Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh :
AULIA PRAMANA PUTRA NIM : 11140480000026
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H / 2021 M
ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK
MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh :
AULIA PRAMANA PUTRA NIM : 11140480000026
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H / 2021 M
ii
ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK
MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H)
Oleh :
AULIA PRAMANA PUTRA NIM : 11140480000026
Dibawah Bimbingan
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1442 H / 2021 Pembimbing I
Dr. Moch. Bukhori Muslim, Lc., M.A.
NIP. 19760626 200901 1 013
Pembimbing 2
Fitriyani, S.Ag., M.H NIP. 19740321 200212 2 005
iv
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul “ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT.” telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Program Studi Ilmu Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 16 Juni 2021. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S-1) pada Program Studi Ilmu Hukum.
Jakarta, 07 Juli 2021
PANITIA UJIAN MUNAQASYAH
Ketua : Dr. M. Ali Hanafiah Selian, S.H. M.H. ( ) NIP. 19670203 201411 1 001
Sekertaris : Drs. Abu Tamrin, S.H., M.Hum. ( )
NIP. 19650908 199503 1 001
Pembimbing I : Dr. Moch. Bukhori Muslim, Lc., M.A.
NIP. 19760626 200901 1 013 Pembimbing II : Dr. Fitriani, S.Ag., M.H.
NIP. 19740321 200212 2 005
Penguji I : Prof. Dr. A. Salman Maggalatung, S.H.,M.H. ( ) NIP. 19540303 197611 1 001
Penguji II : Dr. Ismail Hasani, S.H., M.H. ( ) NIP. 19771217 200710 1 002
Mengesahkan Dekan,
Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A.
NIP. 19760807 200312 1 001
iv
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama : Aulia Pramana Putra
NIM : 11140480000026
Program Studi : Imu Hukum
Alamat : Kp. Buaran PLN no. 142 RT.004/0004 Cikokol – Tangerang.
Kontak : 0813-1929-3739
Email : [email protected]
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber data yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan dalam Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2017.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa hasil karya ini merupakan hasil dari tindakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 14 Januari 2021
Aulia Pramana Putra NIM. 11140480000026
v ABSTRAK
Aulia Pramana Putra. NIM 11140480000026. ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 1441 H/ 2020 M.
Skripsi ini dibuat berdasarkan adanya perubahan aturan yang dibuat oleh KPPU dalam Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. mencari tahu alasan mendasar perubahan ketentuan tentang batas minimal kehadiran Majelis Komisi dalam Sidang Komisi yang dilakukan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam menangani perkara persaingan usaha. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan pendekatan hukum empiris dengan 2 (dua) jenis pendekatan yakni Pendekatan Yuridis Sosiologis dan Pendekatan Perundang-undangan (statue approach). Sumber data yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif.
Dalam penelitian ini, terdapat beberapa Temuan Penelitian yakni bahwa perubahan aturan KPP nomor 1 tahun 2019 tentang tata cara penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di dasarkan pada meningkatkan transparansi, keadilan dan kepastian hukum dalam proses penanganan perkara sesuai dengan prinsip-prinsip hukum acara yang baik. Namun, pada kenyataannya perubahan atas aturan ini belum mampu untuk menjawab penegakan keadilan di KPPU dalam penanganan perkara sehingga mengkibatkan rendahnya tingkat kepercayaan para pelaku usaha dengan sistem penanganan perkara yang dilakukan oleh KPPU.
Kata Kunci : pelaku usaha, monopoli, hukum persaingan usaha, komisi, majelis komisi.
Pembimbing Skrisi : Dr. Moch. Bukhori Muslim, M.A.
Dr. Fitriyani, S.Ag., M.H Daftar Pustaka : Tahun 1999 sampai Tahun 2020
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan, dengan menyebut nama Allah SWT tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang yang telah memberikan rahmat, karunia, serta ampunanNya sehingga peneliti mampu menyelesaikan sedikit amanah dariNya yakni menyelesaikan penelitian skripsi ini. Shalawat beriring salam tak luput peneliti hadiahkan kepada sang pembimbing sejati, guru dari segala guru dan suri tauladan bagi seluruh umat manusia yakni Rasulullah Muhammad SAW.
Skripsi dengan judul “ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT” yang peneliti susun adalah untuk memenuhi dan melengkapi syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada jurusan Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Bisnis Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Univesitan Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dengan kerendahan hati peneliti menyadari bahwa penelitian skripsi ini sangatlah amat jauh dari kata kesempurnaan. Namun terlepas dari itu, skripsi ini merupakan hasil kerja keras, kesungguhan dan upaya maksimal yang penulis lakukan. Hambatan, rintangan dan cobaan tiada henti-hentinya penulis jumpai dalam setiap proses penyusunannya. Mulai dari hambatan yang dialami dari dalam diri penulis sendiri hingga keadaan diluar yang mengharuskan peneliti jatuh bangun berusaha keras demi terselesaikannya amanah yang telah diberikan ini. Pada akhirnya di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan dan sedari lubuk hati yang terdalam penulis ingin mengucapkan terima kasih sekaligus mempersembahkan karya ini kepada:
1. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H., M.H., M.A. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Jajarannya.
vii
2. Dr. Muhammad Ali Hanafiah Selian, S.H.,M.H. dan Abu Tamrin, S.H.,M.Hum. Ketua dan Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Moch. Bukhori Muslim, M.A dan Dr. Fitriyani, S.Ag.,M.H.
Pembimbing Skripsi yang selalu memberikan saran, masukan, serta motivasi ke peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Kepala Urusan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kepala Pusat Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu dalam menyediakan fasilitas yang memadai untuk peneliti mengadakan studi kepustakaan peneliti dalam penulisan skripsi ini.
5. Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta yang selalu memberikandukungan, baik materil maupun imateriil berupa motivasi, do’a, bahkankepercayaan untuk dapat duduk di bangku kuliah hingga menyelesaikan gelarsarjana ini.
6. Kepada pihak terkait yang peneliti tidak dapat sebutkan Namanya satu persatu. Tidak ada yang dapat peneliti berikan, dukungan dan semangat kalian yang membuat peneliti dapat menyelesaikan skripsi iniselain ucapan terima kasih.
Terakhir, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada sang Khalik, sumber dari setiap kebenaran pemilik kebenaran hakiki. Semoga penulisan skripsi ini dapat penulis pertanggung jawabkan baik didunia maupun di akhirat kelak.
Semoga Tuhan meridhai dan mencatat semuanya sebagai amal ibadah. Amin.
