Pasal Perubahan UUD dalam UUDS 1950
ATURAN PERALIHAN Pasal I
Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan semufakat Pemerintah Balatentara Dai Nippon mengatur dan menyelenggarakan kepindahan Pemerintah kepada Pemerintah Indonesia.
Pasal II
Segala badan pemerintahan dan peraturan yang masih ada langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Pasal III
Selama peperangan ini masih berlaku, tuntutan perang dan pembelaan negara langsung dipegang oleh Balatentara Dai Nippon dengan permufakatan dengan pemerintah Indonesia.
Pasal IV
Untuk pertama kali, Jawa Tyuo Sang In, diluaskan dengan tambahan anggota-anggota Sanyo Kaigi, Tyuo Honbu Hookoo Kaigi dan utusan-utusan dari Sumatera Tyuo Sang In serta utusan-utusan Sangi Kai-Sangi Kai dari Borneo, Sulawesi, Bali, Lombok dan lain-lain pulau melakukan kekuasaan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hlm. 368.
Pasal V
Dalam persidangan pertama daripada Badan yang tersebut dalam pasal IV ditetapkan kekuasaan yang diserahkan berhubung dengan peperangan kepada Presiden diserahkan dengan menentukan syarat-syarat.
Pasal VI
Untuk pertama kali jumlah anggota Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dan anggota-anggotanya diangkat oleh Badan yang tersebut pada pasal IV.28
Dari rumusan di atas perubahannya bisa dilihat pada: 1. Nama judul pasal menjadi “Aturan Peralihan”.
2. Penomorannya memakai angka Romawi. 3. Jumlah pasal menjadi enam.
4. Masing-masing pasal hanya terdiri satu ayat. 5. Ayat (2) dalam Pasal 37 (sebelum diubah) menjadi
Pasal II, Pasal 38 menjadi Pasal III, Pasal 39 menjadi Pasal IV, Pasal 40 menjadi Pasal V, dan Pasal 41 menjadi Pasal VI.
6. Ada beberapa pasal yang mengalami perubahan dari segi redaksinya seperti pada Pasal II, III, IV, V, dan VI.
7. Pada Pasal 39 (pasal sebelum diubah), yang tadinya terdiri dua ayat, setelah mengalami perubahan, Ayat (2) dihapus. Sehingga pada Pasal IV hanya terdiri satu ayat dari Ayat (1) Pasal 39 dan mengalami sedikit perubahan pada redaksi. Pembahasan rancangan UUD kembali dilanjutkan dalam Rapat Besar BPUPK pada 16 Juli 1945. Rapat kali ini tidak banyak melakukan perubahan pada pasal Aturan Peralihan, baik dari segi teks maupun materinya.
Dengan merujuk pada risalah Rapat Besar tersebut,
perubahan hanya terjadi pada Pasal III. Usul perubahan pada pasal itu dilakukan oleh Abikoesno ketika membahasnya dalam Panitia Perancang Hukum Dasar. Kemudian, usulan tersebut disampaikan oleh Soepomo pada forum Rapat Besar waktu itu.29
Soepomo menyampaikan, “Ada lagi perubahan yang mengenai Aturan Peralihan. Pasal 38 lama yang menjadi Pasal III. Usul anggota Abikoesno yang diterima oleh Panitia ialah supaya pasal ini menjadi begini bunyinya,” Dalam melaksanakan pertahanan dan pembelaan negara dalam peperangan Asia Timur Raya ini, negara Indonesia bekerja bersama seerat-eratnya dengan Dai Nippon”. Usulan ini telah disetujui oleh Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.30
Usulan Abikoesno yang disampaikan oleh Soepomo disetujui oleh anggota BPUPK sehingga rumusan Pasal III Aturan Peralihan setelah diubah berbunyi:
Pasal III
Dalam melaksanakan pertahanan dan pembelaan negara dalam peperangan Asia Timur Raya, negara Indonesia bekerja seerat-eratnya dengan Dai Nippon.
Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 ditandai dengan pembacaan Proklamasi oleh Soekarno. Perubahan status Indonesia secara langsung memengaruhi rancangan UUD yang disusun di bawah pengawasan Pemerintah Jepang. Terkait dengan UUD ini, dalam Rapat Besar PPKI pertama pada 18 Agustus 1945, Soekarno sebagai Ketua PPKI dengan tegas menyatakan, pasal-pasal hasil rumusan BPUPK tidak harus diubah semuanya. Soekarno berharap anggota-anggota PPKI mampu merumuskan pasal-pasal yang berkaitan dengan masalah krusial bagi kepentingan Indonesia merdeka seperti fundamen negara, kekuasan perwakilan pakyat, kekuasaan kehakiman, kekuasaan pemerintah, keuangan, pertahanan dan keamanan, warga negara, dan masalah peralihan kekuasaan.31
29 Ibid.
30 Risalah Rapat Besar BPUPK (16/7/1945) dalam Ibid., hlm. 431
Mengenai pasal-pasal Aturan Peralihan, PPKI membahasnya pada rapat pertama (lanjutan) dengan agenda Pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden dan Pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat. Suasana rapat ketika membahas pasal-pasal Aturan Peralihan tidak terjadi pembicaraan atau perdebatan yang panjang.32 Setiap rancangan pasal-pasal yang dibacakan oleh Soekarno disepakati oleh anggota PPKI. Perdebatan agak panjang terjadi pada saat pembacaan Pasal IV Aturan Peralihan, khususnya mengenai pembentukan Komite Nasional.
Pembahasan pasal-pasal Aturan Peralihan ini terpaksa dimulai dengan membahas rancangan pasal III mengenai kewenangan PPKI untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Melompatnya pembahasan ini disebabkan oleh adanya tuntutan dari pers untuk segera mengetahui siapa yang dipilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Hal ini disampaikan oleh Soekarno dan disetujui oleh semua anggota.
Pengusulan Presiden dan Wakil Presiden ini juga tidak melalui perdebatan yang panjang dalam rapat tersebut. Otto Iskandar Dinata yang pertama mengusulkan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dia pula yang mengajukan nama Soekarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama Negara Indonesia. Usulan Otto tersebut disetujui oleh anggota PPKI dengan diiringi riuh tepuk tangan dan gemuruh lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan yel-yel Hidup Bung Karno! 3X, Hidup Bung Hatta! 3X.33
Setelah acara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, acara rapat dilanjutkan dengan pembahasan rancangan pasal-pasal Aturan Peralihan. Berikut suasana pembahasannya.
Ketua Soekarno: Sidang yang terhormat! Sesudah acara ini selesai, saya minta supaya kita meneruskan pembicaraan tentang rancangan Aturan Peralihan.
Pasal I: “Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan menyelenggarakan kepindahan kepada pemerintah untuk Pemerintah Indonesia”. Setuju? (anggota setuju)
32 Hal ini bisa dilihat pada catatan waktu yang ada dalam risalah rapatnya, rapat hanya
Pasal II: “Segala Badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Mufakat Tuan-tuan? (anggota mufakat).
Pasal III: “Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden dipilih Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia”. Ini sudah dimufakati oleh Tuan-tuan sekalian.
Pasal IV: “Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasannya dijalankan oleh Presiden, dengan bantuan sebuah Komite Nasional”.34
Khusus mengenai Pasal IV, Soekarno harus memberikan penjelasan tentang usulan dibentuk Komite Nasional. Soekarno menjelaskan.
Alasan untuk mengusulkan sebuah Komite Nasional di sini ialah bahwa mungkin sekali anggota-anggota atau beberapa anggota dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ini tidak lama lagi meninggalkan kota Jakarta. Maka berhubung dengan itu dianggap lebih baik diganti dengan Komite Nasional, sedang tentang anggota Komite Nasional pada saat sekarang ini, sebetulnya belum diketahui siapa nanti akan mengangkat mereka. Mungkin sebagian daripada kita akan masuk dalam Komite Nasional, ditambah dengan beberapa anggota-anggota yang menjadi Komite Nasional, jadi Komite Nasional. Tetapi yang penting sekali ialah untuk menjaga kesulitan di masa kilat; hendaknya anggota badan yang membantu Presiden itu sedapat mungkin semua dapat dikumpulkan pada tiap ketika, praktisnya kalau mereka diam di kota Jakarta. Berhubung dengan itu, badan itu disebut Komite Nasional.35
Perdebatan tentang Komite Nasional terjadi setelah Soekarno memberikan penjelasan tersebut. Beberapa anggota PPKI menanyakan bagaimana Komite Nasional dibentuk atau bentuknya seperti apa, siapa yang memilih mereka, apa saja kewenangannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena Pasal IV sendiri tidak menyebut soal itu dan penjelasan Soekarno tentang Komite Nasional juga sangat umum.
