• Tidak ada hasil yang ditemukan

141 IV.9. DAMPAK PENINGKATAN CARE PADA

REMAJA SERTA UPAYA KEBERLANJUTANNYA

V.1. Kader dan Perannya dalam Kegiatan Posyandu

Tidak semua kader di empat desa lokasi penelitian yang terlibat dalam penelitian ini, melainkan hanya kader yang di wilayah kerjanya terdapat anak batita kurang gizi dan menjadi contoh penelitian. Jumlah kader seluruhnya adalah 20 orang, semuanya bisa membaca dan menulis, karena enam dari sepuluh diantaranya telah menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun (lulus SLTP keatas). Setengah kader di Ciampea adalah ibu rumahtangga, sisanya berdagang, tukang urut, dan guru honor. Sedangkan delapan dari sepuluh kader di Pamijahan adalah ibu rumah tangga, sisanya sebagai pedagang dan guru honor. Pendidikan dan pekerjaan suami bervariasi ada yang sebagai buruh, pedagang, montir, guru, karyawan, dan wiraswasta.

Status sosial ekonomi keluarga kader tidak jauh berbeda dengan warga masyarakat lainnya. Namun sebagian besar telah memiliki rumah sendiri walau dengan densitas yang kurang memadai (< 8 m2/kapita). Hampir seluruh kader menerima program kemiskinan, baik bantuan Raskin (beras bagi keluarga miskin), Askeskin (Asuransi Kesehatan bagi keluarga Miskin), maupun BLT (bantuan tunai langsung).

Fungsi Kader. Kader sangat penting dalam kegiatan Posyandu. Posyandu yang dilaksanakan sebulan sekali bertujuan untuk penimbangan dan pencatatan Berat Badan anak balita, imunisasi, pemberian penyuluhan, dan Pemberian Makanan Tambahan. Seharusnya di setiap Posyandu ada 5 orang kader untuk menangani :

1. Meja I untuk pendaftaran 2. Meja II untuk Penimbangan

164

4. Meja IV untuk Penyuluhan perorangan 5. Meja V untuk Pelayanan KB dan Kesehatan.

Data penimbangan anak selain di catat di buku Posyandu oleh kader, juga dicatat oleh bidan. Kegiatan rutin Posyandu yang diadakan tiap bulan, cukup dikunjungi dan dipantau oleh bidan. Dokter Kepala Puskesmas (disertai Petugas Gizi, dan perwakilan dari dinas kesehatan kabupaten) melakukan kunjungan dan pemantauan pada saat Bulan Penimbangan Balita dan PIN (Pekan Imunisasi Nasional) setiap Bulan Februari dan Bulan Agustus. Itupun terkadang hanya Posyandu terdekat saja yang sempat dikunjungi dokter dan pemantau dari Dinas Kesehatan.

Alat penimbangan berat badan di posyandu menggunakan Dacin, dan jarang dilakukan pengukuran tinggi /panjang badan. Hanya beberapa Posyandu yang memiliki alat pengukur tinggi badan berupa poster yang ditempel di dinding. Setiap kali penimbangan, Bidan Desa selalu hadir dan memberikan penyuluhan. Kader dapat memberikan penyuluhan dengan dibantu oleh Bidan Desa. Pengetahuan yang dibutuhkan kader agar bisa memberikan penyuluhan kepada masayarakat yaitu tentang Gizi dan Kesehatan Balita, Bumil (Ibu Hamil), Buteki (Ibu meneteki), KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), Imunisasi, dan Kebersihan.

Fungsi kader yang terpenting adalah menggerakkan dan mengajak ibu-ibu membawa anaknya ke Posyandu untuk penimbangan berat badan, pencatatan berat badan anak. Alasan ketidakhadiran ibu-ibu membawa anaknya ke posyandu yang paling sering dikemukakan adalah karena anak sudah selesai di imunisasi, mengantar atau menjemput anak sekolah. Masih terdapat suami yang melarang istrinya membawa anaknya ke posyandu, karena isu anak menjadi sakit ―panas‖ setelah diimunisasi.

Fungsi kader penting lainnya adalah pelaksanaan PMT (Pemberian Makanan Tambahan), mulai dari mengumpulkan

165

dana, membuat PMT, dan membagikan PMT. Adanya PMT di Posyandu merupakan salah satu alasan para ibu datang membawa anaknya ke Posyandu. PMT bias berupa buah, bubur kacang hijau, telur rebus. Terdapat Posyandu yang kadernya kreatif mengadakan kupon hadiah seharga Rp 500 / kupon, dan yang hadiah yang didapat berupa tempe, tahu, daging, sayur, dan sebagainya untuk menyemangati ibu-ibu agar rajin datang ke Posyandu.

Dulu pada umumnya dana PMT diperoleh dari potongan iuran warga yang setiap bulannya dipungut oleh RT, namun sekarang ini seringkali tidak lancar karena kalaupun ada, tapi besarnya dana potongan tersebut tidak memadai lagi seiring meningkatnya harga-harga pangan di pasar. Jika dana PMT dipungut dari ibu-ibu yang datang, malah akan memberatkan dan berdampak terhadap kehadiran.

Ketidakadaan PMT juga dapat menghambat kegiatan Posyandu. Oleh karenanya para kader harus mencari jalan keluar untuk mengatasi situasi tersebut. Contoh yang dilakukan kader di Desa Gunung Sari adalah menutupi kekurangan biaya PMT dari Keluarahan dengan memungut Rp 1.000 (bagi yang punya) untuk mengganti beli santan dan gula merah, sisanya dimasukkan ke kas kader.

Fungsi kader lainnya adalah membantu pengumpulan data, seperti data Gakin. Namun kader di Ciampea tidak terlibat dalam pendataan Keluarga Miskin (Gakin) karena di urus oleh RT. Tetapi di Kecamatan Pamijahan, para kader turut terlibat dalam pendataan Gakin, walau tidak ada pelatihan khusus untuk pendataan tersebut, hanya berupa pemberitahuan kriteria Gakin yang disampaikan oleh Pak Lurah.

Kriteria Menjadi Kader. Tidak ada kriteria khusus menjadi kader, melainkan berdasarkan kepantasan umum yang diterima masyarakat, yaitu dari segi umur (tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua), dari penampilannya (lebih bersih dan sehat), dan latar belakang pendidikannya (SMP keatas). Selain

166

ditunjuk atau diminta oleh Bidan, ketua RT, dan Ketua Kader, yang terpenting adalah kesediaan dari ibu-ibu yang diharapkan menjadi kader tersebut, karena tidak semua ibu-ibu yang dipandang tepat menjadi kader bersedia.

Penurunan Partisipasi Kader. Saat ini dirasakan penurunan jumlah dan partisipasi kader. Dari yang seharusnya terdapat lima kader per posyandu, kadang hanya terdapat dua orang saja. Kekurangan terjadi karena ada kader yang pindah, sudah tua, atau sudah tidak mau menjadi kader (mereka mengistilahkan dengan pensiun, sementara sulit sekarang dirasakan untuk mencari pengganti atau penambahan kader baru.

Para kader mengakui manfaat menjadi kader yaitu menambah pengetahuan dan dapat membantu masyarakat. Mereka merasa sedih ketika jumlah ibu-ibu dan balita yang hadir sedikit, dan ketidak ada orang tua yang marah jika anaknya sakit setelah diimunisasi.

Namun demikian, mereka membutuhkan pengakuan dan penghargaan dari pemerintah desa dan kecamatan. Mereka menyadari bahwa menjalankan aktivitas posyandu dll membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, bahkan meninggalkan urusan keluarga. Rewerd yang dirasakan adalah memperoleh kartu berobat gratis dan Tunjangan Hari Raya yang diberikan berupa sembako (seperti gula, terigu, dan syrup).

Pembinaan dan Koordinasi. Para kader perwakilan dari tiap posyandu di Ciampea (Desa Benteng dan Cibanteng) melakukan pertemuan rutin setiap 1 bulan sekali di puskesmas. Selain kader, turut pula hadir Bidan Desa, Petugas Gizi, dan Dokter (Kepala Puskesmas). Pertemuan terutama untuk membahas isu-isu terkait Gizi dan Kesehatan Balita. Sangat jarang pelatihan khusus untuk kader.

167

Di kecamatan Pamijahan, terdapat pertemuan rutin bulanan kader di Desa Gunung Sari, tapi tidak ada pertemuan rutin Kader di Desa Gunung Picung. Di Desa Gunung Sari, pertemuan rutin dilaksanakan satu bulan sekali setiap tanggal 7 di Puskesmas, yang dihadiri oleh Kader (perwakilan tiap Posyandu), Bidan Desa, dan Bu Lurah. Dalam pertemuan tersebut diadakan penyuluhan, keterampilan dan arisan. Ada pelatihan khusus untuk kader saat bulan Vitamin A dan PIN yang diselenggarakan oleh Puskesmas Pamijahan. Sedangkan kader di Gunung Picung terakhir pernah menerima pelatihan di Tahun 2004 (pada masa Kepala Puskesmas lama).