• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul 8: Rencana Aksi Daerah-Gas Rumah Kaca

5. Bahan Bacaan 9B: Kajian Kerentanan dan Risiko Iklim

Kerentanan adalah kecenderungan suatu sistem untuk mengalami dampak negatif, kerentanan dipengaruhi oleh sensitivitas dan kemampuan menghadapi suatu tekanan iklim. Bila suatu sistem yang rentan terpapar oleh ancaman bahaya maka sistem itu memiliki risiko. Contohnya: sebuah kampung memiliki penduduk yang miskin dan terletak di bantaran sungai memiliki kerentanan pada banjir. Risiko iklim sifatnya dinamis, berubah-ubah setiap saat; tergantung pada perubahan kerentanan dan bahaya yang mengancam. Pada musim kemarau risiko kebakaran akan lebih besar daripada musim hujan.

Risiko iklim akan timbul bila suatu sistem rentan terpapar pada bahaya iklim. Perubahan pada sistem iklim dan sistem sosial ekonomi akan mempengaruhi risiko iklim. Sebaliknya dampak dari risiko iklim juga akan mempengaruhi sistem sosial ekonomi dan sistem iklim.

Sumber: IPCC Assessment Report 5; 2014

Gambar 13. Konsep Risiko Iklim

Kajian kerentanan dan risiko iklim dibuat untuk mengetahui risiko yang ada sekarang dan masa mendatang sebagai dasar untuk menentukan strategi adaptasi yang tepat. Dengan kajian ini kita dapat mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi risiko. Kajian kerentanan dan risiko harus dibuat berdasarkan data yang ilmiah yang dapat ditelusuri.

Kajian kerentanan dan risiko iklim: dirancang untuk menganalisis dan membangun pemahaman mengenai kerentanan perubahan iklim untuk mendukung proses pengambilan keputusan dan perencanaan kota (IPCC, 2012). Tujuan Kajian Kerentanan dan Risiko: menyediakan informasi mengenai profil, pola, dan perubahan risiko untuk menentukan prioritas, memilih strategi alternatif, dan merumuskan strategi baru. (IPCC, 2012)

Sebelum melakukan kajian kerentanan, perlu ditentukan dulu cakupan kajian ini (scope) yaitu: tujuan pembangunan yang mana yang akan dikaji; kondisi apa yang menentukan keberhasilannya; faktor iklim dan non-iklim apa yang bisa berpengaruh, jangka waktu perencanaan dan sumber daya yang tersedia. Terdapat beberapa opsi dalam melakukan kajian risiko, dari yang paling sederhana hingga yang mendalam. Komponen-komponen yang akan dikaji dalam proses kajian risiko iklim ditentukan berdasarkan sumber daya yang ada di kota (data, tenaga), ketersediaan waktu, dan tingkat kebutuhan untuk melakukan kajian yang mendalam.

*) seperti sistem: pertanian padi, perikanan

tangkap, air bersih, atau penganggulangan banjir dll.

Sumber: Penulis

Gambar 14. Bagan alur analisa kerentanan dan risiko level kabupaten/kota

5.1. Identifikasi Sektor Terdampak dan Pembentukan Kelompok Kerja

Dalam setiap daerah tentu ada beberapa sektor strategis yang menjadi prioritas. Sektor strategis ini dapat berbeda-beda antar daerah; seperti untuk daerah pesisir mungkin sektor perikanan dan kelautan menjadi penting sedangkan untuk daerah pedalaman yang menjadi sektor strategis mungkin pertanian atau perkebunan. Dalam uraian di bagian 1.3 telah disebutkan beberapa potensi dampak perubahan iklim dan akibatnya. Dalam identifikasi sektor yang terdampak iklim setiap daerah dapat memilih beberapa sektor yang besar kontribusinya pada kesejahteraan masyarakat, lingkungan hidup dan pendapatan daerah. Pemilihan sektor ini dilakukan dengan dialog antar berbagai pemangku kepentingan. Sektor-sektor yang berisiko iklim diperlihatkan dalam Tabel berikut ini.

Tabel 8. Sektor-sektor yang berisiko iklim

Pertanian Perhubungan

Perkebunan Penanggulangan bencana

Kelautan dan Perikannan Sosial (Pengentasan Kemiskinan)

Kesehatan Pariwisata

Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

(prasarana, air bersih dan sanitasi) Energi

Lingkungan Hidup Dan lain-lain.

Dengan kajian ini dapat diidentifikasi stakeholders mana yang perlu dilibatkan dalam tahap selanjutnya. Stakeholders yang terkait dengan masalah-masalah perubahan iklim ini perlu diundang untuk membahas bersama analisa kerentanan, risiko dan strategi adaptasi yang tepat. Bila di suatu daerah telah memiliki Kelompok Kerja Perubahan Iklim untuk RAD-GRK maka Pokja ini dapat dilanjutkan untuk Adaptasi Perubahan Iklim dengan menambah beberapa anggota baru sesuai dengan sektor yang dipilih. Pokja Perubahan Iklim juga perlu melibatkan perguruan tinggi setempat, komunitas masyarakat dan swasta. Elemen dari stakeholder non pemerintah ini berfungsi sebagai sumber informasi dan interpretasi informasi kerentanan dan risiko iklim dan juga untuk menilai pilihan adaptasi yang ada.

Tabel 9. Contoh Analisa potensi dampak iklim pada bidang bidang strategis Stresor iklim Pertanian

Bidang Strategis di daerah

Perkebunan Perikanan Pariwisata Air bersih & Sanitasi DLL…. Kekeringan Gagal panen Penurunan

produktivitas; Kebakaran --- Peningkatan biaya oprasional Krisis air bersih Hujan ekstrim Gagal panen Penurunan

produktivitas Gagal panen pd perikanan tambak Pengunjung Berkurang Krisis air bersih Kenaikan

permukaan laut

Penurunan

area produksi -- Kerusakan tambak Objek wisata pantai berubah

Intrusi air asin Kenaikan suhu Penurunan

produktivitas Penurunan produktivitas Berubahnya ruaya ikan --- ---Cuaca ekstrem Gagal panen Kerusakan alat

tangkap Rusaknya objek wisata Pengasaman

air laut --- --- Matinya terumbu karang

Sumber: ACCCRN Mercy Corp 2016

Gambar 15. Tahapan analisa kerentanan dan risiko iklim masa kini,

5.2. Analisis Kondisi Iklim dan Kejadian Cuaca Extrim Historis

Kondisi iklim historis adalah catatan tentang data curah hujan, dan suhu udara dalam kurun tiga puluh tahun terakhir. Data tersebut diolah dengan metode ilmiah yang dapat ditelusuri misalnya analisis kecenderungan, histogram, dan peluang. Tujuanya adalah untuk dapat melihat kondisi rata-rata iklim daerah kajian. Informasi ini diperlukan nanti untuk membuat analisa risiko iklim masa kini. Informasi tentang kondisi iklim historis dapat diperoleh di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Sumber: http://www.llansadwrn-wx.info/monthly/m_wea2014.html

Gambar 16. Contoh grafik rata-rata curah hujan bulanan dan tahunan

Selain itu dilakukan juga pengumpulan informasi tentang cuaca ekstrem yang pernah terjadi di daerah itu. Buatlah daftar kehilangan dan kerusakan akibat cuaca ekstrem seperti bencana kekeringan, banjir, longsor, abrasi pantai dan lain lain. Informasi dikumpulkan dengan cara wawancara; telaah pustaka; atau kunjungan lapangan. Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) juga mencatat kejadian bencana di daerah (http://dibi.bnpb.go.id ).

Tabel 10. Contoh kompilasi dampak iklim dan cuaca ekstrim antara tahun 1985-2015 di Kabupaten

Isu strategis Dampak iklim/cuaca Kerugian / Keuntungan Sumber Misalnya:

Ketahanan Pangan Kemarau pernah menyebabkan gagal panen di kecamatan a, b, c,……….. ………. hektar padi (kumulatif) Dinas Pertanian Banjir pernah merusak panen di

kecamatan a, b, c, …….. ………. hektar padi Dll…..

