• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGI HASIL TRADISIONAL DI YOGYAKARTA SEBELUM LAHIRNYA UNDANG-UNDANG PERJANJIAN BAGI HASIL

3.1 Gambaran Umum Desa Sumbermulyo

3.2.2 Bagi Hasil Tradisional di Yogyakarta (Sebagai Daerah Kerajaan)

Sebelum diadakan reorganisasi, keadaan agraria dan ekonomi di daerah kerajaan sangat berbeda bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa. Seperti diungkapkan dalam bab sebelumnya mengenai situasi pengaturan tanah di

Yogyakarta. Pemahaman awal bahwa memang ada bentuk bagi hasil, tetapi jika dipahami bahwa bentuk bagi hasil tersebut adalah bentuk bagi hasil atas penggarapan tanah milik kerajaan dan tanah jabatan.

Di dalam penggarapan tanah jabatan37 biasanya dikenakan pajak/ pajeg atas tanah tersebut, terutama tanah-tanah milik kerajaan. Dari semua tanah garapan suatu desa 1/5 bagian merupakan tanah jabatan bebas pajak, yang juga disebut pemegang lungguh bagi bekel yang secara administratif sekaligus menjabat sebagai kepala desa setempat. Bagian selebihnya 4/5, tetap ada pada rakyat dan dinamakan bumi dalem (tanah raja).38

Mengenai besarnya sistem pemungutan pajak (yang dimaksud sebagai persembahan wajib) dari hasil panen padi pada sawah-sawah subur harus diserahkan 1/2 (maro) (separuh), pada sawah-sawah tadah hujan 1/3 (mertelon), kadang-kadang di daerah pegunungan ¼ (mrapat) atau 1/5 (morolima). Pajeg atau persembahan wajib ini dapat dibayarkan dengan uang (sistem majegan) atau dalam natura (maro).39 Ada keraguan bahwa sistem maro bisa disebut bagi hasil.40

37

Para pemegang tanah jabatan biasa disebut pemegang lungguh atau patuh. Mengenai hal tersebut sudah dijelaskan pada bab sebelumnya (Bab II)

38

A.M.P.A. Scheltema Suntingan Gunawan Wiradi dan Suyono Hb. 1985. Bagi Hasil di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hlm. 152

39

Ibid, hlm. 152 40

Ibid, hlm. 153 (Hal ini dikemukakan van Vollenhoven, van Mook, dan Simon. Ketiganya setuju menyebut bahwa maron bukan merupakan sistem bagi hasil. Alasan yang diuatarakan meliputi tiga hal. Pertama, tidak ada transaksi, yang setiap kali selesai dapat diperbaharui lagi, tetapi kawulo dalem mempunyai haknya yang tetap atas tanah, dan hubungan hukumnya berjalan terus. Kedua . ada kontadiksi antara pemegang hak tanam yang membayar pajegnya dengan bagian yang seimbang dengan pengindung. Ketiga bagi hasil yang sesungguhnya diperbolehkan, baik atas “sawah-sawah milik negara” maupun atas sawah yang disewakan kepada perusahaan-perusahaan di mana para pemegang hak tanam

Hal ini karena jenis maro yang ada di Yogyakarta tidak sesuai jika disebut sebagai bagi hasil. Karena pembagian hasil panen merupakan bentuk penyerahan wajib yang sudah ditentukan, jadi tidak ada transaksi mengenai suatu kesepakatan bagi hasil.

Pada sistem penyewaan tanah kepada perusahaan-perusahaan Belanda, penyewa mendapat hak-haknya dari patuh / pemegang lungguh sehingga sistem maron juga tetap diikuti oleh para penyewa tanah. Yang terjadi kemudian bukan hasil panen yang dibagi, akan tetapi tanahnya.41 Petani sebagai kawulo dalem berhak atas bagian yang seimbang dari hasilnya bukan karena telah menggarap tanah untuk raja atau pemengang tanah lungguh, jadi bukan sebagai upah kerja dalam bentuk natura, melainkan karena benar-benar mempunyai hak atas tanah itu sendiri dan hanya mendapat sebagian dari hasil panennya, karena sebagian lainnya harus diserahkan sebagai kewajiban.

