BAB 2 KAJIAN PUSTAKA
2.1.3 Bahan bacaan
Dalam aktivitas membaca terdapat bahan bacaan yang menjadi objek bacaan. Bahan bacaan yang dibaca pada aktivitas membaca untuk kesenangan adalah bacaan-bacaan yang menghibur dan biasa dibaca pada waktu luang. Hurlock (1978) menyebutkan bahwa terdapat tiga media bacaan yang populer di kalangan anak-anak, yaitu buku, majalah, dan koran. Kesukaan anak untuk membaca koran dan majalah dapat dikaitkan dengan pernyataan Bond dan wagner (1960) bahwa anak-anak menyukai bahan-bahan bacaan yang faktual.
Menurut Sanderson (2001), waktu untuk membaca surat kabar (majalah dan koran) telah menjadi waktu yang menyenangkan dan telah populer bagi banyak
sekali orang di dunia. Salah satu alasannya adalah di dalam surat kabar terdapat berbagai materi yang beragam. Beragamnya materi yang terkandung dalam satu eksemplar surat kabar, memungkinkan adanya hal yang bernilai atau menarik perhatian seorang pembaca.Pada penelitian ini tidak dibatasi jenis bacaan yang diminati siswa.
2.1.4 Pengertian Minat Membaca
Secara operasional Lilawati (1988) dalam Sandjaja, mengartikan minat membaca anak adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan anak untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca oleh anak.
Sinambela (1993) dalam Sandjaja, mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Berdasar pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca.
2.1.5 Faktor- faktor yang mempengaruhi minat membaca
Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca, yaitu faktor personal dan faktor institusional (Purves dan Beach, dalam Harris dan Sipay, 1975). Faktor personal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, inteligensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor di luar diri seseorang, yaitu meliputi ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya .
1. Faktor Personal
Faktor personal merupakan faktor – faktor dalam diri yang dapat mempengaruhi minat membaca bervariasi antar individu.
a. Usia
Minat baca tidak tetap, melainkan berubah seiring dengan bertambahnya usia (Harris, 1975).
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempengaruhi minat baca seseorang (Harris & sippay, 1975).
c. Inteligensi
Harris & Sippay (1975) menyatakan bahwa sebenarnya belum ada hubungan yang jelas antara inteligensidengan minat membaca. Meskipun demikian, minat membaca berpengaruh dalam pemahaman bacaan seseorang.
d. Kemampuan membaca e. Sikap Terhadap Membaca
Sikap tidak selalu berpengaruh terhadap minat, namun demkian minat melibatkan sikap yang dimiliki individu (Harris & Sippay, 1975). Apabila membaca memenuhi suatu kebutuhan, biasanya sikap positif terhadap membaca akan berkembang. Meskipun demikian, sikap positif terhadap membaca tidak berarti membuat seseorang menjadi aktif membaca.
f. Kebutuhan Psikologis
Minat membaca seseorang akan meningkat ketika kegiatan membaca dapat memenuhi kebutuhan psikologisnya. Menurut Dechand (1969), ketika kegiatan membaca diasosiasikan dengan pemenuhan kebutuhan seseorang, maka kegiatan membaca menjadi sesuatu yang bermakna. Pengulangan aktivitas ini akan mendorong perkembangan minat membaca yang akan bertahan lama. Pada tahap ini, membaca menjadi motif kebiasaan dan dapat mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas lain yang berhubungan dengan membaca.
2. Faktor Institusional
Faktor institusional merupakan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi minat membaca seseorang. Faktor- faktor institusional minat membaca antara lain: a. Ketersediaan buku
Menurut Harris & Sippay (1975), akses dan ketersediaan buku memiliki pengaruh besar dalam pilihan untuk membaca. Jumlah dan jenis bahan
bacaan di rumah seorang memiliki hubungan yang nyata dengan kebiasaan seseorang dalam membaca. Seseorang akan membaca apapun yang tersedia. b. Status ekonomi dan latar belakang etnis
Sebagian besar penelitian menunjukan bahwa status ekonomi seseorang tidak terpengaruh secara signifikan terhadap minat membaca (Harris & Sippay, 1975). Meskipun demikian, Hurlock (2005) menyatakan bahwa anak-anak berasal dari kelompok keluarga sosial ekonomi yang lebih baik menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca. Hal ini karena anak-anak ini memiliki lebih banyak bahan bacaan yang tersedia di rumah mereka dan mereka juga menerima lebih banyak dorongan untuk membaca untuk kesenangan.
