• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.4 Kategorisasi Temuan Penelitian

4.4.1 Proses Komunikasi Antarpribadi Orang tua dan Anak Autis

Proses komunikasi antarpribadi merupakan proses pertukaran pesan yang memberikan respon dan umpan balik terhadap pesan yang disampaikan oleh orang tua kepada anak autis. Komunikasi yang terjalin bersifat langsung dan tatap muka. Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan yaitu orang tua, peneliti menemukan bahwa keenam informan penelitian sudah melakukan proses komunikasi antarpribadi secara dua arah. Respon yang diberikan anak autis dapat berupa ucapan ataupun tindakan langsung. Namun ketika mereka memberikan respon dalam bentuk ucapan, mereka tidak bisa menyebutkan kata-kata dengan jelas. Terdapat gangguan komunikasi ketika berinteraksi yaitu sulitnya menyebutkan kosa kata (speech delay) dan juga malas untuk merespon karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

Informan pertama yaitu Ibu Tami dan anaknya yang bernama Alfares. Ibu Tami mengatakan bahwa proses komunikasi yang terjadi antara ia dan anaknya dirasa sulit karena Alfares mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Respon yang diberikan Alfares lebih cenderung menggunakan tindakan langsung.

Komunikasinya seperti biasa. Memang dulu kalau awal-awal yaa memang kurang, saya sadari sangat kurang berkomunikasi dengan dia karena saya bekerja dan saya juga malas ngomong orangnya.

Karena dokter pun udah bilang bahwa sebenarnya yang penting itu adalah komunikasi sang ibu dan anaknya. Jadi kalau komunikasi sang ibu dan anaknya itu kurang, otomatis dia bakalan gak mau bersuara. Memang peran ayah itu kan juga penting tapi memang gak sekuat peran ibu, jadi memang saya sadari itu kurang. Dan waktu dicek ke dokter tumbuh kembang itu, saya baru sadar bahwa komunikasi saya ini selama ini sama anak memang kurang.

Mungkin itu juga salah satu faktor yang membuat anak saya ini jadi speech delay. Kalau ucapan dia masih bisa beberapa kata dan beberapa huruf aja. Tapi kalau instruksi kegiatan / tindakan, dia udah bisa. Jadi bentuk timbal baliknya itu berupa tindakan.

Informan kedua yaitu Ibu Leli dan anaknya yang bernama Adli.

Proses komunikasi yang terjadi seperti anak biasanya. Umpan balik yang diberikan oleh Adli berupa tindakan langsung dan juga ucapan. Namun terkadang ucapan atau kosa kata yang disampaikan masih sedikit dan berulang-ulang.

Kayak anak biasa. Kalau timbal baliknya sekarang ini udah banyak lah perubahannya, lain kalau tahun lalu kan, mungkin bertambah umur kan dia tambah ngerti. Kalau sekarang kita suruh minta ini minta itu dia udah ngerti, lagian pun anak kayak gini kalau sekali dia udah ada dikerjainnya misalkan kita suruh, itulah bedanya anak normal sama anak gak normal, jangan dirubah kalau dirubah itu yang bikin susah kita. Misalkan matikan lampu, biasanya kalau tidur kan dia udah tau matikan lampu. Nanti kita bilang “gak usah dimatikan bang”, dia marah karena dia biasa taunya kalau tidur itu mati lampu, gak bisa orang ini kalau dirubah. Kadang timbal balik juga, misalkan kita suruh “Bang, ambil piring itu!”, itu timbal balik

kan, dia langsung dalam bentuk tindakan. Kalau dalam bentuk omongan dia juga ngerti. Dia kalau mau nanyak nama orang, dia bilang “Siapa ya? Siapa ya?” gitu. Dia mau nanyak nama orang, tapi dia belum bisa bilang “Siapa?” jadi dia bilang “Siapa ya? Siapa ya?” “Ma, siapa ya Ma?” gitu misalnya dia mau tau nama orang itu.

Jadi kita disuruhnya bilang siapa nama dia gitu.

