• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODELOGI PENELITIAN

3.3 Bahan-bahan yang Digunakan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah buah stroberi segar, parasetamol (derajat farmasetis), etanol 70%, akuades, pati jagung, pati manihot, talkum, magnesium stearat, dan laktosa.

3.4 Prosedur kerja

3.4.1 Pengumpulan sampel

Buah stroberi diambil secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Tumbuhan yang digunakan adalah buah stroberi (Fragaria vescaL.) yang diperoleh dari pasar Kota Berastagi KabupatenKaro, Provinsi Sumatera Utara.

3.4.2 Identifikasi sampel

Identifikasi tumbuhan dilakukan diLaboratorium Herbarium Medanese,Universitas Sumatera Utara.

3.4.3 Uji Organoleptis dan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik dilakukan pada buah segar stroberi meliputi warna, bau, rasa, bentuk dan ukuran (Depkes RI., 1979).

3.5 Pembuatan EkstrakBuah Stroberi

Buah stroberi diekstraksi dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol. Menurut Farmakope Indonesia Edisi III (1979) caranya adalah sebagai berikut :

Buah stroberi (Fragaria vesca L.) segar dibersihkan, dicuci. kemudian ditiriskan dan ditimbang beratnya, dihitung sebagai berat basah (2000g). Dipotong kecil-kecil kemudian ditimbang kembali sebagai berat yangsudah dipotong kecil- kecil sehingga beratnya (2200g). Lalu diekstraksi dengan etanol 70 %, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambildiaduk,saring dengan kertas saring. Filtratnya pertama ditampung, kemudianampas diekstraksi kembali dengan etanol 70%, ditutup dan dibiarkanselama 2 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk lalu disaring dengan kertas saring.

Hasil yang diperoleh dicampur dengan filtrat pertama lalu diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator pada temperatur kurang lebih ±50°C. Dikeringkan dengan penangasairsehingga didapatkan ekstrak buah stroberi kering (EBS) yang konsistensinya kental berwarna merah.

3.6 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam buah stroberi (Fragaria vesca L.) segar tanpa pengeringan dan ekstrak buah stroberi. Golongan senyawa kimia yang diperiksa meliputi senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, tanin dan steroid/triterpenoid.

3.6.1 Pemeriksaan Alkaloida

Sebanyak 0,5 g buah stroberi segar yang telah dihaluskan kemudian di tambahkan 1 mL HCl 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut: a. Filtrat sebanyak 3 tetes di tambahkan 2 tetes pereaksi Meyer, akan terbentuk

endapan berwarna putih atau kuning jika mengandung alkaloida.

b. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan 2 tetes pereaksi Bourchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam jika mengandung alkaloida. c. Filtrat sebanyak 3 tetes ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan

terbentuk endapan berwarna merah sampai coklat jika mengandung alkaloida. Tetapi jika reaksi 1 dan 2 hanya terjadi kekeruhan dilanjutkan pemeriksaan berikut:

Sebanyak 8 ml filtrat ditambahkan 2 mL ammonia pekat dan dikocok dengan 5 mL campuran eter-kloroform (3:1) dan dibiarkan memisah, diambil lapisan eter-kloroform, ditambahkan sedikit natrium sulfat anhidrat, disaring dan diuapkan filtrat di dalam gelas arloji di atas penangas air, dilarutkan residunya dengan sedikit HCl 2N. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling banyak dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI., 1979).

3.6.2 Pemeriksaan flavonoid

Sebanyak kurang lebih 500 mg buah stroberi segardimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer ditambahkan 10 mL metanol, direfluks selama 10 menit. Disaring panas melalui kertas saring. Filtrat diencerkan dengan 10 mL air, setelah dingin ditambahkan 5 mL eter minyak tanah, dikocok hati-hati dan didiamkan. Diambil

lapisan metanol, lalu di uapakan pada suhu 400C, sisanya dilarutkan dalam 5 mL etil asetat, lalu disaring. Filtrat nya digunakan untuk uji flavonoid sebagai berikut: a. Sebanyak 1 ml filtrat di uapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 2

mL etanol 96% lalu ditambahkan 0,5 g serbuk Zn dan 2 ml asam klorida 2N, didiamkan selama 1 menit. Ditambahkan 10 tetes asam klorida pekat. Jika dalam waktu 2-5 menit terjadi warna merah intensif menunjukkan bahwa adanya flavonoida (glikosida-3-flavonol)

b. Sebanyak 1 mL filtrat diuapkan sampai kering, sisanya dilarutkan dalam 1mL etanol 96%, lalu ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 10 tetes asam klorida pekat. Jika terlihat warna merah jingga sampai merah ungu menunjukkan adanya flavonoid (Depkes RI., 1979).

3.6.3 Pemeriksaan Glikosida

Sebanyak 3 g buah stroberi segar disari dengan 30 mL campuran 7 bagian etanol 96% dan 3 bagian air, ditambahkan 10 mL asam sulfat 2N, lalu direfluks selama 10 menit, didinginkan dan disaring. Pada 20 mL filtrat tambahkan 25 mL air dan 25 mL larutan timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok dan didiamkan selama 5 menit, saring. Filtrat disari 3 kali, tiap kali dengan 20 mL campuran 3 bagian kloroform dan 2 bagian isopropanol, pada kumpulan sari ditambahkan natrium sulfat anhidrat pekat lalu disaring dan diuapkan pada suhu tidak lebih dari 500C. Dilarutkan sisa dengan 2 mL metanol pekat. Larutan sisa digunakan untuk percobaan berikut:

Sebanyak 5 tetes larutan dimasukkan dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molisch, kemudian ditambahkan

dengan hati-hati 2 mL asam sulfat pekat hingga terbentuk cincin berwarna ungu pada batas cairan, menunjukkan adanya ikatan gula (Depkes RI., 1979).

3.6.4 Pemeriksaan Tanin

Sebanyak 500 mg buah stroberi segar,dipanaskan dengan 10 mL air, disaring, lalu diencerkan sampai hampir tidak berwarna. Pada 2 mL larutan sampel ditambahkan 1-2 tetes larutan FeCl3 10% dan diperhatikan warna yang

terjadi, warna biru atau hijau kehitaman menandakan adanya tanin (Depkes RI., 1979).

3.6.5 Pemeriksaan Saponin

Buah stroberi yang telah dihaluskan sebanyak 0,5 g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 mL air panas, didinginkan dan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan pada penambahan asam klorida 2N buih tidak hilang, menunjukkan adanya saponin (Depkes RI., 1979).

3.6.6 Pemeriksaan Steroida/ Triterpenoida

Sebanyak 1 g buah stroberi segar di maserasi dengan 20 mL eter selama 2 jam kemudian disaring. Filtrat digunakan untuk reaksi berikut: 5 ml larutan eter diuapkan diatas penangas air, kemudian sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat glasial dan 1 tetes asam sulfat pekat ( pereaksi Liebermann-Bourchard). Reaksi steroida / triterpenoida positif bila terjadi warna merah ungu atau biru hijau. (Harbone, 1987).

3.7Formula Sediaan Tablet

Proses pembuatan sediaan tablet parasetamol dengan ekstrak buah stroberi sebagai pewarna dengan konsentrasi 6%, 8%, 10%, 12% menggunakan metode granulasi basah dengan bobot tablet 500 mg dan diameter 13 mm.

R/ Parasetamol 0,250 g Ekstrak Buah Stroberi (EBS) x (bervariasi) Pati jagung 5% Pasta amilum manihiot 7,5 % b/b q.s

Talk 1%

Magnesium stearat 2%

Laktosa ad 500mg

m.f tab dtd No C Keterangan x :

F1 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 6% F2 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 8% F3 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 10% F4 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 12% 3.8Pembuatan Sediaan tablet

Pembuatan tablet parasetamol dengan menggunakan zat warna ekstrak buah stroberi dilakukan dengan cara:

a. Ditimbang laktosa 16,25 gram dan ESB 3 g, pati jagung (pengembang dalam) 1,25 g, dan parasetamol 25 g, kemudian digerus sampai homogen. b. Pembuatan bahan pengikatpasta amilum manihot 7,5 % b/b

