• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tinjauan Literatur 1. Teori Kontinjensi 1.Teori Kontinjensi

1. Audit judgement

Dalam penetapan opini, audit judgement berperan sangat penting. Audit judgement merupakan suatu pertimbangan pribadi atau cara pandang auditor dalam menanggapi informasi yang mempengaruhi dokumentasi bukti serta pembuatan keputusan pendapat auditor atas laporan keuangan suatu entitas. Dimana audit judgement diperlukan pada saat berhadapan dengan ketidakpastian dan keterbatasan informasi maupun data yang didapat, dimana pemeriksa dituntut untuk bisa membuat asumsi yang bisa digunakan untuk membuat judgement dan mengevaluasi judgement. Dalam hal ini, sebagaimana judgement dalam audit digunakan untuk menentukan risiko audit, penentuan jumlah bukti dan pemilihan bukti. Cara pandang pemeriksa dalam menanggapi informasi berhubungan dengan tanggung jawab dan risiko audit yang akan dihadapi oleh auditor sehubungan dengan judgement yang dibuatnya (Jamilah dkk dalam Margaret, 2014).

Standar Profesi Akuntan Publik SPAP pada seksi 341 juga menyebutkan bahwa audit judgement atas kemampuan kesatuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya harus berdasarkan pada ada tidaknya kesangsian dalam diri auditor itu sendiri terhadap kemampuan suatu kesatuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan.

Pertimbangan utama dalam keputusan adalah etika, walaupun seringkali melibatkan berbagai macam konflik kepentingan. Judgement akuntan profesional dapat dirusak oleh konflik kepentingan. Terdapat dua konflik

22

kepentingan, yaitu real conflict dan latent conflict. Real conflict adalah konflik yang mempunyai pengaruh pada masalah judgement yang ada, sedangkan latent conflict adalah konflik yang bisa mempengaruhi judgement di masa mendatang. Contoh konflik yang kedua bisa terjadi pada auditor yang penghasilannya didominasi oleh satu klien yang besar. Meskipun pada saat itu kondisi tersebut tidak menyulitkan, tetapi suatu waktu bisa terjadi diperlukan adanya penyesuaian negatif terhadap laba. Klien dalam kondisi tersebut dapat menolak penyesuaian ini dengan mengancam akan pindah ke auditor lain (Muawanah 2001, dalam Sabaruddinsah 2007).

Sedangkan menurut ISA 200 profesional judgement adalah penerapan pengetahuan dan pengalaman yang relevan, dalam konteks auditing accounting dan standard etika, untuk mencapai keputusan yang tepat dalam situasi atau keadaan selama berlangsungnya penugasan audit, dan kualitas pribadi, yang berarti bahwa judgement berbeda di antara auditor yang berpengalaman (tetapi pelatihan dan pengalaman dimaksudkan untuk mendorong konsistensi dalam judgement).

Puspitasari (2010) dalam Rizkiyana (2013) menjelaskan judgement sebagai perilaku paling berpengaruh dalam mempersiapkan situasi, di mana faktor utama yang mempengaruhinya adalah materialitas dan apa yang diyakini sebagai kebenaran, sebagaimana paparan berikut:

1) Materialitas

Dalam auditing materialitas sangat penting sigifikan dan esensial tapi dalam konsepnya tidak terdapat aturan pengukurannya sehingga

23

tergantung pada pertimbangan auditor (Mutmainah, 2006 dalam Rizkiyana (2013).

2) The Faith Syndrome

Satu persepsi kondisi yang dapat mengarah pada berubahnya perilaku auditor yaitu halo effect, Efek yang positif tapi terkadang merupakan persepsi yang keliru tentang orang lain (Mutmainah, 2006 dalam Rizkiyana, 2013). Simpulan audit biasanya didasarkan pada siapa yang telah melakukan pekeerjaan audit sebelumnya. Jika auditor memiliki keyakinan tentang orang tersebut halo effect diterapkan pada auditor lama dan pekerjaan mereka. Judgement audit cenderung dipengaruhi oleh persepsi aktivitas sebelumnya.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa audit judgement merupakan suatu pertimbangan yang dilakukan oleh para akuntan publik ketika akan menerima perikatan, membuat perencanaan audit, serta sebelum mengeluarkan suatu opini terhadap laporan keuangan perusahaan, dimana judgement dari akuntan publik ini dipengaruhi oleh berbagai faktor baik secara teknis seperti teknis seperti pembatasan lingkup dan waktu audit, maupun faktor non-teknis seperti gender, tekanan ketaatan, kompleksitas tugas, pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya.

2. Skeptisme

Menurut Jannah (2011) kata “skeptik” berasal dari kata Yunani skeptoi yang artinya: orang-orang yang mencari atau orang-orang yang mencari

24

informasi. Seorang skeptik disebut sebagai orang yang bersikap negatif terhadap banyak hal karena tidak mempercayai banyak hal atau meragukan setiap hal. Dengan demikian, masyarakat menganggap “skeptisme” suatu hal yang negatif karena sifatnya yang selalu menegasi banyak hal. Mereka mencari berbagai keterangan mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Para skeptik adalah orang-orang yang tiada henti mencari tahu dan bertanya mengenai berbagai hal di sekitarnya.

Skeptisme profesional auditor merupakan sikap (attitude) auditor dalam melakukan penugasan audit dimana sikap ini mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit. Seorang auditor yang skeptis, tidak akan menerima begitu saja penjelasan dari klien, tetapi akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi mengenai objek yang dipermasalahkan (Noviyanti 2008, dalam Rusyanti 2010).

Shaub dan Lawrence (1996) dalam Suraida (2005) memberikan kontribusi tentang skeptisme profesional auditor sebagai berikut “Professional skepticism is a choice to fulfill the professional auditor’s duty to prevent or reduce the harmful consequences or another person’s behavior”. Secara spesifik berarti adanya suatu sikap kritis terhadap bukti audit dalam bentuk keraguan, pertanyaan atau ketidaksetujuan dengan pernyataan klien atau kesimpulan yang dapat diterima umum. Auditor menunjukkan skeptisme profesionalnya dengan berfikir skeptis atau menunjukkan perilaku meragukan. Audit tambahan dan menanyakan langsung merupakan bentuk perilaku auditor dalam menindaklanjuti keraguan auditor terhadap klien.

25

Skeptisme tidak berarti bersikap sinis, terlalu banyak mengritik, atau melakukan penghinaan. Tanpa menerapkan skeptisme profesional, audit hanya akan menemukan salah saji yang disebabkan oleh kekeliruan saja dan sulit untuk menemukan salah saji yang disebabkan oleh kecurangan, karena kecurangan biasanya akan disembuyikan oleh pelakunya. Jadi, rendahnya tingkat skeptisme professional auditor akan menyebabkan kegagalan dalam mendeteksi kecurangan. Secara ekonomis juga dapat merugikan Kantor Akuntan Publik dan juga hilangnya reputasi akuntan publik dimata masyarakat serta hilangnya kepercayaan kreditor dan investor di pasar modal (Kriswandari 2006, dalam Jannah 2011).

Sikap skeptisme profesional perlu dimiliki oleh auditor terutama pada saat memperoleh dan mengevaluasi bukti audit. Auditor tidak dapat mengasumsikan begitu saja bahwa manajemen adalah tidak jujur, tetapi auditor juga tidak dapat mengasumsikan bahwa manajemen adalah jujur. Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan sikap skeptisme profesional, dengan mengakui bahwa ada kemungkinan terjadinya salah saji dalam laporan audit (Magisterina, 2013).

Jadi secara umum para ahli berpendapat bahwa skeptisme merupakan sikap kritis seseorang dalam menghadapi situasi dan sikap ini berbeda-beda tingkatannya atau variatif menurut kepribadian diri seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut auditor juga harus bisa mempertahankan dan meningkatkan kualitas auditnya dengan independensi dan due professional care (Putri dan Nur, 2013 dalam Prasetya dan Sari, 2014)

26

Salah satu penyebab dari suatu kegagalan audit adalah rendahnya skeptisme profesional, sehingga akan menumpulkan kepekaan auditor terhadap kecurangan baik yang nyata maupun yang berupa potensi, atau terhadap tanda-tanda bahaya yang akan mengindikasikan adanya kesalahan dan kecurangan. Skeptisme profesional akan membantu auditor dalam menilai dengan kritis risiko yang dihadapi dan memperhitungkan risiko tersebut dalam bermacam-macam keputusan untuk menerima atau menolak klien, memilih metode dan teknik audit yang tepat, menilai bukti-bukti audit yang dikumpulkan dan seterusnya (Prihandono, 2012).

