ANALISA DAN INTERPRETASI
IV. B. Interpretasi Data Responden A
Frankl (2000) mengatakan penghayatan dari sebuah masalah dapat menjelma menjadi berbagai upaya kompensasi dan kehendak yang berlebihan untuk berkuasa dan bersenang-senang. Responden A melakukan upaya tersebut dengan cara mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Perilaku dan kehendak berlebihan ini merupakan bentuk lain dari kegagalan menghayati hidup yang bermakna dan dapat menghalangi individu untuk berusaha menghayati makna hidupnya.
Penderitaan yang dialami responden A setelah menjadi pecandu alkohol adalah ketika sahabat yang dahulu selalu bersama meninggalkan dirinya karena kebiasaan buruknya yaitu mengkonsumsi minuman beralkohol. Responden A berubah dalam hal sikap, sikap responden A terhadap sahabatnya berubah menjadi tidak menyenangkan. Saat-saat dimana responden A ditinggalkan oleh
sahabat-sahabat yang ia sayangi merupakan penderitaan yang dirasakan oleh responden A. Tahap derita (Bastaman, 1996) adalah tahap dimana individu mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan dalam hidup dan dapat menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, bosan dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup
Faktor lain yang terdapat dalam diri responden A yang juga mempengaruhi seseorang dapat berubah menjadi seorang pecandu alkohol antara lain seperti komunikasi yang sangat jarang terjadi di antara anggota keluarga. Ditambah lagi dengan hadirnya perasaan hampa dan kebosanan yang sering kali dirasakan oleh responden A, dilampiaskan dengan cara mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
Salah satu cara untuk meraih makna hidup yang dapat ditempuh oleh seseorang adalah dengan mengenal manusia lain dengan segala keunikannya atau dengan kata lain dapat disebut dengan cinta. Cinta merupakan satu-satunya cara manusia memahami manusia lain sampai pada pribadinya yang paling dalam. Orang yang mencintai dapat membantu orang yang dicintai untuk mewujudkan potensi yang dimiliki (Frankl, 2004). Responden A tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang utuh dalam dirinya. Responden A tidak mendapat kasih sayang dari orang tua dan anggota keluarga lainnya seperti yang diharapkan. Hal ini membuat responden A tidak mendapat bantuan untuk mewujudkan potensi yang dimiliki, dan menghambat responden A untuk meraih sebuah makna dalam hidupnya.
Kehampaan yang dialami oleh responden A dalam hari-harinya disebut dengan kehampaan eksistensial. Kehampaan eksistensial tersebut terutama
tercermin dalam bentuk rasa bosan. Fenomena berbentuk depresi, agresi dan kecanduan sulit dipahami sebelum kita dapat memahami kehampaan hidup yang mendasarinya. Kehampaan eksistensial tersebut seringkali muncul dalam bentuk-bentuk yang terselubung. Gambaran tentang adanya kecemasan eksistensial ini dapat dilihat pada kecenderungan untuk hidup demi kepuasan sesaat, penggunaan alkohol, narkotika, hidup hura-hura berpesta pora, pergaulan bebas, sampai seks bebas, kegairahan yang besar pada unsur-unsur fisik (hedonisme) merupakan bukti adanya krisis kebermaknaan hidup. Pemuasan pada kepuasan sementara hanya merupakan penambal pada kekosongan dan kebosanan yang berakar dari ketiadaan makna (Abidin, 2002). Terhambatnya keinginan untuk mencari makna hidup berubah menjadi keinginan untuk mencari kesenangan seperti mengkonsumsi minuman beralkohol (Bastaman, 2007).
Masa dimana responden A mulai terjerumus untuk mengkonsumsi dan akhirnya menjadi seorang pecandu minuman beralkohol seperti yang telah diuraikan di atas merupakan tahap derita bagi responden A. Dimana dalam tahap ini, responden A mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan sehingga merasa hidupnya tidak bermakna. Hal ini dikatakan oleh Bastaman (1996), ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup serta bosan dan apatis.
