• Tidak ada hasil yang ditemukan

B Proses Pembuatan Peraturan Perundang Undangan Nasional

Dalam dokumen smp8pkn PKnMenumbuhkanNasionalisme Lukman (Halaman 78-82)

Kamu tentu pernah melaksanakan musyawarah kelas yang ber tujuan menentukan ketua kelas, seksi-seksi, dan penentuan petugas piket. Sebelum musyawarah dimulai, kamu menentukan terlebih dahulu siapa yang memimpin musyawarah. Setelah itu, pemimpin musyawarah memimpin jalannya rapat dengan aturan yang telah disepakati bersama. Setelah keputusan musyawarah diperoleh maka pimpinan musyawarah akhirnya menentukan keputusan musya warah kelas yang harus didukung dan dilaksanakan bersama.

Pengalaman kamu tersebut merupakan gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah peraturan dibuat. Artinya, peraturan tidak boleh dibuat seenaknya saja, tetapi peraturan itu harus dibuat dengan proses yang baik dan berisi tentang hal-hal baik sehingga per aturan tersebut dapat didukung dan dilaksanakan oleh semua orang.

Z

O O M

1. Ketetapan MPR 2. Perpu

Dalam sebuah kehidupan kenegaraan, peraturan perundang-undangan, seperti UUD 1945 sampai dengan peraturan daerah disusun oleh lembaga yang berwenang dengan proses pe nyusunan yang berbeda. Proses penyusunan peraturan per undang-undangan secara lebih jelas dapat kamu pelajari berikut.

1. Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945)

Pasal 3 ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa Majelis Per musyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan UUD. Hal ini menunjukkan bahwa yang berwenang mengubah dan me netapkan UUD adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Menurut Miriam Budiardjo (Pakar Ilmu Politik Indonesia), UUD 1945 memiliki kedudukan yang istimewa dibandingkan dengan undang-undang lainnya. Hal ini disebabkan hal berikut.

a) UUD dibentuk menurut suatu cara istimewa yang berbeda dengan pembentukan undang-undang biasa. b) UUD dibuat secara istimewa. Oleh karena itu,

dianggap sesuatu yang luhur.

c) UUD adalah piagam yang menyatakan cita-cita bangsa Indonesia dan merupakan dasar organisasi kenegaraan suatu bangsa.

d) UUD memuat garis besar tentang dasar dan tujuan negara.

MPR memiliki kewenangan untuk mengubah (Amandemen) UUD. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 dan Pasal 37 UUD 1945. Rancangan per ubahan UUD di persiapkan oleh Badan Pekerja Majelis. Rancangan tersebut kemudian dibawa ke sidang Paripurna Majelis untuk dibahas dan diambil keputusan. Jika diterima, sidang paripurna menetapkan dan mengesahkannya.

2. Ketetapan MPR (Tap MPR)

Ketetapan MPR adalah produk hukum yang di tetapkan oleh MPR dalam sidang umum. Produk hukum MPR ada dua macam, yaitu ketetapan dan keputusan.

a) Ketetapan

Produk hukum MPR yang berlaku, baik ke dalam anggota MPR atau ke luar anggota MPR. Maksudnya, ketetapan berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penyusunan peraturan perundang-undangan sering menimbulkan pro- kontra bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Coba kamu tuliskan rancangan undang- undang yang menjadi bahan pro-kontra di masyarakat. Laporkan hasilnya pada gurumu.

b) Keputusan

Produk hukum MPR yang hanya berlaku bagi anggota MPR.

Namun berdasarkan UU No. 10 Tahun 2004 ketetapan dan keputusan tersebut bukan termasuk dalam tata urutan perundang-undangan.

Proses pembuatan putusan majelis dilakukan melalui empat tingkat pembicaraan. Tingkat pem bicaraan tersebut, yaitu sebagai berikut.

a) Pembahasan Tingkat I

Pembahasan oleh Badan Pekerja Majelis terhadap bahan-bahan yang masuk dan hasil dari pem bahasan ini menjadi rancangan putusan majelis sebagai bahan pokok pembicaraan tingkat II.

b) Pembahasan Tingkat II

Pembahasan oleh Rapat Paripurna Majelis yang didahului oleh penjelasan pimpinan dan dilanjutkan dengan pemandangan umum fraksi-fraksi.

c) Pembahasan Tingkat III

Pembicaraan oleh Komisi atau Panitia Ad Hoc (Badan Istimewa yang dibentuk untuk menyelesaikan permasalahan yang bersifat kontemporer (sementara)) Majelis terhadap semua hasil pembicaraan tingkat I dan II. Hasil pembicaraan pada tingkat III ini menjadi Rancangan Putusan Majelis.

d) Pembahasan Tingkat IV

Pengambilan putusan oleh Rapat Paripurna Majelis setelah mendengar laporan dari Pimpinan Komisi atau Panitia Ad Hoc Majelis serta usulan atau pendapat dari fraksi-fraksi jika diperlukan.

Undang-Undang Dasar berbagai negara di dunia pada hakikatnya merupakan puncak-puncak konseptualiasi pemikiran, cita-cita dan tujuan bangsa yang bersangkutan, dilengkapi dengan landasan- landasan ideal, landasan struktural, dan landasan operasional pengelolaan kehidupan bangsa itu secara garis besar.

Sumber: Sendi-Sendi Hukum Tata Negara, 1996

CIVIC INFO

Sumber:www.gimonca.com

Gambar 3.5 Sidang MPR

MPR bersidang sedikitnya satu kali dalam lima tahun di ibu kota negara.

Gambar 3.6 Pelantikan Presiden Megawati

Suasana Pelantikan Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden RI ke-4.

Sumber: Tempo, 23 September 2001 MPR bersidang sedikitnya satu kali dalam lima tahun di ibu kota negara. Ketetapan MPR dapat dibuat dalam sidang umum (5 tahun sekali) atau dalam Sidang Tahunan. Jika ada kondisi yang memaksa, MPR dapat melaksanakan Sidang Istimewa. MPR ter catat pernah melaksanakan Sidang Istimewa ketika mem berhentikan Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian melantik Megawati Soekarno Putri menjadi Presiden.

Diskusikan dengan kelompok belajarmu mengenai hak inisiatif DPR. Apakah hak tersebut telah digunakan secara efektif? Presentasikan hasilnya di depan kelas.

Diskusi

3. Undang-Undang (UU) atau Perpu

Undang-undang merupakan peraturan perundangan yang dibuat untuk melaksanakan UUD 1945. Lembaga yang berwenang membentuk UU adalah Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden. Kriteria agar suatu masalah dapat diatur undang-undang adalah sebagai berikut.

a. UU dibentuk atas perintah ketentuan UUD 1945. b. UU dibentuk dalam rangka mencabut, mengubah, dan

menambah UU yang sudah ada.

c. UU dibentuk karena berkaitan dengan hak asasi manusia.

d. UU dibentuk karena berkaitan dengan kewajiban dan kepen tingan orang banyak.

Ada beberapa hak DPR yang berhubungan dengan pembuatan undang-undang. Hak DPR tersebut adalah sebagai berikut.

a. Hak inisiatif, yaitu hak DPR untuk mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU).

b. Hak Amandemen, yaitu hak DPR untuk mengadakan perubahan Rancangan Undang-Undang (RUU). c. Hak angket dan menyatakan pendapat.

d. Hak mengajukan pertanyaan, menyampaikan usulan serta hak imunitas.

e. Hak interpelasi, yaitu hak DPR untuk meminta keterangan mengenai kebijakan pemerintah di- bidang tertentu.

Dalam pembentukan undang-undang ini, presiden memiliki hak mengajukan Rancangan Undang-Undang (Pasal 5 ayat 1 UUD 1945). Di sisi lain, DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang yang disebut sebagai kekuasaan legislatif.

Secara garis besar, proses penyusunan peraturan perundang-undangan meliputi beberapa tahapan, yakni sebagai berikut.

a. Tahap Penyiapan Rancangan Undang-Undang

Dalam dokumen smp8pkn PKnMenumbuhkanNasionalisme Lukman (Halaman 78-82)