BAB II KERANGKA TEORI
C. Badan Usaha Milik Daerah dan Pembangunan Daerah
Kemampuan keuangan daerah dapat dilihat dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD). Karena menurut pasal 78 Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah menyatakan bahwa penyelenggaraan tugas pemerintah daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Menurut Ibnu Khaldun, pengeluaran kuangan publik sangat penting. Sejumlah pengeluaran tersebut dibutuhkan untuk menciptakan infrastruktur yang mendorong aktivitas ekonomi.30 Untuk itu, pemerintah daerah diberikan kewenangan mengatur dan mengurus kepentingan di daerahnya masing-masing menuntut persiapan-persiapan yang matang bagi dunia usaha agar memiliki daya saing yang tinggi. Sedangkan sumber pendapatan daerah terdiri dari :
1. Pendapatan Asli Daerah. Yaitu, hasil pajak daerah; hasil retribusi daerah; hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. 2. Dana perimbangan. Terdiri atas bagian daerah dari penerimaan pajak
bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dan
29
Irham Fahmi, Ekonomi Politik Teori dan Realita (Bandung: Alfabeta, 2013), h. 85-94. 30
Suci Aprilliani Utami, Ibnu Khaldun:Bapak Ekonomi atrikel diakses pada Januari
penerimaan dari sumber daya alam; dana alokasi umum; dan dana alokasi khusus.
3. Pinjaman daerah. Dalam pasal 81 UU No. 22 tahun 1999 menyatakan bahwa pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD.
4. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Salah satu anggaran penerimaan daerah diperoleh dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Eksistensi BUMD sebagai lembaga bisnis yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi daerah. BUMD diyakini dapat memberikan multiplier effect yang sangat besar bagi perekonomian masyarakat. Karena dengan adanya pendirian BUMD, hal itu akan membuka lapangan kerja baru, menggerakkan sektor-sektor ekonomi produktif, sehingga ekonomi di daerah menjadi tumbuh dan berkembang. Ada banyak perusahaan milik daerah diantaranya Bank Pembangunan Daerah (BPD), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Perusahaan Daerah Angkutan Kota (bus kota), Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (PDRPH).
Dasar hukum pembentukan BUMD adalah berdasarkan UU No 5 tahun 1962 tetang perusahaan daerah. Undang-undang ini kemudian diperkuat oleh UU No 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah.
Kemudian kewenangan pemerintah daerah membentuk dan mengelola BUMD ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom.
1. Pengertian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah adalah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-undang daerah yang didirikan dengan peraturan daerah dan merupakan badan hukum serta kedudukannya diperoleh dengan diberlakukannya peraturan daerah tersebut.
BUMD adalah perusahaan yang diatur dengan suatu peraturan daerah yang aktivitasnya memenuhi kebutuhan masyarakat dan modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, kecuali ada ketentuan lain.31
Penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yaitu perusahaan yang seluruh atau sebagian modalnya bersumber dari APBD serta pendiriannya telah diatur oleh Undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.
Peran dan fungsi BUMD dalam menunjang penyelenggaraan pemerintah daerah adalah pertama, melaksanakan kebijakan pemerintah daerah di bidang ekonomi dan pembangunan. Kedua, pemupukan dana bagi
31
Mardiyatmo & Amir Suhadimanto, Dunia Ekonomi (Ghalia Indonesia Printing, 2007), h.126.
pembiayaan pembangunan. Ketiga, mendorong peran serta masyaakat dalam bidang usaha. Keempat, memenuhi barang dan jasa bagi kepentingan masyarakat. Kelima, menjadi perintis kegiatan yang tak diminati masyarakat.
Tujuan dari BUMD adalah ikut serta dalam melaksanakan pembangunan ekonomi nasional dan pembangunan ekonomi daerah pada khususnya. Agar meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjadikan masyarakatnya makmur dan sejahtera.
Di Bekasi sendiri ada beberapa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Salah satunya adalah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang sudah berdiri sejak 18 September 2006.
Bank Perkreditan Rakyat Syariah menurut Undang-undang No. 7 tahun 1992 pasal 1 ayat 3 tentang Perbankan adalah lembaga keuaangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka tabungan dan / atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Adapun yang dimaksud dengan BPRS adalah BPR biasa yang pola operasionalnya mengikuti prinsip-prinsip ekonomi (syariat) islam, terutama bagi hasil.
Pada Undang-undang Perbankan No. 10 tahun 1998 pasal 1 ayat 4, disebutkan bahwa BPR adalah lembaga keuangan bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah..
Menurut Undang-undang perbankan syariah No 21 tahun 2008 yang dimaksud dengan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.32
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa yang dimaksud dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah sebuah lembaga keuangan yang operasionalnya menggunakan prinsip-prinsip syariah dan tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Adapun tujuan yang dikehendaki dengan berdirinya BPRS di dalam perekonomian adalah:33
a. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat, terutama masyarakat golongan ekonomi lemah yang pada umumnya berada di daerah pedesaan. Hal ini untuk menghindari agar mereka tidak terjebak oleh rentenir yang menerapkan sistem bunga
b. Menambah lapangan kerja, terutama di tingkat kecamatan sehingga dapat mengurangi arus urbanisasi. Karena semakin banyak BPRS yang berdiri maka akan semakin banyak pula
32
Himpunan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Tentang Ekonomi Syariah (Yogyakarta: Pustaka Zeedny, 2009), h.33.
33
M. Nur Rianto Al Arif, Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian Teoritis Praktis (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), h.199.
tenaga kerja yang terserap di dunia perbankan. Sehingga menjadi penghambat bagi lajunya urbanisasi
c. Membina semangat ukhuwah islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita menuju kualitas hidup yang memadai
d. Mempercepat perputaran aktivitas perekonomian karena sektor real akan bergairah.
Demikian beberapa teori yang digunakan atau yang menjadi landasan dalam penulisan skripsi ini.