Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- i
PROSIDING
EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN
BP2LHK MANOKWARI TAHUN 2015
“HASIL – HASIL PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN UNTUK MENDUKUNG SEKTOR
KEHUTANAN DI TANAH PAPUA”
Manokwari, 04 Juni 2015
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Manokwari
2015
ii -
BPK ManokwariPROSIDING
EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN KEHUTANAN BP2LHK
MANOKWARI TAHUN 2015
“HASIL-HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UNTUK
MENDUKUNG SEKTOR KEHUTANAN DI TANAH PAPUA”
Manokwari, 04 Juni 2015
Terbit Tahun 2016
ISBN 978-979-1280-05-1
Penanggung Jawab:
Bagus Novianto, S.Hut, MP.
(Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Manokwari)
Editor:
Dr. Ir. Pudja Mardi Utomo, MP
Ir. Max J. Tokede, MS
Sarah Yuliana, S.Hut., M.App.Sc
Sekretariat:
Ir. Edwin Lodewiyk Yoroh
(Kepala Seksi Data Informasi dan Sarana Prasarana Penelitian)
Yobo Endra Prananta, S.Si, M.Eng
Cover:
Yobo Endra Prananta, S.Si, M.Eng
Diterbitkan dan dicetak oleh:
Balai Penelitian dan Kehutanan Manokwari
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi
Kementerian Kehutanan
Jl. Inamberi Susweni Manokwari 98313-Provinsi Papua Barat Telepon : 0986-213437, 213440, Fax : 0986-213441
Website : http://www.balithutmanokwari.or.id
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya Balai Penelitian Kehutanan Manokwari (BPKM) telah berhasil menyelenggarakan kegiatan Ekpose Hasil-hasil Penelitian pada tanggal 04 Juni 2015 di Manokwari. Balai Penelitian Kehutanan Manokwari sebagai salah satu Unit Pelaksana Tugas (UPT) Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi mempunyai tugas pokok melaksanakan penelitian dan menyebarluaskan hasil penelitian di wilayah kerjanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.
Untuk menyebarluaskan hasil penelitian, pada tahun 2015 BPK Manokwari melaksanakan Ekpose dengan tema “HASIL – HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UNTUK MENDUKUNG SEKTOR KEHUTANAN DI TANAH PAPUA”. Melalui ekpose hasil-hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan mensinergiskan kebijakan yang dibuat para stakeholders kepada masyarakat khususnya di wilayah kerja BPK Manokwari yang meliputi Provinsi Papua dan Papua Barat.
Penerbitan prosiding ini tidak terlepas dari bantuan dan kerjasama semua pihak baik Pemerintah Provinsi Papua Barat dan Civitas Akademika UNIPA. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak atas partisipasi, saran dan pemikiran yang diberikan.
Semoga prosiding ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Manokwari, 04 Juni 2015 Kepala Balai,
Bagus Novianto, S.Hut., MP NIP. 19691120 199803 1 002
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
iii
I
DAFTAR ISI
v
SAMBUTAN GUBERNUR PROVINSI PAPUA BARAT
9
RUMUSAN
13
KEYNOTE SPEECH
17
KEPALA DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN PROVINSI
PAPUA BARAT
19
MAKALAH UTAMA
23
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS SISTEM SILVIKULTUR TPTI
TERHADAP KELESTARIAN PRODUKSI HUTAN DI PAPUA
(Studi Kasus di IUPHHK PT. Tunas Timber Lestari di Boven
Digul dan PT. Manokwari Mandiri Lestari di Teluk Bintuni)
(
Baharinawati W H dan Julanda N)
25
KOPI KASUARI “Upaya Konservasi Kasuari Melalui Komoditas
Kopi di Papua Barat”
(
Hadi Warsito)
47
PENUNJUKAN TEGAKAN BENIH TERIDENTIFIKASI (TBT)
DI SIMEI-
WASIOR DAN AROBA-BABO
(
Pudja Mardi U)
57
KEANEKARAGAMAN FLORA DAN KOEFISIEN KOMUNITAS
PADA TIGA TAMAN WISATA ALAM DI PAPUA BARAT
(
Krisma L)
71
KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN PERSEPSI MASYARAKAT
DALAM KEGIATAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE
DI TAMAN NASIONAL KEPULAUAN TOGEAN
(
Rini Purwanti)
81
PERTUMBUHAN TANAMAN PENGAYAAN MERBAU PADA
AREAL JALAN SARAD
(
Relawan K)
93
PEMANFAATAN JASA LINGKUNGAN SEBAGAI ALTERNATIF
PENGHASIL PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN
PEGUNUNGAN ARFAK
vi –
BP2LHK ManokwariPERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR HUTAN TERHADAP
PENGGUNAAN KAYU ENERGI UNTUK INDUSTRI RUMAH
TANGGA : STUDI KASUS KABUPATEN SOPPENG DAN
PANGKEP SULAWESI SELATAN
(
Achmad Rizal HB, Nurhaedah M, Nur Hayati)
113
PEMETAAN BIOMASSA HUTAN HUJAN TROPIS DENGAN LIDAR
(
Jarot Pandu P A)
123
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI SISTEM SILVIKULTUR TPTI
(TEBANG PILIH TANAM INDONESIA) (Studi Kasus pada Areal
IUPHHK PT. Mamberamo Alas Mandiri, Kabupaten Mamberamo
Raya dan PT. Tunas Timber Lestari Kabupaten Boven Digoel,
Provinsi Papua)
(
Baharinawati W H dan Julanda N)
139
POTENSI BIODIVERSITAS JENIS FLORA MANGROVE
DI KLALIN 6 KABUPATEN SORONG
(
Ezrom B dan Krisma L)
149
PENGAMATAN HAMA PENTING PENYEBAB KERUSAKAN
PADA TANAMAN Metroxylon sp DI KOYANI SP- 6 PRAFI
MANOKWARI
(
Absalom K)
159
PELESTARIAN MERBAU (Intsia spp.) BERBASIS POLA SEBARAN
SPASIAL DI HUTAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA
MANOKWARI PAPUA BARAT
(
Ezrom B; Krisma L; Permenas A D)
167
PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI BAHAN BAKU BENDA
SENI BUDAYA MASYARAKAT MINYAMBOW DI PEGUNUNGAN
ARFAK, MANOKWARI, PAPUA BARAT
(
Julanda N dan Hadi W)
177
PENGELOMPOKAN JENIS-JENIS KAYU KOMERSIL DI
TANAH PAPUA BERDASARKAN SK.MENTERI
KEHUTANAN NO.163/KPTS-II/2003
(Krisma L)
187
PENUNJUKAN TEGAKAN BENIH TERIDENTIFIKASI (TBT)
DI TERASAI, BINTUNI DAN BONGGO, SARMI
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- vii
KUANTIFIKASI EMPULUR SAGU UNTUK BIOETANOL DI SEGET
(
Batseba A. Suripatty)
213
PEMODELAN PENDUGA VOLUME POHON KELOMPOK JENIS
KOMERSIAL PADA AREAL IUPHHK PT. TUNAS TIMBER
LESTARI, PAPUA
(
Relawan K)
227
POTENSI PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN KAWASAN
KONSERVASI DI PAPUA
(
Hadi Warsito)
235
HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNGGULAN PAPUA DAN
STRATEGI PENGEMBANGANNYA
(
Herman F Sauri)243
LAMPIRAN
257
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Ekspose Hasil-hasil
Penelitian BPK Manokwari 2015
259
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 9
SAMBUTAN GUBERNUR PROVINSI PAPUA BARAT
PADA ACARA PEMBUKAAN EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN
BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANOKWARI
“ Hasil - hasil Penelitian dan Pengembangan Untuk Mendukung Sektor Kehutanan di Tanah Papua “
Manokwari, 04 Juni 2015
Yang terhormat:
Bapak Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Ke-hutanan.
Bapak Rektor Universitas Papua.
Para Kepala Dinas/Badan lingkup Provinsi, Kabupaten, dan Kota di Papua dan
Papua Barat.
Koordinator Wilayah Kementrian Lingkungan dan Kehutanan dan Para Kepala
UPT Papua Barat.
Pimpinan NGO dan Lembaga Masyarakat Adat.
Mitra kerja Kementrian Lingkungan dan Kehutanan.
Insan pers, serta
Hadirin para undangan dan peserta ekspose hasil-hasil penelitian.
Assalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa
karena berkat rahmat, anugerah dan kasih sayang-Nya maka kita dapat berkumpul
di tempat ini da-lam rangka mengikuti acara Ekspose Hasil-Hasil Penelitian yang
dilaksanakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Manokwari. Selanjutnya saya juga
ingin mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta terutama dari luar Kota
Ma-nokwari atas kesediannya hadir pada acara ekspose hari ini.
Hadirin yang saya hormati,
Dewasa ini, perhatian bangsa Indonesia terhadap fungsi, pe-ran, dan potensi hutan
semakin meningkat sejalan dengan terus bertambahnya degradasi lingkungan
khususnya hutan yang mengakibatkan terjadinya banjir, kekeringan, dan erosi.