34 Ibid. 35 Ibid.
Ratulangi lebih sepakat kalau anggota komite itu dipilih oleh PPKI. Alasannya, dia mengasumsikan PPKI sebagai perwakilan rakyat sementara, sehingga memiliki kewenangan untuk memilih anggota Komite Nasional. Pandangan Ratulangi ini tidak disepakati oleh Otto Iskandar Dinata. Menurut Otto, kewenangan PPKI memilih anggota Komite Nasional bertentangan dengan Pasal IV. Bagi dia pasal tersebut memberi kewenangan penuh kepada Presiden, sehingga Komite Nasional menjadi hak Presiden untuk menentukan siapa-siapa saja yang menjadi anggotanya. Selanjutnya Hatta pun ikut berbicara dalam hal ini. Menurut Hatta, apa yang diusulkan Ratulangi itu ideal, akan tetapi hal tersebut tidak bisa diterapkan saat itu karena situasi tidak memungkinkan. Usulan Ratulangi hanya bisa diterapkan dalam situasi damai. Hatta juga mengusulkan kalau nantinya Presiden juga memilki hak untuk memilih anggota Komite Nasional.36
Perdebatan yang sebenarnya menarik tersebut terpaksa dihentikan oleh Soekarno sebagai ketua rapat, sebab menurut Soekarno harus ada waktu dan agenda tersendiri untuk membahas masalah-masalah itu. Keputusan Soekarno disetujui oleh anggota rapat dan akhirnya, sampai pembahasan pasal-pasal Aturan Peralihan selesai tidak ada perubahan pada pasal-pasal tersebut.37 Sampai UUD 1945 disahkan, pasal-pasal
tersebut juga tidak berubah.
2. Aturan Peralihan dalam Konstitusi RIS
Di dalam Konstitusi RIS juga memuat pasal tentang Aturan Peralihan yang diberi nama Ketentuan Peralihan. Ketentuan tersebut diletakkan di Bab VI, digabung dengan Perubahan dan Ketentuan Penutup dengan penempatan pada Bagian II. Terdiri atas empat pasal, dari Pasal 192 sampai dengan Pasal 195. Bunyi pasal-pasalnya adalah sebagai berikut.
36 Ibid. 37 Ibid.
BAB VI
Perubahan, Ketentuan Peralihan, dan Ketentuan Penutup
Bagian II Ketentuan Peralihan
Pasal 192
(1) Peraturan2 undang-undang dan ketentuan2 tata usaha jang sudah ada pada saat Konstitusi ini mulai berlaku, tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan2 dan ketentuan2 Republik Indonesia Serikat sendiri, selama dan sekadar peraturan2 dan ketentuan2 itu tidak ditjabut, ditambah atau diubah oleh undang-undang dan ketentuan2 tata-usaha atas kuasa Konstitusi ini. (2) Pelandjutan peraturan2 undang2 dan ketentuan2
tata-usaha jang sudah ada sebagai diternagkan dalam ajat 1 hanja berlaku, sekadar peraturan2 dan ketentuan2 itu tidak bertentangan dengan ketentuan2 Piagam Pemulihan Kedaulatan, Statut Uni, Persetudjuan Peralihan ataupun persetudjuan2 jang lain jang berhubungan dengan pemulihan kedaulatan dan sekadar peraturan2 dan ketentuan2 itu tidak berlawanan dengan ketentuan2 Konstitusi ini jang tidak memerlukan peraturan undang2 atau tindakan2 pendjalankan.