Disisi lain, penelitian tentang pengaruh latar belakang etnis terhadap minat membaca masih menunjukkan keberagaman penemuan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada minat membaca seseorang yang berasal dari etnis yang berbeda pada semua tingkat usia (Harris & Sippay, 1975).
c. Pengaruh teman sebaya, orang tua, dan guru
Lingkungan anak meliputi orang tua, teman sebaya, dan guru mempengaruhi minat membaca melalui rekomendasi yang diberikan. Pengaruh lain diberikan pada saat pemberian tugas-tugas membaca untuk anak. Selain itu, orang tua dan guru juga secara tidak langsung menjadi contoh bagi anak dalam melakukan kegiatan membaca.Begitu pula dengan antusiasme guru
juga dapat memberikan pengaruh yang penting dalam pengembangan minat membaca.
d. TV dan Film
Pengaruh media lain terhadap minat membaca sangat kompleks (Harris & Sippay, 1975). TV sering kali diangap sebagai penyebab menurunnya aktivitas membaca apabila anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton program yang hanya menghibur, tidak mendidik (Sangkeo, 1999 dalam Sandjaja).Waktu luang anak diperebutkan oleh kegiatan membaca dan bersaing dengan kegiatan rekreasional lainnya serta dengan kegiatan belajar. Harris dan Sippay (1975) mengungkapkan bahwa anak-anak yang tidak suka membaca akan menemukan hal lain untuk dilakukan dalam waktu luangnya. Sebaliknya, anak yang memang suka membaca akan menemukan waktu untuk membaca seberapa menarikpun saingan yang ada. Apabila anak menemukan bahwa membaca adalah hal yang mudah, menarik, dan dapat diakses, tidak perlu lagi menyalahkan media lain yang dianggap mengalihkan perhatian anak untuk membaca.
Dari berbagai faktor yang mempengaruhi minat baca anak yang telah disebutkan diatas, penelitian ini akan fokus pada dua faktor untuk dilihat lebih jauh hubungannya terhadap minat membaca anak. Faktor-faktor yang akan diteliti meliputi: pengaruh orangtua (dukungan orangtua), sikap terhadap membaca, dan jenis kelamin.
Munandar (1986) menemukan ada perbedaan minat anak terhadap isi cerita ditinjau dari perkembangan usia kronologis anak. Pada usia 3 s/d 8 tahun
anak menyukai buku cerita yang berisi mengenai binatang dan orang–orang di sekitar anak. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya. Mereka juga menyukai cerita khayal dan dongeng. Pada usia 8–12 tahun anak menyukai isi cerita yang lebih realistik.
Munandar juga menemukan ada perbedaan umum antara minat membaca anak laki-laki dan perempuan dalam sifat dan tema cerita, walaupun perbedaan ini tidak bersifat pilah sama sekali; artinya anak-anak perempuan juga menikmati bacaan anak-anak laki-laki dan sebaliknya. Pada umumnya anak-anak perempuan menyukai buku cerita dengan tema kehidupan keluarga dan sekolah. Anak laki-laki lebih menyukai buku cerita mengenai pertualangan, kisah perjalanan yang seram dan penuh ketegangan, cerita kepahlawanan dan cerita humor.
2.2 Dukungan Orangtua Dalam Membaca
2.2.1 Pengertian Dukungan Orangtua
Keluarga sebagai tempat yang pertama kali dikenal oleh individu, keluarga mempunyai peran yang cukup penting bagi individu dalam bersosialisasi di masyarakat. Oleh karena itu, dukungan orangtua sangat penting bagi individu dalam menjalani kehidupannya. Dukungan orangtua itu sendiri merupakan bagian dari dukungan sosial. Seperti dikatakan Sarafino (1994) bahwa sumber dukungan sosial meliputi: orang-orang disekitar individu (keluarga, teman dekat,atau rekan), professional, dan kelompok dukungan sosial.
Adapun definisi dukungan sosial menurut Sarafino (1994) yaitu bentuk penerimaan dari seseorang atau sekelompok rang terhadap individu yang menimbulkan persepsi dalam dirinya bahwa ia disayangi, diperhatikan, dihargai dan ditolong. Hal senada juga disampaikan oleh Taylor (2003), bahwa:
“Sosial support has been defined as information from others that one is loved and cared for, asteemed and valued, and part of a network of communication and mutual obligations from parens, a spouse or lover, other relatives, friends social and comunity contacts (such as churches or clubs), or even a devoted pet”.
