• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Sikap Da’i dalam Menghadapi Ikhtilaf ?

Dalam dokumen 2012 Pengantar Penerbit (Halaman 24-28)

Dalam melaksanakan aktifitas da’wah, seorang da’i tidak dapat terhindarkan dari ikhtilaf (perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam). Da’i sebagai tempat orang bertanya, menurut Natsir, tidak boleh kitman, menyembunyikan kebenaran yang sudah dia ketahui. Tidak ada gunanya bersikap pura-pura tidak tahu. Dan tidak selaras juga bila ia mencoba-coba menutup rapat semua jalan bagi perbedaan faham itu sama sekali, dengan alasan, supaya semuanya hidup rukun, damai dan tenang. Karena hal ini akan bertentangan dengan risalah yang mewajibkan tafakkur, tadabbur, tafaqquh fî al-dîn, dan membukakan pintu ijtihad atas garis-garis tertentu.

Tafaqquh fî al-dîn dan ijtihad lazim menghasilkan pendapat yang berbeda-beda atau ikhtilaf. Bagi Natsir, bukanlah hikmah seorang da’i yang sedang berda’wah bila hendak menghilangkan ikhtilaf itu. Tidak ada larangan agama terhadap ikhtilaf yang dihasilkan oleh tafaqquh fî al-dîn dan ijtihad. Adapun yang merusak keutuhan ummat, dan itu terlarang, adalah jumud dan tafarruq (beku dan berpecah belah). Adanya ikhtilaf tidak otomatis mengakibatkan tafarruq, sebab di jaman sahabat pun juga terdapat ikhtilaf, seperti perbedaan faham tentang masalah-masalah fiqh, tetapi mereka tidak pecah belah lantarannya. Mereka berpegang kepada petunjuk risalah sendiri, bagaimana cara menghadapi sesuatu perbedaan pendapat. Allah SWT berfirman:

Artinya: Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran)

24

dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An-Nisa’:

59).

Di antara para imam mujtahid pun ada ikhtilaf, beberapa pendapat Imam Syafi’i berbeda dengan pendapat gurunya, Imam Malik. Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah pun berlainan pendapatnya pula. Akan tetapi, mereka semua menegaskan kepada para murid dan pengikut-pengikut mereka agar jangan sekali-kali menganggap fatwa mereka tidak ada bandingannya. Apabila ada nash al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang berlawanan dengan fatwa mereka, maka yang dipegang adalah nash itu, lalu fatwa merekalah yang gugur. Ruju’, kembali kepada kebenaran, bila ternyata keliru, mereka anggap suatu kewajiban, suatu tindakan yang mulia, bukan satu keaiban. Imam Ahmad meriwayatkan satu pesan Imam Syafi’i, “Telah berkata Syafi’i kepadaku: Bila kau mengetahui suatu hadits yang shahih, sampaikanlah kepadaku, supaya kujadikan dasar bagi fatwaku” (al-Manar: IV/694).

Natsir mengingatkan, baik para sahabat atau pun para imam mujtahid sama sekali tidak mengusahakan adanya pembekuan, sedangkan ikhtilaf di antara mereka tidak mengakibatkan tararruq. Bagi Natsir, kebekuan dan perpecahan bisa disingkirkan dengan da’wah bi al-hikmah, mau’idzah hasanah, dan mujadalah bi al-lati hiya ahsân, dan dengan sama-sama ber-tahkim kepada Allah dan Rasul (h. 250). Namun demikian, para da’i tidak usah terlalu banyak berbincang tentang ikhtilaf ini, terutama bagi orang awam. Menukil perkataan Imam Ghazali, “ajaklah mereka dahulu untuk mengamalkan ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati, seperti perintah taqwa, membersihkan rohani dari tingkah laku yang mungkar, mencari nafkah yang halal, dilarang mencuri, namimah (menceritakan

25

keburukan orang lain), berkhianat, dan lain-lain”. Hal-hal itulah yang seharusnya menjadi prioritas bagi aktifitas da’wah.

Persoalannya adalah, mengapa di kalangan ummat Islam kerap kali terjadi tafarruq? Menurut Natsir, kalau kita mau mencari sumbernya secara jujur, nyatalah bahwa timbulnya tafarruq bukan saja karena tidak adanya hikmah dalam da’wah, tetapi karena luputnya ikhlas, datangnya ananiyah (egoisme) yang menggantikan ikhlas. Apabila sudah datang ananiyah mencampuri usaha da’wah, maka hinggaplah riya’ pada diri pembawa da’wah, dan ta’assub pada lingkungan pengikutnya. Penyakit riya’ di satu pihak dan ta’asub di lain pihak, kedua-duanya menghalang-halangi seseorang muballigh (da’i) untuk ruju’ dari kekeliruan bila ada; kedua-duanya mendorongnya supaya mempertahankan prestise diri dan golongannya.

Jika demikian adanya, M. Natsir mengatakan bahwa hal itu bukanlah ikhtilaf lagi, bukan pula da’wah. Yang macam ini tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah ilallah, sebagai kelanjutan risalah Muhammad SAW. Adanya tafarruq bukan lantaran adanya ikhtilaf, bukan pula lantaran adanya da’wah. tetapi akibat dari turut campurnya hawa nafsu dalam da’wah, akibat menyelinapnya sifat ananiyah. Lalu ia menukil sebuah ayat:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.

Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat (QS. Al-An’am:

159).

26

Akhlak Tiang Da’wah

Ibarat tarikan magnet (besi berani), kata Natsir, yang dapat menarik terhadap apa saja yang bersifat logam, yang bermutu tinggi atau yang tidak. Sumber tenaga bagi daya tarik itu tidak lagi terletak pada ilmu, dan tidak pada hikmah. Ilmu dan hikmah hanya pembuka jalan. Sumber tenaganya sendiri terletak pada akhlak pribadi dari pembawa da’wah sendiri. Baik atau buruknya amal perbuatan yang terbit secara spontan itu, tergantung pada baik atau buruknya akhlak pribadi yang bersangkutan.

Lisân al-hal yang baik dan uswah al-hasanah yang menarik hanya bisa terbit dari akhlak yang baik dan mulia, akhlaq al-karîmah. Begitu pula sebaliknya. Natsir juga mengatakan bahwa penilaian orang terhadap akhlak pribadi pembawa da’wah itu sebagian besar mempengaruhi, malah bisa menentukan, akan terbukakah pintu bagi isi da’wah yang hendak disampaikannya ataukah tidak (h. 239-240).

Oleh karena itu, menurut Natsir, akhlaq al-karîmah adalah tiang tengahnya da’wah, tidaklah pula suatu masyarakat itu menuntut supaya muballigh-nya harus seperti seorang malaikat. Mereka pun maklum, bahwa muballigh mereka bukan seorang Nabi yang ma’sum. Yang diharapkan oleh masyarakat adalah agar muballigh memelopori mereka dalam perbuatan, untuk menegakkan amal ma’ruf, mendahului mereka dalam menjauhkan diri dari kemungkaran yang disuruh dijauhinya; mendahului mereka dalam menegakkan akhlak dan moral tinggi.

***

27

Bab IV

Dalam dokumen 2012 Pengantar Penerbit (Halaman 24-28)

Dokumen terkait