Ditimbang amilum manihot 5,250 g dimasukkan ke beaker glass ditambahkan sama banyak aquades 9,750 g sehingga terbentuk seperti suspensi. Ditambahkan aquades 9,750 g. selanjutnya dipanaskan dengan api langsung sambil diaduk-aduk sampai mendidih hingga terbentuk pasta.Didinginkan, ditimbang dan dicek beratnya, sehingga diperoleh massa pasta amilum manihot 15 g.

c. Tambahkan pasta amilum manihot sedikit demi sedikit ke massa a sambil digerus hingga diperoleh massa yang kompak, lalu digranulasi dengan ayakan mesh 14.

d. Granulat dikeringkan pada suhu 40-60 °C pada lemari pengering.

e. Granul kering, granulat diayak lagi dengan ayakan mesh 20 dan dicek kembali beratnya (berat kering = 28,96 g).

f. Ditimbang magnesium stearat1 g, talkum 0,5 g, pati jagung (pengembang luar) 1,25 g,kemudian ditambahkan pada granulat kering dan dihomogenkan.

g. Massa granul diuji preformulasi meliputi waktu alir, sudut diam, dan indeks tap.

h. Dicetak menjadi tablet dengan bobot tablet 500 mg dan diameter tablet 13 mm.

i. Dilakukan uji evaluasi tablet meliputi kekereasan tablet, waktu hancur dan friabilitas.

Tabel 3.1 Formula Sediaan Tablet

Bahan obat Formula

F1 F2 F3 F4

Pewarna ESB (g) 3 4 5 6

Parasetamol (g) 25 25 25 25

Pasta amilum manihot (g) 1,75 1,75 1,75 1,75 Amilum jagung (g) • Pengembang dalam • Pengembang luar 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 1,25 Talcum (g) 0,5 0,5 0,5 0,5 Mg stearat (g) 1 1 1 1 Laktosa (g) 16,25 15,25 14,25 13,25 Berat 100 tablet (g) 50 50 50 50

Keterangan x :

F1 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 6% F2 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 8% F3 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 10% F4 = Formula tablet parasetamol dengan konsentrasi EBS 12% 3.9 Uji Preformulasi

3.9.1 Sudut Diam Granul

Penentuan sudut diam granul dilakukan dengan cara:

Ditimbang 100 g granul kemudian dimasukkan ke dalam corong alir yang telah dirangkai, permukaan granul diratakan, lalu penutup corong dibuka, sehingga granul mengalir sampai habis. Tinggi tumpukan granul yang terbentuk diukur. Sudut diam dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

���= 2�

θ = sudut diam

H = tinggi tumpukan granul (cm) D = diameter tumpukan granul (cm)

Granul yang mempunyai daya alir bebas akan mempunyai sudut diam antara 20° sampai 40° (Banker dan Anderson, 1994).

3.9.2 Waktu Alir Granul

Penentuan waktu granul dilakukan dengan cara:

Ditimbang 100 g granul, kemudian dimasukkan ke dalam corong yang telah dirangkai kemudian permukaanya diratakan. Penutup bawah dibuka bersamaan dengan dihidupkan stopwatch. Stopwatch dihentikan tepat pada saat garnul habis melewati corong dan dicatat waktu alirnya. Syarat waktu alir granul lebih kecil dari 10 detik (Voigt, 1995).

3.9.3 Indeks Tap Granul

Penentuan indeks tap dilakukan dengan cara:

Dimasukkan granul ke dalam gelas ukur sampai garis tanda dan dinyatakan sebagai volume awalnya (V

1), kemudian gelas ukur dihentakkan

sebanyak 20 kali dengan alat yang dimodifikasi sehingga diperoleh volume akhir (V2). Indeks tap dapat dihitung dengan rumus :

���������= �1− �2

�2 � 100% Syarat indeks tap lebih kecil dari 20 % (Voigt, 1995).

Evaluasi tablet yang dilakukan adalah homogenitas warna, kekerasan tablet, friabilitas, disolusidan waktu hancur.

Dokumen terkait