• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN INTERPRETASI

IV. C.2. Gambaran Diri Responden B

Responden B adalah seorang wanita berusia 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta di M sebagai marketing komunikasi. Responden B menyelesaikan studinya di Y pada tahun 2004. Kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan advertising di J pada tahun yang sama. Responden B juga pernah bekerja di sebuah stasiun televisi lokal di J.

Peneliti mengenal responden B dari teman kantor responden B yang juga teman peneliti. Pertemuan pertama peneliti dengan responden B juga ditemani oleh teman peneliti yang terjadi di sebuah restoran yang ada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Medan. Pertemuan pertama dilakukan pada sore hari pukul

17.30 wib, setelah responden B dan teman peneliti selesai bekerja di tempat berkerja masing-masing. Tujuan pertemuan pertama ini dilakukan adalah agar peneliti dapat melakukan rapport terhadap responden B.

Awal pertemuan pertama ini berlangsung lancar dan suasana sudah mulai akrab. Ketika peneliti menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan ini, responden B awalnya memperlihatkan sikap menolak untuk dijadikan responden dalam penelitian ini. Setelah peneliti menjelaskan lagi mengenai maksud dan tujuan penelitian ini, serta dibantu oleh teman peneliti akhirnya responden B bersedia untuk dijadikan responden dalam penelitian ini. Akhir pertemuan peneliti dan responden B mengatur jadwal selanjutnya untuk pertemuan kedua.

Pertemuan kedua peneliti dengan responden B berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2008 pukul 19.30 wib di sebuah restoran di jalan Imam Bonjol, Medan. Sebelum memulai wawancara, peneliti menanyakan kembali mengenai kesedian responden B untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Responden B menyatakan bersedia.

Wawancara peneliti dengan responden B awalnya terjadi dengan banyak candaan atau gurauan dari responden B. Suasana wawancara cepat mencair dan pembicaraan berjalan lancar. Responden B menceritakan bagaimana awal cerita ia mengkonsumsi minuman beralkohol hingga menjadi pecandu. Cerita mengenai alasan responden B menjadi pecandu alkohol dan kehidupan sehari-hari responden B sebagai pecandu alkohol di lingkungan sosialnya. Responden B juga menceritakan bagaimana ia melihat kehidupannya saat ini, kebahagiaan seperti apa yang dirasakannya dan tujuan hidup yang masih ingin dicapai.

Responden B berdomisili di Medan sejak tahun 2007, dan tinggal di sebuah rumah sewa tidak bersama dengan keluarganya namun bersama kedua orang temannya. Responden B bersama teman-temannya memiliki kebiasaan meminum minuman beralkohol setiap hari. Minuman beralkohol yang selalu tersedia di dalam rumah adalah bir.

Responden B adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik pertama responden B berusia 20 tahun, perempuan dan sedang duduk di bangku kuliah di Yogyakarta. Adik bungsu responden B saat ini sedang duduk di bangku sekolah kelas 3 SMU. Prahara perceraian orang tua adalah salah satu alasan yang menyebabkan responden B menjadi seorang pecandu alkohol. Orang tua responden B bercerai sekitar tahun 2004, papanya saat ini sudah menikah lagi dan memiliki keluarga baru. Walaupun sudah memiliki keluarga baru, hubungan responden B dengan papanya tetap baik yang terlihat dari komunikasi yang terjalin cukup baik. Mama responden B tinggal bersama adik-adiknya di Yogyakarta. Hubungan responden B dengan mama dan adik-adiknya sangat dekat seperti hubungan antara teman. Mama responden B sangat mengetahui bagaimana keseharian setiap anak-anaknya.

Responden B mengenal pertama kali mengenal minuman beralkohol bukan dari pergaulan melainkan dari orang tuanya sendiri. Orang tua responden B juga merupakan seorang pecandu alkohol. Keinginan untuk menjadi pecandu alkohol atau bahkan mencoba minuman beralkohol awalnya tidak dalam benak responden B. Banyaknya persoalan yang dihadapi responden B serta pergaulan yang mendukung yang akhirnya membuat responden B mulai terjerumus ke dalam kebiasaan minum minuman beralkohol.

Kepribadian responden B adalah seorang wanita yang pernah mau untuk tergantung dengan orang lain, seorang wanita yang terbiasa melakukan segala sesuatu baik pekerjaan maupun hal lainnya seorang diri (hyper femininity). Dalam menghadapi masalah, responden B termasuk orang yang cepat merasa putus asa dan memiliki ambang rasa frustrasi yang rendah. Sebab responden B tidak terbiasa untuk membagi masalahnya dengan orang lain walaupun dengan orang terdekat sekalipun. Responden B hanya ingin berbagi cerita mengenai hal-hal yang menyenangkan saja. Jika sedang menghadapi masalah, responden B menyimpannya, memikirkannya dan menyelesaikannya sendiri.

Penyakit yang pernah dialami responden B akibat dari minuman beralkohol adalah penyakit liver. Sejak mengalami penyakit liver, kadang-kadang muncul niat dalam diri responden B untuk berhenti atau paling tidak mengurangi aktivitas minum minuman beralkohol.

IV.C.3. Tahapan Penemuan Makna Hidup pada Responden B IV.C.3.a. Tahap Derita

Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami oleh responden B setelah menjadi pecandu alkohol adalah saat ia kehilangan sebuah proyek ketika ia masih bekerja di kota J. Ia kehilangan proyek yang bernilai ratusan juta akibat dari kelalaian responden B dan tidak tanggung jawab terhadap pekerjaannya. Responden B hampir kehilangan pekerjaan saat itu. Hal ini merupakan salah satu pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami responden B akibat dari kecanduan alkohol.

”Sejak sering minum-minum, memang banyak yang bilang ke aku seleboran soal pekerjaan. Aku sama sekali gak tanggung jawab. Sampe

akhirnya, waktu itu aku baru minum-minum bareng temen-temenku malamnya, padahal besoknya itu aku ada meeting penting buat approval proyek. Aku datang udah lah telat, terus ntah apa aja gitu yang aku omongin, ngawur lah intinya. Alhasil, lepas deh proyeknya. Hampir aja tu hilang kerjaan gara-gara itu.”

Penderitaan lain yang dialami oleh responden B adalah kehilangan kekasih yang saat itu hampir melamarnya. Kekasih responden B pergi karena keluarga besarnya tidak menyetujui pernikahan yang akan dilakukan. Keluarga dari kekasih responden B mengetahui keadaan diri responden B yang merupakan seorang pecandu alkohol dan juga memiliki sejarah pecandu alkohol dalam keluarganya.

”Yang paling sedih sampe bikin aku drop sih waktu calonku ninggalin aku. Padahal kita udah ngerencanain pernikahan, emang sih belum sampe ketemu kedua pihak keluarga, tapi kita udah ngerancang-rancang. Gara-garanya, keluarga dia ada yang tahu kebiasaan aku minum, tambah lagi tahu kalau keluarga ku juga tadinya peminum. Gitu deh...”

Kejadian ditinggalkan oleh kekasihnya, responden B merasakan kehampaan dan membuat dirinya semakin terpuruk dalam kebiasaannya mecandu minuman beralkohol.

”Habis kejadian itu, aku makin sering minum, makin kacau. Makin apa ya, ilang arah. Rasanya emang bener-bener down, kehilangan orang yang kita cintai, yang udah dimimpiin bakalan hidup sama. Tapi mau gimana lagi.”

IV.C.3.b. Tahap Penerimaan Diri

Kehadiran keluarga dan teman-teman membuat responden B akhirnya dapat menerima kenyataan bahwa ia tidak mungkin lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya yang sudah pergi meninggalkannya. Responden B mulai dapat menghadapi hari seperti layaknya orang yang memiliki tujuan hidup.

”Yang nolong aku saat itu, keluarga ku yang pasti. Walaupun mereka gak ada di J, tapi mereka setiap hari setiap menit selalu telfon aku, nanyain keadaan aku. Tambah lagi ada temen-temen yang selalu nemenin aku.

Mungkin kalau gak ada mereka ntah apa jadinya aku gara-gara kejadian itu. Tapi yah, itu kan gara-gara aku sendiri juga.”

Responden B sadar dirinya seorang pecandu minuman beralkohol dan pernah mengalami salah satu penyakit yaitu penyakit liver yang merupakan akibat dari pengkonsumsian minuman beralkohol. Responden B sadar betul mengenai keadaan dirinya yang tidak bisa lepas dari minuman beralkohol khususnya dalam hal ini minuman kaleng bir. Responden B juga menerima kosekuensi penyakit yang dapat ditimbulkan oleh minuman beralkohol dan berharap agar ia tidak mengalami efek buruk lainnya.

”Ya, aku sadar sesadar-sadarnya kok kalo aku pecandu alkohol, dan terima kalau dibilang pecandu alkohol.”

(Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

”Aku tau resikonya, banyak juga kok yang aku tahu. Gak usah jauh-jauh, liver, aku sendiri udah ngalamin. Terus kalau soal bisa bikin kandungan atau soal kesuburan itu juga aku tahu sih, tapi mungkin karena belum ngerasain ya makanya aku juga gak kebayang sampe sekarang. Sebatas informasi yang kayak gitu aku cukup tahu. Tapi gimana ya..bukan gak mau sembuh aku, tapi udah kayak minum air putih aja tu di rumah.”

(Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

”Jadi aku terima kenyataan, bahwa aku butuh bir kayak orang liat air putih, dan resiko yang mungkin bisa kena ke aku, kayak liver yah mau gak mau kita terima. Paling berusaha dan berharap bisa sembuh aja.”

(Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

Keadaan keluarga responden B yang juga mengkonsumsi minuman beralkohol menjadi alasan untuk menerima keadaan responden B sebagai pecandu alkohol. Keluarga responden B, baik orang tua maupun adik-adiknya mengetahui dan menyadari keadaan diri responden B yang sebagai pecandu alkohol. Ibu responden B khususnya merupakan orang yang paling tahu mengenai keseharian

dan kebiasaan responden B. Hubungan responden B dengan ibunya sangat dekat seperti seorang teman.

Deket…deket banget malahan. Aku sama mamaku tu kayak temen, aku juga deket ama adik-adikku. Aku sering kok cerita sama mereka hari-hari aku gimana di sini, kalau aku balik ke sana juga kita pasti ceritaaa melulu. (Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

Maksudnya ngindar dari aku gitu? Yah gak mungkin…hehehe… Mereka tau kok, kenapa aku bisa jadi kek gini juga mereka tau. Mama ku sering ngebilangin ke aku, sering nasehatin lah, gak usah minum lagi, atau gitu-gitu lah.. Akunya sih bukan gak mau nurutin kata orang tua, tapi gimana...? Masih kepengen aja tiap hari, aneh aja gitu kalo gak minum. (Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

Teman-teman responden B juga dapat mengetahui dan menerima keadaan diri responden B yang seorang pecandu minuman beralkohol.

”Mmm…dari perlakuan mereka ke aku. Mereka gak masalah berteman dengan aku yang pecandu, selama aku gak buat masalah sama mereka. Hubungan aku ama temen-temenku sekarang juga baik-baik aja, lagi gak ada musuh. Hehehe… Gitu juga ama keluarga, yg secara orang tua ku juga tadinya peminum, jadi gak ada musingin kepala deh. Semuanya terimo-terimo wae.”

(Subjek I/L.../Lampiran A/Hal...)

Perubahan sikap yang dilakukan oleh responden B terhadap penderitaan terdahulu adalah dapat melewati masa-masa yang tidak menyenangkan tersebut dengan cara mampu mengatasi pekerjaannya dengan baik. Responden B menjadi orang yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya.

”Kejadian yang kehilangan proyek itu, suatu pukulan yang keras yah ke aku. Gila aja, gara-gara aku, kantor rugi. Kan gak enak, hampir kehilangan kerjaan lagi aku tu. Habis masa itu, aku janji ama diri aku sendiri untuk menjadi lebih bertanggung jawab, baik soal kerjaan ataupun yang lainnya. Prinsipnya, boleh seneng-seneng tapi inget tanggung jawab. Itu aja.”

Perubahan sikap yang dilakukan oleh responden B antara lain adanya niat untuk mengurangi kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol. Niat ini

berawal ketika responden B mengalami sakit liver yang diakibatkan oleh minuman beralkohol. Responden B mencoba untuk menyibukkan diri di luar rumah agar sesampai di rumah langsung istirahat dan tidak minum bir.

”Bukan gak mau, cuman belum…aku masih coba ngurangin. Sama coba sibukin diri aja diluar rumah…hehehe…iya, aku biasanya klo lagi dateng niat baeknya ni, aku males cepat pulang ke rumah, soalnya di rumah kan emang ada stoknya, daripada aku pulang terus sikit sikit minum, bagusan aku lama aja pulang, biar sampe rumah tinggal tidur, kecapean. Tapi keluyurannya ke tempat yang jelas-jelas gak ada minumannya ya. Hahaha… kalo gak kan sama aja. Jadi nongkrong di mana kek, di resto atau MW. Rame-rame, jadi gak kerasa waktunya.”

(Subjek II/L... – L.../Lampiran A/Hal...)

Perubahan sikap lain yang dilakukan oleh responden B adalah dalam hal ibadah. Ibadah yang dilakukan responden B saat ini lebih banyak dan sering dibandingkan sebelumnya. Perubahan sikap responden B ini didukung oleh lingkungan kerjanya, dimana di perusahaan tempat responden B bekerja terdapat kegiatan rutin pengajian yang mengharuskan karyawan ikut serta. Ibadah sholat juga selalu dikerjakan oleh responden B khususnya saat-saat sedang di dalam kantor karena responden B merasa segan jika tidak sholat sedangkan semua teman kerjanya melaksanakan ibadah sholat.

”Iya, sholat…udah lumayan sering aku sholat sekarang dibandingin jaman dulu. Soalnya udah mulai kebayang banyak banget ya dosaku..hehehe…bawaan umur kali ya..”

(Subjek II/L.../Lampiran A/Hal...)

”Kayak yang aku bilang tadi itu. Yah, jauh lebih baik sekarang lah dibandingin waktu aku di Jakarta, disini kebetulan di kantor ada kegiatan rutin sebulan sekali kayak pengajian. Mau gak mau kita ikut kan pegawai. Lagian isinya juga temen-temen semua, rame-rame. Yah itung-itung nambah temen yg jalannya lurus lah. Hehehe... Trus sholat juga, alhamdulillah, tapi masih bolong-bolong. Yang gak bolong yang jam kantor, soalnya di kantor segen aja gitu kita gak sholat yang laen pada sholat. Sisanya yah kadang-kadang suka bolong juga. Hahaha...”

IV.C.3.c. Tahap Penemuan Makna Hidup IV.C.3.c.(1). Nilai Kreatif

Responden B sangat ingin untuk membahagiakan keluarga. Menyadari ketidakmampuan diri untuk mewujudkan keinginan orang tua agar berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol, responden B melakukan nilai kreatif yaitu dengan membantu keuangan keluarga. Cara responden B membantu keungan keluarga adalah dengan bekerja sebaik mungkin dan merasa senang dengan pekerjaannya. Nilai kreatif dalam hal ini adalah bekerja dengan baik untuk membantu orang-orang yang sangat disayangi.

”Aku bekerja mati-matian , aku suka dengan pekerjaanku. Dan mencoba untuk mengurangi hal-hal yang negatif yang pernah aku kerjain dulu-dulu. Aku walau gak banyak, tapi membantu keuangan keluarga, dan bisa nyenengin keluargaku di sana. Aku juga sudah mulai mengurangi porsi minumku kan…walaupun masih tiap hari, tapi udah banyak aku kurangi porsinya. Mudah-mudahan aja bisa berhenti, kapan gitu. Hahaha...”

(Subjek II/L.../Lampiran A/Hal...)

IV.C.3.c.(2). Nilai Bersikap

Saat ini responden B seharusnya sudah tidak mengkonsumsi minuman beralkohol lagi dikarenakan penyakit liver yang pernah dialaminya. Responden B belum mampu untuk meninggalkan kebiasaannya meminum minuman beralkohol. Sikap terbaik yang dapat dilakukan oleh responden B saat ini dalam hal menyikapi penyakit liver yang pernah dideritanya adalah dengan cara mencoba mengurangi frekuensi maupun kuantitas mengkonsumsi minuman beralkohol setiap hari. Responden B menyadari bahwa dirinya tidak mampu untuk benar-benar menghilangkan kebiasaan buruknya tersebut. Saat ini responden B setiap harinya masih mengkonsumsi minuman bir baik di rumah maupun ketika sedang di luar rumah, namun niat untuk mengurangi minum minuman beralkohol

kadang-kadang muncul dalam benak responden B. Cara responden menyikapi niat itu salah satunya dengan mengisi waktu dengan kegiatan yang dapat menghabiskan banyak waktu. Misalnya dengan berkumpul dengan teman-temannya untuk sekedar jalan-jalan atau makan malam di tempat makan yang sedikit kemungkinan menjual minuman beralkohol. Sehingga setiba di rumah responden B dapat langsung istirahat.

Nilai bersikap juga terlihat jelas dan nyata ketika responden B berjanji pada dirinya untuk lebih tanggung jawab dalam hidupnya baik masalah pekerjaan maupun hal lainnya.

Selain itu responden B juga aktif mengikuti pengajian di tempat ia bekerja sebulan sekali, sebagai salah satu upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan memahami soal agama.

Iya…sejauh ini sih aku masih ikut terus tiap bulan. Lumayan lah daripada aku gak tau sama sekali soal agama, paling gak mencoba untuk lebih memahami ama mendekatkan diri ke Tuhan… Ya kan??

(Subjek II/L.../Lampiran A/Hal...)

IV.C.3.c.(3). Nilai Penghayatan

Pengalaman dengan penyakit liver yang pernah diderita membuat responden B menyadari kesalahan yang dilakukannya. Responden B menyadari masih memiliki kesempatan untuk merubah kebiasaannya mengkonsumsi minuman beralkohol atau berhenti menjadi pecandu alkohol.

Rasa cinta dan kasih sayang yang diterima dan diberikan oleh responden B terhadap keluarga menimbulkan rasa bahagia dan ketentraman pada diri responden B. Menikmati dan mencintai pekerjaan juga salah satu upaya responden B untuk menghayati hidupnya.

”Bahagia. Aku saat ini bisa dibilang lagi dalam puncak-puncaknya, baik karirku maupun kehidupan pribadi. Semuanya lagi bagus-bagusnya. Aku punya keluarga dan temen-temen yang sayang sama aku. Aku juga gitu, sayang sama mereka semua.Lagi banyak temen. Kerjaan alhamdulillah, aku seneng sama kerjaanku, mudah-mudahan lancarlah karir ku disini. Hehehe.... ya gitulah. Aku rasanya bahagia kok.”

(Subjek II/L.../Lampiran A/Hal...)

Dokumen terkait