• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PELAKSANAAN PENYIDIKAN OLEH OJK

Pasal 49 ayat (2) huruf b:

“Anggota Dewan Komisaris, Direksi atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah)”

Bahwa dalam pemberian kredit fiktif dipastikan terjadi perbuatan dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam undang-undang ini dan ketentuan

68 Kristian dan Yopi Gunawan, Op.cit., Hal. 59.

peraturan perundang-undangan lainnya. Hal ini dikarenakan dalam pemberian kredit fiktif maka selalu terjadi adanya pelanggaran terhadap ketentuan perbankan atau peraturan yang ada dibawahnya seperti Strandar Operasional Prosedur (SOP) Bank untuk dapat menciptakan kredit fiktif tersebut. Sebab apabila langkah-langkah sesuai dengan SOP yang berlaku maka akan ditemukan adanya kejanggalan-atau penyimpangan dalam pemberian kredit tersebut sehingga kredit tersebut tidak layak diberikan oleh Pihak Bank.69

Berdasarkan uraian Pasal 49 ayat (1) huruf a dan pasal 49 ayat (2) Huruf b dapat ditarik kesimpulan bahwa tindak pidana perbankan kredit fiktif termasuk ke dalam delik formil (formeele delicten) maksudnya adalah tindakan yang dilarang (beserta hal/keadaan lainnya) dengan tidak mempersoalkan akibat dari tindakan itu.70 Dalam hal ini apabila sudah dipenuhi unsur-unsur dalam Pasal 49 ayat (1) huruf a dan pasal 49 ayat (2) Huruf b tersebut maka tindak pidana perbankan kredit fiktif sudah terjadi dan tidak persoalkan mengenai kerugiannya.

Berdasarkan penelitian terhadap kasus-kasus di bidang perbankan yang terjadi, kebanyakan disebabkan pemberian kredit yang tidak prudent, terutama kredit kepada pihak terkait dengan pemilik dan/atau pengurus bank. Kredit tersebut hampir semuanya berujung menjadi kredit bermasalah (nonperforming loan), sehingga membawa bank dalam situasi kesulitan keuangan. Tindak pidana perbankan terkait dengan ketentuan dalam Pasal 49 Undang-Undang Perbankan mengenai Usaha Bank bersifat umum, dengan kata lain dapat terjadi dalam

69 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan Bapak Jus Marfinnoor sebagai Penyidik Eksekutif OJK pada tanggal 19 Desember 2018, pukul 14:08 WIB.

70 Mohammad Ekaputra, Dasar-dasar Hukum Pidana edisi 2, (USU Press: Medan, 2015), Hal.101.

seluruh kegiatan usaha bank, baik dalam rangka penghimpunan dana dan penyaluran dana, maupun dalam kegiatan usaha bank lainnya. Dalam penyaluran dana, khususnya pemberian kredit, perjanjian kredit merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Tanpa perjanjian kredit yang ditandatangani bank dan debitur, maka tidak ada pemberian kredit. Perjanjian kredit merupakan ikatan antara bank dengan debitur yang isinya menentukan dan mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak sehubungan dengan pemberian kredit. Perjanjian kredit biasanya diikuti dengan perjanjian jaminan, maka perjanjian kredit adalah pokok atau prinsip, sedangkan perjanjian jaminan adalah perjanjian ikutan atau assesoir, artinya ada dan berakhirnya perjanjian jaminan tergantung dari perjanjian pokok (perjanjian kredit). Kegiatan usaha bank terkait dengan pemberian kredit, terdapat beberapa kasus kredit macet yang murni sebagai kasus perdata, debitur tidak dapat mengembalikan kredit seperti yang diperjanjikan, karena misalnya usaha debitur tidak berhasil karena adanya kebijakan uang ketat.

Kasus yang demikian tidak dapat dipidanakan karena dalam kasus kredit macet ini tidak ada unsur tindak pidana. Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank, karena bank tidak mungkin menghindarkan adanya kredit bermasalah. Bank hanya berusaha menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam pemberian kredit, bank tidak pernah menginginkan bahwa kredit yang diberikan akan menjadi kredit yang bermasalah, namun dalam praktiknya terdapat kemungkinan terjadi kredit yang bermasalah dengan status sampai menjadi macet.71

71

https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Documents/Pages/Buku-Beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya kredit macet berkaitan dengan adanya perbuatan-perbuatan yang tergolong tindak pidana, yaitu sebagai berikut:72 1) Kolusi

Kolusi adalah bentuk kerjasama yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain tetapi berakibat merugikan kepentingan umum atau negara. Perbuatan ini dilakukan sebagai jalan pintas, dengan tujuan untuk mendapatkan kemudahan akan sesuatu yang diharapkan.