Informan ketiga yaitu Ibu Wahidah dan anaknya yang bernama Hafizzah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, Hafizzah jarang mengeluarkan suara ketika berinteraksi dengan orang lain. Dia hanya memberikan bahasa non verbal ketika menginginkan sesuatu. Umpan balik dari proses komunikasi antarpribadi yang terjalin lebih kepada bentuk tindakan. Kalau dalam bentuk ucapan, biasanya Hafizzah hanya menyebutkan kata-kata yang mudah dan sering didengarkannya saja.

Yaa ngomong aja, diajar-ajarin gitu. Dia ngerti, apa yang kita bilang dia ngerti cuma dia nyebutkannya gak bisa. Dia hanya dari tindakan, tapi satu-satu kalimatnya sudah bisalah disebutkannya, yang gampang-gampang kayak nyebutkan “panas” udah jelas ngomongnya, “kipas” jelas ngomongnya.

Informan keempat yaitu Ibu Sufni Suhaida (Ibu Ida) dan anaknya yang bernama Raihan. Proses komunikasi antarpribadi Raihan dan ibunya masih bersifat satu arah, dikarenakan Raihan mengalami keterlambatan berbicara (speech delay). Respon timbal balik yang diberikan berupa ocehan yang terkadang tidak begitu jelas, namun ditambah dengan gerakan non verbal. Ibu Ida mengakui bahwa hal ini terjadi disebabkan karena kurangnya komunikasi yang dilakukan kepada Raihan sehingga membuat Raihan malas untuk mengeluarkan suaranya.

Mmm… kalau dikatakan timbal balik sampai saat ini sih sekali-sekali masih timbal balik gitu kan tapi yang selebihnya itu masih belum lah. (Biasanya) ocehan dan juga tindakan sih yaa. Jadi kalau misalnya dia minta minum, minta makan, mau mandi, dia pasti ngomong. Dia pipis atau BAB, dia pasti ngomong. Sebelumnya dia masih bisa ngomong gitu, bisa ngomong “mama papa abang” gitu kan terus lama-lama kok makin berkurang tuh gitu kan. Kalau saya bilang sih kurangnya komunikasi saya di rumah, karena kebetulan saya dulu masih bekerja di kantor jadinya saya percayakan sama pembantu di rumah dan itu yaa gak dilatih karena saya Senin-Jumat bekerja, pulang malam, yaa itulah kendala saya sih disitu yang membuat saya jadi kurang interaksi sama anak saya.

Informan kelima yaitu Ibu Nurasriah Hasibuan (Ibu Nur) dan anaknya yang bernama Arif. Berbeda dengan informan-informan sebelumnya, Arif sangat susah ketika diajak berkomunikasi. Proses komunikasi antarpribadi yang terjalin masih bersifat satu arah. Dia mengerti apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya, namun dia tidak dapat membalas atau merespon dengan ucapan melainkan hanya dengan tindakan. Kalaupun dia merespon dengan ucapan, apa yang diucapkannya itu tidak jelas. Arif sangat pendiam, interaksinya dengan orang di sekitarnya juga kurang efektif.

(Komunikasinya) yaa biasa aja, kadang nyambung kadang gak nyambung. Sudah mulai ada respon dalam bentuk tindakan. Dia gak bisa ngomong cuman kalau ditanya dia paham lah. Kalau dikasih instruksi paham. Ya gini… u u u.. i i i (menirukan bahasa isyarat). Gak ada jelasnya, kayak orang bisu itu. Kami pikir bisu lah, tapi sebenarnya enggak. Kalau kita ngomong, “ini ambil ini!”

tau dia, dengar, fokus.

Informan keenam yaitu Ibu Maria dan anaknya yang bernama Ziko.

Proses komunikasi antarpribadi yang terjalin sudah bersifat dua arah.

Ziko sudah bisa memahami dan memberikan respon balik dengan jelas kepada lawan bicaranya. Kosakata yang dimilikinya sudah banyak

dengan pengucapan yang cukup jelas, namun terkadang ucapannya tersebut sering diulang-ulang. Ketika ibunya menanyakan apa saja kegiatannya selama di sekolah, dia sudah mampu menceritakannya dengan jelas. Dia senang berinteraksi dan menyapa orang-orang yang baru dikenalnya. Selama proses observasi yang dilakukan peneliti di sekolah, peneliti melihat Ziko sangat ramah dan mau berinteraksi dengan orang tua murid-murid lainnya. Percakapan yang terjadi juga nyambung dan bisa dikatakan cukup efektif.

