BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Uraian Teoretis
2.3.4 Autis
2.3.4.1 Definisi Autis
Menurut bahasa, autis berasal dari kata „autos‟ yang artinya segala sesuatu yang pribadi dari seseorang. Sedangkan menurut terminologi psikologi, autisme memiliki definisi sebagai berikut:
a. Yaitu cara berpikir seseorang yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri sendiri.
b. Sikap seseorang dalam menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri sehingga ia akan menolak realitas.
c. Keadaan yang terlalu asyik dan ekstrim dengan pikiran dan fantasi sendiri (Reefani, 2013:27).
Bisa dikatakan juga bahwa autis merupakan gangguan perkembangan pervasif (menyeluruh dan meresap dalam) pada anak, yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Gejala-gejala autis ini mulai tampak sejak masa awal dalam kehidupan yaitu pada saat bayi.
Gejala-gejala tersebut ditunjukkan ketika bayi menolak sentuhan orang tuanya, tidak merespon kehadiran orang tuanya, dan melakukan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang tidak dilakukan oleh bayi normal lainnya. Misalnya, ketika memasuki umur balita seharusnya anak tersebut sudah mampu mengucapkan beberapa kata seperti ayah, ibu, dan lainnya. Namun lain hal nya dengan anak yang mengalami gangguan autis, mereka mengalami keterlambatan dalam beberapa perkembangan kemampuan seperti dalam hal berbicara/bahasa.
Secara medis, autis merupakan gangguan perkembangan yang luas dan berat yang terjadi pada susunan syaraf pusat yang berakibat terganggunya fungsi otak. Akibat kelainan ini, penyandang autisme dapat jauh tertinggal dalam perkembangannya dibandingkan anak normal seusianya, bahkan jika tidak segera ditangani dapat mengakibatkan mereka menjadi abnormal seumur hidup. Setiap anak autis mempunyai kemampuan yang berbeda satu sama yang lain, dimana hal tersebut yang menentukan bagaimana mereka berinteraksi terhadap diri dan lingkungannya dan menjadikan mereka pribadi yang unik.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa autis adalah sebuah gangguan perkembangan yang terjadi pada masa anak yang ditandai dengan adanya keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial. Gejalanya sudah mulai tampak sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Ketika gejala-gejala tersebut sudah tampak,
maka sebaiknya orang tua harus siaga dan segera melakukan tindakan agar tingkat keparahan gangguan autis tersebut dapat segera ditangani.
Penyandang autis menunjukkan gangguan komunikasi yang menyimpang seperti keterlambatan bicara, tidak bicara, bicara dengan bahasa yang sulit dimengerti, atau bicara yang hanya meniru ucapan orang lain (ekolalia). Selain mengalami gangguan komunikasi, anak autis juga menunjukkan gangguan interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun teman sebayanya.
2.3.4.2 Penyebab dan Gejala Autis
Penderita autisme dari masa ke masa mengalami peningkatan yang sangat tajam. Reefani (2013:41) menyebutkan secara umum penyebab autis adalah:
a. Makanan. Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll.) dicurigai menjadi penyebab autis pada beberapa kasus.
b. Vaksin yang mengandung Thimerosal, yaitu zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin.
c. Televisi dan gadget. Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak dan orang tua semakin berkurang karena berbagai hal.
Sebagai kompensasinya, seringkali TV ataupun gadget dijadikan sebagai alat yang dapat menghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa TV dan gadget bisa menjadi penyebab autis pada anak, karena dapat
membuat mereka jarang bersosialisasi dengan orang lain karena terlalu asyik menonton TV atau bermain gadget.
d. Folic acid. Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di sisi lain, tingkat autis menjadi semakin meningkat.
e. Genetik. Ini merupakan dugaan awal yang dapat menjadi penyebab autis.
Autis diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya.
Namun tidak itu saja, ada juga kemungkinan lainnya. Salah satu contohnya yaitu pada anak yang lahir dari ayah yang sudah berusia lanjut, memiliki peluang lebih besar untuk menderita autis (walaupun sang ayah normal / bukan autis).
Selain beberapa penyebab autis di atas, ada juga beberapa ciri khas awal yang ditengarai dapat menimbulkan resiko timbulnya autis, yaitu:
a. Tidak dapat memberi respon ketika diajak senyum b. Ketika dipanggil tidak bereaksi sama sekali.
c. Memiliki temperamen yang pasif pada usia enam bulan.
d. Interaksi sosial yang kurang.
e. Cenderung fokus pada satu benda.
f. Tidak memiliki bahasa tubuh yang kompleks.
g. Pengertian bahasa reseptif maupun ekspresif rendah.
h. Ekspresi muka kurang hidup pada usia satu tahun.
Ada beberapa tanda dan gejala autis yang dapat membantu untuk mendeteksi apakah anak tersebut mengalami gangguan autis. Reefani (2013:53) menyebutkan bahwa dari gejala-gejala yang disebutkan di bawah ini, seseorang yang mengalami gangguan autis harus memiliki minimal beberapa kriteria dari daftar gejala-gejala berikut ini:
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik, yaitu tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi wajah kurang hidup, gerak-gerik kurang tertuju, tidak bisa bermain dengan teman sebaya, tidak ada rasa empati, kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, yaitu perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang, tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal, sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang, cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.
c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan, yaitu mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan, terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya, adanya gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang, dan seringkali terpukau pada suatu benda.
Selain hal-hal di atas, anak yang mengalami gangguan autis juga menunjukkan kegagalan membina hubungan interpersonal yang ditandai
dengan kurangnya respon terhadap orang-orang atau anak-anak di sekitarnya. Gejala ini sudah muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Anak tersebut menunjukkan perilaku yang tidak normal atau mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan anak normal lainnya dalam hal berinteraksi sosial, berbicara, dan bermain menggunakan daya imajinasi.