MENGENAI PASAL PERUBAHAN UUD
A. Pembahasan pada Masa Perubahan Kedua
Setelah SU MPR 1999, dibentuklah BP MPR untuk mempersiapkan bahan yang akan dibahas pada ST MPR 2000. BP MPR kemudian membentuk tiga PAH, di antaranya PAH I yang bertugas mempersiapkan rancangan perubahan UUD 1945.
Pada masa pelaksanaan tugas PAH I BP MPR periode 1999-2000, dilaksanakan rapat-rapat yang menghimpun pendapat-pendapat baik dari fraksi-fraksi MPR, Tim Ahli, maupun masyarakat. Pendapat di sini selain dari fraksi-fraksi MPR juga datang dari tim ahli dan masyarakat.
Pendapat-pendapat tersebut disampaikan pada Rapat PAH I BP MPR Ke-4, Rapat Ke-6, Rapat Ke-8, Rapat Ke-11, Rapat ke-20, Rapat ke-24, Rapat ke-49, dan Rapat ke-51.
Rapat PAH I BP MPR Ke-4 diselenggarakan pada 7 Desember 1999 dipimpin oleh Ketua PAH I Jakob Tobing ada sedikit pembahasan mengenai Pasal 37 oleh Fraksi TNI/ Polri. Fraksi TNI/Polri yang diwakili oleh Hendi Tjaswadi menyampaikan pendapat untuk memperbaiki Pasal 37 terutama mengenai jumlah kuorum Anggota MPR dalam mengubah UUD 1945. Berikut pandangannya.
Kesepuluh: Dalam Bab XVI Perubahan UUD pada Pasal 37 untuk mengubah UUD diperlukan kehadiran sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR dan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah yang hadir. Secara kuantitatif perubahan UUD tersebut dapat dilakukan oleh kurang dari 1/2 jumlah anggota MPR (yaitu 4/9). Oleh karenanya jumlah persetujuan perlu ditingkatkan dari sekurang-kurangnya 2/3 menjadi sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota yang hadir sehingga secara keseluruhan perubahan UUD dapat dilakukan oleh sekurang-kurangnya 1/2 dari jumlah anggota MPR.42
Selain pendapat tersebut di atas, juga diungkapkan
kembali oleh Tauiequrrahman Ruki dari F-TNI/Polri dalam
Rapat PAH I BP MPR Ke-6 yang diselenggarakan pada 10 Desember 1999 yang dipimpin oleh Ketua PAH I Jakob Tobing.
... dalam Bab XVI perubahan UUD pada Pasal 37 untuk mengubah UUD diperlukan kehadiran sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR dan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah yang hadir. Secara kuantitatif perubahan UUD tersebut dapat dilakukan oleh kurang dari 1/2 jumlah anggota MPR (yaitu 4/9). Di negara lain mencapai jumlah 6/9 atau 2/3 dari anggota.
Oleh karenanya jumlah persetujuan perlu ditingkatkan dari sekurang-kurangnya 2/3 menjadi sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota yang hadir sehingga rumusan Pasal 42 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (1999 – 2002) Tahun Sidang 2000 Buku Satu, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008), hlm. 136.
37 Ayat (2) menjadi:
(2) Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 3/4 dari pada jumlah anggota yang hadir.43
Pada Rapat PAH I BP MPR Ke-8 yang diselenggarakan 14 Desember 1999 dengan Ketua Rapat Jakob Tobing, Soedijarto melalui F-UG mengemukakan pendapat mengenai Pasal 37. Berikut pendapatnya.
... saya ingin ikut menyuarakan mengenai amendemen itu bagaimana caranya bisa dilakukan amendemen? Saya membaca Undang-Undang Dasar Amerika Serikat inisiatif mengamendemen saja diperlukan dukungan 2/3 anggota kongres, inisiatif. Dan inisiatif itu baru sah kalau 3/4 negara bagian menyetujui. Ini mungkin untuk menghindari jangan setiap kali kekuatan politik tidak senang dengan sesuatu ingin mengadakan suatu amendemen. Karena itu mungkin Pasal 37 yang mengatakan 2/3 yang hadir dan 2/3 dari 2/3 itu berhak mengadakan amendemen. Ini setelah saya membaca Undang Dasar Amerika dan Undang-Undang Dasar yang lain bahwa sulit sekali mengadakan amendemen Undang-Undang Dasar. Kita nampaknya akan membuat budaya setiap kali tidak suka kita utik-utik saja pasal itu. Bahkan ada yang berjanji nanti kita amendemen gitu, kelihatannya mengamendemen itu mudah.44
Rapat PAH I BP MPR Ke-11 yang dipimpin oleh Jakob Tobing, PAH I BP MPR membahasLaporan Hasil Kunjungan Kerja ke Daerah, beberapa usulan masyarakat muncul mengenai Pasal 37. Pada rapat yang berlangsung pada 4 Februari 2000 tersebut, Andi Mattalatta dari F-PG yang melakukan kunjungan kerja ke Aceh dan Sumatera Utara menyampaikan pandangan. Berikut pandangannya.
