• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGIAN PERTAMA: SELAYANG PANDANG HDSS SLEMAN

(desain)

2 Health and Demographic Surveillance System (HDSS) merupakan sistem surveilans yang banyak dikembangkan di berbagai negara. Sistem surveilans ini mengumpulkan data transisi kependudukan, status kesehatan dan transisi sosial secara periodik pada kurun waktu tertentu. Pengembangan sistem ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan data mutakhir bagi pembuat kebijakan maupun praktisi kesehatan.(1)

Sistem Surveilans Demografi dan Kesehatan (Health and Demographic Surveillance System/HDSS) Sleman diinisiasi pada tahun 2014 oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada dengan dukungan dari pemerintah Kabupaten Sleman. Pengambilan data secara rutin tiap tahun dimulai pada tahun 2015. Sehingga sampai 2019 sudah terkumpul lima siklus pengambilan data.

HDSS Sleman memiliki visi untuk “Mendukung pengembangan keilmuan di bidang kesehatan melalui penelitian berbasis data populasi berkelas dunia yang inovatif, unggul, dan berkualitas”.

Misi HDSS Sleman adalah:

1. Mengumpulkan data longitudinal berbasis populasi yang berkualitas dengan efisien.

2. Mendukung keberlangsungan riset kesehatan di UGM.

3. Mendukung kegiatan pendidikan dan pelatihan di bidang penelitian longitudinal berbasis populasi.

4. Mendorong terbentuknya kebijakan kesehatan berdasarkan bukti ilmiah.

5. Mendukung kegiatan pengabdian masyarakat berbasis bukti ilmiah.

Untuk mencapai visi dan misinya, tujuan strategis HDSS Sleman adalah:

1. Membangun surveillance site untuk mengumpulkan data demografis, epidemiologi, faktor ekologis (faktor risiko), dan pemanfaatan pelayanan kesehatan.

2. Membangun jejaring dan kemitraan dalam rangka mendukung penyelenggaraan penelitian yang mandiri serta berkelanjutan.

3. Menghasilkan data demografi dan kesehatan yang berkualitas sebagai dasar penelitian lanjutan, evidence-based policy-making, pengabdian masyarakat, serta kegiatan pendidikan.

3 4. Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung pendidikan di bidang

penelitian longitudinal berbasis populasi.

5. Mendukung peningkatan status kesehatan masyarakat melalui pengabdian masyarakat berbasis bukti.

Metode penelitian HDSS Sleman

Kabupaten Sleman dipilih sebagai tempat pelaksanaan HDSS karena memiliki area dengan karakteristik urban dan rural. Karakteristik ini diperlukan untuk dapat menggambarkan perbedaan kejadian penyakit di area tersebut yang nantinya mempengaruhi intervensi yang dilakukan.

HDSS Sleman memiliki desain penelitian longitudinal yang melakukan wawancara tatap muka dengan kunjungan rumah tangga setiap tahun. Metode penelitian HDSS Sleman adalah kuantitatif. Pemilihan sampel rumah tangga dilakukan secara acak dengan metode two-stage cluster sampling with probability proportionate to size. Dengan metode ini terpilih 216 kluster (blok sensus 2010) yang tersebar di 17 kecamatan dan 80 desa di Kabupaten Sleman. Dari seluruh kluster tersebut, 184 kluster berada di wilayah perkotaan dan 32 kluster berada di wilayah pedesaan (Gambar 1). Dari setiap kluster terpilih, kurang lebih 25 rumah tangga dipilih secara acak. Rumah tangga yang dapat berpartisipasi dalam HDSS Sleman adalah yang telah atau berencana tinggal di wilayah kluster terpilih selama minimal 6 bulan. Pada siklus pertama pengumpulan data di tahun 2015, sebanyak 5,147 rumah tangga berpartisipasi dalam HDSS.(2) Sekitar 90.25% dari responden siklus pertama tetap berpartisipasi hingga siklus ke-5.

Periode pengumpulan data siklus 5 (siklus utama tahun 2019) dimulai pada tanggal 5 Maret 2019 sampai 20 Mei 2019. Pada siklus 5, in scope population HDSS Sleman terdiri dari dua panel yaitu panel 1 (4,799 rumah tangga) dimana sampel berasal dari siklus sebelumnya. Sedangkan panel 2 (264 rumah tangga) yang berasal dari refreshment sample. Berdasarkan jumlah total sampel pada siklus 5 sebanyak 5,063 rumah tangga. Tidak semua sampel bersedia di wawancara dan dikunjungi ulang pada siklus berikutnya. Terdapat 143 rumah tangga pada panel 1 yang drop out/keluar dari siklus 5. Kemudian rumah tangga yang berhasil wawancara sebanyak 4,890 rumah tangga (response rate 96.58%) dengan total 21,877 anggota rumah tangga, sedangkan yang gagal wawancara sebanyak 337 rumah tangga.

4 HDSS Sleman mengumpulkan data demografis setiap siklus untuk mendapatkan gambaran kejadian kelahiran, kematian, dan migrasi. Selain itu, data kesehatan dikumpulkan sesuai dengan peta jalan penelitian HDSS Sleman selama 10 tahun (2014-2024, lihat Gambar 2).

Gambar 1. Persebaran lokasi pengumpulan Data HDSS Sleman

5

Gambar 2. Peta jalan penelitian HDSS Sleman

Responden HDSS Sleman

Sebagian besar data HDSS Sleman diperoleh dari wawancara dengan salah satu anggota rumah tangga (ART) yang berusia 18 tahun dan paling mengerti kondisi anggota rumah tangganya. Jika saat wawancara responden yang bersangkutan ada, maka pertanyaan akan langsung ditujukan ke responden tersebut.

Pemanfaatan data HDSS Sleman

HDSS Sleman membuka kesempatan penggunaan data sebagai bahan penulisan karya ilmiah atau tugas akhir. Untuk mendapat data HDSS Sleman, pengguna harus mengikuti prosedur yang ada, mulai dari pengisian formulir, mengumpulkan dokumen yang menjadi persyaratan, dan mengambil data set yang diminta setelah permohonan disetujui.

Selain itu, HDSS memfasilitasi peneliti di lingkungan FK-KMK UGM untuk melakukan penelitian tersarang (nested research) di wilayah kerja HDSS Sleman. Nested research merupakan penelitian yang mengumpulkan data tambahan (data primer) dengan menggunakan populasi HDSS.

6 Kegiatan penunjang HDSS Sleman

Kegiatan penunjang dilakukan oleh HDSS Sleman dalam rangka mencapai tujuan non penelitian dan memberikan manfaat lebih luas kepada Pemerintah Kabupaten Sleman dan masyarakat di Kabupaten Sleman. Kegiatan ini di antaranya pengabdian masyarakat, diskusi tokoh masyarakat, serta terlibat dalam evaluasi pembangunan bidang kesehatan dan sosial dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman.

A. Pengabdian Masyarakat

Pengabdian masyarakat merupakan salah satu kegiatan rutin dalam rangka menjalin hubungan baik dengan responden dan komunitas di area HDSS Sleman.

Pengabdian masyarakat dilaksanakan sesuai temuan HDSS Sleman, permintaan masyarakat atau tokoh masyarakat setempat. Kegiatan pengabdian masyarakat dapat berupa penyuluhan kesehatan, pelatihan kader, dan pemeriksaan kesehatan.

Tema kegiatan ini dapat menyesuaikan permintaan pemohon maupun permasalahan kesehatan yang ada. Pengabdian masyarakat yang terlaksana selama tahun 2019 disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1.Penyuluhan Kesehatan oleh HDSS Sleman Tahun 2019

No Tema Kegiatan Sasaran Lokasi Waktu Pemateri 1 Penyuluhan :

2019 Anggi Lukman

Wicaksana,

balita Posyandu balita Dusun Sribit,

18 Juli 2019 drg. Elastria Widita, M.Sc

7 No Tema Kegiatan Sasaran Lokasi Waktu Pemateri

Depok 6 Penyuluhan :

Swamedikasi

Ibu-ibu Dusun Brayut, Sleman

Kanker serviks Ibu-ibu Dusun Sidomulyo,

B. Diskusi Tokoh Masyarakat Untuk Menginisiasi Pembentukan Community Engagement Committee (CEC)

HDSS Sleman telah mengundang beberapa tokoh masyarakat perwakilan kecamatan di Kabupaten Sleman untuk mengikuti diskusi informal dalam rangka inisiasi pembentukan Community Engagement Committee (CEC). Pembentukan CEC bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan kerjasama tokoh masyarakat sebagai penggerak, fasilitator dan motivator bagi masyarakat dalam kegiatan HDSS Sleman. Diskusi informal ini dimaksudkan untuk menggali permasalahan yang dirasakan masyarakat terkait pengambilan data HDSS Sleman dan memohon masukan dari masyarakat terkait rencana pembentukan CEC. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 22 Oktober 2019 di sekretariat HDSS Sleman, Gedung Radiopoetro Lantai 1 Sayap Barat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

Gambar 3. Dokumentasi Diskusi Tokoh Masyarakat untuk Menginisiasi Pembentukan CEC

8 C. Diseminasi Hasil HDSS Sleman kepada Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten

Sleman (Pertemuan OPD dan SKPD)

HDSS Sleman telah bekerja sama dengan Bappeda Kabupaten Sleman untuk menyelenggarakan acara diseminasi hasil HDSS Sleman kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dilakukan oleh divisi Stakeholders Engagement HDSS Sleman yang berlangsung pada tanggal 29 Januari 2019 di Ruang Rapat Gambuh Kantor Bappeda Kabupaten Sleman, Jalan Parasamya, Beran, Tridadi, Sleman, DI Yogyakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh Drs. Pranama, M.Si dari Bappeda Kabupaten Sleman. Sedangkan pemaparan hasil HDSS Sleman dilakukan oleh dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung pembangunan kesehatan di Kabupaten Sleman serta mendorong pengembangan kebijakan yang berbasis bukti untuk meminimalisir dampak peningkatan beban penyakit.

Kegiatan ini mendapatkan respon yang positif dari OPD dan diharapkan dapat menginisiasi adanya luaran yang sinergis antar institusi di Kabupaten Sleman.

Gambar 4. Diseminasi Hasil HDSS Sleman kepada SKPD atau OPD Kabupaten Sleman

D. Penyusunan Laporan Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Bappeda Kabupaten Sleman

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan HDSS Sleman dalam menyusun laporan perencanaan dan evaluasi kinerja bidang kesehatan dan sosial untuk perubahan Rencana Kinerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Sleman tahun 2020-2021. Dalam

9 kegiatan ini, tim HDSS dipimpin oleh salah satu tenaga ahli dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan yang juga merupakan peneliti HDSS Sleman (FK-KMK) UGM yaitu dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D.

Dalam menyusun laporan kajian, selain melakukan telaah dokumen dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Sleman, HDSS Sleman beberapa kali mengadakan pertemuan bersama Bappeda Kabupaten Sleman.

Pertemuan pertama dilaksanakan pada 10 Mei 2019 di Kantor Bappeda Sleman untuk mendiskusikan hasil HDSS Sleman yang terkait dengan permasalahan dan isu strategis bidang kesehatan dan sosial di Kabupaten Sleman. OPD yang diundang untuk berdiskusi meliputi Dinas Kesehatan, RSUD Sleman, RSUD Prambanan, Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB).

Pada 17 Mei 2019, dilakukan diskusi dengan tim kajian dan ahli dari FK-KMK UGM untuk merumuskan rekomendasi yang dapat diberikan terkait isu kesehatan lingkungan dan isu sosial. Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh dr. Hayu Qaimamunazzala dari FK-KMK dan Marlita Putri Ekasari, S.Farm, Apt., MPH dari Fakultas Farmasi UGM. Selanjutnya, HDSS Sleman bersama Bappeda Kabupaten Sleman melakukan Focus Group Discussion (FGD) kepada OPD terkait untuk mendiskusikan permasalahan dan isu strategis dari masing-masing OPD.

Rangkaian diskusi HDSS Sleman bersama OPD dilanjutkan dengan mendengarkan pemaparan dari Kepala Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan Dinas P3AP2KB terkait Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Kesehatan dan Sosial. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 30 September 2019 dengan dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D hadir sebagai narasumber yang menyampaikan rekomendasi di akhir kegiatan.

10

Gambar 5. Rapat Koordinasi Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Kesehatan dan Sosial Tahun 2019 (10 Mei 2019)

Gambar 6. Rapat Koordinasi Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Kesehatan dan Sosial Tahun 2019 (26 Juli 2019)

Gambar 7. FGD Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Kesehatan dan Sosial Tahun

2019 (30 September 2019)

11

12

Dokumen terkait