MAKALAH UTAMA
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS SISTEM SILVIKULTUR TPTI TERHADAP KELESTARIAN PRODUKSI HUTAN DI PAPUA
D. Analisis Data
7. Perlindungan dan Pengamanan Hasil Hutan
Kegiatan ini bertujuan untuk pengendalian hama penyakit, perlindungan dari kebakaran hutan, perambahan hutan dan pencurian hasil hutan serta memberikan kepastian usaha dalam pengelolaan hutan produksi.
Hal-hal yang dilakukan perusahaan terkati dengan kegiatan tersebut di atas adalah :
36 –
BP2LHK Manokwari Pembangunan sarana dan prasarana perlindungan hutan seperti : Menara pemantau
kebakaran, kolam air dan embung-embung, papan larangan berburu, papan peringatan kebakaran hutan dan papan-papan tempat dilindungi dan keramat.
Penyuluhan pada masyarakat sekitar tentang kebakaran hutan, hukum dan sanksi
hukum pelanggaran hutan seperti pencurian kayu, perburuan satwa dan perambahan hutan
Pembuatan sekat bakar pada petak-petak rawan kebakaran hutan.
B. PT. Manokwari Mandiri Lestari (MML) 1. Penataan Areal Kerja (PAK)
Penataan areal yang dilakukan oleh IUPHHK PT. MML merupakan kegiatan yang bertujuan untuk pengaturan pemanfaatan hasil hutan dengan memperhatikan aspek-aspek kepastian areal, potensi sumber daya hutan, kontinyuitas produksi, sosial ekonomi dan kebijakan penataan ruang setempat (RTRW Provinsi Papua Barat).
Kegiatan penataan areal kerja juga dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga dalam penentuan etat luas maupun etat volume diperhitungkan kawasan lindung yang terdiri dari buffer zone hutan lindung, sempadan sungai, kawasan pelestarian plasma nutfah dan kawasan sekitar mata air, areal tidak efektif untuk produksi yang terdiri dari petak ukur permanen, kebun bibit dan sarana prasarana.
Berdasarkan bagan penataan areal peruntukan lahan untuk kawasan, kawasan lindung dan saran prasarana diberi batas agar masing-masing fungsinya berjalan dengan baik. Mengingat kondisi areal yang kompak maka pengelolaannya dikonsentrasikan dalam satu unit kegiatan.
Dengan daur selama 30 tahun, maka seluruh areal efektif untuk produksi akan dibagi masa daur. Dari hasil perhitungan pada bagan penataan areal kerja diperoleh rata-rata luas tebangan pertahun adalah 1.907 ha/tahun.
Kegiatan penataan dimaksudkan untuk memberi tanda batas di lapangan pada blok kerja tahunan sehingga pelaksanaan setiap pengusahaan hutan dapat dilaksanakan dengan baik. Disamping itu untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan pemantauan, pengendalian dan pengawasan dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan.
Untuk memudahkan dalam pengaturan rencana kegiatan pemungutan hasil hutan dan pembinaan areal bekas tebangan maka blok kerja tahunan (blok RKT) yang luasnya disesuaikan dengan target tebangan tahunan. Selanjutnya tiap blok RKT akan dibagi dalam petak-petak kerja permanen dengan luas kurang lebih 100 Ha, diusahakan dengan menggunakan batas alam.
