• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian Umum dan Administrasi Personalia dan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 29-37)

BAB 3. TINJAUAN KHUSUS UNIT RISET DAN PENGEMBANGAN

4.2 Unit Risbang PT. Kimia Farma Tbk

4.2.1 Bagian Umum dan Administrasi Personalia dan

Bagian Umum dan Administrasi Personalia dipimpin oleh seorang supervisor yang membawahi beberapa bagian, yaitu Bagian Sekretariat, Bagian Pengadaan, Bagian Gudang, Bagian Personalia, Bagian Pemeliharaan, dan Bagian Keamanan.

Gudang Unit Risbang merupakan gudang transit. Hampir tidak ada barang yang disimpan di gudang. Barang yang datang langsung didistribusikan ke masing-masing subunit atau bagian yang meminta. Barang yang disimpan di gudang hanya alkohol 95% dan aquadest.

Saat ini masing-masing subunit memiliki gudang penyimpanannya sendiri-sendiri. Namun, ke depannya direncanakan gudang akan menjadi gudang sentral. Semua barang dari berbagai subunit akan disimpan dalam gudang sentral tersebut.

Bagian Keuangan dan Akuntansi terdiri dari Bagian Akuntansi dan Bagian Keuangan. Unit Risbang hanya melakukan pengeluaran dana dan tidak ada dana pemasukan. Oleh karena itu, Unit Risbang disebut sebagai Cost Center. Permintaan dana dari Unit Risbang ke PT. Kimia Farma Tbk. dinyatakan dalam bentuk Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) yang dibuat setiap tahun. Laporan realisasi anggaran harus dibuat dan diserahkan kepada pihak manajemen kantor pusat secara berkala.

4.2.2 Subunit Registrasi dan Desain Kemasan

Subunit Registrasi dan Desain Kemasan (Subunit RDK) bertanggung jawab dalam pembuatan dokumen resgistrasi produk PT. Kimia Farma Tbk. yang akan didaftarkan di Badan POM. Selain itu, Subunit RDK juga bertanggung jawab terhadap pembuatan desain kemasan produk Kimia Farma. Subunit RDK juga berperan sebagai pusat dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) dan pengelolaan perpustakaan Unit Risbang.

PT. Kimia Farma Tbk. memproduksi berbagai jenis produk, antara lain obat dari zat kimia sintetis, obat dari bahan alam, dan kosmetik. Cara dan proses pendaftaran masing-masing jenis produk untuk mendapatkan izin edar berbeda-beda. Pendaftaran obat dari zat kimia sintetis dan obat dari bahan alam dilakukan

22

Universitas Indonesia melalui proses registrasi. Sedangkan, kosmetik didaftarkan dengan proses notifikasi.

Obat yang akan diedarkan di wilayah Indonesia wajib memiliki izin edar. Untuk memperoleh izin edar harus dilakukan registrasi obat yang diajukan kepada Kepala Badan POM oleh pendaftar. Registrasi adalah prosedur pendaftaran dan evaluasi obat untuk mendapat nomor izin edar. Registrasi obat terdiri dari tiga kategori, yaitu registrasi baru, registrasi variasi, dan registrasi ulang. Registrasi baru adalah registrasi obat yang belum mendapatkan izin edar di Indonesia. Registrasi ulang adalah registrasi perpanjangan masa berlaku izin edar. Registrasi variasi adalah registrasi perubahan aspek apapun pada obat yang telah memiliki izin edar di Indonesia, termasuk tetapi tidak terbatas pada perubahan formulasi, metode, proses pembuatan, spesifikasi untuk obat dan bahan baku, wadah, kemasan, dan penandaan (BPOM RI, 2011a).

Pada masing-masing kategori registrasi yang disebutkan di paragraf sebelumnya, terdapat pembagian kategori lagi. Pembagian kategori tersebut sedikit berbeda dengan pembagian kategori pada peraturan registrasi sebelumnya. Dulu terdapat sepuluh kategori, sedangkan sekarang terdapat tujuh kategori. Kategori tersebut, antara lain:

a. Registrasi baru

Kategori 1 : registrasi obat baru dan produk biologi, termasuk produk biologi sejenis (PBS)/ similar biotherapeutic product (SBP) Kategori 2 : registrasi obat copy

Kategori 3 : registrasi sediaan lain yang mengandung obat b. Registrasi variasi

Kategori 4 : registrasi variasi major

Kategori 5 : registrasi variasi minor yang memerlukan persetujuan Kategori 6 : registrasi variasi minor dengan notifikasi

c. Registrasi ulang

Kategori 7 : registrasi ulang

Kategori-kategori tersebut menentukan apa jalur registrasi yang harus ditempuh dan berapa lama. Selain itu, juga untuk menentukan dokumen apa yang dibutuhkan dalam proses registrasi (BPOM RI, 2011a). Ketentuan dan persyaratan

23

tiap kategori diatur oleh Badan POM dan tertulis dengan lengkap pada buku “Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat 2011”.

Dokumen registrasi obat terdiri dari empat bagian, yaitu (BPOM RI, 2011):

a. Bagian I: Dokumen administratif dan informasi produk yang terdiri dari Daftar Isi Keseluruhan, Dokumen Administratif, dan Informasi Produk dan Penandaan.

b. Bagian II: Dokumen Mutu yang terdiri dari Ringkasan Dokumen Mutu, Dokumen Mutu, dan Daftar Pustaka

c. Bagian III: Dokumen Nonklinik yang terdiri dari Tinjauan Studi Nonklinik, Ringkasan dan Matriks Studi Nonklinik, Laporan Studi Nonklinik (jika perlu), dan Daftar Pustaka.

d. Bagian IV: Dokumen Klinik yang terdiri dari Tinjauan Studi Klinik, Ringkasan Studi Klinik, Matriks Studi Klinik, Laporan Studi Klinik, dan Daftar Pustaka.

Pada tahap awal registrasi obat, dilakukan praregistrasi yang bertujuan untuk penapisan registrasi obat, penentuan kategori registrasi, penentuan jalur evaluasi, penentuan biaya evaluasi, dan penentuan dokumen registrasi obat (BPOM RI, 2011a). Praregistrasi ini juga berguna untuk menilai kesiapan dari pendaftar dalam registrasi. Hasil praregistrasi berlaku selama satu tahun. Jika dalam satu tahun hasil pendaftar tidak melakukan registrasi, maka hasil praregistrasi tersebut tidak berlaku lagi dan harus dilakukan praregistrasi ulang.

Setelah Harmonisasi ASEAN dalam bidang kosmetik, peraturan mengenai registrasi kosmetik dihapuskan. Sebagai gantinya, pendaftaran produk kosmetik dilakukan melalui proses notifikasi. Notifikasi merupakan suatu proses pemberitahuan kepada pihak otoritas negara dengan tata cara yang ditentukan, yang harus dilakukan oleh perusahaan sebelum mengedarkan kosmetiknya di wilayah Indonesia. Permohonan notifikasi diajukan oleh pemohon kepada Kepala Badan POM. Wajib notifikasi ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 2011. Untuk produk kosmetik yang telah memiliki izin edar, izin tersebut masih tetap berlaku dalam jangka waktu paling lama tiga tahun sejak dikeluarkannya Peraturan

24

Universitas Indonesia Menteri Kesehatan Nomor 1176/Menkes/Per/VIII/2010 Tahun 2010 tentang Notifikasi Kosmetik (Kemenkes RI, 2010).

Sebelum melakukan notifikasi, pemohon notifikasi harus memiliki Dokumen Informasi Produk (DIP) untuk setiap produk kosmetik yang akan dinotifikasi. DIP tersebut harus disimpan oleh pemohon, dan harus ditunjukkan jika sewaktu-waktu diperiksa atau diaudit oleh Badan POM. DIP terdiri dari dokumen administrasi dan ringkasan produk, data mutu dan keamanan bahan kosmetik, data mutu kosmetik, serta data keamanan dan kemanfaatan kosmetik (BPOM RI, 2010).

Proses notifikasi kosmetik dilakukan dengan mengakses situs web “http://notifkos.pom.go.id”. Kemudian, dilakukan pengisian sejumlah template yang berkaitan dengan produk yang dinotifikasi. Setelah notifikasi kosmetik diproses, akan diterbitkan surat perintah pembayaran (SPB) secara online. Pendaftar harus memproses pembayaran sesuai SPB dan meyerahkan bukti bayar beserta SPB ke Badan POM untuk mendapatkan ID produk kosmetik (BPOM RI, 2010).

Persetujuan notifikasi kosmetik akan diterbitkan secara online dan diberitahukan melalui email pendaftar dalam jangka waktu empat belas hari kerja sejak pengajuan permohonan notifikasi diterima oleh Kepala Badan POM. Setelah permohonan disetujui, maka dalam jangka waktu enam bulan produk kosmetik yang telah dinotifikasi wajib diproduksi dan diedarkan. Jika tidak, notifikasi menjadi batal kosmetik (BPOM RI, 2010).

Perbedaan yang penting antara notifikasi dan registrasi adalah tanggung jawab terhadap produk. Pada notifikasi, pelaku usaha bertanggung jawab penuh terhadap keamanan, mutu, dan klaim manfaat kosmetik yang dinotifikasi. Pengawasan pada notifikasi dilakukan setelah produk beredar (post market surveillance). Sedangkan, pada registrasi, Badan POM juga bertanggung jawab terhadap keamanan, mutu, dan klaim manfaat produk karena Badan POM melakukan evaluasi atas produk (uji pre market) sebelum produk beredar.

Untuk desain kemasan obat generik dan ethical terdapat standar baku dari Badan POM dan Kimia Farma sendiri dalam ukuran, bentuk, dan warna kemasan. Sedangkan, untuk obat OTC (over the counter) ukuran, bentuk, dan warna tidak

25

ada standarnya. Dalam pembuatan kemasan produk OTC Subunit RDK juga berkoordinasi dengan Unit Pemasaran (Marketing). Meskipun tidak ada standarnya, tetap ada ketentuan dari Badan POM mengenai penandaan, termasuk klaim untuk produk.

4.2.3 Subunit Pengembangan Formula

Subunit Pengembangan Formula (Subunit Formulasi) memiliki tugas dan fungsi, antara lain menciptakan produk baru dengan mengembangkan formula dari zat aktif bahan sintesis atau bahan alam, mengerjakan reformulasi produk yang sudah ada atau sudah eksis, dan melakukan bantuan teknis baik untuk internal maupun eksternal PT. Kimia Farma Tbk.

Ide pengembangan produk baru maupun reformulasi produk eksis dapat berasal dari Unit Risbang, Unit Marketing, Unit Produksi, Direksi PT. Kimia Farma Tbk. ataupun berasal dari program Pemerintah.

Proses pengembangan produk diawali dengan preformulasi. Formulator melakukan studi literatur mengenai zat aktif dan zat tambahan yang akan digunakan, juga tentang bentuk sediaan yang akan dibuat. Zat aktif dan zat tambahan dicari tahu sifat fisika dan kimianya, antara lain bentuk, kelarutan, stabilitas, dan kompatibilitas. Selain itu, informasi mengenai ketersediaan bahan baku dan kesiapan alat produksi, serta produk kompetitor juga harus diketahui.

Sebelum membuat rancangan formula, dilakukan uji interaksi untuk melihat interaksi yang mungkin terjadi antara zat aktif dan zat tambahan. Kemudian, beberapa formula alternatif dirancang berdasarkan hasil preformulasi dan hasil uji interaksi. Formula-formula tersebut dibuat dalam skala laboratorium. Sediaan yang baik dan memenuhi spesifikasi secara fisik diserahkan ke Subunit Pengembangan Metode Analisis dan Validasi untuk dievaluasi. Jika hasil analisis menunjukkan sediaan tersebut dapat memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, selanjutnya dilakukan validasi proses pembuatan skala laboratorium.

Tahap berikutnya yang dilakukan adalah uji stabilitas dipoercepat. Uji ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran stabilitasnya secara cepat. Sediaan yang berhasil melalui uji stabilitas kemudian dibuat dalam skala pilot dan divalidasi proses pembuatannya. Pembuatan skala pilot adalah 1/10 dari bets atau 100.000

26

Universitas Indonesia tablet. Selanjutnya, dilakukan uji stabilitas jangka panjang. Hasil dari uji stabilitas ini digunakan untuk menentukan perkiraan masa kedaluwarsa. Penyimpanan sediaan selama masa uji stabilitas dilakukan oleh Subunit Formulasi, namun analisisnya dikerjakan oleh Subunit Pengembangan Metode Analisis dan Validasi (Subunit Analisis).

Badan POM mensyaratkan beberapa jenis obat untuk diuji ekuivalensi. Uji ekuivalensi adalah uji in vivo dan/ atau in vitro untuk menentukan ekuivalensi antara obat uji (obat copy) dengan obat komparator. Obat copy adalah obat yang mengandung zat aktif dengan komposisi, kekuatan, bentuk sediaan, rute pemberian, indikasi, dan posologi sama dengan obat yang sudah disetujui. Sedangkan, obat komparator adalah obat yang digunakan sebagai pembanding dalam uji ekuivalensi uji in vivo dan/ atau in vitro untuk pembuktian ekuivalensi suatu obat copy (Kepala Badan POM, 2011).

Obat komparator yang digunakan dalan uji ekuivalensi harus obat inovator yang memiliki izin edar di Indonesia. Jika obat inovator tersebut tidak tersedia, maka dapat digunakan (BPOM, 2011b):

a. Obat yang telah terdaftar di Negara yag tergabung dalam International Conference on Harmonization (ICH) dan Negara asosiasinya (associated country).

b. Obat copy yang telah terbukti bioekuivalen terhadap obat inovator dengan hasil paling mendekati inovator.

c. Obat yang termasuk dalam daftar prakualifikasi World Health Organization (WHO).

Uji ekuivalensi in vivo yang selanjutnya disebut uji biokuivalensi (uji BE) adalah uji bioavailabilitas atau farmakodinamik komparatif yang dirancang untuk menunjukkan bioekuivalensi antara obat uji (obat copy) dengan inovator/ komparator (BPOM, 2011b). Uji ekuivalensi in vitro akan dibahas pada bagian Subunit Analisis.

Uji BE dilakukan dengan bekerja sama dengan lembaga lain yang independen. Pertimbangan yang dilakukan dalam pemilihan lembaga partner uji BE adalah lembaga tersebut terakreditasi ISO atau KAN dan memiliki SDM yang kompeten.

27

Obat copy yang masih dalam proses registrasi, obat copy yang didaftarkan sebagai registrasi baru, dan obat copy yang didaftarkan sebagai registrasi ulang yang wajib uji BE sampai dengan dua tahun sejak Peraturan Kepala Badan POM RI Tahun 2011 tentang Obat Wajib Uji Ekuivalensi berlaku, dapat dilakukan uji ekuivalensi in vitro dengan komitmen wajib menyerahkan hasil uji BE paling lambat tiga tahun sejak peraturan ini dibuat (BPOM, 2011b).

Ada sebelas kategori dalam daftar obat copy yang mengandung zat aktif yang wajib uji biokuivalensi. Daftar lengkap obat-obat tersebut dapat dilihat pada Peraturan Kepala Badan POM RI Tahun 2011 tentang Obat Wajib Uji Ekuivalensi.

Jika sediaan telah mendapatkan nomor izin edar, maka tahap selanjutnya adalah pembuatan skala produksi. Tiga bets pertama dari skala produksi sediaan tersebut dalam pembuatannya masih didampingi dan merupakan tanggung jawab Subunit Formulasi. Pada tiga bets pertama tersebut juga dilakukan uji stabilitas on going untuk mengetahui stabilitas dan masa kedaluwarsa sebenarnya dari sediaan. 4.2.4 Subunit Ekstraksi Bahan Alam

Sub unit Ekstraksi Bahan Alam (Subunit EBA) saat ini berdiri sendiri dan tidak tergabung lagi dengan Subunit Formulasi. Hal ini disebabkan oleh semakin berkembangnya penelitian mengenai pemanfaatan bahan alam sebagai bahan baku obat.

Subunit EBA terdiri dari dua bagian yaitu budidaya tanaman dan laboratorium/ pilot ekstraksi bahan alam. Terdapat tiga fasilitas yang menunjang budidaya tanaman di Unit Risbang PT. Kimia Farma Tbk., yaitu Kebun Percobaan Banjaran di Bandung, Kebun Tanaman Obat Bintang di Cianjur, dan laboratorium kultur jaringan. Tujuan budidaya tanaman, selain sebagai pemenuhan kebutuhan bahan alam internal dan eksternal Kimia Farma, juga untuk menjamin keaslian tanaman, supaya tanaman yang dibutuhkan dapat memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

Tanaman-tanaman yang sedang diteliti di Kebun Percobaan Banjaran, antara lain Artemisia annua yang diambil isolatnya artemisinin sebagai antimalaria; Curcuma zedoaria yang diambil isolatnya zederone sebagai

28

Universitas Indonesia antikanker; Ashitaba yang diambil ekstrak totalnya sebagai antitumor; dan Sirsak yang diambil ekstrak totalnya sebagai antikanker. Selain itu, juga dilakukan penelitian mengenai uji efikasi hasil bioremediasi ampas kina untuk pemanfaatan ampas kina sebagai pupuk organik.

Program untuk tanaman kina yang dilaksanakan di Kebun Tanaman Obat Bintang (KTO Bintang) adalah:

a. Kultur jaringan kina

Tujuan dilakukan kultur jaringan kina adalah untuk mempertahankan kualitas bibit, untuk mempercepat proses perbanyakan bibit, serta untuk mengurangi biaya pembibitan, tingkat kematian bibit, dan tingkat keragaman kualitas bibit. b. Optimalisasi pembibitan tanaman kina dan peremajaan tanaman kina dengan

sistem sambung tempel

Optimalisasidan peremajaan ini bertujuan supaya didapatkan bibit kina yang optimal dalam sisi kualitas, waktu, dan jumlah. Cara sambung silang yang diterapkan adalah dengan menyambungsilangkan (stek) dua varietas kina, yaitu ledgeriana dan succirubra. Kina ledgeriana memiliki kadar kinin yang tinggi, namun kurang tahan terhadap penyakit. Sedangkan, kina succirubra lebih than terhadap penyakit, namun kadar kininnya rendah. Dengan melakukan stek terhadap dua varietas tersebut, diharapkan didapat kina yang tahan penyakit dengan kadar kinin tinggi. Dari 500 Ha wilayah Kebun KTO Bintang, hanya 156 Ha yang sudah ditanami kina. Target tahun 2012 adalah pembukaan lahan lagi seluas 20 Ha untuk penanaman kina.

c. Sistem panen baru tanaman kina

Selama ini sistem panen kina adalah dengan menebang pohon kina. Sistem panen baru yang diterapkan adalah dengan menguliti batang kina secara selang-seling atau berjarak. Diharapkan dengan sistem panen ini untuk mendapatkan kulit batang kina yang siap panen, tidak perlu menunggu waktu delapan tahun seperti sebelumnya. Sistem panen ini masih beberapa bulan diterapkan dan masih dalam tahap penelitian mengenai kadar kinin dalam kinanya.

29

Kina ditanam dengan jarak masing-masing 1,5 meter sehingga banyak terdapat tanah kosong diantaranya. Oleh karena itu, ditanaman tanaman penutup tanah, yaitu Mucuna bracteata yang merupakan sejenis tanaman kacang-kacangan. Tujuan penanamannya adalah untuk menghindari tumbuhnya rumput liar dan untuk sumber nitrogen.

Tanaman nonkina yang dibudidaya di KTO Bintang adalah kunyit, temu lawak, sirih, tempuyung, temu putih, stevia, purwaceng, dan ashitaba.

Dalam memulai pembudidayaan tanaman, ada dua cara atau jalur yang dilakukan. Pertama atas usul dari Direksi atau Unit Marketing untuk membuat sediaan yang menggunakan ekstrak tanaman tertentu. Kemudian, ditindaklanjuti dengan penelitian dan pembudidayaan tanaman tersebut. Kedua adalah atas ide Subunit EBA tentang tanaman berkhasiat tertentu. Tanaman tersebut dijadikan tanaman koleksi dan diteliti. Jika khasiatnya terbukti, maka tanaman tersebut dapat diusulkan untuk dimanfaatkan dengan dibuat sediaannya.

Bagian laboratorium/ pilot ekstraksi bahan alam bertanggung jawab dalam pembuatan bahan baku dari bahan alam berupa ekstrak atau isolat. untuk kepentingan penelitian atau produksi baik internal maupun eksternal Kimia Farma. Bahan alam yang digunakan sebagai bahan baku diperoleh melalui proses tertentu dan terstandardisasi. Hal yang distandardisasi meliputi empat macam, yaitu proses, kimia, fisik, dan mikrobiologi.

Sebelumnya Subunit EBA juga bertanggung jawab terhadap pengolahan limbah, AMDAL, dan K3L. Namun, saat ini untuk pengolahan limbah, AMDAL, dan K3L Unit Risbang tidak ditangani oleh Subunit EBA tetapi dilakukan oleh Unit Produksi Bandung.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 29-37)

Dokumen terkait