Jika melihat bagi hasil dari sisi bekel bertindak sebagai penggarap dengan pemegang tanah lungguh sebagai pemilik tanah, seperti memang terjadi bagi hasil. Padahal di sini bekel juga mendapat hak 1/5 dari hasil yang artinya 1/5 dari tanah garapan. Itu artinya tidak terjadi bagi hasil dalam bentuk hasil panenan.

Selain istilah-istilah untuk bagi hasil seperti maro, mertelu, mrapat, juga ada sistem bagi hasil yang disebut srama (juga di sebut mesi). Sromo ini berhubungan dengan uang tambahan yang kadang harus dibayarkan sebagai syarat bagi hasil. Srama sering terdapat pada sistem maro. Tetapi pemberlakuan srama yang sebenarnya memerlukan semua waktunya demi kepentingan perusahaannya). Di Yogyakarta sudah ada penyerahan wajib yang harus diserahkan kepada raja.

41

ini lebih sering di daerah perkebunan (misalnya yang sering adalah di Klaten). Pada sawah tadah hujan yang lebih dominan adalah mertelu, jadi tidak ada srama.

Pada sistem maro yang berlaku, bahwa penggarap menerima separuh dari hasil panen, tetapi juga harus membayar srama. Mengenai besarnya jumlah srama, itu akan disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah, hasil produksi, kepadatan penduduk, juga jangka waktu berlangsungnya bagi hasil, serta lama atau tidaknya pembayaran srama yang sebelumnya. Apabila penggarap membayar srama, maka akan menerima 1/3 dari hasil panen. Apabila tidak membayar srama maka hasil panen dibagi dua.

Di Yogyakarta, bibit dan ternak (biasanya sapi untuk bantuan membajak sawah), dan biaya pupuk selalu disediakan oleh penggarap. Jika sesekali bibit disediakan oleh pemilik tanah , pada waktu panen maka akan dikurangi besarnya biaya bibit, baru sisanya yang dibagi. Jadi besaran bagian untuk penggarap lebih kecil daripada pemilik tanah. Belum lagi apabila harus dengan membayar srama. Memperjelas betapa kecilnya pendapatan penggarap di dalam sistem bagi hasil tradisional jika dibandingkan dengan pendapatan pemilik tanah, di bawah ini disertakan gambaran pembagian hasil antara pemilik tanah dengan penggarap tanah. Sawah yang dihasilkan seluas 1700 meter persegi. Tiap kali panen menghasilkan padi basah rata-rata 7 kuintal, dengan harga tebasan Rp 43 ribu :42

42

Ilustrasi diambil dari wawancara pada Juli 1974. Lihat Soegijanto Padmo. 2000. Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965, Yogyakarta: Media Pressindo, hlm. 69-71

a. tenaga dibayar : - membajak Rp 350,- - menanam Rp 600,-

Rp 950,- b. tidak dibayar : - mencangkul Rp 500,- - menyiangi Rp 600,-

Rp 1.100,-

Harga benih Rp 800,-

Harga pupuk Rp 3.000,-

Rp 3.800,-

(Ongkos untuk membeli benih dan pupuk biasanya disebut input) Jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh penggarap Rp 5.850,-

Apabila diterapkan dalam system maro, pendapatan penggarap dari patok tersebut adalah sebagai berikut:

Maro: - Penerimaan penggarap : ½ x Rp 43.000,- Rp 21.500,- - Ongkos-ongkos - Tenaga: - dibayar Rp 950,- - tak dibayar Rp 1.100,- - input Rp 3.800,- Rp 5.850,- Pendapatan penggarap Rp 15.650,- = 36,40%

Mertelu: - Penerimaan penggarap : 1/3 x Rp 43.000,- Rp 14.333,- - Ongkos-ongkos - Tenaga: Rp 2.050,- - Input : Rp 3.800,- Rp 5,850,- Pendapatan penggarap Rp 8.483,- = 19,73% Mrapat: - Penerimaan penggarap : 1/4 x Rp 43.000,- Rp 10.750,- - Ongkos-ongkos - Tenaga : Rp 2.050,- - Benih : Rp 800,- - Pupuk seperdua : Rp 1.500,- Rp 4.350,- Pendapatan penggarap Rp 6.400,- = 14,90%

Dari beberapa sistem pada bagi hasil tradisional, seperti perhitungan di atas dalam sistem maro pendapatan penggarap adalah yang tertinggi. Menurut

informasi dari narasumber ketika melakukan wawancara43, secara turun temurun di daerah Sumbermulyo, Bantul, yang paling dikenal adalah sistem bagi hasil maro, kemudian adalah mertelu.