Kelautan dan Pesisir Badai menyebabkan perahu nelayan

tenggelam atau rusak Jumlah perahu tenggelam…….. rusak ……..

BPBD Pemanasan dan peningkatan

keasaman air laut membuat penurunan produktivitas rumput laut

…….Ton/hektar (rata-rata) Kelautan dan Perikanan… Jumlah tangkapan ikan tuna

meningkat… …… Ton

Air bersih dan

sanitasi Kemarau panjang pernah membuat krisis air bersih pada Kecamatan…….. Jumlah Keluarga……../Desa ….. Banjir telah mencemari sumur di desa

….. /kecamatan….. Jumlah desa ….. Dst…..

Dst…..

5.3. Analisa Skenario Iklim Masa Depan

Skenario iklim adalah prediksi perubahan iklim pada masa mendatang berdasarkan asumsi emisi gas rumah kaca tertentu. Skenario iklim digunakan untuk melihat perubahan kondisi iklim di suatu wilayah dibandingkan kondisi baseline. Untuk perencanaan pembangunan diperlukan skenario iklim sekitar 30 tahun ke depan. Untuk perencanaan infrastruktur seperti waduk atau pelabuhan diperlukan skenario iklim yang lebih panjang. Informasi mengenai skenario iklim dapat diperoleh dari lembaga resmi seperti BMKG atau IPCC. Yang diperlukan adalah informasi iklim daerah dengan resolusi yang detail yaitu 10 km atau 5 km. Jika informasi iklim yang diperlukan belum ada dan daerah memiliki sumberdaya yang cukup maka dapat saja membuat skenario sendiri sesuai dengan cara yang diatur dalam Permen KLHK no P33/2016.

Sumber KLH: KRAPI 2012

Proyeksi suhu dan curah hujan rata-rata ini kemudian dipakai untuk membuat analisa perubahan variabilitas iklim dan kejadian iklim ekstrem di masa mendatang. Variabilitas iklim adalah berubahnya pola musim, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem. Perubahan iklim dapat menyebabkan kemarau panjang disusul oleh hujan ekstrem di tempat yang sama. Dengan naiknya suhu udara dan laut, intensitas curah hujan dan badai dapat meningkat.

sumber : KLHK: KRAPI 2012

Gambar 18. Contoh proyeksi peluang hujan ekstrim di Tarakan 2099.

5.4. Pengkajian Dampak Kejadian Iklim yang Mengancam Fungsi Ekologis

Perubahan iklim akan menyebabkan rantai dampak yang luas. Hasil analisa iklim masa kini dan proyeksi iklim masa mendatang dipakai untuk mengkaji potensi dampaknya pada lingkungan hidup. Potensi dampak, atau disebut juga ancaman, dapat dievaluasi melalui studi pustaka atau laporan studi dampak iklim di daerah kajian. Penggunaan model empiris dan model dampak menggunakan variabel iklim untuk bahan kajian. Untuk memproyeksikan ancaman di masa mendatang ada beberapa metode yang dapat dipakai:

Tabel 11. Tipe Ancaman, Metodologi dan Parameter Utama

Tipe Ancaman Metodologi Parameter utama

Banjir Rob Cumulative inundation model and

scenario Storm surgeLa Nina Wind wave Sea Level Rise

Banjir HECRAS Curah hujan

Sea Level Rise Tipe tanah

Perubahan tataguna lahan

Tanah longsor GEOSLOPE Curah hujan

Kekeringan Water balance Curah hujan

Suhu Tipe tanah

Perubahan tataguna lahan Water budget Total run-off

Populasi Tataguna Lahan

FEM Water Aquafier geometri

Permiability Groundwater storage

Tipe Ancaman Metodologi Parameter utama

Pertanian. Crop production decline Crop production Crop yields Harvest area Kesehatan: • DBD • Malaria • Diare

Regresi dan korelasi Curah hujan Suhu udara Angka Kejadian Akses air dan sanitasi

Sumber: KLH, KRAPI 2012

.

