BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan mempunyai banyak manfaat, seperti :
1. Dapat dijadikan pengetahuan bahwa dalam budaya Melayu tradisi ini harus tetap berjalan.
2. Menambah wawasan mengenai memperoleh makanan, pengolahan, penyajian dan makna makanan tradisional tersebut.
3. Menambah khazanah keilmuan Budaya Melayu khususnya di Hamparan Perak
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan Yang Relevan
Pada dasarnya penulisan karya ilmiah merupakan suatu rangkaian yang selalu berhubungan dengan buku (referensi). Demikian pula pada penulisan penyusunan skripsi ini tidak akan terlepas dari buku-buku pendukung yang relevan.Agar penulisan karya ilmiah ini lebih objektif, digunakan sumber-sumber yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, baik berupa buku-buku maupun pemahaman teoritis dan pemaparan dari fakta-fakta yang diperoleh dari lapangan.
Adapun buku yang dipakai dalam memahami dan langsung mendukung penelitian ini yaitu, salah satunya adalah buku Masakan Melayu yang disusun oleh (Hajah T. Jaurail Ubaidullah 1975 :22). Buku ini digunakan untuk mengetahui bagaimana cara memperoleh masakan khas budaya tersebut. Salah satunya adalah tentang cara pengolahan Bubur pedas yang ada di masyarakat melayu.
(Riwanda 2012), Makanan Khas Pada Upacara Adat Perkawinan Melayu di Kabupaten Batubara: Kajian Folklor. Dalam skripsi ini, menjelaskan berbagai jenis makanan yang biasa disediakan ketika upacara perkawinan berlangsung di Kabupaten Batubara.Salah satu jenis makanan yang disediakan adalah Bubur Pedas.
Dari buku dan penelitian di atas, menjelaskan bahwa masing-masing mengkaji tentang Masakan Bubur Pedas. Sedangkan kajian yang peneliti lakukan lebih memfokuskan kepada Tradisi Bubur Pedas di Masyarakat Melayu Hamparan Perak yang memperlihatkan bagaimana konsep, cara memperoleh, cara pengolahan, cara penyajian, dan makna.
2.2 Teori Folklor
Folklor adalah pengindonesiaan dari kata Inggris Folklore yang berasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore.Folksama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dundes (Danandjaja 1998 : 53) kata folkadalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain, berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama.Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-menurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersamanya. Disamping itu bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka. Jadi folk adalah sinonim dari kolektif, yang juga memiliki ciri-ciri prngrnal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat(Danandjaja 1986:2).
Lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat Bantu pengingat.Dengan demikian, folklor adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.Definisi folklore secara keseluruhan menurut (Danandjaya 1997: 2) adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat Bantu pengingat.
2.3Ciri-ciri Folklor
Folklor berbeda dari kebudayaan lainnya, maka kita perlu mengetahui ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya. Adapun ciri-ciri pengenal utama folklor yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
b. Folklor bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Itu disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
c. Folklor ada (exist) dalam versi-versi, bahkan varian-varian yang berbeda. Itu disebabkan penyebarannya secara lisan, sehingga dapat dengan mudah mengalami perubahan. Perubahan biasanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
d. Folklor bersifat anonim, nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi.
e. Folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, sebagaimana dalam cerita rakyat atau permainan rakyat pada umumnya. Cerita rakyat misalnya, selalu mempergunakan kata-kata klise seperti “bulan 14 hari” untuk menggambarkan kecantikan seorang gadis dan “seperti ular berbelit-belit” untuk menggambarkan kemarahan seseorang. Demikian pula, ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku, misalnya: “sahibul hikayat...dan mereka pun hidup bahagia untuk seterusnya”, atau
“menurut empunya cerita...demikianlah konon”. Dongeng Jawa misalnya, banyak yang dimulai dengan kalimat “Anuju sawijining dinadan ditutup dengan kalimat “A lan B urip rukun bebarengan kaya mimi lan mintuna.
f. Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif.
Cerita rakyat misalnya, mempunyai kegunaan sebagai alat/media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
g. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
h. Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Ini disebabkan penciptanya tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
i. Folklor biasanya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Itu bisa dimengerti karena banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.
