Sudut Diam
TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Uraian Sediaan Tablet
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, yang mengandung satu jenis obat atau lebih, dengan atau tanpa bahan tambahan. Bahan tambahan yang dapat berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengembang, bahan pengikat, bahan pelicin, bahan pembasah atau bahan lain yang cocok (Depkes RI., 1979).
Tablet dicetak dari serbuk kering, Kristal atau granulat, umumnya dengan penambahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai, dengan menggunakan tekanan tinggi. Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus, batang atau cakram, serta bentuk seperti telur atau peluru. Garis tengah tablet pada umumnya 5-17 mm, sedangkan bobot tablet 0,1-1 g (Voigt, 1995).
Menurut Banker dan Anderson, (1994), tablet yang dinyatakan baik harus memenuhi syarat, yaitu:
1.Memenuhi kemampuan atau daya tahan terhadap pengaruh mekanis selama proses produksi, pengemasan dan distribusi.
2.Bebas dari kerusakan seperti pecah pada permukaan dan sisi-sisi tablet.
3.Dapat menjamin kestabilan fisik maupun kimia dari zat berkhasiat yang terkandung di dalamnya.
4.Dapat membebaskan zat berkhasiat dengan baik sehingga memberikan efek pengobatan seperti kehendaki.
Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan solid yang mengandung satu atau lebih zat aktif dengan satu atau tanpa berbagai eksipien (yang meningkatkan mutu sediaan tablet, kelancaran sifat aliran bebas, sifat kohesivitas, kecepatan disintegrasi, dan sifat antilekat) dan dibuat dengan mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet (Siregar dan Wikarsa, 2010).
2.4.1 Bentuk tablet
Tablet terdapat dalam berbagai ragam bentuk, ukuran, bobot, kekerasan, ketebalan, sifat disolusi dan disintegrasi dan dalam aspek lain, tergantung pada pemggunaan yang dimaksudkan dan metode penggunaanya. Tablet biasanya berbentuk bundar dengan permukaan datar, atau konveks. Bentuk khusus seperti kaplet, segitiga, lonjong, empat segi dan segi enam dikembangkan oleh beberapa pabrik untuk membedakan produknya terhadap produk pabrik lainnya. Tablet dapat dihasilkan dalam berbagai bentuk, dengan membuat punch dan lubang kempa cetakan yang didesain secara khusus.
Tablet adalah sediaan solid mengandung zat aktif yang dapat diberikan secara oral dan ditelan, tablet yang hanya ditempatkan di dalam rongga mulut tanpa ditelan, tablet oral yang dikunyah dulu lalu ditelan, atau hanya dikulum/dihisap (Siregar dan Wikarsa, 2010).
2.4.2 Bahan pewarna tablet
membedakan dosis, spesifikasi dari pabrik, untuk memudahkan pengawasan misalnya warna yang pudar menunjukkan bahwa tablet tersebut telah rusak.
Zat warna yang dipakai harus memenuihi persyaratan Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Koswara, 2009).
Ada 2 cara penambahan zat warna yaitu: 1. Cara basah
Bahan warna dilarutkan dalam larutan bahan pengikat kemudian ditambahkan kedalam serbuk yang akan digranulasi.
2. Cara kering
Bahan warna dicampurkan dalam keadaan kering ke dalam campuran serbuk kemudian baru ditambahkan larutan bahan pengikat. Konsentrasi zat warma yang biasa dipakai 0,33% (Soekemi, dkk., 1987).
2.4.3 Metode pembuatan sediaan tablet
Tablet dibuat dengan 3 cara umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa (Depkes RI., 1995). Metode pembuatan tablet didasarkan pada sifat fisika kimia dari bahan obat, seperti stabilitas dari bahan aktif dalam panas atau terhadap air, bentuk partikel bahan aktif dan sebagiannya.
Metode pembuatan sediaan tablet yaitu a. Cetak langsung
Cetak langsung adalah pencetakan bahan obat atau campuran bahan obat bahan pembantu tanpa proses pengolahan awal. Cara ini hanya dilakukan untuk bahn-bahan tertentu saja yang berbentuk butir-butir granul yang mempunyai sifat-sifat yang diperlukan untuk membuat tablet yang baik.
Keuntungan utama dari cetak langsung ini adalah untuk bahan obat yang peka lembab dan panas, dimana stabilitasnya terganggu akibat pekerjaan granulasi, tetapi dapat dibuat menjadi tablet (Voigt, 1995).
b. Granulasi kering
Granulasi kering disebut juga slugging atau prekompresi. Cara ini sangat tepat untuk tabletasi zat-zat yang peka suhu atau bahan obat yang tidak stabil dengan adanya air.
Obat dan bahan pembantu pada mulanya dicetak dulu, artinya mula-mula dibua tablet yang cukup besar, yang massany tidak tertentu, selanjutnya terjadi penghancuran tablet yang dilakukan dalam mesin penggranul kering, atau dalam hal yang sederhana dilakukan diats sebuah ayakan. Granulat yang dihasilkan kemudian dicetak dengan takaran yang dikehendaki (Voigt, 1995).
Metode ini digunakan pada keadaan dosis efektif terlalu tinggi untuk pencetakan langsung, obatnya peka terhadap pemanasan, kelembaban atau keduanya (Lachman, dkk., 1994).
c. Granulasi basah
Pada teknik ini juga memerlukan langkah-langkah pengayakan, penyampuran dan pengeringan. Pada granulasi basah, granul dibentuk dengan suatu bahan pengikat. Teknik ini membutuhkan larutan, suspense atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk.
Cara penambahan bahan pengikat tergantung pada kelarutannya dan tergantung pada komponen campuran. Karena massa hanya sampai konsistensi lembab bukan basah seperti pasta, maka bahan pengikat yang ditambahkan tidak boleh berlebihan (Banker dan Anderson, 1994).
Proses pengeringan diperlukan oleh seluruh cara granulasi basah untuk menghilangkan pelarut yang dipakai pada pembentukan gumpalan-gumpalan granul dan untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum (Banker dan Anderson, 1994).
2.4.4 Komposisi tablet
Tablet oral umumnya disamping zat aktif mengandung, pengisi, pengikat, penghancur dan pelicin.
Tablet tertentu mungkin pemacu aliran, zat warna, zat perasa dan pemanis (Lachman, dkk., 1994).
Komposisi umum dari tablet adalah zat berkhasiat, bahan pengisi, bahan pengikat atau perekat, bahan pengembang dan bahan pelicin. Kadang-kadang dapat ditambahkan bahan pewangi, bahan pewarna dan bahan-bahan lainnya (Ansel, 1989).
1. Pengisi
Digunakan agar telah memiliki ukuran dan massa yang dibutuhkan. Sifatnya harus netral secara kimia dan fisiologi, selain itu juga dapat dicerna dengan baik (Voigt, 1995).
2. Pengikat
Bahan ini dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat (Anief, 2003), untuk memberikan kekompakan dan daya tahan tablet, juga untuk menjamin penyatuan beberapa partikel serbuk dalam butir granulat (Voigt, 1995).Pengikat yang umum digunakan yaitu: amilim, gelatin, glukosa, gom arab, natrium alginate, cmc, polivinilpirolidon, dan veegum (Soekemi, dkk., 1987).
3. Penghancur
Untuk memudahkan pecahnya tablet ketika terkontak dengan cairan saluran pencernaan dan mempermudah absorpsi (Lachman, dkk., 1994). Bahan ang digunakan sebagai pengembang yaitu: amilum, gom, derivate selulosa, alginate, dan clays (Lannie dan achmad., 2013).
4. Pelicin
Ditambahkan untuk meningkatkan daya alir granul-granul pada corong pengisi, mencegah melekatnya massa pada punch dan die, mengurangi pergesekan antara butir-butir granul, dan mempermudah pengeluaran tablet dari die. Bahan pelican yaitu : metalik stearat, talk, asam stearat, senyawa lilin dengan titik lebur tinggi, amilum maydis (Lannie dan Achmad., 2013).