BAB III : PELAKSANAAN PENYIDIKAN OLEH OJK
PENGATURAN PERANAN PENYIDIK OJK (OTORITAS JASA KEUANGAN) DALAM TINDAK PIDANA PERBANKAN
A. Perkembangan Tindak Pidana Perbankan di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang tidak pernah sepi dengan peristiwa-peristiwa yang mengejutkan. Ketika satu peristiwa-peristiwa belum sepenuhnya terselesaikan, telah disusul dengan peristiwa lain yang tidak kalah mengejutkan.
Begitulah, seolah-olah tragedi-tragedi itu saling menyusul. Dunia perbankan, termasuk salah satu bidang yang tidak luput dari terpaan tragedi itu. Peristiwa yang terjadi di Bank Century adalah salah satu diantaranya.
Meskipun sektor hukum sendiri juga tidak lepas dari deraan tragedi yang tidak kalah mengejutkan, namun demikian semua persoalan yang muncul pada akhirnya tetap harus diselesaikan melalui instrumen hukum, baik itu melalui jalur pengadilan maupun out of court setlement, baik itu dalam ranah keperdataan maupun dalam skema hukum pidana (penal). Sejarah kejahatan tidak bisa dipisahkan dari sejarah kehidupan manusia. Sejarah menunjukkan, bahwa
44 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: CV Sapta Artha Jaya, 1996), Hal.121
perkembangan peradaban manusia berbanding lurus dengan perkembangan peradapan kejahatan. Semakin maju peradaban maka semakin maju juga modus-modus dan cara-cara dilakukannya kejahatan.45
Realitas sosial telah dan akan terus menempatkan hukum sebagai salah satu sarana untuk menyelesaikan persoalan kehidupan manusia. Bahkan lebih dari itu, diharapkan hukum benar-benar sebagai a tool of social engineering sebagaimana dikonsepkan oleh sosiolog Roescoe Pound. Mencermati sensitifitas dunia perbankan, sementara di sisi lain sejarah dunia penegakan hukum terkadang menampakkan wajahnya yang bertolak belakang dengan arsitektur perbankan nasional dan cenderung tidak kompromi dengan kekhususan karakter dunia perbankan, tentu saja dalam mencegah dan menanggulangi tindak pidana perbankan pada masa yang akan datang harus memperhatikan kekhususan karakter dunia perbankan dan tujuan filosofis dari penegakan hukum, tidak semata-mata menegakkan hukum positif.
Dalam masyarakat belum terdapat kesepakatan pemakaian istilah tindak pidana perbankan, karena ada yang mempergunakan istilah tindak pidana di bidang perbankan dan tindak perbankan. Pemakaian istilah tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya, sehingga istilah dan pengertian satu sama lain mempunyai perbedaan. Tindak pidana perbankan adalah suatu perbuatan yang melanggar ketentuan sebagaimana diaturdalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998.
Mengingat fungsi lembaga perbankan sebagai pusat lalu lintas pembayaran dan peredaran uang, maka besar kemungkinan di dalam lembaga tersebut terjadi
45 Johannes Ibrahim dan Yohannes Hermanto Sirait, Kejahatan Transfer Dana Evolusi dan Modus Kejahatan melalui Sarana Lembaga Keuangan Bank, (Jakarta: Sinar Grafika, 2018), Hal. 131.
perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan gangguan dan hambatan terhadap keamanan dan kelancaran lalu lintas pembayaran giral dan peredaran uang serta perkreditan yang akan mengakibatkan gangguan dan hambatan dalam pelaksanaan nasional.46
Dengan semakin kompleksnya fungsi dan tugas perbankan dewasa ini sehingga membutuhkan dukungan peralatan elektronik dan telekomunikasi yang semakin canggih. Kemajuan teknologi di satu pihak telah membawa hasil yang positif bagi kehidupan manusia, namun di lain pihak orang-orang yang tidak bertanggung jawab akan menyalahgunakan kemajuan tekonologi dimaksud dan memanfaatkannya dengan cara-cara yang lihai yang sepintas lalu tampaknya tidak terjangkau oleh undang-undang.
