• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

B. Peraturan tentang Sidang Majelis Komisi dari masa ke masa

Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU menyebutkan bahwa :

Pasal 51

1. Untuk memutuskan telah terjadi atau tidak terjadi pelanggaran sebagaima dimaksud dalam Pasal 49 ayat (2), Komisi membentuk Majelis Komisi.

2. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang Anggota Komisi;

3. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dipimpin oleh seorang Ketua Majelis merangkap Anggota Majelis dan 2 (dua) orang Anggota Majelis;

4. Keanggotaan Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) terdapat sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Anggota Komisi yang menangani perkara dalam Pemeriksaan Lanjutan;

5. Dalam melaksanakan tugasnya, Majelis Komisi dibantu oleh Sekretariat Komisi.2

Pasal 52

Sidang Majelis Komisi dilakukan untuk menilai, menyimpulkan dan memutuskan perkara berdasarkan bukti yang cukup tentang telah terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran.

2 Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Berdasarkan Pasal 51 PERKOM nomor 1 Tahun 2006, menjelaskan tentang pembentukan Majelis Komisi yang di bentuk oleh Komisi, Majelis Komisi yang dibentuk oleh komisi sedikitnya beranggotakan (tiga) orang Anggota Komisi dan sedikitnya 1 (satu) orang Angggota Komisi dalam menangani Pemeriksaan Lanjutan dan dalam hal pelaksanaan tugasnya Majelis Komisi dibantu oleh Sekretariat Komisi. Dalam pasal ini tidak dijelaskan apakah pembentukan Majelis Komisi dibuat saat akan melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan ataukah setelah Pemeriksaan Pendahuluan. serta pada saat pemeriksaan pendahuluan, apakah Sidang Majelis Komisi dihadiri sedikitnya 1 (satu) orang Anggota Komisi atau tidak.

Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU menyebutkan bahwa :

Pasal 42

1. Berdasarkan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, Ketua Komisi menetapkan pembentukan Majelis Komisi dengan Keputusan Komisi.

2. Majelis Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas paling sedikit 3 (tiga) Anggota Komisi yang salah satunya menjadi Ketua Majelis Komisi.

3. Untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya, Majelis Komisi dibantu oleh Panitera.

4. Ketua Komisi menugaskan Panitera yang akan membantu Majelis Komisi dengan surat tugas. Bagian Kedua Sidang Majelis Paragraf 1 Pemeriksaan.3

Pasal 43

1. Ketua Majelis membuka Sidang Majelis Komisi dan menyatakan Sidang Majelis Komisi terbuka untuk umum.

3 Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

30

2. Dalam rangka memperoleh fakta-fakta persidangan Majelis Komisi melakukan:

a. memeriksa dan meminta keterangan Terlapor;

b. memeriksa dan meminta keterangan Pelapor sebagaimana dimaksud Pasal 11 ayat (4);

c. memeriksa dan meminta keterangan Saksi;

d. meminta Pendapat Ahli;

e. meminta keterangan dan risalah dari instansi pemerintah;

f. meminta, mendapatkan dan menilai surat, dokumen atau alat bukti lain;

g. melakukan Pemeriksaan setempat terhadap kegiatan Terlapor atau pihak lain terkait dengan dugaan pelanggaran.

h. Sidang Majelis Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam 2 (dua) tahap, terdiri atas :

1. Pemeriksaan Pendahuluan; dan 2. Pemeriksaan Lanjutan.

i. Terlapor atau Pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) dapat meminta kepada Ketua Majelis Komisi untuk menyatakan Sidang Majelis Komisi tertutup untuk umum dalam hal Terlapor atau Pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4) akan menyerahkan dokumen yang dikategorikan dalam dokumen rahasia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

j. Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicatat dalam suatu Berita Acara Sidang Majelis Komisi yang ditandatangani oleh Majelis Komisi dan Panitera.

Pasal 44

1. Sidang Majelis Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3) dilakukan di ruang Pemeriksaan di Kantor Pusat Komisi atau di Kantor Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi, yang dihadiri oleh paling sedikit 1 (satu) Anggota Majelis Komisi.

2. Tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi atas persetujuan Ketua Komisi.

3. Apabila diperlukan, Majelis Komisi dapat melakukan Pemeriksaan setempat.

4. Pemeriksaan setempat dilakukan di lokasi dimana keterangan dan/atau bukti terkait dengan dugaan pelanggaran dapat ditemukan.

5. Hasil Pemeriksaan setempat dicatat dalam Berita Acara Pemeriksaan Setempat yang ditandatangani oleh Majelis Komisi dan Panitera.

Lebih jauh lagi, dalam Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2010, dalam hal pelaksanaan tugas dan wewenangnya, Majelis Komisi dibantu oleh Panitera bukan lagi dibantu oleh secretariat. Dalam hal pembentukan Majelis Komisi dilaksanakan setelah dikeularkannya Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan.