Menurut Jan Harold Brunvand dalam Danandjaja (2002) seorang ahli folklor Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya yaitu:
1. Folklor lisan
2. Folklor Sebagian lisan 3. Folklor Bukan lisan
Dari tiga kelompok di atas, peneliti lebih memfokuskan kepada kelompok folklor bukan lisan, merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan walaupuncara pembuatannya diajarkan secara lisan.Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi dua subkelompok, yakni yang material dan yang bukan material. Bentuk-bentuk yang tergolong yang material adalah sebagai berikut :
a. Arsitektur rakyat, merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
b. Kerajinan tangan rakyat. Awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
c. Pakaian atau perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah.
d. Obat-obatan tradisional.
e. Makanan dan minuman tradisional.
Sedangkan yang termasuk bukan material adalah sebagai berikut : a. Gerak isyarat tradisional
b. Bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat.
Dengan demikian, bahwa penelitian folklor merupakan bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Oleh karena itu, peneliti hanya membahas tentang folklor bukan lisan yang menjelaskan tentang makanan tradisional, khususnya tentang makanan Bubur Pedas di Masyarakat Melayu Hamparan Perak sebagai bahan yang digunakan dalam pembuatannya baik membicarakan tentang konsep, cara memperoleh, cara pengolahan, cara penyajian dan makna.
2.4Teori yang Digunakan
Teori yang akan digunakan pada penulisan skripsi ini adalah teori yang dipaparkan oleh Dananjaya membagi teori folklor berdasarkan sub kelompok material dan dari genre makanan. Untuk membicarakan makanan ada beberapa hal yang akan diungkapkan yaitu:
a. Konsep Makanan
Makanan adalah sesuatu yang tumbuh di sawah, ataupun di kebun.Ia dapat juga berasal dari laut atau di daerah peternakan. Namun dari sudut ilmu antropologi atau folklor, makanan merupakan fenomena kebudayaan. Oleh karena itu, makan bukanlah sekedar produksi yang dapat dikonsumsi oleh organisasi hidup, tetapi termasuk juga untuk mempertahankan hidup mereka.
b. Cara Memperoleh Makanan
Secara garis besar, cara dapat digolongkan menjadi dua katagori, yakni langsung mengambilnya dari alam, seperti: berburu, dan binatang laut lainnya. Cara kedua menanam tanaman di sawah, lading, dan kebun.
Namun sekarang ini cara memperoleh makanan sudah praktis dapat dibeli saja.
c. Cara Pengolahan Makanan
Manusia secara universal akan mengolah makanannya, walupun sering kali ia juga menyukai makanan yang masih mentah, namun di antara menu itu selalu ada juga yang dimasak atau diolah terlebih dahulu. Cara pengolahan yang lain adalah peragian atau disebut juga fermentasi. Caranya adalah dengan menularkan spora-spora ragi pada bahan makanan tertentu.
d. Cara Penyajian
Cara penyajian makanan dapat bersifat sederhana, tetapi dapat juga bersifat megah.Penyajian makanan dapat ditujukan untuk orang hidup, tetapi dapat juga untuk roh orang mati.Yang biasanya dilakukan penyajian makanan untuk sehari-hari adalah sederhana.
e. Makna Makanan
Makna makanan bagi masyarakat Melayu itu dahulu sangatlah penting karena dari semua makanan itu ada nilai-nilai kehidupan yang mereka jalankan.Namun setelah zaman modern sekarang ini masyarakat Melayu sudah mulai mengabaikan itu semua, sehingga makna makanan itu tinggal cerita belaka.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Dasar
Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Karena metode deskriptif adalah pemecah masalah atau menuliskan keadaan subjek yang dapat diartikan sebagai objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Nawawi 1967 : 63). Dalam metode deskriptif ini juga dilakukan penggambaran dan juga pengamatan data pada waktu tertentu, lalu memilih data yang akan diambil dan menguraikannya serta mengambil kesimpulan. Sebab metode ini bermaksud untuk menjelaskan situasi dan keadaan yang ada. Dengan demikian, peneliti hanya menjelaskan data-data fakta yang menjelaskan atau melukiskan keadaan subjek yang dapat diartikan sebagai prosedur objek dalam menggali konsep, cara memperoleh, cara pengolahan, cara penyajian, dan makna dalam Tradisi Bubur Pedas Masyarakat Melayu Hamparan Perak.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Sialang Muda Dusun 1, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Peneliti memilih lokasi ini dikarenakanmasyarakat melayu diHamparan Perak masih melestarikan sajian panganan tersebut dan banyak mengetahui tentang cara pengolahan, penyajian dan makna bubur pedas dari kalangan orang tua, dan peneliti tertarik mengkaji ditempat tersebut dikarenakan tidak terlalu jauh sehingga dapat dijangkau. Dan peneliti beranggapan bahwa harus mengkaji tentang makanan tradisional tersebut yang sudah menjadi tradisi di Masyarakat Melayu dan agar tetap dapat dilestarikan sampai saat ini.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berupa data lisan. Data yang diambil langsung turun kelapangan dengan mengambil contoh yang untuk diteliti. Data atau sumberpun berasal dari informan yang memenuhi syarat dan berkualitas serta mempunyai pengetahuan yang sangat luas terhadap yang mau diteliti.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumenpenelitian adalah semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu skripsi/hipotesis.
Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti sebagai instrumen peneliti adalah mutlak.Dalam hal ini peneliti berada dan aktif melakukan penelitian. Untuk menyimpulkan data secara lengkap, diperlukan alat bantu penelitian agar data yang diperoleh tidak hanya mengandalkan daya ingat penelitian.Alatdigunakan dalam penelitian ini berupa :
f. Buku Catatan
g. Kamera Digital atau handphone h. Alat Rekam, dan
i. Daftar Pertanyaan, dalam arti lebih lengkapnya sistematis sehingga mudah untuk diolah.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan skripsi ini penulis mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Metode wawancara yaitu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan langsung kepada informan atau ahli yang berwenang dalam suatu masalah.
b. Metodeobservasi/mengamati yaitu untuk memperoleh data yang akurat atau lengkap peneliti harus turun langsung kelapangan dan mengadakan pengamatan kepadamasyarakat sekitar tentang tradisi itu.
c. Metode Pustaka yaitu cara untuk mengumpulkan data dengan mencari data-data dari buku-buku yang membahas tentang makanan khas tradisional Melayu. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan sumber acuan penelitian agar data yang didapatkan dari lapangan dapat diolah semaksimal mungkin sesuai dengan tujuan yang digariskan.
Sebagai tekniknya dipergunakan sebagai berikut:
a. Teknik rekam yaitu dengan mengunakan tape recorder atau Hp.
b. Teknik catat yaitu mencatat semua keterangan-keterangan yang diperoleh dari informan yang ada dilapangan.
3.6 Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Mendata bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan bumbu bubur pedas pada saat bulan Ramadhan di Desa Sialang Muda Dusun 1 Kecamatan Hamparan Perak.
b. Menjelaskan cara pengolahan dan penyajian makanan yang telah didapat dari lapangan.
c. Menjelaskan makna makanan tersebut yang telah didapat dari lapangan.
d. Kemudian menganalisis sesuai dengan kajian folklor.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Konsep Makanan Bubur Pedas Pada Masyarakat Melayu Di Hamparan Perak Makanan adalah yang tumbuh di sawah, ladang, dan kebun. Ia dapat juga berasal dari laut, atau dipelihara di halaman, padang rumput atau di daerah peternakan, yang dapat dibeli di pasar, di warung, dan di rumah makan. Namun dari sudut antropologi atau foklor, makanan merupakan fenomena kebudayaan, oleh karena itu makanan bukanlah sekedar produksi organisme hidup, termasuk juga untuk mempertahankan hidup mereka; melainkan bagi anggota setiap kolektif, makanan selalu ditentukan oleh kebudayaannya masing-masing.Agar suatu makanan dapat dikonsumsikan, perlu diperoleh dahulu cap persetujuan dan pengesahan dari kebudayaan.
Tidak semua kolektif, biarpun dalam keadaan kelaparan yang akan mempergunakan segala bahan bergizi sebagai makanan mereka. Hal ini disebabkan karena ada hambatan kebudayaan terutama berbentuk larangan agama, “takhayul” mengenai kesehatan, dan kejadian-kejadian dalam sejarah dan lain-lain, yang mengeluarkan bahan-bahan bergizi tertentu dari daftar makanan suatu kolektif.Akibatnya bahan-bahan yang bergizi itu diklarifikasikan sebagai “bukan makanan”. Daging manusia, walaupun sangat bergizi, takkan dimakan oleh manusia lain pada umumnya, biar pun dalam keadaan kelaparan yang sangat pun. Hal ini disebabkan tidak ada agama di mana pun di dunia ini, yang membentukan praktik kanibalisme.
Perlu kiranya dibedakan zat bergizi (nutriment) dari makanan (food).Nutrismen adalah konsep biokimia, yakni suatu zat yang dapat memberi makanan pada sel-sel tubuh kita, dan menjamin kesehatan tubuh kita.Sedangkan makanan adalah konsep kebudayaan, dalam arti bahwa zat bersangkutan itu sesuai untuk kita makan. Berhubung adanya pengaruh konsep kebudayaan yang ditentukan oleh keyakinan, maka sangat sukar untuk menyuruh
seorang mengubah tradisi macam makanan:diet-nya seorang, dalam rangka peningkatan gizi mereka. Dalam kenyataan nutrimen masih merupakan konsep modern yang asing bagi orang-orang tradisional. Bagi orang-orang tradisional gizi masih sering dihubung-hubungkan dengan kenyang perut dan belum kenyang sel organiknya (Daneswarii 2013 : 12).
Menurut pendapat ibu Hamida Bubur Pedas merupakan salah satu makanan tradisional pada masyarakat melayu.Sampai saat ini Bubur Pedas tetap menjadi makanan wajib berbuka puasa pada saat bulan Ramadhan khususnya di daerah Hamparan Perak.Hamparan Perak adalah daerah yang identik dengan suku Melayu.Pada saat bulan Ramadhan banyak orang yang mengkonsumsi panganan Bubur Pedas tersebut di masing-masing daerah. Adapun pengetahuan masyarakat tersebut mengenai Bubur Pedas tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan akan tetapi pengetahuan yang di dapat sudah dari turun-temurun. Resep bubur Pedas itu sendiri sebenarnya hampir sama saja pada dasarnya hanya saja sudah diaplikasikan untuk mendapatkan cita rasa yang lebih enak dan lezat.
Menurut ibu Arpi Makanan Bubur Pedas Pada Masyarakat Melayu Hamparan Perak memiliki konsep makanan yang sangat sulit, mereka mencari bahan-bahan yang digunakan dari tumbuhan hutan maupun tanaman sendiri karena bahan-bahan ataupun rempah-rempah yang digunakan untuk membuat Bubur Pedas tersebut kebanyakan bahannya alami dan bumbunya diolah sendiri, walaupun sekarang ini bumbu untuk membuat Bubur Pedas sudah banyak kita temukan dalam racikan yang sudah menjadi satu (sudah jadi).
Oleh sebab itu Bubur Pedas memiliki ciri khas rasa tersendiri dan golongan kategori makanan yang berjenis bubur.Masyarakat Melayu Hamparan Perak memiliki konsep tersendiri tentang Makanan Bubur Pedas dibandingkan dengan daerah-daerah lain khususnya di Sumatera Timur. Bubur Pedas yang ada di Hamparan Perak tersebut mereka menyebutnya dengan bubur pahit, bubur tersebut dikatakan bubur pedas dan itu tidak sesuai dengan sebutannya sebab rasanya yang begitu gurih dan lemak. Bubur pedas atau bubur pahit sangat
banyak digemari oleh khalayak dari yang tua sampai yang muda dan dari yang muda sampai yang tua. Begitulah bubur pedas sangat banyak digemari oleh siapapun, walau anggota keluarga yang lain berpindah tempat mereka sangat masih myukai makanan tradisional tersebut. Bubur pedas tersebut juga merupakan makanan tradisional yang sangat langka untuk dijumpai sebab makanan tersebut hanya ada pada saat bulan-bulan tertentu saja, khususnya pada bulan Ramadhan.
4.2 Cara Memperoleh Makanan
Secara garis besar, cara memperoleh makanan dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu:
1. Langsung mengambilnya dari alam :meramu, berburu, dan menangkap ikan ataubinatang laut.
2. Memproduksinya: menanam tanaman di sawah, ladang atau kebun; memelihara ikan atau binatang laut/air tawar di tambak atau kolam.
Dalam kegiatan memperoleh makanan sering diiringi pula dengan upacara-upacara kepercayaan/keyakinan/keagamaan baik yang bersifat sekadarnya maupun yang semarak.