Pasal 193
(1) Sekadar hal itu belum ternjata dari ketentuan2 Konstitusi ini, maka undang-undang federal menentukan alat2-perlengkapan Republik Indonesia Serikat jang mana akan mendjalankan tugas dan kekuasaan alat perlengkapan jang mendjalankan tugas dan kekuasaan itu sebelum pemulihan kedaulatan, jakni atas dasar perundang-undangan jang masih tetap berlaku karena pasal 1.
(2) Pemerintah dengan segera menundjuk seorang wakil di Negeri Belanda jang – sambil menunggu peraturan2 jang akan diadakan nanti– mendjalankan atas namanja segala kekuasaan pengurus jang, sebelum pemulihan
kedaulatan, didjalankan untuk pemerintah Indonesia dulu oleh alat2 perlengkapan Belanda di Negeri Belanda.
Pasal 194
Sambil menunggu pengaturan kewarganegaraan dengan undang-undang jang tersebut dalam ajat 1 pasal 5, maka jang sudah warganegara Republik Indonesia Serikat, jalah mereka jang mempunjai kewarganegaraan itu menurut persetudjuan jang mengenai penentuan kewarganegaraan jang dilampirkan pada Piagam Pemulihan Kedaulatan.
Pasal 195
Apabila sesuatu pokok jang pada saat Konstitusi ini mulai berlaku, masuk dalam jang diterangkan dalam lampiran Konstitusi ini, diselenggarakan oleh suatu daerah-bagian, maka daerah-bagian itu berkuasa melandjutkan menjelenggarakan pokok itu hingga Republik Indonesia Serikat mengambil tugas penjelenggaraan itu.
Djika demikian, maka daerah-daerah dalam melandjutkan penjelenggaraan itu untuk sementara, akan bertindak sesuai dengan pendapat lebih tinggi alat2-perlengkapan federal jang bersangkutan.38
3. Aturan Peralihan dalam UUDS 1950
Aturan Peralihan di dalam UUDS terdiri atas tiga pasal. Berada di Bab VI tentang Perubahan, Ketentuan-Ketentuan Peralihan, dan Ketentuan-Ketentuan Penutup. Aturan Peralihan menjadi Bagian II dalam Bab ini. Bunyinya adalah sebagai berikut.
Bab VI39
Perubahan, Ketentuan2 Peralihan, dan ketentuan Penutup
Bagian II
38 W.A. Engelbrecht, Kitab2 Undang2, Undang2 dan Peraturan2 serta Undang2 Dasar
Sementara Republik Indonesia, (Leiden-A.W Sijtoff’s Uitgeversmij N.V. ,1954), hlm. 24a-25.
Ketentuan2 Peralihan Pasal 142
Peraturan2 undang2 dan ketentuan2 tata-usaha jang sudah ada pada tanggal 17 Agustus 1950, tetap berlaku dengan tidak berubah sebagai peraturan2 dan ketentuan2 Republik Indonesia sendiri, selama dan sekadar peraturan2 dan ketentuan2 tata-usaha atas kuasa Undang2 Dasar ini.
Pasal 143
Sekadar hal itu belum ternjata dari ketentuan2 Undang2 Dasar ini, maka undang2 menentukan alat2 perlengkapan Republik Indonesia jang mana akan mendjalankan tugas dan kekuasaan alat2 perlengkapan jang mendjalankan tugas dan kekuasaan itu sebelum tanggal 17 Agustus 1950 ja’ni atas dasar perundang-undangan jang masih tetap berlaku karena pasal 142.
Pasal 144
Sambil menunggu peraturan kewarganegaraan dengan undang2 jang tersebut dalam pasal 5 ajat 1, maka jang sudah mendjadi warganegara Republik Indonesia ialah mereka jang menurut atau berdasar atas persetudjuan perihal pembagian warganegara jang dilampirkan kepada Persetudjuan Perpindahan memperolah memperoleh kebangsaan Indonesia, dan mereka jang kebangsaannja tidak ditetapkan oleh Persetudjuan tersebut, jang pada tanggal 27 Desember 1949 sudah mendjadi warganegara Indonesia menurut perundang-undangan Republik Indonesia jang berlaku pada tanggal tersebut.
Pada masa Pemerintah Soeharto, UUD 1945 diperlakukan sakral sebagai kitab yang tak dapat diubah atau diperdebatkan sehingga tidak ada pembahasan kritis, apalagi wacana perubahan UUD 1945.
C. Sejarah Aturan Tambahan
1. Aturan Tambahan dalam Pembahasan
BPUPK
Pasal-Pasal Aturan Tambahan dalam UUD 1945 merupakan sebuah jaminan bagi kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia setelah berakhirnya peperangan Asia Timur Raya. Pasal-Pasal ini sekaligus memberi ruang bagi Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk melakukan perubahan atas UUD.
Berikut bunyi Pasal-Pasal tersebut.
(1) Dalam enam bulan sesudah berakhirnya peperangan Asia Timur Raya, Presiden Indonesia mengatur dan menyelenggarakan segala hal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar ini.
(2) Dalam enam bulan sesudah Mejelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk Majelis ini bersidang untuk menetapkan Undang-Undang Dasar ini.
Khusus Pasal 2 Aturan Tambahan ini mengindikasikan sifat kesementaraan dari UUD 1945.
Tatkala Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan UUD 1945, bertanggal 18 Agustus 1945, di Gedung Pejambon, Jakarta, Ketua PPKI, Soekarno, mengemukakan bahwasanya UUD yang disahkan rapat adalah UUD yang bersifat sementara, dan kelak dibuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna.
…. tuan-tuan semuanya tentu mengerti Undang-Undang Dasar yang (kita) buat sekarang ini adalah Undang-Undang Dasar sementara. Kalau boleh saya memakai perkataan, ini adalah undang-undang dasar kilat. Nanti kalau kita telah bernegara di dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Perwakilan Rakyat yang dapat membuat Undang-Undang Dasar yang lebih lengkap dan lebih sempurna.
Tuan-tuan tentu mengerti, bahwa ini adalah sekadar Undang-Undang Dasar Sementara, Undang-Undang Dasar Kilat, bahwa barangkali boleh dikatakan pula, inilah revolutie grondwet. Nanti kita membuat Undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. Harap diingat benar-benar oleh tuan-tuan, agar supaya kita ini hari bisa selesai dengan Undang- Undang Dasar ini.40
Pasal 2 Aturan Tambahan UUD 1945 kemudian menyatakan bahwa dalam enam bulan sesudah MPR dibentuk, MPR dimaksud bersidang guna menetapkan UUD. UUD 1945 selalu dapat setiap saat diubah, dihilangkan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 UUD 1945. UUD 1945 bukan saja tidak sakral, serta dapat diubah tetapi UUD 1945 sejak disahkan sudah tidak sempurna, mengandung banyak kekurangan.
2. Aturan Tambahan dalam Konstitusi RIS
Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950 tidak ada Aturan Tambahan, tetapi Ketentuan Penutup. Dalam Konstitusi RIS 1949 Ketentuan Penutup terdiri dari dua Pasal yaitu Pasal 196 dan 197. Pasal 196 berisi perintah yang mewajibkan pemerintah untuk membentuk satu atau beberapa panitia yang diangkatnya, setelah konstitusi disahkan. Panitia tersebut menjalankan tugas, sesuai dengan petunjuk-petunjuk pemerintah, bekerja mengikhtiarkan supaya aturan-aturan yang diperlukan oleh konstitusi ini diadakan, serta supaya pada umumnya sekalian perundang-undangan yang sudah ada pada saat tersebut disesuaikan dengan konstitusi.
Sedangkan Pasal 197 mengatur tentang pemberlakuan konstitusi. Konstitusi RIS mulai berlaku pada saat pemulihan kedaulatan. Naskahnya diumumkan pada hari itu dengan keluhuran menurut cara yang akan ditentukan oleh pemerintah. Jika sebelum ada pemulihan kedaulatan sudah dilakukan tindakan-tindakan untuk membentuk alat-alat perlengkapan Republik Indonesia Serikat dan untuk menyiapkan penerimaan kedaulatan, sekaliannya atas dasar ketentuan-ketentuan konstitusi RIS, maka ketentuan-ketentuan itu berlaku surut sampai pada hari tindakan-tindakan bersangkutan dilakukan.