Penjelasan mengenai kejahatan dengan dimensi-dimensi baru dapat ditemukan dalam Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-tujuh, pada tahun 1985 telah dibicarakan konteks jenis kejahatan dalam temadimensi baru kejahatan dalam konteks pembangunan.” Digambarkan dalam Kongres bahwa “a new dimention of criminality is the very substansial increase in the financial volume of certain conventional economic crimes”, seperti pelanggaran huku, penipuan Asuransi, pemalsuan invoice, penyeludupan, kejahatan perbankan, kejahatan komputer dan lain sebagainya. Sehingga tindak pidana perbankan atau kejahatn perbankan dapat dikatakan sebagai kejahatan dengan dimensi-dimensi kejahatan yang baru karena tindak pidana atau kejahatan perbankan senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat. Singkatnya, modus operandi tindak pidana perbankan atau kejahatan perbankan ditahun
46 Marulak Pardede, Op.cit., Hal 13.
an tentunya akan berbeda dengan modus operandi tindak pidana perbankan yang dilakukan di tahun 2018 ini, demikian pula dengan tahun-tahun berikutnya, modus operandi tindak pidana perbankan akan terus berkembang.47
Di masa pemerintahan orde baru, pemerintah telah beberapa kali mengeluarkan kebijaksanaan di bidang ekonomi dan moneter dengan tujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Kebijaksanaan pemerintah di bidang moneter yang secara langsung maupun tidak langsung berakitan dengan perbankan, memerlukan pengamanan dalam pelaksanaannya agar dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam praktek, pelaksanaan kebijaksanaan pemerintah di bidang perbankan masih terdapat beberapa kelemahan/kekurangan, sehingga dimanfaatkan oleh segolongan orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak pidana dengan bank sebagai sasarannya.48
Dengan semakin meningkatnya penggunaan jasa bank oleh masyarakat dan pesatnya perkembangan teknologi serta ilmu pengetahuan, terdapat kecenderungan meningkatnya tindak pidana tersebut di atas yang dilakukan baik oleh bank sebagai korporasi maupun personal bank sebagai individu dan anggota masyarakat pada umumnya.
Tindak pidana di bidang perbankan dewasa ini secara kualitas menunjukkan tendensi yang meningkat dan tentunya akan dapat merupakan penghambat/gangguan terhadap pertumbuhan dunia perbankan yang membutuhkan kepercayaan masyarakat pada khususnya dan pembangunan pada
47 Kristian dan Yopi Gunawan, Tindak Pidana Perbankan dalam Proses di Indonesia, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), Hal 23.
48 Marulak Pardede, Op.cit., Hal.20.
umumnya. Hal tersebut di atas antara lain dapat dilihat dari beberapa kasus penyalahgunaan data komputer pada lembaga perbankan untuk keuntungan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sebab pada akhirnya, faktor mental manusia merupakan faktor yang sangat menentukan. Kejahatan perbankan baik secara kualitatif maupun kuantitatif menujukkan tendensi yang meningkat, oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya untuk menangkal terjadinya kejahatan di bidang perbankan.49
Perspektif tindak pidana di bidang perbankan tersebut sejak UU No. 14 Tahun 1967 diundangkan hingga saat ini, modus operandinya mengalami perubahan.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh pelaku tindak kejahatan selama melakukan kejahatan tersebut dapat membentuk modus operandi. Modus operandi tersebut serangkaian perilaku yang dikembangkan pelaku dan diandalkan oleh pelaku untuk mencapai tujuan dari kejahatan. Dalam setiap perkembangan tindak pidana, modus operandi juga ikut berkembang Bersama dengan tindak kejahatan terkait, bahkan meski ketika kejahatan gagal dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa modus operandi menajdi unsur penting dalam melakukan kejahatan bagi si pelaku.50
Hal ini sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang dipengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perubahan/perkembangan kebijaksanaan pemerintah dalam pengaturan kegiatan perbankan. Perubahan bentuk kejahatan tersebut dapat dilihat dari beberapa peran/kurun waktu:51
- Tahun 1967 – 1969
49 Ibid.
50 Johannes Ibrahim dan Yohanes Hermanto Sirait, Op.cit., Hal.146.
51 Marulak Pardede, Op.cit., Hal.21
Pada masa ini tindak pidana yang menonjol adalah, tindak pidana yang berhubungan dengan legalitas/perizinan bank.
Misalnya: a. Usaha serupa Bank b. Bank dalam bank.
- Tahun 1970 – 1972
Bentuk-bentuk tindak pidana yang menonjol pada kurun waktu ini adalah jenis tindak pidna dalam bidang lalu lintas giral.
Misalnya: a. Penipuan dengan menggunakan Cek dan Bilyet Giro;
b. Pencurian Cek dan Bilyet Giro c. Pemalsuan Cek dan Bilyet Giro - Tahun 1973 – 1975
Pada periode ini bentuk tindak pidana yang menonjol adalah terjadinya kerja sama dengan oknum bank.
- Tahun 1976 – 1988
Jenis tindak pidana yang menonjol adalah tindak pidana dalam bidang lalulintas giral. Misalnya:
a. Pemalsuan surat deposito;
b. Pemalsuan dokumen.