Kalau komunikasi sih dia seperti yang selama ini yaa, selama ini dia punya dunia sendiri jadi jaranglah, dia semuanya kita bicara kita main sama adik-adiknya itu dia dengar. Kadang dia nanti nimpalin juga “oh enggak kok mi, gak begitu”. Tapi dia cuek dengan dia suka baca-baca buku, main mainan sendiri, golek-golek seperti itu. Dia lebih senang memang komunikasi sama orang baru, dia senang kali interaksi sama orang cuma kadang kan yang saya takutkan yaa itulah masalah kekurangan dia, “gratilin” barang orang, yang saya takutin itu aja. Dia bagus, interaksi sama orang bagus sebenarnya, dia suka nyapa-nyapa orang baru. Sama orang tua murid semua kenal dia.

4.4.2 Model Komunikasi Orang tua dalam Mengenalkan Pendidikan Seksual kepada Anak Autis

Model komunikasi merupakan sebuah bentuk konseptual yang menjelaskan proses komunikasi yang terjadi antar manusia. Model komunikasi juga memperlihatkan proses terjadinya komunikasi dengan mengaitkan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya dan kemudian dapat disederhanakan tanpa menghilangkan unsur atau komponen yang ada di dalamnya.

Keenam informan memiliki pandangan masing-masing terhadap pendidikan seksual untuk anak autis. Ada yang masih menganggap bahwa pendidikan seksual masih tabu untuk dijelaskan khususnya kepada anak-anak. Namun di samping itu, mereka juga merasakan kekhawatiran dengan masa depan anak mereka nantinya. Oleh karena itu mereka harus menemukan cara yang tepat agar dapat mengenalkan pendidikan seksual kepada anaknya. Butuh pemilihan kata dan pengemasan pesan yang baik agar komunikasi yang terjalin bersifat efektif dan mampu diterima dengan baik oleh anak autis.

Informan pertama yaitu Ibu Tami mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual penting untuk disampaikan. Ia dan suaminya merasa khawatir dan tidak menganggap tabu akan hal itu. Karena usia Alfares masih 5 tahun dan masih mengalami keterlambatan berbicara, jadi Ibu Tami masih belum bisa menyampaikan banyak hal tentang pendidikan seksual. Saat ini yang masih ia dan suaminya lakukan adalah pengenalan dasar tentang pendidikan seksual yaitu melatih Alfares “toilet training”

dan memfokuskan dalam hal melindungi anggota tubuhnya dari orang-orang yang tidak dikenal. Namun untuk ke depannya, ia dan suaminya sudah mempunyai pemikiran akan mengenalkan pendidikan seksual yang lebih detail lagi kepada Alfares untuk mengantisipasi agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di masa depannya.

Saya sebenarnya memang sama suami khawatir akan hal itu karena kebanyakan apalagi anak-anak seperti ini mudah untuk dilecehkan, karena dia tidak mengerti. Anak normal aja sering kena, apalagi anak yang seperti ini. Jadi saya sama suami sekarang lagi melatih

“toilet training”, maksudnya supaya dia mengerti minimal saya mau membuat anak saya ini mengerti bahwa alat kelaminnya, bagian-bagian tubuh intimnya itu hanya boleh disentuh itu paling tidak sama saya, bapaknya, dan orang terdekat yang memang dia udah kenal, jadi saya mencoba itu.

Informan kedua yaitu Ibu Leli mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual adalah suatu hal yang tabu untuk disampaikan kepada anak-anak. Menurutnya minimal pada saat anak sudah berumur 10 tahun baru lah bisa dijelaskan tentang pendidikan seksual. Namun untuk Adli sendiri, Ibu Leli sudah mulai mengajari kemandirian dalam hal merawat diri, contohnya mandi sendiri, buang air kecil / besar sendiri, pakai baju sendiri. Untuk saat ini, Ibu Leli hanya menjelaskan pendidikan seksual terkait perawatan dan perlindungan diri dari lingkungan sekitar. Pada saat Adli berumur sekitar 13 tahun, barulah nanti Ibu Leli menjelaskan tentang hal tersebut kepada Adli dan jika diperlukan nanti akan menggunakan alat bantu untuk mempermudah penyampaian pesan yang diinginkan.

Kalau untuk anak-anak istilahnya kayak mana yaa bilang nya, masih tabu yaa. Kita kan tengok umurnya juga, minimal anak-anak itu kan 10 tahun lah baru kita kenalkan. Kalau yang masih 6 tahun, 7 tahun, cuman kita bilang lah kita “wanti-wanti lah” kalau dipegang orang jangan mau yaa yang “ininya” yang “ininya” gitu kan. Yaa kita gak mungkin kita jelaskan kali mengapa gini mengapa gitu, karena anak-anak gitu kan otaknya gampang merekam, dia kan jadi ingin tau. Kita tetap ada batasan lah. (Kalau Adli) dia seks gak ngerti, belum mengerti lah kayaknya. Karena masih sering mandi sama saya, yaa saya mandi pun dia gak respon.

Cuman dia kalau penyayang yaa penyayang, nyium-nyium kita mau, nyium kakaknya mau. Apalagi kalau udah dekat sama guru mau dia itu nyiumnya, tapi nyiumnya sebatas kayak mana yaa kayak dia senang lah gitu sama kita, sayang bukan karena nafsu gitu.

Informan ketiga yaitu Ibu Wahidah yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual bukanlah suatu hal yang tahu, penting untuk dipelajari demi kebaikan anak. Apalagi dalam hal ini Ibu Wahidah mempunyai anak perempuan yang mengalami gangguan autisme, dimana anak perempuan lebih rentan terhadap pelecehan seksual. Oleh karena itu, Ibu Wahidah menganggap pendidikan seksual sangat penting. Contoh kecil yang sudah mulai diajarkan kepada Hafizzah adalah ketika sehabis buang air kecil / besar, Ibu Wahidah memberitahu Hafizzah untuk segera memakai celananya karena malu kalau dilihat oleh abangnya atau orang lain. Hal itu sudah mulai ditanamkan kepada Hafizzah agar dia memahami bahwa tidak semua orang bisa melihat dan menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu yang dimilikinya.

Selain itu ada satu hal penting yang harus dikenalkan Ibu Wahidah kepada Hafizzah yaitu ketika Hafizzah nantinya memasuki tahap dimana dia mengalami menstruasi. Hal ini juga menjadi kekhawatiran bagi Ibu Wahidah karena dia sendiri masih bingung dan belum mengerti bagaimana cara menjelaskannya. Tapi perlahan-lahan ketika Hafizzah sudah mulai mandiri dan bisa berkomunikasi dengan baik, Ibu Wahidah akan mulai mengenalkan kepadanya. Saat ini fokusnya adalah untuk melatih kemampuan komunikasi dan kemandirian Hafizzah.

Informan keempat yaitu Ibu Sufni Suhaida (Ibu Ida) yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual itu penting untuk disampaikan kepada anak yang sudah masuk “akil baligh (remaja)”.

Namun hal ini penting juga disampaikan kepada anak-anak, hanya saja cara penyampaian pesannya berbeda. Kalau untuk anak-anak bisa dikenalkan dalam bentuk “perumpamaan”, tidak langsung disampaikan dengan jelas. Ibu Ida juga menanamkan nilai agama dalam mendidik anaknya.

Kalau saya katakan kalau sudah masuk “akil baligh” gakpapa, tapi kalau anak-anak eee… bisa dikatakan mungkin kita bisa buat apa yaa eee… “perumpamaan” gitu, bukan yang jelasnya, gak langsung tapi kita buat perumpamaan aja gitu. Jadi biar anak pun juga jadinya “oh ini hal ini gak boleh gitu kan” dan adanya penanaman agama sama anak. Itu yang paling penting jadi dia tau yang mana yang muhrim dan tidak muhrimnya. Gitu aja sih. Karena sekarang udah “edan” jamannya gitu, jadi kalau misalnya kita gak bentengi anak kita dari sekarang, dikhawatirkan nanti untuk ke depannya.