Ciputat, 14 Januari 2021
Peneliti
viii
DAFTAR ISI
COVER ……….. i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... iv
LEMBAR PERNYATAAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... x
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……….. 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ………. 5
C. Tujuan dan manfaat Penelitian ……… 6
D. Metode Penelitian ……… 6
E. Sistematika Pembahasan ………. 11
BAB II : KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, KEGIATAN YANG DILARANG DAN MAJELIS KOMISI DALAM PERATURAN KOMISI NOMOR 1 TAHUN 2019 A. Kerangka Konseptual 1. Pengertian Komisi Pengawas Persaingan Usaha …….….……… 13
a. Status dan Kedudukan Komisi Pengawa Persaingan Usaha di Indinesia ... 14
b. Tugas dan Wewenang Komisi Pengawas Persaingan Usaha ... 14
c. Praktik Monopoli dalam Persaingan Usaha …………...…….. 16
2. Keanggotaan dan Syarat Keanggotaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha …...………..……... 16
3. Kode Etik Anggota Komisi ……….……. 17
4. Pengertian Majelis Komisi ……….. 18
ix
a. Pengertian Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2017 19
b. Tugas dan wewenang Majelis Komisi ……… 20
B. Kerangka Teoritis 1. Teori Keadilan ...………..……. 21
2. Teori Kemanfaatan ... 22
3. Teori Kepastian ... 23
4. Teori Kebebasan Hakim ... 25
C. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ……….. 28
BAB III: PERUBAHAN ATURAN MENGENAI SIDANG MAJELIS KOMISI DI KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA A. Sidang Majelis Komisi dari masa ke masa. 1. Sidang Majelis Komisi berdasarkan Peraturan Komisi nomor 1 tahun 2006 ………..……… 29
2. Sidang Majelis Komisi berdasarkan Peraturan Komisi nomor 1 tahun 2010 ……….… 30
3. Sidang Majelis Komisi berdasarkan Peraturan Komisi nomor 1 tahun 2019 ……….… 32
B. Problematika atas Perubahan Peraturan Komisi Terhadap Pelaksanaan Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ………. 34
BAB IV: PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT, POLITIK HUKUM KEHADIRAN MAJELIS KOMISI DALAM SIDANG KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA A. Penanganan Perkara Praktik Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ... 40
B. Alasan mendasar perubahan peraturan komisi pengawas persaingan usaha nomor 1 tahun 2019 tentang tata cara penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat …... 44
x
C. Analisis dampak Putusan Komisi yang diputuskan oleh 1 (satu) orang Majelis Komisi terhadap pelaku usaha yang bersengketa di
KPPU………... 45
D. Analisis dampak Putusan Komisi yang diputuskan oleh 1 (satu) orang Majelis Komisi dalam Perspektif Hukum Islam ………. 51
BAB V: PENUTUP A. Kesimpulan ……….……… 53
B. Rekomendasi ……….. 54
DAFTAR PUSTAKA ... 55
LAMPIRAN ... 60
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya, pelaku usaha menjalankan kegiatan usaha adalah untuk memperoleh keuntungan dan penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup, itulah yang mendorong banyak pelaku usaha menjalankan usaha, baik kegiatan usaha yang sejenis ataupun berbeda. Keadaan yang demikian itulah sesungguhnya yang menimbulkan atau melahirkan persaingan usaha antar para pelaku usaha. Oleh karena itu, persaingan dalam dunia usaha merupakan hal yang biasa terjadi, bahkan dapat dikatakan persaingan dalam dunia usaha merupakan conditio sine quo non atau persyaratan mutlak bagi terselenggaranya ekonomi pasar (market economy), walaupun mau tidak mau harus diakui bahwa adakalanya persaingan itu berjalan dengan sehat ataupun sebaliknya.
Suasana yang kompetitif adalah syarat mutlak bagi negara – negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang efisien, termasuk proses industrialisasinya. Dalam pasar yang kompetitif para pelaku usaha akan saling bersaing untuk menarik lebih banyak konsumen dengan menjual produk mereka dengan harga serendah mungkin, meningkatkan mutu produk dan memperbaiki pelayanan dengan konsumen.
Dalam hal ini, pelaku usaha perlu mengembangkan dan meningkatkan kemampuan teknologi mereka, baik teknologi proses produksi (process teknology) maupun teknologi produk (product technology). Dengan demikian ini akan mendorong kemajuan teknologi dan diharapkan juga pertumbuhan ekonomi yang pesat.1
Aturan – aturan untuk mengendalikan keadaan tersebut sangat diperlukan bagi negara – negara yang memakai system perekonomian pasar
1 The Kian Wie, Aspek Ekonomi Yang Perlu Diperhatikan Dalam Implementasi UU No. 5 Tahun 1999, Jurnal Hukum Bisnis Vol. 7 Tahun 1999, h. 60.
agar tidak terjadi praktik – praktik ekonomi yang tidak sehat. Peraturan mengenai larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini diperlukan untuk menjamin agar kebebasan bersaing dalam perekonomian dapat berlangsung tanpa hambatan.karena pada hakikatnya pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya selalu bersaing, baik yang dilakukan secara positif maupun sebaliknya. Persaingan usaha yang dilakukan secara negative atau sering diistilahkan sebagai persaingan tidak sehat, akan berakibat pada :
1. Matinya atau berkurangnya persaingan antar pelaku usaha.
2. Timbulnya praktik monopoli, dimana pasar dikuasai hanya oleh pelaku usaha tersebut.
Bahkan kecenderungan pelaku usaha untuk mengeksploitasi konsumen dengan menjual barang yang mahal tanpa kualitas yang memadai. 2
Ketentuan yang mengatur tentang persaingan usaha di Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Nonor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang di dalamnya juga mengatur tugas dan wewenang Komisi Pengawas Persaingan Usaha di indonesia. 3
Sebagai lembaga yang mengatur persaingan usaha di Indonesia, KPPU di atur dalam Pasal 34 ayat (1) Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menurut Pasal 36 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Salah satu kewenangan KPPU ialah memberi putusan terhadap perkara pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, dalam hal ini secara tidak langsung KPPU memiliki kewenangang yang sama dengan lembaga peradilan. KPPU dalam
2 Hikmahanto Juwana, Sekilas Tentang Hukum Persaingan dan UU No. 5 Tahun 1999, Jurnal Magister Hukum 1 Tahun 1999, h. 32.
3 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002) h. 71.
3
memutuskan apakah pelaku usaha melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat dengan melalui proses hukum terlebih dahulu. 4
Dalam penanganan perkara persaingan usaha, KPPU telah memiliki aturan pelaksana yang tercantum dalam Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Peraturan tersebut berisi tentang cara penangan perkara persaingan usaha di KPPU, termasuk juga proses persidangan yang dilaksanakan oleh Majelis Komisi yang terdiri atas perwakilan setiap komisi.
Adapun alur proses persidangannya yaitu:
a. Pemeriksaan Pendahuluan b. Gelar Laporan
c. Pemberkasan d. Klarifikasi
e. Monitoring dan Laporan f. Pemeriksaan Lanjutan g. Sidang Majelis
h. Putusan KPPU i. Pelaksaan Putusan
Namun, dalam Pasal 29 ayat (3) Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata CaraPenanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat terdapat perubahan atas peraturan sebelumnya yakni :
‘’Pemeriksaan Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan di ruang Pemeriksaan di Kantor Pusat Komisi atau di Kantor Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi, yang dihadiri oleh paling sedikit 1 (satu) Anggota Majelis Komisi.’’
