BAB III METODE PENELITIAN
4.5 Makna Makanan Bubur Pedas
Menurut (Foster dan Anderson 1986 : 317), secara simbolis makanan sedikitnya dapat berupa empat ungkapan, yakni :
a. Ikatan sosial
b. Solidaritas kelompok
c. Makanan dan ketegangan jiwa d. Simbolisme makanan dalam bahasa
Makanan sebagai ungkapan ikatan sosial, mempunyai makna mempersembahkan cinta, kasih dan persahabatan.Menerima makanan berarti mengakui dan menerima perasaan yang diungkapkan.
Makanan sebagai ungkapan solidaritas kelompok, di Indonesia makanan pada malam hari sering berfungsi sebagai pemelihara solidaritas keluarga, dan biasanya makanan yang sering disajikan bersifat tradisional baik dari keluarganya baik suku bangsanya.
Makanan dan ketegangan jiwa, makanan dapat menggambarkan identitas suatu kelompok, hal ini disebabkan karena dapat mengembalikan ketenangan orang yang sedang mengalami ketegangan jiwa.
Simbolisme makanan dalam bahasa, didalam banyak bahasa dunia, sifat suasana hati dan diibaratkan dengan kualitas atau keadaan makanan.Misalnya orang yang belum dewasa secara emosional disebut setengah mateng.
Dalam pembahasan ini Bubur Pedas adalah salah satu makanan khas Sumatera Utara khususnya di Budaya Melayu. Bubur Pedas sendiri merupakan salah satu makanan tradisional etnis Melayu. Budaya Melayu yang ada di Sumatera Utara khususnya di Hamparan Perak merupakan daerah yang mayoritas penduduknya bersuku Melayu.Makanan tradisionalnya seperti Bubur Pedas merupakan menu wajib yang harus ada ketika bulan Ramadhan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur pedas sangat banyak
sekali jenisnya, selain itu memenuhi kebutuhan gizi dan juga dapat menyehatkan tubuh dan selalu diadakan pada saat bulan suci Ramadhan yang sangat banyak digemari oleh semua kalangan baik dari yang muda sampai yang tua, sebab bubur pedas tersebut sangat berkhasiat untuk kesehatan tubuh, menghangatkan tubuh serta membuat badan menjadi terasa lebih sehat papar (Hamida 2016 : 06).
Selain itu Bubur pedas tersebut memilikinama lain yaitu bubur pahit. Bubur pahit sama saja dengan sebutan bubur pedas karena cara pembuatannya yang sangat unik, Bubur pedas atau bubur pahit juga mempunyai makna tersendiri seperti dengan cara memasaknya mereka yang saling bantu-membantu, saling bergotong royong, dengan keikhlasan, mempererat tali silaturrahmi, dan secara sukarela mengerjakan masakan tersebut tanpa dibayar.
Dalam masyarakat Melayu di Malaysia dan Melayu Sambas sangat mengenali makanan tradisi tersebut di budaya mereka yaitu bubur pedas. Di Indonesia juga sangat mengenali makanan tradisional tersebut. Namun di Malaysia mereka menyebutnya dengan sebutan bubur lambok, sementara di Sambas lebih dikenal dengan namabubbor paddas. Di Indonesia juga memiliki makanan khas sama seperti yang ada di Negara tetangga tersebut, khususnya di Sumatera Utara yang lebih dikenal dengan sebutan Bubur Pahit (Bubur Pedas).
Makna makanan bubur pedas sendiri yang di paparkan oleh (Hamida 2006 : 06) adalah untuk mempererat tali silaturrahmi, menjalin persaudaraan tanpa putus karna dengan cara mereka memasaknya secara bergotong royong dan sukarela tanpa dibayar sama sekali.
Selain itu juga cara memasak bubur pedas merupakan suatu tradisi di masyarakat tersebut setiap satu tahun sekali khususnya pada bulan puasa atau ramadhan.
Selain itu bubur pedas merupakan makanan yang cocok untuk berbuka puasa dengan rempah-rempah yang digunakan yang sehingga dapat menyehatkan tubuh setelah seharian berpuasa.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan :
Bahwa menurut sejarahnya, tradisi warisan berbuka puasa dengan menyajikan bubur pedas yang ada di daerah Sumatera Utara ini telah ada sejak masa Kesultanan Deli pertama kali tahun 1909. Saat itu Tanah Deli dipimpin Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah.Warisan budaya tersebut terus berlangsung sampai saat ini, ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.Bubur Pedas merupakan kuliner asli budaya Melayu yang ada di Hamparan Perak, karena dedaunan yang dipakai untuk membuat bubur pedas itu sendiri adalah tanaman asli yang ada di hutan dari Hamparan Perak. Dalam masyarakat Melayu Sumatera Utara makanan adalah bagian dari prilaku kreatif masyarakatnya sehingga sesuatu masakan merupakan ciri suasana dan komunitasnya di suatu wilayah atau tempat.
Cara dan bahan suatu masakan bisa menggambarkan etika dan seni karena menjadi bagian-bagian upacara adat. Menurut Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah bahwa bubur pedas adalah makanan khas suku Melayu yang asalnya dari tanah Deli yaitu Sumatera UtaraKonsep makanan tersebut pada Masyarakat Melayu Hamparan Perak memiliki gizi yang tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, karena bahan-bahan ataupun rempah-rempah yang digunakan untuk membuat Bubur Pedas tersebut kebanyakan bahannya alami dan bumbunya diolah sendiri dan dedaunannya pun langsung dipetik dari hutan dan adapun yang tinggal di beli di pasar saja.
Cara memperoleh makanan tersebut terbagi dua kategori yaitu :
Langsung mengambilnya dari alam dan langsung memproduksinya.Dari dua kategori tersebut merupakan kepercayaan, keyakinan, dan keagamaan yang bersifat sekadarnya maupun yang semarak.
Cara pengolahan makanan tersebut sangat unik dan ada nya pada bulan ramadhan saja, setelah itu harus dimasak terlebih dahulu sehingga disanalah terdapat jalinan kekeluargaan, karena mereka saling bergotong royong untuk memasaknya dan jalinan silaturahmi tetap terjaga sampai sekarang.Adapun campuran bahannya banyak yang diambil dari berbagai macam dedaunan yang berkhasiat yang diperoleh dari hutan mau pun yang di beli di pasaran.
Cara penyajiannya yang sangat berbeda dan bersifat sederhana pula dan itu dikarenakan mereka hanya menggunakan piring ataupun mangkok saja. Cara penyajiannya juga yang disajikan di mesjid-mesjid ataupun dirumah masing-masing karena makanan bubur pedas ini adalah makanan tradisi yang wajib adaa pada bulan ramadhan.
Makna makanan yang terkadung di dalam Makanan Tradisional Bubur Pedas tersebut sangat berbeda, karena dengan memasak yang secara bersama-sama dapat mempererat tali silaturrahmi, menjalin kekerabatan yang tiada putus dalam kehidupan sehari-hari mereka dan semua itu dapat dilihat dari cara pembuatannya dan merupakan menu wajib berbuka puasa yang bisa menghangatkan tubuh setelah seharian berpuasa.
5.2 Saran
Adapun saran-saran yang sangat diharapkan peneliti untuk Masakan Tradisional Masyarakat Melayu khususnya di Hamparan Perak adalah sebagai berikut:
1. Peneliti mengharapkan agar lebih banyak lagi yang mengkaji tentang makanan tradisional Masyarakat Melayu, khususnya tradisi Bubur Pedas tersebut baik dari segi konsep, tatacara memperoleh, tata cara pengolahan, tata cara penyajian dan makna makanan tersebut, karena belum sempurna ataupun belum lengkap.
2. Perlu ditingkatkan kembali pola pikir masyarakat Melayu Hamparan Perak untuk lebih menyukai makanan daerahnya tersebut agar dapat dijadikan suatu resep yang secara turun-temurun yang bisa dipertahankan atau tidak pernah dilupakan hingga saat ini dan melestarikan tradisi makanan di daerah tersebut, dan harus tetap dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait untuk mengembangkan tradisi makanan tradisional yang ada di Hamparan Perak.
3. Kepada seluruh masyarakat Melayu Hamparan Perak, jangan pernah takut untuk mengangkat makanan daerahnya ke permukaan supaya tidak hilang atau dilupakan oleh anak cucu. Dan diharapkan kepada orang tua dahulu harus banyak mengetahui tentang bagaimana cara pengolahan makanan tradisional budaya Melayu, termasuk manfaat ataupun makna-makna yang sudah diterapkan secara terdahulu agar anak cucu mereka tetap menghargai makanan bahwa makanan tradisional lebih baik daripada makanan yang sudah siap saji atau makanan luar negri.
4. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua mahasiswa-mahasiswi yang ada di Departemen Sastra Melayu, untuk dijadikan pedoman dalam membuat suatu tradisi makanan daerah. Agar suatu ketika, mahasiswa Sastra Melayu tidak perlu repot lagi untuk membuka internet, karena di Departemen Sastra Melayu sudah ada skripsi tentang makanan-makanan daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahmat, Fathoni.2006.Antropologi Sosial Budaya.Jakarta:P.T.Rhineka Cipta.
Anderson, Foster.1986. Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press).
Bangun. 1981. Sebagai Sumber Nilai Orientasi. Jakarta: Bina Cipta.
Danandjaja, James. 2007. FOKLOR INDONESIA ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta:
KREATAMA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.1995.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta:Balai Pustaka.
Harsojo.1977.Pengantar Antropologi Budaya.Jakarta: Bina Cipta.
Ihroni, T.O.2006.Pokok-pokok Antropologi Budaya.Jakarta:Yayasan Obor.
Koentjaningrat.1980.Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press).
Mustafa, Syarifah Rafida.2014. Masakan Melayu Tradisional dan Pengolahan MakananKhas Kota Dumai.Pakan Baru: Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR)
Nawawi. 1991. Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Refika.
Sitepu, Eka Riwanda. 2012. Skripsi. Makanan Khas pada Upacara Adat Perkawinan Melayu di Kabupaten Batubara: Kajian Folklor.
Syafri,Syaiful. 2009. Mengenal Provinsi Sumatera Utara.Bekasi : Sari Ilmu Pratama Ubaidullah, Hajah T. Jaurail. 1975. Buku Masakan Melayu. Jakarta. _
Ulfa, Irnanda. 2014. Bubur Pedas Melayu Medan.
http://blog.goindonesia.com/bubur-pedas-melayu-medan.html
http://30harikotakubercerita.poscinta.com/2015/09/bubur-pedas-yang-tak-pedas.html http://dhaneswarii.blogspot.co.id/2013/12/makanan-rakyat-sebagai-kajian-folklor.html http://www.google.com/search?q=wikipedia+pengertian+segala+dedaunan&oq=wikipedia +pengertian+segala+dedaunan.html