Di bawah ini adalah tabel peruntukan lahan di areal PT. MML Tabel. 5. Peruntukan Lahan di Areal Kerja PT. MML
No. Uraian Luas (ha)
I LUAS AREAL KERJA IUPHHK 90.980
A. Hutan Produksi Terbatas (HPT) 44.965
1. Hutan Primer 18.656
a. Kawasan Lindung 4.757
- Kawasan Lindung Gambut 200
- Buffer Zone HL dan CA 4.957
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 37
No. Uraian Luas (ha)
b. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 400
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Sarana dan Prasarana 300
2. Hutan Bekas Tebangan 24.324
a. Kawasan Lindung 3.840
- Kawasan Lindung Gambut 3.230
- Buffer Zone HL dan CA 610
b. Areal Tidak Efektif untuk Produksi 950
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Areal Petak Ukur Permanen (PUP) 400
Sarana dan Prasarana 450
3 Non Hutan 1.985
B. Hutan Produksi Tetap (HP) 25.030
1. Hutan Bekas Tebangan 20.423
a. Kawasan Lindung 1.520
- Kawasan Lindung Gambut 200
- Buffer Zone HL dan CA 470
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 850
b Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 1.262
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 300
- Areal Petak Ukur Permanen (PUP) 100
- Sarana dan Prasarana 862
2. Non Hutan 4.607
C. Hutan Produksi Konversi 20.985
1 Hutan Primer 15.189
a Kawasan Lindung 6.340
- Kawasan Lindung Gambut 2.700
- Buffer Zone HL dan CA 711
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 429
- Kawasan Lindung Plasma Nutfah 2.500
b. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi 3.502
- Areal Tegakan Benih (Kebun Bibit) 100
- Sarana dan Prasarana 3.402
2. Hutan Bekas Tebangan 4.408
a Kawasan Lindung 1.490
38 –
BP2LHK ManokwariNo. Uraian Luas (ha)
- Buffer Zone HL dan CA 711
- Sempadan Sungai dan Badan Sungai 429
3. Non Hutan 956
- Buffer Zone HL dan CA 432
II Jumlah Areal Hutan Efektf 57.210
III Jumlah Kawasan Lindung 20.008
IV Jumlah Areal Tidak Efektif 6.214
V Jumlah Areal Non Hutan Efektif 7.548
VI Jumlah Seluruh Areal 90.980
2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP)
Kegiatan Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) yang dilakukan PT. MML bertujuan mengetahui potensi hutan, sebaran jenis tertentu dan kondisi mikro terutama topografi. Data yang dikumpulkan dari kegiatan ini adalah informasi tentang pohon yang meliputi jenis, diameter, tinggi, letak dan kondisi tumbuhan bawah yang dilakukan secara sampling. Selain itu juga perlu dirisalah mengenai fauna dan hasil hutan non kayu yang terdapat pada lokasi tersebut. Intensitas sampling yang digunakan untuk perencanaan jangka pendek (RKT) mnggunakan intensitas 100% dilengkapi dengan denah/peta pohon yang akan ditebang. Kegiatan inventarisasi dilakukan dengan sistem jalur dengan menggunakan plot ukur gabungan (combined sample plot), dengan pertimbangan pada tahun berikutnya dapat dilakukan pembangunan jalan, Tpn dan TPK. Selain itu data hasil ITSP sangat diperlukan untuk merencanakan arah jalan sarad dan kebutuhan peralatan.
3. Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)
Kegiatan pembukaan wilayah hutan merupakan rangkaian penyediaan sarana dan prasarana untuk memperlancar dalam kegiatan pemanenan hasil hutan, pembinaan, dan perlindungan hutan, meliputi pengadaan jalan, base camp dan TPK, Tpn dan fasilitas lainnya.
Kegiatan pemanfaatan hasil hutan memerlukan sarana transportasi sehingga pembangunan jalan merupakan faktor yang amat menentukan terhadap produksi kayu. Dalam pembangunan jalan harus memperhatikan faktor kerapatan jalan (Intensitas Pembukaan Wilayah Hutan), yaitu perbandingan antara panjang jalan dengan luas areal suatu unit kerja produksi. Kerapatan jalan akan optimal apabila biaya penyaradan sama dengan biaya pembuatan jalan dan pemeliharaannya.
Untuk menghitung kerapatan jalan optimal maka menggunakan rumus Bendz (1970), yaitu :
Dimana : D = Kerapatan jalan/Intensitas PWH (m/ha)
= Faktor efisiensi jalan (3-4 untuk daerah datar s/d landai) S = Jarak sarad rata-rata (km)
Berdasarkan pengalaman dengan kondisi topografi dilapangan, untuk membuat petak tebangan seluas 100 ha maka diperlukan jarak sarad (S) 300-400 m, dengan menggunakan
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 39
faktor efisiensi jala (a) sebesar 4 (daerah landai) maka didapat kerapatan jalan (D) sebesar 15 m/ha.