Pada peraturan yang sama pada tahun 2006 dan 2010 menjelaskan bahwa dalam Sidang Majelis Komisi sekurang – kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang Anggota Komisi. Melihat praktik persidangan yang ideal seharusnya
4 http://www.kppu.go.id/id/splash/
dalam Sidang Majelis Komisi harus dihadiri oleh anggota Majelis Komisi khususnya pada tahap – tahap sidang tertentu seperti proses pembuktian.
Dalam praktik pengadilan, bahkan pada tahap pembuktian majelis diharuskan hadir secara lengkap dan kalaupun tidak ada yang hadir ketua majelis meminta persetujuan semua pihak apabila sidang akan tetap dilanjutkan. Dalam beberapa hal, kalau memang peraturan ini mengacu kepada praktik Peradilan Umum, harus juga menerapkan aturan seperti Peradilan Umum. Selanjutnya, atas dasar pertimbangan inilah peneliti akan menulis skripsi dengan judul “ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT”
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a) Proses perubahan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
b) Ketentuan mengenai kewenangan KPPU menyita perdata dan/atau menagih menggunakan pihak ketiga.
c) Penjelasan bukti petunjuk yang mengarah pada prinsip indirect evidence atau pembuktian tidak langsung.
d) Ketentuan mengenai kehadiran sidang yang cukup diwakili minimal 1 orang Majelis Komisi.
e) Ketentuan mengenai persamaan hak antara KPPU dengan terlapor due process of law dalam proses persidangan di KPPU.
2. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian kualitatif, pembatasan masalah merupakan salah satu tahapan yang penting walaupun sifatnya masih tentatif. Dalam hal ini, peneliti membatasi pada masalah ketentuan mengenai kehadiran sidang yang cukup diwakili minimal 1 orang Majelis Komisi. Pembahasan skripsi ini akan
4
berpusat pada penjelasan kehadiran sidang yang cukup diwakili minimal 1 orang Majelis Komisi menurut Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usana nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
3. Perumusan Masalah
Masalah yang sering kali terjadi dalam setiap penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat diantaranya ialah :
a. Apakah alasan yang mendasari perubahan aturan terkait kehadiran Majelis Komisi yang sebelumnya sekurang-kurangnya 3 orang menjadi 1 orang Majelis Komisi ?
b. Bagaimana dampak terhadap Putusan Komisi yang dikeluarkan oleh satu orang Majelis Komisi terhadap pelaku usaha yang bersengketa di KPPU ?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui alas an perubahan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
b. Untuk mengetahui dampak terhadap Putusan Komisi yang dikeluarkan oleh satu orang Majelis Komisi terhadap pelaku usaha yang bersengketa di KPPU.
2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
(1) Peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti secara pribadi dan kepada orang lain secara umumnya.
(2) Untuk memperoleh manfaat ilmu pengetahuan dibidang hukum pada umumnya maupun dibidang hukum bisnis pada khususnya
yaitu dengan mempelajari litelatur yang ada dikombinikasikan dengan perkembangan yang terjadi dilapangan.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diImplementasikan bagi perkembangan hukum acara di Komisi Pengawasan Persaingan Usaha dan untuk mengetahui bagaimana tata cara proses persidangan beserta ketentuan-ketentuan lain yang diatur dalam peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha.
D. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum Empiris. Penelitian Hukum Empiris adalah suatu metode penelitian hukum yang menggunakan fakta-fakta yang diambil dari perilaku manusia, baik perilaku verbal yang didapat dari wawancara maupun perilaku nyata yang dilakukan melalui pengamatan langsung.
Penelitian Empiris juga digunakan untuk mengamati hasil dari perilaku manusia yang berupa peninggalan fisik maupun arsip.15
2. Pendekatan Masalah
Sehubungan dengan tipe penelitian yang digunakan yakni Penelitian Hukum Empiris, maka pendekatan yang dilakukan adalah Pendekatan Yuridis Sosiologis dan Pendekatan Perundang-Undangan (statue approach). Pendekatan Yuridis Sosiologis adalah mengidentifikasi dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam system kehidupan nyata.26 Pendekatan Yuridis Sosiologis adalah menekankan penelitian yang bertujuan memperoleh pengetahuan hukum secara empiris dengan jalan terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui bagaimana perubahan Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
5 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Empiris dan Normatif, Pustaka Pelajar, 2010, h. 280.
6 Soerjono soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press, 1986), h. 51.
6
Sehat. Pendekatan Perundang-Undangan dilakukan untuk meneliti norma apa yang terkandung dalam Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
3. Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
a. Bahan hukum primer
Pada penulisan penulisan ini terdapat bahan hukum yang bersifat autoritatif yang artinya memiliki otoritas yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat kepada masyarakat berupa bahan-bahan hukum primer meliputi hasil wawancara, perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan atau putusan- putusan hukum.17
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan kejelasan mengenai bahan hukum primer berupa buku-buku, surat kabar, artikel, jurnal, serta majalah yang berkaitan dengan penanaman modal.
c. Bahan hukum tersier
Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder berupa kamus bahasa Indonesia, kamus ekonomi, ensiklopedia, bibiliografi, website resmi dalam internet.
4. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah Wawancara Langsung dengan pihak KPPU yang diwakili oleh
7 Peter Mahmud Marzuki, Penulisan Hukum (Jakarta: Kencana 2010) h. 141.
Bapak Lukman Nurdhiansyah, SH selaku Panitera Madya. Yakni situasi peran antara pribadi bertatap muka, Ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan – pertangyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada responden.18 Wawancara langsung dalam pengumpulan fakta sosial sebagai bahan kajian ilmu hukum empiris, dilakukan dengan cara tanya jawab secara langsung dimana semua petanyaan disusun secara sistematis, jelas dan terarah sesuai dengan isu hukum yang diangkat dalam penelitian.
Wawancara langsung ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang benar dan akurat dari sumber yang ditetapkan sebelumnya. Wawancara tersebut semua keterangan yang diperoleh mengenai apa yang diinginkan dicatat dengan baik.29
5. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan data harus sesuai dengan keabsahan data.110 Cara kualitatif artinya menguraikan data dalam bentuk kalimat yang teratur, logis, tidak tumpang tindih dan efektif sehingga memudahkan pemahaman dan interpretasi data.
6. Teknik Analisis data
Adapun tahapan-tahapan dalam menganalisis data yaitu:
a. Editing/edit
Editing adalah kegiatan yang dilakukan setelah menghimpun data di lapangan. Proses ini menjadi penting karena kenyataanya bahwa data yang terhimpun kadangkala belum memenuhi harapan peneliti, ada diantaranya yang kurang bahkan terlewatkan.211
b. Calssifing
8 Amiruddin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, h. 82.
9 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum, h. 167-168.
10 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012) h. 236.
11 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rieneka Cipta, 2002) h. 182.
8
Agar penelitian ini lebih sistematis, maka data dari hasil wawancara di klasifikasikan berdasarkan kategori tertentu, sehingga data yang diperoleh benar-benar memuat informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
c. Verifikasi
Verifikasi data adalah mengecek kembali dari data-data yang sudah terkumpul untuk mengetahui keabsahan datanya apakah benar-benar sudah valid dan sesuai dengan yang diharapkan peneliti.312
d. Analisis Data
Analisis data bertujuan untuk mengorganisasikan data-data yang telah diperoleh. Setelah data dari lapangan terkumpul dengan metode pengumpulan data yang telah dijelaskan diatas, maka penulis akan mengelola dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Analisi data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data dan memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.133 Analisis data kualitatif adalah suatu Teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan data-data yang telah terkumpul, sehingga diperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.
7. Teknik Penulisan
Dalam teknik penulisan dan pedoman yang digunakan oleh penulis dalam skripsi ini disesuaikan dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017.
12 Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) h.
104.
13 Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, h. 248
E. Rancangan Sistematika Pembahasan
Agar dapat memberikan penjelasan menyeluruh mengenai isi skripsi ini, oleh karena itu dibuatlah sistematika penulisan skripsi yang terangkum sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN. Bab ini membahas mengenai Latar Belakang Masalah, dilanjutkan dengan Identifikasi Masalah, Pembatasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II LAHIRNYA PERATURAN KOMISI NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT . Bab ini membahas mengenai istilah – istilah yang ada dalam hukum persaingan usaha dan penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan Review (tinjauan ulang) hasil studi terdahulu.
BAB III PERUBAHAN ATURAN MENGENAI SIDANG MAJELIS KOMISI DI KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA.
Bab ini membahas diantaranya yaitu mengenai penjelasan tentang perubahan aturan KPPU dari tahun ke tahun serta problematika perubahan yang terjadi pada peraturan tersebut.
BAB IV ARGUMENTASI PERUBAHAN PERATURAN KPPU NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT. Bab ini merupakan bab analisis mengenai Politik Hukum Kehadiran Majelis Komisi Dalam Sidang Berdasarkan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
BAB V PENUTUP. Bab ini yang berisikan Kesimpulan dan Rekomendari. Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi ini, untuk itu penulis menarik beberapa Kesimpulan dari hasil penelitian, di samping itu penulis menengahkan beberapa Rekomendasi yang dianggap perlu.
11 BAB II
LAHIRNYA PERATURAN KOMISI NOMOR 1 TAHUN 2019 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA MONOPOLI DAN
PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT A. Kerangka Konseptual
1. Pengertian Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah lembaga independen yang memiliki tugas utama melakukan penegakan hukum persaingan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, sebagaimana tercantum dalam pasal 35 huruf f.1 KPPU diharapkan dapat menjadi Lembaga Independen yang memiliki kekuatan untuk pengatur semua pelaku usaha yang mendirikan usaha di Indonesia. Dengan demikian, setiap produk aturan yang dikeluarkan oleh KPPU dapat menjadi acuan dasar bagi pelaku usaha dalam menjalankan usahanya guna menciptakan iklim persaingan yang sehat di Indonesia.
a) Status dan Kedudukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha di Indonesia
Lembaga negara di Indonesia dibentuk menjadi beberapa bagian yaitu berdasarkan konstitusi, undang-undang dan ada juga yang di bentuk berdasarkan peraturan presiden. Hirarki atau kedudukannya tentu saja bergantung pada derajat pengaturannya menurut perundang-undangan yang berlaku.2 Maka dari itu kedudukan KPPU di indonesia sebagai lembaga negara yang bersifat independen dan di bentuk berdasarkan undang-undang termasuk dalam tingkatan kedua di kelembagaan negara.
b) Tugas dan Wewenang Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Menurut Pasal 35 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Tugas KPPU meliputi:
1 Lampiran Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 3 Tahun 2009, hlm.1.
2 Asshidiqie, Jimly, 2010, Perkembangan dan konsolidasi lembaga negara pasca reformasi, Jakarta: Sinar Grafika, Hal. 37.
(1) melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
(2) melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
(3) melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
(4) mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi.
(5) memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
(6) memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja Komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Menurut Pasal 36 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Wewenang KPPU meliputi:3
(1) menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
(2) melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
(3) melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat
3 Undang – Undang no. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
13
yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku usaha atau yang ditemukan oleh Komisi sebagai hasil penelitiannya;
(4) menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
(5) memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini;
(6) memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini;
(7) meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi;
(8) meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini;
(9) mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan;
(10) memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat;
(11) memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat;
(12) menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan Undang-undang ini.
(c) Praktik Monopoli dalam Hukum Persaingan Usaha
Secara etimologi, kata monopoli berasal dari kata Yunani “Monos”
yang berarti sendiri dan “polein” yang berarti penjual. dari akar kata tersebut secara sederhana orang lantas memberi pengertian monopoli sebagai suatu kondisi dimana hanya ada satu penjual yang menawarkan suatu barang atau jasa tertentu. 4
Monopoli terbentuk jika hanya ada satu pelaku usaha mempunya control eksklusif terhadap pasokan barang dan jasa di suatu pasar.
dengan tidak adanya pesaing, monopoli atau monopsoni merupakan pemusatan kekuatan pasar di satu tangan. bila disamping kekuatan tunggal itu ada pesaing-pesaing lain namun peranannya kurang berarti maka pasarnya bersifat monopolistis karena pada kenyataannya monopoli sempurna jarang ditemukan. dalam prakteknya sebutan monopoli juga diberlakukan bagi pelaku yang menguasai bagian terbesar dari pasar tersebut. secara lebih longgar pengertian Monopoli juga mencakup struktur pasar dimana dapat beberapa pelaku namun peranannya yang begitu dominan maka dari segi praktis pemusatan kekuatan pasar sesungguhnya ada di satu pelaku saja. 5
2. Keanggotaan dan Syarat Keanggotaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha
a) Keanggotaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha
Menurut pasal 31 UU No. 5 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa : (1) Komisi terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota, seorang
Wakil Ketua merangkap anggota, dan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) orang anggota.
(2) Anggota Komisi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
4 Abu samah, Hukum Anti Monopoli, (Diklat 2015), h.3.
5 Suyud Margono, Hukum Anti Monopoli, (Jakarta : PT. Sinar Grafika, 2009), h.5.
15
(3) Masa jabatan anggota Komisi adalah 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.
