• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul 8: Rencana Aksi Daerah-Gas Rumah Kaca

5. Bahan Bacaan: 9A. Pengantar Pada Adaptasi Perubahan Iklim

Pembangunan berkelanjutan sudah menjadi komitment pemerintah Indonesia dan didukung oleh masyarakat luas. Sustainable Development Goals juga sudah diadopsi oleh Indonesia menjadi kebijakan yang diarus-utamakan di semua sektor. Namun pembangunan berkelanjutan dapat terhambat dengan adanya perubahan iklim. Dampak perubahan iklim berpotensi menurunkan hasil-hasil pembangunan; mengurangi daya dukung alam; dan mempersulit upaya pengentasan kemiskinan. Untuk menjaga keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan adaptasi pada perubahan iklim.

Salah satu tujuan bernegara adalah untuk memberi perlindungan pada masyarakat. Undang-undang dasar memberikan tanggung jawab pada pemerintah untuk melindungi masyarakat Indonesia. Nawacita dalam RPJMN 2014-2019 juga mencantumkan dalam butir pertama: “Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberi

rasa aman pada seluruh warga negara.” Perlindungan terhadap ancaman bencana juga

merupakan tanggung jawab pemerintah, termasuk perlindungan dari ancaman perubahan iklim seperti meningkatnya banjir, longsor, kekeringan dan lain-lain. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama sama bertanggung-jawab untuk mengurangi risiko dari perubahan iklim.

Adaptasi perubahan iklim adalah upaya membuat masyarakat dan semua stakeholders mampu mempertahankan hasil pembangunan yang berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim. Pembangunan yang tangguh terhadap iklim dapat dicapai jika perencana program memperhitungkan dampak dan peluang dari perubahan iklim, adaptasi tidak perlu membuat program baru. Risiko iklim tidak dapat dihilangkan tapi dampak negatifnya pada masyarakat dapat dikelola dan kurangi. Selain itu adaptasi dapat menangkap peluang baru yang muncul akibat perubahan iklim, seperti komoditas pertanian baru, produk atau jasa baru yang dapat melindungi masyarakat. Bila Indonesia tidak melakukan adaptasi maka kerugian akibat perubahan iklim akan semakin meningkat setiap tahun.

Kutipan dari RPJMN Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup dalam Buku II RPJMN 2014-2019:

1. UMUM

a. Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan; b. Program Lintas Bidang Perubahan Iklim: (1) Penurunan

Emisi Gas Rumah Kaca/Mitigasi GRK; (2) Peningkatan Ketahanan/Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim.

2. Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup a. Penanganan perubahan iklim dan peningkatan kualitas

informasi iklim dan kebencanaan. b. Penanganan dan Pengelolaan Bencana.

5.1. Rencana Aksi Nasional – Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API)

Pada Februari 2014 Bappenas, bersama KLH dan DNPI menerbitkan API. Dalam RAN-API disebutkan tujuan adaptasi adalah membuat pembangunan yang resilinece terhadap perubahan iklim. RAN-API merupakan masukan untuk RPJMN dalam hal lintas bidang. ntegrasi RAN API ke dalam RPJMN 2015-2019, pada (a) Agenda Pembangunan Nasional (Buku I, Bab 6) dan (b) Agenda Pembangunan Bidang (Program Lintas Bidang) pada Buku II, Bab 1.

Sumber Bappenas

Gambar 3. Hubungan antara RAN API, RPJMN dan SDG’s

Terdapat 7 Indikator SDG’s yang berkaitan dengan sasaran RAN API, sebagai bahan inventarisasi, kinerja, evaluasi dan pelaporan.

 Goal 2: Food Security:  Goal 3: Healthy  Goal 9: Infrastructure

 Goal 11: Cities and Human Settlement  Goal 13: Climate Change

 Goal 14: Life below Water  Goal 15: Life on Land

RAP API merupakan rujukan untuk Pemerintah Daerah dalam menyusun strategi adaptasi perubahan iklim masing-masing. Strategi ini dapat berupa Rencana Aksi Daerah untuk API atau dalam bentuk strategi lain seperti Sub-national Adaptation Plan. Mengapa aksi adaptasi di daerah menjadi sangat penting? Karena:

• Dampak perubahan iklim terjadi pada tingkat lokal/daerah  mempengaruhi kegiatan ekonomi dan kehidupan serta lingkungan pada tingkat lokal.