Responden A sudah melalui tahap kedua dari tahapan penemuan makna hidup (Bastaman, 1996) yaitu tahap penerimaan diri. Dalam tahap ini individu mendapat pemahaman diri dan terdorong untuk mengubah sikap. Responden A menyadari dan memahami keadaan dirinya sebagai pecandu alkohol, walaupun
belum memikirkan resiko-resiko yang dapat muncul akibat kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol.
Komponen perubahan sikap dalam tahap ini belum dapat direalisasikan secara sempurna oleh responden A. Proses perubahan sikap yang dilakukan responden A diawali dengan hadirnya niat untuk berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol. Niat yang muncul dalam diri responden A belum dapat diwujudkan dengan sempurna saat ini. Responden A masih mengkonsumsi minuman beralkohol bahkan dalam kuantitas yang banyak dan masih dapat dikategorikan sebagai seorang pecandu alkohol. Perubahan sikap yang telah diperbuat oleh responden A belum sempurna keadaannya.
Perubahan sikap dalam menjalin persahabatan dengan sahabat-sahabat yang telah meninggalkan responden A juga dilakukan. Responden A memberanikan diri untuk menghubungi para sahabatnya dan meminta maaf atas kesalahannya terdahulu.
Selain itu perubahan sikap yang lebih konkrit yang dilakukan oleh responden A adalah melakukan kewajibannya dalam hal pendidikan dan akan secepatnya menyelesaikan masa kuliahnya. Perubahan sikap dalam hal ibadah juga dilakukan oleh responden A. Responden A menyadari akan perubahan sikapnya dalam hal ibadah yang saat ini lebih sering dilakukan jika dibandingkan sebelumnya. Responden A melakukan perubahan sikap tersebut sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan hidupnya yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Tahap ketiga dari tahap penemuan makna hidup yang dikemukakan oleh Bastaman (1996) yaitu tahap penemuan makna hidup. Tahap ini ditandai dengan
penyadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting dalam hidupnya. Hal-hal yang dianggap berharga dan penting itu dapat berupa nilai-nilai kreatif, penghayatan dan bersikap. Responden A menerapkan nilai kreatif dalam hidupnya saat ini. Nilai kreatif yang dimiliki responden A adalah saat responden A tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak dan pelajar untuk menjalani proses pendidikannya di bangku kuliah dan berusaha menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin. Responden A tetap memaksakan diri untuk datang menghadiri perkuliahan walaupun dalam keadaan yang tidak kondusif untuk menjalani perkuliahan yang disebabkan oleh kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol pada malam harinya.
Nilai kreatif lainnya ditunjukkan oleh responden A dengan cara ikut bekerja dengan salah satu perusahaan temannya yang bergerak di bidang event organizer. Responden A merasa menghabiskan waktu dengan cara yang positif seperti bekerja sebagai freelancer dalam perusahaan event organizer milik temannya, akan membuat ia tidak memiliki waktu luang yang penuh dengan kebosanan dan kehampaan yang dapat membuatnya kembali mengkonsumsi minuman beralkohol. Walaupun begitu, hal ini tidak dilakukan responden A setiap saat, karena responden A hanya bekerja sebagai freelancer, dimana tidak setiap hari bekerja, hanya pada waktu-waktu tertentu ketika perusahaannya mengadakan sebuah acara
Nilai bersikap memberi kesempatan kepada individu untuk mengambil sikap yang tepat terhadap kondisi dan peristiwa tragis yang telah terjadi dan tidak dapat dihindari lagi. Nilai bersikap yang dimiliki oleh responden A adalah adanya niat untuk berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol. Niat ini muncul
disebabkan karena responden A menyaksikan di depan mata peristiwa tragis yang dialami teman laki-lakinya ketika sedang menggelepar hingga tidak sadarkan diri akibat dari terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol. Saat itu responden A merasa bersyukur karena dirinya masih diberi kesempatan untuk hidup dan tidak merasakan yang dialami oleh temannya. Keinginan responden A untuk berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol memang belum dapat direalisasikan hingga saat ini, tetapi paling tidak ia melakukan usaha untuk berhenti minum minuman beralkohol. Usaha nyata yang dilakukan oleh responden A adalah melakukan kegiatan positif seperti bekerja di perusahaan temannya.