Bukan jaman kita sekarang, ini jamannya anak-anak ini yang dikhawatirkan ke depannya jadi yaa haruslah prepare dari sekarang.

Ibu Ida juga sudah mempersiapkan cara untuk mengenalkan pendidikan seksual kepada anaknya dengan mengikuti pola pengasuhan yang berasal dari luar negeri. Dia lebih senang mengikuti pola asuh

“orang luar” karena lebih tegas.

Kalau saya sih lebih senang dengan polanya “orang luar” yaa.

Kalau polanya “orang luar” itu kan mereka bilang “gak boleh ngomong dengan orang asing, jangan ngomong dengan orang asing, walaupun orang baik gak usah ngomong sama orang asing”.

Karena itulah jangankan dipegang, ngomong aja gak boleh. Nah itu aja tekankan ke anak itu, gak usah ngomong sama orang yang kita gak kenal. Jadi kalau misalnya gak kenal, udah jauh-jauh aja.

“Kalau pun misalnya ada tamu atau apa, panggil langsung mama, gak usah balas omongannya”.

Informan kelima yaitu Ibu Nurasriah yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual adalah suatu hal yang tabu untuk disampaikan kepada anaknya, Arif. Dia masih merasa Arif seperti anak-anak dan

belum mengerti tentang seks walaupun sebenarnya jika dilihat dari umur, Arif sudah memasuki masa remaja. Ibu Nur justru merasa takut apabila Arif nantinya mengalami perubahan ataupun menunjukkan gejala-gejala pubertas layaknya anak normal lainnya. Arif sudah bisa merasakan malu ketika misalnya dia membuka baju atau celana di depan orang lain. Ibu Nur merasa kesulitan dalam mengenalkan pendidikan seksual kepada Arif, dikarenakan proses komunikasi yang terjalin di antara mereka hanya bersifat satu arah, tidak ada respon atau timbal balik yang diberikan oleh Arif.

Mungkin iya (tabu) kalau sama Arif. Dia seperti anak-anak kok walaupun dia udah besar, kurasa karena kami buat dia seperti anak-anak aja. Kalau sempat lah dia mengetahui itu, apa gak ngeri kita yakan, kan bahaya. Gak ada gejala pubertas yang ditunjukkan, karena gak “diapakan” itu kan. Karena kalau kawan-kawannya nengok cewek gitu cantik, ngerti. Kalau dia gak ada gitu, mau apa cuek aja. Tapi yaa InsyaAllah kalau bisa yaa gitu aja selamanya, kalau gak kan bahaya kita. Kalau untuk penyampaian tentang pendidikan seks itulah yang belum bisa, cuman dia udah tau malu memang. Cuman kan kalau dia kadang telanjang, dibilang “eehh”

malu dia.

Informan keenam yaitu Ibu Maria yang mempunyai pandangan bahwa pendidikan seksual merupakan hal yang penting untuk dikenalkan dan disampaikan kepada anak autis. Apalagi saat ini anaknya yang bernama Ziko sudah memasuki usia remaja yaitu 14 tahun. Walaupun demikian Ibu Maria belum menemukan bagaimana cara berkomunikasi yang baik untuk mengenalkan pendidikan seksual tersebut kepada Ziko.

Dia masih mempelajari bagaimana cara yang tepat agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh Ziko.

