BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
4. Bagi Peneliti Berikutnya
Dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengembangkan diri dan berlatih sebagai guru profesional dan dapat dijadikan sebagai referensi dalam penyusunan rencana dan melaksanakan pembelajaran menggunakan metode dan model yang sesuai.
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Pengertian Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti yaitu ‘’berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu’’. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Disini usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.7
Belajar merupakan sebuah manifestasi diri untuk dapat mengenal sesuatu yang sedang dibaca dan dipelajari secara lebih mendalam dan serius sehingga ada sesuatu yang substansial yang bisa diperoleh. Dalam kegiatan belajar ada sebuah proses berpikir kritis yang sedang dilakukan dengan serius dan tegas. Belajar mampu menemukan makna baru yang akan didapatkan dengan sedemikian rupa. Belajar tidak semata-mata dilakukan untuk mendapatkan hal yang baru melainkan sebuah kegiatan dinamis dan progresif yang dapat memunculkan cara pikir dan pandang yang berbeda.8
Menurut W.H. Burton yang dikutip oleh Eveline Siregar menjelaskan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya
7
Baharudin, Teori Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta, Arruzz Media, 2015, hlm 15 8
interaksi antara individu dengan individu serta individu dengan lingkungannya sehinggga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sementara Ernest R.Hilgrad yang dikutip oleh Eveline Siregar menjelaskan belajar adalah sebagai suatu proses perubahan kegiatan dan reaksi terhadap lingkungan.9
Dalam pandangan psikologis, ada 3 pandangan dalam belajar. Pertama pandangan yang berasal dari aliran psikologis behavioristik. Pandangan ini menjelaskan bahwa belajar dilaksanakan dengan kontrol instrument dari lingkungan. Kedua, pandangan yang berasal dari aliran psikologi konstruktivis dimana belajar dapat dilakukan sendiri oleh siswa dan mampu menemukan sendiri segala sesuatunya tanpa campur tangan dari guru. Ketiga, pandangan yang berasal dari psikologi kognitif dimana belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan.10
Menurut Gagne yang dikutip oleh Eveline Siregar mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang relatif menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan atau direncanakan. Pengalaman yang diperoleh individu dalam interaksinya dengan lingkungan, baik yang tidak direncanakan maupun yang direncanakan sehingga menghasilkan perubahan yang bersifat relatif menetap. Dari berbagai perspektif tentang pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
9 Eveline Siregar, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2010, hlm 4 10 Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Pustaka Jaya, 1996, hlm 3-4
aktifitas mental yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang relatif konstan. 11
Belajar memiliki tujuan agar manusia mampu memberikan perbedaan dan pembedaan diri terhadap yang lain. Akan ada perbedaan mendasar yang terjadi antara yang belajar dan yang tidak belajar. Manusia yang belajar akan memiliki cara pandang yang jernih, rasional, sekaligus kritis dalam membaca persoalan hidup. Sedangkan manusia yang tidak belajar akan menerima dan beranggapan bahwa kenyataan hidup ini tidak dinamis dan selalu menetap. Belajar menuntun manusia untuk berevolusi ke arah yang lebih baik serta memberikan sebuah makna yang berguna bagi setiap orang dalam menjalani hidup.12
Aspek-aspek yang terkandung dalam belajar antara lain:13 a. Bertambahnya jumlah pengetahuan
b. Adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi c. Ada penerapan pengetahuan
d. Menyimpulkan makna
e. Menafsirkan dan mengaitkanya dengan realitas f. Adanya perubahan sebagai pribadi
Ciri- ciri belajar antara lain :14
a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku tersebut bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun nilai dan sikap (afektif)
b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja, melainkan menetap atau dapat disimpan.
c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. e. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses
belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.
11
Ibid, hlm 4
12
Muh Yamin, op.cit, hlm 13-14 13
Eveline Siregar, op.cit, hlm 5 14 Ibid, hlm 6
f. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.
2. Pendekatan Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sejarah
Konstruktivisme merupakan cabang filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan bersumber dari dalam diri sendiri. Menurut Von Glasersfeld pengetahuan bukanlah wujud dari dunia kenyataan yang ada melainkan terbentuk dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui suatu kegiatan yang telah dilakukan seseorang. Pengetahuan merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksi berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri.15 Prinsip-prinsip yang digunakan dalam konstruktivisme yaitu pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif, tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, mengajar adalah membantu siswa belajar, tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan hasil akhir, dan guru adalah fasilitator. Guru menerapkan paham konstruktivisme untuk menyusun metode mengajar yang lebih menekankan keaktifan siswa ketika belajar sendiri maupun secara berkelompok. Guru harus mampu memberikan kegiatan dan aktivitas siswa yang dapat merangsang murid untuk berpikir dan diberi kebebasan mengungkapkan pemikiran mereka.16
Konstruktivisme dalam belajar merupakan pendekatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun makna terhadap apa yang telah
15
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius 1997, hlm 18.