Dukungan sosial merupakan bentuk pemberian informasi serta merasa dirinya dicintai dan diperhatikan, terhormat dan dihargai, serta merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan kewajiban timbal-balik dari orangtua, kekasih atau kerabat, teman, jaringan lingkungan sosial serta dalam lingkungan masyarakat. Sedangkan Gottlieb (1983) mendefinisikan dukungan sosial, sebagai berikut:
“Social Support consist of the verbal and or non-verbal information or advice, tangible aid, or action that is proffered by social intimates or inferred by their presence and has benefical emotional or behavioral effect on the recipient.”
Dukungan sosial terdiri dari informasi verbal atau non verbal atau nasehat, bantuan yang nyata atau terlihat, atau tingkah laku yang diberikan oleh orang- orang yang akrab dengan subjek didalam lingkungan sosialnya dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku peneriamaannya.Dalam hal ini, orang yang merasa memperoleh dukungan sosial
secara emosional merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya.
Sarason (2001) yang mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita.
Brehm dan Kassin (1993) mengemukakan empat definisi dukungan sosial, yaitu:
1. Berdasarkan kontak sosial
Dukungan sosial dilihat dari banyaknya kontak sosial yang dilakukan oleh individu. Pengukuran kontak sosial dalam konteks ini dilihat dari status perkawinan, hubungan saudara atau teman, keanggotaan dalam organisasi informal.
2. Berdasarkan jumlah pemberian dukungan
Dukungan sosial diartikan sebagai jumlah individu yang memberikan bantuan kepada seseorang yang membutuhkan. Semakin banyak individu memberikan bantuan, semakin sehat kehidupan individu tersebut.
3. Berdasrkan kedekatan hubungan
Dukungan sosial disini didasarkan pada kualitas hubungan yang terjalin antara pemberi dan penerima dukungan, bukan kuantitas pertemuan.
4. Berdasarkan tersedianya pemberi dukungan
Individu yang yakin bahwa akan ada orang yang akan membantunya bila ia mengalami kesulitan, kecenderungan lebih percaya diri dan sehat daripada
individu yang tidak merasa yakin bilamana ada orang bersedia membantunya. Hal ini senada dengan Sarason (2001) yang menyatakan dukungan sosial merupakan tersedianya sumber yang dapat dipanggil seketika bila dibutuhkan untuk memberi dukungan.
Weiss (dalam Cutrona, 1994) mengemukakan dukungan sosial sebagai hubungan dari orang-orang yang dapat diandalkan, bimbingan serta kedekatan emosional terhadap suatu individu membuat dirinya mendapatkan pengakuan. Adapun komponen-komponen menurut Weiss dapat berdiri sendiri, namun satu sama lain saling berhubungan, dan Weiss membaginya kedalam jenis-jenis dukungan sosial yaitu reliable alliance, reassurance of worth, attachment, guidance, socialintegration dan opportunity for nurturance.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian, dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita, yang bertujuan untuk membantu kita dalam mengatasi atau menghadapi suatu masalah pada situasi tertentu atau peristiwa yang menekan, serta membuat kita lebih berarti.
Dukungan sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dukungan sosial yang berasal dari keluarga khususnya orang tua, karena orang tua merupakan orang terdekat yang berperan penting dalam proses membaca anak.
2.2.2 Jenis-jenis dukungan orang tua
Menurut Sarafino (1998) membagi dukungan sosial menjadi 5 bentuk, yaitu :
Dukungan emosional adalah suatu bentuk dukungan yang diekpresikan melalui empati, perhatian, kasih sayang dan kepedulian terhadap individu lain. Bentuk dukungan ini dapat menimbulkan rasa nyaman, perasaan dilibatkan dan dicintai pada individu yang bersangkutan. Dukungan ini juga meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain.
2. Dukungan penghargaan (esteem support)
Dukungan penghargaan adalah suatu bentuk dukungan yang terjadi melalui ekspresi seseorang dengan menunjukkan suatu penghargaan positif terhadap individu, dukungan atau persetujuan tentang ide-ide atau perasaan dari individu tersebut dan perbandingan positif dari individu dengan oranglain yang keadaannya lebih baik atau lebih buruk. Bentuk dukungan ini bertujuan untuk membangkitkan perasaan berharga atas diri sendiri, kompeten dan bermakna.
3. Dukungan instrumental (instrumental support)
Dukungan instrumental adalah bentuk dukungan langsung yang diwujudkan dalam bentuk bantuan material atau jasa yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah secara praktis. Contoh dukungan ini seperti pinjaman atau sumbangan uang dari orang lain, penyediaan layanan penitipan anak, penjagaan dan pengawasan rumah yang merupakan bantuan nyata berupa materi atau jasa.