Sumberdaya hutan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia,
di antaranya untuk menyediakan kebutuhan bahan baku untuk industri perkayuan,
sebagai cadangan pangan dunia, dan fungsi-fungsi lainnya seperti khususnya
pengaruh hutan terhadap isu perubahan iklim global dan peningkatan kapasitas
fungsi hutan bagi masya-rakat dewasa ini. Di Indonesia, pada saat ini telah terjadi
ke-senjangan antara produksi kayu bulat dari hutan alam de-ngan kehutuhan bahan
baku untuk industri kayu. Produksi kayu yang berasal dari hutan alam cenderung
menurun dari tahun ke tahun, sedangkan kapasitas terpasang industri pri-mer
meningkat dan melebihi kemampuan suplay bahan baku kayu. Selain persoalan
yang bersifat nasional tersebut di atas, persoalan kehutanan di Tanah Papua pun
semakin kompleks. Papua adalah
The World’s Tropical Biodiversity Hotspots,
dengan potensi kayu komersial rata-rata ± 35,98 m
3/ha, luas lahan kritis 3,6 juta ha,
10 –
BP2LHK Manokwarisekitar 80% penduduk berada di pedesaan dan 69,9% berada di dalam kawasan
hutan dikategorikan miskin.
Para Undangan dan hadirin sekalian,
Saya melihat bahwa antara kemiskinan dan degradasi hutan/lahan terdapat
hubungan yang saling menguatkan. Kemiskinan adalah salah satu faktor pendorong
keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan secara illegalkayu di hutan negara.
Kemiskinan juga menjadi penghambat penerapan praktek pemanfaatan lahan sesuai
dengan kaidah ekologi-konservasi.
Sebaliknya, degradasi hutan/lahan yang berujung pada rendahnya produktifitas
lahan akan mempersulit sebuah komunitas lepas dari kemiskinan. Oleh sebab itu,
membebaskan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan dari himpitan kemiskinan
adalah salah satu prasyarat untuk mewujudkan hutan lestari.
Di masa lalu upaya program, membagi manfaat pengelolaan hutan dengan
masyarakat di dalam dan di sekitar hutan dilakukan dalam bentuk charity yang
dijalankan secara ala-kadarnya sebagai pemenuhan kewajiban. Kenyataan
membuktikan bahwa hal ini tidak efektif untuk mensejahterakan masyarakat.
Pendekatan tersebut perlu dirubah menjadi adalah menempatkan masyarakat
sebagai bagian dari subyek (pelaku), bukan sebagai obyek pengelolaan hutan.
Akses masyarakat terhadap manfaat hutan yang dulu dimarginalkan kini harus
diberikan akses seluas-luasnya secara bertanggung jawab. Dengan demikian di
kalangan masyarakat akan tumbuh rasa memiliki sehingga turut menjaga kelestarian
hutan, dan di sisi lain masyarakat mendapat manfaat yang lebih tinggi dari
pengelolaan sumberdaya hutan.
Para Undangan dan hadirin sekalian,
Sehubungan dengan hal tersebut, maka upaya pengelolaan hutan yang mantap
seyogyanya dilakukan melalui suatu ke-bijakan dan upaya nyata, baik oleh
pemerintah pusat mau-pun pemerintah daerah, dalam hal ini khususnya di Tanah
Papua. Untuk mendorong pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya hutan dapat
dilakukan dengan memanfaatkan hasil-hasil penelitian, di mana kegiatan ini dapat
mengung-kap potensi sumberdaya alam sehingga untuk ke depan po-tensi tersebut
dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi ma-syarakat dunia, khususnya scientist
untuk datang ke Tanah Papua.
Selain itu, kegiatan penelitian dan pengkajian ini diharapkan dapat meningkatkan
sinergitas informasi yang bermuatan il-miah bagi para peneliti. Sinergitas tersebut
merupakan inter-koneksi yang sangat efektif dalam rangka menghasilkan su-atu
informasi yang berguna bagi proses pengambilan kepu-tusan dan perencanaan
pembangunan kehutanan terutama di daerah.
Hadirin yang saya hormati,
Ekspose ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sama yang diprakarsai oleh
BPK Manokwari, di mana tema yang dipilih saat ini yaitu “Hasil-Hasil Penelitian dan
Pengembangan Untuk Mendukung Sektor Kehutanan di Tanah Papua
”. Disadari
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 11
bahwa hasil-hasil penelitian yang selama ini dilaksanakan masih belum banyak
menyentuh para user selain dari praktisi kehutanan. Penelitian mengenai teknologi
terapan masih minim dilaksanakan mengingat tema-tema penelitian BPK Manokwari
harus mengacu pada program-program penelitian yang ditetapkan Badan Litbang
Kehutanan. Dengan adanya perubah-an paradigma pada Road Map penelitian
kehutanan tahun 2010-2025 yang telah diterbitkan Badan Litbang Kehutanan
diharapkan kelemahan-kelemahan yang selama terjadi dapat dikurangi.
Dengan banyaknya tema/topik penelitian yang telah dilaksa-nakan BPK Manokwari,
baik penelitian yang bersifat tahunan maupun multi years, diakui bahwa
masing-masing aspek pe-nelitian cenderung masih parsial untuk masing-masing-masing-masing as-pek dan
masing-masing tahun. Oleh karena itu diperlukan suatu kegiatan yang dapat
menyatukan masing-masing as-pek pada masing-masing tema sehingga didapatkan
data dan informasi spasial yang menghasilkan suatu rekomendasi ataupun teknologi
yang spesifik mengenai pengelolaan eko-sistem hutan Australasia maupun teknologi
lain di luar pe-ngelolaan hutan.
Berdasarkan tujuan dan harapan-harapan di atas, maka eks-pose hasil-hasil
penelitian BPK Manokwari Tahun Anggaran 2015 akan difokuskan pada hasil-hasil
penelitian dengan masing-masing judul, sehingga diperoleh rekomendasi yang lebih
nyata dalam mendukung pengelolaan ekosistem hutan Australasia. Hal ini
mengingat tahun 2015 adalah tahap ke dua pelaksanaan Roadmap Badan Litbang
Kehutanan yang ditetapkan sampai tahun 2025.
Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan ini juga saya ingin menyampaikan peng-hargaan yang tinggi dan
berterimakasih kepada seluruh ha-dirin yang bersedia hadir sehingga dapat
berpartisipasi dan membantu suksesnya acara ini.
Demikian sambutan saya, semoga kegiatan Ekspose Hasil- Hasil Penelitian yang
diprakarsai oleh BPK Manokwari dapat berlangsung dengan baik dan lancar.
Sekian dan terimakasih. Semoga Tuhan memberkati kita se-kalian.
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 13
RUMUSAN
EKSPOSE HASIL PENELITIAN BPK MANOKWARI
” Hasil - hasil Penelitian dan Pengembangan Untuk Mendukung Sektor Kehutanan di Tanah Papua”
Manokwari, 04 Juni 2015
Memperhatikan arahan Gubernur Provinsi Papua Barat dalam Pidato pembukaan acara ekspose hasil penelitian BPK Manokwari tahun 2015, Materi arahan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Koordinator Wilayah UPT Provinsi Papua Barat, dan Kepala Balai Penelitian Kehutanan Manokwari tentang ”Dukungan Litbang Kehutanan Dalam Kebijakan Pemerintah Daerah, Kebijakan Kementerian Kehutanan, dan Optimalisasi Peran dan Fungsi Litbang Kehutanan Untuk Pengelolaan Kawasan Hutan dan Lahan di Papua, serta hasil diskusi selama Ekspose hasil penelitian BPK Manokwari Tahun 2015 dirumuskan hasil sebagai berikut :
A. Arahan Kebijakan Dukungan Litbang Kehutanan
1. Pengelolaan sumberdaya hutan dewasa ini telah menjadi isu global, bahwa hutan tidak hanya memiliki fungsi ekonomi dan ekologis semata, tetapi juga fungsi sosial dan budaya yang berperan vital dalam sistem penyangga kehidupan. Model pengelolaan hutan yang harus diimplementasikan adalah pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat guna mewujudkan motto “ Hutan Lestari Rakyat
Sejahtera”
2. Program gerakan menanam yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat maupun daerah sejak tahun 2008, harus mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan, karena hal tersebut merupakan upaya yang wajib dilakukan untuk menekan efek pemanasan global dan perubahan iklim yang melanda wilayah Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Dukungan teknik silvikultur jenis dan petunjuk teknik rehabilitasi hutan dan lahan untuk jenis endemik Papua sangat dibutuhkan.
3. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan hendaknya menjadi agenda utama di setiap program pembangunan sektor kehutanan sehingga terjadi proses kemandirian untuk mengelola dan memanfaatkan hutan secara lestari baik ekologis, ekonomis, maupun sosial budaya.