dipelajarinya dengan membangun hubungan secara internal atau keterkaitan antara ide-ide dengan fakta yang telah diajarkan.17
Konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan itu tidak lagi sesuai. Siswa harus benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan yaitu dengan bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Prinsip yang paling penting dalam hal ini yaitu guru tidak hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajarkan kepada siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.18
Ciri-ciri pembelajaran yang berpaham konstruktivistis diantaranya adalah sebagai berikut :19
a. Memberi peluang kepada pembelajar untuk membina pengetahuan baru melalui keterlibatannya dalam dunia sebenarnya
b. Mendorong ide-ide pembelajar sebagai panduan dalam merancang pengetahuan
c. Mendukung pembelajaran secara kooperatif
d. Mendorong dan menerima usaha dan hasil yang diperoleh pembelajar e. Mendorong pembelajar mau bertanya dan berdialog dengan guru
f. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran
g. Mendorong proses inkuiri pembelajar melalui kajian dan eksperimen
17
Eveline Siregar,op.cit, hlm 163-165
18 Trianto Ibnu Badar Al Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan
Kontekstual, Jakarta, Prenada Media Group, 2014, hlm 29-30
Dalam pembelajaran sejarah pendekatan konstruktivisme memungkinkan peserta didik melakukan dialog kritis dengan subyek pembelajar, menggali informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber untuk melakukan klasifikasi dan prediksi serta menganalisis masalah-masalah sejarah termasuk masalah sosial yang dihadapi. Melalui pendekatan konstruktivis pengalaman masa lalu masyarakat dapat dianalisis dan ditarik hubungannya dengan masalah kontemporer. Peserta didik dapat memanfaatkan pengalaman belajar sebelumnya untuk mengkonstruksi pengalaman yang baru, menguji cobanya dan mengubahnya, serta menarik hubungan antara pengalaman masa lalu dengan kenyataan sosial sehari-hari.20
Ciri-ciri pembelajaran sejarah secara konstruktivis yaitu :21
a. Siswa terlibat secara aktif dalam belajarnya. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengusulkan suatu masalah dan beargumentasi. .
b. Siswa belajar materi sejarah secara bermakna dalam bekerja dan berpikir. Agar siswa dapat memberi makna tentang materi sejarah maka materi harus diangkat dari kehidupan sehari-hari dan dihubungkan dengan fakta sejarah yang terjadi.
c. Melalui pemberian masalah maka diharapkan siswa mampu belajar memahami, menerapkan dan kemudian mampu bersikap terhadap hasil analisis permasalahan.
d. Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga siswa dapat mendapat informasi yang utuh dan komprehensif.
e. Orientasi pembelajaran harus menimbulkan rangsangan pada siswa agar dapat menghubungkan berbagai informasi yang diterima dan mengendap dalam pikirannya.
f. Orientasi pada pemecahan masalah yang dikaji oleh siswa adalah permasalahan masa kini yang harus dicari kausalitasnya dengan masa lalu.
20
Dr Aman, Model Evaluasi Pembelajaran Sejarah, Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2011, hlm 109 21
Y.R Subakti, Paradigma Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme, https:// www.usd.ac.id/ lembaga/ lppm/f 1l3/ Jurnal%20 Historia % 20Vitae/ vol24no 1april2010/ PARADIGMA%20 PEMBELAJARAN%20 SEJARAH%20YR%20Subakti.pdf (diunduh pada hari Selasa, tanggal 11 April 2017 Pukul 14.00 WIB).
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran merupakan suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa. Di dalam model pembelajaran harus menunjukkan dengan jelas urutan berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan guru maupun siswa. Diharapkan dengan penerapan model pembelajaran yang baik dalam kegiatan pembelajaran dapat menciptakan tujuan dan kompetensi dari hasil belajar yang lebih efektif dan efisien.22
Pembelajaran Kooperatif adalah model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami materi pembelajaran. Siswa bekerja secara terarah pada tujuan belajar bersama kelompok kecil yang umumnya tediri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru.23
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif dilakukan secara berkelompok. Siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2-5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Selain itu model
22 Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013, Jakarta, Prestasi Pustaka, 2013, hlm 7
23
Aris Shoimin, 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013,Yogyakarta, Arruzz Media,2014, hlm 45
pembelajaran ini memperhatikan keberagaman anggota kelompok yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil sebagai wadah siswa untuk bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan dalam pengertian penguasaan materi pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. Selain itu model pembelajaran ini lebih mengarah ke pendekatan kontekstual yaitu dengan sistem belajar kelompok. Oleh karena itu pembelajaran ini adalah salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivis.24
Adapun sintaks dalam pembelajaran kooperatif antara lain: 25 a. Guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa.