4. Dukungan informasi ( information support)
Dukungan informasi adalah suatu dukungan yang diungkapkan dalam bentuk pemberian nasehat atau saran, penghargaan, bimbingan atau pemberian umpan balik, mengenai apa yang dilakukan individu, guna untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
5. Dukungan jaringan sosial (network support)
Dukungan yang berasal dari jaringan ini merupakan bentuk dukungan dengan memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok serta berbagi dalam hal minat dan aktifitas sosial.
Weiss dalam (Cutrona, 1994), membagi dukungan sosial kedalam 6 bagian yang berasal dari hubungan dengan individu lain yaitu :
1. Reliable aliance (hubungan yang dapat diandalkan)
Pengetahuan yang dimiliki individu bahwa individu dapat mengandalkan bantuan yang nyata yang dibutuhkan, individu yang menerima bantuan ini akan merasa tenang karena individu menyadari ada orang yang dapat diandalkan untuk menolong bila individu menghadapi kesulitan
2. Guidance (bimbingan)
Dukungan sosial berupa nasehat dan informasi dari sumber yang dapat dipercaya.
3. Reassurance of Worth (adanya pengakuan)
Dukungan sosial ini berbentuk pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu, dukungan ini akan membuat individu
merasa dihargai dan diterima, misalnya memberikan pujian kepada individu karena telah melakukan sesuatu yang baik.
4. Attachment ( kedekatan emosional)
Dukungan ini berupa pengekpresian dari kasih sayang dan cinta yang diterima individu, yang dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerimanya,
5. Soscial integration (integrasi sosial)
Dikaitkan dengan dukungan yang dapt menimbulkan perasaan memiliki pada individu karena menjadi anggota didalam kelompok dalam hal ini dapat membagi minat, serta aktifitas sosialnya sehingga individu merasa dirinya dapat diterima oleh kelompok tersebut.
6. Opportunity to nurturance ( kesempatan untuk mengasuh)
Dukungan ini berupa perasaan bahwa individu dibutuhkan oleh orang lain, jadi dalam hal ini subjek merupakan sumber dukungan bagi orang yang mendukungnya.
2.2.3 Dukungan Orang Tua pada Remaja
Dukungan sosial yang didapatkan individu dari orangtuanya dapat diandalkan individu didalam kehidupan sehari-harinya, dimana individu dapat mempersepsikan bentuk dukungan orangtua yang ia terima, yaitu dalam hal kepedulian yang dialami, menyayangi, menghargai, memberikan berbagai informasi, dan menumbuhkan kepercayaan diri pada individu tersebut.
Hubungan remaja dengan orang yang lebih dewasa, khususnya orangtua, dan perjuangan secara bertahap untuk membebaskan diri dari dominasi mereka
agar sampai pada tingkat orang dewasa, menjadi masalah yang paling serius sepanjang kehidupan dan membuatnya sangat sulit beradaptasi. Keinginan untuk bebas pada diri remaja ini tidak dibarengi oleh kemampuannya untuk beradaptasi yang baik, sehingga orangtua seringkali mengintervensi dunianya, padahal yang dibutuhkan oleh remaja adalah suasana rumah yang baik (dalam Al-Mighwar, 2006).
Para ahli kesehatan mental berpendapat bahwa rumah yang baik adalah rumah yang memperkenalkan segala kebutuhan remaja berikut tantangannya agar bisa bebas, lalu membantu dan memotivasinya secara maksimal, dan memberikan kesempatan serta nasehat yang mengarah pada kebebasan. Lebih dari itu, remaja juga harus dimotivasi agar berani bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan merencanakan masa depannya. Semua itu harus dilakukan keluarga melalui berbagai upaya positif dan konstruktif, secara sengaja dan terencana, sehingga remaja berusaha sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin untuk memperkuat kematangan dirinya. Menghormati kecenderunganya untuk bebas merdeka tanpa mengabaikan perhatian padanya dianggap sebagai strategi paling bagus dan tepat, karena selain bisa menimbulkan saling percaya antara orangtua dan anak, juga membukakan jalan kearah adaptasi yang baik agar mampu mengurangi kecenderungan kenakalan pada remaja (dalam Al-Migwar, 2006).
Hubungan yang dekat dengan orangtua juga penting dalam perkembangan remaja karena hubungan ini berfungsi sebagai contoh atau cetakan yang akan
dibawa terus dari waktu ke waktu untuk mempengaruhi pembentukan hubungan baru (Santrock, 2003).