Pengembangan pribadi dan proses meraih hidup bermakna tidak mudah sehingga perlu dukungan sekitarnya. Lingkungan dan dukungan sosial, terutama dukungan dari orang-orang terdekat (Bastaman, 2007). Dukungan sosial yang dari orang terdekat yaitu keluarga, tidak didapatkan oleh responden A. Hal ini disebabkan karena orang tua tidak mengetahui keadaan dan keseharian responden A sebagai pecandu minuman beralkohol. Responden A mendapat dukungan sosial dari teman dekat dan pacar. Nasihat dan ajakan agar mengurangi mengkonsumsi minuman beralkohol hingga larangan untuk mengkonsumsi minuman beralkohol selalu diberi oleh pacar dan teman-teman dekatnya.
Responden A menjalani beberapa metode untuk menemukan makna hidup yang dikemukakan oleh Bastaman (1996). Metode yang dilakukan oleh responden A antara lain pemahaman pribadi, bertindak porsitif dan ibadah. Pada metode pemahaman diri, responden A mengenali keunggulan dan kelemahan pribadi serta kondisi lingkungannya. Metode pemahaman pribadi responden A, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, responden A menyadari dan memahami keadaan
dirinya sebagai seorang pecandu alkohol. Begitu pula dengan lingkungan sosialnya khususnya teman-teman dekatnya yang memahami dan menerima keadaan diri responden A sebagai seorang pecandu alkohol.
Metode selanjutnya adalah bertindak positif. Responden A melakukan metode ini dengan cara ikut bekerja di sebuah perusahaan milik temannya sebagai upaya untuk menghindari mengkonsumsi minuman beralkohol. Upaya ini belum sepenuhnya berhasil karena niat yang belum begitu kuat dari dalam diri responden A.
Ibadah adalah salah satu metode yang dilakukan oleh responden A untuk menemukan makna hidup. Saat ini responden A mengaku bahwa frekuensi dirinya untuk melakukan ibadah saat ini lebih sering dibandingkan sebelumnya. Metode lain yang dikemukakan oleh Bastaman (1996) untuk menemukan makna hidup yang belum dilakukan oleh responden A antara lain adalah pengakraban hubungan dan pendalaman tri nilai (nilai penghayatan, bersikap dan kreatif).
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa responden A masih berada pada tahap ketiga yaitu tahap penemuan makna hidup, dimana responden A masih belum memiliki ketiga sumber makna hidup secara utuh.
Tabel 4.1. Kesimpulan analisis dan interpretasi data responden A berdasarkan tahap-tahap penemuan makna hidup
Analisis Data Responden A Teori
Tahap Derita
Responden merasakan perasaan hampa karena ditinggalkan oleh sahabat yang disayangi akibat dari kebiasaan responden A mengkonsumsi minuman beralkohol. Responden A merasa semakin berkurang orang yang dapat
menyayangi dirinya.
Tahap derita (Bastaman, 1996) adalah tahap dimana individu mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan dalam hidup dan dapat menimbulkan penghayatan hidup tanpa makna yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, apatis, bosan dan merasa tidak lagi memiliki tujuan hidup Penghayatan tak bermakna:
Perasaan hampa yang merupakan pengalaman tidak menyenangkan
menjelma menjadi berbagai upaya kompensasi dan kehendak yang berlebihan untuk bersenang-senang mencari kenikmatan. Mencari kenikmatan tersebut dilakukan responden A dengan cara mengkonsumsi minuman beralkohol secara
berlebihan.
Terhambatnya keinginan untuk mencari makna hidup berubah menjadi keinginan untuk mencari kesenangan (Bastaman, 2007)
Analisis Data Responden A Teori
Tahap Penerimaan Diri
Diri : Responden A saat ini dapat lebih menerima kenyataan dan keadaan keluarganya yang tidak dapat memberikan kasih sayang kepada dirinya dan alasan mengapa sahabat-sahabatnya meninggalkan dirinya dulu. Responden A juga menyadari dan
memahami keadaan dirinya sebagai pecandu alkohol, walaupun belum
memikirkan resiko-resiko yang dapat muncul akibat kebiasaannya
mengkonsumsi minuman beralkohol.