- Tahun 1898 – 1990
Dalam periode ini, terlihat adanya perubahan bentuk tindak pidana, karena dipenaguruhi oleh Pakto 27 Tahun 1988 dan bentuk yang menonjol adalah
kembali kepada modus lama yaitu, memalsukan surat kuasa, pencurian Bilyet Giro/Buku Cek, pemalsuan Cek.
- Tahun 1990 dan seterusnya
Untuk masa-masa mendatang, diperkirakan bentuk tindak pidana perbankan yang menonjol adalah yang berhubungan dengan legalitas Bank, pemberian kredit, pemberian jasa dan lalulintas giral, pemalsuan dana tau penipuan dengan menggunakan Cek dan Bilyet Giro tanpa adanya bantuan orang dalam Bank.
Sebelum tahun 1976 tindak pidana di bidang perbankan dilakukan oleh perorangan. Tetapi setelah tahun 1976 telah dilakukan oleh suatu sindikat yang terorganisir rapi, dengan melibatkan oknum bank.
Tindak pidana perbankan terjadi sebelum tahun 1969 di mana pada saat itu masih berlaku Undang-Undang No. 17 tahun 1964 tentang Larangan Penarikan Cek Kosong yang menonjol adalah usaha serupa bank dan bank dalam usaha serupa bank dan bank dalam bank. Tetapi setelah tahun itu di mana undang-undang Larangan Penarikan Cek Kosong sudah dicabut sampai pada tahun 1972 tindak pidana perbankan yang paling menonjol adalah tindak pidana di bidang lalulintas giral. Cara penipuan yang dilakukan, yaitu:52
- Menggunakan cek atau bilyet giro yang tidak ada atau tidak cukup dananya dengan maksud penipuan;
- Memalsukan cek atau bilyet giro; dan
- Mencuri cek atau bilyet giro yang kemudian diisi nilai rupiahnya dan dipalsukan tanda tangan si sempunya cek atau bilyet giro itu.
52 Marulak Pardede, Op.cit., Hal. 22.
Pada tahun-tahun tersebut belum ada ketentuan-ketentuan tentang bentuk dan keseragaman cek/bilyet giro, sehingga seringkali terjadi tindak pidana seperti telah disebutkan di atas. Setelah adanya Surat Edaran Bank Indonesia No.4/670/UPBB/PbB tanggal 24 Januari 1972 bentuk warkat bank tersebut diseragamkan. Sampai tahun berikutnya yang menonjol masih tetap tindak pidana yang menyangkut lalu lintas giral. Tindak Pidana tersebut dilakukan dengan melibatkan oknum pejabat atau pengurus bank untuk memberikan informasi mengenai:
- Besarnya saldo rekening nasabah calon korban;
- Nomor seri warkat dan nomor A/C;
- Contoh tanda tangan, dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan calon korban;
- Peraturan yang berlaku pada bank yang bersangkutan.
Adapun modus operandinya dilakukan dengan cara:
- Memalsukan sebagian warkat bank yang bersangkutan;
- Menghapus atau mencukil nomor seri warkat bank yang kemudian diubah sesuai dengan seri warkat milik korban dan ditandatangani sesuai dengan tanda tangan calon korban.
Pada masa itu modus operandi yang pernah terjadi, adalah:
- Pemalsuan cek, Jakarta April 1980;
- Pemalsuan bilyet giro, Jakarta April 1983/1984;
- Pemalsuan teleks transfer, Jakarta September 1983;
- Inkaso bankers, draft fictive, Jakarta Januari 1985;
- Transfer melalui komputer, New York-Jakarta November/Desember 1986;
- Transfer melalui telepon, Jakarta, Maret 1987;
- Pemalsuan tanda tangan surat perintah pencairan dana deposito, Jakarta, Agustus 1987.
