BAGI HASIL DI SUMBERMULYO
4.2. Pengaturan Kembali Perjanjian Bagi Hasil
4.2.1 Undang-undang Perjanjian Bagi Hasil Tahun 1960
Perjanjian bagi hasil merupakan bentuk perjanjian antara seorang yang berhak atas satu bidang tanah pertanian dengan orang lain yang disebut penggarap, berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenankan mengusahakan tanah yang bersangkutan dengan pembagian hasilnya antara penggarap dan yang berhak atas tanah tersebut menurut imbangan yang telah disetujui bersama.50
Pengertian bagi hasil menurut Hilman Hadikusuma, Perjanjian bagi hasil adalah persetujuan di mana pihak yang satu sebagai pemilik atau penguasa tanah (ladang, kebun, sawah) menyerahkan tanahnya kepada pihak yang lain sebagai
50
penggarap atau pekerja dengan ketentuan bahwa hasil tanah tersebut akan dibagi dua atau dibagi tiga.51
Sedangkan Pengertian perjanjian bagi hasil menurut undang-undang nomor 2 tahun 1960, pasal 1 huruf c menyebutkan bahwa:
“perjanjian bagi hasil, ialah perjanjian dengan nama apapun juga yang
diadakan antara pemilik pada satu pihak dan seseorang atau badan hukum pada lain pihak, yang dalam undang-undang ini disebut “penggarap”,
berdasarkan perjanjian mana penggarap diperkenankan oleh pemilik tersebut untuk menyelenggarakan usaha pertanian diatas tanah pemilik, dengan
pembagian hasilnya antara kedua belah pihak.”52
Tujuan dan maksud diundangkannya undang-undang nomor 2 tahun 1960 ialah supaya ada persamaan secara nasional mengenai sistem bagi hasil di Indonesia. Tujuan dan maksud dari UUPBH antara lain ialah:
1. Agar pembagian hasil tanah antara pemilik dan penggarap dilakukan atas dasar yang adil/keadilan.
2. Dan agar terjamin pula kedudukan hukum yang layak bagi para penggarap itu, dengan menegaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban baik dari penggarapan maupun pemilik.
Disatu sisi Banyak pemilik tanah yang memiliki tanah pertanian cukup luas dan tidak digarap karena alasan waktu atau mempunyai pekerjaan lain sehingga tidak bisa mengerjakan sendiri tanahnya. Di sisi lain banyak petani penggarap yang memerlukan lahan pertanian. Hal ini menyebabkan permintaan lebih banyak datang dari penggarap kepada pemilik tanah, akibatnya kesempatan
51
Hilman Hadikusuma. 1980. Pokok-pokok Pengertian Hukum Adat. Bandung: Alumni, hlm. 151
ini dimanfaatkan oleh pemilik tanah untuk menekan petani penggarap dalam hal pembagian hasil.
Bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sebagaimana disebutkan dalam pasal 3 undang-undang bagi hasil adalah:53
1. Semua perjanjian bagi-hasil harus dibuat oleh pemilik dan penggarap sendiri secara tertulis dihadapan Kepala dari Desa atau daerah yang setingkat dengan itu tempat letaknya tanah yang bersangkutan, dengan dipersaksikan oleh dua orang, masing-masing dari pihak pemilik dan penggarap.
2. Perjanjian bagi-hasil termaksud dalam ayat 1 di atas memerlukan pengesahan dari Camat / Kepala Kecamatan yang bersangkutan atau pejabat lain yang setingkat dengan itu.
3. Pada tiap kerapatan desa Kepala Desa mengumumkan semua perjanjian bagi-hasil yang diadakan sesudah kerapatan yang terakhir.
Bukti tertulis atas terjadinya bagi hasil merupakan hal yang penting, Dalam hal ini, peranan dari kepala desa sangat penting agar penggarap tidak dirugikan dan perjanjian tersebut tidak menyimpang dari peraturan yang ada, serta tidak memberatkan penggarap dengan biaya ataupun kewajiban-kewajiban yang menyimpang.
Pentingnya melakukan perjanjian bagi hasil dalam bentuk tertulis adalah supaya semua hal yang berhubungan dengan perjanjian bagi hasil menjadi terang dan jelas. Selain itu, perjanjian bagi hasil seharusnya didaftarkan kepada kepala
53
desa, karena apabila tidak ada monitor dan evaluasi dari pihak pemerintah, itu berarti tidak ada alat bukti apabila terjadi permasalahan dikemudian hari. Kenyataanya, perjanjian secara tertulis dalam bagi hasil tidak dilaksanakan di masyarakat.