4. Optimalisasi peran dan fungsi litbang kehutanan untuk mendorong tercapainya tujuan kelestarian hutan dan kesejahteraan rakyat, diupayakan melalui pengembangan pelaksana fungsi litbanghut, membangun forum Litbanghut, dan mendorong pembagian peran antara pemerintah dan swasta dalam melaksanakan Litbanghut.
5. Optimalisasi peran litbang kehutanan dalam mendukung percepatan pembangunan kawasan hutan dan lahan di Papua diarahkan pada pencapaian hasil-hasil Litbanghut yang implementatif, akomodatif dan diseminatif – kolaboratif yang diwujudkan melalui penciptakan paket teknologi tepat guna, peranti dan warta kebijakan kehutanan yang sesuai dengan kebutuhan lokal Papua.
14 –
BP2LHK ManokwariB. Arah Pengembangan Program Litbanghut 1. Konservasi dan Rehabilitasi
a. Pola pendekatan pemanfaatan sumberdaya hutan secara tradisional pada umumnya telah dimiliki oleh masyarakat di Tanah Papua. Kesadaran tersebut merupakan kearifan lokal yang sangat diharapkan guna kelangsungan konservasi bagi kelestarian kawasan hutan di Tanah Papua. Oleh karena itu hasil kajian terhadap kearifan lokal perlu ditingkatkan menjadi teknologi tepatguna yang dapat diimplementasikan dalam pengelolaan di setiap fungsi kawasan.
b. Invasi tumbuhan pada lahan basah berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi suatu ekosistem, invasi tersebut mencakup tahapan migrasi, eksistensi dan kompetisi, dan terkait dengan aspek ruang dan waktu, dan hal ini terus menggeser jenis-jenis endemik yang sudah mapan. Oleh karena itu perlu mencari metoda pencegahan untuk membatasi penyebaran jenis invasif terutama jenis-jenis alien yang bukan jenis asli.
c. Kajian etno-zoologi perlu dilakukan antara lain dengan mengkaji perilaku sosial dan budaya masyarakat terkait dengan pemanfaatan satwa tertentu khususnya yang dilindungi. Dalam pemanfaatan satwa tersebut perlu teknik pengelolaan populasi berbeda untuk setiap habitat.
d. Kajian biofisik kawasan terdegradasi perlu diikuti dengan analisis tipe vegetasi bawah yang berperan untuk proses rehabilitasi dan suksesi vegetasi, misalnya nilai vegetasi semak belukar terutama untuk penanaman dan daya tahan dari tanaman rehabilitasi. Pemilihan jenis yang sesuai kondisi lahan, merupakan keharusan untuk rehabilitasi kawasan terdegradasi.
2. Silvikultur dan Hasil Hutan
a. Kelestarian pengelolaan hutan dapat terwujud apabila adanya sinkronisasi antara pelaksanaan dan kebijakan/aturan yang telah ditetapkan. Dalam penetapan kebijakan sebaiknya berdasarkan hasil-hasil riset yang telah dilakukan baik oleh lembaga riset pemerintah maupun perguruan tinggi. Hal ini untuk menghindari kelestarian pengelolaan hutan yang tidak terwujud akibat dari kebijakan/aturan yang ada.
b. Kajian HHBK di Papua perlu dikaji secara kuantitatif untuk mengungkapkan potensi dan keunggulan jenis HHBK yang sangat tinggi di setiap wilayah. Untuk itu kegiatan penelitian HHBK di Papua perlu mengacu kepada Roadmap Badan Litbang Kehutanan, yang mencakup antara lain potensi, budidaya, pemanenan, pengolahan (pasca panen), tata niaga dan regulasi khususnya ditingkat lokal.
c. Dalam rangka mendukung salah satu program kebijakan Kementerian Kehutanan yaitu rehabilitasi hutan dan lahan dengan kegiatan utama yang dilaksanakan adalah penanaman dengan berbagai jenis tanaman hutan. Untuk memberikan jaminan keberhasilan pertumbuhan di lapangan yang baik, maka dibutuhkan bibit yang bermutu dan tehnik penanaman yang tepat.
C. Sosial Budaya dan Perubahan Iklim
1. Penelitian untuk pembentukan model persamaan allometrik pendugaan stok karbon di hutan perlu mempertimbangkan persyaratan-persyaratan metodologis yang tepat serta teknik analisis statistik yang sesuai dengan karakteristik populasi dan objek
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 15
penelitian. Pengesahan model persamaan allometrik yang dihasilkan selain didasarkan pada keabsahan secara statistika, juga harus mempertimbangkan aspek kepraktisan penggunaan model bersangkutan.
2. Penelitian adaptasi masyarakat adat terhadap perubahan iklim perlu dilakukan dengan metode dan teknik analisis yang lebih tepat, terutama untuk menjawab bagaimana bentuk adaptasi oleh masyarakat terhadap perubahan iklim dan bagaimana intervensi yang perlu dilakukan guna meningkatkan daya adaptasi masyarakat dalam mengantisipasi perubahan iklim yang sedang terjadi.
3. Kajian sistem penguasaan dan pemanfaatan hutan dan lahan masyarakat adat serta kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap kelompok masyarakat adat masih diperlukan dalam rangka melakukan rekayasa sosial untuk menangani konflik sektor kehutanan, baik untuk hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservasi. Hasil kajian tersebut dapat menjadi dasar untuk merancang model partisipasi dan model pemberdayaan masyarakat adat di dalam pengelolaan hutan.
Manokwari, 04 Juni 2015
TIM PERUMUS
1. Ir. Max J. Tokede, MS (Ketua) 2. Ir. Silvia Makabori, M.Si (Sekretaris)
3. Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, S.Hut, M.Si (Anggota) 4. Ir. Yunus Abdullah, MSi (Anggota)
5. Ir. Bambang Hariadi, MP (Anggota) 6. Ir. Relawan Kuswandi, M.Sc (Anggota) 7. Ir. M. St. E. Kilmaskossu, M.Sc (Anggota) 8. Ir. Hendra Gunawan, MP (anggota)
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 17
KEYNOTE SPEECH
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 19
KEPALA DINAS KEHUTANAN DAN PERKEBUNANPROVINSI PAPUA BARAT
PADA ACARA PEMBUKAAN EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN BALAI PENELITIAN KEHUTANAN MANOKWARI
SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA Yang saya hormati :
Kepala Badan Litbang Kehutanan Kementrian Kehutanan, atau yang mewakili;
Koordinator Wilayah UPT Kementrian Kehutanan;
Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota se Provinsi Papua Barat;
Para Kepala UPT Kementrian Kehutanan di Provinsi Papua Barat atau Yang Mewakili ;
Para Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat dan Organisasi kemasyarakatan di Sumsel;
Tokoh Masyarakat, akademisi, insan pers, stakeholders, mitra usaha, peserta ekspose dan hadirin yang berbahagia,Pada kesempatan yang berbahagia ini marilah kita panjatkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat rahmat dan bimbingan-Nya kita semua masih dikaruniai kekuatan lahir dan batin, tuntunan dan perlindungan, utamanya kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat bersama-sama hadir dalam acara Espose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Manokwari .
Saya menyambut baik dan gembira dilaksanakannya ekspose hasil-hasil penelitian yang diarahkan untuk percepatan pembangunan kawasann hutan dan lahan yang lestari di Papua Barat, dengan diiringi doa dan harapan, semoga acara ini mendapat karunia dan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dapat diperoleh manfaat dan sumbangsihnya dalam pembangunan kehutanan di Provinsi Papua Barat.
Hadirin yang saya hormati,
Pemilihan tema ekspose sehari “Hasil - hasil Penelitian dan Pengembangan Untuk Mendukung Sektor Kehutanan di Tanah Papua “ sangat relevan dengan upaya
pemerintah pusat maupun daerah untuk mengatasi kondisi sumberdaya hutan yang semakin memprihatinkan akibat maraknya kerusakan hutan dimana-mana.
Kelestarian sumberdaya hutan dewasa ini telah menjadi isu global. Umat manusia di seluruh dunia, bahwa hutan tidak hanya memiliki fungsi sosial ekonomi dan sosial budaya, tetapi juga fungsi ekologis yang peranannya sangat vital bagi sistem penyangga kehidupan. Terjadinya fenomena di muka bumi saat ini berupa pemanasan global dan perubahan iklim, merupakan suatu tantangan bagi kita semua untuk segera bertindak sesuai profesi dan proporsinya masing-masing.
Terkait dengan fungsi hutan sebagai penyedia jasa lingkungan, sejatinya sudah diketahui dan disadari oleh semua pihak, akan tetapi selama ini peranan hutan dalam bidang ini seperti terabaikan oleh kepentingan lain. Seiring dengan kemajuan peradaban umat manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, muncul berbagai implikasi buruk dari kemajuan yang dicapai tersebut. Kemajuan dalam teknologi yang menempatkan minyak bumi sebagai sumber energi utama penggerak roda kehidupan umat manusia telah mengakibatkan terjadinya emisi gas buang berlebihan yang mengotori lingkungan. Keadaan ini diperparah lagi dengan kerusakan sumber daya hutan yang terus terjadi sehingga emisi gas buang yang meningkat tidak dapat sepenuhnya terserap oleh tanaman hutan. Sebagai
20 –
BP2LHK Manokwariakibat dari keterkaitan tersebut di atas muncul berbagai perubahan terhadap iklim global, yang sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan di bumi, berupa kenaikan suhu muka bumi oleh pengaruh gas Karbon yang dikenal sebagai efek rumah kaca.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek pemanasan global dan perubahan iklim ditinjau dari kacamata kehutanan adalah dengan memperbanyak pohon dan tanam-tanaman. Oleh karena itu diperlukan upaya mempertahankan keutuhan ekosistem hutan, dan melakukan penanaman pohon secara besar-besaran.
Hadirin yang saya hormati,
Saat ini, Kementerian Kehutanan sedang mengupayakan tercapainya pelaksanaan tiga agenda pokok kebijakan revitalisasi sektor kehutanan. Agenda pertama, tercapainya pertumbuhan sektor kehutanan rata-rata 2-3% per tahun, sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional, yang ditargetkan mencapai 5-6% pada tahun 2009. Kedua, bergeraknya sektor riil kehutanan yang berbasis usaha kecil menengah di perkotaan dalam sentra-sentra bisnis perkayuan khususnya di Indonesia Wilayah Timur. Ketiga, memberdayakan ekonomi masyarakat setempat, baik di sekitar maupun di dalam hutan. Dengan tercapainya keberhasilan penerapan kebijakan prioritas dan ketiga agenda tersebut di atas, maka kelestarian hutan akan terjaga, kelangsungan pasokan bahan baku industri terjamin, dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Keberhasilan tersebut antara lain harus didukung dengan hasil-hasil penelitian yang berkualitas di bidang kehutanan. Untuk itu, Litbang Kehutanan baik di pusat maupun didaerah sebagai leading the way, dituntut untuk mampu melaksanakan tugas-tugas penelitian dan pengembangan yang inovatif dan integrative, sehingga dapat memberikan masukan-masukan yang akurat dan terpercaya dalam pengambilan kebijakan di daerah.
Ekspose hasil-hasil penelitian bertujuan untuk memperkenalkan, menyebarluaskan, dan mempromosikan hasil-hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan kepada pengguna; mendekatkan IPTEK hasil litbang kehutanan kepada para pengguna dengan harapan agar IPTEK yang dihasilkan dapat diketahui, diterapkan secara berdaya guna dan berhasil guna bagi para pemangku kepentingan; mendorong terjalinnya interaksi dan kerjasama kemitraan, baik antar komunitas iptek, maupun dengan pengambil kebijakan, kalangan dunia usaha, dan kelompok masyarakat, memberikan kontribusi dalam menjawab kebutuhan IPTEK kehutanan dan dalam upaya penyelesaian masalah-masalah kehutanan yang ada, serta mendorong percepatan pencapaian tujuan pembangunan kehutanan daerah.
Hadirin yang saya hormati,
Berangkat dari permasalahan yang dihadapi saat ini, Kementrian Kehutanan telah menetapkan kebijakan dan langkah-langkah strategis yang berorientasi pada ,optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam dalam kerangka otonomi daerah serta memperlihatkan kepentingan nasional, maka 5 (lima) kebijakan prioritas Kementrian Kehutanan 2004 – 2009 perlu mendapat dukungan yang kuat dalam pelaksanaan dilapangan, yaitu pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal, revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan, melanjutkan program rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, pemberdayan ekonomi masyarakat di dalam dan disekitar kawasan hutan, serta memantapkan kawasan hutan.
Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh untuk memotivasi minat masyarakat pada tanaman hutan adalah :
Mengembangkan jenis kayu tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan
berorientasi pasar baik berupa hasil kayu maupun bukan kayu.
Meningkatkan swadaya/partisipasi masyarakat dalam membangun hutan milik/hutan
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 21
Memantapkan kebijakan mengembangkan tanaman kayu-kayuan dan tanaman serbaguna diluar kawasan hutan (lahan milik) berupa hutan rakyat untuk mengatasi luas kawasan hutan yang sedikit. Menggali potensi jenis kayu langka dan tumbuh setempat (endemic) dan mempunyai prospek baik teknis maupun ekonomis untuk dijadikan jenis tanaman yang dapat dikembangkan .
Kami berharap agar ada tindak lanjut yang lebih operasional setelah selesainya kegiatan ekspose ini, sehingga terdapat dukungan yang kongkrit terhadap pelaksanaan program pembangunan sektor Kehutanan di Provinsi Papua Barat.
Selanjutnya kami berharap agar semua yang hadir di sini dapat berperan aktif dalam Ekspose hasil penelitian selama satu hari ini, baik dalam hal menyerap informasi hasil-hasil penelitian maupun dalam memberikan umpan balik.
Hadirin yang berbahagia,
Saya akhiri arahan saya ini, dengan satu harapan BPK Manokwari sebagai salah satu lembaga riset hutan di Papua Barat dapat menjadi pusat informasi IPTEK hutan khususnya penghasil kayu pertukangan dan non pertukangan serta aspek-aspek lainnya yang sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta pembangunan hutan berkelanjutan terutama di tanah Papua. Mengingat kondisi keuangan negara yang belum membaik, sedangkan tantangan tugas yang semakin berat maka lembaga riset Kehutanan di Manokwari (BPK Manokwari) perlu terus meningkatkan koordinasi program dengan Instansi teknis yang ada di Provinsi Papua Barat termasuk lembaga riset lainnya untuk sharing kegiatan, sehingga tidak terjadi adanya duplikasi risert. salah satunya adalah untuk mengoptimalkan peran IPTEK Kehutanan khususnya dalam mendukung peningkatan produktivitas hutan dan lahan di Papua.
Demikian arahan ini semoga bisa menjadi bahan pertimbangan pada diskusi hari ini. Sekian dan Terima Kasih
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 23
MAKALAH UTAMA
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 25
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS SISTEM SILVIKULTUR TPTI TERHADAPKELESTARIAN PRODUKSI HUTAN DI PAPUA
(Studi Kasus di IUPHHK PT. Tunas Timber Lestari di Boven Digul dan PT.
Manokwari Mandiri Lestari di Teluk Bintuni)
Oleh :
Baharinawati Wilhan Hastanti dan Julanda Noya
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari Jalan Inamberi – Susweni, Manokwari 98131, Papua Barat
Telp. (0986)-213437 / 213440 ; Fax. (0986)-213441 / 213437
Abstrak
Kelestarian produksi hutan di Papua dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penyusutan secara kuantitatis maupun kualitatif. Salah satu penyebabnya adalah eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber daya hutan. Kondisi ini dapat dapat dikaitkan dengan keberadaan perusahaan pemegang konsesi IUPHHK di Tanah Papua. Untuk menjamin kelestarian produksi diperlukan sistem silvikultur yang efektif dalam pengelolaan hutan. Sistem silvikultur yang diterapkan untuk hutan tropis (tegakan tidak seumur) menurut aturan Kementerian Kehutanan RI adalah TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia), TPTJ (Tebang Pilih Tanam Jalur) dan TR (Tebang Rumpang). Pengelolaan hutan alam di Papua yang dilakukan perusahaan IUPHHK menerapkan sistem TPTI selama ini. Degradasi dan deforestasi hutan alam di Papua, akan mengancam kelestarian produksi dan berakibat terus menurunnya produksi kayu bulat setiap tahunnya.
Penelitian yang dilakukan di 2 lokasi (PT. Mamberamo Alas Mandiri dan PT. Tunas Timber Lestari) pada tahun 2011, menunjukkan bahwa TPTI masih layak dilakukan karena secara ekologis produktivitas hutan masih dapat dipertahankan, karena melimpahnya ketersediaan jenis komersial maupun non komersial baik di areal hutan primer maupun areal bekas tebangan (LoA).
Pada tahun 2012 hasil penelitian di kedua perusahaan yang sama menunjukkan bahwa secara finansial dengan discount rate 5.75 (Suku Bunga Bank Indonesia, 2012), implementasi TPTI menguntungkan dan layak dilanjutkan walaupun keuntungannya sangat terbatas, karena BCR yang diperoleh mendekati 1 dan beresiko tinggi terhadap gejolak ekonomi terkait dengan ketidakstabilan suku bunga, karena IRR yang diperoleh juga tidak terlalu tinggi.
Hasil penelitian tahun 2013 menunjukkan melalui analisis kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar areal kerja PT. Tunas Timber Lestari di Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua, sebagai refleksi dari implementasi TPTI yang diterapkan oleh perusahaan melalui peningkatan pendapatan masyarakat ,pembangunan fisik (pembukaan akses jalan), penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat sekitar areal kerja, memberikan kontribusi yang nyata dengan penghormatan pada hak-hak masyarakat adat melalui kontribusi kubikasi kayu, pembangunan sarana dan prasarana kampung adat, pembayaran denda dan ganti rugi serta pemberian beasiswa pada anak-anak sekolah melalui program Bina Desa.
Sedangkan penelitian tahun 2014 meninjau aspek kelayakan teknis sistem silvikultur TPTI sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : P.9/VI-BHPA/2009. Penelitian di lakukan di 2 lokasi, yaitu di areal kerja PT. Tunas Timber Lestari (TTL) di Kabupaten Boven Digul, Provinsi Papua dan di areal kerja PT. Manokwari Mandiri Lestari di Kabupataen Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teknis, sistem silvikultur TPTI masih layak dilakukan di 2 tempat, namun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan tidak semua tahapan pelaksanaan TPTI dilakukan sesuai dengan pedoman pelaksanaan TPTI, karena butuh biaya yang besar, sehingga mengurangi keuntungan yang diperoleh perusahaan. Selain itu ada faktor-faktor lain seperti faktor alam yang tidak mendukung dan faktor SDM yang tidak memadai baik secara kuantitas maupun kualitas.
26 –
BP2LHK ManokwariI. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kelestarian produksi hutan alam di Indonesia, semakin mengalami penyusutan baik secara kuntitas maupun kualitas akibat eksploitasi berlebihan, penjarahan, alih fungsi lahan dan kebakaran hutan. Untuk menjamin kelestarian produksi hutan dipelukan sistem silvikultur yang tepat untuk setiap areal hutan dengan pertimbangan aspek ekologis maupun aspek ekonomis. Berdasarkan aspek ekologis diharapkan terjadinya perubahan ekosistem yang sealami mungkin. Sedangkan pertimbangan aspek ekonomis lebih berorientasi pada keuntungan dari produksi.
Sistem silvikultur yang diterapkan menurut aturan Kementerian Kehutanan pada hutan tropis Indonesia atau hutan dengan tegakan tidak seumur adalah Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dan Tebang Rumpang (TR). TPTI menurut Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : P.9/VI-BHPA/2009 bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hutan tegakan tidak seumur melalui tebang pilih dan pembinaan tegakan tinggal dalam rangka memperoleh panenan yang lestari.
Papua sebagai benteng terakhir bagi keberlangsungan hutan alam tropika di Indonesia, mengalami kerusakan pada satu dasawarsa terakhir ini. Laju kerusakan hutan di Papua sejak tahun 2005 sampai 2009 mengalami peningkatan sampai seluas 1.017.841 hektar atau sekitar 254.460 hektar setiap tahunnya. Kerusakan hutan di Papua juga tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan konsesi hutan melalui IUPHHK yang mencapai 20 perusahaan.
Selama ini perusahaan IUPHHK di Papua, sesuai dengan tipe hutannya dalam formasi klimatis (hutan hujan tropis), sistem silvikultur yang diterapkan adalah TPTI dengan permudaan alam karena hutan yang dikelola merupakan hutan alam.
Kajian terakhir dalam menguji efektivitas sistem silvikultur TPTI adalah menguji kelayakan teknis sistem silvikultur TPTI terhadap kelestarian produksi hutan. Kajian ini dilaksanakan pada tahun 2014.
Selama ini perusahaan IUPHHK di Papua, sesuai dengan tipe hutannya dalam formasi klimatis (hutan hujan tropis), sistem silvikultur yang diterapkan adalah TPTI dengan permudaan alam karena hutan yang dikelola merupakan hutan alam. Penelitian yang dilakukan di 2 lokasi (PT. Mamberamo Alas Mandiri dan PT. Tunas Timber Lestari) pada tahun 2011, menunjukkan bahwa TPTI, masih layak dilakukan karena secara ekologis produktivitas hutan masih dapat dipertahankan berdasrkan keberadaan pohon inti dan kondisi permudaannya, karena melimpahnya ketersediaan jenis komersial maupun non komersial baik di areal hutan primer maupun areal bekas tebangan (LoA).
Pada tahun 2012 hasil penelitian di kedua perusahaan yang sama menunjukkan bahwa secara finansial dengan discount rate 5.75 (Suku Bunga Bank Indonesia, 2012), implementasi TPTI menguntungkan dan layak dilanjutkan walaupun keuntungannya sangat terbatas, karena BCR yang diperoleh mendekati 1 dan beresiko tinggi terhadap gejolak ekonomi terkait dengan ketidakstabilan suku bunga, karena IRR yang diperoleh juga tidak terlalu tinggi.
Pada tahun 2013 dilakukan penelitian tentang kondisi sosial masyarakat di sekitar areal TPTI IUPHHK PT. Tunas Timber Lestari sebagai refleksi dari implementasi sistem silvikultur TPTI menunjukkan bahwa adanya peningkatan pendapatan masyarakat pada kisaran rata-rata Rp. 1.000.000,00 sampai dengan Rp. 5.000.000,00 per bulan. Implementasi TPTI yang diterapkan mendatangkan manfaat melalui pembangunan fisik (pembukaan akses jalan), penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan masyarakat sekitar
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 27
areal kerja. Implementasi TPTI juga memberikan kontribusi yang nyata dengan penghormatan pada hak-hak masyarakat adat melalui kontribusi kubikasi kayu, pembangunan sarana dan prasarana kampung adat, pembayaran denda dan ganti rugi pemberian beasiswa pada anak-anak sekolah serta kontribusi sosial lainnya.
B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan teknis sistem silvikultur TPTI yang diterapkan oleh perusahaan pemegang konsesi IUPHHK sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan No. P.09/VI-BHPA/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan TPTI.
28 –
BP2LHK ManokwariII. METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan September sampai dengan Nopember tahun 2014 pada areal kerja IUPHHK PT. Tunas Timber Lestari Kabupaten Boven Digul Provinsi Papua dan PT. Manokwari Mandiri Lestari (MML) di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat .
B. Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : tally sheet, GPS, alat tulis menulis, kamera dan laptop. Bahan yang digunakan adalah Laporan Perusahaan (5 tahun terakhir), RKUIUPHHK dan RKT IUPHHK.
C. Prosedur Kerja
Penelitian dilakukan dengan cara mengevaluasi penerapan kegiatan-kegiatan TPTI menurut Surat Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Nomer 35/Kpts/DD/1/1972 tentang pedoman pelaksanaan TPTI dan Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : P.9/VI-BHPA/2009 tentang pedoman pelaksanaan TPTI yang terdiri dari :
1) Penataan Areal Kerja (PAK),
2) Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP), 3) Pembukaan Wilayah Hutan (PWH),
4) Pemanenan,
5) Penanaman dan pemeliharaan tanaman pengayaan, 6) Pembebasan pohon binaan, dan
7) Perlindungan dan pengamanan hutan.
D. Analisis Data
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 29
III. PEMBAHASANA. PT. Tunas Timber Lestari (TTL) 1. Penataan Areal Kerja (PAK)
Kegiatan penataan areal kerja di areal PT. Tunas Timber Lestari (TTL) dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman TPTI, yaitu Et – 3 atau 3 tahun sebelum dilakukannya penebangan. Penataan areal kerja maksudnya adalah untuk memberikan kepastian batas areal kerja pada blok kerja tahunan dengan pembuatan blok kerja dan petak kerja tahunan. Tujuan dari penataan areal kerja adalah : 1) memudahkan pelaksanaan kerja pada blok kerja tahunan dan, 2) memudahkan pelaksanaan, pemantauan, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kerja.
Bentuk blok kerja tahunan dan petak kerja disesuaikan dengan kondisi lapangan, kegunaan dan hasilnya secara optimal pada setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Jumlahnya sesuai dengan Rencana Kerja Usaha IUPHHK dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Adapun jumlah blok yang ada pada areal PT. TTL dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 1. Jumlah Blok Tebangan dan Luas Areal Kerja Efektif PT. TTL
Keterangan:
VF : Virgin Forest, Hutan Primer
LoA : Log over Area, Hutan Bekas Tebangan
Penataan areal kerja pada IUPHHK PT TTL ditandai dengan kegiatan penataan batas. Kegiatan ini adalah untuk memenuhi syarat terjaminnya kelestarian hutan. Tata batas yang dilakukan di areal IUPHHK PT. TTL tersaji dalam tabel di bawah ini :
Tabel 2. Tata Batas Kawasan Hutan Areal Kerja PT. TTL
No RKT Kode Luas Efektif (hektar)
VF LOA Jumlah 1 2011 I 1,268 1,145 2,413 2 2012 II 2,653 285 2,938 3 2013 III 2,685 1,204 3,889 4 2014 IV 148 3,493 3,641 5 2015 V 505 2,772 3,277 6 2016 VI 3,225 106 3,331 7 2017 VII 2,736 429 3,165 8 2018 VIII 2,569 1,486 4,055 9 2019 IX 2,543 1,047 3,590 10 2020 X 286 3,133 3,419 11 2021 XI 433 3,310 3,743 12 2022 XII 525 3,302 3,827 13 2023 XIII 0 3,800 3,800 14 2024 XIV 0 3,452 3,452 15 2025 XV 0 2,900 2,900 16 2026 XVI 104 3,427 3,531 17 2027 XVII 0 2,926 2,926 18 2028 XVIII 26 3,436 3,462 19 2029 XIX 63 3,337 3,400 20 2030 XX 0 3,636 3,636 21 2031 XXI 1 3,962 3,963 22 2032 XXII 0 3,655 3,655 23 2033 XXIII 0 3,643 3,643 24 2034 XXIV 49 3,648 3,697 25 2035 XXV 440 3,283 3,723 26 2036 XXVI 592 2,968 3,560 27 2037 XXVII 974 2,962 3,936 28 2038 XXVIII 4,469 438 4,907 29 2039 XXIX 0 3,980 3,980 30 2040 XXX 0 3,942 3,942 26,294 81,107 107,401
30 –
BP2LHK ManokwariNo. Batas Areal Panjang Batas (km) Keterangan
I. Batas Sendiri 1. Sungai 95,45 TBT 1470/2008 2. Buatan 52,74 TBT 1469/2008 3. Pantai 4 Hutan Negara - Hutan Lindung - Hutan Suaka Alam - Suaka Margasatwa II Batas Persekutuan
1. Batas dg. PT BMO 187,87 TBT 1045/1995
2. Batas dg PT Prabu Alaska 34 TBT 1095/1996
3. Batas dg APL Sawit 28 TBT 1109/1996
Bedasarkan tabel diatas hanya 5 kawasan yang sudah ditata batas secara sah, yaitu : Batas Sungai, buatan, batas dengan IUPHHK PT. Bade Makmur Orisa (BMO) dan PT. Prabu Alaska, serta batas dengan APL Sawit.
Penataan areal kerja IUPHHK diawali dengan kegiatan pembagian zonasi areal, yaitu kegiatan ini adalah pembagian areal ke dalam bagian-bagian hutan sesuai peruntukannya dengan melakukan delinasi makro. Zonasi bertujuan untuk menata areal kerja ke dalam zona-zona atau bagian areal untuk kepentingan produksi, lingkungan dan sosial agar dapat disusun rencana pengelolaan pada seluruh areal kerja dan untuk seluruh aspek pengelolaan hutan, baik menyangkut pengelolaan kawasan, kelola hutan dan kelola kelembagaan.
Penapisan pertama berdasar fungsi hutan, hutan produksi menurut SK No. 101/Menhut-II/2008 Tanggal 12 Maret 2009 merupakan kawasan hutan produksi tetap.
Penapisan kedua berdasar penutupan lahan, areal layak kelola untuk hutan produksi baik hutan primer maupun hutan bekas tebangan. Ada pun zona-zona yang ada pada areal kerja PT. TTL antara lain :
Kawasan lindung
Areal tidak efektif untuk produksi Areal efektif untuk produksi
Areal Non Hutan atau zona rehabilitasi.
Pembagian areal hutan pada areal kerja pada PT. TTL disajikan seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. Pembagian Areal Hutan Berdasarkan Penutupan Lahan PT. TTL
No. Uraian VF (ha) LOA (ha) NH (ha) Rawa (ha)
1. Luas areal IUPHHK 39.066 126.774 36.624 12.471
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 31
3. Areal Tidak Layak Kelola untuk HAP :
a. Areal Non Hutan
- Sempadan Sungai dan Perlindungan Rawa
- Areal Okupasi Masyarakat - Areal Efektif Rehabilitasi b. Rawa
36.624 4.562 15.610 16.217 4. Areal Layak Kelola untuk HAP
39.394 128.163
5. Kawasan Lindung
- KKI, KPPS dan Perlindungan Rawa - Sempadan Sungai - KKPN 9.958 266 250 6. Kawasan Tidak Efektif untuk
Produksi - PUP - Tegakan Benih - Sarana Prasarana 200 200 859 400 400 1.413 7. Luas Areal Efektif untuk Produksi
- Dikelola dg TPTJ
- Dikelola dg TPTI 1.898
26.294 32.203 81.107
Daur tebangan untuk TPTI selama 30 tahun, sedangkan untuk TPTJ adalah 25 Tahun. Etat luas dihitung berdasarkan luas areal efektif dibagi daur. Untuk TPTI diketahui etat luasnya adalah 3.580 hektar/tahun. Setelah diketahui etat luas rata-rata per tahun, disusun rencana kerja menurut waktu dan tempat dengan melakukan penataan areal ke dalam blok-blok kerja tahunan selama masa daur. Dengan tersusunnya rencana kegiatan penataan areal dalam bentuk blok-blok kerja tahunan tersebut, maka dapat diprediksi pula besarnya volume tebangan tahunan yang dihitung berdasar volume standing stock dalam masing-masing blok berdasar hasil IHMB dengan faktor koreksi (fk) dan faktor eksploitasi (fe).
2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP)
Dalam melakukan kegiatan ISTP, prinsip yang digunakan oleh PT. TTL adalah : 1) risalah hutan dengan intensitas 100% untuk pohon niagawi dengan diameter diatas 40 cm dan pohon yang dilindungi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, 2) Kegiatan ISTP dilakukan sebelum penyusunan RKTUPHHK.
Sebelum dilakukan kegiatan ITSP maka dibuat perencanaan sebagai berikut : 1) rencana jalur inventarisasi dibuat pada petak kerja yang ada di dalam blok RKT berdasar peta hasil PAK, 2) semua jalur ukur petak dibuat searah misalnya Utara – Selatan, 3) daftar ukur untuk mencatat hasil ITSP harus disiapkan, 4) peta rencana ITSP dibuat dengan skala 1 : 5.000.
Pelaksanaan ITSP dilakukan berdasarkan Prosedur Operasi Standar (POS) kerja untuk ITSP sesuai dengan prinsip serta peta kontur dan sebaran pohon dengan skala 1 : 1.000.
Inventarisasi tegakan adalah kegiatan pengukuran, penandaan dan pencatatan pohon pada areal produksi untuk mendapatkan data jumalah, jenis, sebaran, diameter dan tinggi
32 –
BP2LHK Manokwaripohon baik untuk kelompok pohon dilindungi maupun pohon yang akan ditebang serta kondisi lapangan lainnya.
Tujuan praktis kegiatan ini adalah untuk mengetahui potensi ekonomi dari hutan atau tegakan itu sendiri, sehingga dapat dilakukan proyeksi rugi laba dengan cepat dan tepat. Inventarisasi dilakukan dengan mencatat jenis pohon, mengukur dbh, tinggi bebas cabang serta memasang nomor pada pohon yang akan ditebang diameter 40 cm up dan 50 cm up dan pohon yang tidak ditebang.
3. Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)
Dalam melaksanakan kegiatan PWH pada areal kerja PT. TTL berprinsip efisien, efektif, tertib dan ramah lingkungan. Perencanaan kegiatan ini meliputi hal-hal sebagai berikut : 1) rencana PWH dibuat berdasar blok RKT, 2) Trase jalan angkutan dan jalan sarad dibuat berdasar peta kontur hasil ITSP, 3) lokasi base camp, TPK, Tpn, pondok kerja sesuai dengan kebutuhan lapangan. Pelaksaan PWH dilkaukan dengan menggunakan POS yang telah disusun oleh perusahaan.
PWH adalah kegiatan pembangunan sarana prasarana yang diperlukan dalam pengelolaan hutan yaitu base camp (kantor, gudang, bengkel, perumahan karyawan, fasilitas sosial, dan lain-lain), jalan hutan, camp kerja, Tpn, TPK dan persemaian.
Pembangunan Jalan Hutan
Diawali dengan penentuan trase jalan di dalam peta areal kerja hasil overlay antara peta
topografi dan peta potensi.
Survey dan verifikasi berdasar hasil overlay.
Penentuan trase jalan angkutan yang digunakan dan penandaan sebagai pedoman
operator lapangan.
Pembangunan jalan harus mengikuti kaidah teknik sipil.
Tabel 4. Spesifikasi Jalan di Areal PT.TTL
No. Spesifikasi Jalan Jalan Utama Jalan Cabang
1. Umur Pakai 10 Tahun 5 tahun
2. Sifat terhadap Cuaca Segala cuaca Segala cuaca
3. Lebar Jalan Berikut Bahu 12 m 8 m
4. Lebar Bahu Jalan 2 m 1,5 m
5. Lebar Perkerasan 8 m 5 m
6. Tebal Perkerasan 20 – 30 cm 10 – 20 cm
7. Tanjakan Menguntungkan 10% 12%
8. Turunan Mergikan 8% 10%
9. Radius Belokan Maximum 60% 50%
10. Kapasitas Muatan Maximum 60 ton 50 ton
Perhitungan kerapatan jalan optimal di areal IUPHHK PT. TTL dihitung dengan cara membagi jalan sarad optimal rata-rata dengan faktor efisiensi yang nilai skornya antara 5 – 9, yaitu 5 – 6 : datar – landai, 7 – 8 : gelombang dan 7 – 9 : curam. Menurut Peta Rupa Bumi Indonesia, topografi PT. TTL landai – curam sehingga nilai faktor efisiensinya adalah 6 dengan jarak sarad optimal rata-rata dengan traktor 330 m, maka kerapatan jalan optimal
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 33
adalah 18,18 m/ha. Berdasarkan perhitungan diatas luas areal 33.718 ha, jalan yang dibangun sepanjang 612,99 m atau 61,30 km.
4. Pemanenan
Kegiatan pemanenan atau penebangan pada areal PT. TTL berprinsip : tidak melebihi riap, efesien, efektif, tertib dan ramah lingkungan dan perapihan tidak dilakukan pada areal HPT. Persiapan yang dilakukan dalam penebangan dilakukan berdasar peta sebaran pohon dengan skala 1 : 1.000, penebangan dilakukan pada petak tebang pada blok RKT yang sudah disahkan dan perapihan yang dilakukan setelah pelaksanaan penebangan sekaligus mengidentifikaso lokasi pengayaan. Pelaksanaan penebangan menggunakan Prosedur Operasi Standar (POS) yang telah disusun oleh perusahaan dan alat-alat pemanenan yang digunakan mengikuti aturan yang berlaku.
Penetapan AAC (Annual Allowable Cutting) Berdasar analisis Zonasi
Etat Luas dihitung berdasar analisis zonasi. Etat Luas diperoleh dengan cara membagi luas areal efektif berhutan dengan jumlah daur, yaitu 107.401 ha untuk 30 tahun sebesar 3.580 ha/tahun. Penentuan luas, lokasi dan urutan blok tebangan tahunan dilakukan dengan pertimbangan data sediaan tegakan (standing stock) hasil IHMB dengan prinsip dasar areal dengan standing stock tinggi dilakukan penebangan lebih dahulu dengan melihat aspek kelayakan teknis dan ekonomis dalam pelaksanaan operasionalnya.
Etat volume dihitung berdasar hasil IHMB. Berdasar hasil analisis BPK Manokwari diperoleh data riap volume jenis komersil berkisar antara 0,484 – 2,361 m3/ha/tahun atau rata-rata 1,479 m3/ha/tahun pada perhitungan jatah tebang tahunan (JPT) dipergunakan asumsi riap rata-rata 1 m3/ha/tahun dengan asumsi tersebut jumlah standing stock tegakan jenis komersil kelas diameter Masak Tebang (MT) pada areal efektif 7.223.317 m3 , sehingga perhitungan etat volume dan JPT adalah sebagai berikut :
etat volume dihitung dengan cara jumlah perkalian antara volume standing stock dengan faktor koreksi (fp) dibagi jumlah daur yakni (7.223.317 m3 x 0,8)/30 tahun, yaitu : 192.622 m3/tahun.
JPT dihitung dengan cara mengalikan etat volume dengan faktor eksploitasi ( 192.622 m3/tahun x 0,7) yaitu 134.835 m3/tahun.
Berdasar SK Menhut
AAC berdasar SK Menteri Kehutanan No. SK 101/Menhut-II/2009 perpanjangan IUPHHK PT. TTL ditetapkan besarnya etat luas dan JPT .
Etat Luas 2.408 ha Etat Volume 90.194 m3
Jatah tebang tahunan (AAC) diatur berdasar IHMB yang dilaksanakan setiap 10 tahun dituangkan dalam RKU IUPHHK yang sudah disahkan oleh pejabat berwenang berdasar UU yang berlaku. Data IHMB adalah berdasar taksiran standing stock hasil inventarisasi dengan menggunakan sampling, bukan sensus (cacah pohon).
Teknik Pemanenan Kayu
Kegiatan penebangan dilakukan secara teknis dan menggunakan peralatan standar. Penebangan dilakukan oleh operator tebang dengan menggunakan gergaji rantai (chain saw) dengan teknik penebangan mengacu pada POS yang dibuat oleh perusahaan.
34 –
BP2LHK Manokwariditandai dalam kegiatan ITSP. Sedang pohon yang tidak ditebang adalah pohon binaan dengan diameter 20 – 39 cm dan jenis-jenis yang dilindungi.
Pohon yang sudah ditebang dipotong bagian atas yakni pada batas batang bebas cabang, kemudian disarad secara mekanis menggunakan traktor sarad menuju Tpn yang berada di pinggir jalan hutan. Kayu log di Tpn selanjutnya dimuat ke atas logging truck untuk diangkut ke log yard yang terletak di pinggir sungai.
Pelaksanaan penebangan menggunakan teknik penebangan ramah lingkungan atau RIL (Reduce Impact Logging) untuk menekan dampak negatif penebangan terhadap kerusakan tegakan tinggal dan tanah. Teknik pemanenan dengan RIL memgutamakan perencanaan jalan sarad yang mempertimbangkan topografi areal dan sebaran pohon yang dapat dipanen . Dengan demikian maka pembuatan jalan sarad dapat ditekan baik panjang maupun lebar bukaannya sehingga dapat mengurangi kerusakan tanah dan tegakan tinggal akibat penyaradan. Disamping itu penentuan arah rebah juga menjadi salah satu elemen kunci dalam pelaksanaan teknik pemanenan dengan metode RIL.
Perapihan
Kegiatan ini dilakukan pada areal bekas tebangan dengan tujuan agar petak tebangan mudah dikenali kembali. Keberadaan permudaan dan tegakan tinggal serta areal terbuka dan kurang permudaan dapat diidentifikasi dan dipetakan sebagai dasar melakukan tindakan silvikultur berikutnya.
Kegiatan perapihan meliputi :
pembebasan semak belukar pada areal bekas tebangan.
pembersihan alur batas petak.
Pemasangan kembali patok batas yang hilang atau rusak atau terganggu kegiatan
pemanenan.
Identifikasi keberadaan dan kondisi permudaan dan tegakan tinggal serta areal yang
terbuka dan kurang permudaan.
Pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan untuk monitoring dan evaluasi.
Kegiatan perapihan tidak dilakukan pada areal Hutan Produksi Terbatas (HPT).
5. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Pengayaan
Kegiatan ini berprinsip pada pemulihan produktivitas areal kosong dan atau tidak produktif pada blok RKT dan penggunaan jenis lokal unggulan setempat. Kegiatan ini dilakukan dengan perencanaan yang matang dan persiapan-persiapan sebagai berikut : 1) persemaian dibuat dan dikelola dengan mengutamakan bibit jenis lokal, 2) peta rencana dibuat berdasar hasil identifikasi areal bekas tebangan yang perlu ditanami. Pelaksanaan penanaman berdasakan pada POS (Prosedur Operasi Standar) yan disusun oleh perusahaan yang berpegang pada prinsip penanaman.
Pengadaan Bibit
Untuk menyediakan bibit dalam jumlah yang cukup banyak dan waktu yang tepat perlu dibangun persemaian. Sumber bibit untuk perseaian berasal dari biji, cabutan alam dan stek dari kebun pangkas. Lokasi persemaian pada areal yang datar dengan akses pemeliharaan yang mudah dijangkau serta cukup air dan memiliki luasan yang cukup dan memenuhi kebutuhan setiap bibit sesuai yang direncanakan.
Kebutuhan bibit digunakan untuk :
kegiatan pengayaan
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 35
penanaman areal non hutan
penanaman kanan kiri jalan, Kegiatan pengayaan dilakukan pada areal-areal yang kurang permudaan jenis komersil, untuk itu jenis komersil yang dikembangkan dalam persemaian adalah jenis nyatoh (Palaquium sp), meranti, keruing, agathis dan lain-lain. Rehabilitasi dilakukan pada areal terbuak akibat kegiatan pembalakan seperti bekas Tpn dan jalan sarad. Pada areal non hutan serta areal kanan kiri jalan dilakukan penanaman dengan jenis-jenis pohon yang tahan terhadap penyinaran matahari langsung dan merupakan jenis-jenis pohon kehidupan MPTS.
Tahapan Pengadaan Bibit
Membersihkan areal persemaian dari semak dan tegakan naungan atau tebang habis
jalur.
Membersihkan lahan persemaian dari jamur, bakteri dengan herbisida.
Membuat bedeng semai berupa bedengan persegi panjang setinggi 0,5 dari lantai hutan
dengan ukuran 1 X 5.
Menyiapkan media semai berupa lapisan humus hutan (top soil) yang telah steril melalui
penggarangan dan penyemprotan herbisida.
Mengumpulkan bibit semai berupa cabutan dan puteran yang berasal dari pohon induk
dan kebun benih. Bibit semai diambil dari jenisjenis dominan di hutan yang dikelola.
Permbersihan dan sterilisasi lahan dengan herbisida dan dilanjutkan dengan fungisida
sebanyak 100 l/ha.
Sterilisasi media semai dengan fungisida sebanyak 0,25 l/m3 .
Luas areal tebangan yang perlu dilakukan penanaman rehabilitasi sebesar kurang lebih 3% dari luas blok tebangan sedangkan luas areal penanaman pengayaan kurang lebih 7% dari luas tebangan. Sehingga diperlukan kebun bibit untuk penyulaman sebesar 20% dari kebutuhan bibitnya yaitu karet, jabon sengon.
