• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

3. Bagaimana sistematika proses penanganan perkara di KPPU?

Jawaban:

Proses penanganan perkara diatur dalam Perkom Nomor 1 Tahun 2019.

a. Perkara dapat bersumber dari laporan maupun inisiatif (Pasal 2) b. Secara umum tahapan penanganan perkara meliputi:

- Laporan dan atau inisiatif o Klarifikasi laporan o Penelitian

- Penyelidikan - Pemberkasan - Rapat Komisi

- Sidang Majelis Komisi

o Pemeriksaan Pendahuluan

65

o Pemeriksaan lanjutan - Putusan Komisi

o Musyawarah Majelis Komisi o Pembacaan Putusan

o Pelaksanaan Putusan Penjelasan:

1) LAPORAN (Pasal 3) Setiap orang yang mengetahui telah terjadi atau patut diduga telah terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang dapat melaporkan kepada Komisi.

2) KLARIFIKASI LAPORAN (Pasal 5- Pasal 9), Jangka waktu 14 hari kerja. Unit kerja yang menangani klarifikasi laporan melakukan kegiatan antara lain :

a) memeriksa kelengkapan administrasi laporan;

b) memeriksa kebenaran identitas Pelapor;

c) memeriksa kebenaran identitas Terlapor;

d) memeriksa kebenaran alamat Saksi;

e) memeriksa kesesuaian dugaan pelanggaran Undang-Undang dengan pasal yang dilanggar dengan alat bukti yang diserahkan oleh Pelapor; dan

f) menilai kompetensi absolut terhadap laporan.

Laporan yang tidak lengkap maka dalam jangka waktu 14 hari kerja dikembalikan kepada Pelapor dan jika pelapor tidak melengkapi laporan tersebut dalam waktu 14 hari maka laporan dinyatakan tidak lengkap dan penanganan perkara dihentikan (Pasal 8 dan Pasal 9).

Penanganan laporan yang dihentikan karena tidak lengkap dapat

diajukan kembali oleh Pelapor dengan menyampaikan laporan baru disertai bukti yang cukup.

3) Pada Perkara INISIATIF (Pasal 10-Pasal 14), Data atau informasi dapat diperoleh dari: a. hasil kajian; b. temuan dalam proses Pemeriksaan; c. hasil Rapat Dengar Pendapat yang dilakukan Komisi; d. laporan yang tidak lengkap; e. berita di media; dan/atau f.

data atau informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penyelidikan terhadap perkara inisiatif dimulai atas persetujuan atau arahan dari Rapat Komisi.

4) PENYELIDIKAN (Pasal 15-Pasal 25), dilakukan dalam jangka waktu 60 hari dan dapat diperpanjang berdasarkan Keputusan Rapat Koordinasi. Kegiatan yang dilakukan oleh unit kerja penyelidikan antara lain: a) memanggil dan menghadirkan Pelapor untuk dimintai keterangan; b) memanggil dan menghadirkan Terlapor untuk dimintai keterangan; c) memanggil dan menghadirkan Saksi untuk dimintai keterangan; d) memanggil dan menghadirkan Ahli untuk dimintai keterangan; e) mendapatkan surat dan/atau dokumen yang terkait dengan perkara; f) memperoleh data terkait aset dan omset Terlapor; g) melakukan Pemeriksaan setempat; dan/atau h) melakukan analisis terhadap keterangan-keterangan, surat, dan/atau dokumen serta hasil Pemeriksaan setempat.

5) Unit kerja yang menangani pemberkasan dan penanganan perkara melakukan Pelaporan secara ringkas dalam Rapat Komisi dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah Laporan Hasil Penyelidikan dinilai layak untuk dilakukan Pelaporan

6) Rapat Komisi Berdasarkan Pelaporan, Rapat Komisi menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan dan pembentukan Majelis Komisi yang menangani perkara yang bersangkutan

67

7) SIDANG MAJELIS KOMISI (Pasal 29-Pasal 67), terdiri atas tahapan:

a. Pemeriksaan Pendahuluan. Agenda sidang Pembacaan Laporan Dugaan Pelanggaran dan Tanggapan Terlapor serta penyampaian alat bukti. Dilakukan dalam jangka waktu 30 hari kerja. Argo dihitung sejak sidang dihadiri seluruh Terlapor, jika tidak hadir salah satu sidang ditunda untuk pemanggilan Terlapor (Pasal 30).

Pada tahap ini dimungkinkan kesempatan adanya perubahan perilaku. Kesempatan perubahan perilaku diberikan apabila seluruh Terlapor menyetujui untuk melakukan perubahan perilaku. Kesempatan perubahan perilaku diberikan oleh Majelis Komisi dengan mempertimbangkan: a. jenis pelanggaran; b.

waktu pelanggaran; dan c. kerugian yang diakibatkan dari pelanggaran.

b. Pemeriksaan Lanjutan. Agenda sidang adalah pembuktian alat bukti, yang mencakup : 1) pemeriksaan saksi, 2) pemeriksaan ahli, 3) pemeriksaan Terlapor, 4) pemeriksaan alat bukti surat/dokumen, 5) penyerahan kesimpulan hasil persidangan.

Pemeriksaan Lanjutan dilakukan dalam jangka waktu 60 hari kerja dan dapat diperpanjang 30 hari kerja.

8) PUTUSAN KOMISI Setelah berarkhirnya Pemeriksaan Lanjutan, Majelis Komisi melakukan Musyawarah Majelis Komisi yang dilakukan secara tertutup untuk menilai, menganalisis, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang yang terungkap dalam persidangan. Selambat-lambatnya 30 hari kerja setelah Musyawarah Majelis Komisi, Majelis Komisi wajib membacakan PUTUSAN KOMISI yang dilakukan dalam Sidang Majelis Komisi yang terbuka untuk umum. Panitera menyampaikan Petikan dan Salinan Putusan Komisi kepada Terlapor

paling lambat 14 (empat belas) hari setelah Majelis Komisi membacakan Putusan Komisi.

4. Alasan yang mendasari lahirnya Perkom Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata cara Penanganan Perkara?

Jawaban:

Lahirnya Perkom Nomor 1 Tahun 2019 adalah dalam rangka meningkatkan transparansi, keadilan dan kepastian hukum dalam proses penanganan perkara sesuai dengan prinsip-prinsip hukum acara yang baik.

Beberapa poin perubahan dari Perkom sebelumnya (Perkom Nomor 1 Tahun 2010) antara lain 1) Perbaikan dan Penyempurnaan Perumusan Norma Tata Cara Penanganan Perkara, 2) Penyempurnaan Process of Law, 3) Penegasan asas Hukum Audi et Alteram Partem, 4) Penambahan Substansi Norma Perubahan Perilaku (consent decree), dan Skema Tata Cara Penanganan Perkara.

5. Bagaimana ketentuan mengenai kehadiran sidang yang cukup diwakili oleh 1 orang Majelis Komisi?

Jawaban:

Pasal 29 ayat (3) : Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi, yang dihadiri oleh paling sedikit 1 (satu) Anggota Majelis Komisi. Pasal 42 ayat (4): Pemeriksaan Lanjutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan di ruang Pemeriksaan di Kantor Pusat Komisi atau di Kantor Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi, yang dihadiri oleh paling sedikit 1 (satu) Anggota Majelis Komisi.

6. Apa yang membedakan Sidang Majelis Komisi dengan sidang pada umumnya?

Jawaban:

Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang mendasar dalam hukum acara yang berlaku, karena hukum acara sesungguhnya sumbernya berasal

69

dari Hukum Acara Perdata yang dikembangkan. Hukum Acara KPPU memadukan hukum acara perdata dan hukum acara pidana. Meskipun terdapat persamaan prinsip dalam melaksanaan hukum acara, namun dalam melaksanakan Sidang Majelis Komisi terkhusus perkara persaingan usaha di KPPU, dimana selain bertumpu pada asasasas hukum juga bertumpu pada asas ekonomi sebagaimana tujuan UU Nomor 5 Tahun 1999, sehingga Majelis Komisi tidak tunduk dan terikat dengan dengan ketentuan Mahkamah Agung. Hal ini didasarkan pada hukum acara yang telah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1999 beserta turunannya yaitu Perkom Nomor 1 Tahun 2019. Majelis Komisi adalah majelis yang terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) Anggota Komisi yang bertugas memeriksa dan memutus perkara.

7. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir berapa jumlah kasus yang ditangani dan diselesaikan KPPU?

Jawaban:

8. Berapa kasus keberatan (banding) ke Pengadilan Negeri?

Jawaban:

Dari total 394 Putusan Perkara yang telah diputuskan oleh KPPU, jumlah perkara yang telah diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri sebanyak 166 Perkara dan lebih dari 60 persen menang di tingkat keberatan dan dikuatkan pada kasasi di Mahkamah Agung.

9. Apa acuan dasar bagi Majelis Komisi dalam memutuskan suatu perkara?

Jawaban:

Dalam memutuskan suatu perkara, Majelis Komisi terlebih dahulu melakukan musyawarah mufakat dan secara tertutup untuk menilai, menganalisis, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan alat bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang. Putusan haruslah berdasarkan alat bukti yang sah dan telah divalidasi dalam persidangan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1999.

10.Dampak Putusan KPPU dalam dunia usaha, sudahkan mampu memberikan efek jera pada pelaku usaha?

Jawaban:

Pemberian sanksi administrasi, baik pemberian denda, larangan mengikuti tender, maupun tindakan administrasi lainnya dipandang memberikan dampak yang cukup efektif bagi pelaku usaha yang melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999. Selain itu pemberian sanksi cukup memberikan efek pencegahan terhadap potensi pelanggaran UU 5 Tahun 1999 di masa yang akan datang. Hal ini dibuktikan dengan meningkatkan kepatuhan pelaku usaha di dalam melaksanakan aksi korporasi yang berkaitan dengan persaingan usaha, terkhusus dalam hal ini meningkatnya jumlah pelaporan pelaku usaha terhadap kegiatan merger dan akuisisi yang dilakukan. Dalam kegiatan tender misalnya, Panitia pengadaan barang dan jasa sudah mulai

71

mempedomani prinsip persaingan usaha dalam proses pengadaan barang dan jasa.

SEKIAN Nama Narasumber : Luqman Nurdhiansyah, SH.

Jabatan : Panitera Madya

Instansi : Komisi Pengawas Persaingan Usaha

Dokumen terkait