Menurut pasal 4 ayat 1 UUPBH dikatakan bahwa lama perjanjian bagi hasil tanah sawah sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun, dan untuk tanah kering sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun. Ketentuan ini diperlukan untuk tanah-tanah yang dikuasai oleh perusahaan, tetapi ada juga manfaatnya bagi petani perorangan yang melaksanakan sistem bagi hasil diantara warga kerabat. 54 Pembedaan jangka waktu untuk tanah sawah dan tanah kering ialah karena tingkat kesuburan antara tanah sawah dan tanah kering memiliki tingkat yang berbeda.
Besarnya bagian masing-masing antara pemilik tanah dan penggarap, disebutkan dalam pasal 7 Undang-undang Bagi Hasil bahwa besarnya bagian masing-masing yang menjadi hak penggarap dan pemilik untuk tiap-tiap Daerah Swatantra tingkat II ditetapkan oleh Bupati/Kepala Daerah Swatantra tingkat II yang bersangkutan, dengan memperhatikan jenis tanaman, keadaan tanah, kepadatan penduduk, zakat yang disisihkan sebelum dibagi dan faktor-faktor ekonomis serta ketentuan-ketentuan adat setempat.55 Hasil yang dibagi ialah hasil bersih, yaitu hasil kotor sesudah dikurangi biaya-biaya yang harus dipikul bersama seperti benih, pupuk, tenaga ternak, biaya menanam, biaya panen.
54
Ibid, hlm. 27 55
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar pelaksanaan perjanjian bagi hasil menurut undang-undang nomor 2 tahun 1960 adalah:
1. Kesepakatan para pihak
Perjanjian bagi hasil diadakan atas dasar kesepakatan antara pemilik tanah dengan petani penggarap.
2. Bentuk perjanjian
Perjanjian bagi hasil harus dibuat secara tertulis dalam bentuk surat dihadapan kepala desa tempat tanah yang bersangkutan berada dengan disaksikan oleh pemilik tanah dan petani penggarap. Perjanjian ini memerlukan pengesahan camat dan diumumkan pada tiap-tiap kerapatan desa oleh kepala desa.
3. Jangka waktu
Jangka waktu pelaksanaan perjanjian bagi hasil dinyatakan dalam surat perjanjian, dengan ketentuan bahwa bagi tanah sawah sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan bagi tanah kering sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun.
4. Pembagian hasil
Besarnya bagi hasil tanah yang menjadi hak pemilik dan penggarap ditetapkan oleh Bupati Daerah yang bersangkutan dengan memperhatikan jenis tanaman, keadaan tanah, kepadatan penduduk.
Penerapan bagi hasil di Desa Sumbermulyo pada tahun 1960 masih dilakukan dengan sistem tradisional. Pada masa itu penduduk masih
terkonsentrasi dibidang pertanian dan ketersediaan tanah sawah masih mencukupi, sehingga petani penggarap memperoleh tanah untuk digarap.
Transaksi bagi hasil yang banyak dilakukan di desa Sumbermulyo masih sama dengan situasi bagi hasil tradisional yaitu maro untuk tanaman padi, dan mertelu untuk palawija.56 Perjanjian bagi hasil di Desa Sumbermulyo biasanya meliputi beberapa unsur, yaitu:
a. Adanya kesepakatan antara pihak pemilik tanah dengan penggarap b. Izin menggarap dari pemilik tanah
c. Atas dasar kepercayaan d. Perjanjian lisan/ tidak tertulis
e. Pembagian menurut kesepakatan (sesuai adat yang sudah turun temurun)
Selain untuk tujuan memperoleh hasil pertanian, bagi hasil juga memiliki fungsi untuk tetap menjaga hubungan persaudaraan baik dengan sanak keluarga maupun dengan tetangga. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik tanah, menyebutkan bahwa dalam melakukan kesepakatan perjanjian bagi hasil akan lebih diutamakan dengan pihak keluarga terlebih dahulu. Hubungan keluarga tetap diprioritaskan untuk melakukan perjanjian bagi hasil. Baru apabila tidak ada sanak keluarga yang mau menggarap maka penawaran akan diberikan kepada orang lain, baik tetangga dekat maupun orang pendatang yang tidak ada hubungan
56
Wawancara dengan Bapak Yohanes Sofyan. Jogodayoh, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul pada tanggal 12 November 2011
kekerabatan. Selain itu bagi hasil terjadi secara turun temurun dan berlangsung lama.57
Pada umumnya alasan pemilik tanah melakukan transaksi bagi hasil di Desa Sumbermulyo adalah karena tidak ada waktu untuk mengerjakannya sendiri, ini karena pemilik tanah juga memiliki pekerjaan lain atau karena memiliki tanah yang terlalu luas sehingga tidak dapat mengerjakannya sendiri, alasan yang laian ialah tidak mau kerepotan mengerjakan tanahnya sendiri, dan rasa sosial atau balas jasa.
Beberapa alasan penggarap pada umumnya ialah tidak mempunyai tanah sama sekali, mempunyai tanah akan tetapi tidak mencukupi, sebagai mata pencaharian pokok, dan untuk mendapatkan hasil tambahan. Meskipun penggarap memiliki tanah sendiri, mereka tetap mengerjakan tanah orang lain dengan alasan untuk mendapatkan hasil tambahan.
Subjek perjanjian bagi hasil secara umum adalah pemilik tanah dan penggarap. Pihak penggarap dapat berbentuk perorangan atau badan hukum atas seijin Menteri Muda Agraria atau pejabat yang ditunjuknya. Yang Dengan demikian dapat saja terjadi bahwa pihak-pihak perorangan maupun berbentuk badan hukum dan pihak penggarap baik perorangan maupun badan hukum.
Objek perjanjian bagi hasil di Desa Sumbermulyo adalah tenaga kerja dan tanaman. Jadi bukan tanah yang menjadi objeknya akan tetapi perjanjian yang
57
Wawancara dengan Pak Saliyo. Jogodayoh, Sumber Mulyo, Bambanglipuro, Bantul Sebagai Pemilik Tanah Wawancara tanggal 8 November 2011
bersangkutan dengan tanah. Beberapa tanaman yang dijadikan objek perjanjian bagi hasil antara lain: padi, jagung, kacang, kedelai.
Bentuk perjanjian bagi hasil yang terjadi di Desa Sumbermulyo pada umumnya tidak tertulis (kesepakatan secara lisan). Alasannya ialah adanya rasa saling percaya, mudah pelaksanaannya / lebih praktis, sudah turun temurun dilakukan secara tidak tertulis.
Lamanya waktu perjanjian bagi hasil di Desa Sumbermulyo, pada umumnya tidak ditentukan, hal ini tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Selama ada izin dari pemilik tanah dan selama penggarap sanggup untuk menggarap tanah tersebut, maka perjanjian bagi hasil dapat diteruskan sampai batas waktu yang tidak tentu. Akan tetapi pemilik tanah memiliki kuasa yang lebih dibandingkan dengan penggarap. Apabila pemilik tanah tidak berkenan lagi melanjutkan perjanjian bagi hasil maka penggarap tidak dapat menolak.
Dalam transaksi bagi hasil, besarnya bagian masing-masing merupakan salah satu kesepakatan dalam perjanjian. Besarnya bagian dapat terjadi karena kebiasaan setempat atau berdasarkan kesepakatan masing-masing pihak. Menurut data lapangan yang diperoleh, untuk tanaman padi biasanya pembagiannya maro 50:50. Untuk tanaman kacang, kedelai, jagung biasanya 2/3 untuk penggarap dan 1/3 untuk pemilik tanah. Hal ini dikarenakan untuk tanaman palawija seperti kacang, kedelai, jagung biaya produksinya lebih mahal. Sedangkan untuk biaya produksi seperti biaya bibit, pupuk, tenaga penggarap harian, biaya luku, semuanya diserahkan kepada petani penggarap. Pemilik tanah tidak menanggung
biaya produksi apapun dalam perjanjian bagi hasil. Pemilik tanah hanya berhak menerima bagian dari hasil tanaman.
Demikianlah, di Desa Sumbermulyo pada tahun 1960-1966 masih bertahan pada sistem bagi hasil tradisional. Sesuai dalam bab sebelumnya bahwa pada masa sebelum re-organisasi bentuk bagi hasil yang terjadi sulit dikatakan sebagai bentuk bagi hasil. Meskipun demikian pada masa setelah re-organisasi Yogyakarta tetap mengikuti sistem lama dalam menerapkan bagi hasil. Bahkan setelah pemberlakuan UUPBH No. 2 tahun 1960 yang diberlakukan di seluruh Indonesia saja, Yogyakarta masih bertahan dengan keistimewaannya menjalankan praktek bagi hasil tradisional.
Meskipun di Yogyakarta belum menerapkan UUPBH pada tahun 1960-1966, sebenarnya sistem bagi hasil tradisional dengan apa yang ada di dalam UUPBH memiliki unsur yang sama misalnya seperti kesepakatan, jangka waktu, dan pembagian hasil. UUPBH merupakan bentuk dari usaha memperbaiki isi dari sistem bagi hasil tradisional. Bentuk usaha tersebut tertuang dalam pasal-pasal UUPBH yang bertujuan mengatur perjanjian bagi hasil sehingga tercapai keadilan dalam pembagian hasil panen antara pemilik tanah dengan penggarap.