Pasal 37, atau Aturan Peralihan, ada yang mengusulkan supaya dibuat sebuah ketentuan perlunya evaluasi konstitusi setiap 10 tahun.45
Sementara itu, Hatta Mustafa dari F-PG yang melakukan kunjungan ke Sumatera Barat dan Sumatera Selatan membahsa
43 Ibid., hlm. 184.
44 Ibid., hlm. 282.
mengenai Pasal 37.
Pasal 37, perlu diubah karena belum menampung apabila suatu amendemen dan akan di-amendemen kembali.46
Sedangkan dalam Rapat PAH I BP MPR ke-20 yang dipimpin Jakob Tobing dengan agenda dengar pendapat dengan Universitas Jember (Unej) diselenggarakan pada 24 Februari 2000. Dalam rapat ini, Universitas Jember mengemukakan usulan untuk pasal 37. Berikut usulannya.
Pasal 37 Ayat (1) untuk mengubah UUD sekurang -kurangnya 2/3 dari pada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.
Pasal 37 Ayat (2) putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari pada jumlah anggota yang hadir.
Perubahannya, Pasal 37 Ayat (1) untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir, jadi kata-kata daripada di sini dihapuskan. Kemudian Pasal 37 Ayat (2), putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 jumlah anggota yang hadir, di sini juga kata -kata daripada dihapuskan.47
Dari berbagai pendapat di atas tentang Pasal 37, ada dua anggota PAH I yang menanggapi usulan pasal ini, yaitu Hendi Tjaswadi dari F-TNI/Polri dan Harjono dari F-PDIP. Hendi Tjaswadi mengusulkan 2/3 kuorum.
... mengenai Pasal 37 Ayat (1) Pak. Di sini kan kita dua, dua tingkat kuorum dan persetujuan 2/3. 2/3 = 4/9 Pak. Di negara lain tuh biasanya langsung saja persetujuan setengah lebih. Kita kurang dari setengah Pak, 2/3, 2/3 = 4/9-lah kalau negara lain tuh langsung persetujuan lebih dari separuh-lah apakah kita tidak perlu kita tingkatan
itu. Jadi ini klariikasi saja.48
Sementara itu, Harjono mengusulkan aspek praktis dari Pasal 37 jika diaplikasikan saat ini (era reformasi) dengan memperhitungkan jumlah anggota MPR.
46 Ibid., hlm. 442.
47 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (1999 – 2002) Tahun Sidang 2000 Buku Dua, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2009), hlm. 414 – 415.
Pasal 37, ini saya dua saja, Pasal 37 ini juga diubah. Pe n g u b a ha n nya t i d a k b a nya k , t a pi s aya t i d a k mempermasalahkan pengubahan kata per kata itu. Tapi ini berkaitan dengan nilai praktis dari Pasal 37 itu, kalau kita aplikasikan dengan keadaan yang sekarang. Sekarang kita punya anggota MPR itu 700. Lima ratus dari DPR, 200 dari tambahan non DPR. Kalau syarat Pasal 37 persyaratan kuorum itu kita penuhi, maka untuk mengubah Undang-Undang Dasar, itu diperlukan 2/3 dari 700 itu, hanya sekitar 467 kuorum hadir. Dari 467 itu, kuorum perubahan Undang-Undang Dasar, 2/3 itu hanya perlu 312. Jadi separuh sangat-sangat kurang dari 700. Kalau kita kembalikan pada aplikasinya lagi, dengan kuorum 467, in theory, DPR saja tanpa tambahan lagi, itu bisa mengubah Undang-Undang Dasar. Karena DPR-nya 500. Jadi saya pikirkan adalah, apakah angka-angka ini bisa demikian saja ditetapkan, tanpa melihat komposisi MPR itu bagaimana? Saya kira satu persoalan yang saya sharing pada teman-teman dari Jember.49
Pendapat yang disampaikan Harjono tersebut mendapat tanggapan dari Suharsono (pembicara Universitas Jember). Suharsono mengemukakan bahwa jumlah 2/3 yang hadir harus mewakili semua fraksi. Berikut pendapat Suharsono.
