• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUASAAN TANAH DI YOGYAKARTA SEBELUM KEMERDEKAAN

2.2 Gambaran Umum Yogyakarta

2.2.1 Situasi Penguasaan Tanah dan Bagi Hasil di Daerah Istimewa

Yogyakarta Sebelum Kemerdekaan

Sebutan petani akan diberikan kepada setiap orang yang mempunyai mata pencaharian utama di sektor pertanian. Dalam hubungannya dengan sebutan tersebut, petani dibedakan atas petani pemilik tanah, petani penggarap, dan buruh tani. Ketiga golongan tersebut memiliki posisi yang berbeda dalam hubungannya dengan tanah. Petani pemilik tanah adalah suatu sebutan yang jelas telah menunjukkan status seseorang, ialah seorang pemegang hak milik atas tanah. Adapun petani penggarap ialah petani yang tidak mempunyai tanah atau mempunyai tanah akan tetapi tidak mencukupi kebutuhan yang bersedia menggarap tanah milik orang lain (sebagai pemilik tanah) untuk memperoleh hasil dengan ketentuan bahwa hasil dari penanaman di tanah tersebut dibagi dengan pemilik tanah. Sedangkan yang disebut buruh tani ialah petani yang bekerja dengan perhitungan dibayar harian. Walaupun masing-masing dapat dibedakan berdasarkan hubungannya dengan tanah, tetapi pada dasarnya kedua golongan itu dimungkinkan sama-sama tidak memiliki tanah.

Dalam perspektif sejarah, kedudukan kaum tani di Yogyakarta dalam hubungannya dengan pemerintahan dan masyarakat bisa disimpulkan sebagai berikut; sebelum perubahan hukum tanah di tahun 1918, kaum tani hanya mempunyai kewajiban dan tak mempunyai hak. Antara 1918 sampai dengan 1951, mereka mempunyai kewajiban dan hak. Namun pada 1951, sejak

dihapuskannya pajak tanah, mereka hanya mempunyai hak dan tidak mempunyai kewajiban.21

Konsep Kerajaan Jawa Tradisional sebelum tahun 1918 hanya mengakui satu pusat alam raya, yaitu sultan. Sultan adalah raja dan pemilik segala sesuatu yang ada dalam kerajaan, termasuk semua tanah dan air.22 Konsep ini tidak mengakui adanya bangsa di dalam kerajaan dan tidak merangkum rakyat sebagai suatu kolektivitas. Berbeda dengan sistem demokrasi, kerajaan Jawa mempunyai pemerintahan dari sultan, oleh sultan dan untuk sultan. Pada zaman ini masyarakat pedesaan berada pada situasi penerapan sistem tanah lungguh23 dan penyewaan tanah. Maka mereka tidak memiliki suatu apapun yang menjadi haknya. Semua yang hidup di luar istana adalah abdi sultan, atau yang biasa disebut kawulo dalem.

Sebagai kawulo dalem, ada kewajiban yang harus dipenuhi sebagai wujud tanda bakti kepada raja. Kewajiban tersebut diberikan dengan mempersembahkan barang-barang hasil panen dan pajak. Kewajiban lain ialah menyediakan tenaganya apabila sewaktu-waktu penguasa memerlukan tenaga kerja, misalnya untuk memperbaiki rumah atau untuk membersihkan rumah dan pekarangan.

Sebagai petugas lapangan para pemegang tanah lungguh akan mengutus bekel.24 Tugas sebagai seorang bekel ialah mengawasi jalannya pembayaran pajak 21 Ibid, Hlm. 251 22 Ibid, hlm. 251 23

Tanah lungguh adalah tanah jabatan yang diberikan kepada patuh. Lebih sering digunakan pemegang tanah lungguh untuk menyebut patuh