2) Ketidaktelitian bank dan itikad buruk nasabah

Terdapat sejumlah nasabah yang berkelakuan tidak baik atau beritikad buruk yang dapat terjadi ketika permohonannya sedang diproses bank dan dapat terjadi pada waktu permohonan kredit diajukan dengan menggunakan dokumen palsu.

3) Penyalahgunaan pemakaian kredit

Kemacetan kredit dapat terjadi akibat nasabah menggunakan kredit untuk kepentingan lain yang tidak sesuai dengan tujuan pemakaiannya sebagaimana yang disepakati dalam perjanjian kredit.

4) Kredit fiktif

Dalam kredit fiktif, berkasnya memang ada tetapi nasabah tidak ada. Selain kasus kredit macet, tindak pidana di bidang perkreditan dapat digolongkan sebagai berikut:

1) Pemalsuan dokumen yang dipakai sebagai jaminan kredit.

Pahami-dan-Hindari-Tindak-Pidana-Perbankan/ diakses pada tanggal 17 September 2018 pukul 20:00.

72 Ibid.

2) Barang yang sama dijaminkan berkalikali dengan atau tanpa sepengetahuan kreditur terdahulu.

3) Mendapatkan kredit berkali-kali untuk proyek yang sama.

4) Mendapatkan kredit dengan jaminan fiktif.

5) Mendapatkan kredit dengan proyek fiktif.

6) Masalah down payment.

7) Melakukan penyimpangan dari prosedur pemberian kredit.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan.73 Sedangkan Tugas adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB.74 Untuk melaksanakan tugas pengawasan Otoritas Jasa Keuangan memiliki wewenang melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.75

Penyidik Otoritas Jasa Keuangan memiliki kewenangan dalam Tindak Pidana Perbankan Kredit Fiktif diatur dalam Pasal 49 ayat (3) tentang Penyidikan UU No 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinyatakan bahwa:

Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:

73 Pasal 5, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

74 Pasal 6, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

75 Pasal 9, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

a. menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di sektor jasa keuangan;

b. melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di sektor jasa keuangan;

c. melakukan penelitian terhadap Setiap Orang yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;

d. memanggil, memeriksa, serta meminta keterangan dan barang bukti dari Setiap Orang yang disangka melakukan, atau sebagai saksi dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;

e. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di sektor jasa keuangan;

f. melakukan penggeledahan di setiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan bahan bukti dalam perkara tindak pidana di sektor jasa keuangan;

g. meminta data, dokumen, atau alat bukti lain, baik cetak maupun elektronik kepada penyelenggara jasa telekomunikasi;

h. dalam keadaan tertentu meminta kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan pencegahan terhadap orang yang diduga telah melakukan tindak pidana di sektor jasa keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

i. meminta bantuan aparat penegak hukum lain;

j. meminta keterangan dari bank tentang keadaan keuangan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;

k. memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lain dari pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di sektor jasa keuangan;

l. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di sektor jasa keuangan; dan

m. menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan.

Dalam melaksanakan tugasnya, OJK dapat berkoordinasi dengan lembaga jasa keuangan terkait dan OJK berwenang untuk membuat peraturan dibidang jasa keuangan terkait, sebagai contoh OJK dapat berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang perbankan.76

OJK berkedudukan di ibu kota Negara, tetapi OJK juga dapat mempunyai kantor di dalam dan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan. OJK dibentuk dengan tujuan agar penyelenggaraan keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan dapat terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel. Selain itu OJK diharapkan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil dan melindungi kepentingan Konsumen dan masyarakat.

76 Pasal 39, Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

b. Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana di sektor Jasa Keuangan

Dalam pasal 1 angka 2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.01/2015 tentang Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan disebutkan bahwa Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan adalah setiap perbuatan/peristiwa yang diancam pidana yang diatur dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai OJK, Perbankan, Perbankan Syariah, Pasar Modal, Dana Pensiun, Lembaga Keuangan Mikro, Perasuransian, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Bank Indonesia sepanjang berkaitan dengan campur tangan terhadap pelaksanaan tugas OJK dalam pengaturan dan pengawasan bank, serta Undang-Undang mengenai Lembaga Jasa Keuangan Lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan jasa keuangan di dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel, serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, yang pada akhirnya mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.77