Kebutuhan bibit pengayaan dan rehabilitasi
Pengayaan : 7% x 400 bibit/ha + 20% penyulaman = 34 bibit/ha luas blok tebangan.
Rehabilitasi : 3% x 1110 bibit/ha + 20% penyulaman = 40 bibit/ha luas blok tebangan.
Penanaman kanan kiri hutan : 1110 bibit/ha + 20% penyulaman = 1332 bibit/ha Kanan kiri jalan : 400 bibit/ha + 20% penyulaman = 480 bibit/ha.
6. Pembebasan Pohon Binaan
Kegiatan ini berprinsip pada peningkatan riap pohon binaan yang berasal dari permudaan alam dan tanaman pengayaan serta tidak dilakukan pada areal HPT. Persiapan yang dilakukan antara lain : 1) Pohon terbaik ditetapkan sebagai pohon binaan di petak kerja, 2) pohon binaan dibebaskan dari tanaman pesaing, 3) dilakukan pembuatan peta sebaran pohon binaan hasil pembebasan. Pelaksanaannya berdasarkan pada Prosedur Operasi Standar (POS) yang dibuat oleh perusahaan dan menggunakan arborisida yang ramah lingkungan khusus pohon besar.
7. Perlindungan dan Pengamanan Hasil Hutan
Kegiatan ini bertujuan untuk pengendalian hama penyakit, perlindungan dari kebakaran hutan, perambahan hutan dan pencurian hasil hutan serta memberikan kepastian usaha dalam pengelolaan hutan produksi.
Hal-hal yang dilakukan perusahaan terkati dengan kegiatan tersebut di atas adalah :
36 –
BP2LHK Manokwari Pembangunan sarana dan prasarana perlindungan hutan seperti : Menara pemantau
kebakaran, kolam air dan embung-embung, papan larangan berburu, papan peringatan kebakaran hutan dan papan-papan tempat dilindungi dan keramat.
Penyuluhan pada masyarakat sekitar tentang kebakaran hutan, hukum dan sanksi
hukum pelanggaran hutan seperti pencurian kayu, perburuan satwa dan perambahan hutan
Pembuatan sekat bakar pada petak-petak rawan kebakaran hutan.
B. PT. Manokwari Mandiri Lestari (MML) 1. Penataan Areal Kerja (PAK)
Penataan areal yang dilakukan oleh IUPHHK PT. MML merupakan kegiatan yang bertujuan untuk pengaturan pemanfaatan hasil hutan dengan memperhatikan aspek-aspek kepastian areal, potensi sumber daya hutan, kontinyuitas produksi, sosial ekonomi dan kebijakan penataan ruang setempat (RTRW Provinsi Papua Barat).
Kegiatan penataan areal kerja juga dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga dalam penentuan etat luas maupun etat volume diperhitungkan kawasan lindung yang terdiri dari buffer zone hutan lindung, sempadan sungai, kawasan pelestarian plasma nutfah dan kawasan sekitar mata air, areal tidak efektif untuk produksi yang terdiri dari petak ukur permanen, kebun bibit dan sarana prasarana.
Berdasarkan bagan penataan areal peruntukan lahan untuk kawasan, kawasan lindung dan saran prasarana diberi batas agar masing-masing fungsinya berjalan dengan baik. Mengingat kondisi areal yang kompak maka pengelolaannya dikonsentrasikan dalam satu unit kegiatan.
Dengan daur selama 30 tahun, maka seluruh areal efektif untuk produksi akan dibagi masa daur. Dari hasil perhitungan pada bagan penataan areal kerja diperoleh rata-rata luas tebangan pertahun adalah 1.907 ha/tahun.
Kegiatan penataan dimaksudkan untuk memberi tanda batas di lapangan pada blok kerja tahunan sehingga pelaksanaan setiap pengusahaan hutan dapat dilaksanakan dengan baik. Disamping itu untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pemantauan, pengendalian dan pengawasan dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan.
Untuk memudahkan dalam pengaturan rencana kegiatan pemungutan hasil hutan dan pembinaan areal bekas tebangan maka blok kerja tahunan (blok RKT) yang luasnya disesuaikan dengan target tebangan tahunan. Selanjutnya tiap blok RKT akan dibagi dalam petak-petak kerja permanen dengan luas kurang lebih 100 Ha, diusahakan dengan menggunakan batas alam.
Di bawah ini adalah tabel peruntukan lahan di areal PT. MML Tabel. 5. Peruntukan Lahan di Areal Kerja PT. MML
No. Uraian Luas (ha)
I LUAS AREAL KERJA IUPHHK 90.980
A. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 44.965
1. Hutan Primer 18.656
a. Kawasan Lindung 4.757
- Kawasan Lindung Gambut 200
- Buffer Zone HL dan CA 4.957
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 37
No. Uraian Luas (ha)
b. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 400
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Sarana dan Prasarana 300
2. Hutan Bekas Tebangan 24.324
a. Kawasan Lindung 3.840
- Kawasan Lindung Gambut 3.230
- Buffer Zone HL dan CA 610
b. Areal Tidak Efektif untuk Produksi 950
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Areal Petak Ukur Permanen (PUP) 400
Sarana dan Prasarana 450
3 Non Hutan 1.985
B. Hutan Produksi Tetap (HP) 25.030
1. Hutan Bekas Tebangan 20.423
a. Kawasan Lindung 1.520
- Kawasan Lindung Gambut 200
- Buffer Zone HL dan CA 470
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 850
b Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 1.262
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 300
- Areal Petak Ukur Permanen (PUP) 100
- Sarana dan Prasarana 862
2. Non Hutan 4.607
C. Hutan Produksi Konversi 20.985
1 Hutan Primer 15.189
a Kawasan Lindung 6.340
- Kawasan Lindung Gambut 2.700
- Buffer Zone HL dan CA 711
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 429
- Kawasan Lindung Plasma Nutfah 2.500
b. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 3.502
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Sarana dan Prasarana 3.402
2. Hutan Bekas Tebangan 4.408
a Kawasan Lindung 1.490
38 –
BP2LHK ManokwariNo. Uraian Luas (ha)
- Buffer Zone HL dan CA 711
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 429
3. Non Hutan 956
- Buffer Zone HL dan CA 432
II Jumlah Areal Hutan Efektf 57.210
III Jumlah Kawasan Lindung 20.008
IV Jumlah Areal Tidak Efektif 6.214
V Jumlah Areal Non Hutan Efektif 7.548
VI Jumlah Seluruh Areal 90.980
2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP)
Kegiatan Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) yang dilakukan PT. MML bertujuan mengetahui potensi hutan, sebaran jenis tertentu dan kondisi mikro terutama topografi. Data yang dikumpulkan dari kegiatan ini adalah informasi tentang pohon yang meliputi jenis, diameter, tinggi, letak dan kondisi tumbuhan bawah yang dilakukan secara sampling. Selain itu juga perlu dirisalah mengenai fauna dan hasil hutan non kayu yang terdapat pada lokasi tersebut. Intensitas sampling yang digunakan untuk perencanaan jangka pendek (RKT) mnggunakan intensitas 100% dilengkapi dengan denah/peta pohon yang akan ditebang. Kegiatan inventarisasi dilakukan dengan sistem jalur dengan menggunakan plot ukur gabungan (combined sample plot), dengan pertimbangan pada tahun berikutnya dapat dilakukan pembangunan jalan, Tpn dan TPK. Selain itu data hasil ITSP sangat diperlukan untuk merencanakan arah jalan sarad dan kebutuhan peralatan.
3. Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)
Kegiatan pembukaan wilayah hutan merupakan rangkaian penyediaan sarana dan prasarana untuk memperlancar dalam kegiatan pemanenan hasil hutan, pembinaan, dan perlindungan hutan, meliputi pengadaan jalan, base camp dan TPK, Tpn dan fasilitas lainnya.
Kegiatan pemanfaatan hasil hutan memerlukan sarana transportasi sehingga pembangunan jalan merupakan faktor yang amat menentukan terhadap produksi kayu. Dalam pembangunan jalan harus memperhatikan faktor kerapatan jalan (Intensitas Pembukaan Wilayah Hutan), yaitu perbandingan antara panjang jalan dengan luas areal suatu unit kerja produksi. Kerapatan jalan akan optimal apabila biaya penyaradan sama dengan biaya pembuatan jalan dan pemeliharaannya.
Untuk menghitung kerapatan jalan optimal maka menggunakan rumus Bendz (1970), yaitu :
Dimana : D = Kerapatan jalan/Intensitas PWH (m/ha)
= Faktor efisiensi jalan (3-4 untuk daerah datar s/d landai) S = Jarak sarad rata-rata (km)
Berdasarkan pengalaman dengan kondisi topografi dilapangan, untuk membuat petak tebangan seluas 100 ha maka diperlukan jarak sarad (S) 300-400 m, dengan menggunakan