V. HASIL DAN PEMBAHASAN
7. Terbatasnya Infrastruktur dan Lembaga
Keterbatasan prasarana pertanian dalam mengembangkan sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura sangat berpengaruh terhadap produksi dan produktifitas usaha yang dilakukan oleh rumahtangga tani. Dimana karakteristik usaha dan produk tanaman pangan dan hortikultura sangat memerlukan infrastruktur yang memadai berupa jalan menuju sentra-sentra produksi, irigasi, transportasi, listrik, pelabuhan, informasi dan telekomonikasi, alat-alat pertanian dan lain-lain. Sebagian besar prasarana tersebut belum disediakan sepenuhnya oleh pemerintah daerah, termasuk lembaga-lembaga ekonomi berupa kerjasama dengan lembaga keuangan dalam program penyaluran kredit bunga rendah kepada petani dan aspek pemasaran berupa kerjasama dengan investor untuk mengolah produk segar tanaman pangan dan hortikultura menjadi produk olahan (agroindustri).
8. Adopsi Inovasi Teknologi Budidaya Lambat Diterima Petani
Tingkat pendidikan dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengetahuan mengadopsi inovasi tekhnologi khususnya dalam pemanfaatan dibidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Sementara dalam penelitian ini menunjukan bahwa, sebagian besar kepala rumahtangga petani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat memiliki tingkat pendidikan yang rendah, diantaranya yang tidak pernah sekolah formal sebanyak 22 orang (24,44%), menyelesaikan pendidikan dasar (SD) sebanyak 27 orang (30%), 31 orang (34,44%) untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan hanya 10 orang (11,11%) petani yang dapat menyelesaikan pendidikan menengah atas. Dengan latar belakang tingkat pendidikan seperti ini dapat mempengaruhi logika berpikir para petani, khususnya dalam pemanfaatan kemajuan tekhnologi. Bilamana para petani mempunyai tingkat pendidikan menengah keatas, maka mereka akan lebih responsif terhadap perkembangan tekhnologi khususnya dibidang pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang lebih terbuka dan lebih cepat mengerti terhadap penggunaan fasilitas pertanian tersebut. Oleh karena itu tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku dari petani itu sendiri.
Rendahnya kemampuan dan keterampilan petani tercermin dari rendahnya tingkat pendidikan formal petani, yang sebagian besar berpendidikan sekolah dasar. Padahal, untuk pengembangan pertanian secara terintegrasi, termasuk pengembangan produk-produk olahannya, diperlukan tenaga-tenaga yang berketerampilan menengah keatas.
9. Belum Berfungsinya Kelompok Tani
Aspek kelembagaan petani yang terkait dengan usaha pengembangan tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat telah terbentuk berupa kelompok-kelompok tani, tetapi efektivitas terhadap peningkatan pendapatan serta aksesnya terhadap kelembagaan pendukung pembangunan pertanian belum dilaksanakan secara baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh petani, berupa pembinaan dan pemberian motivasi dari pemerintah daerah belum optimal dan terkesan bahwa kelompok tani itu lebih aktif disaat ada alokasi bantuan anggaran (proyek) dari pemerintah ke desa atau
masyarakat.
10.Kuantitas dan Kualitas Tenaga Penyuluh Masih Rendah
Petani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat berdomisili di pedesaan yang tersebar di sembilan wilayah kecamatan yang terdiri dari 144 desa. Sesuai dengan data yang diambil dalam penelitian ini sebagai keterwakilan sebanyak sembilan desa yang tersebar di tiga wilayah kecamatan, maka dapat dianalisis dan sesuai dengan amatan dilapangan bahwa aksesibilitas para petani masih sangat rendah sebagai akibat dari keterjangkauan sarana dan prasarana jalan dan informasi yang terbatas, mengisyaratkan perlunya sistim pembinaan dan penyuluhan yang efektif dan efisien. Sementara itu segala keterbatasan juga dialami oleh penyuluh pertanian sebagai akibat dari terbatasnya fasilitas pendukung, motivasi kerja yang rendah, tingkat pengetahuan penyuluh tentang budidaya dan pengolahan produk masih rendah serta jumlah tenaga penyuluh tidak berimbang dengan luasan lokasi binaan.
5.4.2. Analisis Lingkungan Eksternal 5.4.2.1. Peluang (Opportunity)
1. Kebutuhan Pangan dan Hortikultura (Bahan Makanan)
Populasi penduduk dunia semakin bertambah disetiap saat yang disertai dengan meningkatnya inovasi tekhnologi industri dengan satu tujuan untuk memenuhi kadar konsumsi dan tingkat kepuasan manusia. Sebagai konsekuensi tingkat permintaan terhadap bahan baku yang pada intinya untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia akan terpenuhi.
Produk pangan seperti beras, jagung, kedelai, ubi jalar dan ubi kayu merupakan kebutuhan pokok manusia yang tidak bisa dihindari termasuk buah- buahan, sayur-sayuran serta bahan baku obat-obatan. Untuk itu tanaman pangan dan hortikultura merupakan sumber kehidupan yang perlu dikembangkan secara sinergis dan terencana sehingga menjadi produk unggulan di Kabupaten Halmahera Barat.
2.Peluang Pasar
Produk-produk pertanian tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat sebagian besar diekspor keluar daerah. Tujuan ekspor produk tanaman pangan dan hortikultura Kabupaten Halmahera Barat selama ini meliputi
daerah Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan dan Kota Tobelo. Permintaan produk-produk tanaman pangan dan hortikultura untuk pasar domestik, menunjukan kecenderungan yang meningkat. Peluang pengembangan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura menjadi produk-produk bernilai ekonomi tinggi seperti beras, jagung, kedelai, kacang, buah, sayur, jahe dan lain-lain. Bagi Kabupaten Halmahera Barat, pengembangan pasar produk-produk tanaman pangan dan hortikultura perlu terus dilakukan dengan mengembangkan jaringan pemasaran secara intensif dan ekstensif, tidak sekedar untuk memenuhi kebutuhan lokal saja tetapi lebih mengarah pada perdagangan antar regional bahkan pada skala internasional. Dalam hal ini, keterkaitan antara pasar desa, wilayah dan pusat-pusat perdagangan antar daerah perlu terus dikembangkan, sehingga potensi permintaannya dapat lebih meningkat.
3. Pengembangan Teknologi Budidaya Tanaman Pangan dan Hortikultura Cukup Besar
Penerapan teknologi di sektor pertanian, khususnya dibidang tanaman pangan dan hortikultura telah berkembang pesat, sehingga mampu mengolah berbagai produk dari tanaman ini. Dengan demikian, terbuka peluang bagi aplikasi teknologi tersebut di Kabupaten Halmahera Barat. Hal ini penting, karena dayasaing produk tanaman pangan dan hortikultura terletak pada industri hilir, bukan hanya pada produk primernya. Nilai tambah yang dapat diperoleh dengan pengembangan produk hilir dapat beberapa kali lebih tinggi dibandingkan dengan produk primernya. Dalam hal ini, rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat sebagian besar mengolah dan menjual produknya berbentuk bahan makanan yang dikemas secara sederhana dan bahkan dijual dalam bentuk barang mentah, maka nilai tambahnya relatif sangat rendah. Dengan perkembangan teknologi pengolahan produk tanaman pangan dan hortikultura, maka terbuka peluang bagi petani atau pengelo1ah hasil tanaman pangan dan hortikultura untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar dengan melakukan pengolahan lebih lanjut.
4. Peluang Kerjasama Dengan Investor dalam Pengembangan Agribisnis Upaya pengembangan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura, khususnya kearah produksi yang bernilai ekonomi tinggi diharapkan akan
menarik minat investasi di Kabupaten Halmahera Barat. Hasil analisis kelayakan finansial, tanaman pangan dan hortikultura yang menguntungkan dapat dijadikan pertimbangan bagi investor mengembangkan dan menanam modal pada skala besar, dimana selama ini kegiatan usaha tanaman pangan dan hortikultura tersebut masih dilakukan dalam skala kecil. Peran aktif pemerintah daerah dalam hal ini adalah dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan memberikan kemudahan-kemudahan persyaratan dan pelaksanaan investasi usaha. Mengingat produk pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura berperan penting bagi masyarakat, maka pengembangan agribisnis tanaman ini berbasis masyarakat di pedesaan Halmahera Barat akan memberikan dampak kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat sehingga kemiskinan dapat teratasi. 5. Komitmen Para Pemangku Kepentingan
Dalam upaya pengembangan tanaman pangan dan hortikultura, komitmen para pemangku kepentingan khususnya dari unsur Pemerintah Daerah menjadi sangat penting dalam membuat peraturan perundangan yang baik serta pelaksanaannya. Dalam hal ini, prinsip-prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan perlu ditegakkan untuk menghasilkan sinergi antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.
Selanjutnya pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas tanaman pangan dan hortikultura, diperlukan upaya-upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat di Kabupaten Halmahera Barat. Terutama pemerintah daerah secara khusus memasukkan program pengembangan tanaman pangan dan hortikultura didalam RPJM daerah, maka peluang pengembangannya menjadi lebih baik yang pada akhirnya dapat menanggulangi kemiskinan khususnya pada rumahtangga tani.
5.4.2.2. Ancaman (Threat)
1. Persaingan dengan Daerah Lain
Tanaman pangan dan hortikultura merupakan komoditas bahan makanan yang selalu ada diatas permukaan bumi termasuk di Indonesia, maka tanaman pangan dan hortikultura banyak dihasilkan oleh setiap daerah di Indonesia, terutama di pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Irian jaya, Maluku Utara dan daerah lainnya. Dengan demikian, persaingan dalam
menghasilkan tanaman pangan dan hortikultura dan produk-produk olahannya menjadi semakin kuat. Untuk dapat merebut pasar, maka dayasaing komoditas tanaman pangan dan hortikultura Kabupaten Halmahera Barat harus ditingkatkan dengan berbagai upaya, baik di sektor produksi, pengolahan, maupun pemasarannya.
2. Harga Jual Tanaman Pangan dan Hortikultura yang Relatif Rendah Saat Panen Raya
Banyak persoalan yang dihadapi oleh petani khususnya rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat. Masalah tersebut biasanya berhubungan langsung dengan produksi (bercocok tanam/budidaya) dan pemasaran hasil-hasil pertanian. Dilihat dari segi ekonomi, keberhasilan produksi/panen oleh petani dengan tingkat harga yang diterima untuk hasil produksinya tersebut merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perilaku kehidupan petani.
Salah satu persoalan yang biasa terjadi dan dihadapi oleh rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di daerah penelitian adalah setiap rumahtangga tani memerlukan kecukupan kebutuhan hidup yang sangat besar dan berfariasi sebagaimana rumahtangga lainnya, seperti makan, pakaian, rumah, kesehatan, keperluan sekolah untuk anak-anak dan lain-lain. Hal itu dapat dipenuhi disaat panen, sementara harga produk tanaman pangan dan hortikultura umumnya rendah ketika tibanya waktu panen. Hal ini berarti bahwa petani tersebut akan mengalami benturan, yang pertama adalah harga produk pertanian rendah dan yang kedua adalah petani harus menjual lebih banyak untuk memperoleh tingkat pendapatan maksimal dalam mencukupi kebutuhan hidup rumahtangganya.
Salah satu ancaman yang cukup serius dalam pengembangan pengolahan produk tanaman pangan dan hortikultura di daerah adalah harga dari komoditi tersebut, karena fluktuasi harga dapat menurunkan motivasi petani dalam mengembangkan tanaman pertaniannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga tanaman pangan dan hortikultura adalah adanya penentuan harga sepihak oleh para tengkulak atau pedagang antar daerah, serta kurangnya informasi harga yang diterima petani dan pengolah produk. Kondisi informasi yang tidak simetris (asymetric information) ini akan lebih menguntungkan
pedagang antar pulau, dengan mempermainkan harga ditingkat petani.
3. Pengalihan Usaha Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura ke Sektor Lain
Keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura di Kabupaten Halmahera Barat memungkinkan terjadi perubahan pola pikir untuk mengalihkan perhatian pada pekerjaan yang sebelumnya dikatakan sebagai pekerjaan sampingan. Motivasi ini bisa terjadi dikala harga produk mulai menurun saat panen. Begitu juga dengan semakin mahalnya harga sarana produksi (saprodi) yang tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima dari penjualan hasil tanaman tersebut.
Dari hasil analisis penelitian sebelumnya (tabel 13) membuktikan nilai koefisien regresi pada variable pekerjaan sampingan sebesar 0,229 satuan. Berarti bahwa, apabila kepala rumahtangga tani yang memiliki usaha selain sektor tanaman pangan dan hortikultura, maka petani tersebut akan mendapatkan tambahan penghasilan sebesar 0,229 dalam meningkatkan pendapatan keluarganya. Hal ini memotivasi rumahtangga tani untuk selalu berupaya mencari pekerjaan tambahan diluar usaha taninya dalam mencukupi sekaligus dapat meningkatkan pendapatan keluarganya.
4. Terjadinya Konversi Lahan
Bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun sudah tentu akan terjadi pengurangan luasan lahan. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari sebuah tuntutan pembangunan fisik sarana dan prasarana pada daerah pemekaran yang selalu membutuhkan pembukaan lahan baru yang tidak sebanding dengan pertambahan penggunaan tanah untuk kepentingan pengembangan tanaman pangan dan hortikultura sebagai kebutuhan vital bagi masyarakat.
Alasan utama adanya konversi lahan ini adalah masalah ekonomi, dimana hasil dari lahan yang diusahakan tanaman pangan dan hortikultura akan lebih sedikit keuntungannya jika dibandingkan dengan usaha perumahan, industri, dan lain sebagainya. Selain itu masyarakat miskin yang tidak memiliki modal untuk mengelolah lahan tersebut ke non-pertanian akan menjualnya ke para pengusaha (swasta) yang memiliki modal. Hal inilah yang menyebabkan lahan pertanian akan berkurang setiap saat, maka dibutuhkan kebijakan pemerintah untuk
membuat sebuah regulasi, agar jelas oleh masyarakat tentang pemanfaatan lahan pertanian yang produktif, dan memberikan sanksi yang sesuai dengan peraturan yang dibuat apabila terjadi pengkonversian lahan pertanian produktif ke penggunaan non-pertanian.
5. Jumlah dan Kualitas Tanaman
Budidaya tanaman atau komoditas pertanian merupakan proses bercocok tanam di lahan untuk menghasilkan bahan segar (row material). Proses kegiatan budidaya tanaman pangan dan hortikultura yang dimulai dari pengolahan tanah garapan, persemaian, penanaman, pemeliharaan sampai dengan panen, sangat membutuhkan suatu keterampilan/keahlian secara khusus. Pengetahuan tersebut dapat diakses melalui pendidikan formal maupun media informasi termasuk penyampaian melalui sosialisasi dari tenaga penyuluh pertanian.
Aplikasi daripada informasi tekhnis budidaya komoditas tanaman pangan dan hortikultura tersebut akan dapat menentukan jumlah dan kualitas produk. Sementara dilokasi penelitian, informasi tekhnis seperti itu jarang diperoleh rumahtangga tani. Keluhan utama bagi rumahtangga tani tanaman pangan dan hortikultura tersebut adalah keterjangkauan dengan media informasi, tidak tersedia fasilitas informasi, penyuluh pertanian tidak disiplin dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga fungsional di daerah.
Dari kondisi lingkungan internal dan eksternal tersebut di atas, dapat diformulasikan dalam bentuk Tabel 16 sebagai berikut :
Tabel 16. Faktor Strategis Internal dan Eksternal
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. Potensi alam dan letak geografis yang
strategis karena berdekatan dengan ibukota propinsi dan daerah Kabupaten/ kota sekitarnya
2. Ketersediaan/daya dukung lahan dengan
kondisi fisik lingkungan sangat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman
3. Komoditas tanaman pangan dan
hortikultura merupakan bahan makanan yang merupakan kebutuhan hidup
4. Petani sudah terbiasa menanam
tanaman tersebut
5. Adanya dukungan dari pemerintah
6. Adanya Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian
1. Luas lahan garapan petani relatif masih sempit
2. Tingkat pendidikan petani (SDM) masih
rendah
3. Produksi dan Produktivitas masih rendah
4. Akses dan informasi pasar belum memadai
5. Dukungan biaya usaha tani belum memadai
6. Keberpihakan pemerintah daerah masih rendah
7. Terbatasnya Infrastruktur dan lembaga
ekonomi
8. Adopsi inovasi teknologi budidaya lambat
diterima petani
9. Belum berfungsinya kelompok tani
10.Tenaga PPL masih terbatas baik jumlah
Peluang (O) Ancaman (T)
1. Kebutuhan tanaman pangan dan
hortikultura yang terus meningkat
2. Pasar selalu terbuka luas
3. Pengembangan teknologi budidaya
tanaman pangan dan hortikultura cukup besar
4. Peluang kerjasama dengan investor
swasta cukup besar
5. Pengembangan agrobisnis dan
Agroindustri
6. Produk tanaman pangan dan hortikultura
berpeluang untuk ekspor
7. Komitmen para pemangku kepentingan
1.Adanya impor tanaman pangan dan
hortikultura yang berakibat pada rendahnya harga di pasaran.
2.Terjadinya persaingan produk, produktifitas
dan kualitas tanaman dari daerah lain
3.Harga jual tanaman pangan dan hortikultura
relatif rendah saat panen raya.
4.Terjadinya pengalihan usaha ke sektor lain
5.Terjadinya konversi lahan
6.Budidaya tanaman yang kurang baik akan
mempengaruhi jumlah dan mutu
Dari faktor strategis internal dan eksternal tersebut di atas, dapat dibuat dalam bentuk matrik faktor strategi internal yang dapat diberikan skoring pada masing-masing faktor sebagai berikut :
Tabel 17. Ringkasan Faktor Strategi Internal
Faktor Strategis Internal Bobot Rating Skor Penilaian
A. KEKUATAN
1. Potensi alam dan letak geografis yang strategis karena berdekatan dengan ibukota propinsi dan daerah
Kabupaten/ kota sekitarnya 0.10 4 0.40 Cukup penting
2. Ketersediaan/daya dukung lahan dengan kondisi fisik
lingkungan sangat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman 0.10 4 0.40 Cukup penting 3. Komoditas tanaman pangan dan hortikultura merupakan
bahan makanan yang merupakan kebutuhan hidup 0.05 4 0.20 Cukup penting 4. Petani sudah terbiasa menanam tanaman tersebut 0.05 3 0.15 Kurang penting
5. Adanya dukungan dari pemerintah 0.10 4 0.40 Cukup penting
6. Adanya Perusahaan Daerah (Perusda) 0.05 4 0.20 Cukup penting
7. Adanya Sekolah Tinggi Ilmu Pertani 0.10 4 0.40 Cukup penting
B. KELEMAHAN
1. Luas lahan garapan petani relatif masih sempit 0.05 2 0.10 Cukup penting
2. Tingkat pendidikan petani masih rendah 0.05 2 0.10 Cukup penting
3. Produksi dan Produktivitas masih rendah 0.05 3 0.15 Cukup penting
4. Akses dan informasi pasar belum memadai 0.05 1 0.05 Sangat penting
5. Dukungan biaya usaha tani belum memadai 0.05 3 0.15 Cukup penting
6. Keberpihakan pemerintah daerah masih rendah 0.05 1 0.05 Sangat penting 7. Terbatasnya Infrastruktur dan lembaga ekonomi 0.05 1 0.05 Sangat penting 8. Adopsi inovasi teknologi budidaya lambat diterima
petani 0.06 2 0.12 Cukup penting
9. Belum berfungsinya kelompok tani dengan baik 0.02 3 0.06 Cukup penting
10. Tenaga Penyuluh Pertanian Masih terbatas 0.02 3 0.06 Cukup penting
TOTAL 1.00 3.04
Sementara penyusunan matrik faktor strategi eksternalnya dapat terlihat secara jelas pada Tabel 18 di bawah ini :
Tabel 18. Ringkasan Faktor Strategi Eksternal
Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Skor Penilaian
A. PELUANG
1. Kebutuhan tanaman pangan dan hortikultura yang
terus meningkat 0.15 4 0.60 Sangat penting
2. Pasar selalu terbuka luas 0.10 4 0.40 Sangat penting
3. Pengembangan teknologi budidaya tanaman pangan
dan hortikultura cukup besar 0.05 4 0.20 Cukup penting
4. Peluang kerjasama dengan investor swasta cukup
besar 0.05 4 0.20 Cukup penting
5. Pengembangan agrobisnis 0.05 4 0.20 Cukup penting
6. Produk tanaman pangan dan hortikultura berpeluang
untuk ekspor 0.05 4 0.20 Cukup penting
7. Komitmen para pemangku kepentingan 0.10 4 0.40 Cukup penting
B. ANCAMAN
1. Adanya impor tanaman pangan dan hortikultura
yang berakibat pada rendahnya harga di pasaran. 0.05 1 0.05 Cukup penting 2. Terjadinya persaingan produk, produktifitas dan
kualitas tanaman dari daerah lain 0.05 2 0.10 Cukup penting
3. Harga jual tanaman pangan dan hortikultura relatif
rendah saat panen raya. 0.05 2 0.10 Cukup penting
4. Terjadinya pengalihan usaha ke sektor lain 0.10 2 0.20 Cukup penting
5. Terjadinya konversi lahan 0.15 3 0.45 Kurang penting
6. Budidaya tanaman yang kurang baik akan
mempengaruhi jumlah dan mutu 0.05 2 0.10 Cukup penting
TOTAL 1.00 3.20
5.4.3. Analisis SWOT Melalui Prosedur IFAS dan EFAS pada Pengembangan Tanaman Pangan dan Hortikultura
Sesuai dengan kondisi-kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang telah dianalsis sebelumnya, maka dapat dikembangkan dalam bentuk strategi utama untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Halmahera Barat, maka disusun hasil analisis SWOT melalui suatu prosedur
Internal Strategic Factor Analysis Summary (IFAS) atau Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Strategic Factor Analysis Summary (EFAS) atau Analisis Lingkungan Eksternal. Strategi-strategi tersebut terdiri atas empat komponen, yaitu strategi S-O (kekuatan-peluang), S-T (kekuatan-ancaman), W-O (kelemahan-peluang), dan W-T (kelemahan-ancaman) sebagaimana disajikan pada Tabel 19 dibawah ini.