(4) Apabila karena berakhirnya masa jabatan akan terjadi kekosongan dalam keanggotaan Komisi, maka masa jabatan anggota dapat diperpanjang sampai pengangkatan anggota baru.
b) Persyaratan Keanggotaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Adapun persyaratan keanggotaan komisi menurut pasal 32 UU No. 5 Tahun 1999 ialah :
(1) Warga negara Republik Indonesia, berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun dan setinggi-tingginya 60 (enam puluh) tahun pada saat pengangkatan.
(2) Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
(3) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Jujur, adil, dan berkelakuan baik.
(5) Bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia.
(6) Berpengalaman dalam bidang usaha atau mempunyai pengetahuan dan keahlian di bidang hukum dan atau ekonomi.
(7) Tidak pernah dipidana.
(8) Tidak pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan.
(9) Tidak terafiliasi dengan suatu badan usaha.
Kemudian, status keanggotaan dapat berhenti, apabila : (1) Meninggal dunia.
(2) Mengundurkan diri atas permintaan sendiri.
(3) Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia.
(4) Sakit jasmani atau rohani terus menerus.
(5) Berakhirnya masa jabatan keanggotaan Komisi.
(6) Diberhentikan.
c) Kode Etik Anggota Komisi
Berdasarkan Pasal 3 ayat (2) dan (3) Keputusan KPPU no.
5/KPPU/Kep/I/2013 dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, anggota komisi wajib :
(1) Mematuhi peraturan perundang-undangan dan peraturan komisi pengawas persaingan usaha.
(2) Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan atau kelompok/golongan/partai politik.
(3) Menjaga nama baik, kehormatan, dan kredibilitas komisi.
(4) Bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dalam Rapat Komisi.
(5) Bersikap netral dan bebas dari pengaruh pihak manapun.
(6) Menjaga kerahasiaan informasi dan/atau dokumen yang dinyatakan komisi sebagai rahasia.
Anggota komisi juga dilarang :
(1) Menyalahgunakan wewenang dan jabatannya sebagai Anggota Komisi.
(2) Menerima pemberian dan/atau hadian dan/atau fasilitas dan/atau janji dalam bentuk apapun yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya.
(3) Melakukan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme
(4) Menjadi anggota Dewan Komisaris atau pengawas atau Direksi suatu perusahaan.
(5) Menjadi anggota pengurus atau badan pemeriksa suatu koperasi.
(6) Menjadi pihak yang memberikan layanan jasa kepada suatu perusahaan seperti konsultan, akuntan publik, dan penilai.
(7) Memiliki saham mayoritas suatu perusahaan.
(8) Bertemu atau berhubungan secara langsung maupun tidak langsung untuk membicarakan perkara dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara yang sedang dan akan ditangani diluar
17
(9) proses pemeriksaan, persidangan, dan didalam maupun di luar kantor.
(10) Menangani perkara apabila mempunyai hubungan sedarah/semenda sampai derajat ketiga dengan pihak yang berperkara.
(11) Mempunyai kepentingan dengan perkara yang bersangkutan.6
B. Kerangka Teoritis 1. Teori Keadilan
Teori keadilan menjadi landasan utama yang harus diwujudkan melalui hukum yang ada. Aristoteles menegaskan bahwa keadilan adalah inti dari hukum. Baginya, keadilan dipahami dalam pengertian kesamaan, namun bukan kesamarataan. Membedakan hak persamaanya sesuai dengan hak proposional. Kesamaan proposional memberi tiap orang apa yang menjadi haknya sesuai dengan kemampuan dan prestasi yang telah dilakukanya. Arietoteles juga membedakan dua macam keadilan, keadilan
“distributief” dan keadilan “commutatief”. Keadilan distributief ialah keadilan yang memberikan kepada tiap orang porsi menurut pretasinya.
Keadilan commutatief memberikan sama banyaknya kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan prestasinya.
2. Teori Kemanfaatan
Tujuan negara hukam Gustav Radbruch salah satunya ialah tujuan kemanfaatan hukum (zweckmaeszigkeit). Kemanfaatan berasal dari kata dasar “manfaat” yang bermakna guna, faedah, laba dan untung.7 Hukum yang memiliki nilai manfaat akan memberikan kontribusi optimal dalam
6 Keputusan komisi pengawas persaingan usaha nomor 5/KPPU/Kep/I/2013 tentang kode etik anggota komisi pengawas persaingan usaha.
7 Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, ed. 3. (Jakarta: Balai Pustaka, 2006) h. 744.
tatanan kehidupan masyarakat. Tersedianya hukum namun tidak memiliki nilai manfaat bagi masyarakat secara luas, maka dapat dipastikan hanya akan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.
Putusan hakim yang mencerminkan kemanfaatan, manakala hakim tidak hanya menerapkan hukum secara tektual belaka dan hanya mengejar keadilan semata, akan tetapi juga mengarah pada kemanfaatan bagi kepentingan pihak-pihak yang berperkara dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Artinya hakim dalam menerapkan hukum, hendaklah mempertimbangkan hasil akhirnya nanti, apakah putusan hakim tersebut membawa manfaat atau kegunaan bagi semua pihak, bahkan terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga putusan yang dikeluarkan oleh hakim dapat memelihara keseimbangan dalam masyarakat dengan memulihkan kembali tatanan masyarakat pada keadaan semula (restitutio in integrum).8
Inparsialitas kegunaan dari putusan hakim, membuat sulitnya mewujudkan nilai kemanfaatan dalam sebuah putusan, karena kegunaan tersebut haruslah dapat diterima tidak hanya pada satu golongan atau pihak tertentu saja, melainkan harus menyeluruh, hal ini jelas tidaklah mudah bagi para hakim. Bila ditelisik lebih jauh, sisi kemanfaatan erat kaitannya dengan dimensi Aksiologis sebagai cabang filsafat yang mempelajari nilai.9 Nilai dasar dimensi aksiologi untuk mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari ilmu pengetahuan.
Putusan hakim pada dasarnya adalah refleksi dan pengejawantahan kepentingan masyarakat luas. Oleh sebab itu, suatu putusan akan mengesampingkan fondasi negara hukum yang berupa kepastian hukum, apabila tidak berpihak terhadap kepentingan masyarakat luas. Dalam arti, bahwa seorang hakim akan memilih keadilan substantif sesuai kebutuhan yang ada di masyarakat. Artinya dengan tinjauan kemanfaatan yang
8 Fence M. Wantu, Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan dan Kemanfaatan dalam Putusan Hakim di Peradilan Perdata. Jurnal dinamika hukum, (Purwokerto: Universitas Jendral Sudirman. Vol. 12 no. 3 2012) h. 8.
9 Wardi, Moh. Problematika Pendidikan Islam dan Solusi Alternatifnya (perspektif Ontologis, Epistimologis dan Aksiologis). Jurnal tadris, (Pamekasan: STAIN, Vol. 8 no. 1, 2013) h.65.
18
digunakan hakim melihat perkara-perkara dihadapan dia, seorang hakim dapat mengindahkan sisi normatifitas tekstual peraturan-peraturan yang ada.
Sehingga bukan hanya pada tataran sistem negara, politik, dan ekonomi saja aspek pembatas terhadap kebebasan hakim tersebut ialah kemanfaatan yang bersifat abstrak. Upaya penerjemahan hukum yang berkeadilan yang akan dimplementasikan dalam bentuk putusan tersebut memperlihatkan kemanfaatan sebagai akar sekaligus sistem kontrol.
3. Teori Kepastian
Mario Julyano dalam tulisannya yang berjudul “Pemahaman terhadap Asas Kepastian Hukum Melalui Konstruksi Penalaran Positivisme Hukum” mengatakan bahwa sejatinya Kepastian Hukum dimaknai sebagai suatu keadaan dimana telah pastinya hukum karena adanya kekuatan yang kongkret bagi hukum yang bersangkutan. Keberadaan kepastian hukum merupakan sebuah bentuk perlindungan bagi yustisiabel (pencari keadilan) terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. 10 Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan Van Apeldoorn bahwa kepastian hukum memiliki dua segi, yaitu dapat ditentukannya hukum dalam hal yang konkret dan keamanan hukum. Hal ini memiliki arti bahwa pihak yang mencari keadilan ingin mengetahui apa yang menjadi hukum dalam suatu hal tertentu sebelum ia memulai perkara dan perlindungan bagi para pencari keadilan.
Lord Lloyd mengatakan bahwa “law seems to require a certain minimum degree of regularity and certanity, if or without that it would be impossible to assert that what was operating in a given territory amounted to a legal system”. Artinya tanpa adanya kepastian hukum, orang tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dan akhirnya timbulah ketidakpastian yang
10 Sudikno Mertokususmo, Bab-bab tentang Penemuan Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993) h. 2.
pada akhirnya akan menimbulkan kekerasan akibat ketidaktegasan sistem hukum. Sehingga dengan demikian kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap dan konsistem dimana pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjetik.11
4. Teori Kewenangan
Menurut H.D Stout, kewenangan merupakan regulator. Wewenang adalah pengertian yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan, yang dapat dijelaskan sebagai seluruh aturan-aturan yang berkenaan dengan penggunaan wewenang pemerintahan oleh subjek hukum publik dalam hubungan hukum publik.12 Artinya kewenangan merupakan hak atau kekuasaan yang dimiliki oleh pejabat atau institusi menurut peraturan yang berla ku. Maka dari itu sebagai regulator, KPPU mempunyai hak dan kekuasaan dalam menjalankan tugasnya dalam fungsi administratif serta bentuk-bentuk pelanggaran tentang persaingan usaha dengan di dasari oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Persaingan Usaha Tidak Sehat.
5. Kebebasan/kemerdekaan Hakim
Menurut Ach. Diofirul Anam dalam tulisannya “Landasan Aksiologi Kebebasan Hakim dalam Memutus Perkara Tinjauan Keadilan Subtantif”.13 mengatakan bahwa sebagian hakim memahami kebebasan sebagai suatu kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batas, sehingga makna kebebasan dipahami sebagai kesewenang-wenangan, dapat berbuat
11 R. Tony Prayogo, “Penerapan Asas Kepastian Hukum dalam Peraturan Mahkamah Agung nomor 1 Tahun 2011 tentang Hak Uji Materiil dan Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi 06/Pmk/2005 tentang Pedoman Beracara dalam Pengujian Undang-Undang”, Jurnal Legislasi Indonesia Vol. 13 no. 2, 2016, h. 194.
12 HR Ridwan, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013) h.
71.
13 Ach. Dlofirul Anam dalam tulisannya “Landasan Aksiologi Kebebasan Hakim dam Memutus Perkara Tinjauan Keadilan Substantif” h. 34.
20
atau tidak berbuat sesuka hatinya. Disini bebas dipahami juga sebagai kebebasan yang terlepas dari segala kewajiban dan keterikatan dengan seseorang atau apapun (termasuk nafsu) yang dapat membuat hakim tidak leluasa. Ukurannya adalah kebenaran dan kebaikan yang dipancarkan oleh nurani. Menurut Sudikno Mertokusumo, hakim itu bebas dalam atau untuk mengadili sesuai dengan hati nuraninya/keyakinannya tanpa dipengaruhi oleh siapapun. Hakim bebas memeriksa, membuktikan dan memutuskan perkara berdasarkan hati nuraninya, selain itu juga bebas dari campur tangan pihak ekstra yudisial.14
Oemar Seno Adji mengatakan bahwa suatu pengadilan yang bebas dan tidak dipengaruhi merupakan syarat yang indispensable bagi negara hukum.15 Bebas berarti tidak ada campur tangan atau turun tangan dari kekuasaan eksekutif dan legislatif dalam menjalankan fungsi Judiciary. Ia tidak berarti bahwa ia berhak untuk bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya, ia “subordinated”, terikat pada hukum. Ide dasar yang berkembang secara universal perlunya suatu peradilan yang bebas dan tidak memihak, “freedom and impartial judiciary” yang menghendaki terwujudnya peradilan yang bebas dari segala sikap dan tindakan maupun bentuk multiintervensi merupakan nilai gagasan yang bersifat “universal”.
“freedom and impartial judiciary” merupakan karakteristik dan persyaratan utama bagi negara yang menganut sistem hukum Anglo Saxon maupun Eropa Kontinental yang menyadari keberpihakan pada penegakan prinsip rule of law. Ada tiga ciri khusus negara hukum Indonesia yang digariskan oleh ilmu hukum melalui prinsip-prinsip Rule Of Law, yaitu: pertama, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi yang mengandung pengertian perlakuan yang sama di bidang politik, hukum, sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Kedua, Legalitas dalam arti hukum dalam segala
14 Sudikno Mertokusumo, Sistem Peradilan di Indonesia, (4 Jurnal Hukum FH-UII, Jakarta, 1997), h. 5.
15 Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum, (Jakarta: Erlangga, 1987), h. 46.
bentuknya. Ketiga, peradilan yang bebas, tidak bersifat memihak, bebas dari segala pengaruh kekuasaan lain.16
Tinjauan dari historis menguatnya istilah kebebasan hakim (independensi peradilan) menjadi wacana nasional, telah memberikan indikasi adanya campur tangan ekstra yudisial.17 Indikasi demikian merupakan karakteristik dari negara-negara yang mengakui konsepsi rule of law, baik dinegara yang menganut sistem liberal, neoliberal, maupun sosialis. Konsepsi dan ide kebebasan peradilan yang tidak memihak sudah menjadi acuan negara-negara dengan multi pola sistem, karenanya suatu peradilan bebas dan tidak memihak adalah karakteristik negara demokratis yang mengakui dan menjunjung tinggi prinsip rule of law tersebut. Untuk mewujudkan kehendak freedom and partial judiciary harus dimulai dengan meneliti kondisi internal peradilan, termasuk para hakim.