Sumber: Cita Citarum ICWRMIP ABD 2014

Gambar 19. Contoh peta ancaman kekeringan

5.5. Analisa Kerentanan Masa Kini dan Masa Mendatang

Kerentanan atau vulnerability adalah kecenderungan suatu sistem mengalami dampak negatif dari suatu ancaman bencana. Kerentanan berbeda-beda menurut ancaman yang ada. Suatu desa yang memiliki ketahanan terhadap banjir bisa saja rentan terhadap kekeringan. Kerentanan ditentukan oleh keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas. Sensitivitas menambah kerentanan sedangkan kapasitas mengurangi kerentanan.

Sensitivitas

Kerentanan = ___________________________________________

Objek kerentanan dapat dibagi dua yaitu kerentanan sosial dan kerentanan biofisik. Untuk kerentanan sosial ada beberapa variabel umum yang menentukan sensitivitas diantaranya adalah: kepadatan penduduk, angka kemiskinan, presentase penduduk yang bertani dan nelayan. Sedangkan kapasitas ditentukan oleh tingkat pendidikan, pelayanan dasar kesehatan, aksesibilitas. Indeks Pembangunan Manusia dan tingkat capaian Standar Pelayanan Minimal juga dapat dipakai untuk mengukur kerentanan. Selain variable umum juga ada variable khusus untuk analisa kerentanan sektoral seperti: persentase sawah tadah hujan; kapasitas drainase, topografi, akses pada air bersih, dll.

Kerentanan biofisik adalah sensitivitas dan kapasitas suatu ekosistem menerima stres iklim. Daya dukung dan jasa lingkungan akan berubah sesuai dengan perubahan dan variabilitas iklim. Semakin tinggi keaneka-ragaman hayati suatu ekosistem semakin rentan terhadap perubahan.

Kerentanan sebagai sebuah kondisi bersifat dinamis, berubah-ubah seiring waktu. Karena itu kerentanan yang ada sekarang dan kerentanan tiga puluh tahun kemudian pasti berbeda. Untuk analisa kerentanan sosial masa mendatang perlu dibuat proyeksi demografis (kependudukan) dan ekonomi suatu daerah. Selain itu juga perlu diproyeksikan tata guna lahan, infrastruktur dan Indeks Pembangunan Manusia.

Tabel 12. Contoh Analisa Kerentanan Banjir di Kota X

Kerentanan

Terhadap Faktor Variabel Angka Kategori (1 sd 5) Skor

Hujan ekstrim dan

Banjir

Keterpaparan Luas banjir rata-rata

(historis) 29 ha 4 4

Kepadatan penduduk 1400 jiwa/ha

Sensitivitas Jumlah balita 5% 1 5

Angka kemiskinan 17% 2

Rumah tampa air bersih 23% 2 Kapasitas

Adaptif Cakupan drainaseRuang terbuka hijau 43%12% 31 9 Kesiapan siagaan sistem

peringatan dini banjir 24/7 5

Penilaian variabel kerentanan perlu dilakukan dengan expert judgement dalam sebuah tim. Bobot juga ditentukan oleh tim dengan metode Analytical Hierarchial Process. Masing masing tabel dibuat untuk data masa kini dan data proyeksi masa mendatang. Data kerentanan yang berupa distribusi angka harus dinormalisasi menjadi lima kelompok kerentanan: Sangat rendah; Rendah; Sedang; Tinggi dan Sangat Tinggi.

Gabungan data dari semua desa/kecamatan dipetakan dalam skala provinsi atau kota/ kabupaten. Hasilnya adalah peta kerentanan iklim yang menunjukan dimana wilayah yang sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah kerentanannya.

Sumber : KLH – KRAPI 2012

Gambar 20. Contoh: Peta Kerentanan Gabungan di Tarakan tahun 2010 dan 2030.

SIDIK: Untuk membuat analisa kerentanan dapat pula menggunakan Sistem Informasi

Data Indeks Kerentanan (SIDIK) online dari KLHK. Dalam website ini dapat dibuat analisa kerentanan per desa menggunakan data Podes. SIDIK bersifat fleksibel, setiap pemda dapat menambahkan indikator kerentanan yang cocok dengan kondisi daerahnya. Hasil dari SIDIK adalah: Indeks Keterpaparan dan Sensitivitas; Indeks Kapasitas Adaptasi; dan Indeks Kerentanan. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di: http://apps.cs.ipb.ac.id:8008/ administrator/dashboard

Sumber: KLHK

5.6. Analisis Risiko Iklim Masa Kini dan Masa Mendatang

Risiko adalah peluang terjadinya dampak negatif pada suatu sistem. Risiko iklim ditentukan oleh Ancaman atau Hazard (H) Kerentanan atau Vulnerability (V) dan Keterpaparan atau

Exposure (E) dengan rumus:

Risiko = H x (V x E)

Atau

Risiko = H x (S/C x E)

Ancaman dan kerentanan telah dijelaskan diatas; sedangkan keterpaparan atau exposure adalah cakupan, frekuensi dan lamanya suatu dampak iklim melanda sebuah daerah. Keterpaparan juga bersifat dinamis karena berubahnya lingkungan.

Untuk menghitung risiko setiap desa atau kecamatan digunakan langkah berikut: • Pertama, adalah mengalikan angka kerentanan dan keterpaparan (V x E)

• Kedua, normalisasi angka hasil perkalian kerentanan-paparan (V x E) dengan membagi distribusi angka menjadi 5 kelompok: Sangat rendah; Rendah, Sedang, Tinggi, dan Sangat Tinggi.

• Ketiga, normalisasi angka-angka ancaman (H) menjadi 5 kelompok juga.

• Keempat, memasukkan hasil normalisasi kerentanan dan ancaman ke dalam koordinat yang sesuai dibawah ini.

Tabel 13. Contoh tabel analisa risiko

Sangat Rendah Ancaman

Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Ker en tanan Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Risiko Sangat Rendah Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Risiko Sangat Tinggi

Sumber: modifikasi dari KRAPI, KLH 2012

Proses ini diulangi untuk tiap desa/kecamatan sehingga dapat disusun daftar risiko daerah untuk tiap jenis ancaman seperti contoh dibawah ini:

Tabel 14. Contoh daftar risiko pertanian padi per kecamatan di Malang

Sumber KRAPI, KLH 2012

Data tingkat risiko ini kemudian dipindahkan ke atas peta daerah pertanian seperti contoh di halaman berikut.

sumber KLH: Krapi 2012

Gambar 22. Contoh peta risiko pertanian padi di Kabupaten Malang 2030

5.7. Analisis Kapasitas Kelembagaan Dalam Mengendalikan Dampak

Perubahan Iklim

Untuk menghadapi perubahan iklim diperlukan tata kelola pemerintahan daerah yang baik (good governance). Analisa kapasitas kelembagaan dilakukan dengan telaah pustaka, wawancara, survei, atau diskusi terfokus. Kapasitas yang dipetakan adalah: Kebijakan, Program dan Anggaran. Di samping itu dilihat juga kesiapan untuk berubah, inovasi dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan

Tabel 15. Contoh analisa kapasitas kelembagaan

Lembaga Tupoksi terkait API Program/kegiatan terkait API Anggaran/tahun SDM pelaksana Dinas PU Pengelolaan

Pengairan Pemeliharaan saluran irigasi Rp ………. S2 Teknik Sipil … OrangS1 Teknik Sipil … Orang STM Bangunan Orang Pembangunan Embung Rp ……..

Dll……..

Dinas Pertanian Mendukung capaian

produksi pangan Sekolah lapang iklim Rp ……….,- S2 Pertanian: ….OrangS1 Bidang penyuluhan ….Orang

Penyuluhan pemanfaatan

kalender tanam Rp ………,-Dll…

Dinas

Kesehatan Pengendalian penyakit menular Surveillance DBD, dan Malaria. Rp……..,- Dokter Spesialis: ….Dokter Umum: …. Mantri: …. Jumantik: ….. PDAM

Dll ……

Dari informasi ini dapat dilihat mana lembaga yang sudah sesuai dengan tantangan API dan mana yang masih perlu diperkuat kapasitasnya. Dapat pula dianalisa strategi adaptasi mana yang sudah terakomodasi dalam program-program pemda. (analisa kompatibilitas)

Modul 10: Penyusunan Strategi Adaptasi Perubahan Iklim