Dalam peraturan ini, pelaksanaan Sidang Majelis Komisi bisa dilaksanakan di Kantor Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi atas persetujuan Ketua Komisi, bahkan dapat melakukan Pemeriksaan setempat. Yakni lokasi dimana keterangan dan/atau bukti terkait pelanggaran ditemukan yang kemudian hasilnya akan dicatat dalam Berita Acara Peeriksaan Setempat yang ditandatangani oleh Majelis Komisi dan Panitera.

Aturan ini menjelaskan bahwa palaksanaan Sidang Majelis Komisi dalam lebih mudah dan fleksibel dengan menyesuaikan keadaan. Akan tetapi menurut penulis dengan pembuatan regulasi seperti ini terkesan bahwa KPPU sebagai Lembaga yang berwenang mengadili perkara Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat terkesan tidak mencerminkan aspek Kepastian Hukum yang nantinya akan berdampak pada Keadilan dalam hal apakah putusan yang dikeluarkan oleh KPPU tidak terdapat intervensi dari pihak luas karena pelaksanaan Sidang Majelis Komisi yang dilaksanakan di lokasi setempat dimana keterangan dan/atau bukti terkait dengan dugaan pelanggaran dapat ditemukan.

Menurut Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara di KPPU menyebutkan bahwa :

32

Pasal 29

1. Majelis Komisi menentukan jadwal Pemeriksaan Pendahuluan.

2. Majelis Komisi memerintahkan Terlapor dipanggil secara patut untuk hadir dalam Pemeriksaan Pendahuluan.

3. Pemeriksaan Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan di ruang Pemeriksaan di Kantor Pusat Komisi atau di Kantor Perwakilan Daerah Komisi atau tempat lain yang ditentukan oleh Majelis Komisi, yang dihadiri oleh paling sedikit 1 (satu) Anggota Majelis Komisi.

4. Pemeriksaan Pendahuluan dilakukan oleh Majelis Komisi dalam Bahasa Indonesia.

5. Persidangan yang dilakukan Majelis Komisi pada tahap Pemeriksaan Pendahuluan dicatat dalam Berita Acara Persidangan yang ditandatangani oleh Majelis Komisi dan Panitera.4

Pasal 30

1. Pemeriksaan Pendahuluan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.

2. Jangka waktu Pemeriksaan Pendahuluan dimulai sejak persidangan pertama yang dihadiri oleh Terlapor.

3. Dalam hal terlapor tidak hadir, Majelis Komisi akan melakukan pemanggilan secara patut Kembali sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali panggilan sebelum menyatakan Pemeriksaan Pendahuluan dimulai.

4. Dalam hal Terlapor tidak hadir pada panggilan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (3), maka Pemeriksaan Pendahuluan ditunda pada persidangan berikutnya.

5. Dalam hal Terlapor tidak hadir pada panggilan kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (3), maka Pemeriksaan Pendahuluan dimulai tanpa kehadiran Terlapor.

4 Peraturan Komisi nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

6. Dalam hal Pemeriksaan Pendahuluan dimulai tanpa kehadiran Terlapor, Majelis Komisi dapat mengambil Putusan berupa:

a. adanya pelanggaran Undang-Undang;

b. tidak adanya pelanggaran Undang-Undang; atau c. menolak Laporan Dugaan Pelanggaran.

7. Dalam hal pada pemeriksaan pendahuluan Terlapor atau Para Terlapor hadir, namun pada pemeriksaan selanjutnya Terlapor atau Para Terlapor tidak hadir semuanya, maka sidang ditunda pada persidangan berikutnya.

8. Dalam hal Terlapor atau Para Terlapor pada persidangan yang telah ditentukan tetap tidak hadir walaupun telah dipanggil secara patut, maka sidang diteruskan tanpa kehadiran Terlapor atau Para Terlapor.

Berbeda dengan aturan sebelum-sebelumnya, dalam Peraturan Komsi nomor 1 tahun 2019 ini, tidak ada aturan tentang Pembentukan Majelis Komisi yang dibentuk oleh komisi. Majelis Komisi berwenang melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan yang nantinya hasil dari Pemeriksaan Pendahuluan akan dicatat dalam Berita Acara Persidangan yang ditandatangani oleh Majelis Komisi dan Panitera.

Berkaca dari syarat-syarat pembentukan Majelis Komisi yakni Majelis Komisi dibentuk dan/atau dibubarkan oleh Komisi. Artinya dalam ini apabila tidak ada aturan tentang pembentukan Majelis Komisi sebelum pelaksanaan sidang komisi maka, pelaksanaan Sidang Majelis Komisi dalam Pemeriksaan Pendahulan batal demi hukum dikarenakan tidak ada aturan yang menjelaskan tentang pembentukan Majelis Komisi oleh Komisi

34 BAB IV

PENANGANAN PERKARA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN

Dokumen terkait