Tahap penerimaan diri (Bastaman, 1996) adalah tahap dimana individu mendapat pemahaman akan keadaan diri dan terdorong untuk merubah sikap Perubahan sikap : masih
dalam bentuk niat untuk berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol, belum diwujudkan dalam sikap yang nyata.
Perubahan sikap responden A terhadap sahabatnya dulu adalah mencoba menjalin persahabatan kembali dan merubah sikap menjadi lebih menyenangkan terhadap orang lain.
Analisis Data Responden A Teori
Tahap Penemuan Makna Hidup
Nilai bersikap : adanya niat yang muncul dalam diri responden A untuk berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol karena rasa takut mengalami hal yang sama ketika menyaksikan temannya tidak sadarkan diri yang disebabkan karena kelebihan mengkonsumsi minuman beralkohol. Tahap penemuan makna hidup (Bastaman, 2007).Tahap ini ditandai dengan kesadaran individu akan nilai-nilai berharga yang sangat penting
dalam hidupnya. Hal-hal yang dianggap berharga dan penting itu dapat berupa nilai kreatif, nilai
penghayatan dan nilai bersikap. Nilai bersikap : pengambilan sikap yang tepat terhadap kondisi dan peristiwa yang terjadi. Nilai kreatif : berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Nilai kreatif : responden A
tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak dan pelajar untuk menjalani proses pendidikannya di bangku kuliah dan berusaha menyelesaikan
pendidikannya secepat mungkin. Responden A juga bekerja sebagai freelancer di sebuah
perusahaan event organizer milik temannya sebagai upaya untuk menghindari kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol. Namun, kebiasaan ini masih saja terulang karena niat yang belum begitu kuat dalam diri responden A dan tidak bekerja setiap hari.
Tabel 4.2. Kesimpulan analisis dan interpretasi data responden A berdasarkan metode menemukan makna hidup
Analisis Data Responden A Teori
Pemahaman Pribadi
Responden A mengenali keunggulan dan kelemahan pribadi serta kondisi lingkungannya. Responden A menyadari dan
memahami keadaan dirinya sebagai seorang pecandu alkohol.
Metode ini pada dasarnya membantu memperluas dan mendalami beberapa aspek kepribadian dan corak kehidupan seseorang (Bastaman, 1996)
Bertindak Positif
Responden A ikut bekerja dengan sebuah perusahaan milik temannya sebagai upaya untuk menghindari mengkonsumsi minuman beralkohol
Metode ini menekankan pada tindakan nyata yang mencerminkan pikiran dan sikap yang baik dan positif (Bastaman, 1996) Pengakraban Hubungan Responden A menjalin persahabatan kembali dengan sahabat-sahabatnya yang dulu meninggalkannya karena kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol
Metode ini menganjurkan agar seseorang membina hubungan yang akrab dengan orang tertentu seperti anggota keluarga, teman ataupun rekan kerja (Bastaman 1996).
Ibadah
Responden A mengaku bahwa frekuensi dirinya untuk melakukan ibadah saat ini lebih sering dibandingkan sebelumnya
Metode ibadah yang dimaksud adalah menjalankan ibadah dengan khidmat agar menimbulkan perasaan tentram, mantap dan tabah serta menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dalam melakukan tindakan-tindakan penting (Bastaman, 1996)
IV.C. Analisa Kasus Responden B IV.C.1. Biodata Responden B
Tanggal wawancara : 29 Agustus 2008 Lokasi wawancara : Rumah responden B Nama : Responden B
Umur : 27 tahun
Lama mengkonsumsi alkohol : 4 tahun Jenis kelamin : Wanita
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status : Belum menikah
Pekerjaan : Marketing di perusahaan telekomunikasi Berdomisili : M