• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV.2. KARAKTERISTIK IBU DAN ANAK

IV.2.6. Asset Keluarga

Gambaran asset keluarga contoh diantaranya ditunjukkan oleh kepemilikan rumah, densitas hunian, kepemilikan ternak besar, dan kepemilikan barang berharga lainnya. Rumah merupakan salah satu kebutuhan penting bagi setiap keluarga. Status rumah yang ditempati terdiri dari milik orang tua, kontrakan, dan miluk sendiri. Lebih banyak contoh di pamijahan yang memiliki rumah sendiri (70%) dibandingkan di Kelompok kontrol (45%), karena harga tanah di Kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan di Pamijahan (lebih jauh dari kota). Keluarga miskin lebih sedikit yang memiliki rumah sendiri dibandingkan non-gakin, dan lebih banyak masih menempati (numpang) rumah orang tua. Hal ini sesuai dengan status ekonomi mereka. terdapat sebagian kecil responden (12% di

53

Kelompok kontrol dan 6% di pamijahan) yang masih mengontrak rumah. Pembayaran kontrak rumah umumnya dilakukan setahun sekali. Mereka yang mengontrak rumah dapat dikatakan memiliki status ekonomi lebih baik dibandingkan yang masih tinggal bersama orang tuanya.

Tabel 15 Sebaran Contoh Menurut Kepemilikan Rumah dan Densitas Hunian

Karakteristik rumah

Kontrol (%) Intervensi (%) Gakin Non

Gakin Total Gakin Non

Gakin Total Status rumah yang ditempati

- Milik orang tua 51.5 33.3 42.4 33.3 13.3 23.8 - Kontrakan 18.2 6.1 12.1 3.0 10.0 6.3 - Milik sendiri 30.3 60.6 45.5 63.6 76.7 69.8 Luas rumah per kapita

- < 8 m2 39.4 42.4 40.9 48.5 40.0 44.4

-  8 m2 60.6 57.6 59.1 51.5 60.0 55.6

Tabel 15 menunjukkan sebaran keluarga menurut luas rumah per kapita. Masih banyak keluarga di Kelompok kontrol maupun di Pamijahan (>40%) yang menghuni rumah dengan luas per kapita <8 m2. Hal ini menunjukkan masih kurang sehatnya rumah yang dihuni karena tidak sesuai dengan batas yang disebut rumah sehat, dan selain itu rumah yang sempit juga memunculkan ketidaknyamanan penghuninya.

Di Kelompok kontrol lebih banyak keluarga non Gakin (42.4%) daripada keluarga Gakin (39.4%) yang menghuni rumah dengan ukuran <8 m2. Sementara itu, di Pamijahan keluarga Gakin yang lebih banyak tinggal di rumah dengan luas <8 m2. Rumah dengan luas yang cukup merupakan prasyarat penting untuk menunjang kehidupan yang sejahtera. Itulah sebabnya bahwa selain pangan, urutan berikutnya menyangkut kebutuhan manusia adalah papan (rumah) yang layak huni. Kepemilikan

54

rumah atau tempat tinggal yang sehat dapat menunjang kehidupan yang lebih berkualitas.

Sebagian besar keluarga di kedua lokasi penelitian tidak memiliki ternak. Khususnya di Kelompok kontrol, hanya sebagian kecil keluarga yang memelihara ternak ayam (9.6%) dan memelihara kelinci (3%). Di kelompok intervensi, pemeliharaan ternak lebih beragam, mungkin karena daya dukung alam dan lingkungan yang lebih memunginkan dibandingkan di Kelompok kontrol. Beberapa keluarga diketahui memelihara sapi, kambing, ayam, itik, dan kelinci. Pemeliharaan ternak ayam yang umumnya lebih banyak dijumpai (28.6%) dibandingkan ternak lainnya.

Bagi keluarga di perdesaan, beternak umumnya hanya bersifat sebagai tabungan. Di saat membutuhkan uang ternak dijual, dan sewaktu-waktu membutuhkan telur atau daging, ternak akan diambil produksinya. Sebagian masyarakat sengaja memelihara kambing/domba untuk dijual menjelang Hari Raya Idul Adha, pada saat itu harga ternak tersebut menjadi sangat mahal karena terkait dengan penyediaan hewan kurban yang kemudian beramai-ramai disembelih untuk dibagikan pada masyarakat tidak mampu.