Pesatnya perkembangan produk dan layanan jasa keuangan, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta globalisasi transaksi keuangan di satu sisi berpeluang dapat mendukung kemajuan sektor jasa keuangan, namun di sisi lain dapat mengganggu terhadap stabilitas sistem keuangan karena munculnya

77 Hermansyah, Op.cit., Hal.217.

berbagai modus kejahatan yang lebih kompleks, sehingga perlu penanganan secara tepat. Dalam bagian menimbang huruf (c) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22 /Pojk.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Sektor Jasa Keuangan penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan dilaksanakan secara cepat, biaya ringan dan sederhana untuk membuat terang tindak pidana yang terjadi guna mewujudkan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum, menumbuhkan dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan, serta memperkuat stabilitas sistem keuangan. Memperhatikan hal diatas, maka Peraturan OJK ini disusun untuk memperkuat landasan hukum guna pelaksanaan Penyidikan di Sektor Jasa Keuangan sehingga proses Penyidikan yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang OJK dapat terlaksana dengan baik.

Dalam Pasal 2 ayat (1) dan pasal 2 ayat (2) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22 /Pojk.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Sektor Jasa Keuangan dikatakan bahwa: “OJK berwenang melakukan Penyidikan Tindak Pidana di Sektor Jasa Keuangan dan Kewenangan OJK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Penyidik OJK.”

Dalam Peraturan OJK Pasal 3 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22 /Pojk.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Sektor Jasa Keuangan ini disebutkan bahwa Penyidik OJK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) terdiri atas: a. Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia yang

dipekerjakan di OJK; dan/atau b. Pejabat Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan di OJK dan diberi wewenang khusus sebagai Penyidik.78

Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 3 huruf (a) berwenang melakukan tindakan Penyidikan sesuai ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang lainnya yang memberikan kewenangan kepada Penyidik Polri. Sedangkan Penyidik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf (b) berwenang melakukan tindakan. Penyidikan sesuai ketentuan mengenai Penyidikan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Yang dimaksud dengan “tindakan Penyidikan” antara lain upaya paksa berupa pemanggilan, membawa saksi dan tersangka, penangkapan, penahanan, pemeriksaan, penggeledahan, dan penyitaan. Sedangkan yang dimaksud dengan berwenang melakukan tindakan Penyidikan sesuai dengan ketetntuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 adalah dimana Pejabat Penyidik Kepolisian Republik Indonesia adalah bahwa Pejabat Penyidik Kepolisian Republik Indonesia memiliki wewenang untuk menyidik yang meliputi kebijaksanaan polisi (politie belied; police discretion) sebagaimana diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 disebutkan bahwa:

Penyidik sebagaimana dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP karena kewajibannya mempunyai wewenang:

78 Pasal 3, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22 /Pojk.01/2015 Tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Sektor Jasa Keuangan

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;

c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;

d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;

e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

f. mengambil sidik jari dan memotret seorang;

g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

i. mengadakan penghentian penyidikan;

j. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

Dimana kewenangan penyidikan yang dilakukan Kepolisian juga diatur dalam Pasal 1 angka 10 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa Penyidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan Dalam hal ini tugas Kepolisian dalam kaitannya dengan sistem peradilan pidana adalah melakukan penyidikan dan penyidikan baik atas inisiatif sendiri maupun maupun atas laporan masyarakat. Dalam melakukan penyelidikan maupun penyidikan kepolisian bertanggung jawab terhadap lembaganya sendiri, dalam hal ini adalah lembaga kepolisian dengan struktur yang lebih tinggi.

Yang dimaksud dengan Pasal 3 huruf (b) berwenang melakukan tindakan Penyidikan sesuai ketentuan mengenai Penyidikan yang diatur dalam

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan adalah bahwa Pejabat Pengawai Negeri Sipil melakukan tugas atau wewenang khusus yang diberikan oleh undang-undang yang menjadi dasar hukumnya yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang OJK sebagaimana tertuang dalam Pasal 49 tentang Penyidikan. Penyidik Pengawai Negeri Sipil kedudukannya berada di bawah koordinasi penyidik Polri dan di bawah pengawasan penyidik Polri.

Selain itu, Penyidik Pengawai Negeri Sipil melaporkan kepada penyidik Polri tentang adanya suatu tindak pidana yang sedang disidik, dan apabila Penyidik Pengawai Negeri Sipil telah selesai melakukan penyidikan, hasil penyidikan tersebut harus diserahkan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Polri. 79

79 Pasal 7 ayat (2) jo Pasal 107 ayat (1) dan (2) KUHAP

BAB III

PELAKSANAAN PENYIDIKAN OLEH OJK (OTORITAS JASA