• Kerentanan dan kapasitas adaptif terjadi pada tingkat lokal  sebagai hasil interaksi berbagai faktor dan proses sosial-ekologis. Kerentanan wilayah merupakan hasil dari variasi kerentanan yang terjadi di tingkat lokal.

• Aksi adaptasi yang paling baik dilakukan pada tingkat lokal  respon adaptasi di tingkat individu dan keluarga menunjukkan adaptasi nyata dalam kehidupan

Dibawah ini adalam skema hubungan antara RAN-API dan RAD-API dengan proses perencanaan yang lain.

Sumber: Sekretariat RAN API, BAPPENAS

Gambar 4. Hubungan antara RAN API dan RAD API dengan dokumen perencanaan pembangunan.

RAN-API terdiri dari 5 bidang dan dibagi lagi menjadi

Sumber : RAN-API Bappenas 2014

Gambar 5. Pembagian Bidang, Sub-Bidang dan Kluster Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim

5.2. Kerangka Kerja Adaptasi Perubahan Iklim

Adaptasi Perubahan Iklim terdiri dari serangkaian langkah yang sistematis dan memanfaatkan informasi iklim yang ilmiah. Adaptasi Perubahan iklim memerlukan pendekatan multi disiplin ilmu dan partisipasi dari stakeholders lokal. Secara garis besar bagan-alur dalam proses adaptasi adalah sebagai berikut:

Gambar 6. Alur kajian, perencanaan dan pengarusutamaan adaptasi perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan.

Sesuai dengan Permen KLHK no 33/2016 tentang Pedoman Penyusunan Aksi Adaptasi Perubahan Iklim; tahapan dalam menyusun strategi adaptasi di daerah adalah:

1) identifikasi sektor yang terdampak di daerah tersebut dan masalah dampak perubahan iklim;

2) penyusunan kajian kerentanan dan risiko iklim daerah; 3) penyusunan pilihan aksi adaptasi perubahan iklim; 4) penentuan prioritas aksi adaptasi perubahan iklim;

5) pengintegrasian aksi adaptasi dalam kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan daerah.

Langkah langkah ini akan dibahas dalam beberapa modul berikutnya. Namun sebelum masuk dalam proses adaptasi perubahana iklim perlu dipahami dulu apa konsep perubahan iklim dan risikonya.

5.3. Konsep Perubahan Iklim

Semenjak awal revolusi industri manusia sudah mulai membakar batubara dan minyak bumi untuk energi, pembakaran ini menghasilkan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca lain. Jumlah emisi karbon ini terus bertambah seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Dampak dari emisi karbon yang semakin banyak ini adalah berubahnya iklim global. Perubahan iklim adalah berubahnya suhu, curah hujan dan parameter cuaca lain dalam kurun waktu yang dapat dibandingkan, (10 sampai 20 tahun). Selain itu emisi GRK juga memperbesar variabilitas iklim dan merubah pola musim.

Iklim adalah rata-rata jangka panjang cuaca pada suatu lokasi, cuaca dapat berubah-rubah tiap hari, namun demikian iklim biasanya sama dari tahun ke tahun. Secara alamiah iklim dapat berubah tapi butuh waktu ribuan tahun. Jaman es terakhir terjadi sekitar 22.000 tahun yang lalu. Perubahan iklim secara cepat bukanlah kejadian alamiah dan belum pernah terjadi dalam sejarah.

Sumber: Kevin Cowtan, York University, 2016

Gambar 7. Rata-rata suhu global tahunan 1880-2015

Menurut NASA suhu udara global bulan Maret 2016 sudah naik hingga 1,3’ Celsius; rekor terpanas sejak 1880. Pemanasan udara 1,3’C mungkin tidak terlalu terasa bagi kebanyakan orang, tapi jika kita lihat bahwa selama 1500 tahun terakhir suhu rata-rata tahunan bumi tidak pernah naik lebih dari 0,5 derajat. Karena itu kenaikan suhu udara akhir-akhir ini merupakan ancaman serius bagi ekosistem global.