Begitu pula dengan makanan Bubur Pedas tersebut yang ada di Masyarakat Melayu Hamparan Perak.Bahan-bahan Bubur Pedas hanya didapat dari tanaman hutan atau tanaman yang ada di halaman rumah mereka.Namun begitu sekarang mereka tidak harus terlalu sulit mencari rempah-rempah nya dikarenakan sekarang sudah bisa tinggal dibeli saja di pasar.
Mereka tidak harus susah payah mencari dihutan. Bubur Pedas ini adalah makanan yang lebih sering ditemukan pada saat bulan Ramadhan tiba saja.
4.2.1 Bahan-bahan Bumbu Mentah Untuk Bubur Pedas
Adapun bahan-bahan yang diperlukan dalam bumbu bubur pedas adalah sebagai berikut :
1. Daun Semangkok
Daun semangkok disebut juga dengan Polyscias Scutellaria merupakan tumbuhan hias pekarangan dan tanaman obat yang relative popular di Nusantara.Namanya mengacu dari lekukan daunnya yang serupa mangkok (Wikipedia).Daun ini juga sering digunakan sebagai obat tradisional untuk melancarkan system pencernaan.polyscias scutellaria
Gambar 1
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 2. Daun Kunyit
Daun kunyit disebut juga dengan Curcuma Longa merupakan salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara, daun ini sudah tersebar keseluruh Indonesia dan kedaerah Asia lainnya, tanaman rempah ini sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan sangat bermanfaat untuk meringankan penyakit kulit seperti eksim dan sebagai antiseptik untuk mengobati luka pada kulit.
Gambar 2
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 3. Daun Bebuas
Daun bebuas disebut juga dengan Premna Spp merupakan daun yang mempunyai khasiat tersendiri yang sering digunakan untuk kesehatan tubuh dan penguat tenaga. Air rebusannya juga sangat bermanfaat bagi kesehatan.Pokoknya merujuk kepada tumbuhan berbatang lembut dan daunnya juga bisa digunakan untuk rempah masakan yang berkhasiat.
Gambar 3
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 4. Daun Asam Glugur
Daun asam glugur disebut juga dengan sebutan Garcinia Atroviridis Griff merupakan sejenis tanaman yang berasal dari semenanjung Malaysia. Daun ini yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional dan sangat berkhasiat untuk penyakit asma, yang daunnya sedikit manis, kemasaman dan kelat. Pokok asam glugur hanya ada di kawasan hutan dan buahnya dikutip secara berkala oleh penduduk.
Gambar 4
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 5. Daun Paku Groda
Daun paku groda disebut juga dengan Pterophyta merupakan kelompok tumbuhan paku yang sering dijadikan tanaman hias.Tumbuhan paku ini berbentuk daun yang mempunyai banyak tulang pada masih muda dan daun yang tergulung dan pada sisi bawah mempunyai banyak sporangium, selain itu juga daun paku ini dijadikan rempah masakan yang sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit dalam seperti ginjal.
Gambar 5
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 6. Daun Jeruk Purut
Daun jeruk purut disebut juga dengan Citrus Hystrix merupakan tumbuhan perdu yang dimanfaatkan, terutama pada buah dan daunnya sebagai bumbu penyedap dalam masakan, selain itu berkhasiat untuk antibiotik dan menambah stamina.Dalam dunia boga daun jeruk juga dipakai sebagai mengharumkan masakan.
Gambar 6
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016 7. Daun Sekentut
Daun sekentut disebut juga Paederia Foetida merupakan pokok menjalar dengan daun panjang melonjong yang selalunya melilit dipagar atau pokok lain. Daun yang digunakan sebagai obat tradisional ini sangat bermanfaat untuk mengobati keseleo, radang kulit, dan luka, selain itu daun ini juga digunakan sebagai ramuan dalam masakan.
Gambar 7
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016
Dedaunan diatas merupakan dedaunan yang akan diiris halus dan dijadikan satu untuk dicampurkan pada masakan yang akan dimasak atau diolah yaitu Bubur Pedas gambarnya seperti berikut setelah diiris halus :
Gambar 8
Dokumentasi Lapangan : 29/05/2016
Setelah itu bahan yang sudah diiris halus akan dicampurkan di bumbu yang ada dibawah ini, dibawah ini juga merupakan bahan-bahan yang akan digunakan
Setelah itu bahan yang sudah diiris halus akan dicampurkan di bumbu yang ada dibawah ini, dibawah ini juga merupakan bahan-bahan yang akan digunakan