Dalam hal ini, auditor yang memiliki skeptisme profesional akan menerapkan sikap skeptisnya hanya sebatas melaksanakan tugas profesinya saja, tanpa sepenuhnya menjadi skeptis. Oleh karena itu, dengan adanya skeptisme profesional dalam diri auditor akan mengakibatkan beberapa hal, sebagai contoh, auditor memberikan pertanyaan lebih dari yang biasa yang bersifat investigatif, menganalisa jawaban-jawaban dengan kritis dan secara hati-hati membandingkan hasil jawaban dengan kenyataan yang terlihat di lapangan.

Dapat disimpulkan bahwa skeptisme ini berarti suatu sikap auditor yang selalu mencurigai suatu hal dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang ada. Namun perlu diingat juga bahwa sikap skeptis ini jangan berlebihan melainkan hanya sebatas profesionalisme kerja saja, dan apabila suatu informasi yang diberikan telah disertai dengan bukti-bukti yang lengkap sebaiknya tingkat skeptisme ini dapat dikurangi.

27 3. Pengalaman Auditor

Salah satu kunci keberhasilan auditor dalam melakukan audit adalah bergantung kepada seorang auditor yang memiliki keahlian yang meliputi dua unsur yaitu pengetahuan dan pengalaman (Nugraha, 2013). Kusumastuti (2008) dalam Aulia (2013) menyatakan bahwa pengalaman adalah keseluruhan perjalanan yang dipetik oleh seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman berdasarkan lama bekerja merupakan pengalaman auditor yang dihitung berdasarkan suatu waktu atau tahun. Sehingga auditor yang telah lama bekerja dapat dikatakan berpengalaman. Karena semakin lama bekerja menjadi auditor, maka akan dapat menambah dan memperluas pengetahuan auditor dibidang akuntansi dan di bidang auditing.

Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non-formal atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek (Asih 2006, dalam Purwanti dan Khairani 2013).

Kemudian ditambahkan oleh Nugraha (2013) bahwa pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja auditor, dalam hal ini adalah kualitas auditnya. Dalam hal ini auditor harus menjalani pelatihan teknis yang cukup yang mencakup aspek teknis maupun pendidikan umum. Auditor yang berpengalaman mempunyai pemahaman

28

yang lebih baik atas laporan keuangan. Mereka juga lebih mampu memberi penjelasan yang masuk akal atas kesalahan-kesalahan dalam laporan keuangan dan dapat mengelompokkan kesalahan berdasarkan pada tujuan audit dan struktur dari sistem akuntansi yang mendasari.

Selanjutnya menurut Susetyo (2009) dalam Praditaningrum (2011) menyatakan bahwa pengalaman akan mengurangi pengaruh informasi yang tidak relevan dalam judgement auditor. Auditor yang berpengalaman dalam membuat suatu judgement tidak mudah dipengaruhi oleh kehadiran informasi yang tidak relevan. Oleh karena itu pengalaman diharapkan akan mempengaruhi tingkat kepercayaan ataupun tingkat kecurigaan auditor terhadap kliennya, yaitu lamanya auditor berpengalaman dalam memberikan jasa kepada kliennya (Kriswandari 2006 dalam Jannah 2011).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman merupakan sesuatu yang diperoleh seseorang dari aktivitas yang dialami dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman audit merupakan pengalaman auditor dalam melakukan audit atas laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu maupun banyaknya klien yang pernah ditangani. Semakin sering seseorang melakukan pekerjaan yang sama, semakin terampil dan juga semakin cepat dia dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Semakin banyak macam pekerjaan yang telah dilakukan, maka pengalaman kerjanya pun semakin kaya dan luas.

29 4. Self-efficacy

Bandura (1993) dalam Nadhiroh (2010) menyatakan bahwa self-efficacy adalah kepercayaan seseorang bahwa dia dapat menjalankan sebuah tugas pada sebuah tingkat tertentu, yang mempengaruhi aktifitas pribadi terhadap pencapaian tujuan. Self-efficacy dapat dikatakan sebagai faktor personal yang membedakan setiap individu dan perubahan dan juga dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam penyelesian tugas dan tujuan (Philip dan Gully, 1997 dalam Bintang, 2008).