Sumber: NASA Earth Observatory

Gambar 8. Perubahan temperatur global

Selain mengakibatkan pemanasan global, emisi karbon menyebabkan juga peningkatan keasaman air laut; perubahan pola hujan, dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem (badai tropis, gelombang panas, hujan ekstrem, puting-beliung, dll.) variabilitas cuaca juga semakin lebar, sehingga semakin sulit untuk membuat prakiraan cauaca atau musim. Diprediksi fenomena El-nino dan La-nina akan semakin sering terjadi dan semakin kuat.

Sumber: IPCC Fifth Assessment Report WG1 2013

Gambar 9. Peta proyeksi kenaikan suhu global

5.4. Dampak Perubahan Iklim

Emisi karbon menyebabkan perubahan iklim dan perubahan iklim berdampak luas pada berbagai bidang kehidupan dan ekosistem. Risiko dampak perubahan iklim secara umum adalah sebagai berikut:

A. Pertanian: Berubahnya pola hujan dan meningkatnya suhu membuat beberapa komoditas pertanian seperti padi, sayuran atau kopi, menurun produktivitasnya. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan.

B. Perikanan: perubahan iklim dapat membuat populasi dan wilayah ruaya ikan berubah. Terumbu karang akan mengalami kematian (coral bleaching) karena pemanasan dan peningkatan keasaman air laut.

C. Kehutanan: perubahan iklim dapat menurunkan jumlah biomasa dan keaneka-ragaman hayati dalam hutan. Hal ini dapat membuat berkurangnya jasa lingkungan dari hutan seperti air bersih, atau penahan banjir. Kekeringan dapat pula meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

D. Kebencanaan: meningkatnya frekuensi dan intensitas badai, hujan ekstrem, angin puting beliung; menambah risiko bencana banjir, longsor, dan abrasi pantai. Sedangkan kemarau panjang dan gelombang udara panas dapat meningkatkan risiko kematian. E. Permukiman di pesisir dan pulau kecil menghadapi risiko kenaikan permukaan laut

akibat melelehnya lapisan es di kutub utara dan selatan. Risiko gelombang pasang akibat badai juga akan bertambah.

F. Prasarana publik seperti pelabuhan, jembatan, pembangkit listrik, PDAM, rumah sakit berisiko rusak karena cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut dan pemanasan suhu udara.

G. Kemiskinan: akan meningkat akibat menurunnya produktivitas petani dan nelayan ditambah dengan meningkatnya biaya hidup karena kesulitan air.

Dampak perubahan dan variabilitas iklim dapat dibagi menjadi dampak slow onset dan rapid

onset. Dampak slow onset terjadi secara bertahap dalam waktu lama contohnya: penurunan

produktivitas pertanian, atau kenaikan permukaan laut. Seringkali dampak slow onset tidak terasa, tapi sebenarnya sudah ada. Dampak rapid onset terjadi secara cepat dan biasanya

mudah terlihat, contohnya: badai, banjir, longsor, atau gelombang pasang. Semakin tinggi kenaikan suhu global akan membuat risiko risiko diatas semakin besar. Kerusakan dan kehilangan yang terjadi akan semakin luas, berat dan tak dapat terpulihkan. Pelajari rantai dampak perubahan iklim pada tiap jenis ekosistem yang ada. Sumber: CI.Grasp 2.0: Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) 

Sumber: CI.Grasp 2.0: Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK)

Gambar 10. Contoh salah satu rantai dampak iklim

Seandainya upaya mitigasi dapat menghentikan emisi karbon saat ini juga; dampak perubahan iklim tetap akan muncul akibat akumulasi emisi karbon yang sudah terjadi sebelumnya. Karena itu perlu dibuat suatu strategi adaptasi yang komprehensif dan melihat jauh kedepan.