Hakikat kebebasan hakim atau kemandirian kekuasaan kehakiman (independensi peradilan) dapat dibaca sebagai cara untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan oleh badan negara. Sehubungan dengan ini Frans Magnis Suseno,18 mengemukakan bahwa dengan adanya kebebasan kemandirian kekuasaan kehakiman dari cabang kekuasaan negara lainnya, maka diharapkan badan yurudikatif dapat melakukan kontrol segi hukum terhadap kekuasaan negara disamping untuk mencegah dan mengurangi kecenderungan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan. Tidak hanya kemandirian kekuasaan kehakiman, terutama dari pengaruh kekuasaan pemerintah akan membuka peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan pengabaian hak asasi manusia oleh penguasa karena kekuasaan kehakiman yang secara konstitusional memiliki wewenang untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan pemerintah sulit menjalankan fungsi tersebut.
16 Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum, h. 167.
17 Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas dan Contemp of Courts, (Jakarta: Diadit Media 1980), h. 15.
18 Frans Magnis Suseno, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, (Jakarta: Gramedia, 1991), h. 298-301.
21
Dasar hukum tentang prinsip kebebasan hakim ada dalam Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 yang menentukan bahwa “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”. Dalam interpretasi historis, dapat diketahui bahwa pasal tersebut oleh pembuatnya dimaksudkan bahwa lembaga peradilan bebas dari intervensi lembaga eksekutif atau lembaga dan perorangan. Prinsip yang terkandung didalamnya adalah bahwa kemerdekaan, kebebasan, atau kemandirian adalah bersifat kelembagaan, yaitu lembaga peradilan.
Dapat dipahami sifat kebebasan hakim dalam melaksanakan wewenang yudisialnya tidak mutlak karena tugas hakim adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sehingga putusannya mencerminkan rasa keadilan rakyat Indonesia,19 bukan keadilan subyektif menurut pengertian atau kehendak hakim semata.
Namun, dalam pelaksanaannya kebebasan dan kemandirian yang diberikan kepada kekuasaan kehakiman (hakim) tersebut tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Ketidak mutulakan tersebut disimpulkan sebagai kebebasan sebagian atau bebas dalam arti sempit. Sehingga dapat dipastikan kebebasan tersebut dibatasi. Sejumlah ahli menilai, kemandirian hakim tersebut dibatasi oleh sistem pemerintahan, politik dan ekonomi, serta peraturan perundang-undangan yang mengatur kemerdekaan tersebut.
6. Teori Norma Sumber Letimigasi
Teori ini dikemukakan oleh Jimly Ashidiqie yang menjelaskan bahwa alat-alat perlengkapan negara dikelompokkan menurut bentuk norma hukum yang menjadi sumber atau pemberi kewenangan pada lembaga terkait. Oleh karena itu KPPU sebagai lembaga independen atau lemba negara yang mempunyai kewenangan dalam penyelasaian persaingan usaha
19 Sudikno dalam Bambang Sutiyoso dan Sri Hastuti Pusitasari, Aspek-Aspek Perkembangan Kekuasaan Kehakiman Indonesia, ed 1, (Yogyakarta : 2005), h. 52-68.
tidak sehat memberi kewenangan pada majelis komisi sebagai orang-orang yang mengawasi dan menegakkan hukum larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
C. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
Dalam pembuatan proposal skripsi ini penulis menjumpai berbagai penelitian yang juga membahas di bidang Persainga Usaha terutama menyangkut tata cara proses persidangan di Komisi Pengawas Persaingan Usaha diantaranya sebagai berikut :
1. Skripsi, Ahmad Husein, Kewenangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, 2018. Membahas mengenai adanya perbedaan eksistensi Komisi Pengawas Persaingan Usaha dalam system ketatanegaaan Indonesia dan permasalahan lainnya yaitu hal yang menjadi kendala KPPU dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Komisi Pengawas Persaingan Usaha merupakan Implementasi fungsi cabang kekuasaan eksekutif yang menjadi kendala KPPU dalam menjalankan tugas dan wewenangnya yaitu hukum acara yang belum diatur dalam Undang – Undang nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.20
2. Skripsi, Nova Yanti Silaban, Kedudukan Hakim Tunggal Dalam Penyelesaian Gugatan Sederhana, 2020. Membahas tentang peran dan kedudukan hakim tunggal dalam penyelesaian gugatan sederhana di Indonesi dan untuk mengetahui objektivitas hakim tunggal dalam penyelesaian gugatan sederhana Indonesia. konsekuensi dari penggunaan hakim tunggal dalam penyelesaian gugatan sederhana menyebabkan hakim mernjadi kurang objektif dalam memeriksa, mengadili dan memutus perkara karena tidak ada hakim lain yang mengimbangi pemikiran hakim.
3. Skripsi, Maulana Ishaq, Penggunaan Hakim Tunggal dalam Penyelesaian Gugatan Sederhana dalam Sistem Kekuasaan Kehakiman di Indonesia,
20 Ahmad Husein, Kewenangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta: repository.uinjkt.ac.id.
21
2016. Skripsi ini membahas tentang bagaimana objektivitas dan eksistensi yurudis penggunaan hakim tunggal dalam penyelesaian gugatan sederhana dalam system kekuasaan kehakiman di Indonesia.
Adapun dalam penulisan skripsi ini menyimpulkan 2 hal yakni pertama, persidangan dengan hakim tunggal dapat mengakibatkan hakim kurang objektif dalam memeriksa dan memutus perkara. namun demikian, hakim tetap dapat memeriksa, mengadili dan memutus perkara secara objektif dan adil serta dapat mewujudkan kebenaran formil. kedua, hakim tunggal dapat memunculkan kecurigaan mengenai objektivitas hakim tunggal oleh pihak-pihak yang bersengketa sehingga dapat menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan pada kinerja hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara pada gugatan sederhana.
4. Buku, Suyud Margono. Hukum Anti Monopoli. Mengupas pokok – pokok pikiran Undang – Undang nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pembahasan dikupas baik secara teoritis maupun praktis, meliputi implementasi pelaksanaan dan permasalahan yang terjadi dengan berlakunya undang – undang tersebut, serta membandingkan hukum Anti Monopoli di Indonesia dengan Hukum Anti Monopoli di berbagai negara.21
Persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian diatas yakni : Ahmad Husein, sama – sama meneliti tentang Lembaga KPPU sedangkan perbedaannya terletak pada objek penelitiannya yakni kewanangan Lembaga KPPU dalam system kelembagaan di Indonesia, KPPU sebagai sebuah Lembaga yang sifatnya independent memiliki 3 kewenangan sekaligus yakni, sebagai Lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif.