Sementara itu, Baron dan Byne dalam Pratama (2013) mendefinisikan efikasi diri sebagai evaluasi seseorang mengenai kemampuan atau kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan. Efikasi diri ini dapat berasal dari beberapa sumber, diantaranya pengalaman diri sendiri, pengalaman orang lain, persuasi verbal, kemudian keadaan fisiologis dan psikologis (Yayan, 2013).

Teori ini memandang pembelajaran sebagai penguasaan pengetahuan melalui proses kognitif informasi yang diterima. Dimana sosial mengandung pengertian bahwa pemikiran dan kegiatan manusia berawal dari apa yang dipelajari dalam masyarakat. Sedangkan kognitif mengandung pengertian bahwa terdapat kontribusi influensial proses kognitif terhadap motivasi, sikap, dan perilaku manusia. Secara singkat teori ini menyatakan, sebagian besar pengetahuan dan perilaku anggota organisasi digerakkan dari lingkungan, dan secara terus menerus mengalami proses berfikir kritis terhadap informasi yang diterima. Hal tersebut mempengaruhi motivasi, sikap, dan perilaku individu.

30

Sedang proses kognitif setiap individu berbeda tergantung keunikan karakteristik personalnya (Nugraheni, 2012).

Bandura (1997) dalam Apsah (2012) menyatakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi self-efficacy yaitu:

1) Pengalaman Keberhasilan (Mastery Experiences)

Keberhasilan yang sering didapatkan akan meningkatkan self-efficacy yang dimiliki seseorang sedangkan kegagalan akan menurunkan self-efficacynya. Apabila keberhasilan yang didapat seseorang auditor dalam

menjalankan tugasnya lebih banyak karena faktor-faktor di luar dirinya, biasanya tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan self-efficacy. Akan tetapi, jika keberhasilan tersebut didapatkan dengan

melalui hambatan yang besar dan merupakan hasil perjuangan auditor sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh pada peningkatan self-efficacynya.

2) Pengalaman Orang Lain (Vicarious Experiences)

Pengalaman keberhasilan orang lain yang memiliki kemiripan dengan individu dalam mengerjakan suatu tugas biasanya akan meningkatkan self-efficacy seseorang dalam mengerjakan tugas yang sama.

Self-efficacy tersebut didapat melalui sosial model yang biasanya terjadi pada

diri seseorang yang kurang pengetahuan tentang kemampuan dirinya sehingga mendorong seseorang untuk melakukan modelling. Namun self-efficacy yang didapat tidak akan terlalu berpengaruh bila model

31 3) Persuasi Sosial (Social Persuation)

Informasi tentang kemampuan yang disampaikan secara verbal oleh seseorang yang berpengaruh biasanya digunakan untuk meyakinkan seseorang bahwa dia cukup mampu melakukan suatu tugas.

4) Keadaan Fisiologis dan Emosional (Physiological and Emotional States) Kecemasan dan stres yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai suatu kegagalan. Pada umumnya seseorang cenderung akan mengharapkan keberhasilan dalam kondisi yang tidak diwarnai oleh ketegangan dan tidak merasakan adanya keluhan atau gangguan lainnya. Self-efficacy yang tinggi biasanya ditandai oleh rendahnya tingkat stres dan kecemasan, sebaliknya self-efficacy yang rendah ditandai oleh tingkat stres dan kecemasan yang tinggi pula.

Perilaku self-efficacy ini sangat berpengaruh bagi auditor dalam menyelesaikan tanggung jawabnya, tingkat efikasi diri yang mereka miliki tentu saja berdampak terhadap judgement yang mereka buat. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki efikasi tinggi secara umum menganggap dirinya sanggup melakukan banyak hal di berbagai situasi, namun seseorang yang memiliki efikasi diri yang rendah berkeyakinan bahwa tidak ada hal-hal yang dapat mereka kuasai. Sebagaimana sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Iskandar dan Sanusi (2011) yang mengatakan bahwa auditor dengan efikasi diri yang tinggi melakukan audit judgement yang lebih baik dibandingkan dengan efikasi diri yang rendah.

32

C. Keterkaitan Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis

Dokumen terkait