b. Guru menyajikan informasi pembelajaran melalui buku ataupun sumber yang lain.
c. Guru memberi pengarahan strategi kepada siswa dalam kerja kelompok
d. Guru mendampingi siswa untuk membentuk kelompok dengan struktur anggota yang heterogen.
e. Guru membimbing siswa pada saat bekerja sama untuk menyelesaikan tugas dalam kelompok.
f. Siswa melakukan kegiatan presentasi hasil diskusi kelompok dan pelaporan. Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif dengan pendekatan konstruktivis antara lain:26
a. Mendorong peserta didik untuk mampu membangun pengetahuannya secara bersama-sama dalam kelompok
b. Mendorong menemukan dan mengkonstruksi materi yang sedang dipelajari melalui diskusi, eksperimen dan observasi
24 Saur Tampubolon, Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Pendidik
Keilmuan, Jakarta, Penerbit Erlangga, 2013, hlm 89.
25
Ngalimun, Strategi dan Model Pembelajaran, Yogyakarta, Aswaja Presindo, 2014, hlm 162 26 Saur Tampubolon, op.cit, hlm 92
c. Menafsirkan secara bersama-sama untuk menemukan pengetahuan yang baru. d. Pengetahuan dibentuk bersama dalam kelompok berdasarkan pengalaman
belajar dan interaksinya dengan lingkungan di dalam kelompok belajar. e. Mendorong memunculkan berbagai sudut pandang terhadap materi atau
masalah yang sama untuk dikonstruksi pengetahuannya secara bersama f. Model pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang inovatif.
Menurut Roger dan David Johnson ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut :27
a. Prinsip ketergantungan positif dimana penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing-masing anggota kelompok.
b. Keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing tanggung jawab anggota kelompoknya. Oleh karena itu setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
c. Interaksi tatap muka yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
d. Partisipasi dan komunikasi yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
e. Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Arends yang dikutip oleh Saur Tampubolon tujuan pertama dari pembelajaran kooperatif yaitu meningkatkan hasil akademik dengan meningkatkan kinerja siswa dalam berbagai tugas-tugasnya. Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, ras, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud
27
Dr.Rusman, Belajar dan Pembelajaran Berorientasi pada Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Penerbit Kencana, 2017, hlm 303-304.
antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.28
Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif yaitu :29 a. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
b. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan
c. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial
d. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen
e. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois
f. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa g. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia
h. Meningkatkan kesediaan dalam menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih baik
i. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang kemampuan, jenis kelamin, etnis, kelas sosial, dan agama.
Kekurangan model pembelajaran kooperatif :30
a. Memerlukan periode waktu yang lama untuk menghasilkan kemandirian dan keterampilan peserta didik dalam melakukan kerja berbasis tim.
b. Peserta didik yang kurang mampu dalam belajar akan menjadi penghambat dalam tim karena mereka kurang mampu untuk beradaptasi dengan teman lain.
c. Apabila guru tidak dapat membagi kelompok kooperatif secara heterogen maka hasil pembelajaran tidak akan berimbang antara kelompok satu dengan yang lain.
4. Pengertian Sejarah
Sejarah diadopsi dari bahasa Arab yaitu Syajarah yang berarti pohon kehidupan. Maksud dari hal ini yaitu segala hal mengenai kehidupan memiliki