Burns (1984) mengungkapkan tujuh hal yang dapat dilakukan orang tua dalam rangka membantu kegiatan belajar membaca anak dirumah:
1. Menjaga hubungan dengan anak dalam program belajar membaca dengan rajin menanyakan perkembangan belajar membacanya
2. Menjadi pendengar dan penanya yang baik
3. Mendukung anak untuk menyelesaikan tugas membaca buku
4. Membantu menyediakan ruangan, waktu dan peralatan yang dibutuhkan untuk belajar
5. Mendukung anak untuk berpartisipasi dalam pameran buku atau kegiatan membaca lainnya
6. Membantu anak saat dia menemui kesulitan dalam membaca
7. Memberikan penilaian yang baik terhadap pekerjaan rumah dan mengekspresikan antusiasme ketika anak bertanya.
Dapat disimpulkan bahwa dukungan orangtua dalam membaca adalah segala bentuk bantuan atau sokongan dari orangtua yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita, yang bertujuan untuk membantu kita dalam minat membaca sehingga membuat kita menjadi lebih berarti, berupa Reliable alliance, Reassurance of worth, Attachment, Guidance,Social integratin, dan Opportunity for nurturance.
2.3 Sikap
2.3.1 Pengertian sikap
“Attitude toward reading. How an individual person feels about reading, engaging in reading activities, and receiving materials for reading “ McKenna (dalam Baccuss, 2004)
Sikap terhadap membaca adalah bagaimana seseorang merasa tentang membaca, terlibat dalam kegiatan membaca, dan menerima materi-materi dari membaca McKenna (dalam Baccuss, 2004)
Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu. Sikap mempengaruhi perilaku individu. Seorang individu yang mempunyai sikap yang positif terhadap suatu objek akan mendorongnya kepada perilaku yang positif dan mengarah untuk mendukung sikapnya itu. Demikian pula sebaliknya, seorang yang mempunyai sikap negatif terhadap suatu objek akan menunjukkan perilaku negatif terhadap objek itu. Sikap dapat bersumber dari orangtua, guru, dan anggota kelompok. Pada waktu usia muda, individu memodelkan sikapnya menurut orang yang dikagumi dan dihormati (significant others). Sikap penting karena sikap itu mempengaruhi perilaku kerja seseorang.
Dari uraian diatas maka yang dimaksud dengan sikap terhadap membaca berarti suatu keyakinan, pikiran, perasaan, keinginan, dan tanggung jawab seorang terhadap membaca, diperlihatkan dalam rasa senang dan mencintai, selalu bersikap positif.
2.3.2 Komponen Sikap
Ada tiga komponen dari suatu sikap yaitu: komponen kognitif, komponen afektif dan komponen perilaku. Komponen perilaku dari suatu sikap rujukan ke suatu maksud untuk berperilaku dengan suatu cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Namun istilah sikap (attitude) pada hakekatnya merujuk ke bagian afektif dari tiga komponen itu (Robbins, 1996).
2.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
Pembentukan sikap tidak terjadi begitu saja melainkan terbentuk melalui suatu proses tertentu. Melalui interaksi yang dilakukan individu dengan individu lainnya atau individu dengan lingkungannya, dalam hubungan ini faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
Faktor intern, yaitu faktor–faktor yang terdapat dalam diri individu diantaranya:
1. Pengalaman pribadi
Apa yang sedang dan telah kita alami akan membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulasi sosial. Apakah penghayatan itu kemudian akan membentuk sikap membentuk sikap positif atau negatif tergantung pada berbagai faktor lain.
2. Faktor emosi
Terkadang suatu bentuk sikap merupakan penataan yang tidak didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyalur frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego dan tidak selalu dibentuk oleh situasi lingkungan
atau pengalaman pribadi seseorang. Suatu contoh bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah simpati. Simpati adalah penilaian terhadap suatu hal berdasarkan perasaan atau ketertarikan kepada orang lain oleh karena simpati merupakan perasaan maka simpati timbul tidak atas dasar logis rasional melainkan atas dasar emosi dan atas itulah ia membentuk sikapnya.
Faktor ekstern, yaitu faktor-faktor yang terdapat diluar diri individu tersebut, diantaranya:
1. Orang lain yang dianggap penting
2. Seseorang yang kita anggap penting yang kita harapkan persetujuannya disetiap gerak langkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita (significant others). Akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu diantaranya: orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, teman kerja, istri, suami dan lain-lain.
3. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Seorang ahli Psikologi Burrhuss Frederic Skiner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Menurutnya, kepribadian tidak lain adalah pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforment yang kita alami.
4. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa baik media massa cetak maupun elektronik. Mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi