Gambar 1. Ilustrasi Penunjukan Tegakan Benih Teridentifikasi
C. Bahan dan Peralatan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Babo, Kabupaten Teluk Bintuni
Areal kerja IUPHHK-HA PT. TBMAK terletak dikelompok hutan Sungai Jarua, Kaitero dan Sekua. Berdasarkan geografis terletak pada koordinat 133º21´ s/d 134º52 BT dan 02º39´ s/d 03º08´19” LS.
Berdasarkan wilayah Administrasi Pemerintahan, termasuk ke dalam wilayah kerja Distrik Keitaro, Aroba dan Fafurwar, Kamimana dan Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, sedangkan berdasarkan administrasi kehutanan masuk dalam wilayah kerja Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kaimana, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat.
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, areal PT. TBMAK mempunyai tipe iklim A dengan nilai Q = 10 % (tanpa bulan kering). Data curah hujan selama 2 tahun (2008-2009) hasil pengukuran oleh PT. TBMAK, yaitu curah hujan bulanan berkisar antara 230,5 mm sampai 315 mm, hari hujan bulanan berkisar antara 8 hari sampai 17 hari dan curah hujan tahunan mencapai 3.260 mm/th.
Jenis Tanah Komplek Latosol-Podsolik Merah Kuning di wilayah ini merupakan jenis tanah yang berkembang lanjut dan mengalami pencucian yang lebih lanjut, serta memliliki horizon argilik. Umumnya jenis tanah ini bersifat masam (pH 4,0 – 5,0) dan kejenuhan basa serta mineral terlapukan yang rendah, kedalaman solum sedang, tekstur lempung berpasir sampai liat, tingkat kesuburan rendah sampai sedang. Secara kimia, jenis tanah ini memiliki kesuburan rendah.
Jenis tanah regosol di wilayah ini merupakan jenis tanah yang berkembang lanjut. Umumnya jenis tanah ini mempunyai tekstur berpasir, pasir lempung dan mempunyai tingkat kesuburan yang rendah.
Jenis tanah Aluvial di wilayah ini merupakan jenis tanah yang baru berkembang. Bahan penyusun tanah ini berupa bahan lepas, tanpa atau dengan perkembangan tanah
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 63
yang sangat lemah dan kemampuan menahan air yang rendah. Umumnya tanah ini terbentuk dari proses deposisi bahan dari bahan lainnya yang tererosi dan tersedimentasi di areal yang berlereng datar. Jenis tanah ini tergolong subur, dengan solum yang tergolong dalam, kandungan hara sedang sampai tinggi, tekstur lempung berpasir, pH tergolong agak masam sampai netral dan kurang peka terhadap erosi.
Penunjukan calon tegakan sumber benih merbau dan matoa di Babo ditetapkan di areal ASDG Petak 44 D areal IUPHHK PT Teluk Bintuni Mina Agro karya masing-masing seluas 100 ha dengan lebar jalur penyangga mengelilingi demplot.
Merbau
Jenis merbau diperoleh 90 kandidat pohon sumber benih. Hasil pengamatandan eksplorasi serta setelah dipetakan letak penyebaran calon pohon induk untuk jenis merbau (Instia sp), bahwa pohon induk pada demplot yang dibangun menyebar cukup merata kecuali pada bagian tenggara. Berdasarkan penilaian karakter pohon induk, pada demplot ini memiliki nilai tegakan pohon plus 84,04. Hasil analisis dengan program GIS pola sebar jenis merbau di Aroba-Babo dapat dilihat pada Gambar 5. Kandidat area ini setelah dilakukan dilineasi diketahui memiliki luas ± 100ha.
Gambar 5. Peta Sebaran Calon Pohon Induk Merbau di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni.
Matoa
Untuk jenis matoa (Pometia sp) di Babo juga memiliki pola penyebaran yang mirip dengan merbau, yaitu menyebar merata dan pada beberapa tempat berkelompok dalam kandidat areal kebun benih. Berdasarkan letak, antar calon pohon induk memiliki jarak yang cukup baik sama halnya dengan merbau. Hasil pengamatan dan eksplorasi di Bonggo diperoleh 128 kandidat pohon sumber benih. Berdasarkan penilaian karakter pohon induk, pada demplot ini memiliki nilai tegakan pohon plus 74,45. Hasil analisis dengan program GIS pola sebar jenis merbau di Babo dapat dilihat pada Gambar 6. Setelah dilakukan dilineasi diketahui kandidat area ini memiliki luas ± 100 ha.
64 –
BP2LHK ManokwariGambar 6. Peta Sebaran Calon Pohon Induk Matoa di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni.
Bintanggur atau Nyamplung
Selain merbau dan matoa juga dilakukan eksplorasi dan pengamatan jenis lain, yaitu jenis nyamplung (Calophyllum sp) kayu cina (Podocarpus sp). kayu cina merupakan salah satu jenis kayu kelompok kayu mewah, sedang nyamplung penghasil minyak disel yang sedang dikembangkan. Walaupun hanya diperoleh 23 dan 56 calon pohon induk, jenis ini memiliki profil calon pohon induk plus dengan nilai karakter calon pohon induk plus cukup baik yaitu 73,22 dan 72,79. Hasil analisis dengan program GIS pola sebar jenis merbau di Babo dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8.
Hasil penilaian secara lengkap calon pohon induk bintanggur atau nyamplung di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni disajikan pada Tabel 12.
Gambar 7. Peta Sebaran Calon Pohon Induk Bintanggur/Nyamplung di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 65
Kayu Cina
Gambar 8. Peta Sebaran Calon Pohon Induk Kayu Cina di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni
Asosiasi
Kondisi vegetasi hutan di Simei-Wasior termasuk tipe hutan hujan tropika dengan di dominasi jenis merbau (Intsia spp.), Matoa (Pometia spp.), pulai (Alstonia spp.), ketapang (Terminalia spp.), resak (Vatica rassak) dan vegetasi lainnya antara lain: rotan, bambu, semak dan sagu. Demikian juga kondisi vegetasi hutan di Babo termasuk tipe hutan hujan
tropika dan sebagian mangrove, merbau dan matoa berasosiasi dengan Alstonia
spp.,Suzygium sp, Myristica sp, Terminalia spp., Vatica sp dan vegetasi lainnya antara lain: rotan, bambu, semak dan sagu.
B. Pembahasan
Hasil pengamatan dan perngukuran dari 151 kandidat pohon pohon induk sumber benih jenis merbau (Instia spp) di Simei-Wasior dan Babo, menyebar cukup merata. Diameter setinggi dada (D1.3) berkisar antara 34 cm – 149 cm (rata-rata 76,35 cm) dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 12 m – 26 m (rata-rata 18,79 m). Sedangkan di Babo memiliki diameter rata-rata 69,96 cm (34 cm – 142 cm) dan Tinggi batang bebas cabang (TBBC) rata-rata 20, 64 m (10 m – 27 m).
Berdasarkan penilaian karakter pohon induk jenis merbau, pada demplot Simei-Wasior memiliki nilai tegakan pohon plus 87,50 dan di Babo memiliki nilai karakter calon pohon induk plus yang baik juga, yaitu 84,04. Berdasarkan penilaian karakter calon pohon induk dan luas tegakan kandidat area sumber benih Simei-Wasior memiliki luas ± 100 ha dan di Babo dengan luas 100 ha bisa dan layak dicalonkan sebagai kandidat TBT. Salah satu calon pohon induk benih merbau yang mempunyai karakter yang baik, seperti terlihat pada Gambar 9.
66 –
BP2LHK ManokwariGambar 9. Salah satu calon pohon induk benih merbau terpilih.
Untuk jenis matoa (Pometia sp) di Simei-Wasior dan Babo juga memiliki pola penyebaran yang mirip dengan merbau, yaitu menyebar cukup merata. Berdasarkan letak, antar calon pohon induk memiliki jarak yang cukup baik. Hasil pengamatan dan eksplorasi di Simei-Wasior diperoleh 290 kandidat pohon sumber benih dan di Babo diperoleh 128 kandidat pohon sumber benih. Diameter setinggi dada (D1.3) berkisar antara 34 cm – 142 cm dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 10 m – 27 m. Sedangkan di Babo, diameter setinggi dada (D1.3) berkisar antara 23 cm – 83 cm dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 10 m – 22 m. Secara umum, tegakan matoa Simei-Wasior memiliki tampilan batang yang lebih baik dibanding di Babo.
Gambar 10. Tampilan calon pohon induk benih terpilih (a) matoa dan (b) bintanggur atau nyamplung.
Berdasarkan penilaian karakter pohon induk, pada demplot Simei-Wasior memiliki nilai tegakan pohon plus 85,96, jauh lebih besar dibanding di Babo dengan nilai tegakan pohon plus 74,45. Setelah dilakukan dilineasi diketahui kandidat area baik Simei-Wasior maupun di Babo memiliki luas ± 100 ha dan layak dicalonkan sebagai kandidat TBT.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 67
Selain kedua jenis di atas, Simei-Wasior dan Babo juga dilakukan eksplorasi dan pengamatan jenis lain, yaitu jenis bintanggur atau nyamplung (Callophylum sp). Jenis ini merupakan salah satu jenis kelompok penghasil biji yang bias digunakan bahan baku minyak disel (biodiesel). Walaupun hanya diperoleh 56 calon pohon induk, jenis ini di Simei-Wasior memiliki profil calon pohon induk dengan nilai karakter calon pohon induk plus yang baik yaitu 84,93, sedang di Babo memiliki nilai lebih kecil 73,22. Nilai yang lebih kecil dikarenakan diameter rata-rata hanya 37,48 cm disbanding di Simei-Wasior yang mencapai 66,57 cm. Berdasarkan peta persebaran, jenis ini memiliki jarak antar pohon induk yan cukup ideal dibanding jenis merbau dan matoa. Diameter setinggi dada (D1.3) di Simei-Wasior berkisar antara 34 cm – 117 cm dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 12 m – 26 m. Diameter setinggi dada (D1.3) bintanggur di Babo berkisar antara 21 cm – 67 cm dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 12 m – 20 m. Walaupun memiliki diameter rata-rata lebih kecil dibanding merbau dan matoa, bintanggur memliki keunggulan bentuk batang yang lurus dan tinggi bebas cabang rata-rata lebih baik, yaitu 18,88 m dibanding merbau,86 m. Setelah dilakukan dilineasi diketahui kandidat area ini memiliki luas ± 100 ha.
Untuk memperkaya kegiatan pembangunan demplot Babo juga dilakukan eksplorasi dan penilaian jenis kayu mewah lain yaitu kayu cina (Podocarpus sp). Jenis ini di lokasi diketemukan cukup banyak dan tersebar pada demplot. Jumlah pohon yang telah ditandai dan dinilai sebanyak 56 pohon. Diameter setinggi dada (D1.3) kayu cina di Babo berkisar antara 17 cm – 50 cm dan tinggi batang bebas cabang (TBBC) 11 m – 21 m. Jenis ini mempunyai kelebihan penampilan batang yang lurus dan silindris.
68 –
BP2LHK ManokwariIV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan