PENGARUH PEMUPUKAN UREA TERMODIFIKASI LIGNIN TERHADAP PERTUMBUHAN SAW
DAN BIBIT KELAPA SAWIT Abdul Rauf
2. BAHAN DAN METODA
Penelitian dilaksanakan di desa Bulu Cina Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli serdang dengan ketinggian tempat sekitar 10 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Juli 2009.
Penelitian didesain menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga taraf perlakuan penutup tanah yang terdiri dari: kontrol (tanpa penutup tanah), penutup tanah Tapak Liman (Elephanthopus scaber L) dan tanaman penutup tanah Centrosema pubecens Bench, percobaan diulang sebanyak enam kali.
Bahan tanaman bibit kelapa sawit yang digunakan merupakan pembibitan utama (main nursery) yang berumur satu bulan dan penanaman tanaman penutup tanah dilakukan pada plot sesuai perlakuan yang ditanam di sekitar batang bibit kelapa sawit di dalam polybag dengan empat bibit tanaman penutup tanah per polybag.
Pengambilan contoh tanah pada tiap perlakuan dilakukan setelah tanaman penutup tanah berumur lima bulan. Contoh tanah dan contoh tanaman bibit kelapa sawit dianalisis di Laboratorium Kimia-Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian USU untuk mendapatkan data berat kering bibit kelapa sawit, bulk density tanah, kadar air tersedia tanah, C-Organik, N total, P-tersedia, K-dd, Ca-dd, dan Mg-dd. Data pengamatan dianalisis secara statistik untuk mendapatkan tabel analisis sidik ragam yang kemudian
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh rumput tapak liman dan centrosema sebagai tanaman penutup tanah terhadap rataan bulk density, kadar air tersedia, N-total, P-tersedia, basa-basa tukar (K, Ca, Mg), C-organik dan bobot kering tanaman bibit kelapa sawit disajikan pada Tabel 1.
Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa rumput tapak liman dapat menurunkan bulk density (BD) tanah menjadi 0,81 g/cm3 yang lebih rendah dan berbeda nyata dengan BD tanah pada perlakuan penutup tanah centrosema dan kontrol (tanpa penutup tanah). Ini berarti rumput tapak liman dapat menyebabkan tanah menjadi lebih gembur (porous). Tabel 1. Niai rataan sifat fisika-kimia tanah Inceptisol dan berat kering bibit tanaman kelapa
sawit akibat perlakukan rumput tapak liman dan centrosema sebagai tanaman penutup tanah
Parameter Tanpa Penutup Tanah Tapak Liman Centrosema Bulk Density (g/cm3) 0,83 a 0,81 b 0,84 a Kadar air tersedia (% vol.) 39,04 ab 41,12 a 35,27 b N-total (%) 0,21 a 0,18 ab 0,16 b P-tersedai (ppm) 6,84 a 3,55 b 3,15 b K-dapat tukar (me/100g) 3,35 b 3,93 a 3,75 ab Ca-dapat tukar (me/100g) 17,61 b 21,12 a 17,62 b Mg-tukar tukar (me/100g) 2,80 b 3,05 a 2,87 b C-organik (%) 0,81 a 0,75 b 0,66 c Berat kering tanaman bibit
kelapa sawit 10,31 b 18,64 a 20,21 a Keterangan: Nilai rataan yang diikuti oleh notasi yang sama pada baris yang sama tidak berbeda
nyata pada p.05.
Selain itu, penutup tanah rumput tapak liman juga dapat memperbesar persen volume air tersedia sebesar rata-rata 41,12% yang lebih tinggi dan berbeda nyata dengan persen volume air tersedia pada perlakuan penutup tanah centrosema, meskipun tidak berbeda nyata dibandingkan pada perlakuan kontrol (Tabel 1). Persen volume air tersedia tanah yang lebih tinggi pada perlakuan tapak liman ini dapat terjadi karena sistem perakaran rumput tapak liman yang lebat, kuat dan berbulu seperti pohon sikat, menyebar secara lateral dan vertikal di dalam tanah (Gambar 1) memungkinkan terbentuknya pori- pori kapiler yang lebih banyak di dalam tanah dan memungkinkan persen volume air tersedia tanah menjadi lebih besar.