Tindak pidana di bidang perbankan yang menggunakan kartu kredit dapat pula terjadi dengan cara memalsukan kartu kredit dengan bantuan pejabat bank menyerahkan kartu kredit hasil curian/temuan dan memalsukan tanda tangan pemegang sah kartu kredit tersebut. Sedangkan pelaku tindak pidana di bidang perbankan yang menggunakan cara-cara yang lain secara pasti belum dapat diungkapkan atau ditemukan, namun dalam tindak pidana tersebut pelaku berusaha mempengaruhi oknum atau pejabat bank untuk bersedia membantu dalam rangka melakukan tindak pidananya.53
Selain itu, terdapat beberapa penyimpangan lain dalam berbagai variasi modus operandi, seperti window dressing, kasus mark-up biaya bank, memanfaatkan fasilitas bank atau menciptakan fasilitas untuk kepentingan pihak terkait dengan bank, dan menggelapkan dana bank melalui berbagai cara yaitu seperti menggunakan cara membuat kredit fiktif, menarik dana tanpa sepengetahuan nasabah, deposito unrecord (pembukuan tidak dicatat), setoran atau cicilan kredit tidak diteruskan kepada bank, dan juga dapat melibatkan orang dalam. Window dressing dalam pengertian pasar modal, akuntansi dan keuangan diartikan sebagai suatu rekayasa akuntansi sebagai upaya menyajikan gambaran keuangan yang lebih baik daripada yang dapat dibenarkan menurut fakta dan akuntansi yang lazim. Caranya dengan menetapkan aktiva atau pendapatan terlalu tinggi dan menetapkan kewajiban atau beban terlalu rendah dalam laporan keuangan. Bahwa
53 Marulak Pardede, Op.cit., Hal. 23.
Window dressing ini kerap kali dilakukan oleh industri perbankan untuk memperoleh laporan keuangan yang lebih cantik sehingga dapat digunakan untuk menghindari pertambahan modal yang seharusnya dilakukan oleh Bank terkait dengan NPL (Non Perfoming Loan) yang tinggi sehingga akan mempengaruhi CAR (Capital Adequate Ratio) yang ditetapkan oleh Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan sebagai batas sebuah Bank dianggap sehat. Bahwa dalam rangka membuat fenomena untuk membuat laporan sebuah Bank menjadi lebih “Cantik”, maka seringkali Bank mengunakan pola Kredit Fiktif yang digunakan untuk menutupi kredit macet yang terjadi di Bank tersebut, sehingga secara performance Bank akan terlihat masih baik walaupun kenyataannya seharusnya kredit macet tersebut harus sudah dibebankan (dibiayakan) dan menjadi kerugian Bank.54
Perubahan tindak pidana perbankan sebagaimana yang dikemukakan di atas adalah sesuatu yang wajar. Dikatakan demikian karena hal ini sangat berhubungan dengan fungsi dan tugas dari Lembaga perbankan sebagai pusat atau sentral dari lalu lintas pembayaran dan peredaran uang di suatu negara. Hal ini tak terlepas juga dari semakin kompleksnya fungsi dan tugas perbankan dewasa ini, rigitnya prosedural perbankan dan kemajuan peralatan elektronik dan kemajuan peralatan telekomunikasi yang semakin canggih yang mendukung dunia perbankan dewasa ini.55
Beberapa penyebab terjadinya tindak pidana perbankan adalah:
(a) Kegagalan pihak staf bank untuk secara teliti mengikuti instruksi dan pedoman yang diatur oleh bank;
54 Hasil wawancara dengan Bapak Jus Marfinnoor Penyidik Eksekutif OJK pada tanggal 19 Desember 2018, pukul 14:08 WIB
55 Kristian dan Yopi Gunawan, Op.cit., Hal.23.
(b) Keterlibatan aktif pada setiap tingkat pengawai (secara intern) maupun atas kerjasama dengan orang luar;
(c) Orang luar yang melakukan pemalsuan ataupun manipulasi terhadap warkat dan surat berharga perbankan.
Tindak pidana Perbankan menurut Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan dibagi menjadi 5 bentuk tindak pidana. Ruang lingkup tindak pidana perbankan yang terdapat dalam Undang-Undang Perbankan diantaranya adalah Tindak pidana berkaitan dengan perizinan, Tindak pidana berkaitan dengan rahasia bank, Tindak pidana berkaitan dengan pengawasan bank, Tindak pidana berkaitan dengan kegiatan usaha bank. Undang-Undang Perbankan membedakan sanksi pidana kedalam dua bentuk, yaitu kejahatan dan pelanggaran. Tindak pidana perbankan dengan kategori kejahatan terdiri dari tujuh pasal, yaitu Pasal 46, 47, 47A, 48 ayat (1), 49, 50, dan Pasal 50A. Sementara itu, tindak pidan perbankan dengan kategori pelanggaran dengan sanksi pidana yang lebih ringan daripada tindak pidana yang digolongkan sebagai kejahatan, terdiri dari satu pasal, yaitu Pasal 48 ayat (2). Penggolongan tindak pidana perbankan ke dalam kejahatan didasarkan pada pengenaan ancaman hukuman yang lebih berat dibandingkan dengan pelanggaran.56
56 https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Documents/Pages/Buku-Pahami-dan-Hindari-Tindak-Pidana-Perbankan/ diakses pada tanggal 17 September 2018 pukul 20:00.
B. Kedudukan Penyidik OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dalam Sistem