Dari hasil perhitungan dibangun jalan sepanjang 100 km. Pelaksanaan pembangunan jalan meliputi jalan utama (Main road) dibangun dengan lebar jalan 12 m dengan panjang 30 km dan jalan caban dengan lebar 8 meter dengan panjang 70 Km. Selain jalan pada kegiatan pembukaan wilayah hutan juga telah dibangun Tpn dimana setiap Tpn seluas 0,1 ha yang mampu menampung sekitar 1.500 m3 kayu, sehingga untuk proyeksi produksi sebesar 95.415 m3/tahun di perlukan Tpn sekitar 64 buah.
4. Pemanenan
Pemanenan hasil hutan pada areal PT. MML meliputi pekerjaan penentuan arah rebah, penebangan, pembagiaan batang, penyaradan, pengupasan, dan pengangkutan dari tempat pengumpulan ke log pond. Kegiatan pemanenan hasil hutan dilaksanakan dengan sistem tebang pilih dimana pohon yang ditebang adalah pohon yang telah memenuhi limit diameter. Jenis pohon yang ditebang meliputi kelompok jenis kelompok meranti, kelompok kayu rimba campuran. Jenis yang ditebang suatu saat dapat berubah disesuaikan dengan permintaan pasar. Jadi ada kemungkinan salah satu jenis yang saat ini belum termasuk dalam kelompok jenis komersil pada saat tertentu dapat memiliki nilai ekonomi tinggi.
Untuk menjamin kelestarian produksi diadakaan pengaturan hasil yang benar-benar sesuai dengan potensi sumberdaya kemampuan lahan. Tolok ukur atau batas maksimal yang boleh ditebang dalam suatu luasan dan waktu tertentu disebut dengan etat. Etat tebangan yang ditentukan pada PT. MML adalah kombinasi antara luas tebangan per tahun (etat luas) dengan volume tebangan per tahun (etat volume). Artinya apabila etat volume pada suatu periode (1 tahun) berjalan telah tercapai padahal etat luasnya belum maka penebangan dihentikan dan dianggap telah memenuhi target (100%). Namun demikian untuk hal sebaliknya tidak berlaku.
Dalam penentuan etat luas dan volume IUPHHK PT. MML mengacu pada “Peraturan Menteri Kehutanan No. P.11/Menhut-II/2009 tanggal 9 Pebruari 2009 tentang Sistem Silvikultur dalam Areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Produksi'. Dimana daur atau siklus tebangan yang digunakan adalah 30 tahun, dengan menggunakan limit diameter kurang lebih 40 cm pada hutan produksi tetap (HP) atau hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) dan kurang lebih 50 cm pada hutan produksi terbatas (HPT).
Sistem Pemanenan Hasil Hutan
Sistem pemanenan hasil hutan yang akan digunakan oleh PT. MML adalah sistem mekanis yang meliputi kegiatan penebangan, penyaradan sampai kegiatan pengangkutannya. Tahapan kegiatan pemanenan kayu ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Penebangan
Pemanenan kayu secara tebang pilih (selective cutting) yakni penebangan hanya pada jenis kayu komersil dari pohon-pohon berdiameter sama dengan 40 cm atau lebih bagi yang berada di HP/HPK dan 50 cm atau lebih untuk yang berada di HPT. Dalam kegiatan ini IUPHHK PT. MML menerapkan sistem pemanenan hasil hutan kayu yang ramah lingkungan dengan menggunakan prosedur Reduced Impact Logging (RIL). Tahapan-tahapan kegiatan penebangan meliputi penentuan arah rebah pohon, penebangan dan pembagian batang.
b. Penyaradan
Meliputi kegiatan pengangkutan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu. Penyaradan kayu meggunakan traktor sarad. Prestasi kerja penyaradan dengan sistem traktor dipengaruhi oleh ukuran kayu, topografi, cuaca, jarak sarad, keterampilan tenaga kerja dan keadaan tanah. Prestasi kerja traktor sarad jenis Caterpilar D7G dengan kondisi
40 –
BP2LHK Manokwaritopografi agak berat rata-rata 50 m3/hari. Dengan hari kerja 20 hari/bulan atau 240 hari/tahun, maka prestasi kerja traktor sarad per tahun adalah 12.000 m3/tahun.
c. Pengangkutan
Pengangkutan kayu dari lokasi tempat pengumpulan kayu (TPn) sampai ke tempat penimbunan kayu (TPK) dilakukan melalui jalan darat menggunakan logging truck. Sesuai dengan kondisi lapangan di areal kerja PT. MML dimana jarak antara TPn sampai ke TPK relatif jauh, maka volume muatan rata-rata 45 m3/trip, dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam.
Apabila jam kerja efektif 10 jm/hri availability alat 70% maka jumlah trip dalam sehari adalah 1 trip. Dengan hari kerja 20 hari/bulan maka kapasitas pengangkutan mencapai 1.800 m3/tahun atau 7.200 m3/tahun.
d. Muat Bongkat
Kegiatan muat bongkar dilakukan dengan menggunakan alat Wheel loader 966.F yang mampu melakukan muat bongkar 15.000 m3/bulan. Muat bongkar dilakukan di lokasi pemuatan TPn dan lokasi TPK atau logpond.
Peralatan Pemanenan Kayu di IUPHHK PT. MML
Komponen dan jumlah peralatan yang diperlukan untuk kegiatan pengelolaan hutan ditentukan berdasar prestasi standar kerja peralatan, regu kerja dan target/volume penebangan yang telah ditentukan. Berdasar etat luas dan etat volume, maka penebangan tahunan yang dilakukan yaitu etat luas 1.907 ha/tahun dan etat volume 95.415 m3/tahun.
Kapasitas Peralatan.
a. Pembuatan dan Pemeliharaan Jalan
Pembuatan jalan angkutan baik jalan utama maupun jalan cabang dilakukan dengan traktor dan dibantu alat grader, eksavator untuk pengerasan jalan. Kemampuan alat-alat tersebut secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6. Kapasitas Kerja Peralatan Pembuatan Jalan
No. Jenis/Tipe Alat Kapasitas Kerja per Unit Keterangan
Jalan Utama
(km/bl) Jalan Cabang (km/bl) Jalan Sarad (km/bl)
1. Traktor Cat D7G 0.7 1,0 1,3
2. Motor Grader 20 20 20
3. Dump Truck 2.000 2.000 2.000
4. Exavator 20.000 20.000 20.000
b. Penebangan
Kapasitas Kerja chain saw (merk STIHL) untuk penebangan yang digunakan oleh operator dan helper dapat menghasilkan tebangan rata-rata per hari sekitar 10 pohon (= 45 m3). Dengan 20 hari kerja per bulan atau 240 hari kerja per tahun, maka standar kapasitas satu unit chain saw adalah 45 m3/hari x 240 hari sebesar 10.800 m3/tahun, dengan asumsi
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 41
tersebut, maka kebutuhan alat chain saw yang diperlukan adalah 9 unit untuk etat volume 95.415 m3/tahun.
c. Penyaradan
Penyaradan kayu pada hutan mekanik memerlukan alat berupa traktor sarad dengan jenis pekerjaan pembuatan saradan, menyarad kayu. Kapasitas kerja traktor sarad (merk Cat D7G) rata-rata 50 m3/hari dengan jarak sarad 650 m, maka kapasitas penyaradan adalah 50 m3/hari x 240 hari adalah 12.000 m3/tahun, traktor sarad yang dibutuhkan 8 unit.
