• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Badak Sumatera

Badak sumatera merupakan badak terkecil dari lima spesies badak yang ada di dunia. Keberadaannya di alam kurang dari 300 ekor, dengan populasinya yang berkurang dengan cepat akibat kerusakan habitat dan perburuan liar(Miller 1999; Macdonald 2001). Statusnya dikategorikan dalam Critically Endangered

(CR – A1bcd, C2a) dalam the IUCN Red List 20064, dan terdaftar dalam

Appendix I CITES5. Klasifikasi badak sumatera sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Mamalia Subkelas : Theria (WWF 20026) Ordo : Perissodactyla Subordo : Ceratomorpha Famili : Rhinoceratidae Genus : Dicerorhinus

Spesies : Dicerorhinus sumatrensis, Fischer 1814

2.2.1 Morfologi Badak Sumatera

Kulitnya kasar dan keras berwarna abu-abu – coklat, yang bentuknya berlipat-lipat membentuk seperti baju zirah (Gambar 5). Salah satu ciri yang paling unik yang membedakan dari badak lainnya, seluruh tubuhnya ditutupi dengan rambut yang kasar, berwarna coklat kemerahan (Schenkel 1990). Tubuhnya relatif pendek dan gemuk. Dua cula berada di moncongnya baik jantan maupun betina, dengan cula bagian depannya yang lebih panjang dibandingkan 4 http://www.redlist.org [18 Maret 2007] 5 http://www.cites.org [18 Maret 2007] 6 http://panda.org/resources/publications/species/threatened/sumatranRhinoceros/index.cfm [11 Maret 2007]

dengan yang bagian belakang. Cula pada badak jantan biasanya lebih besar dibandingkan pada badak betina. Bagian bibir atasnya berbentuk kait dan dapat mengkait (prehensile) (Wilson & Reeder 1993). Panjang tubuhnya diukur dari ujung moncong hidung sampai dengan ujung otot pinggul belakang 207–265 cm, tinggi badan 97–131 cm. Panjang cula depan 10–23 cm, sedangkan cula belakang 5–12 cm. Berat badan antara 631 - 667 kg (SRS, unpublish).

Gambar 5 Dua Ekor Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di SRS; Bina (kiri), Torgamba (kanan) (SRS 2005)

Badak sumatera memiliki masa kebuntingan selama 477 hari (berdasar data badak sumatera di Cincinnati Zoo), dengan angka kelahiran sebanyak satu ekor per partus. Masa menyusui selama 18 bulan. Badak sumatera betina mencapai dewasa kelamin pada usia empat tahun, sedangkan jantan pada usia tujuh tahun. Badak sumatera captive dapat mencapai usia sampai dengan 35 tahun (Foose & van Strien 1997).

2.2.2 Perilaku Badak Sumatera

Badak sumatera biasanya hidup soliter. Pada siang hari, mereka menghabiskan waktu dengan berkubang di kolam lumpur. Kubangan lumpur tersebut biasanya dibuat oleh badak itu sendiri, dengan keadaan dalam radius 10–35 meter relatif bebas gangguan, karena biasanya digunakan untuk tempat beristirahat (Nowak 1991). Aktifitas berkubang berfungsi untuk mempertahankan suhu kulit agar tetap dingin dan melindungi dari kekeringan (Macdonald 2001).

Badak sumatera dilaporkan melakukan pergerakan musiman, bergerak ke dataran yang lebih tinggi selama musim hujan, dan bergerak ke lembah-lembah selama bulan-bulan dengan cuaca lebih cerah. Mereka mampu melakukan pergerakan di tebing-tebing, serta mampu berenang dengan baik (Foose & van Strien 1997). Badak sumatera memiliki perilaku menggaram (menjilat garam) untuk memenuhi kebutuhan mineral esensial, yang juga berhubungan dengan populasi mereka. Di sekitar satu tempat bergaram, kepadatan populasinya sekitar 13–14 ekor tiap satu kilometer perseginya (Schenkel 1990). Wilayah jelajah (home range) dari badak sumatera jantan dewasa sekitar 30 kilometer persegi, dengan batasan yang saling bertindih antar individunya (overlapping). Badak sumatera betina memiliki wilayah jelajah yang lebih kecil, dengan rata-rata 10–15 kilometer persegi. Keduanya (jantan maupun betina) menandai wilayahnya dengan garukan kaki, kotoran, dan urin (Wilson & Reeder 1993).

Badak sumatera umumnya mencari makan pada saat pagi (setelah fajar) dan menjelang malam, serta di malam hari. Jenis makanan yang disukai badak sumatera kebanyakan ditemukan di daerah perbukitan, berupa tumbuhan, semak, dan pohon-pohonan. Merumput tidak dilakukan kecuali untuk jenis-jenis bambu seperti Melocana bambusoides. Terdapat 102 jenis tanaman dalam 44 famili yang disukai badak sumatera. Sebanyak 82 jenis tanaman dimakan daunnya, 17 jenis dimakan buahnya, 7 jenis dimakan kulit dan batang mudanya, dan 2 jenis dimakan bunganya (Nowak 1991). Rata-rata konsumsi harian badak sumatera di Suaka Rhino Sumatera sebanyak 20–40 kg daun-daunan (yang diberikan pada badak atau hand feeding) dan 3–6 kg buah-buahan, ditambah konsumsi di area paddock yang merupakan hutan alami yang belum diketahui secara pasti (Candra 2005).

2.2.3 Habitat dan Distribusi Badak Sumatera

Badak sumatera awalnya tersebar dari Assam dan Burma (Myanmar), Thailand, sampai Indocina, serta Sumatera dan Kalimantan (Indonesia) (Gambar 6). Saat ini terbatas di Selatan Malaya (Sumatera), Sarawak di bagian Utara Kalimantan, serta beberapa di Myanmar (Foose & van Strien 1997).

Berdasarkan Analisa Viabilitas Populasi dan Habitat (PHVA) badak sumatera tahun 1993, populasi badak sumatera di Sumatera berkisar antara 215–319 ekor atau turun sekitar 50% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebelumnya populasi badak sumatera di Sumatera berkisar antara 400–700 ekor. Sebagian besar di wilayah Gunung Kerinci Seblat (250–500 ekor), Gunung

Leuser (130–250 ekor), dan Bukit Barisan Selatan (25–60 ekor). Sebagian yang lainnya tidak diketahui jumlahnya terdapat di wilayah Gunung Patah, Gunung Abong-abong, Lesten-Lokop, Torgamba, dan Berbak (Foose & van Strien 1997). Menurut IUCN/SSC–African and Asian Rhino Specialist Group Maret 2001, jumlah populasi badak sumatera berkisar kurang lebih 300 ekor dan tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Observasi Lapangan tahun 1997-2004, RPU–PKBI memperkirakan jumlah populasi badak sumatera di TNBBS berkisar antara 60– 85 ekor. Sementara TNWK berkisar antara 15–25 ekor (Anonimus 20077).

Gambar 6 Peta Distribusi Badak Sumatera (Foose dan van Strien 1997)

2.2.4

Beberapa Jenis Caplak pada Badak

Fowler (1993) melaporkan telah ditemukannya beberapa jenis caplak pada badak sumatera secara umum. Ektoparasit tersebut adalah Amblyomma testudinarium, Hyaloma walkeriaii, Aponoma sp., dan Haemaphysalis sp., yang ditemukan pada badak sumatera yang tesebar di Semenanjung Malaya. Hasil penelitian di SRS oleh Saraswati (2005) ditemukan jenis-jenis caplak dari genus

Amblyomma, Boophillus, dan Haemaphisalis, serta Qodriyah (2006) menemukan jenis Amblyommatestudinarium dan Haemaphisalissp.

Kocan et al. (1993) melaporkan bahwa Anaplasma marginale ditemukan pada kelenjar saliva caplak jantan Dermacentor andersoni, pada nimfa maupun dewasanya. Hal tersebut dilakukan dengan mendeteksi keberadaan DNA

Anaplasma marginale pada kelenjar saliva nimfa maupun caplak dewasa D. 7

andersoni yang menginfeksi sapi. Penularan parasit protozoa melalui caplak seperti Theileria dan Babesia, dimulai dengan proses perkembangan di sel ususnya, kemudian berpindah ke kelenjar saliva. Caplak jantan dapat tetap menempel pada induk semangnya untuk menghisap darah beberapa kali selama beberapa hari sampai minggu. Maka dari itu, kemungkinan besar dapat menularkan A. marginale ke induk semang yang rentan.

Nijhof et al. (2003) melaporkan bahwa Amblyomma rhinocerotis dan

Dermacentor rhinocerinus berperan sebagai vektor Babesia bicornis dan

Theileriabicornis pada badak Hitam dan badak Putih di Zimbabwe, Afrika. Selain itu juga melaporkan kejadian babesiosis sebelumnya yang menyebabkan kematian pada dua badak Hitam betina (Bahati dan Maggie) di Ngorongoro, Tanzania, pada tahun 2001 dengan temuan Amblyomma variegatum dan

Rhipicephaluscompositus di daerah perianalnya.

Dokumen terkait