Tabel 19. Analisis Keterkaitan Faktor-faktor Internal dan Faktor-faktor Eksternal (Matriks SWOT) Pertanian Tanaman Pangan dan hortikultura
IFAS
EFAS
KEKUATAN (S)
1. Faktor geografis yang strategis
karena berdekatan dengan ibukota propinsi dan daerah Kabupaten/ kota sekitarnya
2. Ketersediaan/daya dukung
lahan dengan kondisi fisik lingkungan sangat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman
3. Komoditas tanaman pangan
dan hortikultura merupakan bahan makanan yang merupakan kebutuhan hidup
4. Petani sudah terbiasa menanam
tanaman tersebut
5. Adanya dukungan dari
pemerintah
6. Adanya Perusahan Daerah
(Gamakarya)
7. Adanya Sekolah Tinggi Ilmu
Pertanian
KELEMAHAN (W)
1. Luas lahan garapan petani relatif
masih sempit
2. Tingkat pendidikan petani masih
rendah
3. Produksi dan Produktivitas
masih rendah
4. Akses dan informasi pasar
belum memadai
5. Dukungan biaya usaha tani
belum memadai
6. Keberpihakan dari pemerintah
daerah masih rendah
7. Terbatasnya Infrastruktur dan
lembaga ekonomi
8. Adopsi inovasi teknologi budidaya lambat diterima petani
9. Belum berfungsinya kelompok
tani dengan baik
10.Tenaga PPL masih terbatas baik
jumlah maupun kualitas PELUANG (O) 1. Kebutuhan tanaman pangan dan hortikultura yang terus meningkat 2. Pasar selalu terbuka luas 3. Pengembangan teknologi budidaya tanaman pangan dan hortikultura cukup besar 4. Peluang kerjasama dengan investor swasta cukup besar 5. Pengembangan agrobisnis dan Agroindustri 6. Produk tanaman pangan dan hortikultura berpeluang untuk ekspor 7. Komitmen para pemangku kepentingan STRATEGI (SO)
1.Memanfaatkan Potensi Daerah
dalam pengelolaan lahan dan usaha tani dengan tekhnologi budidaya dalam rangka meningkatkan produk tanaman pangan dan hortikultura untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia melalui pasar lokal, regional, nasional bahkan internasional
(S1,S2,S3,O1,O3,O6,O7)
2.Peningkatan pengetahuan dan
keterampilan petani dalam menggunakan berbagai input usaha tani, melalui program pelatihan dan permagangan petani untuk pemanfaatan tekhnologi budidaya dalam meningkatkan kualitas produk melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi serta optimalisasi pembinaan dari petugas penyuluh pertanian (S4,S5,O3,O7)
3.Diperlukan political will yang
jelas dan terarah dari Pemerintah Daerah, untuk menarik investor dalam bidang pertanian khususnya agribisnis dan agroindustri (S1,S2,S3,S4,S6,S7,O4,O5, O6,O7).
STRATEGI (WO)
1. Tingkatkan fungsi kelompok tani
sebagai kelompok usaha bersama dalam usahatani sebagai unit produksi
(W2,W3,W4,W9,O1,O2, O3,O4,O7)
2. Meningkatkan kerja sama dengan
pihak swasta dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani dalam mengembangkan usaha (W1,W2,W3,W5,W7,W8,O4, O5,O7)
3. Meningkatkan peranan
pemerintah daerah terutama untuk mengatasi masalah transportasi dalam upaya menembus pasar
(W4,W6,W7,O1,O2,O4,O5,O6, O7)
4. Memanfaatkan dan mengadopsi
berbagai teknologi baru yang direkomendasikan untuk meningkatkan skala usaha sekaligus meningkatkan mutu (W1,W3,W5,W6,W8,W9,O2, O3,O4,O5,O6,O7)
5. Membantu petani untuk dapat
memperoleh kredit usaha tani yang lebih produktif
ANCAMAN (T) 1. Adanya impor tanaman pangan dan hortikultura yang berakibat pada rendahnya harga di pasaran. 2. Terjadinya persaingan produk, produktifitas dan kualitas produk tanaman dari daerah lain
3. Harga jual tanaman pangan dan hortikultura yang relatif rendah saat panen raya. 4. Terjadinya pengalihan usaha ke sektor lain 5. Terjadinya konversi lahan 6. Budidaya tanaman yang kurang baik akan mempengaruhi jumlah dan mutu STRATEGI (ST)
1. Manfaatkan daya dukung lahan
dan kondisi geografis untuk pengembangan budidaya tanaman dalam meningkatkan produksi dan Memperbaiki teknis paskapanen yang benar sehingga kualitas/ mutu produksi yang dihasilkan dapat dipertahankan, agar meningkatkan pendapatan rumahtangga tani (S1,S2,S4,S5, S6, T1,T2,T6).
2. Meningkatkan kemampuan petani
dalam mengelola usaha tani, terutama dengan dukungan berbagai sarana produksi melalui subsidi yang diberikan oleh