Di dalam perjanjian bagi hasil tradisional, pembagian hasil panen jauh lebih menguntungkan pihak pemilik tanah. Meskipun demikian, bagi hasil tradisional masih tetap hidup subur di kalangan masyarakat. Beberapa hal yang mendorong tetap hidupnya bagi hasil tradisional adalah: (1) tingkat kesuburan tanah; (2) kepadatan penduduk; dan (3) tingkat sosial ekonomi.

Biasanya ada pembedaan sistem bagi hasil di daerah yang tanahnya subur dan kurang subur. Di tanah yang kurang subur karena pengerjaannya lebih sulit biasanya imbangan bagi hasil lebih baik, misalnya maro atau mertelu. Sedangkan di tanah yang subur dengan pengerjaan yang lebih ringan, imbangan bagi hasil biasanya lebih besar misalnya mrapat. Di daerah Sumbermulyo untuk keadaan tanah dapat dikatakan dalam keadaan yang subur, dengan pengerjaan tanah yang ringan, meskipun demikian yang sering berlaku ialah sistem bagi hasil maro dan mertelu.

Meningkatnya jumlah penduduk, disertai dengan semakin banyaknya jumlah petani tak bertanah tidak didukung dengan jumlah lahan pertanian yang dapat digarap para petani. Hal tersebut berakibat pada semakin kecilnya imbangan bagi hasil penggarap. Hal ini karena jumlah calon penggarap jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah tuan tanah. Kondisi ini membuat para

43

Wawancara dengan bapak Parwanto. Gedongan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul. Sebagai pemilik tanah, wawancara dilakukan pada tanggal 8 November 2011.

tuan tanah dapat seenaknya menetapkan imbangan bagi hasil dan siapa yang dipilihnya menjadi penggarap.

Jangka waktu berlakunya perjanjian bagi hasil biasanya tergantung dari kedua belah pihak. Biasanya yang paling banyak menentukan adalah pihak tuan tanah. Petani penggarap sangat bergantung pada kesediaan pemilik tanah. Dengan demikian, di dalam bagi hasil tradisional penggarap tidak memperoleh jaminan berlangsungnya penggarapan sesuai dengan yang dibutuhkan. Keadaan seperti ini mendorong para petani penggarap terpaksa untuk menerima syarat apapun yang diajukan pemilik tanah meskipun itu memberatkan mereka. Dengan tidak adanya jangka waktu yang ditetapkan, maka ini juga memberatkan bagi calon penggarap yang lain. Karena itu berarti kesempatan mereka untuk menjadi penggarap semakin sempit.

Perjanjian bagi hasil secara tradisional yang terjadi dilakukan secara lisan. Hal ini terjadi karena memang tidak ada peraturan yang mengharusnya adanya perjanjian secara tertulis ataupun dihadapan pejabat setempat. Tidak adanya bukti tertulis yang disahkan oleh pejabat setempat dapat menimbulkan perselisihan antara penggarap dengan pemilik tanah. Menurut informasi dari narasumber44 perjanjian bagi hasil biasanya hanya berdasarkan rasa kepercayaan antara penggarap dan pemilik tanah saja. Dengan demikian dianggap tidak perlu adanya perjanjian secara tertulis. Selain bukan menjadi kebisaan setempat, hal ini juga dirasa terlalu rumit karena syarat pembuatan perjanjian dilakukan dihadapan pejabat.

44

Wawancara dengan Bapak Padmo Diharjo/Sukimin. Gunungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul pada 5 November 2011.

61

BAB IV