• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengaruh Waktu Kontak

Dalam dokumen 2009 Prosiding SNS II FMIPA IPB 2009 (Halaman 189-194)

Penurunan Intensitas Warna Air Gambut Menggunakan Cangkang Telur

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Pengaruh Waktu Kontak

Untuk mengetahui pengaruh waktu kontak terhadap penurunan intensitas warna air gambut dilakukan dengan memvariasikan waktu kontak dari 2 hingga 300 menit. Penurunan konsentrasi warna air gambut yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut:

50 60 70 80 90 100 0 50 100 150 200 250 300

Waktu kontak (menit)

%

p

enur

una

n

Massa cangkang telur 5 g Massa cangkang telur 3 g Massa cangkang telur 1 g

Gambar 3.1. Grafik pengaruh waktu kontak terhadap % penurunan warna air gambut.

Dari grafik tersebut terlihat bahwa waktu kontak tidak mempengaruhi penyerapan warna oleh cangkang telur. Banyaknya warna yang diserap relatif sama. Pada waktu kontak 2 hingga 15 menit, terlihat ada sedikit peningkatan penyerapan warna oleh cangkang telur. Pada waktu kontak 15 hingga 120 menit, grafik mengalami fluktuasi. Hal ini diperkirakan karena adsorpsi senyawa humus di permukaan cangkang telur belum

stabil. Setelah waktu kontak ≥ 120 menit, senyawa humus yang terserap cukup stabil.

Ketidakstabilan ini diperkirakan karena ukuran molekul asam humus yang besar, sehingga menyulitkan untuk bisa terserap ke dalam pori cangkang telur. Persen penurunan intensitas warna terbesar dihasilkan pada konsentrasi cangkang telur 5 gram/50 mL air gambut.

Penurunan intensitas warna air gambut diperkirakan melalui mekanisme adsorpsi.

Hal ini karena cangkang telur merupakan material keramik yang memiliki pori7. Senyawa

humus dapat teradsorpsi pada pori-pori dari material cangkang telur.

3.2. Pengaruh Massa Cangkang Telur

Untuk mengetahui pengaruh massa cangkang telur terhadap penurunan intensitas warna air gambut dilakukan dengan mencampurkan sebanyak 1, 3, 5, 7, 10, 15, dan 20 gram cangkang telur ke dalam 50 mL air gambut. Masing-masing larutan kemudian diaduk dengan pengaduk magnet dengan kecepatan 400 rpm selama 60 menit. Penurunan konsentrasi warna air gambut yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut:

80.00 90.00 100.00

0 5 10 15 20 25

Massa cangkang telur (g)

% pe

nu

run

a

n

Gambar 3.2. Grafik pengaruh massa cangkang telur terhadap % penurunan warna air gambut

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa penurunan intensitas warna semakin meningkat dengan meningkatnya massa cangkang telur. Hal ini karena cangkang sebagai material pengadsorpsi tersedia dalam jumlah banyak, sehingga lebih banyak senyawa humus yang dapat teradsorpsi. Pada massa cangkang telur > 7 gram, penurunan intensitas warna air gambut relatif stabil dengan nilai sekitar 94%.

3.3. Pengaruh pH

Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap penurunan intensitas warna air gambut, penelitian dilakukan pada berbagai pH, yaitu: 2, 4, 6, dan 8. Massa cangkang telur yang digunakan sebesar 3 gram. Penurunan konsentrasi warna air gambut yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 3.3 berikut:

80.00 85.00 90.00 95.00 100.00 0 20 40 60 80 100

Waktu kontak (menit)

% p e nur una n pH air gambut = 2 pH air gambut = 4 pH air gambut = 6 pH air gambut = 8

Gambar 3.3. Grafik pengaruh pH terhadap % penurunan warna air gambut pada berbagai waktu kontak.

Dari grafik tersebut terlihat bahwa penurunan warna air gambut maksimum pada pH 2. Hal ini disebabkan karena perubahan pH akan mempengaruhi konformasi asam humat. Pada pH rendah, asam humat memiliki struktur sferik. Sedangkan pada pH tinggi

srukturnya agak linier. Sehingga jika pH ditingkatkan, ukuran asam humat akan

bertambah, sehingga kapasitas adsorpsi akan berkurang8.

3.4. Isoterm Adsorpsi

Isoterm adsorpsi dihitung menggunakan persamaan Langmuir dan Freundlich.

Dengan memplotkan data x/m terhadap 1/Ce dan log (x/m) terhadap log Ce, diperoleh data

slope dan intercept dari persamaan regresi linier grafik. Data tersebut diintrepretasikan kedalam persamaan isoterm Langmuir dan Freundlich sehingga diperoleh nilai konstanta dari masing-masing isoterm adsorpsi seperti ditunjukkan pada Tabel 3.1:

Tabel 3.1. Konstanta Langmuir untuk penyerapan warna air gambut oleh cangkang

telur pada variasi waktu kontak.

Massa cangkang telur (g) 1/b b 1/ab a R 2 5 3.9901 0.2506 13.205 0.3022 0.9623 3 6.1939 0.1614 43.513 0.1423 0.9900 1 14.111 0.0709 458.82 0.0308 0.9958

Data pada penelitian ini mengikuti isoterm Langmuir. Hal ini ditunjukkan oleh nilai

kelinieran grafik Langmuir yang baik9. Kesesuaian dengan isoterm Langmuir ini

menunjukkan bahwa adsorpsi warna air gambut pada cangkang telur adalah monolayer10.

Konstanta a menunjukkan jumlah warna yang terserap per unit massa cangkang telur

untuk adsorpsi monolayer. Sedangkang konstanta b berhubungan dengan energi

adsorpsi11. Nilai b yang mengalami peningkatan menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi

meningkat sesuai dengan peningkatan waktu kontak.

4. KESIMPULAN

Cangkang telur dapat dijadikan sebagai adsorben dalam proses penurunan intensitas warna air gambut. Penyerapan maksimum warna air gambut oleh cangkang telur pada variasi massa cangkang telur adalah sebesar 94%. Proses penyerapan ini relatif tidak dipengaruhi oleh waktu kontak. Pada variasi pH diperoleh hasil penyerapan yeng efektif pada pH 2. Berdasarkan perhitungan isoterm adsorpsi diketahui bahwa proses penyerapan warna air gambut menggunakan cangkang telur mengikuti isoterm

Langmuir dan proses adsorpsinya adalah monolayer.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mahmud. (2002), Penurunan Warna dan Zat Organik pada Pengolahan Air Gambut

Menggunakan Membran Ultrafiltrasi dengan Sistim Aliran Dead-End, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung.

2. Kurniawan, S. (2007), Stop Konversi Semenanjung Kampar Karena Memicu

Perubahan Iklim, Artikel, Jikalahari-WWF Indonesia,

www.wwf.or.id/gambut/index1.php.htm, diakses 29 Agustus 2007.

3. Chaidir, Z., Alif, A., Tetra, N. (1999) Aktivitas koagulan dari fraksi-fraksi protein biji

kelor terhadap penjernihan air rawa gambut, Jurnal Kimia Andalas, 5 (2), 99-103.

4. Mu’min, B. (2002), Penurunan Zat Organik dan Warna pada Pengolahan Air Gambut

Menggunakan Membran Ultrafiltrasi dengan Sistim Aliran Cross Flow yang Didahului dengan Proses Koagulasi/Flokulasi dan Adsorpsi Karbon Aktif, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung.

5. Suaib, S. B. (1994), Pengaruh Rapat Arus Listrik, Jumlah dan Jenis Elektroda

Terhadap Efektifitas Penurunan Warna pada Air Gambut dengan Proses Eletrokoagulasi, Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung.

6. Schaafsma, A., Pakan, I., Hofstede, G. J. H., Muskiet, F. A. J., Veer, E. V. D., Vries, P. J. F. D. (2000), Mineral, amino acid, and hormonal composition of chicken eggshell

powder and the evaluation of its use in human nutrition, Poultry Sci. 79, 1833-1838.

7. Arunlertaree, C., Kaewsomboon, W., Kumsopa, A., Pokethitiyook, P.,

Panyawathanakit, P. (2007), Removal of lead from battery manufacturing wastewater

by egg shell, Songklanakarin J. Sci. Technol., 29 (3), 857-868.

8. Nys, Y., Gautron, J., Garcia-Ruiz, J. M., Hincke, M. Y. (2004), Avian eggshell

mineralization: biochemical and functional characterization of matrix protein, C. R.

Palevol. 3, 549-562.

9. Zulfikar, M. A., Buchari, Amran, M. B. -, Color removal of Congo Red By Adsorption

onto Phyrophyllite, Analytical Chemistry Research Group Report, Institut Teknologi Bandung.

10. Wan Ngah, W. S., Hanafiah, M. A. K. M., Yong, S. S. (2008), Adsorption of Humic Acid from aqueous solutions on crosslinked chitosan-epichlorohydrin beads: kinetics

and isotherm studies, Coll. and Surf. B : Biointerfaces, Elselvier.

11. Namasivayam, C., Kavitha, D. (2002), Removal of congo red from water by adsorption

onto activated carbon prepared from coir pith, an agricultural solid waste, Dyes and

Dalam dokumen 2009 Prosiding SNS II FMIPA IPB 2009 (Halaman 189-194)