• Tidak ada hasil yang ditemukan

persen kader mengalami mudah lelah (85%), sakit kepala (85%), dan cemas/khawatir (80%), sedangkan hanya 25 persen kader yang merasa tidak diperhatikan baik dari suami, anak, keluarga, ataupun tetangga. Dari 14 item pernyataan mengenai nilai anak, seluruh kader menyatakan setuju dari tujuh item pernyataan (diantaranya mengenai anak dapat menggatikan peran orang tua di masyarakat; anak diharapkan dapat meningkatkan status sosial keluarga; anak dapat membuat hidup terasa lengkap, dan sebagainya).

Kontrol Sumberdaya. Dalam hal kontrol sumberdaya/otonomi keluarga, hampir seluruh kader selalu berdiskusi dengan keluarga atas setiap keputusan yang akan diambil dan merasa puas dalam proses pengambilan keputusan. Hanya 20 persen dari seluruh kader yang mengikutsertakan orang lain dalam proses pengambilan keputusan, terutama keputusan penting. Seluruh kader menyatakan bahwa pegelolaan uang untuk belanja sehari-hari yaitu lebih dominan istri. Pengelolaan uang untuk ditabung 50 persen kader di lokasi kontrol menyatakan suami yang dominan, sedangkan di lokasi intervensi kader menyatakan bahwa istri yang lebih dominan. Pengelolaan waktu untuk rekreasi baik di lokasi kontrol (50%) maupun intervensi (100%) lebih banyak dilakukan suami dan istri secara bersama-sama dalam pengelolaannya.

Ternyata walaupun menyandang status sebagai kader, ada satu kader dari lokasi kontrol yang tidak berpartisipasi dalam Posyandu. Sumber informasi terbanyak yang diperoleh kader tentang gizi adalah melalui penyuluhan PKK (di lokasi kontrol) dan Posyandu (di lokasi intervensi) dengan masing-masing persentase sebesar 70 persen. Sama halnya dengan sumber informasi tentang kesehatan, pengasuhan anak, dan sumberdaya keluarga diperoleh dari penyuluhan PKK (di lokasi kontrol) dan Posyandu.

Sanitasi lingkungan rumah. Jenis lantai rumah sebagian besar kader di lokasi kontrol adalah keramik dan ubin,

170

sedangkan di lokasi intervensi adalah seluruhnya keramik. Hampir seluruh kader memiliki rumah dengan ventilasi dan jendela yang cukup untuk pertukaran udara, serta cukupnya sinar matahari yang masuk baik di pagi Maupin siang hari. Sumber air utama untuk mandi dan cuci adalah mata air bagi seluruh kader di lokasi kontrol, sedangkan di lokasi intervensi hanya 70 persen, yang lainnya diperoleh dari ledeng/PAM (20%) dan beli (10%). Hampir seluruh kader menggunakan air sumur/mata air dan hanya satu kader di lokasi kontrol yang menggunakan air sungai sebagai sumber air minum. Lebih dari separuh kader (60%) yang jarak sumber air dengan septic tank sama dengan 10 m. Hanya 10 persen kader dari kedua lokasi yang tidak memiliki kamar mandi dan WC sendiri, sehingga mandi dan buang hajat di sungai atau kamar mandi umum. Masih terdapat 15 persen kader yang anggota keluarganya jarang mencuci tangan sebelum makan. Khusus kader di lokasi intervensi, masih banyak yang hanya kadang-kadang menutup makanan yang disimpan, mencuci peralatan makan dengan air bersih, dan sabun, memasai air untuk minum sampai mendidih, mencuci bahan makanan sebelum dimasak/dimakan langsung. Selain itu masih terdapat seperempat kader yang kadang-kadang memotong kukunya minimal sekali seminggu, dan sepersepuluhnya tidak mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar rumah.

Karakteristik Remaja

Tingkat Pendidikan. Persentase terbesar remaja memiliki tingkat SMA ke bawah dan semuanya mampu membaca dan menulis. Selanjutnya persentase terbesar remaja berasal dari keluarga dengan jumlah anggota antara 5 sampai 6 orang. Masih sedikit remaja yang berpartisipasi dalam kegiatan posyandu di desanya, karena sebagian besar masih sekolah. Remaja di lokasi penelitian sebagian besar tinggal di rumah dengan luasan kurang dari 8 m2 per kapita.

Sebagian besar (95%) remaja mengakui bahwa keluarga sering meminjam uang dari tetangga atau kerabatnya. Dan hanya

171

prosentase kecil (10%) remaja yang menyatakan bahwa keluarganya memperloeh bantuan ekonomi berupa lahan pekerjaan dari tetangga, teman, dan kerabatnya. Dukungan yang paling banyak diterima keuarga remaja adalah berupa perhatian, kepedulian, saran dan nasehat ketika keluarganya sedang memiliki konflik.

Dari 14 pernyataan perspektif dan prospektif tentang nilai anak, hanya lima pernyataan yang sangat disetujui oleh remaja. Kelima pernyataan tersebut meliputi nilai emosi dan religius (seperti: anak dapat memberikan kebahagiaan; anak adalah amanah dari Tuhan, harus dijaga dengan baik). Berdasarkan nilai anak versi gender, hanya satu dari lima remaja yang setuju dengan pernyataan bahwa orang tua akan lebih bergantung kepada anak laki-laki. Hampir tiga perempat remaja yang mendapatkan informasi tentang gizi, kesehatan dan pengasuhan anak melalui TV.

Belum semua rumah remaja yang menggunakan jenis lantainya ubin (40% kelompok kontrol, dan 55% kelompok intervensi). Pada umumnya keluarga remaja memiliki rumah dengan ventilasi, jendela, dan masuknya sinar matahari yang cukup. Sumber air utama yang dipakai keluarga remaja untuk mandi dan cuci, serta untuk minum adalah air sumur/mata air, sedangkan jarak antara sember air dengan septic tank hanya 20 persen yang kurang dari 10 m. Seluruh keluarga remaja memiliki kamar mandi sendiri, hanya 9.5 persen yang tidak memiliki WC sendiri sehingga harus membuang hajat di kebun/sungai/empang yang juga menjadi tempat pembuangan sampah hampir seluruh keluarga remaja. Letak kandang ternak sebagian besar (80%) keluarga remaja di lokasi kontrol berjarak kurang dari 10 m, sedangkan di lokasi intervensi (77.8%) berjarak lebih dari sama dengan 10 m. Masih terdapat 28 persen remaja yang hanya kadang-kadang mencuci tangan sebelum makan, dan sekitar seperlima kader yang kadang-kadang mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar rumah.

172

V.3. Sumberdaya dan Praktek Care Kader dan Wanita Belum Menikah

Berikut ini uraian atau gambaran sumberdaya dan praktek care kader dan remaja di wilayah kelompok intervensi dan di wilayah kelompok kontrol, antara sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan:

Topik A-1. Menu yang sehat dan pemberian makan yang tepat

Sebaran nilai pengetahuan kader dan remaja tentang menu sehat dan pemberian makan yang tepat disajikan pada Tabel 78. Data data awal menunjukkan nilai pengetahuan kelompok kontrol lebih baik pada semua item pertanyaan dibandingkan kelompok intervensi, terutama dalam memberikan alasan pentingnya memberikan menu sehat dan seimbang kepada anak. Namun demikian, setelah memperoleh penyuluhan, pada data akhir pengetahuan kelompok intervensi lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan peningkatan skor pengetahuan yang lebih besar.

Tabel 78 Sebaran Nilai Pengetahuan Kader dan Remaja Tentang Topik A-1

Item Pertanyaan Data awal (%) Data akhir (%)

K I K I

1. Pengetahuan mengenai menu

sehat dan seimbang 65 50.0 85 83.3

2. Alasan pentingnya memberikan menu sehat dan seimbang

kepada anak 100 94.4 100 100.0

3. Ciri menu sehat dan seimbang 90 83.3 95 100.0 4. Bentuk pemberian makan yang

tepat bagi anak sehat 90 77.8 95 94.4

5. Bentuk pemberian makan yang

tepat bagi anak sakit 85 83.3 85 100.0

Rata-rata 86 77.76 92 95.54

173