• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan Empiris: Dokumen, Wawancara, dan On-Line Pooling

C. Diskursus Kelestarian

2. Bahan Empiris: Dokumen, Wawancara, dan On-Line Pooling

2. Bahan Empiris: Dokumen, Wawancara, dan On-Line Pooling

Bahan empiris untuk penelitian ini terdiri dari dokumen tertulis, dokumen hasil wawancara mendalam dan hasil on-line polling sebagai pengayaan dan sekaligus verifikasi. Dokumen tertulis, terdiri dari peraturan perundangan, peraturan turunannya dan beberapa dokumen terkait lainnya yang keseluruhannya mengatur dan atau memiliki keterkaitan substantive dan

3 Disebutkan Rosengerten, bahwa beragam tafsir atas teori hegemoni Gramsci. Namun, teori itu merupakan sebuah teori politik paling penting abad XX yang diangkat Gramsci (1891-1937). Gramsci dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Teori ini dibangun atas anggapan pentingnya pikiran atau ide, karena kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik tidaklah cukup. Gramsci memosisikan hegemoni sebagai satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas kelompok lainnya. Agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, namun lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud Gramsci dengan “hegemoni”. Dengan begitu, hegemoni pada hakekatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial-politik-ekomomi dengan kerangka yang ditentukan (Gramsci, 1976 dalam www.Marxist.com). (lihat juga www.averroespress.net ).

historis dengan kebijakan usaha kehutanan, termasuk di dalamnya sejumlah dokumen surat perjanjian kehutanan (forestry agreement) dan dokumen surat keputusan pemberian hak pengusahaan hutan (HPH) dan IUPHHK-HA. Dokumen tertulis lainnya mencakup dokumen yang bukan merupakan peraturan perundangan, namun mengandung diskursus penting dan unsur historis yang relevan dengan dan memengaruhi isu kebijakan usaha kehutanan. Bahan empiris ini diperoleh dari berbagai sumber, terutama dari jajaran Kementerian Kehutanan, dan dipilah dalam kurun sebelum dan sesudah 1998 sebagaimana tampak pada Tabel 1.

Tabel 1. Bahan Empiris yang digunakan dalam analisis

Bahan Empiris Sebelum 1998 Sesudah 1998

Dokumen Peraturan Perundangan UU No. 5/67; PP 22/67; PP 21/70 (jo PP 18/75) Forestry Agreement (FA); SK HPH UU 41/99 PP 6/99; PP 34/2002 jo PP 6/2007 jo PP 3/2008, SK IUPHHK

Hasil wawancara berupa pandangan langsung para informan atau narasumber kunci yang mewakili kelompok-kelompok utama para pemangku kepentingan dengan usaha kehutanan, yakni kelompok birokrat, akademisi, praktisi usaha kehutanan, dan masyarakat sipil atau lembaga swadaya masyarakat. Dalam wawancara diangkat sejumlah pertanyaan kritis yang disintesa dari hasil telaah dokumentasi tertulis yang dituangkan dalam beberapa pointer pertanyaan terbuka4 untuk menggali pandangan umum terkait relasi atas hutan alam, usaha kehutanan, kelestarian dan kebijakan usaha kehutanan. Wawancara pendahuluan dilaksanakan dalam Agustus-September 2010 di Jakarta, Sarolangun (Jambi), Pontianak, Sintang dan Putussibau (Kalimantan Barat). Wawancara pendahuluan fokus pada menghimpun masukan awal yang menguatkan penentuan kunci kebijakan (key policy milestone) terutama dari birokrat, praktisi usaha kehutanan dan beberapa konfirmasi dari masyarakat sipil yang ditemui. Wawancara lanjutan/mendalam dilaksanakan dalam kurun Februari-Mei 2011 di Jakarta, Bogor, Sarolangun (Jambi), dan Samarinda

4

Untuk beberapa kasus, pertanyaan diselipkan dalam perbincangan lain yang topiknya memiliki keterkaitan dan relevansi yang erat, misal pada saat dilakukan FLEGT-SP assessment sewaktu peneliti bekerja sebagai konsultan paruh waktu pada AGRECO G.E.I.E, Brussel; atau saat melakukan beberapa diskusi terfokus sewaktu peneliti menjadi research coordinator pada APSI Project, yang merupakan riset kolaborasi antara CSIRO-AUSAID-WB-Bappenas.

(Kalimantan Timur) dengan menghimpun pandangan langsung dari para

pemangku kepentingan5 dengan dipandu pertanyaan sesuai kelompok isu:

Hutan Alam Produksi Luar Jawa, Usaha Kehutanan, Kelestarian dan Pengelolaan Hutan Alam produksi, dan Kebijakan Usaha Kehutanan (Lampiran 2).

Hasil on-line polling6 yang dilaksanakan via jaringan internet

diperlakukan sebagai upaya menguatkan dan memperkaya argumen empiris sekaligus verifikasi untuk mengonfirmasi kebenaran, koherensi dan konsistensi terkait upaya implementasi kebijakan usaha kehutanan. On-line

polling dilaksanakan dengan memanfaatkan Google-Form7 yang

dilangsungkan dan ditebar di empat mailing-list sekaligus8 selama sebulan penuh, dimulai 1 April 2011 dan ditutup 30 April 2011 jam 00.00. Daftar pertanyaan on-line polling merupakan versi singkat dari daftar pertanyaan yang digunakan dalam wawancara mendalam dengan kelompok isu yang sama. Screen shot dari format on-line polling dapat dilihat pada Lampiran 3. Berikut adalah tipologi para peserta on-line polling (Tabel 2) dan narasumber wawancara mendalam (Tabel 3)

Tabel 2. Tipologi Peserta Internet On-line Polling

Kelompok Stakeholders % Pengalaman (Th) % Domisili (2) %

Masyarakat Sipil/NGO 38,10 1-5 4,76 Medan 9,52

Birokrat 19,05 6-10 14,29 Bandarlampung 4,76

Akademisi 9,52 11-20 33,33 Jakarta 9,52

Praktisi Usaha Kehutanan 9,42 21-30 38,10 Bogor 33,33 Campuran(1) 14,28 31 dan lebih 9,52 Yogyakarta 4,76

Samarinda 4,76 Pangkalan Bun 9,52 Seattle, WA 4,76 Hongkong 4,76 Landskrona,Swedia 4,76 Baton Rouge, LA 4,76 Catatan:

(1) mengindikasikan diri lebih dari satu komponen stakeholders

(2) saat pengisian polling Kyoto, JP 4,76

5

Karena alasan ketidak sesuaian waktu untuk temua muka, beberapa wawancara dilakukan via skype, yahoo-messenger, dan adapula via email. Daftar narasumber disajikan pada bagian lain.

6 Berupa informasi dan bukti fisik yang digali secara provokatif pro-active dari responden lain, termasuk yang di daerah/lapangan

7 Thanks to Google: https://spreadsheets.google.com/viewform?formkey=dGlqT2hSSXc2cGhkSTVoWVVxd0RDanc6MQ

8 Komunitas rimbawan ([email protected] ), komunitas tenurial hutan ([email protected]) , kelompok kerja keuangan kehutanan dan pencucian uang (

[email protected]), serta komunitas alumni kehutanan IPB ([email protected]). Pemilihan keempat mailing list ini lebih didasarkan pada pengamatan dan keyakinan peneliti, bahwa keempatnya merupakan “kolam pengetahuan dan pengalaman” baik dari sisi empiris, praktis, historis, maupun akademis terkait isu kehutanan umumnya, dan usaha kehutanan khususnya.

Tabel 3. Tipologi para Narasumber yang diwawancarai Komponen Stakeholders Posisi saat diwawancarai Catatan

Birokrat Mantan Menteri Kehutanan Era sebelum dan setelah 1998, masing-masing satu orang

Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Ekonomi dan Perdagangan Internasional

Mantan Ditjen BPK, Dephut

Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Hubungan antar Lembaga

Mantan Staf Ahli Menteri Bidang lain

Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan

Mantan Ditjen Planologi, Dephut

Staf Khusus Menteri Kehutanan Mantan Sekjen Dephut Peneliti Senior Bidang Kebijakan

Kehutanan, Litbang Dephut

Mantan Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Ekonomi

Direktur Perencanaan Kawasan

Hutan, Ditjen Planologi, Dephut Kasubdit Penataan Ruang Kawasan Hutan Wil II, Ditjen Planologi, Dephut

Direktur Bina Rencana

Pemanfaatan dan Usaha Kawasan; Ditjen BUK

Kasi Sarpras KHM pada Dinas Kehutanan Kab. Sarolangun, Jambi Masyarakat Sipil/NGO Direktur Eksekutif (Executive

Director)

NGO nasional (2) dan NGO Internasional Indonesia Program (1)

Specialist Pada Donor International

Project Akademisi Dosen Fakultas Kehutanan (Jawa

dan Luar Jawa)

Dua orang Profesor, satu orang mantan dosen bergelar Master

Praktisi Usaha Kehutanan Manager Camp di Unit Management

UM di Kalimantan Timur - anggota APHI

Manager Perencanaan di Unit Management

UM di Kalimantan Timur (1) dan Kalimantan Barat (1) - keduanya anggota APHI Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusahaan Hutan

Indonesia (APHI)

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia (APHI)

Catatan: Contoh Transkrip Wawancara dapat dilihat pada Lampiran 15.