24

dan penyerahan persembahan-persembahan agar berjalan tepat waktu. Sebagai bentuk imbalan dari kewajiban-kewajibannya kawulo dalem diperkenankan menempati sebidang tanah sebagai tempat tinggal. Selain itu pemegang tanah lungguh akan memberikan penawaran kepada kawulo dalem untuk menggarap tanah pemegang tanah lungguh. Apabila seorang kawulo dalem sanggup dan setuju menggarap tanah bagi penguasa, maka kawulo dalem diperkenankan mengambil separuh dari hasil panen untuk diri sendiri dan keluarganya. Itu berarti Kawulo dalem bertindak sebagai petani penggarap bagi para pemegang tanah lungguh. Meski demikian apa yang diterima oleh kaum tani sesungguhnya kurang dari separuh. Hal ini disebabkan para petugas yang menjadi perantara bekel dengan pemegang tanah lungguh, dan seringkali bekel sendiri, turut mengambil bagian hasil panen tersebut.

Sebagai imbalan untuk bakti bekel kepada pemegang tanah lungguh, akan diberi tunjangan bebas pajak 20 persen dari tanah garapan di daerahnya.25 Selain itu bekel mempunyai hak untuk menyuruh para kawulo dalem desa untuk melakukan kerja wajib atas bagian sisa tanah yang 80 persen lagi. Hasil panenan dari bagian tanah yang 80% harus diserahkan kepada patuh/pemegang tanah lungguh sebesar 50%. Kaum tani diperbolehkan mengambil sisanya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sedangkan untuk daerah tanah kering dan tidak ada irigasi, diberlakukan hanya sepertiga dari panenan yang harus diserahkan. Hal ini disebabkan petani harus menggunakan lebih banyak tenaga untuk mengerjakan

25

tanamannya. Selain itu, buah-buahan dari pohon-pohon di halaman rumah kaum tani harus diserahkan sepertiganya menurut pilihan bekel.

Dua atau tiga kali dalam setahun, setiap bekel harus menghadap pemegang tanah lungguh. Mereka diwajibkan membawa pajak dan persembahannya. Para bekel ini biasanya juga membawa beberapa kawulo dalem / pegawai dengan biayanya sendiri sebagai bentuk penghormatan kepada pemegang tanah lungguh. Kawulo dalem tersebut harus tinggal selama beberapa hari di rumah pemegang tanah lungguh dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Tugas yang diberikan biasanya membetulkan atau membersihkan tempat kediaman mereka yang besar atau untuk bekerja di istana sultan.

Sistem pemberian kewajiban berupa persembahan-persembahan tersebut berubah beberapa waktu sebelum Mataram terbagi menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Kaum tani diperkenankan memilih antara memberikan persembahan dalam bentuk barang atau memberikannya dalam bentuk uang. Apabila dalam bentuk uang, jumlahnya ditentukan oleh pemegang tanah lungguh. Karena harga pasaran yang cenderung berubah-ubah kawulo dalem cenderung lebih memilih menyerahkan persembahannya dalam bentuk barang. Pemegang tanah lungguh juga lebih menyukai cara ini. Hal ini disebabkan barang langsung dapat digunakan dalam rumah tangga, sedangkan uang tunai akan lebih cepat habis terpakai. Selain persembahan tetap, petani harus memenuhi permintaan-permintaan bahan makanan ekstra dari sultan atau pemegang tanah lungguh yang digarapnya terutama saat akan menyelenggarakan pesta-pesta perkawinan atau pesta yang lain.

Di daerah-daerah pedesaan, bagi mereka yang tidak sanggup atau tidak bersedia memenuhi semua kewajiban tersebut. Mereka tidak akan diberi izin untuk menggarap tanah. Bekel yang bertanggungjawab atas persembahan dalam bentuk barang atau uang, atau dalam bentuk tenaga kepada pemegang tanah lungguh, mempunyai kekuasaan untuk mengusir kawulo dalem dari tanah itu kapan saja tanpa ganti rugi jika kewajiban tidak dipenuhi.