d. Pengangkutan Kayu
Pengangkutan Kayu dari TPn dan TPK dengan menggunakan logging truck jenis Renault CBH 385 dengan masa umur 10 tahun. Mengingat jarak angkut pada saat ini relatif dekat sekitar 10 – 20 km, maka dengan kapasitas angkutan logging rata-rata 45 m3/trip maka dalam 1 hari (=10 jam kerja efektif ). Dengan menggunakan waktu jam kerja 20 hari/bulan (8 bulan efektif atau 160 hari/tahun), maka kapasitas angkutan sebesar 1.800 m3/bulan atau 7.200 m3/tahun, dibutuhkan logging truck 18 buah.
e. Muat Bongkar dan Perakitan Kayu
Standar kapasitas kerja peralatan muat bongkar (loader-unloader) dan perakitan (floater) dapat disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 7. Kapasitas Peralatan Muat Bongkar dan Perakitan Kayu
No. Jenis Alat Produktivitas/Unit/Bulan Keterangan
1. 2. Bongkar Muat Loader Perakitan Kayu Loader Crane 15.000 m3/bulan 6.000 m3/bulan 12.000 m3/bulan
Proyeksi Kebutuhan Peralatan
Kebutuhan peralatan berdasarkan kapasitas standar alat dan rata-rata volume produksi tahunan PT MML yaitu 95.415 m3/tahun maka kebutuhan alat eksploitasi disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 8. Kebutuhan Alat pada Kegiatan Pemanenan Hasil PT. MML
No. Jenis Kegiatan/Peralatan Kebutuhan
(unit) Keterangan A. Pembuatan Jalan 1. Traktor 4 2. Motor Grader 2 3. Dump Truck 2 4. Excavator 1
42 –
BP2LHK Manokwari1. Chain saw untuk penebangan 9
2.Chain saw untuk pembagian batang 4
Penyaradan
1. Skidding tractor 8
Bongkar Muat dan Perakitan
1. Logging Truck Trailler 13
2. Logging Truck 7
3. Log Loader 2
4. Crane 1
Lain-lain (Peralatan Penunjang)
1. Toyota Pick up 4
2. Jeep Hiline 4
3. Tanki Truck 2
4. Tug Boat/Speed boat 2
5. Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Pengayaan
Dalam mendukung kegiatan pemanfaatan hutan yang lestari, setiap penebangan pohon harus diikuti dengan pemudaan alam maupun buatan atau keduanya. Kegiatan ini dapat ditempuh dengan melaksanakan penanaman. Penanaman pengayaan adalah kegiatan penanaman pada areal bekas tebangan yang tidak memiliki cukup permudaan dari jenis niagawi dengan tujuan untuk memperbaiki struktur dan komposisi tegakan perlu dikayakan baik jenis maupun jumlahnya. Pengayaan dilakukan pada areal yang kurang permudaannya dengan luasan lebih dari 25 petak ukur. Penanaman rehabilitasi adalah kegiatan penanaman tanah kosong di dalam kawasan hutan agar memiliki nilai ekonomis maupun ekologis. Areal yang perlu direhabilitasi adalah tanah kosong, bekas TPn, TPK dan areal terbuka lainnya.
Jenis yang akan ditanam adalah jenis-jenis niagawi terutama jenis yang memiliki
prospek pasar bagus dan merupakan tanaman endemik setempat seperti matoa (Pometia
sp) dan merbau (Intsia sp) . Jarak tanam untuk pengayaan adalah 5 x 5 m, sedangkan untuk penanaman tanah kosong bekas TPn dan sarana prasarana lainnya 3 x 3 m. Luas efektif untuk penanaman pengayaan sekitar 2.775 hektar selama 10 tahun dan untuk penanaman rehabilitasi sekitar 925 hektar selama 10 tahun.
Kegiatan pemeliharaan tanaman adalah kegiatan pemeliharaan tanaman yang baru ditanam, meliputi tindakan penyiangan, pendangiran, penyulaman dan pencegahan gangguan oleh hama penyakit pada tanaman muda. Pemeliharaan ini bertujuan untuk menigkatkan persentasi keberhasilan tanaman.
Pendangiran adalah kegiatan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan cara memperbaiki sifat fisik tanah. Dengan demikian penfagiran disebut juga penggemburan tanah. Penyiangan untuk pembebasan tanaman dari persaingan dengan tumbuhan pengganggu dengan cara pembersihan rumput gulma dan pengganggu lainnya.
Penyulaman untuk meningkatkan persentase tumbuh tanaman dengan cara mengganti tanaman yang mati. Penyulaman dilakukan pada bulan ketiga setelah penanaman. Jenis bibit yang digunakan sesuai dengan jenis yang mati atau jenis niagawi lainnya (jenis unggulan setempat).
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 43
6. Pembebasan Pohon Binaan
Pembebasan adalah kegiatan pemeliharaan tegakan tinggal lanjutan yang berupa pekerjaan membebaskan tajuk jenis niagawi (pohon inti dan permudaan) dari desakan dan naungan pohon lain atau tanaman pengganggu/pesaing. Tujuan pembebasan adalah untuk memberi ruang tumbuh yang cukup kepada pohon agar dapat meningkatkan riap pohon sehingga meningkatkan produktivitas tegakan tinggal yang diharapkan memberi hasil yang optimal pada rotasi tebang berikutnya.
Untuk areal di Hutan Produksi Terbatas (HPT) tidak dillaksanakan pembebasan karena umumnya areal HPT memiliki tingkat bahaya erosi yang tinggi, dengan demikian pembebasan hanya dilakukan di Hutan Produksi Tetap (HT).
Penanaman Tanah Kosong dan Kanan Kiri Jalan
Penanaman pada areal terbuka atau kurang produktif dengan prioritas pada daerah-daerah rawan dan berbatasan dengan lahan penduduk. Berdasar hasil penafsiran Citra Landsat tahun 2014 dengan skala 1 : 100.000 dan hasil penataan alur areal IUPHHK PT. MML memiliki luas non hutan efektif sebesar 7.548 hektar, dimana areal ini telah ditanami ditanami jenis-jenis tanaman yang cepat tumbuh yang sesuai dengan kondisi setempat, seperti matoa, binuang dan bintangur. Sedangkan penanaman pada kanan kiri jalan angkutan atau kanan kiri koridor. Jenis yang ditanam adalah jenis MPTS (tanaman buah) yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
7. Perlindungan dan Pengamanan Hasil Hutan
Kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan yang dilakukan di IUPHHK PT MML utamanya adalah perkrutan anggota satpam. Adapun gangguan hutan yang ada adalah pencurian kayu, kebakaran hutan dan peladangan berpindah serta gangguan terhadap flora dan fauna di kawasan.
Kebakaran Hutan
Kegiatan yang dilakukan untuk pencegahan kebakaran hutan antara lain :
penyuluhan pada masyarakat setempat tentang pencegahan dan bahaya kebakaran hutan
pemasangan plang-plang peringatan tentang pencegahan kebakaran hutan
membuat skat bakar sekaligus tanda batas blok pada daerah rawan kebakaran
menyiapkan alat pemadam kebakaran hutan
pembentukan regu pemadam kebakaran hutan
membangun menara pengawasan api/kebakaran
membangun embung-embung/kantong air
Pencurian Kayu
Untuk mencegah pencurian kayu, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan adalah :
penyuluhan hukum tentang hukum dan sanksi pencurian kayu
pemantauan kegiatan ilegal loging
membentuk regu pengamanan hutan
melakukan operasi terpadu
Peladangan Berpindah
Kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mencegah peladangan berpindah yang dilakukan oleh masyarakat setempat adalah :
44 –
BP2LHK Manokwari penyuluhan tentang pola sistem pertanian menetap dan akibat-akibat peladangan berpindah
transfer teknologi pertanian melalui tranformasi pertanian menetap
Ekspose Hasil-hasil Penelitian 2015
- 45
IV. KESIMPULAN DAN SARAN