28 Saur Tampubolon, op.cit , hlm 90.
29 Sugiyanto, Model-Model Pembelajaran Inovatif, Penerbit Yama Pustaka, Surakarta, 2009, hlm 43-44
30
Ali Mudlofir & Evi Fatimatur Rusydiyah, Desain Pembelajaran Inovatif, Jakarta, Penerbit Grafindo Persada, 2016, hlm 90
‘’pohon’’ yakni masa lalu itu sendiri. Sebagai pohon, Sejarah adalah awal dari segalanya yang menjadi realitas masa kini. 31
Sejarah dalam kamus besar Bahasa Indonesia mengandung tiga makna yaitu kesusastraan lama (silsilah, asal usul), kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan ilmu, pengetahuan, cerita, pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau disebut juga dengan riwayat.32
Sejarah merupakan suatu proses perjuangan manusia dalam mencapai gambaran tentang segala aktivitasnya yang disusun secara ilmiah dengan memperhatikan ukuran waktu, tafsiran, dan analisis kritis sehingga mudah dipahami dan dimengerti. Sejarah mampu memberikan gambaran dan tindakan maupun perbuatan manusia dengan segala perubahannya. Selain itu sejarah mampu menjadikan manusia menjadi lebih bijak dalam menentukan keputusan- keputusan dalam kehidupannya. Sejarah bukan semata-mata menjadi suatu gambaran pada masa lampau tetapi juga menjadi cermin di masa mendatang.33
Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan, proses perubahan atau dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau. Masa lampau bersifat terbuka dan berkesinambungan. Dalam Sejarah masa lampau tidak begitu saja dilupakan. Sejarah merupakan keterhubungan dari apa yang terjadi di masa lampau dengan gambaran di masa sekarang dan mencapai
31
Abd.Rahman Hamid, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2011, hlm 3-4 32 Ibid, hlm 5
33
Heri Susanto, Seputar Pembelajaran Sejarah: Isu Gagasan dan Strategi Pembelajaran, Yogyakarta, Penerbit Aswaja Presindo, 2014, hlm 7-8
kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sejarah dapat menjadi modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan kehidupan di masa mendatang. 34
Adapun manfaat dalam mempelajari Sejarah antara lain:35
a. Manfaat Edukatif. Dalam konteks ini kita dapat belajar dari pengalaman yang pernah terjadi. Seperti halnya mempelajari pengalaman para tokoh nasional generasi muda yang dapat mengembangkan potensinya. Proses pembentukan bangsa yang diwarnai dengan semangat patriotisme dan kecintaan mendalam para pendiri bangsa terhadap eksistensi bangsanya merupakan nilai edukatif yang wajib dipahami oleh generasi penerus yang akan datang.
b. Manfaat Inspiratif. Dalam konteks ini berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca maupun pendengarnya. Kita dapat belajar dan meneladani berbagai kisah sejarah tersebut untuk menumbuhkan semangat kemandirian, memupuk kesadaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta dapat mengintepretasikan secara positif keberagaman yang ada.
c. Manfaat Rekreatif. Dalam konteks ini berbagai cerita sejarah dapat menjadi bahan cerita yang menarik dan membuat para pembaca menjadi terhibur.
5. Pembelajaran Sejarah
Pembelajaran adalah suatu tindakan untuk membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang menjadi penentu utama keberhasilan pendidikan. Di dalam pembelajaran terjadi komunikasi dua arah dimana pengajaran dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Dengan adanya pembelajaran dapat membantu seseorang untuk mempelajari suatu kemampuan dan hal-hal yang baru.36
34 Dien Madjid & Johan Wahyudhi, Ilmu Sejarah Sebuah Pengantar, Jakarta, Penerbit Prenada Media Group, 2014 hlm 8-9
35 Heri Susanto, op.cit, hlm 44-45 36
Selain itu pembelajaran juga merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek yaitu belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini berkolaborasi menjadi suatu kegiatan pada saat belajar mengajar berlangsung. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi antara peserta didik dalam rangka perubahan sikap.37
Menurut Miarso yang dikutip dalam Eveline Siregar menyatakan bahwa pembelajaran adalah usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaanya dapat terkendali. Dalam proses pembelajaran bukan sekedar ilmu transfer dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses kegiatan yaitu adanya interaksi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Pembelajaran hendaknya dilakukan untuk membelajarkan siswa. Hal tersebut ditandai dengan adanya kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada.38
Terkait dengan pembelajaran Sejarah, pembelajaran Sejarah dapat membantu siswa memahami pentingnya bagaimana manusia berperilaku dari kejadian masa lalu dan digunakan untuk memahami keadaan pada saat ini. Selain itu pembelajaran Sejarah di sekolah mampu mengajarkan kepada peserta didik untuk membangkitkan semangat cinta tanah air dan belajar tentang nilai-nilai
37
Asep Jihad dkk, Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta, Multi Presindo, 2013, hlm 11 38 Eveline Siregar, Op.cit, hlm 13
yang dapat diteladani dari para tokoh yang berjasa dalam bela negara seperti halnya dalam memperjuangkan kemerdekaan negara. Selain itu pembelajaran sejarah mampu mendewasakan peserta didik untuk memahami jati diri, identitas dan kepribadian bangsa melalui pemahaman terhadap berbagai peristiwa Sejarah39
Pembelajaran Sejarah yang diimplementasikan dengan baik dapat mengembangkan kemampuan ranah kognitif, mengembangkan potensi, menguasai ranah afektif, dan psikomotor. Pembelajaran Sejarah yang baik dapat menolong peserta didik untuk selalu berpikir kritis dan berafektif moral. Dari sikap berpikir kritis inilah mampu menuntun peserta didik untuk memahami