Kemudian saya tertarik yang disampaikan oleh Bapak Harjono tadi, yaitu mengenai kuorum di dalam perubahan Undang-Undang Dasar di dalam Pasal 37. Memang kalau kita lihat di sana, seperti yang dikemukakan tadi, 2/3 dalam rangka untuk mengubah, 2/3 dari anggota MPR ada 467 orang, kemudian 2/3 untuk mengubahnya, jadi kuorum 467 untuk mengubah lebih sedikit lagi.
Dalam hal ini menurut hemat kami, memang kalau kita lihat anggota DPR itu 500, sejumlah itu bagaimana kalau anggota DPR saja. Menurut hemat kami itu tidak harus semua anggota DPR harus tercermin fraksi-fraksi yang ada di dalam MPR itu. Jadi mengenai 2/3 di dalam untuk mengubah dari jumlah yang hadir itu, di sana harus tercermin dari fraksi-fraksi. Jadi semua fraksi itu harus ada di dalam, termasuk jumlah tersebut. Jadi tidak hanya anggota DPR saja dalam hal ini.50
49 Ibid., hlm. 424
Rapat PAH I BP MPR ke-24 yang dipimpin Ketua PAH I Jakob Tobing dengan agenda dengar pendapat dengan Walubi dan Parisada Hindu diselenggarakan pada Rabu, 1 Maret 2000. Dalam rapat ini juga tidak banyak pembicaraan tentang Pasal 37. Bahkan, Pasal 37 hanya muncul dalam pembacaan usulan perubahan UUD 1945 dari Parisada Hindu yang dibacakan Ida Bagus Gunadha dan sedikit penjelasan dari Wayan Sudaryanto. Berikut usulan mereka mengenai Pasal 37.
Pasal 37 Ayat (1):
“Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 3/4 dari pada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.”
Pasal 37 Ayat (2):
“Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 3/4 dari pada jumlah anggota yang hadir.”5151
Wayan Sudaryanto menegaskan bahwa seharusnya pasal tentang perubahan UUD tidak dilakukan dengan gampang yakni berdasarkan persetujuan dari 2/3 dari anggota MPR yang hadir.
Mengenai Pasal 37, sebenarnya reasoning-nya begini Pak, logika awamnya karena kami bukan anggota DPR, kok ngubah Undang-Undang Dasar kok gampang-gampang men begitu. Mbok ya jangan hanya 2/3 hadir setuju 2/3 setelah kami kalkulasi melalui kalkulator, itu hanya 45% lebih sedikit Pak, mengubah undang-undang saja 50% ditambah 1, mengubah Undang-Undang Dasar kok 40 persenan gitu lho. Kira-kira mohon ditampung juga aspirasi ini. Mbok ya o mengubah Undang-Undang Dasar itu lebih susah daripada mengubah undang-undang. Itu kira-kira reasoning-nya. 52
Rapat PAH I BP MPR ke-49 yang diselenggarakan pada 28 Juni 2000, dipimpin Wakil Ketua PAH I Harun Kamil, secara khusus membahas rumusan Bab XVI UUD 1945 tentang Perubahan UUD, Aturan Peralihan, dan Aturan Tambahan.
51 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (1999 – 2002) Tahun Sidang 2000 Buku Tiga, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008), hlm. 9.
Pembicara pertama adalah Zain Badjeber dari F-PPP. Salah satu pernyataan menarik dari Zain adalah agar usul mengenai mengubah UUD harus secara tegas menunjuk apa yang mau diubah. Tidak seperti perubahan sebelumnya, yang tidak ada ketegasan tentang itu. Berikut paparannya.
... Di dalam rangka membicarakan atau membahas bab tentang perubahan Undang-Undang Dasar ini, di samping kita belajar juga dari pengalaman yang telah lalu antara lain dari Perubahan Pertama yang sudah dilakukan pada Sidang Umum tahun 1999 dan kemudian pada tahun ini untuk Perubahan Kedua. Kami mengajukan beberapa saran dari Pasal 37 yang ada sekarang. Kami menganggap bahwa subtansi yang pada Ayat (1) dan (2) masih perlu dipertahankan. Ayat (1) tentang kehadiran dari jumlah anggota sementara Ayat (2) tentang putusan yang akan diambil dari jumlah anggota yang hadir.