Kewajiban memberikan persembahan menjadi beban tersendiri untuk kawulo dalem karena imbalan yang diberikan sangat kecil. Maka setiap tanah yang diberikan kepada petani disebut sanggan, yang secara harfiah berarti

“beban”. Meski demikian, mereka tetap menggarap tanah dan tinggal di pedesaan karena tidak ada jalan lain untuk mencari nafkah. Hal ini bukanlah penderitaan-penderitaan terburuk yang harus petani tanggung sampai saat itu. Perusahaan-perusahaan Belanda yang kapitalistis mulai memasuki daerah pedesaan, mereka menyewa tanah lungguh tersebut dengan segala hak dan privilese para pemegang tanah lungguh maka petani memiliki beban yang semakin besar dan semakin tertekan.

Seiring dengan dihapuskannya sistem tanam paksa26 Pada penghujung abad ini, pemerintah Yogyakarta memutuskan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan penduduk Pribumi di pedesaan. Pada tahun 1912, program

26

Sistem tanam paksa terdapat dalam undang-undang tahun 1834 no.22, terbitan resmi Hindia Belanda. Petani di Jawa dipaksa untuk menyerahkan seperlima dari tanahnya dan menggarapnya untuk menanam tanam-tanaman komersil untuk pemerintah, yaitu teh, merica, tembakau, gula, dan kopi. Pelaksanaan sistem tanam paksa secara ketat ini merupakan bencana bagi kaum tani. Sistem tersebut berangsur-angsur dihapuskan, tapi proses penghapusannya berlangsung hampir empat puluh tahun lamanya, yaitu dari 1865 hingga 1915

landreform telah diterima atas dasar petani tidak boleh hanya dibebani dengan berbagai kewajiban, tetapi mereka juga harus diberi hak-hak. Gagasan ini mulai diwujudkan pada tahun 1918, yaitu ketika setiap petani diberi hak-hak perorangan yang bisa diwarisi untuk menggunakan tanah garapannya di saat perubahan itu. Istilah perorangan sangat esensial dan merupakan kebalikan dari hak-hak komunal atas tanah. Sebelumnya, Belanda telah memaksakan hak komunal atas masyarakat pedesaan di luar Yogyakarta. Mereka melakukan ini untuk memudahkan prosedur sewa tanah dari penduduk untuk perusahaan-perusahaan pertanian Belanda. Karena hak-hak perorangan ini, kaum tani Yogyakarta mendapatkan jaminan untuk menggunakan bidang tanah seumur hidupnya. Keturunan-keturunannya mendapatkan jaminan ekonomi dari hak-hak ini karena dapat diwariskan. Dengan semua jaminan ini, kaum tani akan dirangsang untuk bekerja lebih keras, untuk memperbaiki kualitas tanah serta teknik-teknik pertaniannya.

Pada masa ini petani telah diperkenalkan dengan sistem alokasi pemilikan tanah secara bergiliran. Sistem ini diperkenalkan oleh perusahaan-perusahaan pertanian Belanda yang telah menyewa tanah dari para pemegang tanah lungguh. Setiap pemilik tanah diharuskan menggunakan dua bidang tanah yang ukuran dan mutunya sama. Satu ditandai A dan yang lain ditandai B di kantor pemerintahan desa bagian pendaftaran tanah-tanah merah dan tanah biru. Sesudah perubahan hukum tanah, Belanda tak perlu lagi berhubungan dengan para pemegang tanah lungguh. Akan tetapi, mereka langsung berhubungan dengan pemerintahan sultan dalam menentukan sistem bergiliran untuk tanaman gula dan tembakaunya. Pemerintah memutuskan untuk membiarkan perkebunan-perkebunan dan kaum

tani untuk menggunakan separuh tanah kembar yang digarap secara bergantian. Perkebunan-perkebunan itu diperkenankan menggunakan tanah-tanah A selama tahun-tahun genap dan tanah-tanah B selama tahun-tahun ganjil. Oleh karena itu petani selalu mendapatkan setengah. Untuk penggunaan tanah tersebut perkebunan diharuskan membayar sewa tanah kepada pemerintahan sultan.

Sementara kaum tani diberi hak untuk menggunakan tanah, hak pemilikan diberikan kepada desa sebagai suatu badan hukum pemerintah. Di saat berlangsungnya perubahan hukum tanah, majelis-majelispun didirikan. Para pemilik tanah diberi hak untuk memilih calon-calon majelis untuk jabatan lurah beserta para pembantunya, yang kemudian diangkat oleh bupati. Suatu majelis desa yang beranggotakan para pemilik tanah dibentuk dan diberi hak untuk membicarakan serta memutuskan masalah-masalah desa. Arti penting dari hak-hak pemilikan tanah oleh desa adalah bahwa pemilik tidak boleh memindahtangankan hak-hak mereka tanpa persetujuan resmi majelis desa. Majelis desa biasanya membatasi yuridikasi atas beberapa prinsip-prinsip pemilikan tanah atau membatasi ukuran tanah garapan masing-masing. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pembagian tanah secara tidak merata yang menguntungkan orang kaya. Mereka memberikan prioritas kepada masyarakat desa dalam pembelian hak untuk menggarap tanah. Hal tersebut akan menjamin bahwa pewaris dari hak hak memiliki tanah tidak boleh menolak untuk melepaskan hak pemilikan tanah.

Perubahan hukum tanah membawa banyak perubahan penting dalam organisasi sosial penduduk pedesaan. Pada masa tanah dikuasai oleh para patuh,

kawulo daelm tidak mempunyai perasaan terikat pada tanah karena mereka tidak diberi hak memiliki tanah tetapi hanya sebagai peminjam / hak anggaduh. Mereka bisa tinggal selama sanggup melaksanakan tugas-tugas sebagai kewajiban. Mereka sadar bisa diusir setiap saat oleh bekel. Oleh karena itu perpidahan penduduk di daerah-daerah pedesaan cukup tinggi. Alasan satu-satunya yang menyebabkan seorang petani bersedia tinggal lebih lama pada suatu desa adalah jika hubungannya dengan bekel cukup baik, tetapi kalau bekel yang bersangkutan diganti (umumnya oleh puteranya yang tertua) petani harus kembali berusaha membina hubungan baik dengan bekel yang baru, jika ia tak ingin diusir dari tanahnya. Bekel memiliki hubungan secara pribadi dengan petani di daerahnya. Apa yang diputuskan mengenai nasib seorang petani tidak ada sangkut pautnya dengan petani-petani lain. Petani tak bisa membela diri dari perlakuan sewenang-wenang bekelnya. Hal ini disebabkan karena para petani tak mempunyai hak untuk membela dirinya sendiri. Lebih lanjut dia tidak bisa meminta bantuan masyarakat karena tak ada masyarakat yang diakui secara hukum dalam tata hubungan dengan bekel.

Sesudah tahun 1918, hak-hak perorangan dan hak waris dikaitkan dengan tanah. Hal ini mengakibatkan adanya jalinan yang erat antara petani dengan tanah-tanahnya. Tanah menjadi sumber hidup tetap bagi petani, keluarga dan ahli warisnya. Maka tak seorang pun, bahkan lurah yang dipilih oleh para pemilik tanah, bisa memisahkannya secara paksa dari sumber ini. Lurah tidak mempunyai kekuasaan seperti bekel pada masa dulu. Oleh karena itu kalau terjadi perlakuan

yang sewenang-wenang atas dirinya, seorang petani dapat mengadu kepada majelis desa untuk mendapatkan keadilan.

Dilihat dari tujuan pemerintahan dan tujuan sosial, perubahan hukum tanah dapat dinilai berhasil. Perubahan hukum tanah ini dapat menciptakan suatu satuan pemerintahan yang dapat diandalkan pada tingkat bawah yang dapat memberikan keamanan dan stabilitas bagi warga. Akan tetapi, dalam segi pembangunan ekonomi belum memberikan dampak yang berarti. Alasan yang dapat dikemukakan ialah bahwa di banyak desa, luas tanah milik sangat terbatas, maka perluasan usaha tani juga menjadi sangat terbatas. Tekanan-tekanan masyarakat agar ada keserbasamaan dikalangan warganya semakin bertambah kuat dan sangat mengurangi prakarsa perorangan, sedangkan teknik pertanian tetap saja sama dengan masa silam.

Pada masa ini, masyarakat desa melakukan pembatasan terhadap luas maksimum pemilikan tanah. Hal ini merupakan cara yang efektif untuk pemerataan pembagian tanah di kalangan kaum tani. Akan tetapi, tidak ada penetapan yang jelas berapa jumlah batas minimum pemilikan tanah untuk mencegah pemecahan menjadi bidang-bidang tanah yang terlalu kecil. Ketika diadakan perubahan hukum tanah tidak ada angka-angka pasti tentang luas pemilikan tanah rata-rata. Tetapi banyak orangtua di desa membenarkan bahwa jumlahnya pasti sekitar ¾ hektar sawah di Bantul dan Sleman, sekitar tiga hektar tegalan atau tanah kering di daerah Gunung Kidul dan kurang sedikit dari jumlah itu di Kulon Progo.27

27

Tiga perempat hektar sawah bukan luas maksimal yang bisa digarap oleh seorang petani sehat beserta keluarganya. Mereka terdiri dari empat atau lima orang, di samping seekor sapi atau kerbau untuk membajak sawah. Luas optimum seharusnya adalah dua hektar. Meskipun demikian dalam situasi yang normal, luas tanah tiga perempat hektar dapat mencukupi pemilik tanah beserta keluarganya tanpa harus melakukan pekerjaan lain di luar bertani.

Pada generasi berikutnya, keadaan semakin memburuk. Tanah-tanah milik harus dibagi-bagi anatara ahli waris atau sebagian dijual. Menurut statistik resmi tahun 1930 dan 1958 menunjukkan jumlah rata-rata anggota keluarga 4,5 dalam keluarga pedesaan. Hal ini berarti dalam tiap pewarisan, tanah harus dibagi antara 2,5 ahli waris. Dengan demikian bisa dihitung para pemilik kemudian mempunyai 4/25 bagian dari tanah milik pewaris yang semula. Untuk daerah Bantul sekitar 1/8 hektar.28

Pemilikan tanah di zaman Belanda dan Jepang mengharuskan pembayaran pajak kepala, serta dikenakan wajib kerja, di samping kewajiban membayar pajak tanah. Pajak tanah tak bisa dihindarkan sebab penarikannya didasarkan pada tanah yang ada, siapa yang akan membayar pajak itu tidak menjadi persoalan. Meski demikian pajak kepala dan wajib kerja diminta dari seorang yang secara resmi terdaftar sebagai pemilik tanah. Di sinilah tugas para petani kecil untuk melakukan wajib kerja, karena kebanyakan rakyat petani tidak memperoleh bagian tanah dan hanya menjadi kuli untuk orang yang bertanah.

28

Pada zaman Jepang, kehidupan para petani semakin berat. Selain harus melakukan kerja paksa (romusha), petani diharuskan menyerahkan sebagian dari sawahnya untuk kepentingan tanaman perkebunan yang telah dikuasai oleh Pemerintah Jepang. Sebagian sawah yang lain oleh petani ditanami padi. Hasil dari tanaman padi tersebut juga harus dibagi lagi kepada pemerintah Jepang.

Situasi kemerdekaan memang diharapkan membawa perubahan kepada para petani. Pada tahun 1946 Pemerintah menghapuskan pajak kepala, dan mengganti pajak tanah dengan pajak pendapatan pada tahun 1951, serta digantinya hak memakai menjadi hak untuk memiliki tanah pada 1956, dan akhirnya berkurangnya jumlah tugas-tugas yang diwajibkan kepada pemilik tanah. Penggambaran mengenai perjalanan penguasaan tanah sangat penting, terutama untuk melihat posisi petani dalam kepemilikan tanah.

46

BAB III

BAGI HASIL TRADISIONAL DI YOGYAKARTA SEBELUM