• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh WIKKA SASVITA /MAET (Halaman 31-39)

Penelitian ini akan dilaksanakan di Binjai dengan ketinggian tempat

± 25 meter diatas permukaan laut, mulai bulan Februari sampai Juni 2017.

Bahan dan Alat

Bahan dalam penelitian ini adalah benih padi merah varietas Inpari 24 Gabusan dan benih padi hitam varietas Cibeusi, pupuk urea 300 kg per hektar dan azolla 6 ton per hektar (Lampiran 3) sebagai sumber nitrogen, SP36 dan KCl sebagai pupuk dasar, insektisida, fungisida dan bahan yang dibutuhkan lainnya.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, traktor, gembor, tugal, tali rafia, meteran, gunting, pisau, pacak sampel, papan nama, timbangan analitik, handsprayer, karung goni, ember, timbangan, oven, kalkulator, kamera, alat tulis dan alat yang dibutuhkan lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah sistem tanam padi dan faktor kedua adalah sumber nitrogen.

Faktor I : Sistem tanam padi (P) yang terdiri dari empat jenis P1 : tunggal merah / tunggal hitam

P2 : sejajar (merah + hitam) P3 : lorong (merah + hitam) P4 : pagar (merah + hitam)

Faktor II : Sumber nitrogen (N) yang terdiri dari tiga jenis N1 : 100% Urea (61,86 g/plot)

N2 : 100% Azolla (1,24 kg/plot)

N3 : 50% Urea + 50% Azolla (30,93 g/plot + 0,62 kg/plot) Kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kombinasi Perlakuan Sistem Tanam dan Sumber Nitrogen

Kombinasi Perlakuan Sistem Tanam Sumber Nitrogen P1N1

Jumlah unit percobaan : 45 (Lampiran 4) Luas unit percobaan : 275 cm x 75 cm Jumlah tanaman per unit percobaan : 48 tanaman Jumlah seluruh tanaman : 2160 tanaman Jumlah sampel per unit percobaan : 12 tanaman Jumlah seluruh sampel : 540 tanaman Jarak antar unit percobaan : 50 cm

Jarak antar ulangan : 50 cm

Jarak tanam : 25 cm x 12,5 cm x 50 cm

Model linier untuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dalam penelitian ini, yaitu :

Yijk= μ + ρi + αj+ βk+ (αβ)jk+ εijk Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan pada blok ke-i dengan perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

μ = Nilai rataan umum

ρi = Pengaruh blok ke-i (i = 1, 2 dan 3)

αj = Pengaruh perlakuan Pola Tanam ke-j (j = 1, 2 dan 3) βk = Pengaruh perlakuan Sumber Nitrogen ke-k (k = 1, 2 dan 3)

(αβ)jk = Pengaruh interaksi antara perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

εijk = Pengaruh galat dari blok ke-i dan perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis dengan uji F. Jika hasil analisis ragam menunjukan perbedaan nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan DMRT pada taraf 5% (Hanafiah, 2011).

Pelaksanaan Penelitian (Lampiran 5) Penyiapan Lahan

Persiapan lahan diawali dengan pengolahan tanah meliputi pembajakan, penggaruan, pengeringan dan pembuatan bedengan atau plot. Ketinggian

bedengan 50 cm. Sistem tanam yang digunakan yaitu sistem jajar legowo 2 : 1, dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm (Lampiran 6).

Penyiapan Benih Padi

Benih padi merah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah varietas Inpari 24 Gabusan diperoleh dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Benih padi hitam varietas Cibeusi diperoleh dari petani di Subang, Jawa Barat. Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pemilihan benih yang akan ditanam. Dilakukan perendaman benih selama ± 30 menit. Benih yang mengapung pada saat perendaman dibuang dan yang tenggelam merupakan benih bernas yang akan digunakan. Benih yang terpilih direndam air bersih dan jernih selama 1x24 jam, selanjutnya ditiriskan dan diperam selama 1x24 jam sampai benih mulai tumbuh.

Pemeraman dilakukan dengan menghamparkan benih diatas karung yang lembab secara merata kemudian ditutup dengan karung basah (BB Padi, 2016).

Persemaian

Benih yang telah diperam selama 1x24 jam ditanam di bedeng persemaian selama 1 minggu.

Penanaman Bibit

Bibit padi ditanam dengan metode tugal. Bibit ditanam sedalam ± 4 cm.

Jumlah bibit yang ditanam satu bibit per lubang tanam pada masing-masing plot.

Aplikasi Pupuk Urea dan Azolla

Aplikasi pupuk urea dilakukan pada umur 7 hari setelah tanam (HST), 21 HST dan 42 HST sesuai dengan dosis pemupukan yang digunakan sebagai perlakuan. Pupuk diberikan secara sistem larikan (± 5 cm dari lubang tanam).

Aplikasi Azolla dilakukan dua minggu sebelum tanam, dilakukan sesuai dosis yang digunakan sebagai perlakuan dengan cara dibenamkan didalam tanah.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan terdiri dari SP 36 dan KCl. Pemberian pupuk diaplikasikan pada umur 7 hari setelah tanam (HST) yaitu 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl per hektar serta 42 HST yaitu 50 kg KCl per hektar (BB Padi, 2015). Pupuk diberikan secara sistem larikan (± 5 cm dari lubang tanam).

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman padi meliputi penyisipan, penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit. Penyisipan dilakukan 10 HST untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak normal. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman padi masih muda yaitu 3-4 minggu, dan penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 8 minggu. Penyiangan selanjutnya dilakukan setiap hari untuk tetap menjaga kebersihan lahan.

Pengendalian hama walang sangit dan ulat disemprot dengan insektisida.

Serangan burung dikendalikan dengan cara memasang jaring untuk menutupi lahan.

Panen

Panen dilakukan ketika secara visual tanaman padi sudah menunjukkan ciri-ciri matang panen. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong pangkal batang padi.

Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)

Pengukuran dilakukan mulai dua hingga delapan minggu setelah tanam (MST). Tanaman sampel diukur dari pangkal bawah sampai ujung malai tertinggi dengan menggunakan meteran.

Jumlah Anakan (anakan)

Perhitungan jumlah anakan per sampel dilakukan mulai dua hingga sepuluh minggu setelah tanam.

Jumlah Malai (malai)

Dilakukan satu minggu sebelum panen dan setelah panen. Dihitung jumlah malai per rumpun sampel.

Bobot Basah Tajuk (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Tajuk tanaman ditimbang menggunakan timbangan analitik.

Bobot Basah Akar (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Akar tanaman ditimbang menggunakan timbangan analitik.

Bobot Kering Tajuk (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Tajuk tanaman dikeringkan didalam oven selama 24 jam dengan suhu ±70oC, lalu ditimbang bobot keringnya.

Bobot Kering Akar (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Akar tanaman dikeringkan didalam oven selama 24 jam dengan suhu vegetatif ±70o C, lalu ditimbang bobot keringnya.

Kadar Kehijauan Daun (unit)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Diukur dengan menggunakan Klorofil Meter (SPAD). Daun tanaman ditempelkan pada alat, kemudian dicatat hasilnya.

Laju Pertumbuhan Tanaman (g/minggu)

Dilakukan pada umur 5 dan 6 MST. Dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering tanaman untuk setiap waktu tertentu, dengan rumus:

LPT = W2 – W1

T2 – T1

W = berat kering tanaman T = waktu pengamatan

Laju Asimilasi Bersih (g/ cm2/minggu)

Dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering tanaman untuk setiap satuan luas daun dalam waktu tertentu. LAB dihitung dengan rumus:

LAB = W2 – W1

x LN (A2) – LN (A2) T2 – T1 A2 – A1

W = berat kering tanaman T = waktu pengamatan A = luas daun

Bobot 1000 Butir (gram)

Ditimbang bobot 1000 butir gabah setelah panen yang diambil dari keseluruhan tanaman pada setiap plot perlakuan.

Bobot Gabah Per Plot (gram)

Dilakukan setelah panen, seluruh gabah produktif ditimbang dari setiap plot.

Persentase Gabah Hampa (%)

Dilakukan setelah panen dengan rumus:

% gabah hampa per malai = bobot gabah hampa

x 100%

bobot seluruh gabah

Dalam dokumen TESIS. Oleh WIKKA SASVITA /MAET (Halaman 31-39)

Dokumen terkait