rangka mengerakkan petani dalam jumlah besar dan serentak maka sangat diperlukan adanya suatu organisasi atau kelembagaan petani yang kuat dan terorganisir dengan baik. Melalui organisasi dan lembaga tani yang kuat maka nilai tawar petani makin kuat sehingga pemerintah dan organisasi lain serta lembaga ekonomi makin mudah bekerja sama dengan petani karena ada representasi petani, sehingga tidak perlu menghubungi petani satu persatu.

Sayangnya organisasi petani seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan sejenisnya belum berkembang di Kabupaten Halmahera Barat sehingga mengakibatkan nilai tukar petani sangat kecil dan tidak punya kekuatan yang berarti.

5.2.4. Sumberdaya Manusia (SDM)

Sumberdaya manusia (SDM) merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha tanaman pangan dan hortikultura. Hal ini disebabkan karena dalam pengembangan usaha di sub-sektor ini, sumberdaya manusia tidak hanya sekedar pada faktor produksi, melainkan lebih penting lagi sebagai pelaku langsung dari pengembangan usaha tanaman pangan dan hortikultura.

Perlu diketahui bahwa, sebagian besar rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat memiliki tingkat pendidikan yang sangat rendah sehingga menjadi suatu masalah umum yang dapat mengakibatkan : tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam budidaya tanaman tidak maksimal, rendahnya tingkat kemampuan petani dalam penerapan tekhnologi tepat guna. Dilain pihak permasalahan yang dihadapi oleh para tenaga penyuluh pertanian Kabupaten Halmahera Barat adalah terbatasnya sarana dan prasarana penyuluhan, tingkat luasan lokasi binaan bagi penyuluh tidak berimbang karena masih terbatasnya tenaga penyuluh yaitu sebanyak 49 orang penyuluh dengan jumlah desa sebanyak 144 atau satu penyuluh harus melayani tiga desa binaannya (Dinas Pertanian Kab. Halmahera Barat, 2008), serta kapasitas dan disiplin dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masih rendah, yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap rendahnya produksi dan produktifitas tanaman pangan dan hortikultura. Hal tersebut membutuhkan komitmen yang kuat dalam meningkatkan kualitas dan kemampuan aparat penyuluh yang mampu memotivasi kreativitas sumberdaya manusia rumahtangga tani yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pengembangan usaha sub- sektor tanaman pangan dan hortikultura.

Perkembangan tahapan kemajuan pada usaha sub-sektor ini sangat tergantung pada tingkat keahlian yang dimiliki oleh para petani maupun para

tenaga penyuluh pertanian. Oleh karena itu perlu dibuat berbagai kebijaksanaan yang dapat mengefektifkan fungsi penyuluhan dengan sasaran khusus pengembangan sistem usaha tani tanaman pangan dan hortikultura. Sasaran penyuluhan perlu diperluas tidak hanya pada rumahtangga tani saja, tetapi juga pada para pelaku agribisnis lainnya, termasuk penyuluhan dalam rangka pengembangan kelembagaan ekonomi petani.

5.3. Analisis Rumahtangga Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura

Dokumen terkait