BAB II. LANDASAN TEORI
B. Attention Restoration Theory (ART)
Attention Restoration Theory (ART) merupakan salah satu teori tentang Psikologi Lingkungan. ART dikonsepkan menjadi sebuah teori oleh Rachel Kaplan dan Stephan Kaplan dalam bukunya yang berjudul The Experience of Nature yang terbit pada tahun 1989. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa lingkungan dapat berpengaruh terhadap sistem kognitif seseorang khususnya lingkungan dengan vegetasi. Berikut akan dijelaskan mengenai definisi ART, jenis atensi dalam ART, Directed Attention Fatigue, dan komponen lingkungan yang memberikan efek memulihkan.
1. Definisi Attention Restoration Theory (ART)
Attention Restoration Theory (ART) merupakan penjelasan tentang analisis dari berbagai macam lingkungan. Lingkungan dapat mengarahkan seseorang pada suatu pemulihan terhadap atensi yang membutuhkan upaya
mental (voluntary attention). Voluntary attention dalam ART biasa disebut dengan direct attention (Kaplan & Kaplan, 1989). ART mengidentifikasi bahwa atensi sebagai sumber daya mental yang terbatas sehingga dapat mengalami kelelahan mental. Sedangkan lingkungan alam khususnya vegetasi dapat menyediakan daya tarik yang lembut (involuntary attention) untuk memulihkan atensi seseorang dari kelelahan mental (Kaplan, 1995; Kaplan & Kaplan, 1989; Berman dkk., 2010). ART mengidentifikasi direct attention sebagai bagian dari mekanisme kognitif dan dapat dipulihkan oleh interaksi seseorang dengan lingkungan alam (Berman dkk., 2008).
Berdasarkan beberapa definisi tentang Attention Restoration Theory (ART), dapat disimpulkan bahwa ART adalah proses atensi yang membutuhkan upaya mental dan memiliki kecenderungan mengalami kelelahan mental sedangkan stimulus involuntary attention berupa lingkungan alam dimanfaatkan untuk memulihkan diri dari kelelahan mental.
2. Jenis Atensi dalam Attention Restoration Theory (ART)
ART didasarkan pada terminologi yang dijelaskan oleh William James tentang perbedaan atensi pada manusia (Berman dkk., 2008; Kaplan &Kaplan, 1989). James membagi atensi menjadi dua yaitu voluntary attention dan involuntary attention. Berikut penjelasan mengenai definisi voluntary attention, dan involuntary attention dalam ART.
a. Voluntary Attention
Voluntary attention atau direct attention adalah atensi yang diarahkan oleh kontrol proses kognitif. Direct attention memaksa seseorang untuk memperhatikan sesuatu yang tidak terlalu menarik dan memerlukan usaha yang baik dalam proses kognitif (Kaplan & Kaplan, 1989). Definisi lain mengatakan bahwa direct attention merupakan proses kognitif bottom-up yang meliputi penyelesaian masalah ketika seseorang berusaha menekan stimulus yang mengganggu (Berman dkk., 2008; Lee dkk., 2015). Direct attention merupakan salah satu pendukung terjadinya kelelahan mental. Hal ini dapat terjadi karena banyak kegiatan sehari-hari yang menuntut upaya mental (Hartig, Mang, & Evans, 1991).
Dari beberapa definisi tentang voluntary attention di atas, dapat disimpulkan bahwa voluntary attention atau direct attention adalah atensi yang membutuhkan upaya mental berdasarkan proses kognitif bottom-up yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga berpotensi mengalami kelelahan mental.
b. Involuntary Attention
Involuntary attention merupakan atensi yang tidak membutuhkan upaya mental dan dipusatkan oleh sesuatu yang berhubungan erat dengan hal-hal yang menarik atau stimulus yang penting, misalnya sesuatu yang bergerak, kata-kata, sesuatu berbahan metal, hewan buas, dll (Kaplan & Kaplan, 1989). Definisi lain menjelaskan bahwa, involuntary attention merupakan stimulus yang ditangkap oleh atensi seseorang dan atensi tersebut berhubungan erat dengan sesuatu yang menarik atau penting (Berman dkk., 2008; Lee dkk., 2015). Selain itu, involuntary attention merupakan atensi yang terlibat ketika voluntary attention mengalami kelelahan mental. Involuntary attention juga merupakan aspek penting dalam upaya pemulihan dari kelelahan mental dengan memunculkan stimulus yang mempesona (fascination) (Hartig dkk., 1991).
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa involuntary attention adalah stimulus yang mampu memunculkan atensi dimana atensi tersebut tidak membutuhkan upaya mental karena berhubungan erat dengan sesuatu yang menarik dan mempesona untuk memulihkan direct attention.
3. Directed Attention Fatigue (DAF)
Directed Attention Fatigue atau biasa disingkat dengan DAF berkaitan dengan penggunaan direct attention untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Penggunaan direct attention secara berlebihan dapat berdampak bagi
seseorang. Berikut akan dijelaskan mengenai definisi DAF dan dampak yang ditimbulkan oleh DAF.
a. Definisi Directed Attention Fatigue (DAF)
Directed Attention Fatigue (DAF) merupakan gejala neurologis atau biasa disebut dengan kelelahan mental yang menyerang sistem otak central executive (Steg dkk, 2013). Definisi lain mengatakan bahwa DAF adalah kelelahan mental yang dialami oleh seseorang akibat penggunaan upaya mental yang terjadi secara berkepanjangan. Intensitas mengerjakan tugas atau bekerja yang tinggi merupakan penyebab dari kelelahan mental (Kaplan dkk., 1993).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kelelahan mental atau DAF merupakan gejala neurologis yang menyerang sistem otak central executive karena disebabkan oleh intensitas bekerja yang tinggi dan berkepanjangan.
b. Dampak Directed Attention Fatigue (DAF)
Directed Attention Fatigue (DAF) memiliki dampak serius pada kualitas hidup seseorang jika tidak disadari. Gejala yang terlihat adalah mudah mengalihkan perhatian, kurang memiliki kesabaran, mudah marah dan cenderung mengambil resiko tanpa memikirkannya terlebih dahulu (Kaplan dkk., 1993). Seseorang yang mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian adalah karakteristik dari kelelahan mental. Kelelahan mental pada seseorang merupakan sesuatu yang dapat memberatkan serta dapat menurunkan performa seseorang.
Dampak lain yang ditimbulkan adalah prestasi yang memburuk, mudah marah, berperilaku kasar, dan menurunnya tingkat konsentrasi (Ojobo, Mohamad, & Said, 2014).
Dari beberapa penjelasan tentang dampak DAF di atas, dapat disimpulkan bahwa DAF memiliki dampak yang serius bagi kualitas hidup seseorang karena jika seseorang mengalami DAF. DAF dapat menurunkan performa dan konsentrasi seseorang. Selain itu, DAF membuat seseorang kurang memiliki kesabaran, mudah mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya, berperilaku kasar, dan mudah marah.
4. Komponen Lingkungan yang Berdampak Memulihkan Directed Attention Fatigue (DAF)
Setiap orang berpotensi mengalami DAF. Seseorang yang memiliki tugas dan pekerjaan yang berlebihan membuat seseorang ingin beristirahat (Kaplan & Kaplan, 1989). ART merumuskan empat komponen lingkungan sebagai stimulus involuntary attention yang dapat memberikan dampak memulihkan bagi direct attention seseorang. Keempat komponen tersebut adalah Being Away, Extent, Fascination, Compatibility. Berikut penjelasan mengenai keempat komponen tersebut.
a. Menjauh (Being Away)
Istilah “melarikan diri” sering digunakan pada orang-orang yang ingin beristirahat dari tugas dan pekerjaannya. Misalnya ketika seseorang merasakan kesesakan, kegaduhan, atau kebosanan ketika
melakukan rutinitas sehari-hari. Seseorang berupaya untuk berisitirahat dari kelelahan mental yang dialami akibat proses kognitif saat bekerja. Maka lingkungan yang diciptakan adalah lingkungan yang jauh dari rutinitas sehari-hari.
b. Luas (Extent)
Lingkungan yang memberikan efek memulihkan adalah lingkungan yang melibatkan bentuk dari sesuatu yang sifatya luas, baik dalam hal waktu dan tempat. Hal ini dapat dipersepsikan bahwa seseorang dapat menghabiskan waktu dan dapat berkeliling dan menjelajahi tempat tersebut. Extent atau luas tidak hanya diartikan sebagai suatu hal yang bersifat geografis, namun juga interaksi sosial yang terjadi di lingkungan (Miligram & Jodelet; Stokols & Shumaker dalam Hartig, Korpela, Evans, & Garling, 1997).
c. Mempesona (Fascination)
Komponen fascination merupakan komponen yang penting dan utama dalam menciptakan lingkungan yang memberikan dampak memulihkan. Lingkungan yang dapat memberikan dampak memulihkan adalah lingkungan yang tidak dapat dipisahkan dari sesuatu yang menyenangkan, memikat, dan menawan. Lingkungan yang memberikan efek memulihkan, dikatakan sebagai daya tarik
“lembut”. Misalnya sinar matahari, awan, butiran salju, dan gerakan
merupakan komponen utama untuk mengistirahatkan direct attention akibat kelelahan mental.
d. Kesesuaian (Compatibility)
Pengalaman seseorang bersinggungan dengan lingkungan alam akan memunculkan efek memulihkan jika terjadi kesesuaian antara tujuan yang dimiliki oleh seseorang dan manfaat lingkungan alam yang dapat diberikan. Kesesuaian ini tidak membutuhkan usaha yang besar dalam hal kognitif dan dapat membantu dalam memberikan efek yang memulihkan. Adanya kesesuaian juga membuat seseorang tidak memerlukan usaha dalam memproses informasi sehingga mampu memberikan efek yang dapat memulihkan.
Dari keempat komponen tersebut, lingkungan alam seperti vegetasi merupakan lingkungan yang dapat menjadi stimulus involuntary attention seseorang. Unsur tumbuhan yang ada dalam sebuah vegetasi merupakan unsur yang penting untuk mempersepsikan lingkungan alam (Kaplan & Kaplan, 1989).
5. Definisi Video Lanskap Vegetasi dan Video Lanskap Urban
Lingkungan yang dapat memberikan efek memulihkan dalam upaya menciptakan involuntary Attention pada seseorang, akan dihadirkan dalam bentuk video pada perangkat komputer. Berikut penjelasan mengenai definisi video lanskap vegetasi, dan video lanskap urban.
a. Definisi Video dan Definisi Lanskap
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, video adalah bagian yang memancarkan gambar pada pesawat televisi. Video juga dapat didefinisikan sebagai susunan dari serangkaian gambar-gambar yang ditampilkan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga gambar pada layar terlihat hidup (Arsyad, 2014).
Dari kedua definisi video di atas, dapat disimpulkan bahwa video merupakan bagian yang dapat memunculkan serangkaian gambar-gambar yang ditampilkan pada pesawat televisi sehingga gambar-gambar pada layar terlihat hidup.
Definisi selanjutnya mengenai lanskap. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, lanskap adalah tata ruang di luar gedung. Definisi lain menjelaskan bahwa lanskap adalah daerah yang dipersepsikan oleh banyak orang sebagai hasil dari interaksi dari faktor alam dan atau manusia (Steg dkk., 2013) dan persepsi merupakan bagian utama dari definisi lanskap. Lanskap merupakan bagian penting dari kehidupan seseorang. Lanskap merupakan bentuk yang melatar belakangi aktivitas seseorang dengan lingkungan alam dan kegiatan manusia (Antrop; Council of Europe dalam Steg dkk., 2013).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lanskap adalah tata ruang di luar gedung yang dipersepsikan oleh banyak orang sebagai hasil interaksi antara faktor alam atau manusia dan melatar
belakangi ekspresi yang dinamis dari seseorang dengan lingkungan alam dan kegiatan manusia.
b. Definisi Video Lanskap Vegetasi
Vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu wilayah atau daerah (Sastroutomo, 1990). Vegetasi merupakan suatu kumpulan tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis tumbuhan yang hidup bersama-sama pada suatu tempat (Arief, 1994). Tipe vegetasi suatu hutan diperlukan adanya pengetahuan tentang satuan formasi. Satuan formasi didasarkan pada kenampakan (fisiognomi) dan komposisi floristiknya (Arief, 1994).
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa video lanskap vegetasi merupakan serangkaian gambar tata ruang di luar gedung yang dipersepsikan oleh banyak orang sebagai kumpulan beberapa jenis tumbuhan yang memiliki ciri khas tertentu sesuai dengan komposisi floristiknya. yang ditampilkan pada pesawat televisi sehingga gambar pada layar seakan-akan terlihat hidup.
c. Definisi Video Laskap Urban
Urban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kota. Kota merupakan suatu ruang yang berisikan pemukiman dan dihuni sejumlah besar manusia. Aktivitas yang terjadi di dalam kota terkait fungsi ekonomi, fungsi kesehatan, fungsi kemasyarakatan, fungsi pendidikan, fungsi bekerja, dll. Dalam memenuhi fungsi-fungsi tersebut dibutuhkan mobilitas yang dilakukan oleh orang-orang yang
tinggal di dalam kota (Iskandar, 2013). Kota pada umumnya adalah pusat kekuasaan dimana kota menjadi pusat industri, perdagangan, dan kebudayaan (Sarwono, 1992).
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa urban atau kota merupakan ruang yang berisikan sejumlah besar manusia dimana kota sebagai pusat industri, perdagangan, dan kebudayaan sehingga dibutuhkan mobiltas dalam memenuhi fungsi-fungsi yang berkaitan dengan aktivitas di dalamnya.
Stres terhadap lingkungan dirasakan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari, terutama jika mereka tinggal di kota besar. Terdapat lima stresor lingkungan urban secara umum (Steg dkk., 2013) yaitu kebisingan, kesesakan, kualitas pemukiman yang buruk, kualitas lingkungan yang buruk, dan kemacetan.
Kebisingan didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan dan memiliki karakteristik berdasarkan intensitas (decibel), frekuensi (nada), berkelanjutan dan durasi (akut atau kronis). Intensitas kebisingan yang tinggi dapat menimbulkan afek yang negatif seperti kejengkelan (Steg dkk., 2013). Kesesakan adalah keadaan psikologis yang terjadi ketika kebutuhan akan ruang melebihi dari ruang yang telah disediakan. Ketika seseorang merasakan kesesakan, mereka akan menunjukkan afek negatif, ketegangan, kecemasan, dan tanda-tanda nonverbal seperti gelisah (Evans & Cohen dalam Steg dkk., 2013).
Penelitian menunjukkan korelasi kualitas pemukiman yang buruk dengan permasalahan kesehatan mental seperti gejala kecemasan (Hiscock, Macintyr, Kearns, & Ellaway dalam Steg dkk., 2013) dan depresi (Shenassa, Daskalakis, Liebhaber, Braubach, & Brown dalam Steg dkk., 2013). Karakteristik fisik dari lingkungan yang dapat mengasilkan stress kronis adalah kualitas layanan, rekreasi, lalu lintas, akses transportasi, pemeliharaan sarana dan prasarana yang buruk, kualitas pendidikan, dan kesehatan, kebisingan, kesesakan, dan polusi (Steg dkk., 2013). Tingginya angka kemacetan dapat menyebabkan stes dan memunculkan afek negatif (Kozlowsky, Kluger, & Reich dalam Steg dkk., 2013). Sebuah Penelitian menunjukkan tingkat kemacetan berhubungan dengan stres, afek negatif, dan gangguan motivasi (Novaco, Kliewer, Broquet, 1991 dalam Steg dkk., 2013).
Dari beberapa sumber stres lingkungan urban terdapat kesamaan bahwa lingkungan urban dapat mengancam kesejahteraan seseorang. Lingkungan urban juga berpotensi memunculkan afek negatif dan sumber stres bagi seseorang sehingga dapat mengancam kesehatan fisik maupun psikologis.
Dari beberapa penjelasan di atas, video lanskap urban merupakan serangkaian gambar tata ruang di luar gedung yang dipersepsikan oleh banyak orang sebagai hasil interaksi antara faktor alam atau manusia dan melatar belakangi aktivitas dari seseorang dengan lingkungan alam dan kegiatan manusia. Tata ruang tersebut berisi sejumlah besar
manusia dengan aktivitas yang membutuhkan mobilitas sehingga berpotensi memunculkan stres dan afek negatif bagi seseorang. Gambar tersebut ditampilkan pada pesawat televisi sehingga gambar pada layar terlihat seakan-akan hidup.