Saya belum ngasih pengajaran itu. Dia memang sudah “mulai”, saya tengokkan memang alat vitalnya dia kadang tegang kan, itu bapaknya yang lebih tau yakan. Sebenarnya Bu Fifi kemarin janjian sama saya katanya nanti akan dibicarain itu, masalah itu. Kita kan gak tau, namanya dia anak laki-laki, kalau anak perempuan kan gak ada masalah. Ini kan tiba-tiba “apanya” tegang gitu, cara ngatasinnya gimana. Itulah yang perlu kita pelajari nanti ke depannya, dibicarain cara komunikasinya juga. Mulai kepikiran tapi gak tau caranya, masih mencari cara yang tepat soalnya anak begini kan lain. Kalau adik-adiknya kan udah ngerti, adiknya masih kecil pun udah ngerti. (Gejala pubertas) belum terlihat, belum ada sekarang ini. Cuma gini dia memang dari dulu sih sebelum remaja ini dari dulu dia suka dekatin cewek, anak perempuan walaupun kecil besar dia gak peduli pokoknya anak perempuan. Dia lebih tertarik, ntah itu yang kecil-kecil, ntah itu yang besar, diikutin gitu kalau dia suka diikutin seperti itu.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, 3 dari 6 informan penelitian menerapkan model komunikasi interaksional. Model komunikasi interaksional menggambarkan proses komunikasi yang berlangsung secara dua arah. Ada respon timbal balik yang diberikan berupa ucapan dan tindakan. Keempat informan yang menerapkan model komunikasi interaksional ini adalah Ibu Tami, Ibu Leli, dan Ibu Maria.

Selanjutnya 3 orang informan lainnya yaitu Ibu Wahidah, Ibu Sufni Suhaida dan Ibu Nurasriah menerapkan model komunikasi linier. Model komunikasi linier menggambarkan proses komunikasi yang berlangsung secara satu arah. Respon timbal balik yang diberikan tidak langsung dapat dipahami oleh komunikator. Terdapat gangguan yang mempengaruhi proses komunikasi antarpribadi yang terjalin. Dalam hal ini gangguan tersebut ditemukan karena sulitnya kedua anak informan untuk berkomunikasi dan mengucapkan sesuatu yang ingin

disampaikannya, seperti yang disampaikan oleh Ibu Sufni Suhaida berikut ini:

Iya bisa dikatakan 80% saya masih satu arah ke dia, 20% nya udah ada feedback nya tapi ya kayak misalnya, “Adek mau makan?”, (dia jawab) “ah enggak, ah eh eh” kayak teriak-teriak gitu kan.

“Mandi yuk!”, (dia jawab) “aahh eeuu” gak mau sambil geleng-geleng. Iya geleng-geleng gitu, “eehhmmm” katanya gitu. Dia misalnya bilang “enggak” itu masih susah. Bertahap lah nanti.

Berdasarkan temuan penelitian yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi antarpribadi dan model komunikasi yang terjadi antara orangtua dan anak autis adalah berbeda-beda. Ada yang menggunakan komunikasi satu arah dan ada juga yang menggunakan komunikasi dua arah. Selain itu model komunikasi yang diterapkan orangtua dalam mengenalkan pendidikan seksual kepada anak autis yaitu model komunikasi linier dan model komunikasi interaksional dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Keenam informan tersebut yaitu:

1. Ibu Tami dan Alfares menggunakan komunikasi dua arah dengan model komunikasi interaksional tingkat 3 (rendah).

2. Ibu Leli dan Adli menggunakan komunikasi dua arah dengan model komunikasi interaksional tingkat 2 (sedang).

3. Ibu Wahidah dan Hafizzah menggunakan komunikasi satu arah dengan model komunikasi linier tingkat 2 (sedang).

4. Ibu Sufni Suhaida dan Raihan menggunakan komunikasi satu arah dengan model komunikasi linier tingkat 3 (rendah).

5. Ibu Nurasriah dan Arif menggunakan komunikasi satu arah dengan model komunikasi linier tingkat 1 (tinggi).

6. Ibu Maria dan Ziko menggunakan komunikasi dua arah dengan model komunikasi interaksional tingkat 1 (tinggi).

4.4.3 Penyajian Data (Data Display) Temuan Penelitian

No.

Nama Informan dan

Anaknya

Gejala / Penyebab Kondisi Orang tua / Anak

perkembangannya

dengan dunianya

Tabel 4.3 Penyajian Data (Data Display) Temuan Penelitian

Tabel 4.3 Penyajian Data (Data Display) Temuan Penelitian

Dokumen terkait