• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh WIKKA SASVITA /MAET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh WIKKA SASVITA /MAET"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

JAJAR LEGOWO DAN SUMBER NITROGEN

TESIS

Oleh

WIKKA SASVITA 147001012/MAET

PROGRAM MAGISTER AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

JAJAR LEGOWO DAN SUMBER NITROGEN

TESIS

Oleh

WIKKA SASVITA 147001012/MAET

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Dalam Program Magister Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM MAGISTER AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Ir. T. Sabrina, M.Agr.Sc., Ph.D.

Anggota : 1. Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.P.

2. Dr. Ir. Mukhlis, M.Si.

3. Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si.

(5)

untuk kesehatan. Namun produksi beras merah dan beras hitam masih rendah karena jenis padi ini belum dibudidayakan secara optimal serta kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya padi beras merah dan beras hitam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan dan hasil padi beras merah dan beras hitam terhadap pengaruh sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen.

Penelitian dilakukan di Cengkeh Turi, Binjai dari bulan Februari - Juni 2017, menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua factor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah sistem tanam yakni tunggal merah, tunggal hitam, sejajar, lorong, dan pagar. Faktor kedua adalah sumber nitrogen yang terdiri dari 3 taraf yaitu 100% urea, 100% azolla, dan 50% urea + 50% azolla. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam jajar legowo terbaik untuk padi beras merah dan untuk beras hitam adalah tunggal yang dapat meningkatkan jumlah anakan, bobot basah akar, bobot kering akar dan bobot 1000 butir. Sumber nitrogen terbaik untuk padi beras merah dan beras hitam adalah 100% urea yang dapat meningkatkan jumlah anakan, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih dan bobot gabah per plot. Padi beras merah dengan sistem tanam tunggal dan pemberian 100% urea (61,86 g / 2 m2) serta padi beras hitam dengan sistem tanam tunggal dan pemberian 100% azolla (1,24 kg / 2 m2) menghasilkan bobot basah tajuk, bobot basah akar dan bobot kering akar terbaik.

Kata kunci: padi beras merah dan beras hitam, legowo, nitrogen.

(6)

ABSTRACT

Red rice and black rice been demanding by people in North Sumatera because ofits high nutrient content and various health benefits. However the production of red rice and black rice are low due to they has not been optimally cultivated and minimum information about their cultivation techniques. The purpose of this study was to determine the growth and yield paddy of red rice and black rice to influence by a jajar legowo planting system and nitrogen source. The research was conducted at Cengkeh Turi, Binjai from February - June 2017, using randomized block design with two factors and 3 replications. The first factor was planting sytem with 5 treatments viz monoculture (paddy of red or black rice), parallel, hallway and fence. The second factor was nitrogen source contain 3 treatments viz: 100% urea, 100% azolla, and 50% urea + 50% azolla. The results of this research showed that the best jajar legowo planting system for paddy of red rice and black rice was the monoculture where it increased the number of tillers, root wet weight, root dry weight and weight of 1000 grains. The best nitrogen source for paddy of red rice and black rice was 100% urea where it increased the number of tillers, plant growth rate, net assimilation rate and weight of grain per plot. Paddy of red rice with the monoculture planting system and 100% urea (61,86 g / 2 m2) and paddy of black rice with the monoculture planting system and 100% azolla (1,24 kg / 2 m2) resulted the best of canopy wet weight, root wet weight and root dry weight.

Keywords: paddy of red rice and black rice, legowo and nitrogen

(7)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Wikka Sasvita

Tempat/ Tgl Lahir : Binjai/10 Februari 1991

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Anak ke : 2 (dua) dari 4 (empat) bersaudara

Alamat : Jl. Merak No.18, Lk.VI, Kel. Mencirim, Kec. Binjai Timur Kota Binjai

Nama Orang Tua

Ayah : H. Nirwansyah

Pekerjaan : Wiraswasta

Ibu : Hj. Herlina Sebayang

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Riwayat Pendidikan

Tahun 1995-1996 Tamat dari TK Permata Bunda Binjai Tahun 1996-2002 Tamat dari SD Negeri 024762 Binjai Tahun 2002-2005 Tamat dari SMP Negeri 4 Binjai Tahun 2005-2008 Tamat dari SMA Negeri 5 Binjai Tahun 2008-2013 Tamat dari Fakultas Pertanian USU

Tahun 2014-2018 Tamat dari Program Magister Fakultas Pertanian USU

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul Pertumbuhan dan Hasil Padi Beras Merah dan Beras Hitam pada Beberapa Sistem Tanam Jajar Legowo dan Sumber Nitrogen. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pertanian pada program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan materil dan moril. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Ir. T. Sabrina, M.Agr.Sc., Ph.D. dan Dr. Dra. Ir. Chairani Hanum, M.P. selaku komisi pembimbing yang telah memberi bimbingan dan saran dalam penulisan Tesis ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada staf pengajar, pegawai di Program Studi Magister Agroteknologi, seluruh keluarga dan teman-teman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Tesis ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Semoga Tesis ini dapat menjadi bahan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, April 2018

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 3

Kerangka Penelitian ... 4

Tujuan Penelitian ... 4

Hipotesis Penelitian ... 5

Kegunaan Penelitian... 5

TINJAUAN PUSTAKA ... 6

Padi Beras Merah dan Beras Hitam ... 6

Sistem Tanam Jajar Legowo ... 8

Nitrogen... ... 11

N Unsur Essensial ... 11

Azolla ... 14

BAHAN DAN METODE ... 16

Tempat dan Waktu Penelitian ... 16

Bahan dan Alat ... 16

Metode Penelitian... 16

Pelaksanaan Penelitian ... 18

Penyiapan Lahan ... 18

Penyiapan Benih Padi ... 19

Persemaian ... 19

Penanaman Bibit ... 19

Aplikasi Pupuk Urea dan Azolla ... 19

Pemupukan ... 20

Pemeliharaan ... 20

Panen ... 20

Pengamatan Parameter ... 20

Tinggi Tanaman ... 20

Jumlah Anakan ... 21

Jumlah Malai ... 21

Bobot Basah Tajuk ... 21

Bobot Basah Akar ... 21

Bobot Kering Tajuk ... 21

(10)

Kadar Kehijauan Daun ... 21

Laju Pertumbuhan Tanaman ... 22

Laju Asimilasi Bersih ... 22

Bobot 1000 Butir ... 22

Bobot Gabah Per Plot ... 22

Persentase Gabah Hampa ... 22

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

Hasil ... ... 23

Tinggi Tanaman ... 23

Jumlah Anakan ... 25

Jumlah Malai ... 26

Bobot Basah Tajuk ... 29

Bobot Basah Akar ... 30

Bobot Kering Tajuk ... 31

Bobot Kering Akar ... 32

Kadar Kehijauan Daun ... 33

Laju Pertumbuhan Tanaman ... 34

Laju Asimilasi Bersih ... 36

Bobot 1000 Butir ... 37

Bobot Gabah Per Plot ... 38

Persentase Gabah Hampa ... 39

Pembahasan ... 40

Sistem Tanam Jajar Legowo ... 40

Sumber Nitrogen ... 42

Interaksi Antara Sistem Tanam Jajar Legowo dan Sumber Nitrogen ... 45

KESIMPULAN DAN SARAN ... 49

Kesimpulan ... 49

Saran ... ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 50

(11)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Kombinasi Perlakuan Sistem Tanam dan Sumber Nitrogen ... 21 17 2. Pertambahan tinggi padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST ... 21 23 3. Pertambahan tinggi padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST ... 21 23 4. Jumlah anakan padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST ... 25 5. Jumlah anakan padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST ... 25 6. Jumlah malai padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 13 MST ... 26 7. Jumlah malai padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda pada umur 13 MST ... 26 8. Bobot basah tajuk padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 29 9. Bobot basah tajuk padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 29 10. Bobot basah akar padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 30 11. Bobot basah akar padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 31 12. Bobot kering tajuk padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 31 13. Bobot kering tajuk padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 32 14. Bobot kering akar padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 32 15. Bobot kering akar padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 33

(12)

16. Kadar kehijauan daun padi beras merah dengan sistem tanam

dan sumber nitrogen yang berbeda ... 34 17. Kadar kehijauan daun padi beras hitam dengan sistem tanam

dan sumber nitrogen yang berbeda ... 34 18. Laju pertumbuhan tanaman padi beras merah dengan sistem

tanam dan sumber nitrogen yang berbeda ... 35 19. Laju pertumbuhan tanaman padi beras hitam dengan sistem

tanam dan sumber nitrogen yang berbeda ... 35 20. Laju asimilasi bersih padi beras merah dengan sistem tanam

dan sumber nitrogen yang berbeda ... 36 21. Laju asimilasi bersih padi beras hitam dengan sistem tanam

dan sumber nitrogen yang berbeda ... 36 22. Bobot 1000 butir padi beras merah dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 37 23. Bobot 1000 butir padi beras hitam dengan sistem tanam dan

sumber nitrogen yang berbeda ... 38 24. Bobot gabah per plot padi beras merah dan beras hitam dengan

sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda ... 38 25. Persentase gabah hampa padi beras merah dengan sistem

tanam dan sumber nitrogen yang berbeda ... 39 26. Persentase gabah hampa padi beras hitam dengan sistem tanam

dan sumber nitrogen yang berbeda ... 40

(13)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Respon sistem tanam Tunggal Merah, Tunggal Hitam, Sejajar,

Lorong dan Pagar terhadap tinggi tanaman umur 2-10 MST ...

24

2. Respon sistem tanam Tunggal Merah, Tunggal Hitam, Sejajar,

Lorong dan Pagar terhadap jumlah anakan umur 2-10 MST ...

26

3. Respon sistem tanam Tunggal Merah, Tunggal Hitam, Sejajar,

Lorong dan Pagar terhadap jumlah malaiumur 11 - 13 MST ...

28

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Deskripsi Varietas ... 54

2. Bagan Sistem Tanam... 55

3. Perhitungan Pupuk ... 57

4. Bagan Penelitian... 59

5. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 60

6. Bagan Penanaman ... 61

7. Daftar sidik ragam tinggi tanaman padi beras merah 10 MST ... . 62 8. Daftar sidik ragam tinggi tanaman padi beras hitam 10 MST ... 62

9. Daftar sidik ragam jumlah anakan padi beras merah 10 MST ... 62

10. Daftar sidik ragam jumlah anakan padi beras hitam 10 MST ... 63

11. Daftar sidik ragam jumlah malai padi beras merah ... 63

12. Daftar sidik ragam jumlah malai padi beras hitam ... 63

13. Daftar sidik ragam bobot basah tajuk padi beras merah ... 64

14. Daftar sidik ragam bobot basah tajuk padi beras hitam ... 64

15. Daftar sidik ragam bobot basah akar padi beras merah ... 64

16. Daftar sidik ragam bobot basah akar padi beras hitam ... 65

17. Daftar sidik ragam bobot kering tajuk padi beras merah ... 65

(15)

18. Daftar sidik ragam bobot kering tajuk padi beras

hitam ... 65

19. Daftar sidik ragam bobot kering akar padi beras merah ... 66

20. Daftar sidik ragam bobot kering akar padi beras hitam ... 66

21. Daftar sidik ragam kadar kehijauan daun padi beras merah ... 66

22. Daftar sidik ragam kadar kehijauan daun padi beras hitam ... 67

23. Daftar sidik ragam laju pertumbuhan tanaman padi beras merah ... 67

24. Daftar sidik ragam laju pertumbuhan tanaman padi beras hitam ... 67

25. Daftar sidik ragam laju asimilasi bersih padi beras merah ... 68

26. Daftar sidik ragam laju asimilasi bersih padi beras hitam ... 68

27. Daftar sidik ragam bobot 1000 butir padi beras merah ... 68

28. Daftar sidik ragam bobot 1000 butir padi beras hitam ... 69

29. Daftar sidik ragam bobot gabah per plot padi beras merah dan beras hitam ... 69

30. Daftar sidik ragam bobot gabah hampa padi beras merah ... 69

31. Daftar sidik ragam bobot gabah hampa padi beras hitam ... 70

32. Hasil analisis azolla ... 71

33. Hasil analisis tanah sawah ... 71

34 Hasil analisis tanah sawah II ... 72

35. Foto penelitian ... 73

(16)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman serealia yang mengandung karbohidrat tinggi. Peningkatan produksi padi untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi beras penduduk Indonesia dapat dilakukan dengan mengembangkan beras jenis lain seperti beras merah dan beras hitam. Secara umum terdapat tiga macam beras, yakni beras putih (Oryza sativa), beras merah (Oryza glaberrima) dan beras hitam (Oryza sativa L. indica). Dari ketiga jenis itu, beras putih paling banyak dikonsumsi disusul dengan beras merah.

Beras merah dan beras hitam mulai diminati oleh masyarakat di daerah Sumatera Utara karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan berbagai manfaat untuk kesehatan. Namun produksi beras merah dan beras hitam masih rendah karena jenis padi ini belum dibudidayakan secara optimal serta kurangnya pengetahuan tentang teknik budidaya padi beras merah dan beras hitam.

Varietas padi beras merah Inpari 24 Gabusan dan padi beras hitam Cibeusi memiliki potensi hasil yang tinggi dan memiliki adaptasi yang baik untuk ditanam pada sawah dataran rendah sampai sedang. Secara morfologi varietas padi beras merah Inpari 24 Gabusan (Lampiran 1) memiliki warna gabah kuning dan warna beras merah, sedangkan padi beras hitam Cibeusi memiliki warna gabah kehitaman. Budidaya padi beras merah dan beras hitam perlu memperhatikan teknik budidaya dan pemeliharaan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil.

Penanaman dengan sistem tanam jajar legowo yang digunakan adalah penanaman satu jenis padi dan menggabungkan dua jenis padi didalam satu lahan

(17)

percobaan antara lain tunggal merah, tunggal hitam, sejajar, lorong dan pagar (Lampiran 2). Sistem tanam tunggal merah yaitu hanya padi beras merah saja yang ditanam dalam plot, begitu juga dengan sistem tanam tunggal hitam, hanya padi beras hitam saja yang ditanam dalam plot. Sistem tanam sejajar yaitu menempatkan padi beras merah dan beras hitam pada posisi sejajar. Sistem tanam lorong yaitu padi beras merah dan beras hitam ditanam dalam posisi berlorong.

Sedangkan sistem tanam pagar yaitu padi beras merah ditanam sebagai tanaman pagar mengelilingi padi beras hitam. Sistem tanam ini diterapkan dengan tujuan untuk memanfaatkan sumber daya secara optimal, meningkatkan hasil dan menghindari resiko kegagalan. Cara tanam jajar legowo merupakan salah satu teknologi penanaman padi berupa rekayasa teknik tanam dengan menempatkan semua baris tanaman berada dipinggir barisan, sehingga tanaman memperoleh cahaya matahari dan sirkulasi udara lebih baik dibanding dengan sistem tanam konvensional.

Hara N merupakan faktor pembatas pertumbuhan padi pada lahan sawah.

Tanpa pemupukan N hasil padi dibawah potensi genetiknya, apalagi jika kandungan N tanah rendah. Pada kondisi kandungan hara N tanah rendah, tanaman padi sangat respon terhadap pemupukan (Hartatik dan Adiningsih, 2003).

Melihat berbagai masalah yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan hasil padi maka dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan hasil. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengatur sistem tanam dengan menggabungkan dua jenis padi dalam satu lahan percobaan dan pemberian unsur hara nitrogen yang terdiri dari dua sumber. Tujuan dari adanya program penerapan teknologi ini yaitu untuk meningkatkan jumlah populasi padi yang

(18)

ditanam sehingga hasil padi meningkat. Oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk mendapat teknologi budidaya padi yang efisien dan efektif untuk padi beras merah dan beras hitam.

Perumusan Masalah

Padi beras merah dan beras hitam merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan padi beras putih. Rendahnya hasil padi beras merah dan beras hitam di Sumatera Utara merupakan kendala untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dalam mengatasi masalah ini, usaha peningkatan hasil yang mencakup intensifikasi mutlak dilakuan. Temuan teknik budidaya dan pemupukan nitrogen yang sesuai kebutuhan tanaman merupakan salah satu alternatif peningkatan pertumbuhan dan hasil padi.

Upaya peningkatan hasil padi beras merah dan beras hitam memerlukan teknik budidaya dan pemeliharaan yang lebih baik. Beberapa sistem tanam jajar legowo antara lain tunggal merah, tunggal hitam, sejajar, lorong dan pagar serta pemberian unsur hara nitrogen berpeluang meningkatkan hasil gabah karena selain populasinya lebih tinggi dibandingkan cara tanam tegel, orientasi pertanamannya juga lebih baik dalam pemanfaatan radiasi surya.

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pertumbuhan dari padi beras merah dan beras hitam terhadap perbedaan sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen?

2. Bagaimana hasil dari padi beras merah dan beras hitam terhadap perbedaan sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen?

(19)

Hasil padi beras merah dan beras hitam di Sumatera Utara yang rendah

Intensifikasi Kerangka Penelitian

Tujuan Penelitian

1. Menganalisis pertumbuhan padi beras merah dan beras hitam terhadap pengaruh sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen

Sistem Tanam

 Tunggal merah

 Tunggal hitam

 Sejajar

 Lorong

 Pagar

Pengamatan pertumbuhan dan hasil : 1. Tinggi tanaman

2. Jumlah anakan 3. Jumlah malai 4. Panjang malai 5. Bobot basah tajuk 6. Bobot basah akar 7. Volume akar 8. Bobot kering tajuk 9. Bobot kering akar 10. Kadar hijau daun 11. Total luas daun

12. Laju pertumbuhan tanaman 13. Laju asimilasi bersih 14. Bobot gabah per sampel 15. Bobot 1000 butir

16. Bobot gabah per plot 17. Persentase gabah hampa

Sumber Nitrogen

 Urea

Azolla

(20)

2. Menganalisis hasil padi beras merah dan beras hitam terhadap pengaruh sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen

Hipotesis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan didasarkan pada beberapa hipotesis : 1. Terdapat respons pertumbuhan dan hasil padi beras merah dan beras hitam

dengan perlakuan perbedaan sistem tanam jajar legowo

2. Terdapat respons pertumbuhan dan hasil padi beras merah dan beras hitam dengan perlakuan perbedaan sumber nitrogen

3. Terdapat respons pertumbuhan dan hasil padi beras merah dan beras hitam dengan interaksi antara perlakuan perbedaan sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen

Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis sistem tanam jajar legowo dan sumber nitrogen yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan hasil tertinggi padi beras merah dan beras hitam. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang berkepentingan didalam budidaya tanaman padi beras merah dan beras hitam.

(21)

TINJAUAN PUSTAKA Padi Beras Merah dan Beras Hitam

Padi memiliki bentuk dan warna yang beragam, baik tanaman maupun berasnya. Di Indonesia, padi yang berasnya berwarna merah (padi beras merah) kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan padi yang berasnya berwarna putih (padi beras putih), padahal beras merah mengandung gizi tinggi yaitu karbohidrat, lemak, serat, asam folat, magnesium, niasin, fosfor, seng, besi, protein, vitamin A, B, C, dan B komplek (Suardi, 2005).

Beras hitam dan beras merah belum menjadi bahan pangan pokok seperti halnya beras putih, meskipun kedua beras berwarna ini mempunyai nilai gizi tinggi. Beras hitam berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan chirosis), mencegah gangguan fungsi ginjal, mencegah kanker/tumor, memperlambat penuaan, sebagai antioksidan, membersihkan kolesterol dalam darah dan mencegah anemia. Beras merah berkhasiat mencegah sembelit, cocok untuk diet, mencegah penyakit saluran pencernaan, meningkatkan perkembangan otak, menurunkan kolesterol darah, mencegah kanker, penyakit degeneratif, serta menyehatkan jantung,

mengandung vitamin B1 dan mineral lebih tinggi dibanding beras putih (Suardi dan Ridwan, 2009).

Kandungan amilosa padi beras merah termasuk kategori tinggi karena kadar amilosanya diatas 27%. Umumnya penduduk Indonesia menyukai beras yang tergolong pulen. Jenis beras dengan kandungan amilosa tinggi tergolong pera. Sebagai perbandingan, kandungan amilosa beras yang biasa dibudidayakan

(22)

di Jawa berada dibawah 25 %. Keragaman kandungan amilosa dipengaruhi oleh genetik, zona pertumbuhan dan lingkungan (Anhar, 2013).

Budidaya beras hitam mirip dengan budidaya padi pada umumnya. Beras hitam yang sarat dengan antioksidan, vitamin E, serat, dan sifat anti-inflamasi.

Antosianin beras hitam diekstrak dari lapisan aleuron benih padi yang merupakan tanaman sereal utama. Pericarp (bagian luar) dari kernel warna beras ini berwarna hitam karena pigmen yang dikenal sebagai antosianin, sebuah antioksidan. Beras hitam juga dikenal sebagai beras ungu, beras terlarang, beras surga, beras kekaisaran, beras raja dan beras berharga (Kushwaha, 2016).

Tanaman padi beras hitam dengan tinggi tanaman yang lebih tinggi akan mempunyai indeks luas daun lebih besar, sehingga lebih mampu menangkap dan memanfaatkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Fotosintesis akan berjalan baik, hasil fotosintesis meningkat dan menghasilkan lebih banyak berat kering (Samyuni. dkk, 2015).

Perubahan hasil gabah per ha dipengaruhi oleh genotipe, lingkungan, dan interaksi antara keduanya. Artinya bahwa keunggulan suatu genotipe yang diujikan tidak akan sama pada semua lingkungan tumbuh (Aryana, 2009).

Bobot 1000 butir padi yang memiliki nilai besar menunjukkan kualitas biji dan hasil asimilat yang disimpan. Bobot 1000 butir padi yang memiliki nilai yang rendah menunjukkan kualitas biji yang lebih rendah. Hasil asimilat yang tersedia saat perkembangan biji akan mempengaruhi bobot biji (Widiana. dkk, 2017).

Fotosintat hasil dari fotosintesis akan digunakan untuk proses pertumbuhan seperti pemanjangan batang tanaman padi dan dapat membuat sistem perakaran menjadi lebih baik, sehingga penyerapan unsur hara menjadi

(23)

lebih optimal. Unsur hara akan digunakan dalam proses metabolisme pada tanaman sehingga akan memacu pertumbuhan (Putri. dkk, 2017).

Produktivitas padi pada lahan sawah irigasi lebih tinggi daripada lahan sawah tadah hujan. Salah satu faktor pembatas pertumbuhan padi pada lahan sawah tadah hujan adalah tidak memadainya ketersediaan air irigasi karena hanya mengandalkan hujan (Kasno dan Rostaman, 2017).

Penambahan pupuk organik kedalam tanah dapat memperluas jangkauan akar dalam penyerapan hara dan air karena struktur tanah yang lebih baik serta jumlah akar yang banyak dapat meningkatkan jumlah cadangan makanan yang diserap oleh tanaman. Laju fotosintesis berlangsung dengan baik ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan cepat pada akar, batang, daun, jumlah anakan dan bobot gabah (Pratiwi, 2012).

Tanaman padi melakukan proses fotosintesis secara optimal sehingga asimilat yang terbentuk akan semakin banyak diakumulasikan ketempat cadangan

makanan yaitu pada buah atau pada bulir gabahnya sehingga proses

fotosintesis berjalan optimal yang menghasilkan berat gabah lebih tinggi (Donggulo. dkk, 2017).

Sistem Tanam Jajar Legowo

Cara tanam jajar legowo berpeluang meningkatkan hasil gabah, karena selain populasinya lebih tinggi dibandingkan cara tanam tegel, orientasi pertanamannya juga lebih baik dalam pemanfaatan radiasi surya. Selain itu, peningkatan hasil gabah akan lebih nyata dengan memilih varietas-varietas adaptif, pada kondisi pertanaman rapat. Batas minimal hasil gabah per rumpun pada pertanaman jajar legowo ditetapkan untuk memilih varietas-varietas atau

(24)

pemupukan agar jajar legowo menghasilkan gabah lebih tinggi dibandingkan cara tanam tegel. Rumpun tanaman yang memiliki anakan sedikit lebih sesuai untuk cara tanam jajar legowo. Bila jumlah anakan per rumpun banyak, karena varietas atau lahan subur, jajar legowo dengan jarak tanam yang lebih lebar akan lebih sesuai. Cara tanam jajar legowo kurang disenangi petani karena penggunaan benih dan tenaga lebih banyak, namun disukai pada fase selanjutnya karena memudahkan dalam perawatan tanaman. Pola tanam jajar legowo berpeluang menghasilkan gabah lebih tinggi dibandingkan pola tanam pindah karena populasi yang lebih banyak (Ikhwani. dkk, 2013).

Sistem tanam jajar legowo memberikan banyak keuntungan bagi lingkungan tumbuh tanaman bila dibandingkan sistem tanam tegel. Perlakuan model jarak tanam ganda atau jajar legowo rata-rata dapat menghasilkan jumlah anakan, luas daun, indeks luas daun, berat kering total tanaman dan laju pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan model jarak tanam yang lain. Hal ini dikarenakan rekayasa teknologi yang diaplikasikan pada model jarak tanam ganda dimana diantara kelompok barisan terdapat lorong yang luas dan memanjang sepanjang barisan. Teknologi ini memanfaatkan barisan pinggir (border effect) sehingga tanaman padi mendapatkan cahaya matahari yang lebih banyak dan mampu berfotosintesis optimal. Kemampuan tanaman dalam

berfotosintesis akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak

(Anggraini. dkk, 2013).

Kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam teknologi budidaya untuk memanipulasi tanaman dan mengoptimalkan hasil.

(25)

Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan sistem tanam pindah antara dua barisan tanaman terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Sistem tanam jajar legowo bertujuan untuk peningkatan populasi tanaman per satuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir dan mempermudah pemeliharaan tanaman (Balitbangtan, 2016).

Pola tanaman mengakumulasikan produk dari proses fotosintesis dan merupakan integrasi dengan faktor-faktor lingkungan lainnya dan ini mempengaruhi bobot kering total tanaman (Susanti. dkk, 2013).

Sistem tanam legowo 2:1 (jarak tanam 25 x 25 cm antar rumpun dalam baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan/lorong atau ditulis 25 x 12,5 x 50 cm akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi 33,31 % dibanding pola tanam tegel 25 x 25 cm yang hanya 160.000 rumpun / ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan. Penerapan jajar legowo selain meningkatkan populasi pertanaman, juga mampu menambah kelancaran sirkulasi sinar matahari dan udara disekeliling tanaman pingir sehingga tanaman dapat berfotosintesa lebih baik. Selain itu, tanaman yang berada di pinggir diharapkan memberikan produksi yang lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik, mengingat pada sistem tanam jajar legowo terdapat ruang terbuka seluas 25-50% (Balitbangtan, 2013).

Tipe jarak tanam legowo memberikan hasil yang lebih baik, keadaan ini diduga disebabkan oleh dua hal yaitu jumlah anakan produktif dan jumlah populasi. Jumlah anakan produktif dan jumlah populasi merupakan komponen

(26)

yang sangat mempengaruhi hasil padi secara menyeluruh. Jika komponen hasil lain tetap, maka semakin banyak jumlah anakan produktif dan jumlah populasi, semakin tinggi hasil padi (Hatta, 2011).

Jumlah anakan juga menentukan tingkat kekuatan tanaman terhadap kerebahan. Jumlah anakan yang sedikit dan tinggi tanaman yang tinggi pada varietas Jatiluhur yang ditanam pada sistem budidaya sawah, mengakibatkan besarnya jumlah kerebahan tanaman (Yunanda. dkk, 2013).

Jarak tanam yang lebar akan meningkatkan penangkapan radiasi cahaya matahari oleh tajuk tanaman padi sehingga meningkatkan jumlah anakan produktif, bobot gabah per rumpun dan bobot kering tanaman. Jumlah anakan produktif berkaitan dengan padi yang dihasilkan. Jumlah anakan yang sedikit dapat menurunkan hasil padi karena malai yang dihasilkan sedikit (Hatta, 2012).

Nitrogen

N Unsur Essensial

Kandungan nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan optimal yang bervariasi antara 2 dan 5% dari berat kering tanaman. Ketika persediaan berada pada kondisi sub optimal, pertumbuhan terhambat, nitrogen bergerak dari daun yang matang dan kembali melakukan translokasi ke daerah-daerah pertumbuhan baru. Gejala kekurangan nitrogen yang khas, seperti dapat dilihat pada peningkatan penuaan daun tua. Peningkatan persediaan nitrogen tidak hanya menunda penuaan dan merangsang pertumbuhan tetapi juga pada perubahan morfologi tanaman dengan cara yang khas, terutama jika ketersediaan nitrogen tinggi di media perakaran selama pertumbuhan awal. Peningkatan rasio berat

(27)

kering akar dan tajuk dengan peningkatan persediaan nitrogen berlangsung pada kedua spesies tanaman tahunan dan musiman (Marschner, 1993).

Dosis pupuk urea yang semakin bertambah meningkatkan jumlah daun pada tanaman kumis kucing. Unsur hara, terutama nitrogen yang terserap oleh akar dipergunakan untuk melakukan pertumbuhan vegetatif, diantaranya membentuk daun. Namun, jika terjadi saling menaungi antar daun yang terbentuk

menyebabkan energi yang diperoleh dari proses fotosintesis terbuang. Dan tidak banyak yang dapat dipergunakan untuk proses pertumbuhan tanaman

(Kastono. dkk, 2005).

Pada penelitian tanaman sawi, aplikasi urea dicampurkan kedalam tanah lebih baik dibandingkan ditebar dipermukaan tanah dikarenakan pemberian urea dipermukaan tanah akan menyebabkan penguapan urea dalam bentuk amoniak (NH3) (Yanti. dkk, 2014).

Urea merupakan pupuk yang mempunyai kandungan N sangat tinggi yaitu sekitar 46%. Kekurangan unsur N menyebabkan pertumbuhan kerdil, daun menguning dan sistem perakaran terbatas. Sedangkan kelebihan unsur N menyebabkan pertumbuhan vegetatif memanjang, mudah rebah, menurunkan kualitas bulir dan respon terhadap serangan hama dan penyakit (Wahid, 2003).

Kandungan klorofil pada daun warna hijau tua 50% lebih besar daripada daun warna hijau muda. Klorofil a dan b merupakan pigmen utama yang terdapat dalam membran tilakoid. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil antara lain gen, cahaya, dan unsur N, Mg, Fe sebagai pembentuk dan katalis dalam sintesis klorofil. Semua tanaman hijau mengandung klorofil a dan klorofil b. Klorofil a menyusun 75% dari total klorofil. Kandungan klorofil pada

(28)

tanaman adalah sekitar 1% berat kering. Kemampuan daun untuk berfotosintesis juga meningkat sampai daun berkembang penuh dan kemudian mulai menurun

secara perlahan. Daun tua yang hampir mati, menjadi kuning dan tidak mampu berfotosintesis karena rusaknya klorofil dan hilangnya fungsi kloroplas (Maulid dan Ainun, 2015).

Adanya variasi perlakuan kompos tidak memberikan pengaruh yang berarti pada panjang malai padi. Panjang malai sangat tergantung kepada varietas tanaman dan lama penyinaran yang diterima oleh tanaman. Apabila tanaman kekurangan air mengakibatkan tingginya persentase gabah hampa. Pada penelitian ini, tingginya persentase gabah hampa kemungkinan terjadi akibat kekurangan air yang sangat dibutuhkan pada proses fotosintesis untuk membentuk karbohidrat dan mengisi gabah pada fase pematangan (Syamsyudin dan Aktaviyani, 2009).

Indeks luas daun menggambarkan besarnya asimilasi suatu tegakan tanaman dan berfungsi sebagai nilai primer untuk penghitungan sifat-sifat pertumbuhan seperti laju tumbuh tanaman dan laju asimilasi bersih. Peningkatan total luas daun erat kaitannya dengan unsur hara terutama unsur N. Unsur N sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daun. Konsentrasi nitrogen tinggi umumnya menghasilkan total luas daun yang lebih besar. Laju pertumbuhan tanaman yaitu bertambahnya berat dalam komunitas tanaman persatuan luas tanah dalam satuan waktu, digunakan secara luas dalam analisis pertumbuhan tanaman budidaya yang ada di lapangan. Rerata laju pertumbuhan tanaman (LPT) merupakan perhitungan untuk melihat tingkat pertambahan biomasa tanaman pada tiap umur tanaman pada suatu luasan tertentu. Sehingga dengan berdasarkan perhitungan LPT ini dapat diketahui repon perlakuan mana

(29)

yang menunjukkan hasil paling baik pada pertumbuhan tanaman. Laju asimilasi erat kaitannya dengan proses fotosintesis. Hasil asimilasi dalam pertumbuhan tanaman selama periode vegetatif menentukan produktivitas tanaman (Widyaswari, 2017).

Azolla

Azolla merupakan salah satu jenis tanaman ganggang yang dapat digunakan sebagai pupuk organik khususnya untuk kegiatan budidaya tanaman padi. Azolla dapat digunakan sebagai pupuk organik yang mampu memenuhi kebutuhan hara terutama N bagi tanaman. Kemampuan Azolla menyediakan N bagi tanaman adalah karena pada Azolla terdapat Cyanobacteria yang kemudian kedunya melakukan simbiosis mutualisme. Simbiosis keduanya kemudian dinamakan Anabaena azollae. Anabaena azollae dapat memfiksasi N2 bebas di udara sehingga dapat menyumbang kebutuhan N bagi tanaman kedalam tanah (Sudjana, 2014).

Azolla memiliki kandungan unsur hara N yang tinggi karena bersimbiosis dengan Anabaena dalam mengikat nitrogen bebas di udara. Azolla sering dijumpai pada lahan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya, ditumpuk dan dibuang begitu saja. Setelah azolla mengalami proses dekomposisi maka humus akan terbentuk sehingga dapat meningkatkan kapasitas cekaman air pada tanah, memperbaiki drainase dan aerasi dalam tanah (Kotpal dan Bali, 2003).

Kompos azolla mempunyai keunggulan bila dibandingkan dengan kompos yang lain, karena kandungan unsur hara kompos azolla lebih tingi dari kompos lain, sehingga pemakaiannya lebih sedikit. Selain itu, kompos azolla tidak

(30)

tercemar olah logam berat yang dapat merugikan tanaman, tidak terkontaminasi oleh organisme / bakteri perusak tanaman, dan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia (Djojosuwito, 2000).

Penggunaan pupuk organik azolla dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penggunaan kombinasi perlakuan aplikasi pupuk 50% pupuk urea (112,815 kg/Ha) dengan aplikasi 50% azolla segar (3,45 kg/Ha) pada tanaman padi putih nyata memberikan hasil pertumbuhan tanaman yang lebih baik pada parameter panjang tanaman, luas daun dan bobot kering total tanaman dibandingkan dengan perlakuan 100% pupuk urea. Penggunaan kombinasi perlakuan aplikasi pupuk 50% pupuk urea dengan aplikasi 50% azolla segar dapat meningkatkan hasil 29,31% dibandingkan dengan perlakuan 100% pupuk urea (Soedharmo. dkk, 2016).

Pemberian pupuk organik Azolla 400 gr/pot dalam bentuk biomasa Azolla segar yang dibenamkan didalam tanah dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah seperti pada jumlah anakan, berat kering brangkasan tanaman padi, jumlah anakan produktif dan berat kering gabah (Gunawan, 2014).

(31)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Binjai dengan ketinggian tempat

± 25 meter diatas permukaan laut, mulai bulan Februari sampai Juni 2017.

Bahan dan Alat

Bahan dalam penelitian ini adalah benih padi merah varietas Inpari 24 Gabusan dan benih padi hitam varietas Cibeusi, pupuk urea 300 kg per hektar dan azolla 6 ton per hektar (Lampiran 3) sebagai sumber nitrogen, SP36 dan KCl sebagai pupuk dasar, insektisida, fungisida dan bahan yang dibutuhkan lainnya.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, traktor, gembor, tugal, tali rafia, meteran, gunting, pisau, pacak sampel, papan nama, timbangan analitik, handsprayer, karung goni, ember, timbangan, oven, kalkulator, kamera, alat tulis dan alat yang dibutuhkan lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah sistem tanam padi dan faktor kedua adalah sumber nitrogen.

Faktor I : Sistem tanam padi (P) yang terdiri dari empat jenis P1 : tunggal merah / tunggal hitam

P2 : sejajar (merah + hitam) P3 : lorong (merah + hitam) P4 : pagar (merah + hitam)

(32)

Faktor II : Sumber nitrogen (N) yang terdiri dari tiga jenis N1 : 100% Urea (61,86 g/plot)

N2 : 100% Azolla (1,24 kg/plot)

N3 : 50% Urea + 50% Azolla (30,93 g/plot + 0,62 kg/plot) Kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kombinasi Perlakuan Sistem Tanam dan Sumber Nitrogen

Kombinasi Perlakuan Sistem Tanam Sumber Nitrogen P1N1

P1N2 P1N3 P2N1 P2N2 P2N3 P3N1 P3N2 P3N3 P4N1 P4N2 P4N3

Tunggal merah / hitam Tunggal merah / hitam Tunggal merah / hitam Sejajar (merah+hitam) Sejajar (merah+hitam) Sejajar (merah+hitam) Lorong (merah+hitam) Lorong (merah+hitam) Lorong (merah+hitam) Pagar (merah+hitam) Pagar (merah+hitam) Pagar (merah+hitam)

100% Urea 100% Azolla 50% Urea + 50% Azolla

100% Urea 100% Azolla 50% Urea + 50% Azolla

100% Urea 100% Azolla 50% Urea + 50% Azolla

100% Urea 100% Azolla 50% Urea + 50% Azolla

Jumlah ulangan : 3

Jumlah unit percobaan : 45 (Lampiran 4) Luas unit percobaan : 275 cm x 75 cm Jumlah tanaman per unit percobaan : 48 tanaman Jumlah seluruh tanaman : 2160 tanaman Jumlah sampel per unit percobaan : 12 tanaman Jumlah seluruh sampel : 540 tanaman Jarak antar unit percobaan : 50 cm

Jarak antar ulangan : 50 cm

Jarak tanam : 25 cm x 12,5 cm x 50 cm

(33)

Model linier untuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dalam penelitian ini, yaitu :

Yijk= μ + ρi + αj+ βk+ (αβ)jk+ εijk Keterangan :

Yijk = Nilai pengamatan pada blok ke-i dengan perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

μ = Nilai rataan umum

ρi = Pengaruh blok ke-i (i = 1, 2 dan 3)

αj = Pengaruh perlakuan Pola Tanam ke-j (j = 1, 2 dan 3) βk = Pengaruh perlakuan Sumber Nitrogen ke-k (k = 1, 2 dan 3)

(αβ)jk = Pengaruh interaksi antara perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

εijk = Pengaruh galat dari blok ke-i dan perlakuan Pola Tanam ke-j dan perlakuan Sumber Nitrogen ke-k

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, data yang diperoleh dianalisis dengan uji F. Jika hasil analisis ragam menunjukan perbedaan nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan DMRT pada taraf 5% (Hanafiah, 2011).

Pelaksanaan Penelitian (Lampiran 5) Penyiapan Lahan

Persiapan lahan diawali dengan pengolahan tanah meliputi pembajakan, penggaruan, pengeringan dan pembuatan bedengan atau plot. Ketinggian

(34)

bedengan 50 cm. Sistem tanam yang digunakan yaitu sistem jajar legowo 2 : 1, dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm (Lampiran 6).

Penyiapan Benih Padi

Benih padi merah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah varietas Inpari 24 Gabusan diperoleh dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Benih padi hitam varietas Cibeusi diperoleh dari petani di Subang, Jawa Barat. Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pemilihan benih yang akan ditanam. Dilakukan perendaman benih selama ± 30 menit. Benih yang mengapung pada saat perendaman dibuang dan yang tenggelam merupakan benih bernas yang akan digunakan. Benih yang terpilih direndam air bersih dan jernih selama 1x24 jam, selanjutnya ditiriskan dan diperam selama 1x24 jam sampai benih mulai tumbuh.

Pemeraman dilakukan dengan menghamparkan benih diatas karung yang lembab secara merata kemudian ditutup dengan karung basah (BB Padi, 2016).

Persemaian

Benih yang telah diperam selama 1x24 jam ditanam di bedeng persemaian selama 1 minggu.

Penanaman Bibit

Bibit padi ditanam dengan metode tugal. Bibit ditanam sedalam ± 4 cm.

Jumlah bibit yang ditanam satu bibit per lubang tanam pada masing-masing plot.

Aplikasi Pupuk Urea dan Azolla

Aplikasi pupuk urea dilakukan pada umur 7 hari setelah tanam (HST), 21 HST dan 42 HST sesuai dengan dosis pemupukan yang digunakan sebagai perlakuan. Pupuk diberikan secara sistem larikan (± 5 cm dari lubang tanam).

(35)

Aplikasi Azolla dilakukan dua minggu sebelum tanam, dilakukan sesuai dosis yang digunakan sebagai perlakuan dengan cara dibenamkan didalam tanah.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan terdiri dari SP 36 dan KCl. Pemberian pupuk diaplikasikan pada umur 7 hari setelah tanam (HST) yaitu 100 kg SP-36 dan 50 kg KCl per hektar serta 42 HST yaitu 50 kg KCl per hektar (BB Padi, 2015). Pupuk diberikan secara sistem larikan (± 5 cm dari lubang tanam).

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman padi meliputi penyisipan, penyiangan dan pengendalian hama dan penyakit. Penyisipan dilakukan 10 HST untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya tidak normal. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman padi masih muda yaitu 3-4 minggu, dan penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 8 minggu. Penyiangan selanjutnya dilakukan setiap hari untuk tetap menjaga kebersihan lahan.

Pengendalian hama walang sangit dan ulat disemprot dengan insektisida.

Serangan burung dikendalikan dengan cara memasang jaring untuk menutupi lahan.

Panen

Panen dilakukan ketika secara visual tanaman padi sudah menunjukkan ciri-ciri matang panen. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong pangkal batang padi.

Pengamatan Parameter Tinggi Tanaman (cm)

(36)

Pengukuran dilakukan mulai dua hingga delapan minggu setelah tanam (MST). Tanaman sampel diukur dari pangkal bawah sampai ujung malai tertinggi dengan menggunakan meteran.

Jumlah Anakan (anakan)

Perhitungan jumlah anakan per sampel dilakukan mulai dua hingga sepuluh minggu setelah tanam.

Jumlah Malai (malai)

Dilakukan satu minggu sebelum panen dan setelah panen. Dihitung jumlah malai per rumpun sampel.

Bobot Basah Tajuk (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Tajuk tanaman ditimbang menggunakan timbangan analitik.

Bobot Basah Akar (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Akar tanaman ditimbang menggunakan timbangan analitik.

Bobot Kering Tajuk (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Tajuk tanaman dikeringkan didalam oven selama 24 jam dengan suhu ±70oC, lalu ditimbang bobot keringnya.

Bobot Kering Akar (g)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Akar tanaman dikeringkan didalam oven selama 24 jam dengan suhu vegetatif ±70o C, lalu ditimbang bobot keringnya.

Kadar Kehijauan Daun (unit)

(37)

Dilakukan saat akhir masa vegetatif. Diukur dengan menggunakan Klorofil Meter (SPAD). Daun tanaman ditempelkan pada alat, kemudian dicatat hasilnya.

Laju Pertumbuhan Tanaman (g/minggu)

Dilakukan pada umur 5 dan 6 MST. Dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering tanaman untuk setiap waktu tertentu, dengan rumus:

LPT = W2 – W1

T2 – T1

W = berat kering tanaman T = waktu pengamatan

Laju Asimilasi Bersih (g/ cm2/minggu)

Dinyatakan sebagai peningkatan bobot kering tanaman untuk setiap satuan luas daun dalam waktu tertentu. LAB dihitung dengan rumus:

LAB = W2 – W1

x LN (A2) – LN (A2) T2 – T1 A2 – A1

W = berat kering tanaman T = waktu pengamatan A = luas daun

Bobot 1000 Butir (gram)

Ditimbang bobot 1000 butir gabah setelah panen yang diambil dari keseluruhan tanaman pada setiap plot perlakuan.

Bobot Gabah Per Plot (gram)

(38)

Dilakukan setelah panen, seluruh gabah produktif ditimbang dari setiap plot.

Persentase Gabah Hampa (%)

Dilakukan setelah panen dengan rumus:

% gabah hampa per malai = bobot gabah hampa

x 100%

bobot seluruh gabah

(39)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tinggi Tanaman

Hasil analisis sidik ragam tinggi tanaman padi beras merah dan beras hitam umur 10 MST dapat dilihat pada Lampiran 7 dan 8. Interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman padi beras merah umur 10 MST (Tabel 2).

Tabel 2. Tinggi tanaman padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...cm...

P1 (tunggal merah) 97,70 ab 90,49 bcd 95,71 abc 94,63 P2 (sejajar) 93,73 a-d 95,94 abc 90,40 bcd 93,36

P3 (lorong) 94,55 abc 85,02 d 100,73 a 93,44

P4 (pagar) 97,07 ab 87,93 cd 99,63 a 94,88

Rataan 95,76 89,85 96,62

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Jika padi beras merah ditanam pada sistem tanam lorong dan pagar dengan sumber nitrogen 50% urea + 50% azolla maka tidak terjadi perbedaan secara statistik (Tabel 2). Perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi padi beras hitam umur 10 MST (Tabel 3).

Tabel 3. Tinggi tanaman padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...cm...

P1 (tunggal hitam) 93,45 80,80 89,58 87,94

P2 (sejajar) 94,31 84,53 84,18 87,67

P3 (lorong) 88,71 87,98 91,47 89,39

P4 (pagar) 88,05 85,88 92,27 88,73

Rataan 91,13 84,80 89,38

(40)

Rataan tertinggi padi beras hitam umur 10 MST terdapat pada perlakuan sistem tanam lorong (89,39 cm) dan sumber nitrogen 100% urea (91,13 cm) (Tabel 3).

P1 (tunggal merah) P1 (tunggal hitam)

Gambar 1. Respons sistem tanam P1 (Tunggal merah dan tunggal hitam), P2 (Sejajar), P3 (Lorong) dan P4 (Pagar) terhadap tinggi tanaman

umur 2 - 10 MST setelah diberi N1=100% Urea (I dan IV),

N2=100% Azolla (II dan V) dan N3=50% Urea + 50% Azolla (III dan VI)

Pada Gambar 1 menunjukkan bahwa tinggi tanaman terbaik dengan pemberian 100% urea terdapat pada perlakuan P1 (tunggal merah) dan P2 (sejajar hitam), pemberian 100% azolla terdapat pada perlakuan P2 (sejajar merah) dan P3 (lorong hitam), dan pemberian 50% urea + 50% azolla terdapat pada perlakuan P3 (lorong merah) dan P4 (pagar hitam).

(I) (IV)

(V) (II)

(III) (VI)

(41)

Jumlah Anakan

Perlakuan sistem tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan padi beras merah umur 10 MST sedangkan perlakuan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan padi beras merah yaitu 21,26 anakan (Tabel 4). Hasil analisis sidik ragam jumlah anakan padi beras merah dan beras hitam umur 10 MST (Lampiran 9 dan 10).

Tabel 4. Jumlah anakan padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...anakan...

P1 (tunggal merah) 21,83 14,22 21,33 19,13

P2 (sejajar) 18,44 15,61 16,27 16,77

P3 (lorong) 21,83 12,88 17,88 17,53

P4 (pagar) 22,94 16,16 18,55 19,22

Rataan 21,26 a 14,72 c 18,51 b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Berdasarkan hasil uji statisik bahwa perlakuan sistem tanam tidak memberikan pegaruh yang nyata terhadap jumlah anakan padi beras hitam umur 10 MST sedangkan perlakuan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah anakan padi beras hitam yaitu 17,61 anakan (Tabel 5).

Tabel 5. Jumlah anakan padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 10 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...anakan...

P1 (tunggal hitam) 19,72 13,83 15,72 16,42

P2 (sejajar) 15,33 12,00 14,38 13,90

P3 (lorong) 16,16 15,11 17,38 16,22

P4 (pagar) 19,22 17,33 14,33 16,96

Rataan 17,61 a 14,56 b 15,45 b

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

(42)

P1 (tunggal merah) P1 (tunggal hitam)

Gambar 2. Respon sistem tanam P1 (Tunggal merah dan tunggal hitam), P2 (Sejajar), P3 (Lorong) dan P4 (Pagar) terhadap jumlah anakan

umur 2 - 10 MST setelah diberi N1=100% Urea (I dan IV),

N2=100% Azolla (II dan V) dan N3=50% Urea + 50% Azolla (III dan VI)

Pada Gambar 2 menunjukkan bahwa jumlah anakan terbaik dengan pemberian 100% urea terdapat pada perlakuan P4 (pagar merah) dan P1 (tunggal hitam), pemberian 100% azolla terdapat pada perlakuan P4 (pagar merah) dan P4 (pagar hitam), dan pemberian 50% urea + 50% azolla terdapat pada perlakuan P1 (tunggal merah) dan P3 (lorong hitam).

Jumlah Malai

Hasil analisis sidik ragam jumlah malai padi beras merah dan beras hitam umur 13 MST dapat dilihat pada Lampiran 11 dan 12. Berdasarkan hasil uji

(I) (IV)

(II) (V)

(III) (VI)

(43)

statistik bahwa interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen berpengaruh nyata terhadap jumlah malai padi beras merah. Rataan jumlah malai padi beras merah terbanyak terdapat pada perlakuan sistem tanam pagar yang diberi sumber nitrogen 100% urea yaitu 12,88 malai (Tabel 6).

Tabel 6. Jumlah malai padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 13 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...malai...

P1 (tunggal merah) 11,05 b 11,77 ab 12,05 ab 11,62

P2 (sejajar) 7,05 d 11,00 bc 11,22 b 9,76

P3 (lorong) 7,00 d 10,77 bc 9,50 c 9,09

P4 (pagar) 12,88 a 7,61 d 7,88 d 9,46

Rataan 9,50 10,29 10,17

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Pada Tabel 7 menunjukkan bahwa interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah malai padi beras hitam. Rataan jumlah malai padi beras hitam terbanyak terdapat pada perlakuan sistem tanam sejajar (9,77 malai) dan tunggal (9,38 malai) dengan pemberian sumber nitrogen 100% urea sehingga padi beras hitam yang ditanam secara sejajar dan tunggal tidak menunjukkan perbedaan secara statistik.

Tabel 7. Jumlah malai padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda pada umur 13 MST

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...malai...

P1 (tunggal hitam) 9,38 a 4,88 f 4,61 f 6,29

P2 (sejajar) 9,77 a 8,83 abc 9,06 ab 9,22

P3 (lorong) 7,88 bcd 7,38 cde 6,16 ef 7,14

P4 (pagar) 8,38 a-d 7,05 de 7,50 cde 7,64

Rataan 8,86 7,04 6,83

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

(44)

P1 (tunggal merah) P1 (tunggal hitam)

Gambar 3. Respon sistem tanam P1 (Tunggal merah dan tunggal hitam), P2 (Sejajar), P3 (Lorong) dan P4 (Pagar) terhadap jumlah malai

umur 11 - 13 MST setelah diberi N1=100% Urea (I dan IV),

N2=100% Azolla (II dan V) dan N3=50% Urea + 50% Azolla (III dan VI)

Pada Gambar 3 menunjukkan bahwa jumlah malai padi beras merah dan beras hitam terbanyak dengan pemberian 100% urea terdapat pada perlakuan P4 (pagar merah) dan P2 (sejajar hitam). Jumlah malai padi beras merah dan beras hitam terbanyak dengan pemberian 100% azolla terdapat pada perlakuan P1 (tunggal merah) dan P2 (sejajar hitam). Sedangkan jumlah malai padi beras merah dan beras hitam terbanyak dengan pemberian 50% urea + 50% azolla terdapat pada perlakuan P1 (tunggal merah) dan P2 (sejajar hitam).

(I)

(II)

(III)

(IV)

(V)

(VI)

(45)

Bobot Basah Tajuk

Berdasarakan hasil uji statistik, interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk padi beras merah. Data analisis sidik ragam dari bobot basah tajuk padi beras merah dan beras hitam dapat dilihat pada Lampiran 13 dan 14.

Tabel 8. Bobot basah tajuk padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal merah) 146,70 a 56,80 ef 40,67 f 81,38 P2 (sejajar) 70,27 de 45,30 f 114,70 b 76,75

P3 (lorong) 80,00 cd 86,20 cd 90,03 c 85,41

P4 (pagar) 74,87 cde 47,23 f 57,37 ef 59,82

Rataan 92,95 58,88 75,69

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Sistem tanam tunggal dengan pemberian sumber nitrogen 100% urea

menghasilkan bobot basah tajuk padi beras merah terbesar yaitu 146,70 g (Tabel 8). Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa interaksi antara perlakuan sistem

tanam dan sumber nitrogen berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk padi beras hitam.