Perlakuan penutup tanah rumput tapak liman dan centrocema justru menurunkan kadar unsur hara nitrogen (N-total) dan P-tersedia (lebih rendah) dibandingkan pada perlakuan tanpa penutup tanah (Tabel 1), meskipun terhadap kadar N-total pada perlakuan tapak liman tidak berbeda nyata. Hal ini dapat saja terjadi karena pada stadia awal pertumbuhan tanaman penutup tanah juga memerlukan unsur hara terutama N dan P bagi pertumbuhannya. Dalam tahap lanjut perkembangan tanaman penutup tanah dapat menyumbangkan kembali hara N dan P melalui dekomposisi biomassa yang dihasilkannya atau melalui fiksasi N udara khususnya oleh bakteri rizhobium yang bersimbiosis dengan akar centrocema (tanaman legum).
Namun demikian, terhadap kadar basa-basa tukar (K, Ca dan Mg), perlakuan penutup tanah rumput tapak liman berpengaruh lebih baik (kadar lebih tinggi) dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan tanpa penutup tanah dan perlakuan penutup tanah centrocema (Tabel 1). Hal ini dapat terjadi karena sistem perakaran yang banyak dan rapat dari rumput tapak liman (Gambar 1) memungkinkan ekskresi yang cukup tinggi (yang juga mengandung senyawaan/asam organik) yang memungkinkan pelarutan terhadap senyawaan komplek atau mineral di dalam tanah lebih intensif, sehingga unsur- unsur basa menjadi larut (dapat dipertukarkan) di dalam tanah. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian Abdul-Rauf (2001) yang mendapatkan bahwa kadar basa-basa tukar terutama Ca dan Mg serat kejenuhan basa pada tanah padang rumput lebih tinggi dibandingkan pada penggunaan tanah lainnya.
Sementara lebih tingginya C-organik pada perlakuan tanpa penutup tanah dan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan penutup tanah rumput tapak liman dan centrocema (Tabel 1) dapat terjadi akibat adanya pengaruh praiming action. Praiming action adalah laju dekomposisi bahan organik di dalam tanah dapat lebih cepat terjadi (dipercepat) apabila ke dalam tanah tersebut diberikan sumber bahan organik baru (Tate III, 1987). Pada perlakuan penutup tanah terjadi penambahan bahan organik segar baik dari serasah, maupun dari akar yang mati, juga dari ekskresi akar. Dengan demikian mikroorganisme dalam tanah akan lebih giat melakukan aktifitas dekomposisi bahan organik pada tanah yang diberi perlakuan penutup tanah tersebut. Sementara pada perlakuan tanpa penutup tanah tidak terjadi penambahan bahan organik baru sehingga laju dekomposisi lambat dan terhenti terutama bila bahan organik tanah telah mencapai bagian (komponen) yang resisten (humin atau humic acid).
Bobot kering tanaman bibit kelapa sawit lebih tinggi pada perlakuan penutup tanah (centrocema dan rumput tapak liman) dan berbeda nyata dibandingkan pada perlakuan kontrol (tanpa penutup tanah) (Tabel 1). Hal ini dapat terjadi karena pada perlakuan
Mg) (Tabel 1). Unsur hara Mg dan Ca sangat diperlukan oleh tanaman kelapa sawit untuk pembentukan chlorophyl dan pertumbuhan/perkembangan sel/ jaringan. Unsur hara K juga sangat berperan dalam merangsang aktifitas metabolisme terutama reaksi enzimatik dalam tubuh tanaman. Oleh sebab itu, bobot kering tanaman bibit kelapa sawit dapat lebih tinggi pada perlakuan tanaman penutup tanah.
4. KESIMPULAN DAN PROSPEK