Kemudian, kami menambahkan segala usul perubahan Undang-Undang Dasar ini harus menunjuk dengan tegas perubahan yang diusulkan. Apa yang kita sudah lalui kemarin, Perubahan Pertama dan Perubahan Kedua yang sekarang, itu tidak ada ketegasan mana yang mau diubah, pokoknya apa maunya daripada Badan Pekerja, khususnya PAH dan fraksi-fraksi. Untuk masa yang akan datang, saya kira perubahan-perubahan itu yang tampaknya akan lebih dipersulit persyaratan-persyaratannya. Hal ini juga terlukis di dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 di mana tercantum persyaratan-persyaratan tertentu untuk melakukan perubahan yang dimaksud antara lain, usul perubahan harus menunjuk dengan tegas perubahan yang diusulkan. Jadi tidak datang untuk membongkar semuanya. Tetapi yang jelas diajukan dulu oleh pengusul hal-hal yang mau diubah.
Ayat berikutnya, usul perubahan diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 daripada jumlah anggota DPR-RI, kita tidak bicara fraksi, dan sekurang-kurangnya 1/3 daripada jumlah anggota Dewan Perwakilan Daerah atau Dewan Utusan Daerah.
Usul perubahan disampaikan kepada pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk dibahas pada sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat. Yang tentunya untuk selanjutnya
Kemudian yang kelima, Perubahan Undang-Undang Dasar dituangkan dalam bentuk putusan dengan menyebutkan perubahan menurut urut-urutan perubahan yang telah dilakukan. Putusan perubahan mempunyai kedudukan hukum yang setingkat dengan Undang-Undang Dasar.53
Di samping itu, Zain menyampaikan pendapat mengenai perlu adanya ketegasan kesetaraan antara Perubahan UUD dengan UUD itu sendiri.
Pada Perubahan Pertama kita mengalami kesulitan sebab di dalam tata tertib MPR menyebutkan putusan MPR ada dua macam, keputusan dan ketetapan. Sementara, ketetapan berada di bawah Undang-Undang Dasar tingkat urut-urutannya pada Tap MPRS No. XX/MPRS/1966, tata urutan perundang-undangan adalah UUD dulu baru kemudian Ketetapan MPR. Tampaknya di PAH II sekarang urut-urutan seperti itu masih dipertahankan sehingga di dalam UUD ini perlu ditegaskan bahwa putusan perubahan UUD kedudukannya setingkat dengan UUD. Tidak mungkin yang di bawah akan mengubah yang di atas dalam tingkat peraturan perundang-undangan.
Ketegasan ini perlu diberikan dan ditegaskan di dalam pasal, tidak bisa dalam tata tertib ujug-ujug muncul di dalam tata tertib, sehingga nantinya kalau tidak salah menurut teman-teman di PAH II di dalam tata tertib itu nantinya ada putusan, ada ketetapan, ada rekomendasi. Tentu ada putusan perubahan yang menguraikan apa yang ada di konstitusi tidak saja kekuatan putusan itu muncul pada ketetapan yang mengatur tata urutan sebab ketetapan itu di bawah UUD. Sementara peraturan pemerintah pun ada disebutkan di UUD bahwa untuk melaksanakan UU.54
Pembicara selanjutnya adalah K.H. Yusuf Muhammad dari F-KB. Yusuf juga menyatakan agar dalam mengubah UUD
tidak boleh terlalu mudah.
Pada dasarnya kami mengusulkan agar Undang-Undang Dasar itu tidak terlalu mudah untuk diubah sehingga perlu ada mekanisme yang ketat. Oleh karena itu, konsekuensinya memang kesepakatan-kesepakatan mayoritas atau sebagian 53 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (1999 – 2002) Tahun Sidang 2000 Buku Enam, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008), hlm. 207 - 208.
besar dari anggota MPR itu diperlukan dalam rangka proses perubahan Undang-Undang Dasar.
Yang kedua, kami berpandangan bahwa perlu ada aturan
permainan tentang perubahan terhadap hal-hal yang pokok dari kehidupan berbangsa dan bernegara ini, yaitu yang menyangkut bentuk dan kedaulatan. Karena itu kami mengusulkan untuk Bab Perubahan Undang-Undang Dasar ini ada dua pasal.
Pasal yang pertama: Ayat (1):
“Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir”.
Substansinya itu. Ayat (2):
“Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50 lebih satu”.
Ini tidak konsisten angkanya. Karena kalau kami sebut 3/4 itu hitungannya ternyata 50% persis. Jadi 2/3 dari jumlah anggota MPR itu ada 467. Kalau kemudian 3/4 dari yang hadir, itu 350 orang berarti 50%. Kalau mau menyebut 4/5 terlalu berat gitu. Jadi teknis penyebutan itu nanti bisa kita bicarakan di lobi. Tapi pada prinsipnya jika dihitung secara keseluruhan memang saya kira sebaiknya 50% lebih, dari anggota MPR. Karena itu soal teknis hitungan yang ahli, ahli hitungan, ahli hisab. Salah satunya notaris itu ahli hitungan.
Kemudian pasal yang kedua yang kami usulkan, khusus tentang bentuk dan kedaulatan. Substansinya :
Ayat (1):
“Perubahan terhadap bentuk dan kedaulatan sebagaimana diatur dalam Bab I dan atau Bab II...”, kita belum tahu babnya, “...hanya dapat dilakukan dengan referendum yang diselenggarakan secara nasional”.
Ayat (2):
“Pelaksanaan referendum ditetapkan dengan undang-undang”.55
Sementara itu, A.M. Luthfi dari Fraksi Reformasi menganggap bahwa dua ayat dalam Pasal 37 UUD 1945 masih
relevan untuk diterapkan. Berikut pemaparannya.
Fraksi Reformasi masih beranggapan bahwa kedua ayat dari Pasal 37 yang lama masih relevan untuk kita gunakan. Akan tetapi mengingat pengalaman kita yang lalu pun, kami seperti Fraksi PPP juga beranggapan agar tidak terlalu mudah dan tanpa arah usulan perubahan Undang-Undang Dasar itu.
Karena itu kami menambahkan dua ayat sebelum ayat yang terdapat di Pasal 37 yang lama itu.
Pertama adalah Bab VIII Perubahan Undang-Undang Dasar.
Ayat (1):
“Usulan perubahan Undang-Undang Dasar hanya dapat dilakukan oleh sekurang-kurangnya 70 orang anggota MPR yang terdiri dari sekurang-kurangnya dua fraksi”.
Ayat (2):
“Majelis Permusyawaratan Rakyat dapat membentuk suatu panitia khusus yang bertugas melakukan pembahasan usulan perubahan Undang-Undang Dasar tersebut”. Ayat (3), tetap seperti Ayat (1) dari Pasal 37:
“Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir”.
Ayat (4):
“Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dari 2/3 daripada jumlah Anggota yang hadir”.56
F-PBB melalui Hamdan Zoelva menyatakan bahwa F-PBB menyadari bahwa rumusan Pasal 37 memang sangat sederhana, tetapi sangat sulit untuk dilakukan perubahan, sehingga tidak mengajukan usulan perubahan dan tambahan ayat.
… dalam perubahan Undang-Undang Dasar ini memang ada
dua pilihan. Yang pertama kalau kita persulit sedemikian
rupa untuk melakukan perubahan Undang-Undang Dasar ini maka rasanya untuk suatu negara yang masih sedang berproses dan yang terus berkembang, yang selalu menyesuaikan diri dengan perkembangannya yang ada, maka itu tentunya tidak kita perlukan. Artinya kalau kita terlalu persulit perubahan Undang-Undang Dasar itu maka 56 Ibid., hlm. 209 - 210.
kita akan persulit untuk menyesuaikan perkembangan negara ini sesuai dengan perkembangan global.
Kemudian yang kedua, kalaupun kita juga terlalu mudah melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar ini maka tentunya akan menimbulkan ketidakstabilan dalam pemerintahan, yang mana dengan gampangnya mengubah Undang-Undang Dasar maka tentu dengan gampang sekali mengubah struktur dasar dari negara ini.
Dengan mengambil pengalaman dari perkembangan sejarah kita selama ini, ternyata walaupun Pasal 37 ini diatur sedemikian sangat sederhana, namun toh juga sangat sulit untuk dilakukan perubahan. Oleh karena itu menurut pandangan kami, kami tetap dengan rumusan Pasal 37 ini yang terdiri dua ayat, Jadi kami tidak mengajukan usulan perubahan dan tambahan-tambahan ayat mengenai pasal ini.57
F-PDU melalui Asnawi Latief menyatakan bahwa pada dasarnya sepakat tidak mengubah Pasal 37, khususnya pada tingkat substansinya.