Tabel 9. Bobot basah tajuk padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal hitam) 38,83 e 96,23 a 73,20 bc 69,42 P2 (sejajar) 71,43 bc 46,07 e 101,43 a 72,97

P3 (lorong) 75,50 b 95,73 a 74,07 bc 81,76

P4 (pagar) 78,40 b 58,80 d 63,97 cd 67,05

Rataan 66,04 74,20 78,16

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

(46)

Sistem tanam sejajar dengan pemberian sumber nitrogen 50% urea + 50%

azolla menghasilkan bobot basah tajuk terbesar yaitu 101,43 g begitu juga perlakuan sistem tanam tunggal dan lorong dengan pemberian sumber nitrogen 100% azolla yaitu masing-masing 96,23 g dan 95,73 g (Tabel 9). Sehingga tidak terjadi perbedaan secara statistik terhadap bobot basah tajuk padi beras hitam.

Bobot Basah Akar

Hasil uji beda rataan bobot basah akar padi beras merah dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil analisis sidik ragam dari bobot basah akar padi beras merah dan beras hitam dapat dilihat pada Lampiran 15 dan 16 yang menunjukkan interaksi antara sistem tanam dan sumber nitrogen berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar padi beras merah dan beras hitam. Bobot basah akar padi beras merah terbesar diperoleh pada sistem tanam tunggal dengan pemberian sumber nitrogen 100% urea yaitu 56,57 g (Tabel 10).

Tabel 10. Bobot basah akar padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal merah) 56,57 a 14,07 de 14,13 de 28,25 P2 (sejajar) 22,23 bc 20,67 bc 23,57 bc 22,15

P3 (lorong) 21,07 bc 25,00 b 20,63 bc 22,23

P4 (pagar) 18,83 cd 10,57 e 12,90 e 14,10

Rataan 29,67 17,57 17,80

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Pada Tabel 11 menunjukkan bahwa secara statistik interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah akar padi beras hitam.

(47)

Tabel 11. Bobot basah akar padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal hitam) 27,10 c 67,00 a 37,77 b 43,95

P2 (sejajar) 21,87 de 15,73 f 36,07 b 24,55

P3 (lorong) 11,30 g 23,03 d 11,67 g 15,33

P4 (pagar) 20,07 e 12,30 g 12,17 g 14,84

Rataan 20,08 29,51 24,41

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Bobot basah akar padi beras hitam terbesar diperoleh pada sistem tanam tunggal dengan pemberian sumber nitrogen 100% azolla yaitu 67,00 g (Tabel 11).

Bobot Kering Tajuk

Tabel analisis sidik ragam bobot kering tajuk padi beras merah dan beras hitam dapat dilihat pada Lampiran 17 dan 18. Secara statistik interaksi antara sistem tanam dan sumber nitrogen menunjukkan pengaruh yang nyata (Tabel 12).

Tabel 12. Bobot kering tajuk padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal merah) 34,52 b 13,98 e 13,17 e 20,55 P2 (sejajar) 27,33 bcd 18,27 cde 45,88 a 30,49

P3 (lorong) 32,74 b 26,76 bcd 30,43 bc 29,97

P4 (pagar) 32,94 b 16,29 de 20,42 cde 23,21

Rataan 31,88 18,82 27,47

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Secara statistik dapat dilihat bobot kering tajuk padi beras merah tertinggi terdapat pada interaksi antara perlakuan sistem tanam sejajar dengan pemberian sumber nitrogen 50% urea + 50% azolla yaitu 45,88 g (Tabel 12). Pada Tabel 13 dapat dilihat bahwa secara statistik perlakuan sistem tanam dan perlakuan sumber

(48)

nitrogen tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot kering tajuk padi beras hitam.

Tabel 13. Bobot kering tajuk padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal hitam) 13,97 27,18 25,12 22,09

P2 (sejajar) 26,61 17,33 36,71 26,88

P3 (lorong) 28,94 32,00 25,49 28,81

P4 (pagar) 34,55 22,71 26,57 27,94

Rataan 26,01 24,80 28,47

Pada Tabel 13 dapat dilihat perlakuan sistem tanam tertinggi padi beras hitam terdapat pada sistem tanam lorong yaitu 28,81 g. Sedangkan perlakuan sumber nitrogen tertinggi padi beras hitam terdapat pada 50% urea + 50% azolla yaitu 28,47 g.

Bobot Kering Akar

Data analisis sidik ragam bobot kering akar padi beras merah dan beras hitam dapat dilihat pada Lampiran 19 dan 20. Secara statistik interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar padi beras merah (Tabel 14).

Tabel 14. Bobot kering akar padi beras merah dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal merah) 21,83 a 5,73 ef 7,44 def 11,66

P2 (sejajar) 10,15 bc 8,81 cd 11,96 b 10,30

P3 (lorong) 9,46 cd 9,58 bcd 9,40 cd 9,48

P4 (pagar) 8,17 cde 5,15 f 7,29 def 6,87

Rataan 12,40 7,31 9,02

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

(49)

Bobot kering akar padi beras merah tertinggi diperoleh pada interaksi antara perlakuan sistem tanam tunggal dengan pemberian sumber nitrogen 100%

urea yaitu 21,83 g (Tabel 14). Pada Tabel 15 menunjukkan bahwa secara statistik interaksi antara perlakuan sistem tanam dan sumber nitrogen memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot kering akar padi beras hitam.

Tabel 15. Bobot kering akar padi beras hitam dengan sistem tanam dan sumber nitrogen yang berbeda

Sistem Tanam

Sumber Nitrogen

Rataan N1

(100% urea)

N2 (100% azolla)

N3 (50% urea + 50% azolla)

...g...

P1 (tunggal hitam) 12,77 bc 29,80 a 13,46 b 18,67

P2 (sejajar) 10,34 bc 6,39 c 13,21 b 9,98

P3 (lorong) 5,81 c 10,94 bc 6,05 c 7,60

P4 (pagar) 8,62 bc 7,66 bc 6,01 c 7,43

Rataan 9,38 13,69 9,68

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Duncan pada taraf uji 5 %

Interaksi antara perlakuan sistem tanam tunggal dengan perlakuan pemberian sumber nitrogen 100% azolla menghasilkan bobot kering akar padi beras hitam tertinggi yaitu 29,80 g (Tabel 15).

Kadar Kehijauan Daun

Hasil analisis sidik ragam dari kadar kehijauan daun padi beras merah dan beras hitam dapat dilihat pada Lampiran 21 dan 22. Secara statistik perlakuan sistem tanam, sumber nitrogen dan interaksi antara kedua perlakuan tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap kadar kehijauan daun padi beras merah.

Pada Tabel 16 dapat dilihat rataan tertinggi kadar kehijauan daun padi beras merah terdapat pada perlakuan sistem tanam sejajar yaitu 21,28 unit dan sumber nitrogen 50% urea + 50% azolla yaitu 20,26 unit.

Referensi

Dokumen terkait

Sejalan dengan pembahasan di atas, permasalahan umum yang diajukan dalam penelitian ini adalah : bagaimana pengaruh penggunaan metode demonstrasi terhadap

Dalam tataran ini, mereka memiliki hegemoni atas negara Indonesia bahwa kelapa sawit menjadi bagian integral dari industri perkebunan maupun kehutanan di

Adapun jenis-jenis warna yang sering diaplikasikan pada kain tenun upcycle adalah warna primer yaitu merah biru, dan kuning, warna sekunder yaitu warna hijau, warna

Dengan efektifnya informasi yang diberikan melalui iklan tersebut, yang berupaya untuk mengenalkan merek dari produk yang ditawarkan, sehingga menimbulkan keyakinan dan sikap

A dan An.F dengan GEA dehidrasi sedang di Ruang Seruni RSUD Jombang tahun 2016 menggunakan 7 langkah varney mulai dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi maka

Perancangan jaringan yang digunakan pada Proyek akhir adalah membuat jaringan dengan sebuah mini komputer raspberry yang di dalammya terdapat sistem operasi

(peran domestik), sebagai perempuan yang bekerja (peran publik). Faktor – faktor yang menimbulkan konflik peran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Pemberian bokashi ela sagu berpengaruh nyata terhadap berat volume tanah, jenis