Sumber : IPCC Fifth Assessment Report WG1. 2013

Gambar 11. Perubahan curah hujan rata rata Informasi lebih lanjut tentang dampak perubahan iklim dapat dilihat di: CI.Grasp: http://www.pik-potsdam.de/cigrasp-2/ic/ic.html

NASA: http://climate.nasa.gov/effects/

5.5. Strategi Adaptasi

Adaptasi adalah proses penyesuaian terhadap kondisi iklim yang berubah serta dampaknya. Adaptasi perubahan iklim bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dan memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan iklim pada kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup. Adaptasi dapat dilakukan pada sistem budidaya (permukiman) atau pada sistem alam (ekosistem). Adaptasi dilakukan dengan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Ketahanan adalah kemampuan suatu sistem untuk mempertahankan struktur dan fungsinya dari suatu tekanan, dan kemampuan berinovasi untuk menjadi lebih baik. Dalam SDGs adaptasi perubahan iklim adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu membuat strategi adaptasi perubahan iklim karena:

A. Dampak perubahan iklim dan kerentanan berbeda antara satu daerah dengan yang lain. Tidak ada suatu strategi yang sama yang dapat dipakai untuk semua daerah. Strategi adapatasi perubahan iklim harus locally specific.

B. Penilaian besarnya risiko merupakan hal yang subjektif; karena itu pengelolaan risiko harus dilakukan oleh pemerintah daerah yang terdekat dengan risiko itu.

C. Adaptasi perubahan iklim hanya dapat efektif bila didukung oleh masyarakat dan swasta karena itu perlu partisipasi mereka di tingkat lokal.

D. Kehilangan dan kerusakan (lost and damage) akibat perubahan iklim akan dirasakan oleh semua daerah, adaptasi yang baik dapat mengurangi kerugian di daerah masing-masing.

Adaptasi perubahan iklim memiliki perpotongan dengan bidang ketahanan pangan; air bersih / sanitasi dan pengurangan risiko bencana. Selain itu adaptasi memiliki hubungan erat dengan bidang tata ruang, kesehatan, dan lingkungan hidup. Masalah perubahan iklim tidak bisa diselesaikan oleh satu sektor saja, upaya ini harus dikerjakan bersama beberapa sektor dan juga melibatkan masyarakat dan swasta. Karena itu adaptasi perubahan iklim harus terarus-utamakan dalam rencana pembangunan sektor-sektor strategis pada masing-masing daerah. Upaya bersama lintas sektor juga perlu dibuat untuk mengatasi risiko iklim.

5.6. Ketahanan Iklim

Tujuan RAN API adalah untuk membuat pembangunan yang berkelanjutan dan resilien terhadap iklim. Ketahanan adalah kapasitas individu, masyarakat, dan sistem untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dalam menghadapi tekanan dan gangguan, dan berubah jika diperlukan. (Rockefeller Foundation, 2013).

Kemampuan sistem sosial maupun ekologi dalam menghadapi gangguan dengan tetap mempertahankan struktur dan fungsi yang dimiliki, kapasitas mengorganisasikan diri, dan kapasitas untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan dan perubahan. Hal ini dimaksudkan untuk membuat manusia, masyarakat, dan sistem benar-benar siap untuk menghadapi berbagai kejadian fisik – baik natural maupun akibat manusia – dan pulih dengan cepat dan menjadi lebih kuat dari gangguan dan tekanan tersebut. (IPCC, 2007).

Ketahanan dapat ditingkatkan dengan pengurangan risiko iklim dan non iklim melalui adaptasi yang transformatif. Ketahanan harus dibangun pada semua level, mulai dari pusat, daerah sampai desa.

Gambar 12. Komponen resilience adaptasi perubahan iklim

Dalam peningkatan ketahanan iklim perlu digunakan pendekatan pada ketiga komponen diatas. Pengarus-utamaan dalam sistem fisik dilakukan agar mengurangi risiko gagal berfungsinya pelayanan masyarakat. Pengarus-utamaan pada institusi dibuat supaya terjadi transformasi dalam tata kelola menjadi lebih tangguh iklim. Sedangkan agent atau aparat perlu dikembangkan kapasitasnya.

Modul 9B: Kajian Kerentanan dan Risiko Perubahan Iklim

1. Tujuan Pembelajaran

Dalam modul ini diharapkan peserta pelatihan dapat: memahami konsep kerentanan dan risiko iklim; mampu merancang sebuah kajian kerentanan dan risiko iklim yang tepat untuk daerahnya; dan mampu menggunakan hasil-hasil kajian kerentanan ini dalam perencanaan pembangunan daerah.

2. Pokok Bahasan

5.1. Konsep kerentanan iklim dan faktor-faktornya: keterpaparan, sensitivitas dan rendahnya kemampuan.

5.2. Konsep risiko iklim dan faktor-faktornya.

5.3. Metodologi untuk kajian kerentanan berbasis wilayah.

5.4. Metodologi untuk kajian risiko masa sekarang dan masa mendatang. (dynamic risk analysis)

5.5. Tools untuk melakukan beberapa analisa dalam kajian risiko.

3. Metode

Modul ini diberikan dengan metode: presentasi dari narasumber, diskusi dan latihan studi kasus, dan presentasi hasil latihan.

Waktu yang dibutuhkan untuk modul ini: 6 jam pelajaran

4. Proses Pembelajaran

4. 1. Pengantar (10 menit)

Paparkan tujuan dan pokok bahasan sesi ini, serta metode pembelajarannya. Tekankan bahwa materi konsep perubahan iklim sangat mempengaruhi terhadap proses pembelajaran berikutnya. Selanjutnya pelatih atau fasilitator memperkenalkan

narasumber dan menyampaikan kepada peserta tentang sesi paparan. Selanjutnya pelatih atau fasilitator akan berperan sebagai moderator.

4. 2. Pemaparan/Presentasi Narasumber (45 menit)

Narasumber memberikan kerangka kerja dan metodologi kajian kerentanan disertai contoh-contoh kajian yang sudah pernah dilakukan di Indonesia. Presentasi sebaiknya dilakukan secara interaktif dan diberikan kesempatan pada peserta untuk langsung bertanya. Pelatih atau fasilitator mencatat poin-poin penting paparan dan memperhatikan dengan cermat peserta pelatihan, baik melalui bahasa tubuh maupun semangat peserta dalam mengikuti presentasi.

4.3 Diskusi Dengan Narasumber (20 menit)

Setelah sesi paparan berakhir, pelatih merangkum secara singkat apa yang disampaikan kepada narasumber. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk klarifikasi, meminta penjelasan lebih lanjut atau menyampaikan pandangan/pendapat terkait materi yang disampaikan. Proses dialog dapat dilakukan secara interaktif, artinya trainer tidak hanya memberikan kesempatan kepada peserta, tapi dapat langsung meminta peserta untuk menanggapi. Demikian juga kepada narasumber. Dapat meminta penjelasan lebih lanjut atau meminta pandangan terkait berbagai kasus yang ditemui di wilayah.

4.4 Latihan Membuat Kajian kerentanan Iklim: (90 menit)

Metode studi kasus akan sangat efektif untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap metodologi kajian kerentanan iklim. Sebelum pelatihan peserta sudah diminta untuk membawa data dan peta dari daerah masing-masing, Peserta diminta untuk membentuk kelompok; 5 sampai 7 orang dari daerah yang sama atau berdekatan, mereka kemudian membuat:

• Pemilihan kabupaten/kota studi kasus

• Daftar prioritas isu atau bidang strategi yang akan dikaji

• Melihat dampak iklim dan bencana hidromet yang pernah terjadi di lokasi. • Membaca proyeksi iklim untuk wilayah itu, dan ancaman iklim yang timbul.

• Analisa keterpaparan, sensitivitas dan kemampuan adaptif untuk salah satu bidang strategis.

• Analisa risiko iklim untuk salah satu bidang strategis.

Setelah selesai setiap kelompok mempresentasikan hasilnya pada kelas, narasumber dan fasiliator bermain peran sebagai “bupati/walikota”. “Kepala daerah” ini harus diyakinkan bahwa ancaman perubahan iklim di daerah ini nyata dan serius sehingga mau mengambil aksi.