• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

4. Bagi Institusi Perguruan Tinggi

Penelitian ini dapat digunakan oleh pihak institusi perguruan tinggi sebagai referensi untuk menyusun program guna membantu mahasiswanya dalam proses penyesuaian diri di perguruan tinggi.

11 BAB II

LANDASAN TEORI

A. PENYESUAIAN DIRI DI PERGURUAN TINGGI

1. Pengertian Penyesuaian Diri di Perguruan Tinggi

Penyesuaian diri (adjustment) pada dasarnya merupakan istilah psikologis yang berkembang dari konsep adaptasi secara biologis (Lazarus, 1961). Lazarus (1961) mulai mengembangkan konsep penyesuaian diri sebagai usaha pertahanan diri yang lebih menekankan pada proses-proses psikologis individu untuk menanggapi tekanan eksternal maupun internal pada dirinya. Secara lebih rinci, Schneiders (1960) menjelaskan penyesuaian diri sebagai rangkaian respon mental dan tingkah laku yang dilakukan individu untuk menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan di mana ia tinggal. Lalu, Sawrey dan Telford (1971) menekankan bahwa penyesuaian diri merupakan bentuk interaksi antara individu dengan lingkungannya secara terus-menerus dengan melibatkan proses kognisi, emosi, dan perilakunya yang saling terkait satu sama lain.

Santrock (2006) berpendapat bahwa penyesuaian diri merupakan respon psikologis terkait adaptasi, koping, dan pengelolaan tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Eschun (2006) berpendapat bahwa penyesuaian diri adalah respon individu terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, serta membantu individu dalam

mengatasi tuntutan-tuntutan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula Dunn, Hammer dan Weiten (2015) menyebutkan penyesuaian diri sebagai proses psikologis mengenai bagaimana individu mengelola atau mengatasi tuntutan dan tantangan pada kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut, dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan respon individu berupa usaha yang dilakukan secara terus menerus untuk menyelaraskan dorongan dalam dirinya dengan tekanan dari lingkungan dan melibatkan sistem kognisi, emosi serta perilaku.

Dalam pengembangannya, Baker et al. (1985) menjelaskan penyesuaian diri di konteks perguruan tinggi, khususnya terjadi pada mahasiswa, yaitu merupakan respon psikologis yang melibatkan tuntutan-tuntutan dengan jenis dan tingkatan yang berbeda, serta membutuhkan keterampilan coping. Pengembangan konsep penyesuaian diri di perguruan tinggi oleh Baker, McNeil dan Siryk inilah yang menjadi dasar acuan penelitian-penelitian terkait hingga saat ini. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri di perguruan tinggi adalah sebuah respon mahasiswa untuk menyelaraskan dorongan dirinya dengan lingkungan dalam menghadapi tekanan dan tuntutan yang terjadi di perguruan tinggi.

2. Dimensi Penyesuaian Diri di Perguruan Tinggi

Dalam konteks penyesuaian diri di perguruan tinggi, Baker dan Siryk (1986) menyebutkan bahwa terdapat empat dimensi penyesuaian diri di perguruan tinggi (college adjustment) berdasarkan penelitian yang dilakukannya, yaitu:

2.1.Penyesuaian Akademik (Academic Adjustment)

Penyesuaian akademik adalah kemampuan mahasiswa dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan akademis dalam perkuliahan dan mencapai tingkat kepuasan pada prestasi akademisnya. Dimensi ini tercermin dari motivasi (sikap terhadap tujuan akademis, motivasi untuk mencapai tujuan akademis dan berkuliah), aplikasi (seberapa jauh motivasi diubah menjadi usaha untuk mencapai tujuan akademis), performa (keberhasilan dan keefektifaan dalam mencapai tujuan akademis), dan lingkungan akademis (kepuasan terhadap prestasi akademis). Individu dengan penyesuaian diri yang baik di perguruan tinggi mampu mengaplikasikan motivasi akademik, memiliki performansi akademik yang baik, dan mampu mengatasi tuntutan akademik.

2.2.Penyesuaian Sosial (Social Adjustment)

Penyesuaian sosial adalah kemampuan mahasiswa untuk berintegrasi dengan struktur sosial di lingkungan kampus. Dimensi ini meliputi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan di lingkungan kampus secara umum, keterlibatan mahasiswa dengan orang lain seperti

menjalin pertemanan baru, dan kepuasan terhadap lingkungan kampus. Individu dengan penyesuaian diri yang baik di perguruan tinggi terlibat aktif dalam kegiatan yang ada di perguruan tinggi, mampu menjalin hubungan dengan orang lain dalam lingkup perguruan tinggi dan mampu mengatasi perubahan lingkungan sosial.

2.3.Penyesuaian Personal-Emosional (Personal-Emotional Adjustment) Penyesuaian personal-emosional adalah kemampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri terhadap masalah emosional seperti stress dan kecemasan, serta masalah fisik seperti kesulitan tidur yang dihadapi mahasiswa. Dimensi ini meliputi kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan kesejahteraan fisik (physical well-being). Individu dengan penyesuaian diri yang baik di perguruan tinggi menunjukkan bahwa dirinya dapat mengontrol emosi dengan baik, memiliki persepsi positif terhadap tuntutan di perguruan tinggi dan memiliki kondisi fisik yang baik.

2.4.Kelekatan terhadap Institusi / Komitmen (Institutional Adjustment) Kelekatan terhadap institusi atau komitmen adalah kemampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan membangun kelekatan antar dirinya dengan kampus dan kegiatan perkuliahan yang dijalani, yang kemudian berpengaruh terhadap keputusan mahasiswa untuk melanjutkan perkuliahan. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik di perguruan tinggi cenderung merasa puas terhadap fakultas tempat dirinya berkuliah, puas terhadap universitas tempat dirinya

berkuliah, dan puas terhadap keberadaannya di perguruan tinggi secara umum.

Walaupun penyesuaian diri di perguruan tinggi yang dikemukakan oleh Baker dan Siryk (1986) memiliki empat dimensi, akan tetapi dalam penelitian ini penyesuaian diri di perguruan tinggi diperlakukan sebagai satu komponen tunggal dengan alasan individu dikatakan berhasil melakukan penyesuaian diri di perguruan tinggi apabila telah memenuhi keempat dimensi tersebut dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Alasan serupa juga dikemukakan oleh beberapa peneliti sebelumnya yang mengukur penyesuaian diri di perguruan tinggi sebagai sebuah komponen yang menyeluruh (Beyers & Goossens, 2003; Caplan et al., 2002; Choi, 2002; Marmarosh & Markin, 2007; Ramos-Sanchez & Nichols, 2007, 2007).

Tuntutan yang dihadapi mahasiswa tahun pertama di perguruan tinggi tidak hanya berupa tuntutan akademik saja melainkan juga tuntutan sosial. Oleh karena itu, penyesuaian diri di perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan antara penyesuaian akademik dan penyesuaian sosial. Di sisi lain, hanya dengan berhasil dalam akademik dan sosial tidak dapat menunjukkan bahwa individu telah melakukan penyesuaian diri di perguruan tinggi dengan baik apabila penyesuaian personal-emosionalnya sendiri masih buruk. Kemudian, dimensi komitmen dan kelekatan terhadap institusi tentunya tidak dapat semata-mata menunjukkan penyesuaian diri

di perguruan tinggi yang baik apabila pada dimensi lain individu menunjukkan indikasi yang berkebalikan.

3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Penyesuaian Diri di Perguruan Tinggi

Dalam lingkup perguruan tinggi, ditemukan faktor-faktor yang memengaruhi penyesuaian diri di perguruan tinggi, yaitu:

3.1.Persepsi dukungan sosial

Dukungan sosial merupakan sumber daya yang dimiliki individu untuk melakukan penyesuaian diri. Persepsi individu mengenai lingkungan sosial yang mendukung mengurangi ketegangan yang dialami individu dan memudahkan dirinya melakukan proses transisi di lingkungan yang baru (Credé & Niehorster, 2012; Friedlander et al., 2007).

3.2.Persepsi hubungan dengan orang tua

Kelekatan antara anak dengan orangtua dan pola asuh orangtua berpengaruh dalam proses penyesuaian diri karena berkaitan dengan ketergantungan hubungan mahasiswa dengan orangtuanya (Beyers & Goossens, 2003; Credé & Niehorster, 2012; Mattanah, Hancock, & Brand, 2004; Orrego & Rodriguez, 2001). Mahasiswa dengan tipe kelekatan tak aman, khususnya kelekatan kecemasan dapat menyebabkan dirinya mengalami ketakutan pada penolakan, kurangnya keterampilan sosial, dan isolasi. Keadaan ini berdampak

pada penyesuaian diri di perguruan tinggi seperti merasa kesepian, depresi, dan dapat mengakibatkan distress (Marmarosh & Markin, 2007). Pola asuh autoritatif mempermudah mahasiswa melalui masa transisi ke dalam lingkungan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan keluarga yang hangat, emosional, peduli, serta memiliki komunikasi yang terbuka membuat individu mencapai penguasaan (prestasi) yang lebih besar dan regulasi diri yang baik (Hickman et al., 2000).

3.3.Data demografi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa data demografis terkait posisi etnis tertentu dalam masyarakat (minoritas atau mayoritas), status generasi mahasiswa (terkait perbedaan informasi yang dimiliki antara mahasiswa generasi pertama berkuliah dalam keluarganya dengan mahasiswa generasi lanjutan yang memiliki pengalaman keluarga berkuliah), dan status ekonomi sosial memiliki pengaruh terhadap proses penyesuian dirinya (Credé & Niehorster, 2012; Friedlander et al., 2007; Hertel, 2010; Schneider & Ward, 2003). Mahasiswa yang beretnis minoritas di masyarakat, cenderung memerlukan usaha yang lebih untuk dapat menyesuaikan diri di perguruan tinggi atau akan mengalami kesulitan dalam penyesuaiannya. Status mahasiswa dengan keluarga yang sudah pernah berkuliah sebelumnya cenderung memiliki informasi yang lebih banyak mengenai kehidupan perkuliahan sehingga dapat mempersiapkan diri dan tidak terlalu mengalami kesulitan dalam

menyesuaikan diri di perguruan tinggi. Kemudian, penelitian juga menemukan bahwa mahasiswa dengan status ekonomi sosial yang tinggi cenderung lebih mudah untuk menyesuaikan diri di perguruan tinggi dibandingkan mahasiswa dengan status ekonomi sosial yang rendah.

3.4.Kecerdasan emosi

Kecerdasan emosi merupakan tipe kecerdasan yang meliputi kemampuan untuk memproses informasi emosional dan menggunakannya dalam penalaran dan aktivitas kognitif lainnya (VandenBos, 2007). Dalam menyesuaikan diri, individu melibatkan keterampilan untuk mengelola perubahan. Keterampilan mengelola perubahan itu sendiri melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi potensi masalah serta menggunakan strategi koping yang realistis dan fleksibel. Dimensi pengelolaan stres melibatkan kemampuan untuk mengelola situasi yang penuh tekanan dengan cara yang tenang dan proaktif. Individu dengan kemampuan pengelolaan stres yang baik cenderung tidak impulsif dan dapat bekerja dengan baik di bawah tekanan sehingga mendukung proses penyesuaian dirinya termasuk dalam konteks perguruan tinggi (Parker et al., 2004).

3.5.Karakter kepribadian (trait)

Trait merupakan dimensi kepribaian yang memengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku individu dengan cara tertentu. Karakter seperti ekstraversi, keramahan, keterbukaan dan kestabilan emosi dapat

membuat individu lebih cepat menjalin pertemanan baru dan lebih siap mempelajari lingkungan barunya sehingga mendukung proses penyesuaian diri di perguruan tinggi (Aspinwall & Taylor, 1992; Credé & Niehorster, 2012; Schnuck et al., 2011). Individu dengan perfeksionisme maladaptif memiliki kecenderungan stres yang lebih tinggi, memiliki pandangan yang kaku atau tidak fleksibel terhadap diri sendiri, dan orang lain. selain itu juga kurang memiliki solusi yang efektif dalam memahami dan mengatasi masalahnya sehingga mengakibatkan individu ini sulit menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya (Rice et al., 2006).

3.6.Evaluasi-diri inti (core self-evaluation)

Faktor yang mencakup harga diri, efikasi diri, locus of control,

ini berpengaruh pada penyesuaian diri di perguruan tinggi karena menentukan cara yang dilakukan individu untuk menghadapi permasalahan dari tekanan lingkungan pada dirinya, serta cara individu mempersepsikan dan memaknai lingkungan barunya dalam perguruan tinggi. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat kepercayaan diri dan optimisme sehingga lebih mudah untuk membentuk hubungan sosial baru (Credé & Niehorster, 2012).

Menurut Friedlander et al. (2007), individu dengan penilaian diri yang baik cenderung memiliki strategi yang lebih efektif untuk menghadapi tuntutan akademik dan sosial yang melekat di lingkungan perguruan tinggi. Locus of control merupakan cara pandang, berkaitan

dengan kesadaran bahwa dirinya memiliki kendali dalam perilakunya, responnya terhadap lingkungan. Dengan demikian, orang yang merasa punya kendali akan mengarahkan dirinya dalam merespon tekanan sehingga melakukan penyesuaian diri, sedangkan yang merasa tidak punya kendali akan mengikuti arus tekanan dari lingkungan. Oleh karena itu, locus of control internal berdampak pada kesuksesan individu untuk menyesuaiakan diri pada keempat dimensi penyesuaian diri di perguruan tinggi (Aspelmeier et al., 2012).

B. LOCUS OF CONTROL INTERNAL 1. Konsep Locus of Control

Locus of Control dikembangkan oleh Rotter (1966) yang mendefinisikannya sebagai keyakinan individu akan sumber kontrol atau penguatan dalam hidupnya, apakah kontrol dan penguatan tersebut bergantung pada perilaku dirinya sendiri (internal) atau bergantung pada kekuatan dari luar dirinya (ekstenal). Ahli lain seperti Lefcourt (1991) juga berpendapat serupa bahwa locus of control merupakan keyakinan individu mengenai sumber penyebab dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam hidupnya. Individu dapat meyakini bahwa dirinya mampu mengontrol hidupnya, atau meyakini bahwa orang lain atau lingkungannya lah yang justru mengatur. Locus of control digambarkan sebagai suatu konsep yang mencerminkan sejauh mana orang percaya bahwa apa yang terjadi kepada

mereka adalah dalam kendali mereka atau di luar kendali mereka dengan dua sisi yang berlawanan (April, Dharani, & Peters, 2012).

Duffy dan Atwater (2005) mengemukakan definisi locus of control

sebagai sumber keyakinan yang dimiliki oleh individu dalam mengendalikan peristiwa yang terjadi baik itu dari diri sendiri ataupun dari luar dirinya. Senada dengan hal itu, Robbins et al., (2008) mendefinisikan locus of control sebagai tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Semakin individu yakin bahwa dirinya merupakan penentu nasib mereka sendiri, maka

locus of control mereka dikatakan semakin internal.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa locus of control merupakan suatu konsep yang menunjukkan keyakinan individu mengenai letak kendali atau kontrol akan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Locus of control terdiri dari dua jenis yang menunjukkan orientasi keyakinan individu, yaitu locus of control internal dan locus of control eksternal. Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan secara spesifik adalah locus of control internal.

2. Pengertian Locus of Control Internal

Rotter (1966) menekankan locus of control internal sebagai keyakinan seseorang bahwa penguatan atau hasil dari perilakunya bergantung pada karakteristik pribadi dan dapat dipengaruhi oleh penyesuaian perilaku mereka sendiri misalnya meningkatkan tingkat keinginan untuk berusaha.

Selain Rotter, ahli lain seperti Lefcourt (1991) melihat locus of control

internal sebagai keyakinan individu bahwa hasil interaksi antara individu dengan peristiwa yang terjadi bergantung dari tingkah lakunya sehingga dapat dikontrol.

Kreitner & Kinicki (2009) berpendapat bahwa individu yang memiliki kecenderungan locus of control internal adalah individu yang memiliki keyakinan untuk dapat mengendalikan segala peristiwa konsekuensi yang memberikan dampak pada hidup mereka. Individu dengan internal locus of control akan menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya dengan faktor yang ada dalam dirinya sendiri karena diyakini bahwa hasil dari perilakunya disebabkan oleh faktor kemampuan, minat dan usaha (Phares, 1976).

Sarafino (2011) berpendapat bahwa locus of control internal adalah keyakinan individu bahwa kesuksesan dan kegagalan yang terjadi pada dirinya bergantung pada dirinya sendiri. Dari penjelasan para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa locus of control internal merupakan keyakinan individu bahwa konsekuensi dari interaksi antara individu dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya bergantung pada faktor dalam dirinya sendiri seperti tingkah laku, kemampuan, minat dan usaha yang dimilikinya.

3. Karakteristik Locus of Control Internal

Menurut Sarafino (2011), karakteristik individu yang mempunyai

locus of control internal adalah sebagai berikut: 3.1.Ekspektansi

Individu memiliki keyakinan bahwa perilaku yang dilakukannya akan menghasilkan konsekuensi tertentu. Individu tersebut meyakini bahwa konsekuensi positif akan diperoleh pada situasi tertentu sebagai imbalan atas tingkah lakunya.

3.2.Kontrol

Individu meyakini bahwa peristiwa hidupnya adalah hasil dari kontrol personal sehingga individu tersebut akan melakukan usaha untuk mengarahkan dirinya mencapai suatu tujuan atau hasil tertentu. 3.3.Mandiri

Individu percaya pada kemampuan dan ketrampilannya sendiri dalam usahanya untuk mencapai suatu tujuan atau hasil tertentu. 3.4.Bertanggung jawab

Individu merasa bertanggung jawab akan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sebagai akibat dari faktor internal sehinggga memiliki kesediaan untuk menerima segala sesuatu sebagai akibat dari sikap atau tingkah lakunya sendiri, serta berusaha memperbaiki sikap atau tingkah lakunya agar mencapai hasil yang lebih baik lagi.

4. Dampak Locus of Control Internal pada Individu

Perbedaan orientasi locus of control pada setiap individu dapat berdampak pada sikap dan perilaku individu, bahkan berpengaruh pada efisiensi dan efektivitasnya (Findley & Cooper, 1983). Phares (1978) menunjukkan bahwa locus of control internal membawa dampak pada individu, yaitu:

4.1.Sikap terhadap lingkungan

Orang-orang dengan locus of control internal akan menganalisa situasi dengan lebih terarah dan waspada dibandingkan dengan orang dengan locus of control eksternal. Mereka lebih aktif mencari, menggunakan dan mengelola informasi yang relevan dalam rangka memanipulasi dan mengendalikan lingkungan.

4.2.Konformitas dan perubahan sikap

Individu dengan locus of control internal lebih mampu bertahan terhadap pengaruh dan tekanan dari lingkungan. Hal ini menunjukkan konformitas yang cenderung lebih rendah dibandingkan individu dengan locus of control eksternal karena perubahan sikap individu dengan locus of control internal bergantung pada keinginan dan kendalinya sendiri.

4.3.Perilaku menolong dan atribusi tanggung jawab

Phares menyebutkan bahwa individu dengan locus of control

internal lebih sering menunjukkan perilaku menolong daripada individu dengan eksternal locus of control. Individu dengan locus of control internal cenderung mengatribusikan tanggung jawab pada dirinya sendiri. Artinya, individu tersebut merasa bertanggung jawab akan hal yang terjadi pada dirinya sehingga sering menunjukkan keinginan untuk memperbaiki perilakunya.

Kleinke (1978) menambahkan dampak locus of control internal pada individu dalam hal:

4.4.Pencapaian prestasi

Menurut Kleinke, tingginya prestasi yang dicapai oleh orang-orang dengan locus of control internal merupakan hasil dari kemampuannya untuk menunda menikmati penghargaan atas hasil-hasil usahanya serta mengurangi reaksi negatif yang cenderung muncul pada saat dirinya mengalami kegagalan.

4.5.Penyesuaian diri

Orang-orang dengan internal locus of control akan lebih mampu menyesuaikan diri daripada orang-orang dengan eksternal locus of control karena mereka lebih mampu mengandalkan diri sendiri, aktif dan memiliki kecenderungan berjuang yang tinggi, dimana hal ini membawanya pada keberhasilan dalam penyesuaian diri. Dalam usaha menyesuaikan diri, individu melakukan coping (Lazarus & Folkman,

1984). Orang-orang dengan locus of control internal cenderung lebih mampu melakukan coping secara lebih adaptif terhadap stress sehingga dapat dikatakan melakukan penyesuaian diri dengan baik.

C. MAHASISWA TAHUN PERTAMA

Mahasiswa merupakan pelajar yang menimba ilmu pengetahuan tinggi, dimana pada tingkat ini mereka dianggap memiliki kematangan fisik dan perkembangan pemikiran luas, sehingga dengan nilai lebih tersebut mereka dapat memiliki kesadaran untuk menentukan sikap dirinya serta mampu bertanggung jawab terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam wacana ilmiah (Ganda, 1987). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa diartikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi. Senada dengan itu, dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi juga tertulis bahwa mahasiswa merupakan peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan tinggi tertentu. Setiap tahunnya, perguruan tinggi akan menerima peserta didik baru sesuai dengan isi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 73 tentang penerimaan mahasiswa baru. Dengan demikian, setiap peserta didik baru pada perguruan tinggi dapat disebut dengan mahasiswa tahun pertama.

Pada umumnya, mahasiswa tahun pertama pada perguruan tinggi berusia 18 sampai 21 tahun. Usia ini masih termasuk pada tahap perkembangan dewasa awal atau oleh Arnett (2012) disebut dengan istilah

masa dewasa. Pada masa transisi ini individu mengalami banyak perubahan dalam dirinya termasuk dalam bidang pendidikan (Ganda, 1987). Pendidikan di perguruan tinggi pada tahap usia ini merupakan salah satu hal penting untuk menuju kedewasaan (Papalia, Feldman, & Olds, 2007; Santrock, 2006).

Menurut Ganda (1987), mahasiswa bertujuan untuk mencapai dan meraih taraf keilmuan yang matang, menguasai suatu ilmu, serta memiliki wawasan ilmiah yang luas, sehingga mampu bersikap dan bertindak ilmiah dalam segala hal yang berkaitan dengan keilmuannya untuk diabdikan kepada masyarakat dan umat manusia. Mahasiswa juga diharapkan menjadi insan dewasa yang memiliki kesadaran sendiri dalam mengembangkan potensi diri dan secara aktif melakukan pembelajaran, pengembangan serta pengalaman suatu ilmu pengetahuan seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012.

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa tahun pertama merupakan peserta didik dengan rentang usia 18 sampai 21 tahun yang sedang menjalankan tahun pertamanya (semester I dan II) berkuliah di suatu perguruan tinggi.

D. PENELITIAN-PENELITIAN TERKAIT

Penelitian yang dilakukan Findley dan Cooper (1983) mengenai hubungan antara locus of control dengan pencapaian performansi akademik merujuk pada kesimpulan bahwa semakin individu meyakini kemampuan dari dalam dirinya sendiri (internal control) maka ia mampu memperoleh prestasi

akademik yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pengukuran locus of control spesifik dan pengukuran prestasi atau tes intelejensi yang terstandardisir.

Warehime dan Foulds (1971) meneliti tentang persepsi locus of control

dengan penyesuaian personal. Penelitian ini dilakukan pada 110 mahasiswa perguruan tinggi yang terdiri dari 55 mahasiswa perempuan dan 55 mahasiswa laki-laki. Dalam pengukurannya, Warehime dan Founds menggunakan skala Internal-External Control of Reinforcement milik Rotter (I-E) dan sebuah pengukuran penyesuaian personal dengan alat ukur Personal Orientation Inventory (POI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara locus of control internal dengan penyesuaian personal.

Berangkat dari banyaknya penelitian mengenai hubungan antara stress dengan penyakit fisik, Roddenberry dan Renk (2010) melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menguji fenomena psikologis seperti locus of control dan efikasi diri sebagai mediator antara stress dan sakit fisik pada 159 mahasiswa perguruan tinggi. Hasil penelitian yang telah dilakukan tersebut menunjukkan bahwa subjek dengan tingkat stress yang tinggi memiliki kecenderungan yang kuat pada locus of control eksternal karena subjek dengan kecenderungan locus of control eksternal lebih perseptif terhadap stress. Hal ini juga berkorelasi dengan tingkat sakit fisik yang tinggi dan tingkat efikasi diri yang cenderung rendah. Dalam penelitian ini, locus of control secara signifikan terbukti sebagai mediator antara stress dan sakit fisik yang dialami mahasiswa.

Rose, Hall, Bolen, dan Webster (1996) melakukan pengujian untuk mengetahui kemampuan faktor psikologis seperti locus of control, pendekatan belajar mahasiswa, dan kehadiran dalam perkuliahan untuk memprediksi

Dokumen terkait