... Memang undang-undang ini sebaiknya tidak setiap tahun berubah, sekurang-kurangnya perubahan itu berjangka lama sehingga tidak menyebabkan tidak stabilnya Peraturan Perundang-undangan kita, sebab dengan perubahan Undang-undang Dasar maka peraturan-peraturan yang di bawahnya harus menyesuaikan. Oleh karena itu, kendatipun demikian maka terhadap Perubahan Undang-Undang Dasar ini pada prinsipnya fraksi kami tidak banyak mengubah substansi Pasal 37 Ayat (1) dan (2), hanya perumusan bahasa barangkali yang lebih disesuaikan dengan perkembangan bahasa mutakhir.58
F-PDU hanya mengusulkan perubahan pada redaksinya saja.
Oleh karena itu Bab XVI Perubahan Undang-Undang Dasar Pasal 37, rumusan selengkapnya sebagai berikut:
Ayat (1):
“Perubahan Undang-Undang Dasar dilakukan dalam sidang yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat”.
57 Ibid., hlm. 210.
Jadi yang dulu itu tidak disebut sidang. Jadi MPR itu dalam forum apa, ini forum sidang.
Ayat (2):
“Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir”.
Ini tidak banyak perubahan dengan ayat yang lama.59
Pembicara selanjutnya Hendi Tjaswadi dari F-TNI/ Polri. Menurut penilaian Hendi, Bab XVI mengenai Perubahan Undang-Undang Dasar merupakan bab kunci dari pelaksanaan dari tugas PAH I BP MPR.
Dari kami berpendapat bahwa bab ini merupakan bab yang terakhir, namun tidak kalah pentingnya dengan bab-bab sebelumnya. Bahkan merupakan bab-bab kunci karena pelaksanaan dari tugas PAH I ini didasari atau dilandasi oleh bab ini. Hampir di semua Undang-Undang Dasar atau konstitusi dari negara-negara mencantumkan mekanisme atau prosedur atau tata cara untuk mengubah Undang-Undang Dasar.60
Hendi juga menjelaskan mengenai prosedur perubahan UUD di Indonesia sebagaimana diatur pada Pasal 37 merupakan persyaratan yang paling ringan dibandingkan dengan konstitusi negara lain.
Menurut kami Perubahan Undang-Undang Dasar pada Pasal 37, merupakan persyaratan yang paling ringan dibandingkan dengan Undang-Undang Dasar ataupun konstitusi negara lain. Oleh karena itu kami berpendapat bahwa Undang-Undang Dasar sebagai hasil produk perjuangan bangsa yang
sangat penting, yang memuat rumusan ilsafat, cita-cita,
kehendak dan program perjuangan suatu bangsa.
Oleh karena itu, mekanisme prosedurnya dibuat sehingga tidak terlalu gampang namun juga tidak terlalu sulit. Melihat dalam rumusannya kuorum 2/3, persetujuan 2/3 sehingga awal hasil akhirnya 2/3 x 2/3 dalam 4/9 kurang dari setengah, tadi sudah disinggung oleh pimpinan. Kemudian kami melihat bahwa di sini dibuat langsung saja dengan persetujuan 2/3 anggota MPR sebagaimana lazimnya Undang-Undang Dasar negara lain. Karena dengan rumusan persetujuan 2/3 jumlah anggota MPR, 59 Ibid., hlm. 210 – 211.
berarti juga telah memenuhi kuorum yang tertulis 2/3 sehingga tidak perlu lagi ada kuorum. Kemudian mengingat kembali kepada kedaulatan, di antara rumusannya adalah Kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan oleh MPR. Dengan dihilangkannya kata sepenuhnya pada MPR, dalam hal ini melaksanakan kedaulatan dapat dilihat dari dua aspek.
Yang pertama adalah aspek subjek, ini berarti bahwa
kedaulatan tidak hanya dilakukan oleh MPR saja tapi juga oleh DPR, Pemerintah dan lainnya.
Kemudian aspek objek, berarti tidak seluruh tugas MPR itu ada atau dilaksanakan oleh MPR sehingga ada batasannya, Sehingga untuk mengubah Undang-Undang Dasar pada substansi tertentu seperti bentuk negara, dasar negara,