Nova Yanti Silaban, persamaannya ialah sama – sama meneliti tentang pelaksanaan sidang majelis yang dihadiri oleh satu orang yang dalam perkara perdata disebut hakim tunggal sedangkan perbedaannya konsep hakim tunggal ada pada gugatan sederhana sedangkan yang peneliti tulis objeknya yakni persidangan yang
21 Suyud Margono, Hukum Anti Monopoli, Jakarta: Sinar Grafika, 2013.
dilakukan oleh KPPU dalam hal penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Maulana Ishaq, persamaannya ialah sama – sama meneliti tentang pelaksanaan sidang majelis yang dihadiri oleh satu orang yang dalam perkara perdata disebut hakim tunggal sedangkan perbedaannya konsep hakim tunggal ada pada gugatan sederhana sedangkan yang peneliti tulis objeknya yakni persidangan yang dilakukan oleh KPPU dalam hal penanganan perkara praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
26 BAB III
PELAKSANAAN SIDANG MAJELIS KOMISI DALAM MEMERIKSA, MENGADILI DAN MEMUTUSKAN PERKARA MONOPOLI DAN
PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
A. Pengertian Majelis Komisi
Berdasarkan PERKOM no. 1 Tahun 2017 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Kemitraan Pasal 1 angka (5) yang mengatakan Majelis Komisi adalah sejumlah Anggota Komisi yang ditugaskan oleh Ketua Komisi untuk menangani perkara.1 Sidang Majelis Komisi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh majelis Komisi dalam sidang yang terbuka untuk umum yang terdiri atas pemeriksaan pendahuluan, pemeriksaan lanjutan dan musyawarah majelis Komisi, yang hasilnya dituangkan dalam putusan Komisi. Adapun tugas dan wewenang Majelis Komisi ialah :
1. Majelis Komisi bertugas:
a. melakukan Pemeriksaan Pendahuluan;
b. menyusun dan menyampaikan Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan Kepada Rapat Komisi;
c. melakukan Pemeriksaan Lanjutan
d. melakukan Musyawarah Majelis Komisi untuk menilai, menyimpulkan, dan memutuskan terjadi atau tidak terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang; dan
e. menyusun, menandatangani dan membacakan Putusan Komisi.
2. Dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Komisi berwenang;
a. menentukan tempat pelaksanaan Sidang Majelis Komisi;
b. menentukan jangka waktu dan jadwal Pemeriksaan Pendahuluan;
c. memberikan hak kepada Investigator Penuntut untuk mengajukan alat-alat bukti yang mendukung Laporan Dugaan Pelanggaran;
1 Peraturan Komisi no.1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Kemitraan.
d. memberikan hak kepada Terlapor untuk menyampaikan tanggapan terhadap Laporan Dugaan Pelanggaran serta mengajukan alat-alat bukti pendukung;
e. merekomendasikan kepada Rapat Komisi untuk memberikan peringatan tertulis Kepada Terlapor;
f. menentukan jangka waktu dan jadwal Pemeriksaan Lanjutan;
g. memanggil dan memeriksa Terlapor, Saksi, dan Ahli baik yang diajukan oleh Investigator Penuntut, Terlapor maupun Majelis Komisi;
h. mendapatkan surat, dokumen, dan/atau alat bukti lain;
i. meneliti, memeriksa dan/atau menilai surat, dokumen, dan/atau alat bukti lain;
j. meminta bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melakukan pengawalan dan pengamanan apabila Terlapor, Saksi, Ahli yang dipanggil dan diperiksa dalam proses Sidang Majelis Komisi:
1. menolak memenuhi panggilan pemeriksaan; dan/atau 2. menolak diperiksa; dan/atau
3. menolak memberikan informasi yang diperlukan; dan/atau 4. menolak untuk menyerahkan surat, dokumen, dan/atau alat bukti
lain; dan/atau
5. menghambat proses pemeriksaan.
k. meminta bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melakukan pengawalan dan pengamanan Sidang Majelis Komisi;
l. melakukan pemeriksaan setempat terhadap Kegiatan yang berkaitan dengan dugaan pelanggaran;
m. memberikan hak kepada Investigator Penuntut dan Terlapor untuk menyampaikan Kesimpulan Hasil Persidangan;
n. menentukan jadwal Musyawarah Majelis Komisi;
o. menentukan waktu dan tempat pembacaan Putusan Komisi;
28
p. menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif Kepada Terlapor sesuai dengan ketentuan UndangUndang;
q. merekomendasikan kepada Ketua Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah atau pihak lain; dan
r. memerintahkan Panitera untuk memberitahukan dan menyampaikan Petikan dan Salinan Putusan Komisi Kepada Terlapor.
B. Peraturan tentang Sidang Majelis Komisi dari masa ke masa.
Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU menyebutkan bahwa :
Pasal 51
1. Untuk memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran sebagaima dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2), Komisi membentuk Majelis Komisi.
2. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang- kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang Anggota Komisi;
3. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dipimpin oleh seorang Ketua Majelis merangkap Anggota Majelis dan 2 (dua) orang Anggota Majelis;
4. Keanggotaan Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) terdapat sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Anggota Komisi yang menangani perkara dalam Pemeriksaan Lanjutan;
5. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Komisi dibantu oleh Sekretariat Komisi.2
Pasal 52
Sidang Majelis Komisi dilakukan untuk menilai, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran.
2 Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Berdasarkan Pasal 51 PERKOM nomor 1 Tahun 2006, menjelaskan tentang pembentukan Majelis Komisi yang di bentuk oleh Komisi, Majelis Komisi yang dibentuk oleh komisi sedikitnya beranggotakan (tiga) orang Anggota Komisi dan sedikitnya 1 (satu) orang Angggota Komisi dalam menangani Pemeriksaan Lanjutan dan dalam hal pelaksanaan tugasnya Majelis Komisi dibantu oleh Sekretariat Komisi. Dalam pasal ini tidak dijelaskan apakah pembentukan Majelis Komisi dibuat saat akan melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan ataukah setelah Pemeriksaan Pendahuluan. serta pada saat pemeriksaan pendahuluan, apakah Sidang Majelis Komisi dihadiri sedikitnya 1 (satu) orang Anggota Komisi atau tidak.
Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU menyebutkan bahwa :
Pasal 42
1. Berdasarkan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, Ketua Komisi menetapkan pembentukan Majelis Komisi dengan Keputusan Komisi.
2. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas paling sedikit 3 (tiga) Anggota Komisi yang salah satunya menjadi Ketua Majelis Komisi.
3. Untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya, Majelis Komisi dibantu oleh Panitera.
4. Ketua Komisi menugaskan Panitera yang akan membantu Majelis Komisi dengan surat tugas. Bagian Kedua Sidang Majelis Paragraf 1 Pemeriksaan.3
Pasal 43
1. Ketua Majelis membuka Sidang Majelis Komisi dan menyatakan Sidang Majelis Komisi terbuka untuk umum.
3 Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.