Kepemilikan kendaraan merupakan lambang status sosial ekonomi keluarga. Lebih banyak contoh di Kelompok kontrol (30.3%) yang memilki motor dibandingkan di Pamijahan (6.3%). Hanya sedikit (3%) contoh di Kelompok kontrol yang memiliki mobil, yaitu angkutan umum untuk digunakan usaha. Sistem transportasi di Kabupaten Bogor menggunakan angkot yang bisa dijumpai untuk rute ke mana saja. Hal ini memudahkan masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi ini. Selain itu, motor juga merupakan kendaraan yang lazim dan banyak dimiliki rumahtangga karena perolehannya bisa menggunakan cara kredit dengan membayar cicilan setiap bulan. Itu sebabnya mengapa ada juga keluarga miskin (di Kelompok kontrol) yang bisa memiliki motor.

55

Kepemilikan alat elektronik keluarga contoh menunjukkan bahwa Televisi hampir merata dimiliki oleh keluarga di kedua lokasi penelitian (90% contoh). Siaran televisi dengan lebih dari 10 saluran telah dapat ditangkap dengan baik di berbagai pelosok desa. Televisi merupakan sarana hiburan yang murah dan menjadi kebutuhan masyarakat kebanyakan.

Alat elektronik lain yang penting dan juga banyak dimiliki rumahtangga di Kelompok kontrol dan intervensi adalah setrika listrik. Secara total lebih dari 70 persen keluarga memiliki setrika listrik. Pemilikan telepon genggam (HP, cellular phone) lebih menonjol di Kelompok kontrol dibandingkan di kelompok intervensi, bahkan terdapat keluarga miskin juga telah memiliki HP. Hal tersebut dimungkinkan karena harga HP sangat beragam, dan ada yang lebih murah dan mudah diperoleh dibandingkan telepon rumah. Selain itu video/CD juga telah banyak dimiliki keluarga untuk sarana hiburan (sebagai pelengkap televisi). Kipas angin lebih banyak dimiliki keluarga di Kelompok kontrol dibandingkan di kelompok intervensi, mungkin karena suhu udara yang lebih panas.

Contoh di Kelompok kontrol memilki perabotan rumah tangga yang lebih beragam dan lebih baik dibandingkan di kelompok intervensi. Kepemilikan perabotan rumah tangga contoh di kelompok intervensi adalah rice cooker (30%), oven (4.8%), menin jahit (7.9%), kulkas (6.3%), dan kompor gas (4.8%). Semnetara Kepemilikan perabotan rumah tangga contoh di Kelompok kontrol meliputi rice cooker (42.4%), mesin cuci (15.2%), oven (21.2%), mesin jahit (7.6%), kulkas (31.8%), dan kompor gas (71.2%).

Pemerintah baru-baru ini membagikan kompor gas gratis kepada masyarakat tidak mampu. Namun di kelompok intervensi, program kompor gas gratis tampaknya belum ada sehingga sebagian besar masyarakatnya masih menggunakan kompor minyak. Pada umumnya contoh memiliki kompor minyak, namun masih terdapat 11 persen contoh di kelompok

56

intervensi yang masih menggunakan alat memasak tradisional terbuat dari bata merah dengan bahan bakar kayu.

Hampir semua keluarga memiliki tempat tidur dan lemari pakaian (walau tidak semuanya dalam kondisi baik). Kursi tamu dimiliki enam dari sepuluh contoh di kedua lokasi penelitian, sedangkan meja makan hanya dimiliki seperempat contoh. Yang sangat kurang adalah kepemilikan lemari buku yaitu hanya dimiliki 22.7 persen di Kelompok kontrol dan 4.8 persen di kelompok intervensi.

Secara keseluruhan, kepemilikan kendaraan, mebel, alat rumah tangga contoh di Kelompok kontrol lebih banyak dibandingkan contoh di kelompok intervensi. Hal ini sekali lagi mengindikasikan bahwa keluarga Kelompok kontrol lebih sejahtera dibandingkan keluarga di kelompok intervensi. Demikian halnya kepemilikan asset tersebut di keluarga non-gakin lebih baik dan lebih banyak dibandingkan di keluarga gakin.

57